Rabu, 26 Agustus 2020 5 komentar

IMLEK BULAN 7 TANGGAL 7 HARI VALENTINE TIONGHOA (QI XI)

 QI XI baca : CHI SI, menurut legenda, pada malam hari ketujuh di bulan ketujuh dalam kalender Tiongkok, Si pengembala sapi Niu Lang dan Bidadari Khayangan Zhi Nu (baca: Ce Nii) akan bertemu di "Tian He" (jembatan yang dibentuk oleh burung-burung murai). Mereka hanya bisa bertemu sekali setahun. Kisah ini merupakan kisah asmara yang sangat indah dan menggugah bahkan dijadikan sebagai hari "Kasih Sayang" bagi kalangan masyarakat Tionghoa atau dikenal sebagai istilah Valentine.

    Adapun asal usul hari Valentine Tionghoa menurut beberapa versi berasal dari legenda cinta "Niu Lang dan Zhi Nu", si gembala sapi dan sang bidadari khayangan. Konon Bidadari adalah putri bungsu Raja Khayangan, dia terampil menenun sutra. Bila Anda melihat langit terang benderang dan terdapat tujuh warna pelangi, itu pasti hasil rajutan tangan-tangan terampil Bidadari tersebut. Niu Lang adalah seorang pengembala sapi yang jujur, baik dan rajin serta trampil berladang, tapi karena sangat miskin sehingga belum menemukan seorang perempuan yang mau diajak menikah.

    Sebagai hadiah kerja keras Niu Lang, maka Raja Langit mengizinkannya menikahi putrinya Zhinu. Namun ternyata setelah mereka menikah malah tenggelam dalam kebahagiaan hidup sehingga Zhinu tidak lagi menjalankan tugasnya menenun kain sutera yang merupakan awan dan pelangi di langit, langitpun menjadi tidak menarik, demikian pula dengan Niu Lang tidak berladang lagi, akhirnya Raja Langit murka dan memisahkan mereka berdua. Zhinu yang diasingkan di Utara, Niu Lang di Selatan Tiongkok. Mereka setiap hari hanya bisa bergelimangan air mata dan tidak lagi mengerjakan apapun. Raja Langit tidak tega melihat putri bungsunya hidup dalam penderitaan terus menerus akhirnya memberikan titah bahwa mereka boleh berjumpa setahun sekali tepatnya di imlek bulan tujuh tanggal tujuh dengan menyeberangi "Tian He" (jembatan yang dibentuk oleh burung-burung murai).

    Pada hari ini, masyarakat Cina (Taiwan) juga memperingatinya sebagai "Hari Anak Perempuan" atau "Nu Er Jie" ataupun "Qi Qiao Jie" (baca: Chi Chiao Cie). Para wanita akan mengadakan penyembahan secara beramai-ramai dengan buah-buahan, kue-kue, bunga, bedak dan perlengkapan menyulam serta kegiatan-kegiatan seperti pertandingan memasukkan benang ke dalam mata jarum, pertandingan mengikat simpul tali (jiesheng) dan pertandingan meletakkan jarum di atas permukaan air tanpa tenggelam. Para wanita berdoa kepada Niu Lang dan Zhinu agar mereka akan dapat jodoh yang baik serta memiliki kerajinan yang trampil seperti menenun, menjahit maupun memasak yang lihai.

    CARA SEMBAHYANG KEPADA ZHI NU ;

Tujuan  > Bintang Zhinu 
Tempat > Halaman rumah (bagi yang tidak memiliki halaman rumah maka boleh di depan pintu. 
Waktu > Setelah memasuki malam (setelah pukul 06.00 sore) 
Sajian > Buah-buahan (kecuali buah sarikaya, buah prem/plum, jambu batu, tomat), 5 macam biji-bijian (biji labu, ang co, kacang tanah, buah lengkeng, dan buah hazel), 3 cangkir teh, bunga (ditancap di pot kecil), jarum, benang, bedak, serbuk bunga serta cermin. 
Urutan > Letakkan sajian, nyalakan lilin, nyalakan dupa 3 batang dan sembahyang menghadap Niulang dan bintang Zhinu sembari mengucapkan permohonan ( seperti : memiliki wajah yang cantik, pasangan yang ideal, disayang mertua ataupun diberkahi keturunan), setelah dupa terbakar 1/3 bagian, kedua tangan ayunkan kimchua di hadapan dewa lalu bakar, tebarkan serbuk sari yang telah disajikan di atas atap rumah sebagai persembahan kepada Zhinu, sisa untuk dipakai sendiri, simpan sajian, selesai.
Senin, 24 Agustus 2020 1 komentar

孝子爷 xiao zi ye

三爷伯 sha ya pek juga dipanggil 孝子爷 xiao zi ye ~ hao zu ya.. Semasa hidup paling durhaka. Beliau menjalani proses hukuman di neraka ,selesai menjalani hukuman beliau masih merasa sangat berdosa dan bersalah kepada ibunya. Sehingga beliau tidak rela untuk reinkarnasi.

 Karena beliau sudah bertobat atas dosa2nya,   Kebetulan di alam akhirat kekurangan petugas, beliau diangkat oleh 阎罗王 giam luo ong untuk menangani keuangan di alam akhirat. 掌管阴府财务的三爷。

Asal usul penampilan beliau selalu berbusana balacu 穿麻布丧服 , tangan memegang lampion bakti dengan huruf 孝 bakti 手提葬礼灯 , dan 孝杖 xiao zhang..tongkat bambu bakti. Kalau ada ki kitong 乩童 yang dirasuki pasti tak henti2 menangis.
Rabu, 19 Agustus 2020 0 komentar

Hei Bai Wu Chang

黑白无常 - 七爷八爷  - 大爷伯二爷伯 
Hēi bái wú cháng - qī ye bā ye - dà yé bó èr ye bó
_______________________________________

Hei Bai Wu Chang :

Hei Bai Wu Chang (Hanzi=黑白無常) adalah dua dewa, satu pendek, satu tinggi, dirantai menjadi satu pada pergelangan kaki mereka, bertugas memberi berkah pada orang baik dan hukuman pada orang jahat. Keduanya adalah bawahan Yan Luo Wang atau raja akhirat dalam kepercayaan Taoisme dan bertugas untuk mengawasi perbuatan baik dan buruk manusia di dunia.

Wuchang adalah hantu atau petugas akhirat yang membawa roh-roh setelah kematian; dapat juga berarti "dapat berubah, tidak permanen, meninggal". Er Ye bertugas memburu hantu yang berbuat kejahatan di dunia manusia. Da Ye bertugas membimbing roh manusia yang berkelakuan baik selama hidupnya ke alam akhirat.

Terdapat lebih dari sepasang Hei Bai Wu Chang di akhirat. Dengan demikian, kisah bagaimana mereka meninggal juga berbeda-beda. Mereka memiliki pangkat seperti sersan dalam pasukan serta diperbolehkan untuk keluar-masuk alam manusia dan akhirat dengan bebas.

Hei Ba Wu Chang dikenal oleh masyarakat di China bagian selatan serta Asia Tenggara (dibawa oleh para imigran). Penduduk China bagian lain mungkin tidak mengenal keduanya.

Hei Bai Wu Chang dikenal dengan berbagai nama sebagai berikut:

1. Hei Bai Wu Chang (Hanzi=黑白无常; pinyin=Hēi Bái Wúcháng; Lit. hitam-putih/benar-salah yang tidak permanen) adalah nama yang umum digunakan dalam bahasa nasional China. Sebutan Hei (hitam) dan Bai (putih) bukan merujuk pada warna kulit atau pakaian, melainkan lebih mewakili Yin dan Yang.
2. Qi Ye Ba Ye (Hanzi= 七爺八爺; pinyin=Qīyé Bāyé; lit. Kakek ke-7 dan Kakek ke-8), mungkin karena karakter 7 berbentuk tinggi dan kurus dan karakter 8 (Hanzi= 八; pinyin=bā) berbentuk pendek dan lebar.
3. Dua Di Ya Peh (Hanzi=大二爷伯; pinyin=Dà èr Yé Bó; lit. Kakek terhormat pertama dan kedua) adalah nama dalam bahasa Hokkien dan Teochew di selatan China. Masing-masing dikenal sebagai Dua Ya Peh (大爷伯) dan Di Ya Peh (二爷伯).
 4. Da Ye Er Ye (Hanzi= 大爺二爺; pinyin=Dà Yé èr Yé; lit. kakek tertua dan kakek kedua), sebutan yang populer di Jakarta.
5. Da Ye Xiao Ye (Hanzi= 大爺小爺; pinyin=Dà Yé xiăo Yé; lit. tuan besar – tuan kecil).
 6. Gao Ye (Hanzi= 高爺; lit. dewa jangkung) dan Ai Ye (Hanzi= 矮爺; lit. dewa pendek) atau Gao Zi Ye (Hanzi= 高仔爺; lit. dewa cermat jangkung) dan Ai Zi Ye (Hanzi= 矮仔爺; lit. dewa cermat pendek).
7. Bái Ye (Hanzi= 白爷; lit. tuan putih) dan Chì Ye (Hanzi= 赤爷; lit. tuan merah tua).
8. Xie Jiangjun (Hanzi= 谢将军; lit. Jenderal Xie) dan Fan Jiangjun (Hanzi= 范将军; lit. Jenderal Fan).

Legenda :

Anak durhaka dan anak berbakti

Dalam sutra (kitab) agama Buddha berjudul Shiwangjing (lit. Sutra Sepuluh Yamaraja) yang ditemukan di Gua Dunhuang, terdapat salinan naskah yang menceritakan kisah perjalanan Kaisar Tang Taizong ke alam baka. Kisah tersebut dikembangkan dalam berbagai sastra, meliputi Perjalanan ke Barat, Raja Naga dari Sungai Jing, Men Shen, hingga pertemuan dengan Wuchang Gui.

Hakim Cui yang mengantar Kaisar Tang Taizong dalam perjalanan mengelilingi neraka menceritakan bahwa Hei Wuchang semasa hidupnya adalah seorang anak durhaka pemalas yang suka berjudi dan menghambur-hamburkan uang ayahnya. Karena tidak bisa diberi nasihat dan selalu membantah, ayahnya murka dan tanpa sengaja membunuhnya. Di pengadilan akhirat, ia dikirim ke neraka tingkat ke-18 untuk menerima hukuman. Hukuman yang ia terima membuatnya menyesal, bahkan ia menebus semua kesalahan yang ia perbuat. Yan Luo Wang tersentuh atas penyesalannya kemudian mengangkatnya menjadi Hei Wuchang yang bertugas memburu roh jahat. Saat malam tiba, ia akan berpatroli di dunia manusia untuk mengawasi perbuatan manusia, yang jahat akan ia tahan untuk diserahkan kepada Hakim Cui.

Bai Wuchang semasa hidupnya bernama Shancai, putra seorang tuan tanah kaya. Ia seorang dermawan yang senang menolong penduduk desa yang sedang berkesusahan. Namun, uang keluarganya menjadi sedikit sehingga ayahnya memberinya sejumlah uang untuk memulai bisnis dan tidak diperbolehkan pulang sebelum berhasil. Suatu hari, ia bertemu dengan seorang gadis bersama ibunya yang menangis, ternyata mereka sedang dililit hutang. Shancai memberikan semua uang dari ayahnya yang seharusnya digunakan untuk memulai bisnis. Setelah sadar, Shancai merasa menyesal telah menjadi anak durhaka yang tidak mampu membahagiakan orang tuanya, ia melompat ke laut dan meninggal. Yan Luo Wang mengangkatnya menjadi Bai Wuchang yang bertugas membimbing roh baik ke alam akhirat.

Saudara angkat dari Fujian :

Di Provinsi Fujian terdapat sepasang sahabat kental, yang satu pendek dan yang satu tinggi, yaitu Fan Wujiu dan Xie Bi An. Keduanya menjadi saudara angkat dan tidak dapat dipisahkan serta ahli dalam seni bela diri. Satu versi mengatakan mereka bekerja sebagai pesuruh pada sebuah kantor pemerintahan lokal yang bertugas menangkap penjahat, tetapi tidak pernah melukai penduduk biasa. Versi lain menyebutkan mereka berkeliling bersama untuk melindungi penduduk desa dari bandit dan pejabat korup.

Suatu hari mereka terjebak hujan yang sangat deras (dalam salah satu versi disebutkan bahwa mereka sedang mengawal penjahat, tetapi penjahat itu melarikan diri karena hujan deras). Saat sampai di tepi Jembatan Peron Selatan (Hanzi= 南台桥; pinyin= nán tái qiáo), Xie yang tinggi menyuruh Fan untuk menunggunya di bawah jembatan sementara ia akan pergi mencari payung besar agar dapat memayungi mereka berdua. Saat itu sedang malam.

Hujan semakin lebat, Xie belum juga kembali. Meskipun air sungai meluap, Fan memegang janjinya untuk menunggu di sana sehingga tidak pindah ke tempat yang lebih tinggi, supaya Xie tidak kebingungan mencarinya setelah ia kembali nanti. Tiba-tiba banjir menghanyutkannya hingga ia tewas.

Saat Xie kembali sambil membawa payung, hujan sudah mulai mengecil. Ia tidak menemukan Fan di tempat mereka berpisah, dan menjadi ragu apakah ia kembali ke tempat yang benar. Ia mencari Fan lebih dari dua hingga tiga hari. Akhirnya ia menemukan jenasah Fan yang sudah mulai mengembung dan berubah warna hitam kemerahan, tersangkut pada sebuah akar pohon saat air sudah berkurang. Xie berduka sangat mendalam dan merasa hidupnya tidak akan berarti lagi sepeninggalan sahabatnya itu, kemudian menggantung dirinya. Penduduk menemukan tubuhnya yang tinggi, berwajah pucat serta lidah terjulur, tergantung di atas pohon dimana jenasah Fan tersangkut di akarnya.

Tak ada penduduk yang tahu keluarga mereka. Para penduduk memakamkan mereka, tetapi makam mereka kini sudah hilang karena tidak ada keturunan yang mengurusi makam mereka. Kasih sayang dan kesetiaan keduanya membuat Cheng Huang Ye terharu kemudian mengangkat mereka sebagai asistennya. Mereka meneruskan pekerjaan mereka bersama-sama untuk melindungi penduduk dari bandit dan segala sesuatu yang buruk.

Versi lain menyebutkan bahwa Dewa Kota Cheng Huang Ye tidak pernah menyadari mereka. Namun, setelah Kaisar Tang Taizong mengunjungi alam akhirat dalam mimpinya, kemudian Fan dan Xie bersedia menjadi penunjuk arahnya baginya, setelah terbangun ia menunjuk mereka sebagai asisten Cheng Huang Ye.
Kisah dari Dinasti Tang

Da Ye adalah Jendral Xie Bi An (謝必安 ), sedangkan Er Ye adalah Jendral Fan Wu Jiu (范無救). Mereka hidup pada masa Dinasti Tang (618 – 907 M) sebagai jenderal Kota Sui Yang.

Saat pemberontakan An Lu Shan, pasukan pemberontak mendadak menyerang kota Chang An sehingga Kaisar Tang Ming melarikan diri sampai ke Provinsi Xi Chuan Barat. Tentara pemberontak mengepung sampai Kota Sui Yang yang dijaga Xu Yuan dan Zhang Xun. Setelah pengepungan yang cukup lama, Zhang Xun mengutus Jendral Xie Bi An dan Fan Wu Jiu keluar benteng kota untuk meminta bala bantuan.

Jendral Xie Bi An yang berpostur tubuh tinggi (sekitar 3,33 meter) serta kaki yang panjang dapat berlari lebih cepat, tetapi ia bertemu dengan musuh terlebih kemudian tertangkap. Ia kemudian digantung di atas tembok kota sehingga terlihat oleh Jendral Fan Wu Jiu. Saat bersembunyi di tepi sungai, tanpa sengaja ia terjatuh ke sungai dan mati tenggelam. Setelah itu, Kota Sui Yang jatuh ke tangan pemberontak karena para prajurit telah letih dan kehabisan ransum. Jendral Xie dan Fan yang tewas demi membela Negara kemudian dianugerahi gelar sebagai Jendral Pelindung.

Kisah dari Dinasti Qing : 

Pada provinsi bagian selatan di China, terdapat saudara angkat Xie Bi An dan Fan Wujiu yang bekerja sebagai petugas keamanan pada sebuah kantor pemerintahan. Pada masa itu, opium diperkenalkan ke China oleh Inggris yang mengklaimnya sebagai pasta panjang umur (长寿糕). Banyak orang, termasuk Xie Bi An dan Fan Wujiu termakan kebohongan itu sehingga menjadi kecanduan.

Sebagai pemimpin petugas keamanan, Xie Bi An yang sudah teramat kecanduan diberi dua pilihan: menerima uang suap, menutup mata dan memperoleh suplai opium tak terbatas, atau akan dibunuh karena mengungkapkan bahaya opium kepada masyarakat. Xie Bi An memilih pilihan kedua kemudian menggantung diri di luar gerbang kota. Jenasah Xie Bi An diturunkan oleh Fan Wujiu, yang karena shock akibat peristiwa tersebut, kemudian meloncat ke laut keesokan harinya.

Kaisar Giok melihat mereka berkepribadian benar dan bertanggung jawab sehingga menunjuk mereka sebagai petugas keamanan akhirat. Selain menegakkan hukum dan aturan di akhirat, mereka juga menangkap roh-roh berkeliaran di dunia manusia.

Kultus :

Hei Bai Wuchang selalu digambarkan berdua. Da Ye digambarkan berkulit pucat dan kurus, mata menonjol dengan lidah menjulur panjang keluar, mengenakan topi kertas panjang yang bertuliskan Yi Jian Da Ji (Hanzi= 一見大吉; lit. sekali bertemu akan mendapat keberuntungan),[2] meskipun istilah kebahagiaan terkadang dikonotasikan secara negatif. Er Ye digambarkan agak kecil dan pendek, hidung pesek dengan bibir tebal, tangan kanan memegang kipas, tangan kiri memegang lempengan bertuliskan Shan E Fen Ming (Hanzi=善惡分明; lit. membedakan dengan jelas baik dan jahat).

Pada sebagian kuil, altar mereka tidak dihiasi patung biasa, melainkan kostum seperti ondel
1 komentar

Hayagriva

【马头观音】,梵名 Hayagrīva。
Mǎ tóu guānyīn ,Nama Sansekerta Hayagrīva。

Avalokitesvara Kepala Kuda (Hayagriva, Matou Guanyin, Jep. Bato Kannon)

Istilah ‘Hayagriva’ secara harfiah berarti ‘yang berleher kuda’ dan merupakan salah satu bentuk perwujudan menyeramkan dari Avalokitesvara. Perwujudan ini biasanya dilukiskan dengan kepala kuda berambut terurai. Sebelum ditampilkan sebagai perwujudan Avalokitesvara, Hayagriva berdiri sendiri sebagai emanasi Amitäbha dan Aksobhya. Orang Cina memanggilnya ‘Matou Mingwang atau Fennuchi Mingwang’. Tanda khususnya adalah mudra uttarabodhi (‘Pencerahan Tiada Tara’) —kedua telapak dirangkap bersama kecuali ibu jari dan telunjuk terentang keluar dan bersentuhan di ujung. (Mudra ini juga dikenal sebagai mudra padma atau teratai.)

Di Tibet, dia di-kenal sebagai salah satu dari ‘Delapan Pelindung Dharma’ (drag-gshed). Dalam Sädhanamälä disebutkan bahwa dia mendampingi perwujudan Lokanätha Avalokitesvara bersama Tärä, dan juga ditemukan dalam rombongan Khasarpana Avalokitesvara bersama Sudhana Kumära, Bhàkuti, dan Tärä. Kuda adalah bagian dari Tujuh Permata Kerajaan Dunia ( cakravarti). Sama seperti Permata Kuda yang mampu berlari ke seluruh penjuru dunia dan menaklukkannya, Hayagrìva juga menaklukkan lautan kelahiran, usia tua, sakit, dan mati.

Kadangkala dia dikenali bersama Avalokitesvara yang muncul di antara binatang. Karenanya dia dianggap sebagai pelindung binatang. Ringkikannya yang membahana dikatakan untuk mengusir mara. Hayagrìva dipuja oleh para penjual kuda. Dia juga menjelma pada gagang phurbu (pisau ritual) Tibet. Secara simbolis, phurbu dipakai dalam ritual untuk‘membunuh’ mara dan menghancurkan semua kekuatan jahat.

Bentuk Hayagrìva yang lain

Salah satu keterangan terawal tentang Hayagrìva ditemukan dalam Mahävairocana Sütra (Dapilizhena Chengfo Shenbian Jiachi Jing T 18:1) yang diterjemahkan tahun 724. Dalam perwujudannya yang paling sederhana, dia tampil dengan kepala kuda, mahkota tengkorak, rambut terurai, dan di bawah untaian kalung tengkorak tergantung kulit harimau. Dia mengacungkan pedang di tangan kanan dan memegang jerat di tangan kiri. Bentuk perwujudannya yang lain adalah:

1. Satu kepala dan empat lengan. Tangan bagian atas memegang tongkat kebesaran (kadangkala bermahkota tengkorak) dan bunga; tangan bawah memegang roda (atau jerat) di depan dada; tangan kanan membuat mudra mistis; dan dia menginjak sisi kanan tahta teratai.

2. Tiga kepala, empat lengan, dan empat kaki. Lengan atas memegang vajra dan bunga, lengan bawah membentangkan busur. Dia menginjak sisi kanan mara. Pakaiannya mirip seperti bentuk yang sebelumnya. Inilah bentuk yang diyakini dilihat oleh Atiÿa (982-1054), pembaharu Buddhis India yang ajarannya mendasari ajaran sekte Kadampa Tibet.

3. Tiga kepala, enam lengan, dan enam kaki. Dia memegang semua lambang yang disebutkan dalam dua bentuk lainnya, tetapi dari rambutnya yang terurai muncul tigakepala kuda. Biasanya dia digambarkan dengan tiga mata, memegang sayap garuda, dan berpakaian kulit harimau dan gajah. Lengan bagian atas memegang vajra gandadan pedang, pasangan lengan berikutnya memegang tongkat kebesaran dan tombak ( khatvanga). Lengan bawah memeluk prajñä biru muda, dan memegang mangkuk tengkorak di kiri, sementara yang kanan membentuk mudra mistis (seperti mudra abhaya).

Semua aspek menakutkan dari Hayagrìva ini dimaksudkan untuk melambangkan ketakutan semua makhluk dalam simbol yang konkret. Dalam ‘simbolisme terbalik’ itu, hal yang ditakuti oleh seseorang diubah menjadi pelindungnya sendiri. Sesungguhnya tak ada yang harus ditakuti selain diri sendiri. Ini adalah dasar perlambang Hayagrìva.

Analitic

Suasana angin Topan di surabaya november 2017

Suhu Malaysia yang gagal Panggil Shen

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;