Tampilkan postingan dengan label Dewa-Dewi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewa-Dewi. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 Januari 2012 2 komentar

Arsip Mengenai Maha Brahma (Phra Prom) Bag 2

  • Brahma dalam Ajaran Buddha

    1. Bukan makhluk kekal, bukan pencipta, bukan penentu garis hidup makhluk lain.
    2. Berasal dari makhluk yang telah mengembangkan batin hingga di tingkat rupajjhana dan arupajjhana. Kehidupannya dibatasi oleh waktu.
    3. Bersifat person, bermuka satu dan tidak memiliki istri atau Shakti.
    4. Dilengkapi dengan Brahmaviharadhamma.
    5. Istilah Brahma juga dipakai untuk pengertian luhur, dewasa, orangtua, dsb.

    Menimbang perbandingan di atas, penerimaan brahmarupa sebagai bentuk pujaan dalam tradisi Buddhis dengan hanya beralasan bahwa brahma dikenal baik dalam ajaran Buddha tidaklah cukup. Baik bentuk dan konsep brahmarupa maupun persepsi pemuja terhadap brahmarupa perlu mendapat pelurusan sedemikian rupa sehingga penghormatan yang dilakukan itu bisa dikatakan sebagai penghormatan secara Buddhis. Namun pernyataan ini adalah terlepas dari sikap kebebasan berkehendak dari pemuja sendiri. Satu hak penuh bagi seseorang, dengan dasar pemikiran dan tujuan yang disadarinya, untuk memuja satu bentuk pujaan. Ulasan ini hanya memberikan kejelasan tentang prinsip brahma di masing-masing kepercayaan. Sebab, penerimaan satu bentuk pujaan luar ke dalam tradisi Buddhis akan berarti juga menghalalkan bentuk pujaan lain untuk masuk dalam tubuh Buddhis. Apa yang terjadi dalam agama Buddha apabila dalam tubuhnya penuh terisi dewa-dewa pujaan kepercayaan lain?

    Brahmarupa di Thailand

    Berikut ini adalah sekilas tentang kehadiran Brahmarupa ditengah-tengah masyarakat Thai. Artikel ini mengambil Thai sebagai kajian karena objek pujaan brahma yang sedang dibahas di sini berkaitan erat dengan yang ada di sana. Bisa dikatakan bahwa menjamurnya objek pujaan brahma oleh umat Buddha di Indonesia adalah pemasukan budaya dari negara itu.
    Selain mewarisi tradisi Buddhis, masyarakat Thai mewarisi tradisi kaum Brhamana pula. Ajaran Brahmana berpengaruh di masyarakat ini tak kurang dari seribu tahun yang lalu dan masih tersisa pengaruhnya hingga kini. Kendati, ajaran Buddha telah menyebar luas di hampir keseluruhan negara sejak lebih dari seribu tahun. Ajaran Brahmana datang ke negara ini hampir bersamaan dengan kedatangan agama Buddha ke sana. Namun, ajaran Brahmana di sana lebih dikenal dari segi tradisi dan tata upacaranya, alih-alih dari ajarannya. Di sisi lain, agama Buddha mendapatkan tempat yang lebih resmi sebagai agama panutan mereka. Tradisi dan tata upacara Brahmana pun seolah menjadi bagian dari tradisi Buddhis. Para brahmana sendiri, sebelum memulai upacara ala tradisinya, memimpin peserta upacara memohon Pancasila kepada bhikkhu.
    Seiring dengan berlangsungnya pengaruh tradisi Brahmana, kehidupan masyarakat sana pun tak terpisah dari hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan ini. Pura-pura Brahmana, ritual-ritual, pemujaan kepada para dewa, seperti: dewa Brahma, dewa Rah, dewi Umi atau Durga (pendamping dewa Siva), dewa Ganesa dan lain-lain bisa dijumpai di sana. Di antara para dewa di atas, Brahma adalah paling populer dipuja, yang mana adalah hal yang jarang terjadi dalam masyarakat penganut kepercayaan Brahmana di wilayah lain, meski di India sekalipun. Umat Brahmana di wilayah lain justru cenderung memuja dewa Siva, dewa Visnu atau dewa-dewa lainnya. Jadi, meskipun masyarakat Thai mengaku penganut Buddhis, yang sebagian memang adalah penganut buddhis yang taat, sebagian lagi adalah pemuja Brahmarupa juga. Brahmarupa yang dipuja adalah brahma dalam kepercayaan Bruhmana, sosok dewa bermuka empat, yang mampu sang pencipta makhluk, pemberi anugerah, rejeki, dan penentu garis hidup.

    Berhubungan dengan Brahmarupa di Thai, ada sebuah legenda yang membuat patung dewa ini melejit tingkat kepopulerannya. Meskipun sebelumnya Brahma sudah dipuja oleh sebagian masyarakat Thai, puncak kepopuleran patung ini adalah baru sekitar duapuluh tahunan yang lalu. Satu hotel dengan nama Erawan, yang adalah nama seekor Gajah, dibangun di pusat pertokoan kota Bangkok. Konon pemilik hotel ingin membangun sebuah patung dewa yang menjadi penunggang gajah Erawan. Maka dibangunlah patung Brahma di pojok sebelah depan hotel, yang semestinya bukanlah patung dewa Brahma melainkan patung dewa Indra. Sebab gajah Erawan adalah wahana atau tunggangan dari dewa Indra. Sedangkan, dewa Brahma memiliki angsa sebagai wahana. Tidak diketahui kesalahan ini adalah suatu kesengajaan atau tidak. Belakangan, ada satu cerita tentang seorang wanita yang sedang di landa permasalahan, tidak tahu kemana harus bersandar, datanglah ia ke depan patung dewa Brahma yang kebetulan ia lihat di pojok sebuah hotel. Ia memohon penyelesaian masalah di hadapan sang patung. Tekadpun ia keluarkan, bahwa kalau masalahnya bisa terselesaikan, ia akan bertelanjang menari dihadapan sang patung. Alkisah, ia benar-benar terlepas dari kegundahan akan permasalahannya. Dilakukanlah tekadnya itu. Dari mulut ke mulut, peristiwa ini mengundang sensasi besar bagi masyarakat sekitar. Para pemandu jalan pun berpropaganda kepada para pelancong manca negara, terutama yang berasal dari wilayah Asia. Para pelancong pun, yang bak sembari menyelam minum air, beradu nasib dengan memohon segala hal yang mereka inginkan. Alhasil, meskipun yang terkabulkan permohonannya itu tidak lebih dari 1 persen dari keseluruhan jumlah pemohon, gema ketenaran sang patung di pojok sebuah hotel ini menjadi ke mana-mana. Dan, celakanya, sang patung ini akhirnya dikenal dengan istilah Sie Mien Fuo (Buddha 4 muka) alih-alih Sie Mien Sen (Dewa 4 muka), hanya karena untuk memudahkan pendengaran para pelancong. Asal berupa sebuah patung dan berada di kota Bangkok, satu kota yang padat dengan pemeluk Buddhis, semuanya dianggap sebagai Fuo, patung Buddha saja.

    Dari ulasan yang cukup panjang lebar di atas, kira-kira jelaslah apa yang dimaksud Brahmarupa; bagaimana konsep dewa Brahma menurut Brahmana dan menurut Buddhis; dan, bagaimana pula sepantasnya seorang buddhis mengerti dan menghormat dewa Brahma. Sorot baliknya tentunya kembali kepada pengikut Buddhis masing-masing.

    catatan kaki :

    1. Majjhimanikaya, Atthakatha.
    2. Vinayapitaka, samantapasdiktaka.
    3. Mlapannasaka, Majjhimanikaya.
    4. Salakkhandhavagga Atthakatha.
    5. Lonakapallavagga, dukanipata
Se Mien Fo ( Phak Phom )

1. Mengenal Se Mien Fo

Dalam sutra Buddha, di sepuluh penjuru Buddha dan bodhisattva serta alam semesta terdapat 31 alam kehidupan. Bumi ini hanya satu titik kecil di alam semesta.dalam 31 alam tersebut terdapat alam manusia, binatang, surge, neraka, alam jhana dsb.
Dalam alam pathana jhana bhumi terdapat 3 alam, yaitu alam Brahma Parisajja, Brahma Purohita, dan alam maha Brahma.
Se Mien Fo yang dikenal dengan Maha Brahma Sahampati ( dalam bahasa Thai dikenal sebagai Phak Phom sin Nei atau Pah pong ) adalah penguasa dari alam maha brahma yang merupakan alam tertinggi dalam alam pathana jhana bhumi dan merupakan penguasa alam semseta.
Dalam sejarah para dewa Thailand, ditulis yang pertama sekali lahir dijagad raya ini adalah Maha Brahma. Oleh karena itu dia dianggap sebagai pencipta oleh para dewa dan manusia, dia dianggap sebagai dewa terbesar karena menggerakan alam semesta dan merupakan penguasa dari alam-alam yang ada seperti manusia, asura, dewa dan alam lainnya.
Phak Pom memiliki kesaktian yang tidak terbatas. Keistimewaan Phak Pom ialah menawarkan pertolongan kepada orang yang dengan tulus bersujud dan berdoa kepada Nya dari seluruh arah, dan dia akan dengan senang hati mengabulkan permintaan mereka, sehingga terlihat semua hal yang dilakukan adil dan bijaksana.

Phak Pom memiliki empat muka yang melambangkan empat masa penciptaan, delapan telinga yang welas asih mendengarkan doa dari seluruh mahluk hidup, dan delapan tangan yang membawa alat keagamaan yang dipercaya memiliki makna khusus, yakni :

1. Tasbih ( manic manic ) untuk mengontol karma mahluk hidup dan reinkarnasi
2. Tangan di depan dada untuk menawarkan belas kasih dan berkah kepada seluruh mahluk hidup
3. Rumah keong untuk lambing kekayaan dan kemakmuran
4. Vas bunga ( teko ) untuk air berkat (pemenuhan keinginan )
5. Buku ( kitab Veda ) untuk lambing ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan
6. Tongkat untuk lambing kehendak dan kesuksesan
7. Cinta mani ( bendera kebesaran ) lambing kekuatan maha kuasa Buddha
8. Roda terbang ( cakram ) lambing menangkal bahaya bencana dan celaka, menangkal setan

Karena kewelas asihan dan kesaktian Phak Po mini maka semua dewa tunduk padanya. Kekuatan dari Phak pom memberikan bantuan atas nyawa yang dalam bahaya, keuntungan dalam usaha, jodoh dan lainnya.
Dikatakan bahwa jika seseorang ingin keinginan dipenuhi maka harus mendapat seorang penari striptease ( tarian tanpa busana ) wanita untuk pertunjukan di hadapan maha brahma sebagai persembahan, hal ini salah pengertian dan penuh dosa, memojokan dan tidak menghargai maha brahma.
Usia dari dewa Maha Brahma di alam pathana jhana bhumi mencapai satu asekheyya kappa sama dengan dua puluh antara kappa. Kappa sama dengan satu mil kubik berisi biji sawi dikali 100 tahun masa manusia untuk satu biji sawi.
Dalam menyembah Phak Pom, kita juga harus menerima ajaran kewelas asihan Phak Pom dari 4 penjuru, yaitu :

1. Arah depan ( metta ) artinya mengasihi seluruh mahluk hidup tanpa memandang perbedaan apapun.dengan mengasihi melalui ucapan, perbuatan, dan pikiran.
2. Arah kanan ( galula ) artinya memiliki hati yang tergerak untuk menolong penderitaan orang lain dan mahluk lain. Contoh : menolong orang miskin, orang sakit, melepas hewan.
3. Arah kiri ( mutitia ) artinya ikut berbahagia dengan perbuatan bajik orang lain, tidak iri, dan tulus membantu dan mengajak orang lain bebruat kebajikan.
4. Arah belakang ( ubega ) artinya kita harus mengembangkan ketulusan dan tidak terpaksa dalam membantu mahluk lain, tidak mengharap imbalan, menganggap semua adalah sama, tiada musuh atau kawan yang hendak ditolong saja.
Jika dengan tulus melakukan 4 hal diatas, maka semua akan berjalan lancer. Semakin banyak kita melakukan kebajikan, maka akan semakin membawa dampak yang baik bagi kita.bahkan para dewa juga ikut senang.

2. Tata cara sembahyang di Rumah

Dalam mengundang se mien fo, harus memperhatikan beberapa hal. Tempat sembahyang ( altar ) se mien fo jika tidak dapat ditaruh di ruang terbuka maka dapat ditaruh dalam rumah, asal ada tempat yang bersih sudah boleh. Hanya harus ingat tidak boleh ditaruh dekat toilet, atau berhadapan dengan toilet.

Hal yang perlu diperhatikan :

1. Altar se mien fo harus lebih rendah dari altar Buddha ( jika ada Buddha ), tetapi harus lebih tinggi dari tempat duduk dan tempat tidur kita.

2. Perlengkapan altar
a. Rupang atau gambar kalau di depannya ada ruang kosong boleh ditaruh vas bunga sepasang
b. Hio 7 buah
c. Bunga 7 warna
d. Hiolow 4 buah
e. Gelas 7 buah
f. Mi siang ( sejenis snack dari beras dan gula atau disebut jipang atau mipang )
g.Lilin 7 buah hari khusus, 2 buah hari biasa.

3. Meja sembahyang ( tempat sajian ) harus lebih rendah dari tempat kedudukan patung.tidak boleh lebih tinggi.

4. Altar harus bersih, saat sembahyang dengan bunga segar kalau layu segera diganti. Bunga-bunganya dapat berupa lotus, mawar, melati atau krisan, sedap malam atau bunga berwarna kuning cerah.

5. Usahakan air minum 7 gelas dapat diganti setiap hari.atau 3 hari sekali.

6. Sisa hio harus dibersihkan dari meja

7. Sembahyang dengan buah dapat berupa tebu, kelapa, pisang, jeruk, nanas, dsb. Hari biasa dapat ditaruh kelapa saja.

8. Jika mau minta permohonan, maka yang penting ada 7 hio dan satu mangkuk mi pang sudah cukup. Atau jika tidak dengan tulus berdoa saja.

9. Ketika mempersembahkan sesajian harus mengucap :

Saya yang bernama …..dengan tulus bersujud mempersembahkan sajian ini. Semoga phak pom menerima sajian ini dan semoga semua mahluk berbahagia dengan jasa pahala ini.

3. Upacara upacara

a. Kelahiran se mien fo

Hari kelahiran se mien fo tanggal 9 november setiap tahunnya.berbagai sajian yang perlu :

1. Jika sajian ditaruh I depan altar phak pom
a. Bunga 7 warna ditaruh dalam 7 mangkuk
b. Tebu dipotong dan dibagi dalam 7 mangkuk, diatasnya ditaruh satu bunga mawar setiap mangkuk.
c. 7 mangkuk bi pang diatasnya ditaruh satu mawar tiap mangkuk
d. 7 lilin disusun membentuk lingkaran dengan satu lilin di tengah, disusun di atas satu piring
e. 3 kelapa hijau yang kedua ujungnya sudah dikupas
f. Pisang 2 sisir
g. Air putih 7 gelas
h. Hio 7 batang
2. Jika sajian di empat arah muka
a. Hio 7 batang tiap arah
b. 4 kelapa hijau di tiap arah
c. Tebu tiap arah
d. Lilin kuning 4 buah, di tiap arah
e. 7 bunga mawar ditaruh di depan saja ( bagian muka utama )
f. Kalung melati dikalungkan di leher atau di setiap tangan
g. Bi pang di tiap arah.

Menaruh lainnya juga boleh seperti patung gajah ataubuah nanas dll. Jika hendak membersihkan patung. Harus phak puei ( minta ijin )dan saat mencuci harus dengan tulus dan badan kita juga bersih.
Akan lebih baik jika 7 hari, 3 hari sebelumnya atau tepat pada hari kelahirannya kita vegetarian. Dalam menyambut upacara nya, kita berdoa semoga semua lancer, tiada gangguan. Waktu yang terbaik pada jam 7 – 10 malam.

b. Hari biasa / khusus

Hari yang biasa untuk menaruh sajian yaitu hari uposatha dan kamis dalam setiap minggu.sajiannya yaitu :
a. Bunga apa saja dikalungkan atau ditaruh saja
b. Hio 7 batang
c. Lilin kuning
d. Satu mangkuk bi pang
e. Kelapa tiap arah 1 biji
f. Tebu satu potong tiap arah

Untuk sajian d,e,f, sesuaikan kemampuan. Jika tidak tersedia boleh salah satunya saja. Untuk hari biasa sembahyang cukup dengan lilin kuning dan hio 7 batang atau 4. Satu batang tiap arah, untuk air harus diganti tiap hari atau 3 hari sekali.
Waktu sembahyang terbaik pagi atau malam jam 7-8. Setiap pukul itu dipercaya phak pom turun kedunia. Sedangkan sajian boleh jam berapapun.

Tata cara sembahyang

Muka depan ( utama ) jam 6 pagi memohon kesehatan ketentraman, kerukunan, damai, jauh dari penyakit, bahaya, panjang umur, dan kesembuhan.
Muka kanan jam 9, memohon jodoh pribadi, pergaulan yang baik, wibawa, masalah selesai.
Muka belakang jam 12 siang. Memohon rejeki, lancer dagang, naik gaji, kemakmuran, utang piutang lancer.
Muka kiri jam 3. Memohon kui jin, selamat dijalan, ujian lulus, mengusir sial dan kemalangan.

Cara berdoa dimuali dari arah depan muka. Menuju ke kanan,searah jam, pada jam 6,9,12,3 digunakan untuk memohon sesuatu yang lebih khusus.

Hal yang dieprhatikan waktu memuja :

Sewaktu memuja se mien fo baik sekali jika duduk di sebelah timur, menghadap barat.
Waktu sembahyang terbaik pukul 7 sampai 8. Sehari cukup 2x sembahyang, cukup 10 menit berdoa.
Patung phak pom bagusnya berwarna emas, karena ia berasal dari janin emas.

Mantra Maha Brahma
Pah pong ( dibaca 7x )
Om palam pati lama ( dinaca 7x )
Nammo tassa bhagavato arahate samma sambuddhassa
( dibaca 3x sebelum doa suci )

Doa Maha Brahma
Om karabindunatam Uppannam Brohmasaha patinama
Attikappe su, A, Kato pancapatunam Tsiva Namo Buddhaya
Vandanam
Siddhi kiccam, siddhi kammam, siddhi kariya tadakato,
Siddhi teco jayoniccam, siddhi ladho nirantaram sabba kamman
Pra siddhime, sabba siddhi bhavantu me


Mantra Maha brahma
Maha lapo, maha tero
Maha khong kha phan
Maha savathit, maha sitichai
Maha siti chut, maha amalichut
Om, si, siti, ut, bhavantu me
Iti piso bhagava, bhagavan patik
Nammo buddhaya, buddhaya, buddhaya
0 komentar

Arsip Mengenai Maha Brahma (Phra Prom) Bag 1

  • Kutipan Dharmadesana Mahaguru dalam pewarisan Sadhana Berharga Maha-brahma 27 Aug 2011 di Seattle
    Translated by Lianhua Jun Shi An

    (注意:密教所有的手印,咒語及修持應該先得到根本上師的灌頂才可以修,否則犯了盜法罪。本頁不接受有關此 法的問答,若有疑問必須向金剛上師求指示才算是如法,尊重密法的尊貴。以下有印尼常住上師所有道場的地址。 其它的國家可以自找在 www.tbsn.org )

    Perhatian : Semua mudra, mantra dan sadhana dalam Tantrayana mengandung makna esoterik, sehingga baru bisa ditekuni setelah memperoleh abhiseka dan instruksi dari Mahamulacarya. Jika tidak , berarti telah melanggar ketentuan Dharma dan melakukan pelanggaran pencurian Dharma.
    Page ini tidak menerima tanya jawab mengenai Sadhana Mahabrahma, jika ada pertanyaan harap langsung memohon pengarahan dari Vajracarya , dengan demikian barulah sesuai dengan tata Dharma dan menghormati keagungan Dharma Tantra.
    Di bawah artikel ini ada daftar alamat Vihara di Indonesia yang terdapat Acarya tetap. Untuk negara lain bisa mencari di www.tbsn.org


    Terlebih dahulu, marilah kita bersembah sujud pada Para Guru Leluhur, Bhiksu Liaoming, Acarya Sakya zhengkong (Dezhung Rinpoche), Karmapa 16, Acarya Tubten Dhargye. Sembah sujud pada Triratna mandala, juga sembah sujud pada Adinata sadhana hari ini, Namo Amitabha Buddha, kita bersembah sujud pada adinata pewarisan sadhana hari ini Maha-brahma Deva-raja. Gurudara, para Acarya, Dharmacarya, bhiksu, Pandita Dharmadhuta, Pandita Lokapalasraya, para ketua vihara, para saudara saudari Sedharma, dan semua yang menyaksikan lewat internet, serta semua tamu agung, selamat siang semuanya.

    Susunan acara hari ini sangat panjang, sehingga saya harus menjelaskan adinata ini yaitu Mahabrahma Devaraja dengan ringkas. Saat Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan di bawah Pohon Bodhi, Beliau tidak ingin menetap di dunia dan hendak segera masuk Parinirvana, saat itu Dewa Brahma dan Sakradevanam Indra hadir untuk memohon Buddha Sakyamuni menetap di dunia memutar Dharmacakra (membabarkan Dharma). Adalah Mahabrahma Deva dan Indra Deva yang memohon Buddha Sakyamuni membabarkan Dharma di dunia ini, sehingga kemudian baru ada Agama Buddha. Sehingga Dewa Mahabrahma ini adalah yang memohon Buddha untuk menetap di dunia membabarkan Dharma, merupakan Dewa Mahabrahma yang berbudi jasa bagi para insan.

    Meskipun Dewa Brahma dalam Buddhisme hanyalah di tingkatan dhyana pertama, juga hanya merupakan hampir surga pertama atau kedua di rupadhatu. Namun, dalam Hinduisme, Dewa Mahabrahma adalah Dewata yang mempunyai kedudukan sangat tinggi, merupakan Dewata tertinggi, juga disebut sebagai Sang Pencipta. Dalam Agama Hindu ada Tri-murti, yaitu Dewa Pencipta adalah Dewa Mahabrahma, kemudian Dewa Pelebur yaitu Mahesvara dan yang satu adalah Dewa Pemelihara yaitu Vishnu. Dalam filosofi Agama Hindu, Tri-murti merupakan sirkulasi, yaitu penciptaan, pemeliharaan dan peleburan, demikianlah lila yang dilakukan oleh Tri-murti.

    Mengenai Sang Pencipta, di Hindu sendiri dengan Buddhisme ada sedikit perbedaan penjabaran, dalam Hindu yang dinamakan Sang Pencipta adalah Dewa yang menciptakan alam semesta dan semua umat manusia. Mengenai kedudukan Dewa Mahabrahma, bila diungkapkan yang lebih rahasya, adalah Tuhan Allah Yahweh, dapat dikatakan merupakan Tuhan yang dipuja oleh agama-agama dari Timur Tengah.

    Adinata ini adalah Sang Pencipta Yang Paling Terhormat yaitu Dewa Mahabrahma. Menurut kisah dalam Hindu, asalkan Beliau turun ke dunia, maka Beliau akan menjadi Raja, Kaisar, maupun pimpinan, kedudukannya sangat istimewa. Sehingga asalkan Anda beryukta dalam Sadhana Mahabrahma, maka Anda akan memperoleh ketenaran dan termasyhur, dengan kata lain Dewa Mahabrahma mampu menganugerahkan tanda Dharma Nya kepada Anda, tanda ini adalah tongkat kekuasaan, maka di dunia manusia ini Anda akan menjadi Raja, yaitu Raja Cakravartin.

    Dewa Mahabrahma memiliki banyak jati diri, Beliau sangat terhormat, sangat teragung, Beliau juga sangat misterius, banyak orang yang tidak mengetahui siapakah Beliau sesungguhnya...

    Banyak yang salah paham terhadap Dewa Brahma. Ternyata Dewa Brahma yang agung dalam Hindu, merupakan Tuhan bagi agama-agama di dunia, seungguhnya antara Dewa Brahma dan Indra dalam Buddhisme adalah bersama. Dewa Mahabrahma yang maha agung dalam Hindu, ternyata sebutan lainnya adalah Tuhan Allah. Sesunggunya agama-agama di dunia adalah karena lokasinya berbeda, suku juga berbeda, sehingga seakan Tuhan mereka terpisah-pisah, sesungguhnya semua adalah Dewa Mahabrahma yang sama, inilah jati diri Nya yang sejati. Anda jangan kira Beliau siapa, juga tidak perlu menebak-nebak, Dewa Mahabrahma yang Mahaguru saksikan sungguh merupakan Dewata yang paling diagungkan oleh berbagai agama dunia.

    Tadi malam saya hanya tidur sebentar, karena Dewa Brahma hadir, saya telah berbincang sangat lama dengan Beliau, sehingga waktu tidur menjadi kurang. Beliau mengatakan :
    “Jangan menebak siapa Aku, tidak perlu menebak siapakah Aku, Aku adalah Mahabrahma, merupakan pemilik sesungguhnya dari jagad raya ini. Merupakan Tuan dari seluruh semesta , semua umat manusia dan segalanya.” Cara bicara ini sama dengan Yesus, yaitu menyatakan bahwa “Akulah Tuhan, Tuhan Yesus, akulah Allah Yahweh , akulah Mahabrahma, tidak perlu menebak siapa Aku.”

    Dewa Mahabrahma adalah Dewa Pencipta, tentu saja dalam Buddhisme bukan selalu merupakan Dewa Pencipta, namun menurut yang lainnya Beliau adalah Sang Pencipta. Hanya teori asal usul manusia dalam Buddhisme yang menyatakan bahwa para Dewata dari Surga Abhasvara, saat bumi terbentuk mereka datang ke bumi, merasa materi di bumi sangat baik, akhirnya mereka tidak kembali, menjadi leluhur umat manusia, demikianlah menurut Buddhisme.

    Namun sesungguhnya siapakah Dewa Surga Abhasvara ?
    Surga Abhasvara adalah berhubungan dengan Dewa Mahabrahma. Sehingga dalam agama Buddha dikatakan bahwa Dewa Surga Abhasvara adalah leluhur umat manusia, termasuk Immagriation, mereka berimigrasi dari Surga Abhasvara ke bumi ini, termasuk teori imigrasi. Sedangkan teori penciptaan, manusia adalah diciptakan. Namun menurut Buddhisme, merupakan teori imigrasi, yaitu berimigrasi ke bumi. Sedangkan agama lain, termasuk agama Hindu dan semua agama besar lainnya di dunia menggunakan teori penciptaan.

    Dewa Brahma adalah Hyang Tertinggi, hari ini Anda yang hadir sungguh memiliki berkah, setelah menerima abhiseka ini, yang pertama kelak Anda akan sangat ternama ; Yang kedua Anda akan sangat terhormat ; Yang ketiga, Anda akan kaya raya. Sehingga asalkan Anda mencapai yukta dalam Sadhana Mahabrahma, kelak saat Anda ingin lahir kembali di dunia manusia, akan memiliki kedudukan seperti Obama, atau menjadi Bill Gates,Anda akan makmur. Jadi keagungan adinata ini, merupakan Raja umat manusia, asalkan Beliau menitis, pasti menjadi Raja umat manusia.
Dalam Buddhisme juga dikatakan bahwa asalkan Mahabrahma menitis kedunia, maka adalah Cakravatin, yaitu Raja paling terhormat di dunia manusia...
Mudra Mahabrahma , (Mahaguru memperagakan mudra. Harus memperoleh abhiseka langsung dari Mahaguru baru boleh mempelajarinya, bagi yang ingin menekuni sebaiknya memohon petunjuk Vajracarya barulah sesuai dengan tata ketentuan yang sah) . Beliau empat muka dan delapan lengan, masing-masing memiliki maknanya, ada satu tangan yang membawa bendera titah, yang berarti Beliau mempunyai Dharmabhala yang serba bisa, Dharmabhala Nya sangat kuat ; Ada satu tangan membawa sutra Buddha, berarti Beliau sangat memiliki Prajna ; Ada satu tangan yang membawa Dharma-sankha (keong putih yang biasa digunakan utk upacara Dharma), bermakna Beliau menganugerahkan berkah kepada para insan ; Ada satu tangan yang membawa vidya-cakra (Roda Terang), bermakna tolak bala, menaklukkan mara dan klesha (kerisauan batin) ; Satu tangan membawa Tongkat Kekuasaan, bermakna pencapaian agung, pencapaian yang sangat tinggi ; Satu tangan membawa kalasa (tempat air), bermakna jika Anda memohon pada Nya, maka Beliau akan memberikan kontak batin ; Hari ini, setelah Anda menerima abhiseka, pulang dan memohon pada Nya, maka Beliau akan memberikan respon. Ada juga satu tangan Beliau yang membawa japamala, yang bermakna enam alam tumimbal lahir. Satu tangan menekan dada, bermakna Beliau melindungi semua insan, karena Dewa Pencipta juga sedang melindungi para insan.


Bagaimana cara mendirikan mandalanya ? Semua mandala dalam Tantrayana adalah persegi, sedangkan di dalamnya adalah bulat, mirip dengan “Langit bundar bumi persegi” dalam masyarakat Tionghoa, ini merupakan cara pendirian mandala tantra. Adinata yang ditengah adalah Dewa Mahabrahma. Mahabrahma mengendarai kereta yang ditarik sapta hamsa, berarti Beliau termasuk angka tujuh, Number Seven,apakah maknanya, yaitu tiap minggu ada tujuh hari, ini merupakan sebuah sirkulasi, karena saat Yehuwa menciptakan langit dan bumi total ada tujuh hari, pada hari ketujuh beristirahat, demikian Dewa Mahabrahma berstana diatas tahta sapta hamsa (Tujuh angsa putih). Untuk memohon pada Nya sangat mudah, dulu Guru saya yang mengajarkannya, Mahabrahma bersthana ditengah, di sekelilingnya ada tujuh bulu hamsa, Anda ingat, tujuh helai bulu hamsa, Anda bisa menandainya, satu helai untuk Senin, satu helai untuk Selasa, Rabu , Kamis, Jumat , Sabtu dan Minggu, total ada tujuh helai bulu diletakkan mengelilingi Mahabrahma. Tiap kali bersadhana saat menjapa mantra Nya, maka Anda mengambil satu helai bulu dan menjapakan mantra sebanyak 108 kali, (Mahaguru menjapa mantra Mahabrahma. Harus menerima abhiseka baru bisa menekuninya. Bagi yang hendak menekuni bisa mohon pengarahan dari Vajra Acarya) . Japakanlah mantra Mahabrahma sambil memegang bulu putih tersebut, kemudian tangan yang satunya membentuk mudra Nya. Bulu itu harus bulu hamsa (angsa putih). ...

Tujuh helai bulu hamsa ditancapkan mengitari Mahabrahma, melambangkan selama satu minggu penuh manggala, sehari ambil satu untuk dijapakan, setelah dijapakan ditancapkan kembali.
Sampai Anda menjapa memperoleh kontak batin, merasa Mahabrahma hadir, yaitu Adinata Prajna bertransformasi menjadi wujud Sambhogakaya yaitu wujud Mahabrahma, memasuki tubuh Anda, dan Anda memperoleh kontak batin Mahabrahma menyatu dengan Anda, ini disebut yukta, yaitu beryukta dengan tubuh samaya. Dalam tantrayana diajarkan penyatuan dengan yidam, yaitu Beliau memasuki tubuh Anda, Anda memasuki tubuh Nya, ini merupakan fenomena yukta, kemudian barulah Anda boleh mengambil bulu untuk hari Senin dan membawanya di kantung Anda, keluar rumah, maka semua akan mematuhi ucapan Anda, segala yang diinginkan akan terlaksana, Anda membawa bulu itu saat berbisnis maka partner bisnis akan mendengar Anda. Ini adalah sebuah bulu hamsa manggala, bulu hamsa yang sesuai harapan. Pada hari Selasa , Anda membawa bulu hamsa helai kedua yang telah Anda tandai untuk hari Selasa. Hari Rabu membawa bulu helai ketiga, maka selama satu minggu berturut turut semua akan manggala dan sesuai harapan.

Dalam sadhana ini yang paling utama adalah tujuh helai bulu hamsa, sangat penting, Anda harus menekuni sadhananya sampai beryukta barulah bisa membawa bulu tersebut, dengan demikian akan sangat manggala. Selain itu menghaturkan asta-pujana (delapan persembahan), bunga, dupa, pelita, teh, buah , semuanya ditata di sekelilingnya membentuk sebuah mandala persegi empat. Di tengah adalah Mahabrahma bermuka empat dan berlengan delapan, disekelilingnya melingkar tujuh helai bulu hamsa, one to seven,yaitu hari Senin sampai minggu, bulu itu harus ditata dengan sangat baik, kemudian dikelilingi lagi dengan bunga-dupa-pelita-teh dan buah.
Semuanya tahu bahwa Buddha Empat Muka di Thailand , semua umat suka mempersembahkan bunga, sesungguhnya bunga-dupa-pelita-teh dan buah semua sama. Mendirikan altar tantra, sampai penataan akhirnya di bagian luar adalah persegi empat, bagian dalam adalah lingkaran, dirikanlah mandala ini dengan baik, maka akan memberikan kemanggalaan dan sesuai harapan, semua perkataan Anda akan menjadi benar, semua menjadi kebenaran. Karena Mahabrahma mengatakan , “Akulah kebenaran, Akulah terang, pelita yang menerangi langkah-mu, Aku adalah jalan.” Yesus juga pernah mengatakan demikian, “Aku adalah kebenaran, Aku adalah terang, Aku adalah pelita yang menerangi langkahmu.” Asalkan Anda bersadhana sampai beryukta, maka Anda akan demikian itu, semua yang Anda katakan akan menjadi benar, tidak seperti kita ada kalanya salah bicara.

Dengan beryukta adinata ini, maka semua perkataan Anda harus ditaati oleh setiap orang. Asalkan tongkat kekuasaan itu ada ditangan Anda, maka akan luar biasa, Anda juga akan sangat berkebijaksanaan.

Mahabrahma sangat bijaksana, perkataannya melambangkan Kebijaksanaan, Beliau juga memiliki Dharmabhala.

Mahabrahma sendiri melambangkan Dharmabhala yang memiliki banyak kemampuan, melambangkan Dharmabhala ! ... Mohon kepada Mahabrahma, tidak peduli ada bencana apapun, mohon Anda tidak murka, supaya bencana besar menjadi kecil, bencana kecil menjadi sirna. Supaya bencana diminimalkan . Karena Dewa Mahabrahma mempunyai Dharmabhala yang berkemampuan banyak, sungguh sangat hebat... Beliau mampu menolak bala, menaklukkan mara, mampu menaklukkan klesha, serta mengabulkan semua permohonan yang bajik ! Beliau membawa sebuah kalasa, ini bermakna mengabulkan permohonan.

"Mahabrahma sungguh baik ! Mampu mengabulkan permohonan !"

Japamala merupakan simbol tumimbal lahir, mudra menekan dada melambangkan perlindungan, dengan menghaturkan pujana pada Mahabrahma Devaraja, maka Beliau akan melindungi Anda, Beliau mampu melindungi seperti Vishnu Sang Dewa Pemelihara.

Sesungguhnya Tri-murti agung dalam agama Hindu, banyak orang yang menghormatinya, Siva, Ganesh maupun Dewa Brahma, semua memiliki kemampuan dalam melindungi, karena saat Anda memuja Dewa Pelebur, maka Beliau mampu membuat supaya Anda tidak menderita oleh efek kerusakan. Vishnu terlebih lagi mampu melindungi Anda, sedangkan Dewa Mahabrahma adalah Dewa Pencipta, maka Beliau juga terlebih lagi mampu melindungi, karena Anda diciptakan oleh Nya (ket : Seperti kita lahir melalui orangtua), maka Beliau pasti berkenan melindungi Anda. Jadi Mahabrahma sangatlah agung, asalkan Anda mampu memasuki Dewa Brahma atau Dewa Brahma hadir dalam diri Anda, maka Anda akan ternama, kemakmuran juga akan tiba, kehormatan juga akan tiba, segala permohonan bajik akan terkabul.

Tata ritual sadhana , Anda bisa memohon pada True Buddha Foundation untuk menyusunnya, saat Senin ambil sehelai untuk hari senin kemudian dijapakan, setelah itu ditaruh dalam saku Anda, atau saat bersadhana ditaruh dalam saku Anda, maka perlahan minggu demi minggu akan berkontak batin dengan Mahabrahma, menjapa mantra Nya 108 kali, saat memasuki samadhi bervisualisasi Mahabrahma, bermuka empat berlengan delapan, Anda memvisualisasikan dengan jelas bendera titah, sutra Buddha, Dharma-sankha, vidya-cakra, tongkat kuasa, kalasa, japamala, kemudian bervisualisasi Beliau sebagai Adinata Prajna berubah menjadi Adinata Sambhogakaya, kemudian memasuki tubuh Anda menjadi tubuh samaya, lakukan visualisasi samadhi demikian, visualisasi - japa mantra kemudian samadhi, menurut tat urutan demikian, setiap hari membawa sehelai bulu hamsa, bermakna Anda sangat terhormat, begitu Anda keluar membawa bulu hamsa ini maka akan manggala dan sesuai kehendak, setiap orang yang melihat Anda semua akan menghormati Anda.

Dengan adanya mandala, kemudian ada sadhana, kemudian ada Anda menjapa mantra, setelah abhiseka Mahabrahma, maka Anda akan menjadi Dewa Mahabrahma yang terhormat, sampai disini saya memperkenalkan adinata ini. Om Mani Padme Hum.
  • ☆ source : Article from Nuona Temple
    Translated by Lianhua Jun Shi An


    Umat Buddha hendaknya memahami dan berterima kasih kepada Maha-brahma Deva-raja (大梵天王 – Da fan tian wang),saat itu jika bukan karena upaya Nya sebanyak dua kali untuk memohon Buddha menetap di dunia membabarkan Dharma, karena setelah Sang Buddha mencapai realisasi Beliau segera memasuki Parinirvana. Jika bukan karena budi jasa Dewa Maha-brahma, kita semua saat ini, bahkan satu nama Buddha pun tidak akan pernah mendengarnya, waktu telah berlalu sangat lama, namun kita yang terpuaskan dahaga oleh air hendaknya terpikirkan akan sumber air, hendaknya tidak lupa berterima kasih dan menghargai berkah ini.

    Mungkin ada yang mengatakan : “Kita memperoleh Dharma kali ini adalah karena karma kita sendiri, walaupun Brahma tidak memohon Buddha menetap, kalau memang karma kita dapat mendengar Dharma , maka kita akan mendengarnya, buat apa berterima kasih pada Dewa itu.”
    Pendapat ini seakan akan terdengar sangat menyakini hukum karma. Namun sesungguhnya hukum karma tidak sesederhana yang dibayangkan. Kalimat itu juga lupa bahwa rasa syukur , rasa terima kasih juga merupakan salah satu metode untuk mengikis ego.

    Apakah Buddha mengajarkan supaya seorang anak tidak perlu berterima kasih pada orangtua karena anak tersebut bisa lahir dan tumbuh karena karmanya sendiri ?

    Apakah kita tidak perlu berterima kasih pada para dermawan yang sudah berusaha mengundang seorang Bhiksu Agung untuk hadir membabarkan Dharma bagi kita ?

    Apakah ajaran mengenai hukum karma digunakan untuk menegaskan bahwa tidak ada yang berjasa kepada kita ?

    Sembah sujud sepenuh hati kepada Pimpinan dunia saha Maha-brahma Deva-raja Yang Maitri-karuna-mudita dan upeksha.

    1. Maha-brahma Deva-raja Memohon Buddha Menetap Di Dunia :

    Saat itu Buddha Sakyamuni merealisasikan Kebuddhaan di bawah pohon Bodhi, kemudian Beliau melakukan meditasi dan perenungan selama beberapa minggu, Beliau berpendapat bahwa Kebenaran yang Ia realisasikan belum pernah dibabarkan oleh para pendahulu, merupakan sebuah ajaran yang sangat sukar dipahami, apalagi jika harus dibabarkan pada orang awam yang ditutupi kegelapan batin, mungkin umat awam tidak akan sanggup memahaminya. Jika telah susah payah dibabarkan, namun mereka masih tidak mampu menerimanya, bukankah ini hanyalah sebuah kesia siaan, oleh karena itu Sang Buddha hendak memasuki Parinirvana dan tidak perlu menetap di dunia untuk membabarkan Dharma.

    Dalam Lalitavistara Sutra Bab 10 bagian 25 Mengenai Permohonan Maha-brahma Deva-raja, dalam Buddha-abhiniskramana Sutra Bab 33 Bagian 36 Mengenai Permohonan Maha-brahma Deva-raja, daam Maha-sammata-raja Sutra Bab 7, dalam Bab 3 dari Sutra Mengenai Karma Masa Lampau dan Saat Ini , dalam Lalitavistara Sutra (Pu yao jing) Bab 10 Bagian 23 Mengenai Dewa Brahma Mengajukan Permohonan Pembabaran Dharma, dalam Ekottaragama Sutra Bab 10 Bagian 19 Mengenai Permohonan, ada tercatat bahwa saat itu Dewa Brahma Sikkhin Dewa Yang Tertinggi di semesta ini, secara langsung memimpin puluhan ribu Dewata beserta Kaushika Indra, semua Dewata kamadhatu, untuk menyampaikan permohonan pada Sang Baghavan : “Jika Sang Baghavan tidak membabarkan Dharma, para insan akan makin terjerumus, makin menuju pada kegelapan, jika ada cara untuk membabarkan ajaran, sekalipun ajaran itu sangat dalam, pasti juga ada insan yang mampu memahaminya, mohon Baghavan mengasihani para insan dan membabarkan Dharma, menyelamatkan para insan.”

    Akhirnya pada bhadrakalpika yang ke empat, pada semesta yang diliputi kegelapan, telah dinyalakan sebuah pelita Prajna , sehingga para insan enam alam memperoleh Dharma sebagai tempat bersarana.

    2. Maha-brahma Dewata Yang Agung
    Menurut yang tercatat dalam sutra Buddha, dalam sepuluh penjuru Buddha-loka, secara garis besar ada 28 surga, diantaranya termasuk enam surga kamadhatu, yang dipimpin oleh Sakra Devanam Indra (Kaisar Kumala), lebih keatas adalah tiga surga dhyana pertama yang dipimpin oleh Maha-barhma Deva-raja, sehingga Maha-barhma Deva-raja bukan hanya merupakan Dewata bagi umat manusia, namun juga merupakan penguasa dari para asura, para Dewata kamaloka, sampai para dewata di tiga surga Dhyana pertama. Di alam surga, kekuatan Brahma Deva-raja bisa dikatakan tanpa batas, memiliki kekuatan dalam menguasai kemakmuran dan ketenteraman umat manusia di dunia (Lihat Sutra 12 Dewa).Dalam sutra Sang Buddha juga telah menuturkan bahwa Raja bagi para dewa dan manusia adalah Maha-brahma, sedangkan Sang Buddha sendiri adalah Guru Pembimbing Triloka yang dijunjung tinggi oleh para dewa dan manusia.

    Di masa berkalpa yang lampau, saat Buddha Sakyamuni menjalankan aktivitas Bodhisattva , Beliau juga pernah di berbagai penjuru dunia melakukan kebajikan seperti yang dilakukan oleh Dewa Maha-brahma, yaitu memohon Buddha menetap di dunia dan memutar Dharmacakra. (lihat : Suvarnaprabhasa Sutra Bab 5 )


    3. Sekte Zen Bersumber Dari Permohonan Maha-brahma Deva-raja
    Di masa lampau maupun yang akan datang , dalam waktu yang tak terhingga, tanpa awal dan tanpa akhir, di berbagai ruang, dunia ini maupun dunia yang lain, jika ada yang merealisasikan Anuttarasamyaksambodhi, saat itu Raja para dewa dan manusia, Maha-brahma Deva-raja, akan menitahkan pada semua dewata untuk bersama memuja Buddha dan memohon menetap di dunia untuk membabarkan Dharma demi para insan di enam alam. (lihat : Saddharmapundarika Sutra Bab7) , Sutra Pencapaian Kebuddhaan Maitreya. Pada Bhadrakalpika yang keempat, masa Buddha Sakyamuni, di atas pasamuan Gunung Grdhrakuta, Maha-brahma Deva-raja memegang akar realisasi bagi para insan di Trisahasra-mahasahasra-lokadhatu, menghaturkan pujana berupa Saddharma-pundarika-suvarna-prabha-maha-phala-pushpa kepada Sang Buddha, juga merelakan tubuhnya menjadi Dharmasana bagi Buddha, Sang Buddha duduk diatas singasana Dharma mustika penjelmaan dari Maha-brahma, tangan Sang Buddha mengangkat Saddharma-pundarika-suvarna-prabha-maha-phala-pushpa (nama bunga), mewariskan Dharma mengenai Batin luhur nirvana dari garbha Mata Dharma, Metode Dharma rupa dan arupa nan luhur, yang tidak terungkapkan dengan kata-kata, kepada Mahakasyapa, membuka sumber sekte Zen, yang pada akhirnya terwariskan sampai sekarang. (lihat : Sutra Pertanyaan Maha-brahma Kepada Sang Buddha Bab1 mengenai Pendahuluan dan Bab 2 mengenai Mengangkat Bunga) Sutra ini pada masa lampau tersebar di dalam kalangan istana.
4. Maha-brahma Mempraktekkan Catur Apramana, Menganugerahkan Berkah bagi para dewa dan manusia

Maha-brahma bermuka empat, berlengan delapan,satu tangan memegang bendera titah, Sutra Buddha, Dharma Sankha, Vidya cakra, Tongkat Kuasa, Kundali, Japamala, tangan yang lain membentuk mudra, semua Dharmayudam (alat) dan mudra yang dibentuk mempunyai makna yang mendalam dan asal-usul nya masing-masing.

1. Bendera titah : Simbol Dharmabhala ; B. Sutra Buddha : simbol Prajna ; C. Dharma-sankha : Simbol penganugerahan berkah dan menyebarluaskan Dharma ; D. Vidya-cakra : simbol tolak bala, penaklukan mara dan roda Dharma yang diputar untuk menaklukan kerisauan batin ; E. Tongkat kekuasaan : simbol keberhasilan tertinggi ; F. Kundali : simbol mengatasi kehausan (memberikan anugerah bagi yang memohon kebajikan, bagai amrta yang mampu mengusir rasa dahaga) ; G. Japamala : tumimbal lahir ; H. Mudra menyentuh cakra anahata : simbol perlindungan.

Maha-brahma Deva-raja sangat lembut, penuh maitri-karuna dan kasih yang universal, merupakan Catur-brahmacari dalam agama Brahman, juga merupakan simbol Catur Apramana dalam Buddhisme. Sehingga Beliau memiliki niat mulia dalam menganugerahkan karunia kebahagiaan pada semua dewata dan para insan, terlebih lagi Beliau sangat memperhatikan seorang sadhaka yang mempraktekan catur apramana, Beliau akan memberikan bantuan demi kelancaran dana materi dan dana Dharma. Semangat kasih dan kepeduliannya yang luas memperoleh pujian dari Buddha, (Dalam buku Mahaguru ada disebutkan bahwa Yesus adalah avatara dari Dewa Brahma. Juga diberikan contoh mengenai salah satu casino di Las Vegas yang menggunakan hiasan rupang Maha-brahma dan meyakini Maha-brahma secara sesat sebagai Dewa yang berkenan pada hal hal diluar jalur Dharma, Mahaguru memberikan peringatan bahwa begitu Maha-brahma menunjukkan kuasa krodha / angkara Nya demi menegakkan Dharma, maka akibatnya sungguh tak terperikan. Demikian juga yang tercatat dalam Sutra 12 Dewa mengenai suka cita dan murka-nya Maha-brahma ) , Maha-brahma memberikan pertolongan dengan metode pemupukan kesejahterahan duniawi demi kelapangan menapaki jalan realisasi Prajna. Dari kehidupan murni sampai aktivitas Bodhi, sadhana Nya merupakan metode upaya kausalya dalam jalan menapaki Kebuddhaan.

5. Syarat Utama Beryukta Dengan Maha-brahma Deva-raja
Maitri : Beryukta dengan muka utama dari Maha-brahma, yang bertekad memberikan kebahagiaan pada para insan.
Karuna : Beryukta dengan muka sebelah kanan dari Maha-barhma, berusaha mencabut derita para insan, termasuk derita kemiskinan , menanggung kesusahan para insan.
Mudita : beryukta dengan muka sebelah kiri dari Maha-brahma, yaitu selalu bersuka cita saat menyaksikan para insan melakukan kebajikan , terhindar dari dukha dan memperoleh kebahagiaan, senantiasa mengharapkan kebaikan bagi para insan.
Upeksha : Beryukta dengan muka sebelah belakang dari Maha-brahma, mempraktekkan tiga batin luas seperti diatas namun tidak melekatinya, bersikap setara pada para insan.

Kutipan Sutra Tripitaka no 1297 :

“Dewa Brahma adalah pimpinan surga, bapa dari para insan. Saat Dewa Brahma bersuka cita, maka dunia materi akan tenteram tiada kekacauan. Kenapa demikian ? Karena tiap awal kalpa , kekuatan batin Dewa Brahma lah yang menciptakan alam materi. Umat manusia menjalankan kehidupan dengan lurus dan baik, maka memperoleh ketenteraman. Kenapa demikian ? Karena Bapa, Sang Raja bersuka cita menyaksikan umat manusia menapaki jalan kebajikan. Namun saat Dewa Brahma murka, dunia akan kacau balau, banyak berbagai macam sakit penyakit, bahkan tumbuh-tumbuhan akan menjadi layu, para insan akan kebingungan bagai orang mabuk...
Jika manusia memahami budi jasa Para Dewata Nan Agung ini, dengan materi memperagung Nya, kemudian dengan Dharma menyaksikan Dharmakaya Nya. Para insan hendaknya mengembangkan maitri-karuna menghindari pembunuhan, maka pujana yang demikian itu merupakan cara bersyukur atas budi jasa Nya...
Saat Dewa Brahma dipuja, maka semua Dewata dari Surga Rupadhatu akan hadir ke mandala untuk menerima persembahan. ..
Untuk memohon paustika (menumbuhkan berkah dan Prajna) Dewa Brahma adalah adinatanya...
Jika ingin memimpin orang hendaknya berpuja pada Dewa Raja Brahma...
Untuk memperoleh kehormatan , berpujanalah pada Dewa Brahma...
Ketahuilah bahwa 12 Dewata Agung tersebut (salah satunya adalah Maha-brahma Deva-raja) merupakan avatara dari Para Buddha purba, yang hadir dalam wujud Dewata demi menyelamatkan para insan, oleh karena itulah seorang sadhaka tidak diperkenankan memandang rendah pada Para Dewata, renungilah bahwa Para Dewata tersebut memiliki Dharmakaya nan agung.
Jika umat manusia mentaati nasehat Ku (Buddha Sakyamuni) dan Engkau (Bodhisattva Samantabadra) , berpujana pada Dewata tersebut, di hadapan pratima Para Dewata tersebut melakukan pendalaman Sutra dan Sadhana Prajna .
Maka Para Dewata tersebut akan sangat bersuka cita, jika Para Dewata bersuka cita, maka para insan juga akan memperoleh suka cita ; Jika para insan bersuka cita, maka itu berarti suka cita Para Buddha. Jika Para Buddha bersuka cita, maka segala Siddhi Duniawi dan non duniawi akan menjadi paripurna.(Tripitaka 1297)
maha brahma menganut ajaran hindu, dia berguru pada Krisna di langit 11
di mana Krisna adalah rajanya

brahma yang meminta Buddha Gotama membabrkan dharma adalah Sahampati, dia adalah maharaja langit 8 atau alam Mentri brahma, sampai Buddha Gotama Parinibbana brahma ini masih mempraktekan ajaran hindu, hingga suatu saat dalam rentang tahun 2500 sudah berlalu dari parinibbana Buddha Gotama brahma ini baru menyadari dharma dan bertisarana serta mengangkat Buddha Gotama sebagai Gurunya
(sedangkan Krisna sudah lama berguru pada Buddha Gotama)

raja alam pembantu brahma atau langit tujuh adalah brahma yang di klaim sebagai pencipta dunia ini, dia juga menganut ajaran hindu sampai sekarang
bernama Maharaja Surya Adhipati.
Polemik Brahmarupa
Oleh : Y.M. Maha Dhammadhiro Thera
(Artikel ini merupakan bagian dari tulisan berjudul Buddharupa)

Brahmarupa atau bentuk Brahma banyak dikenal belakangan ini dengan sebutan Dewa Empat Muka. Sebagian masyarakat suku Tiong Hoa menyebutnya Sie Mien Fuo (Buddha empat muka) atau Sie Mien Sen (Sie Bin Sin, Dewa empat muka). Sesungguhnya, apakah Brahma itu? Artikel di bawah ini ditampilkan untuk membantu mengkaji tentang keberadaan Brahma melalui pandangan beberapa sudut.

Arti Kata Brahma

Kata Brahma menurut konteks katanya berarti besar; makhluk yang berbadan besar disebut Brahma (mahantasarratya brahma, akar kata Braha = besar). Menurut pengertiannya, brahma berarti pembesar atau penguasa tiga alam, yakni; alam manusia, alam dewa dan alam brahma. Istilah Brahma memiliki banyak pengertian lain disesuai dengan ciri dan fungsinya, seperti: kakek (pitmaha), bapak, bapak makhluk alam (pitu), penguasa tiga alam (lokesa), makhluk yang lebih luhur di antara para dewa (surajettha), pemelihara makhluk hidup (pajapati), dsb.
Brahma dalam Tradisi Brahmana/Hindu

Brahma, sebagaimana yang kita kenali, adalah salah satu dari tiga dewa utama dalam agama Hindu. Pengikut Hindu mempercayai dewa ini sebagai dewa pencipta, dewa yang kekal, yang lebih tinggi dari dewa lainnya. Apabila berpasangan dengan dua dewa yang lainnya, yakni: Visnu dan Siva, ketiganya ini dikenal dengan julukan Trimurti. Istilah Trimurti ini muncul sekitar dua ratus tahun setelah Buddhaparinibbana, yakni saat kaum Brahmana menamakan ajarannya sebagai ajaran Hindu atau Jaman Hindu.

Sebenarnya, istilah Brahma ini telah muncul lama sebelum kemunculan jaman Hindu; yakni muncul pada Jaman Veda. Jaman Veda adalah jaman kedua dari empat jaman dalam agama Brahmana, yakni: jaman Ariyaka, jaman Veda, jaman Brahmanaka, dan jaman Upanisada (Hindu). Teori pembedaan masyarakat berdasarkan warna kulitnya atau yang dinamakan kasta muncul di jaman Veda ini. Dan, Brahma pada masa ini diyakini sebagai sumber dari keempat kelompok kasta di atas. Rinciannya secara berturut-turut adalah, kasta Brahmana muncul dari mulut Brahma, kasta Ksatriya muncul dari lengan Brahma, kasta Vaisa muncul dari paha Brahma dan kasta Sudra muncul dari kaki Brahma. Kemudian pada jaman Brahmanaka, Brahma dijadikan sebagai objek pujaan tertinggi dengan menyisihkan kebesaran dewa Indra yang sebelumnya telah menjadi pujaan tertinggi sejak awal mula berdirinya agama ini, yakni sejak jaman Ariyaka dan awal jaman Veda. Brahma dianggap sebagai dewa pencipta menggantikan dewa Indra. Dan kaum Brahmana menyatakan diri bahwa kaum mereka adalah keturunan Brahma.

Terhitung sejak jaman Ariyaka, yakni jaman awal kaum Ariyaka menduduki wilayah India sekarang, kepercayaan terhadap dewa-dewa di jaman Brahmanaka ini kian lama kian bertambah kompleks dan timpang tindih asal-usul maupun tugasnya. Satu sosok nama dewa bisa berasal dari bermacam-macam sumber kemunculannya dan berlainan kwalitas dan kekuasaannya. Dewa-dewa yang dulunya berderajat tinggi pada satu jaman menjadi merosot sebagai dewa lumrahan di jaman lainnya. Sebaliknya, yang dulu berderajat rendah naik menjadi berderajat tinggi yang berperanan penting dalam mengatur kelangsungan alam semesta, termasuk alam manusia.
Brahma misalnya, dalam kitab Mandharmasastra dikatakan muncul dari telor emas dan sebagai pencipta dewa Visnu. Tetapi dalam kitab Varhapurna disebutkan bahwa Brahma muncul dari teratai yang muncul dari pusar dewa Visnu. Dalam kitab Padmapurna dikatakan, dewa Visnu ingin menciptakan alam, kemudian ia membagi diri dengan menciptakan Brahma dari pundak kanannya, menciptakan dirinya sendiri dari pundak kirinya dan menciptakan dewa Siva dari badannya. Kecuali di atas, masih banyak dewa-dewa objek pujaan lain yang kian lama kian tumpang tindih keberadaannya. Ketimpang tindihan sosok dewa berikut kwalitas dan kekuasaannya ini salah satu sebabnya adalah karena masing-masing kelompok masyarakat pemuja dewa tertentu berusaha mengorbitkan dewanya masing-masing. Dan terhadap dewa yang bukan pujaan mereka, keberadaannya akan dikesampingkan, bahkan didiskreditkan. Sehingga, setelah jaman Brahmanaka yang bertahan selama beberapa ratus tahun di mana dewa-dewa agama Brahmana pada masa itu berada pada titik puncak ketidak-jelasan dan sebagai salah satu subjek pertikaian antar kepercayaan, muncullah jaman Hindu yang berhasrat mengatur kembali, baik segi ajaran maupun objek-objek pujaan mereka. Di jaman Hindu, kaum Brahmana berhasil meringkas bentuk-bentuk dewa yang beraneka macam itu dalam satu bentuk berupa Trimurti. Terbit satu kesepakatan bahwa, Brahma adalah sosok pencipta, Visnu adalah sosok pemelihara, dan Siva adalah sosok penghancur.
Mengapa dewa Brahma memiliki empat muka? Pertanyaan sejenis ini banyak terlontar. Keberadaan Brahma dengan empat muka ini muncul dari kalangan kaum Brahmana sendiri. Asal usul dewa Brahma bukanlah memiliki empat muka, melainkan lima muka. Muka yang kelima terletak di ubun-ubun kepala. Namun muka yang kelima ini sirna karena adanya satu peristiwa. Ceritanya adalah sebagai berikut. Dulu, dewa Brahma hanya bermuka satu, seperti dewa-dewa lainnya. Ia mempunyai seorang shakti (dewi) bernama dewi Sarasvati, sebagai pendampingnya. Saat sang dewi, yang adalah sesosok dewi bertubuh indah, sedang memberikan pelayanan di dekat sang Brahma, sekonyong-konyong timbul sorot mata berbaur nafsu birahi tertampak di wajah sang Brahma. Karena tekanan perasaan gelisah atas pandangan itu, sang dewi menghindar sorotan mata sang Brahma dengan berpindah di sebelah kanan Brahma. Sang Brahma, atas dorongan nafsu birahinya untuk bisa mengagumi keindahan tubuh sang dewi, menciptakan muka di sisi kanan kepalanya. Sang dewi yang pemalu itu pindah lagi ke sebelah kirinya. Sang Brahma tidak pantang menyerah. Dia ciptakan muka di sisi kiri kepalanya mengikuti arah sang dewi. Sang dewi pindah lagi ke belakang dengan harapan bisa lepas dari sorot mata Brahma. Namun, sang Brahma tidak putus asa. Ia menciptakan muka di sisi belakang kepalanya. Karena merasa tidak ada tempat nyaman lagi baginya, sang dewi pun berdiam di angkasa. Di pihak lain, atas dorongan nafsu yang tiada tanda reda, sang Brahma menciptakan muka kelimanya di bidang atas kepalanya. Akhirnya, sang dewi yang tidak tahu apa yang harus diberbuat, pergi melaporkan hal tersebut kepada dewa Siva (versi lain mengatakan kepada dewa Visnu). Dewa Siva membantu mengatasi masalah sang dewi dengan menebas muka yang berada di bidang atas kepala,Brahma kehilangan muka atasnya. Dan mulai dari situlah Brahma menjadi bermuka empat,Cerita ini tampak seperti dongeng seribu satu malam. Tetapi inilah yang tercantum dalam kitab milik kaum Brahmana tentang asal mula Brahma empat muka atau Sie Mien Sen dalam bahasa Mandarinnya.
Brahma dalam Tradisi Buddhis

Tidak seperti dalam tradisi Brahmana/Hindu yang menempatkan Brahma di alam surgawi dan masih berlumur gairah nafsu (Komavacarabhava), Brahma dalam ajaran Buddha diletakkan di alam tersendiri, yakni alam Brahma, yang bebas nafsu gairah (Ruparupabhava). Dalam kitab-kitab agama Buddha, istilah Brahma sering disebut di sana. Artinya, agama Buddha mengakui keberadaan Brahma. Namun, istilah brahma dalam kitab agama Buddha itu memiliki pengertian yang berbeda dari kepercayaan kaum Brahmana. Batasan pengertian brahma diubah sedemikian rupa hingga sesuai dengan doktrin agama Buddha. Perlu diketahui juga, bahwa Sang Buddha banyak memberikan makna baru atas kata-kata yang sebelumnya telah dipakai di jaman itu, seperti misalnya kata arahanta, brahmana, mokkha, bhagavantu, dsb. Pengubahan ini utamanya ditujukan agar para pendengar ajaran Beliau memiliki pengertian baik dan benar.
Sebuah kata atau nama bisa mengandung makna lebih dari satu arti. Tiap-tiap makna berperan dalam memahami suatu ucapan atau ajaran. Karena itu, pemilahan makna kata dari makna-makna adalah satu tugas yang amat penting untuk mencapai maksud sebenarnya si pengucap. Pengertian lebih penting daripada nama itu nama yang menjulukinya sendiri. Karena, nama adalah sekadar julukan. Sedangkan pengertian adalah arahan dari suatu nama diucapkan. Untuk kata brahma misalnya, umat Buddha tidak diarahkan untuk memahaminya sebagai pusat dari makhluk alam semesta, sosok makhluk yang kekal, yang menentukan nasib setiap insan (yang sebenarnya juga termasuk nasib hewan dan makhluk lain), atau sosok makhluk yang secara langsung memberi anugerah sekaligus kutukan terhadap makhluk lain. Brahma dalam pengertian sebagai sesosok makhluk, adalah makhluk-makhluk yang telah mengembangkan kebajikan besar sehingga mampu menempati alam brahma. Brahma dalam agama Buddha bukanlah mewaliki satu makhluk saja, melainkan mewakili sekelompok makhluk dengan berbagai macam tingkatannya. Alam Brahma memiliki banyak tingkat. Tiap tingkat memiliki ciri khas, kemampuan, dan batas usia penghuninya. Dewa Brahma, meskipun berusia amat lama, juga akan habis masa usianya (meninggal dari alamnya). Ia pun akan melanjutkan kehidupannya di alam-alam lain seperti halnya makhluk manusia dan binatang. Dan, semasih belum mencapai tingkat-tingkat kesucian, mereka semua tak terlepaskan dari alam samsara.
Kembali pada pengertian Brahma, Sang Buddha sendiri dalam sabdanya, pernah menyebut diri beliau sebagai Brahma,
1 Brahmati kho bhikkhave tathagatassetam adhivacanam. Para bhikkhu, kata brahma ini merupakan nama Tathagata.
2 Brahma juga dipakai untuk pengertian orangtua, seperti dalam Buddhavacana ini, Brahmati matapitaro pubbacariyati vuccare, Ibu dan ayah pemelihara anak, disebut brahma dan disebut guru awal. Brahma berarti luhur
3 Brahmacakkam pavatteti Memutar roda nan luhur. setthatthena brahmam sabbabutanam
4 Pengetahuan si pengetahu segala yang merupakan brahma dalam pengertian luhur. Brahma mengacu pada empat keberadaan luhur (metta, karuna, mudita, upekkha), Brahmam, bhikkhave muditya cetovimuttiy.
5 Duhai para bhikkhu, di kala itu para bhikkhu berada dalam kediaman yang luhur yakni tempat berdiam dalam mudit, kebebasan pikiran. Keberadaan Brahma sebagai sosok penentu nasib, pemberi rejeki, kesehatan, keselamatan, dsb. tidak dikenal dalam pengertian Buddhis.

Perbandingan Brahma menurut Brahmana dan Buddhis

Brahma dalam Ajaran Brahmana:

1. Dikenal dalam ajaran para brahmana sejak Jaman Veda.
2. Sebagai sang pencipta dan bersifat kekal. Pada jaman Veda dianggap merupakan bagian dari segala sesuatu.
3. Dalam cirinya sebagai paramatman, dianggap sebagai sumber semua jiwa (atman).
4. Pada Jaman Brahmanaka, Brahma bersifat nonperson dan tak berjenis kelamin.
5. Masa berikutnya, bentuk Brahma lebih berbentuk person menyerupai manusia dengan memiliki empat muka.
6. Belakangan, Brahma mempunyai istri atau Shakti bernama Sarasvati (dewi kebijaksanaan) dan mempunyai angsa sebagai wahananya.
7. Dilengkapi dengan Brahmaviharadharma.
Selasa, 13 Desember 2011 12 komentar

Tu Ti Pak Kung (Dewa Bumi)

Ringkasan DharmaDesana : Tu Ti Pak Kung (Dewa Bumi)
Oleh : Acarya Lian Qiao
Hari/Tanggal : Minggu,18 April 2004 (jam 11.00 siang)
Di : Vihara Vajra Bumi Nusantara, Karawaci

Tu ti Pak Kung, atau juga kita sebut Dewa Bumi merupakan dewa yang terdekat dengan kita,sehingga untuk memohon rejeki, dan hal lainnya mungkin saja lebih cepat dikabulkan. Sebenarnya untuk melakukan sembahyang dewa bumi, kita tidak perlu dikuanting/ abhiseka, karena tata cara sembahyang dewa bumi adalah jenis sembahyang umum. Tetapi kali ini Acarya akan memberitahukan tata cara sembahyang dewa bumi menurut versi tantrayana, dan setelah itu pada akhir sesi, Acarya akan memberikan abhiseka pemberkatan sadhana dewa bumi.

Dewa bumi/dewa tanah terdiri dari 5 macam : Dewa Pintu, Dewa Dapur, Dewa Tanah(penunggu rumah, Dewa sumur, dan Dewa Gunung/sungai/kali
Dewa Pintu bisa juga kita sebut Dewa Buni, tapi ada satu kisah pada jaman dahulu, di wilayah Cina, disetiap rumah besar terdiri dari beberapa kepala keluarga, dan ini artinya ada Dewa pintu utama yang menjaga pintu masuk dari rumah besar itu, dan juga ada Dewa pintu kecil yang menjaga pintu dari masing-masing kepala keluarga.

Dewa bumi mungkin adalah salah satu dari ke-5 macam Dewa bumi. Tapi yang kita maksudkan Dewa Bumi sekarang adalah Dewa penunggu rumah. Adapun Dewa bumi ini mungkin adalah roh dari leluhur kita, atau roh2 penunggu rumah terdahulu yang memiliki banyak jasa pahala kebajikan sehingga menjadi Dewa pada saat ini.

Dewa tanah adalah penghuni di setiap rumah, mereka dapat membantu kehidupan sehari-hari kita seperti menjaga keharmonisan keluarga, menjaga sadhaka dalam melaksanakan sadhana sehari-hari, memajukan usaha bisnis, dan lainnya.

Adapun kekuatan dari para Dewa mempunyai keterbatasan, sehingga jika kita ingin memohon sesuatu harus yang wajar saja, jangan terlalu berlebihan. Untuk memohon sesuatu kepada Dewa bumi, kita perlu memberikan persembahan. Persembahan tersebut dapat berupa makanan yang sudah dimasak, seperti daging (bisa daging ayam, babi, ikan), buah2an, sayur2an,air teh, arak, hio, dan sebagainya. Semua persembahan ini tergantung dari kemampuan materi sadhaka masing-masing. Jika mampu memberikan banyak persembahan boleh saja, tapi jika tidak mampu jangan dipaksakan, tidak apa-apa. Semua tergantung kemampuan materi kita.

Pada jaman kerajaan dahulu kala, tanggal baik untuk memberi persembahan dan memohon kepada dewa tanah adalah tanggal 1 dan 15 atau tanggal 2 dan 16 menurut penanggalan lunar. Waktu yang dilakukan antara tengah hari dan tengah malam.

Tata cara sembahyang kepada Dewa Bumi menurut versi tantrayana:
Sebelumnya jika kita memiliki altar Dewa bumi, kita bisa meletakkan persembahan itu didepan altarnya, atau jika kita tidak memiliki altar bisa meletakkan persembahan diatas sebuah meja persegi dan menghadap ke arah tungku dengan memunggungi pintu, atau boleh juga memunggungi pintu depan, menghadap ke bagian dalam rumah. Dalam memberi persembahan, siapkan 5 macam sajian untuk persembahan, sajikan apa saja yang biasanya anda makan untuk makan malam. Daging ayam, itik, babi, beras, ikan, roti, sayur, sop, buah2an, arak/bir dan makanan penutup juga boleh.

Sebelum memulai sembahyang, hentakkan kaki kiri ke tanah sebanyak 3 kali. Ini dilakukan sebagai pertanda kita ingin mengetuk rumah Dewa bumi, agar beliau bisa menerima persembahan dari kita. Lalu gunakan hio 5 batang, dan tancapkan ke tempat hio ( 5 batang hio mewakili Utara, barat, timur, selatan, dan pusat). Bersikap anjali dan jangan lupa membaca mantra pembersihan, lalu japa mantra dewa bumi : Namo Sam Man to moh toh nam, om doh lo doh lo de weh, soha (7x)
Visualisasikan Dewa tanah lokal yang tampak berkecukupan makanan bewujud laki-laki tua sedang berdiri didepan untuk menerima persembahan, dengan mangkuk emas dan perak ditangan kirinya dan sebuah tongkat ditangan kanannya. Dia datang menerima persembahan kita. Lipatgandakan persembahan hingga memenuhi jagat raya, persilahkan dewa tanah lokal menikmati arak dan makanan yang telah dipersiapkan dengan mudra anjali dan menjapa mantra persembahan. Setelah sembahyang dewa bumi sudah selesai (ditandai dengan dupa hampir habis), anda dapat memohon dewa bumi/dewa tanah untuk mendengarkan permintaan anda dan memohon bantuannya. Jelaskan permintaan anda secara jelas dan mendetil. Dewa tanah memiliki kemampuan dapat menolong kita dalam membantu kita mengatasi kesulitan, tapi tentu saja permohonan yang kita buat haruslah positif dan sewajarnya. Visualisasikan Buddha Amitabha atau Maha Guru menyinari sinar merah ke arah dewa tanah lokal dan memberikan jasa baik dengan memanjatkan mantra Sukhavati Vyuha Dharani (Wang she Cou) sebanyak 3,5,7 atau 21 kali dan juga boleh menuangkan arak merah 3 gelas. Setiap selesai membaca wang she cou tuangkan arak ke tanah secara horizontal, lalu ulangi terus sampai ke-3 cangkir arak habis. Setelah dupa habis, barulah anda boleh menbersihkan altar.

Mungkin saja jika Dewa bumi senang dengan persembahan kita, dan sewaktu beliau sedang menikmati arak/ bir yang kita suguhkan , beliau menjadi mabuk dan meluluskan semua permintaan kita (canda acarya sambil tertawa). Tetapi tentu saja apa yang kita minta/mohon haruslah sewajarnya jangan sampai melewati batas dan keterlaluan, karena meski Dewa pun memiliki keterbatasan.

Bila dalam keadaan darurat (seperti diganggu orang, banyak masalah) kita ingin memohon kepada Dewa Bumi, kita dapat melakukan satu sadhana ritual khusus. Caranya : sediakan 5 buah persembahan (buah2an) 5 warna, lalu bakar hio, dan hio ditancapkan di 5 penjuru, lemparkan buah2an tadi ke 5 arah tersebut. Dan tentu saja sadhana ini agak mubazir, karena buah2an yang dilempar kita tidak bisa memakannya kembali (acarya pun tertawa kembali)
Adapun arti dari warna2 yang kita persembahan yang kita berikan antara lain :
- warna merah : untuk keharmonisan rumah tangga, jodoh, cinta kasih
- warna biru : untuk berbakti
- warna kuning : untuk kesejahteraan, agar dagangan laku, usaha laris dsb
- warna putih: untuk penyucian
- warna hitam : untuk penaklukan (abhicaruka)

Jika dalam keadaan sehari-hari persembahan kepada Dewa bumi pun dapat dilakukan(tanpa menggunakan mudra persembahan), cukup menyediakan 1 piring makanan, dan visualisasikan Dewa bumi menerima persembahan kita dengan tersenyum, yah anggap saja kita mempunyai tambahan 1 anggota keluarga lagi (acarya kembali berguyon).
Sebagai sadhaka yang rajin bersadhana, maka Dewa bumi pun akan mengetahui dan melindungi diri kita. Bahkan bisa saja sewaktu kita bersadhana, tingkatan Dewa bumi bisa melampaui tingkatan dari sadhaka tersebut (atau sebaliknya). Karena sebagai Dewa, tingkatannya pasti akan lebih cepat mencapai pencerahan dibandingkan dengan umat biasa. Untuk itu persembahan kepada Dewa bumi perlu agar bisa membantunya menuju alam yang lebih baik lagi, dan membantu menolong sesama makhluk mencapai kebuddhaan.

Dewa bumi dapat pula kita daftarkan namanya pada upacara Api Homa agar dapat Dewa bumi tersebut dapat mendapatkan berkah dharma dan mungkin penyeberangan ke alam yang lebih tinggi lagi. Jika Dewa bumi mendapatkan kelahiran di alam yang lebih tinggi, maka jabatan Dewa bumi di lokasi tersebut akan digantikan oleh Dewa bumi yang lainnya, demikian seterusnya.
Mudah2an dengan demikian, kita bersama2 dapat mencapai kebuddhaan seperti yang kita inginkan.

Pada akhir sesi ada yang mengajukan pertanyaan mengenai Dewa bumi :
1. Cara sembahyang Dewa bumi sehari2 ?
Jawaban : Gunakan 5 batang dupa dan panjatkan mantra sukhavati Vyuha Dharani(3,5,7 atau 21 x) dan jangan lupa visualisasi Dewa Bumi diberkati oleh Buddha Amitabha atau Maha Guru dengan cahaya merah, seperti yang dijelaskan tadi.
2. Bagaimana dengan persembahan yang sudah disembahyangkan, apakah kita boleh memakannya? Ada yang bilang itu makanan itu sudah dimakan roh, dan tidak baik!
Jawaban: boleh saja kita memakannya, jika tidak sayang mubazir, kita cukup visualisasikan aha Guru atau amitabha Buddha menyinari dan memberikan pemberkatan (sinar merah) ke makanan itu tadi. Dan makanan tadi sudah boleh kita makan.

Demikianlah ringkasan Dharmadesana “Tu Ti Pak Kung’ yang disampaikan oleh Acarya Lian Qiao.
OM MANI PADME HUM
0 komentar

Avalokitesvara Kwan IM

Sewaktu saya melihat artikel kaskus saya membaca tulisan yang cukup bagus mengenai Dewi kwan im .berikut adalah artikelnya bersumber dari http://archive.kaskus.us/thread/998738 :
Tentu semua tau dan banyak mendengar kisah tentang Dewi Welas Asih ini. Ada perbedaan mendasar yang dapat dilihat antara perbedaan Kwan Im dari China dan India. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari titik yang ada ditengah dahinya.

Saya mencoba menuliskan kisah kehidupan Dewi Kwan Im berdasarkan informasi yang pernah saya dapat baik dari Internet, film maupun cerita2 orang-orang tua dulu. Bila ada kesalahan mohon di koreksi.
 
 Cerita versi 1:



Jauh sebelum masuknya agama Buddha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Welas Asih Berbaju Putih. Dikemudian hari, beliau identik dengan perwujudan dari Buddha Avalokitesvara. Secara absolut, pengertian Avalokitesvara Boddhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah : Valokita (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna “Melihat ke bawah atau Mendengarkan ke bawah”. Bawah di sini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita). Svara (Im / Yin) berarti suara. Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya. Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang. Di negara Jepang, Kwan Im Pho Sat lebih dikenal dengan nama Dewi Kanon.

Bila sudah mencapai taraf Buddha sudah tidak lagi terikat dengan bentuk apalagi gender, karena pada dasarnya roh itu tidak mempunyai bentuk fisik dan gender. Menurut cerita, Dewi Kwan Im adalah titisan Dewa Che Hang yang ber-reinkarnasi ke bumi untuk menolong manusia keluar dari penderitaan, karena beliau melihat begitu kacaunya keadaan manusia saat itu dan penderitaan di mana-mana. Dewa Che Hang memilih wujud sebagai wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolonganNya. Disamping itu agar lebih bisa meresapi penderitaan manusia bila dalam bentuk wanita karena di jaman itu wanita yang lebih banyak menderita dan kurang leluasa dalam membuat keputusan. Dalam perwujudannya sebagai pria, Beliau disebut Kwan Sie Im Pho Sat.

Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biau Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 perwujudan Dewi Kwan Im sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar. Altar utama di Kuil Pho To San dipersembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagai Budha Vairocana, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 perwujudan lainnya. Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek Ie (salah satu Kelenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Kwan Im (Kwan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma kepada umat manusia). Disamping itu terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Qian Shou Guan Yin (Kwan Im Seribu Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatNya. Julukan Beliau secara lengkap adalah Tay Cu Tay Pi - Kiu Kho Kiu Lan - Kong Tay Ling Kam - Kwan Im Sie Im Pho Sat.


Dalam kepercayaan Buddhisme yang berkembang pesat di China, diyakini bahwa segala permohonan yang berangkat dari ketulusan dan niat suci, maka biasanya Dewi Kwan Im akan mengabulkan permintaan tersebut. Terutama pada saat-saat genting dimana seseorang tengah berhadapan dengan bahaya. Sehingga dalam kurun ribuan tahun, pengabdian moral dari Dewi Kwan Im dikenal galib berporos empat jalan kebenaran. Yakni, pengembangan kebajikan, pengembangan toleransi dan saling hormat menghormati, pengendalian batin dan mawas diri, serta menghindarkan dari marabahaya.

Menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 Sebelum Masehi. Terkait dengan legenda puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang penguasa negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM. Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tetapi yang dimilikinya hanyalah 3 orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu, yang kedua bernama Miao Yin, dan yang bungsu bernama Miao Shan.

Miao Shu dan Miao Yin lebih cenderung dimanja oleh fasilitas istana dan berfoya-foya. Sementara Miao Shan dengan rajin menjaga dan merawat kedua orang tua mereka. Dari ketiga putri sang Raja, putri ketiga lah yang sangat berbakti kepada kedua orangtua serta leluhurnya. Ia juga memperlihatkan sifat welas asih kepada semua makhluk. Itu sebabnya ia sudah vegetarian sejak balita. Dikisahkah saat bayi bila Miao Shan mendengar kata “bunuh” akan menangis sekeras-kerasnya dan tidak mau bila diberi makan daging saat balita. Toleransinya kepada dayang-dayang istana sangat besar sehingga ia disayangi oleh semua pihak. Ia selalu mengaplikasikan bentuk-bentuk kebajikan Buddhisme yang ia pelajari dan dalami ke dalam hidup sehari-harinya.

Hal tersebut menimbulkan iri hati dan benci dari kedua kakak perempuannya, sehingga dengan intrik dan hasutan jahat bekerjasama dengan seorang peramal tua yang jahat akhirnya Miao Shan diusir dari istana. Miao Shan dituduh titisan dari iblis jahat sehingga negeri mereka yang dulunya makmur sekarang selalu dirundung bencana. Padahal bencana dan masalah datang karena banyak pejabat istana termasuk si peramal tua jahat itu terlibat korupsi besar2an, bahkan si peramal tua berambisi mengambil tahta Sang Raja. Kelompok jahat itu mengklaim sejak Miao Shan lahir bencana susul menyusul tiada henti. Kalau bukan kekeringan, pasti kebanjiran. Kalau bukan kelaparan pasti wabah penyakit. Sehingga Miao Shan dianggap jelmaan iblis yang dikutuk oleh langit.

Raja memerintahkan untuk menangkap Miao Shan dan membunuhnya. Miao San lari bersama para tahanan perang dari ayahnya dibantu oleh Jendral kepercayaan ayahnya. Begitu mengetahui hal tersebut ayahnya mengerahkan seluruh pasukan untuk menangkap mereka. Pengejaran dilakukan hingga ke tepi sebuah danau yang luas dan dalam. Pada saat mereka menemui jalan buntu, putrid Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka dapat selamat. Secara ajaib muncul sebuah jembatan melintasi danau tersebut kearah seberang. Akhirnya mereka pun melintasi danau tersebut. Pasukan kerajaan berhenti mengejar karena jembatan tersebut putus dan hilang ketika mereka selesai menyebrang.

Raja tidak menyuruh mereka mengejar lg karena disana banyak binatang buas dan yakin mereka pasti akan mati. Ternyata begitu sampai di pulau tersebut seluruh binatang bersujud kepada putrid Miao Shan dan membiarkan mereka lewat. Mereka menemukan tanah subur yang luas dimana mereka mulai mendirikan tempat tinggal, bercocok tanam dan mendirikan sebuah kuil tempat dimana putrid Miao Shan melatih diri.

Selang beberapa tahun keadaan raja mulai memburuk dan terkena penyakit yang membuat beliau lumpuh dan tidak bs melihat. Banyak orang pintar dan tabib sakti dari berbagai daerah telah datang dan mencoba untuk mengobati tetapi tidak ada hasilnya.

Miao Shan yang merasa iba, berkat kesaktiannya, mengubah dirinya menjadi seorang pengemis. Ia mendatangi istana, dan menjenguk ayahandanya yang terkapar sakit dengan dalih sebagai tabib. Para penjaga yang melihat penampilannya yang buruk rupa dan kotor mengusir mereka tetapi dia tetap memaksa untuk bertemu. Akhirnya keributan itu didengar oleh Ibunya dan beliau mengijinkannya untuk memeriksa dan mencoba mengobati ayahnya.
Setelah Miao Shan membacakan parita, ayah ibunya itu merasakan damai yang tiada tara. Namun dalam penyamarannya itu bukannya mengobati ia malah memberi petunjuk bahwa Sang Raja menderita penyakit aneh, dan hanya dapat sembuh jika mengkonsumsi sekerat daging manusia dan sebiji bola mata yang berasal dari tubuh putri kandungnya.

Dihadapan ibu suri dan kedua kakaknya, Miao Shan membeberkan cara pengobatan aneh itu. Di saat meminta kedua kakak perempuannya untuk berkorban diiris otot lengan dan dicungkil sebelah bola matanya untuk dicampur pada obat bagi ayah mereka, saat itu juga keduanya berlutut di samping ranjang ayahanda mereka, menangis tersedu-sedu.
“Oh, Ayahanda, kasihanilah saya Miao Shu. Saya masih memiliki anak yang masih kecil-kecil dan mereka masih membutuhkan saya untuk membesarkan mereka.”

Tak lama berselang, Miao Yin menyusul dengan kalimat bernada serupa. Kali ini tangisnya lebih deras. Tiba-tiba Miao Shan menengahi, dengan bijak ia berkata.”Baginda masih mempunyai seorang anak, kenapa tidak menanyakannya kepada dia apakah dia rela memberikan organ tubuhnya.” Saat mendengar perkataan tersebut sedihlah hatinya dan dengan berat dia berkata anakku telah mati bagaimana mungkin dia dapat menolongku.

Putri Baginda masih hidup hingga saat ini. Coba baginda utus seseorang untuk bertanya kepadanya apakah dia rela memberikan bagian tubuhnya untuk mengobati Baginda. Akhirnya Baginda mengutus sang Jendral untuk pergi mencari anaknya walaupun dia tidak berharap anaknya akan membantunya setelah apa yang diperlakukan olehnya.

Sesampainya disana, Jendral menceritakan keadaan Baginda yang sebenarnya telah diketahui oleh putrid Miao Shan. Dia langsung mengambil pisau dan segera melakukan permintaan ayahnya. Setelah mengiris sekerat otot lengan dan mencongkel sebelah bola matanya sendiri dengan belati tanpa rasa takut, dengan tenang serta penuh keikhlasan ia memberikan bagian-bagian tubuhnya itu untuk campuran ramuan obat untuk ayah ibunya.

Sang Jendral pun kembali dan segera menyerahkan bagian tubuh tersebut. Segera tabib meramu obat yang diberitahukan oleh pengemis tersebut. Saat mengaduk-aduk ramuan obat itu, terjadi keajaiban. Ramuan obat itu memancarkan harum wangi dupa dan memenuhi seluruh penjuru istana. Raja Miao Zhuang setelah meminum “obat mujarab” tersebut agar dapat sembuh dan matanya dapat melihat kembali.

Setelah meminum ramuan obat dari Miao Shan keadaan raja pulih tetapi hanya setengahnya. Jadi sebelah bagian tubuhnya aja yang pulih. Lalu dia berpikir, mungkin jika saya meminum sebagian lagi dari tubuhnya maka saya akan sembuh total. Sang raja pun dengan berat hati memanggil Jendralnya dan berkata kepadanya, “ Coba kmu minta lagi setengah bagian dari mata dan tangannya. Tetapi jika dia tidak mau memberikannya jangan dipaksa.” Sang ibu menangis mendengar permintaan raja tersebut.

Akhirnya sang Jendral pun berangkat dan sesampainya disana dia kebingungan untuk menyampaikan pesan ayahanda putri tersebut. Di sisi lain Miao Shan adalah orang yang dicintainya sejak dulu. Akan tetapi putri Miao Shan telah mengetahui maksud kedatangan Jendral tersebut dan memanggilnya. Kemarilah ikuti aku. Dengan tangannya sendiri dia mengambil sisa tangan dan bola matanya untuk dipersembahkan kepada ayahnya. Sang Jendral bersujud memberikan penghormatan dan kembali ke kerajaan. Setelah meminum setengah dr sisanya keadaan raja pulih total.

Raja yang terharu dengan pengorbanan putri yang sangat dibencinya segera menyuruh pasukan untuk bersiap dan beliau beserta istrinya langsung pergi untuk menjenguk anaknya. Betapa terkejutnya mereka melihat keadaan putrinya. Raja menanyakan apa yang diinginkan oleh Miao Shan yang masih belum dikenali oleh mereka. “Hamba tidak menginginkan bayaran apapun, hamba hanya berbuat baik untuk menyebarkan dharma dan ajaran sang Buddha.” Demikian kata Miao Shan.

“Minimal apa ada permintaan Miao Shan agar kami tidak merasa terlalu sungkan karena tidak memberikan apa-apa.” Kata Sang Raja.
Terdiam sejenak, kemudian Miao Shan melanjutkan. “Hamba sudah lama kehilangan ayah dan ibu, bolehkan hamba memeluk Baginda dan Permaisuri sehingga kerinduan akan ayah-ibu bisa terobati?”
“Dengan diiringi oleh tangis keduanya, mereka berucap, “ silahkan.” Sahut sang Raja dan istrinya..

Miao Shan menunduk dan menghampiri ayah bundanya itu, setelah bersujud di pelukan Raja ia kemudian berpindah ke pelukan permaisuri dengan airmata berlinang dan suara isak tangis. “Ibu, maafkan anak yang tidak berbakti” demikian Miao Shan berbisik. Mereka menangis dan Miao Shan yang telah mencapai kesempurnaan menyembuhkan dirinya, kedua matanya kembali dapat melihat dan tangannya kembali tumbuh seperti sedia kalah. Betapa senang hati orang tuanya melihat keadaan tersebut.

Sejak itulah kebajikan dan keluhuran budi Miao Shan menjadi legenda di tanah Tiongkok. Ia menggugah ketulusan tanpa pamrih, pengorbanan tanpa batas, sifat welas asih yang tiada tara, dan masih banyak lagi kemuliaan yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Setelah peristiwa fenomenal tersebut, Miao Shan tetap bertekad melanjutkan pertapaannya dengan menjadi biksuni sepanjang hidup dan pengabdiannya. Meski berat hati, tapi Raja Miao Zhung dan permaisurinya merelakan putri bungsunya tersebut, memaklumi niatnya untuk mengabdi bagi kemanusiaan.

Akhirnya kedua kakaknya beserta ayah dan ibunya mempelajari agama Budha. Dan seluruh istana mempelajari ajaran Welas Asih mengikuti putri Miao Shan.
Untuk mengenang putri bungsunya tersebut, Raja Miao Zhung memerintahkan pekerja seni rupa terbaik di negerinya membuat patung berwujud putri Miao Shan dan mendirikan vihara Dewi Kwan Im pertama di Pho To San.

“Putri saya, Miao Shan, ibarat memiliki seribu tangan untuk membantu sesama dengan tulus serta ikhlas, dan seribu mata yang peka melihat penderitaan rakyat jelata!” demikian kata Raja Miao Zhuang dalam nada bangga, yang ternyata salah ditanggapi oleh para pemahat arca istana. Arca rampung dengan memiliki simbolisasi seribu tangan dan seribu mata. Itulah awal ihwal Miao Shan yang melegenda menjadi Qian Shou Guan Yin (Dewi Kwan Im Seribu Tangan).

Dikisahkan ketika Miao Shan berhasil mencapai pencerahan menjadi Buddha, saat hendak memasuki gerbang Nirwana ia mendengar banyak tangisan penderitaan dari alam manusia di bawah. Ia kemudian membatalkan memasuki Nirwana dan memilih berada di alam manusia untuk membantu setiap makhluk hidup. Ia senantiasa menyingkirkan segala macam penderitaan dan menumbuhkan kebahagiaan dengan mewujudkan permintaan kesejahteraan kaum papa.

Turun temurun masyarakat Tionghoa sangat menghormati Dewi Kwan Im. Hampir di setiap rumah penganut Konfusiunisme dan klenteng-klenteng pasti memiliki rupang atau diorama puja untuk mengenang jasa dan kebaikanNya.

Cerita versi ke 2 :
Kwan Im Pho Sat / Guan Yin Phu Sa / Kwan Si Im Pho Sat / Guan Shi Yin Phu Sa (Tiongkok) / Avalokitesvara Bodhisatva (Lokeshvara, Sansekerta) / Spyan ras gizgs (Tibetan) / Kannon Bosatsu (Kanjizai / Kanzeon / Kwannon, Jepang) & Quan Am (Vietnam)

Jauh sebelum masuknya agama Budha menjelang akhir Dinasti Han, Kwan Im Pho Sat telah dikenal di Tiongkok purba dengan sebutan Pek Ie Tai Su yaitu Dewi Berbaju Putih Yang Welas Asih (“Dewi Welas Asih”).

Di kemudian hari, Beliau identik dengan perwujudan dari Budha Avalokitesvara. Secara absolut, pengertian Avalokitesvara Bodhisatva dalam bahasa Sansekerta adalah : “Avalokita” (Kwan / Guan / Kwan Si / Guan Shi) yang bermakna Melihat ke Bawah atau Mendengarkan ke Bawah. “Bawah” disini bermakna ke dunia, yang merupakan suatu alam (lokita). “Isvara” (Im / Yin), berarti suara. Yang dimaksud adalah suara dari makhluk-makhluk yang menjerit atas penderitaan yang dialaminya. Oleh sebab itu Kwan Im adalah Bodhisatva yang melambangkan kewelas-asihan dan penyayang.

Di negara Jepang, Kwan Im Pho Sat terkenal dengan nama Dewi Kanon. Dalam perwujudanNya sebagai pria, Beliau disebut Kwan Sie Im Pho Sat. Dalam Sutra Suddharma Pundarika Sutra (Biauw Hoat Lien Hoa Keng) disebutkan ada 33 (tiga puluh) penjelmaan Kwan Im Pho Sat. Sedangkan dalam Maha Karuna Dharani (Tay Pi Ciu / Ta Pei Cou / Ta Pei Shen Cou) ada 84 (delapan puluh empat) perwujudan Kwan Im Pho Sat sebagai simbol dari Bodhisatva yang mempunyai kekuasaan besar. Altar utama di Kuil Pho Jee Sie (Pho To San) di persembahkan kepada Kwan Im Pho Sat dengan perwujudan sebagai “Budha Vairocana”, dan di sisi kiri atau kanan berjajar 16 (enam belas) perwujudan lainnya. Perwujudan Beliau di altar utama Kim Tek Ie*), salah satu Kelenteng tertua di Indonesia adalah King Cee Koan Im (Koan Im Membawa Sutra Memberi Pelajaran Buddha Dharma Kepada Umat Manusia.

Disamping itu, terdapat pula wujud Kwan Im Pho Sat dalam Chien Chiu Kwan Im / Jeng Jiu Kwan Im / Qian Shou Guan Yin. (Kwan Im Seribu Lengan / Tangan) sebagai perwujudan Beliau yang selalu bersedia mengabulkan permohonan perlindungan yang tulus dari umatNya. Julukan Beliau secara lengkap adalah Tay Cu Tay Pi, Kiu Kho Kiu Lan, Kong Tay Ling Kam, Kwan Im Sie Im Pho Sat.

Sejarah Klasik Seputar Avalokitesvara Bodhisatva.

Ketika agama Budha memasuki Tiongkok (Masa dinasti Han), pada mulanya Avalokitesvara Bodhisatva bersosok pria. Seiring dengan berjalannya waktu, dan pengaruh ajaran Taoisme serta Khong Hu Cu, menjelang era Dinasti Tang, profil Avalokitesvara Bodhisatva berubah dan ditampilkan dalam sosok wanita. Dari pengaruh ajaran Tao, probabilita perubahan ini terjadi karena jauh sebelum mereka mengenal Avalokitesvara Bodhisatva, kaum Taois telah memuja Dewi Tao yang disebut “Niang-Niang” (Probabilitas adalah Dewi Wang Mu Niang-Niang).

Sehubungan dengan adanya legenda Puteri Miao Shan yang sangat terkenal, mereka memunculkan tokoh wanita yang disebut “Guan Yin Niang Niang”, sebagai pendamping Avalokitesvara Bodhisatva pria.
Lambat laun tokoh Avalokitesvara Bodhisatva pria dilupakan orang dan tokoh Guan Yin Niang-Niang menggantikan posisiNya dengan sebutan Guan Yin Phu Sa. Dari pengaruh ajaran Khong Hu Cu, mereka menilai kurang layak apabila kaum wanita memohon anak pada seorang Dewata pria. Bagi para penganutnya, hal itu dianggap sesuai dengan keinginan Kwan Im sendiri untuk mewujudkan diriNya sebagai seorang wanita, agar lebih leluasa untuk menolong kaum wanita yang membutuhkan pertolonganNya.

Dari sini jelas bahwa tokoh Avalokitesvara Bodhisatva berasal dari India dan tokoh Guan Yin Phu Sa berasal dari Tiongkok. Avalokitesvara Bodhisatva memiliki tempat suci di gunung Potalaka, Tibet, sedangkan Kwan Im Pho Sat memiliki tempat suci di gunung Pu Tao Shan di kepulauan Zhou Shan, Tiongkok.

Kesimpulan atas hal ini adalah tokoh Avalokitesvara Bodhisatva merupakan stimulus awal munculnya Kwan Im Pho Sat. Terdapat beberapa legenda lainnya terkait tentang asal-usul Dewi Kwan Im. Dalam kitab Hong Sin Yan Gi / Hong Sin Phang (“Penganugerahan Dewa”) disebutkan bahwa sebelum Beliau dikenal dengan sebagai Dewi Kwan Im, Beliau bernama Chu Hang salah 1 (satu) murid dari Cap Ji Bun Jin (12 Murid Cian Kauw Yang Sakti).

Selain itu, menurut Kitab Suci Kwan Im Tek Too yang disusun oleh Chiang Cuen, Dewi Kwan Im dilahirkan pada jaman Kerajaan Ciu / Cian Kok pada tahun 403-221 SM terkait dengan legenda Puteri Miao Shan, anak dari Raja Miao Zhuang / Biao Cong / Biao Cuang Penguasa Negeri Xing Lin (Hin Lim), kira-kira pada akhir Dinasti Zhou di abad III SM.

Disebutkan bahwa Raja Miao Zhuang sangat mendambakan seorang anak lelaki, tapi yang dimilikinya hanyalah 3 (tiga) orang puteri. Puteri tertua bernama Miao Shu (Biao Yuan), yang kedua bernama Miao Yin (Biao In) dan yang bungsu bernama Miao Shan (Biao Shan).

Setelah ketiga puteri tersebut menginjak dewasa, Raja mencarikan jodoh bagi mereka. Puteri pertama memilih jodoh seorang pejabat sipil, yang kedua memilih seorang jendral perang sedangkan Puteri Miao Shan tidak berniat untuk menikah. Beliau malah meninggalkan istana dan memilih menjadi Bhiksuni di Kelenteng Bai Que Shi (Tay Hiang Shan).

Berbagai cara diusahakan oleh Raja Miao Zhuang agar puterinya mau kembali dan menikah, namun Puteri Miao Shan tetap bersiteguh dalam pendirianNya. Pada suatu ketika, Raja Miao Zhuang habis kesabarannya dan memerintahkan para prajurit untuk menangkap dan menghukum mati sang puteri.

Setelah kematianNya, arwah Puteri Miao Shan mengelilingi neraka. Karena melihat penderitaan makhluk-makhluk yang ada di neraka, Puteri Miao Shan berdoa dengan tulus agar mereka berbahagia. Secara ajaib, doa yang diucapkan dengan penuh welas asih, tulus dan suci mengubah suasana neraka menjadi seperti surga.

Penguasa Akherat, Yan Luo Wang, menjadi bingung sekali. Akhirnya arwah Puteri Miao Shan diperintahkan untuk kembali ke badan kasarNya. Begitu bangkit dari kematianNya, Budha Amitabha muncul di hadapan Puteri Miao Shan dan memberikan Buah Persik Dewa. Akibat makan buah tersebut, sang Puteri tidak lagi mengalami rasa lapar, ke-tuaan dan kematian. Budha Amitabha lalu menganjurkan Puteri Miao Shan agar berlatih kesempurnaan di gunung Pu Tuo, dan Puteri Miao Shan-pun pergi ke gunung Pu Tuo dengan diantar seekor harimau jelmaan dari Dewa Bumi.

9 (Sembilan) tahun berlalu, suatu ketika Raja Miao Zhuang menderita sakit parah. Berbagai tabib termasyur dan obat telah dicoba, namun semuanya gagal. Puteri Miao Shan yang mendengar kabar tersebut, lalu menyamar menjadi seorang Pendeta tua dan datang menjenguk. Namun terlambat, sang Raja telah wafat. Dengan kesaktianNya, Puteri Miao Shan melihat bahwa arwah ayahNya dibawa ke neraka, dan mengalami siksaan yang hebat.

Karena rasa bhaktiNya yang tinggi, Puteri Miao Shan pergi ke neraka untuk menolong. Pada saat akan menolong ayahNya untuk melewati gerbang dunia akherat, Puteri Miao Shan dan ayahNya diserbu setan-setan kelaparan. Agar mereka dapat melewati setan-setan kelaparan itu, Puteri Miao Shan memotong tangan untuk dijadikan santapan setan-setan kelaparan.

Setelah hidup kembali, Raja Miao Zhuang menyadari bahwa bhakti putrinya yg ketiga sangat luar biasa. Akhirnya sang Raja menjadi sadar dan mengundurkan diri dari pemerintahan serta bersama-sama dengan keluarganya pergi ke gunung Xiang Shan untuk bertobat dan mengikuti jalan Budha.

Rakyat yang mendengar bhakti Puteri Miao Shan hingga rela mengorbankan tanganNya menjadi sangat terharu. Berbondong-bondong mereka membuat tangan palsu untuk Puteri Miao Shan.

Budha O Mi To Hud yang melihat ketulusan rakyat, merangkum semua tangan palsu tersebut dan mengubahNya menjadi suatu bentuk kesaktian serta memberikannya kepada Puteri Miao Shan.

Lalu Ji Lay Hud memberiNya gelar Qian Shou Qian Yan Jiu Ku Jiu Nan Wu Shang Shi Guan Shi Yin Phu Sa, yang artinya Bodhisatva Kwan Im Penolong Kesukaran Yang Bertangan Dan Bermata Seribu Yang Tiada Bandingnya.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa pada saat Kwan Im Phu Sa diganggu oleh ribuan setan, iblis dan siluman, Beliau menggunakan kesaktianNya untuk melawan mereka. Beliau berubah wujud menjadi Kwan Im Bertangan dan Bermata Seribu, dimana masing-masing tangan memegang senjata Dewa yang berbeda jenis.

Kisah Kwan Im Lengan Seribu ini juga memiliki versi yang berbeda, diantaranya adalah pada saat Puteri Miao Shan sedang bermeditasi dan merenungkan penderitaan umat manusia, tiba-tiba kepalanya pecah berkeping-keping. Budha O Mi To Hud (Amitabha) yang mengetahui hal itu segera menolong dan memberikan “Seribu Tangan dan Seribu Mata, sehingga Beliau dapat mengawasi dan memberikan pertolongan lebih banyak kepada manusia.

Dalam legenda Puteri Miao Shan, disebutkan bahwa kakak-kakak Miao Shan bertobat dan mencapai kesempurnaan, lalu mereka diangkat sebagai Pho Sat oleh Giok Hong Siang Te. Puteri Miao Shu diangkat sebagai Bun Cu Pho Sat (Wen Shu Phu Sa) dan Puteri Miao Yin sebagai Po Hian Pho Sat (Pu Xian Phu Sa).

Disebutkan juga bahwa pada saat pelantikan Puteri Miao Shan menjadi Pho Sat, Puteri Miao Shan diberi 2 (dua) orang pembantu, yakni Long Ni dan Shan Cai. Konon, Long Ni diberi gelar Giok Li (Yu Ni) atau “Gadis Kumala” dan Shan Cai bergelar Kim Tong (Jin Tong) atau “Jejaka Emas”.

Pada mulanya, Long Ni adalah cucu dari Raja Naga (Liong Ong), yang diberi tugas untuk menyerahkan mutiara ajaib kepada Kwan Im, sebagai rasa terima kasih dari Liong Ong karena telah menolong puterinya. Namun ternyata Long Ni justru ingin menjadi murid Kwan Im dan mengabdi kepadaNya. Khusus untuk Shan Cai ada 2 (dua) versi legenda.

Versi pertama berdasarkan legenda Puteri Miao Shan yang menceritakan bahwa Shan Cai adalah pemuda yatim piatu yang ingin belajar ajaran Budha. Ia ditemukan oleh To Te Kong dan diserahkan kepada Kwan Im untuk dididik.

Versi lain dalam cerita Se Yu Ki (Xi You Ji) menyebutkan bahwa Shan Cai adalah putera siluman kerbau Gu Mo Ong (Niu Mo Wang) dengan Lo Sat Li (Luo Sa Ni). Nama asliNya adalah Ang Hay Jie (Hong Hai Erl) atau si Anak Merah. Karena kenakalan dan kesaktian Ang Hay Jie, Sang Kera Sakti Sun Go Kong / Sun Wu Kong meminta bantuan kepada Kwan Im Pho Sat untuk mengatasiNya.

Akhirnya Ang Hay Jie berhasil ditaklukkan oleh Kwan Im Pho sat dan diangkat menjadi muridNya dengan panggilan Shan Cai. Dalam hal ini, banyak orang yang salah mengerti dan menganggap bahwa salah 1 (satu) pengawal Kwan Im Po Sat adalah Lie Lo Cia (Li Ne Zha), yang penampilanNya memang mirip dengan Ang Hay Jie. Secara khusus terdapat perbedaan diantara keduaNya, Lie Lo Cia menggunakan senjata roda api di kakiNya, sedangkan Ang Hay Jie menggunakan semburan api dari mulutnya. Lie Lo Cia adalah anak dari Lie King dan Ang Hay Jie adalah anak dari Gu Mo Ong.

Dalam sejumlah kitab Budhisme Tiongkok klasik, disebutkan ada 33 (tiga puluh tiga) rupa perwujudan Kwan Im Pho Sat, antara lain :
1. Kwan Im Berdiri Menyeberangi Samudera;
2. Kwan Im Menyebrangi Samudera sambil Berdiri diatas Naga;
3. Kwan Im Duduk Bersila Bertangan Seribu;
4. Kwan Im Berbaju dan Berjubah Putih Bersih sambil Berdiri;
5. Kwan Im Berdiri Membawa Anak;
6. Kwan Im Berdiri diatas Batu Karang/Gelombang Samudera;
7. Kwan Im Duduk Bersila Membawa Botol Suci & Dahan Yang Liu;
8. Kwan Im Duduk Bersila dengan Seekor Burung Kakak Tua.

Selain perwujudan Beliau yang beraneka bentuk dan posisi, nama atau julukan Kwan Im (Avalokitesvara) juga bermacam-macam, ada Sahasrabhuja Avalokitesvara (Qian Shou Guan Yin), Cundi Avalokitesvara, dan lain-lain.

Walaupun memiliki berbagai macam rupa, pada umumnya Kwan Im ditampilkan sebagai sosok seorang wanita cantik yang keibuan, dengan wajah penuh keanggunan .Selain itu, Kwan Im Pho Sat sering juga ditampilkan berdampingan dengan Bun Cu Pho Sat dan Po Hian Pho Sat, atau ditampilkan bertiga dengan : Tay Su Ci Pho Sat (Da Shi Zhi Phu Sa) – O Mi To Hud – Kwan Im Pho Sat.

Avalokiteśvara di India :
Avalokiteśvara hanya dikenal dalam agama Buddha Mahayana, sedangkan pada Buddha Hinayana dan Buddha Tantrayana tidak dikenal.

Nah, Avalokiteśvara (अवलोकितेश्वर) adalah salah satu emanasi Bhodisattvas dalam agama Buddha aliran Mahayana. Avalokiteśvara biasanya disebut juga sebagai Padmapāni atau Lokeśvara. Avalokiteśvara biasanya digambarkan berwarna putih dengan 4 buah tangan (2 tangan akan menempel di depan dada yang berarti penghormatan pada Buddha utama zaman kita, zaman keempat yang disebut Buddha Amitabha).

Kenapa disebut zaman keempat? Karena agama Buddhist percaya bahwa kehidupan manusia telah bergulir 4 kali hingga sekarang. Untuk memasuki zaman kelima, kehidupan akan hancur kembali dan memulai kehidupan baru dari awal (mungkin bukan peradaban manusia). Nah, zaman keempat kita dikawal oleh Buddha Amitabha (itu sebabnya semua biksu Buddha selalu mengatakan Amitabha.

Lalu siapakah Buddha Amitabha itu?
Buddha Amitabha adalah salah satu dari lima Dhyani Buddha yang duduk bersemayam dan menurut konsep agama Buddha Mahayana (Yogācāra) merupakan aspek-aspek dalam diri Buddha yang telah mendapatkan pencerahan.

Berikut adalah susunan konsep kedudukan (disebut Mandala Buddha) Dhyani Buddha dalam agama Buddha Mahayana.
 




Analitic

Suasana angin Topan di surabaya november 2017

Suhu Malaysia yang gagal Panggil Shen

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;