Minggu, 28 Oktober 2012

"MAHAMUDRA DAN DZOGCHEN:

MAHAMUDRA DAN DZOGCHEN: 'Keterjagaan Bebas-Pikiran'

Oleh: Chokyi Nyima Rinpoche
Diterjemahkan oleh: Hudoyo Hupudio

----------------------
"Kemampuan untuk melarutkan pikiran sangat penting untuk mencapai pembebasan, kata guru Dzogchen terkenal, Chökyi Nyima Rinpoche. Bakti dan Persepsi Murni adalah dua prinsip yang terletak pada akar praktik Vajrayana yang membawa keluar dari kebingungan menuju 'Keterjagaan Bebas-Pikiran' (Thoght-free Wakefulness)."
----------------------

Melekat pada ego hanyalah pikiran. Melekat pada gagasan diri adalah pikiran. Melekat gagasan 'orang lain' juga pikiran. Melekat pada dualitas adalah pikiran. Konsep kebaikan adalah pikiran, dan konsep kejahatan adalah pikiran. Konsep kenetralan juga pikiran. Setiap kali ada pikiran, berarti ada kelekatan. Sikap melekat mengikuti jejak tiga racun -- nafsu, kekerasan dan ketidaktahuan. Karena pembentukan pikiran melibatkan ketiga racun, itu berarti bahwa berpikir menyebabkan samsara, penderitaan tak berakhir dari eksistensi-berulang. Setiap kali ada keterlibatan dalam pikiran, pengalaman kita bersifat samsara. Pemikiran terdelusi adalah akar dari samsara.

Pemikiran terdelusi membentuk karma dan emosi-mengganggu. Ketika ada pemikiran, terdapat tindakan menerima dan menolak, kenikmatan dan rasa sakit. Situasinya mungkin eksternal, tetapi si pemikir adalah batin yang di dalam ini. Keindahan dan kejelekan tampaknya terdapat pada objek eksternal. Namun, yang menciptakan keindahan atau kejelekan sebenarnya adalah pembentukan konsep dalam pikiran ini, di sini. Juga, menyukai dan tidak menyukai apa yang dianggap indah atau jelek adalah tindakan yang dilakukan oleh pikiran ini. Situasinya adalah objek indera, tapi faktor utamanya adalah batin kita.

Agar keenam golongan makhluk [dewa, asura, manusia, binatang, preta dan makhluk neraka] menjadi benar-benar bebas dari keseluruhan samsara, kita perlu memecahkan masalah berpikir yang membentuk sebab-sebab yang mendorong kita berputar melalui berbagai alam. Kita memahami bahwa berpikir adalah delusi. Namun, ingin bebas dan pada saat bersamaan ingin berpegang pada berpikir-konseptual adalah kontradiksi. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah akan terjadi. Ini adalah pekerjaan yang mustahil.

Jika Anda ingin mencapai pembebasan dan pencerahan mahatahu, Anda perlu bebas dari pemikiran konseptual. Pelatihan meditasi, dalam arti mempertahankan sifat dasar batin, adalah cara untuk bebas dari kelekatan dan sikap konseptual dari pembentukan pikiran, dan dengan demikian bebas dari sebab-sebab samsara: karma dan emosi-mengganggu. Harap jangan percaya bahwa pembebasan dan samsara ada di suatu tempat di luar sana: ia ada di sini, dalam diri kita. Pikiran adalah samsara. Bebas dari pikiran adalah pembebasan. Ketika kita bebas dari berpikir, kita bebas dari pikiran. Masalahnya adalah bahwa penyebab samsara berlanjut terus-menerus tercipta. Kita tunggang-langgang melalui enam alam dan mengalami banyak penderitaan.

Dibandingkan dengan bentuk-bentuk kehidupan lain di dalam samsara, kita manusia tidak menderita begitu banyak. Kita tidak mengalami penderitaan yang kuat dan tak tertahankan yang dialami oleh makhluk-makhluk lain yang tak terhitung jumlahnya. Tapi bagi sebagian manusia, kesakitan mental atau fisik mungkin tak tertahankan. Jika kita terus membiarkan pemikiran kita sehari-hari menjadi liar, kami tidak dapat memprediksi apa yang terletak di hadapan kita di masa depan, di mana kita akan sampai, dalam bentuk atau bentuk apa.

Intinya adalah ini: kita perlu tahu bagaimana untuk melarutkan pikiran. Tanpa mengetahui ini, kita tidak dapat menghapus karma dan emosi mengganggu. Dan dengan demikian fenomena karma tidak lenyap; pengalaman terdelusi tidak berakhir. Kita memahami juga bahwa satu pikiran tidak dapat membatalkan pikiran lain. Satu-satunya yang dapat melakukan ini adalah 'keterjagaan bebas-pikiran' (thought-free wakefulness). Ini bukan suatu keadaan yang jauh dari kita: 'keterjagaan bebas-pikiran' benar-benar ada bersama dengan setiap pikiran, tidak terpisahkan darinya -- tapi pemikiran mengaburkan atau menyembunyikan kenyataan mendasar ini. 'Keterjagaan bebas-pikiran' langsung muncul pada saat pikiran larut, pada saat pikiran lenyap, menghilang, runtuh. Tidakkah ini benar?

Sang Buddha menjelaskan secara rinci bahwa kita dapat memiliki 84.000 jenis emosi. Dengan cara yang ringkas, terdapat enam emosi dasar dan dua puluh emosi turunannya. Sebuah kategorisasi pikiran yang lebih pendek adalah terdiri dari tiga racun. Apapun jumlah emosi atau pikiran, Sang Buddha mengajarkan cara untuk menghilangkan semua itu dengan memberikan 84.000 bagian dari dharma.

Mungkin Anda tidak punya waktu untuk mempelajari semua ajaran ini, atau mungkin Anda tidak memiliki keinginan, kemampuan atau kecerdasan untuk melakukannya. Dalam hal ini, Sang Buddha dan Bodhisattva dengan sangat terampil meringkas ajaran ini ke dalam bentuk yang sangat ringkas. Ini disebut tradisi pengajaran pokok untuk mengatasi semua emosi-mengganggu secara bersamaan. Instruksi dasar di sini ialah memahami bahwa semua emosi hanyalah pikiran. Bahkan melekat pada ego dan keterpakuan dualistik hanyalah pikiran. Instruksi arahan yang diberikan oleh seorang guru kepada siswa yang memenuhi syarat menunjukkan bagaimana melarutkan pikiran dan bagaimana mengenali sifat dasar si pemikir, yang adalah 'keterjagaan bebas-pikiran' kita yang asali.

Akar kebingungan adalah berpikir, tapi inti dari berpikir adalah 'keterjagaan bebas-pikiran'. Sesering mungkin, harap atur dirimu di dalam keseimbangan 'keterjagaan bebas-pikiran'. Dikatakan, "Samsara ini hanyalah pikiran, jadi kebebasan dari pikiran adalah pembebasan." Para Guru besar menjelaskan hal ini secara lebih rinci, karena sekadar tanpa pikiran belum tentu pembebasan dalam arti 'keterjagaan bebas-pikiran'. Menjadi tidak sadar, pingsan, tidak mengenali, jelas bukan pembebasan. Jika keadaan-keadaan itu adalah pembebasan, maka pencapaian akan berlangsung cepat karena sangat mudah untuk menjadi tanpa-pikiran. Itu akan menjadi pembebasan murahan!

Cukup tangguhkan pemikiran Anda dalam keadaan jaga tanpa-melekat: itulah pandangan yang benar. Satu hal penting dalam ajaran tentang intisari pikiran adalah bahwa ajaran itu harus sederhana dan mudah untuk dilatih. Terutama dalam praktek Mahamudra dan Dzogchen, dikatakan pandangannya terbuka dan tanpa beban. Semakin sedikit Anda melekat dan memegang, semakin terbuka dan bebas ia. Ini adalah sifat-dasar segala sesuatu. Semakin kurang kaku sikap-konseptual kita, semakin bebas pandangan.

Batin adalah kosong, sadar, menyatu, tak terbentuk. Harap jadikan arti dari kata-kata ini sesuatu yang menunjuk pada pengalaman Anda sendiri. Anda juga dapat mengatakan, batin adalah "kesatuan tak-terbentuk dari pengenalan-kosong." Ini adalah kata-kata yang sangat berharga dan mendalam. "Kosong" berarti bahwa pada dasarnya batin ini adalah sesuatu yang kosong. Hal ini mudah untuk disepakati: kita tidak bisa menemukannya sebagai benda. Ia tidak dibuat kosong oleh siapa pun, termasuk oleh kita -- sekadar kosong secara alami, sejak awal begitu.

Pada saat yang sama, kita juga memiliki kemampuan untuk tahu, untuk mengenal, yang juga sesuatu yang alami dan tidak dibuat. Kedua kualitas ini -- kosong dan tahu -- bukan dua entitas yang terpisah. Keduanya adalah kesatuan tak terpisahkan. Kesatuan itu sendiri juga bukan sesuatu yang dibuat oleh siapa pun. Ini bukan kesatuan pengenalan-kosong yang pada titik tertentu muncul, menetap untuk sementara dan kemudian akan lenyap. Karena tak terbentuk, ia tidak muncul, tidak menetap, dan tidak berakhir. Ia tidak terbentuk di dalam waktu. Ia bukan substansi material. Apa pun yang ada dalam waktu atau substansi adalah obyek pikiran. Kesatuan tak-terbentuk dari pengenalan-kosong tidak terbuat dari pikiran, itu bukan obyek pikiran.

Setiap kali ada ide yang berbasis pada waktu atau substansi, pemeliharaannya menjadi sangat rumit, dibutuhkan banyak usaha untuk mempertahankan atau memelihara validitasnya. Namun, sifat dasar yang tak terbentuk ini adalah sangat sederhana, tidak rumit sama sekali. Begitu banyak komplikasi tercipta dari konsep waktu dan substansi -- begitu banyak harapan dan ketakutan. Jujur saja, substansi dan waktu tak pernah ada; mereka tidak pernah ada, juga tidak akan pernah ada di masa depan. Konseptualisasi waktu dan substansi adalah kebiasaan batin yang berpikir. Meskipun saat ini waktu dan substansi tidak ada, bagi batin yang berpikir seolah-olah mereka ada.

Mengenai substansi, jika Anda melihat berkeliling, seolah-olah semuanya kokoh dan persis ada di tempatnya. Dalam pengalaman seorang yogi yang sejati, tentu saja waktu dan substansi tidak ada. Bahkan seorang sarjana, melalui penalaran yang cerdas, dapat merasa yakin tentang fakta ini. Ketika kita berpikir bahwa yang tidak ada itu ada, maka tampaknya itu ada. Namun, sebagaimana dicerap oleh seorang Buddha, semua pengalaman yang dimiliki oleh para makhluk samsara tidak lebih nyata daripada mimpi. Semuanya tampak seperti mimpi.

Sebagai dasar dari praktek Vajrayana terletak dua prinsip: Bakti dan Persepsi Murni. Kita harus memiliki bakti terhadap keadaan alami yang tak diragukan lagi, dalam arti tulus menghargai apa yang benar-benar tak diragukan, tak kacau, tak pernah terdelusi. Pada kenyataannya, sifat-dasar segala sesuatu benar-benar murni. Pengotoran terjadi hanya karena konsep-konsep sementara. Itulah sebabnya mengapa kita harus melatih persepsi murni.

Dalam konteks ini, ada tiga tingkat pengalaman: pengalaman terdelusi makhluk hidup, pengalaman meditasi para yogi, dan pengalaman murni para Buddha. Setiap kali ada pikiran dualistik, ada pengalaman terdelusi. Pengalaman terdelusi dari makhluk hidup disebut tidak murni karena terlibat dengan karma dan emosi-mengganggu. Dalam pengalaman terdelusi, ada upaya untuk menerima dan menolak, ada harapan dan ketakutan. Harapan dan ketakutan adalah menyakitkan: itulah penderitaan. Setiap kali ada pemikiran, terdapat harapan dan ketakutan. Setiap kali ada harapan dan ketakutan, di situ ada penderitaan.

Pengalaman meditasi seorang yogi bebas dari membiarkan pikiran normal. Ini adalah sesuatu yang lain daripada terlibat dalam pemikiran normal. Kita bisa menamakannya keadaan shamatha atau vipashyana atau nama lain, tetapi pada dasarnya tidak sama dengan berpikir biasa. Pengalaman-pengalaman meditasi seorang yogi adalah baik dan mereka menjadi nyata karena membiarkan batin menetap dalam keseimbangan. Yang paling terkenal dari suasana batin meditatif disebut kebahagiaan, kejernihan dan tanpa-pikiran. Suasana batin itu terjadi selama meditasi vipashyana, tetapi dapat juga muncul selama praktik shamatha. Melalui pelatihan meditasi, pikiran menjadi lebih jelas, lebih jernih. Tetapi jika kita tidak terhubung dengan seorang guru yang kompeten dan jika kita tidak tahu cara-cara yang tepat dalam menangani keadaan-keadaan meditatif ini, kita mungkin menganggap bahwa kita adalah makhluk tercerahkan yang luar biasa. Itu menjadi hambatan; bahkan dapat menjadi rintangan yang berat.

Jalan Mahamudra disajikan sebagai dua belas aspek dari empat yoga. Keempat yoga dari Mahamudra merupakan jalan pembebasan. Yang pertama, Pemusatan; pada dasarnya berarti bahwa Anda dapat tetap tenang tak terganggu selama Anda inginkan. Yoga berikutnya adalah Kesederhanaan; dan sarana untuk mengenali wajah alami Anda sebagai batin biasa, bebas dari dasar dan bebas dari akar: "Kesederhanaan adalah batin biasa tanpa akar dan tanpa dasar." Kita perlu mengembangkan dengan kuat pengenalan ini; jika tidak, kita tak berdaya seperti anak kecil di medan perang. Kita berlatih dengan cara kesadaran, pada awalnya penuh usaha, kemudian tanpa usaha. Kita berlatih dalam Kesederhanaan pada tingkatan rendah, menengah dan tinggi; dan kemudian sampai pada Satu Rasa, yakni yoga ketiga dari keempat yoga dari Mahamudra. Satu Rasa berarti bahwa dualitas pengalaman larut, bahwa semua gagasan dualistik seperti samsara dan nirvana larut ke dalam keadaan kesadaran nondualistik.

Setelah Satu Rasa menjadi sempurna melalui tingkat-tingkat yang rendah, menengah dan tinggi, yoga keempat adalah Bukan-Meditasi. Ini adalah titik di mana setiap jenis keyakinan dan pemusatan perhatian pada sesuatu sama sekali larut. Semua keyakinan dan kecenderungan kebiasaan telah larut dan ditanggalkan. Kita telah sampai pada takhta Dharmakaya dari Bukan-Meditasi.

Pada awalnya kita perlu yakin tentang bagaimana realitas itu: kita perlu memiliki keyakinan di dalam pandangan itu. Namun, pada akhirnya, segala bentuk keyakinan masih merupakan pengaburan halus, masih merupakan hambatan. Pada tahap akhir Bukan-Meditasi, segala jenis kecenderungan kebiasaan dan keyakinan perlu larut, ditanggalkan. Tidak ada apa-apa lagi untuk dipupuk, tidak ada apa-apa lagi untuk dicapai. Kita telah tiba di ujung jalan. Semua yang perlu dimurnikan telah dimurnikan. Karma, emosi-mengganggu dan kecenderungan kebiasaan semuanya telah tersapu bersih, sehingga tidak ada yang tersisa.

Jalan itu perlu selama kita belum sampai. Namun, pada saat kita sampai, kebutuhan akan jalan ke sana telah runtuh. Selama kita belum berada di tempat tujuan kita, maka diperlukan konsep jalan untuk sampai ke sana. Tapi begitu tujuan telah tercapai, setelah apa yang perlu dipupuk telah dipupuk dan apa yang perlu ditinggalkan telah ditinggalkan, seluruh kebutuhan untuk jalan berakhir. Itulah yang dimaksud dengan Bukan-Meditasi, secara harfiah bukan-pemupukan. Inilah Dharmakaya [tubuh tanpa-bentuk dari realitas tertinggi, salah satu dari ketiga tubuh (kaya) Buddha], tahta Bukan-Meditasi. Dalam Dzogchen, berakhirnya semua konsep dan fenomena adalah tingkat tertinggi dari pengalaman. Ini adalah keadaan pencerahan sempurna. Kedua tingkat realisasi ini sama dengan realisasi semua Buddha.

Pada titik ini, bagi diri sendiri, terdapat pengalaman murni secara eksklusif. Pada saat yang sama, makhluk lain masih tercerap, bersama dengan pengalaman-pengalaman mereka yang tidak murni dan terdelusi. Ambillah contoh dari enam golongan makhluk. Ketika pengalaman mereka dibandingkan satu sama lain, setiap makhluk akan merasa bahwa cara mengalaminya lebih mendalam daripada cara mengalami di alam di bawahnya. Secara umum, semua makhluk berpikir bahwa apa yang mereka alami adalah nyata. Perbedaan dalam mengalami dalam alam-alam yang berbeda adalah perbedaan kepadatan karma dan pengaburan-pengaburan mereka. Semakin kurang padat karma, semakin dekat dengan pengalaman nyata. Dibandingkan dengan makhluk hidup biasa di dalam samsara, pengalaman meditasi dari seorang yogi lebih nyata, lebih murni. Tetapi dibandingkan dengan itu, pengalaman murni seorang Buddha lebih nyata dan lebih murni lagi.

Kita perlu melarutkan pengalaman terdelusi yang tidak murni. Pengalaman terdelusi datang dari ketidaktahuan akan sifat-dasar batin; itu datang dari ketidaktahuan, dari tidak tahu akan keadaan alami. Bila tidak mengetahui sifat-dasar kita, kita menjadi makhluk hidup. Ketidaktahuan berakhir ketika mengetahui keadaan alami, keadaan seorang Buddha. Ketika tidak mengetahui, terdapat pembentukan karma dan emosi-mengganggu. Dengan mengetahui, karma dan emosi-mengganggu tidak terbentuk. Jika, pada saat mengetahui sifat-dasar bawaan dan mempertahankan kelangsungannya, Anda tidak akan pernah tersesat lagi, maka Anda menjadi seorang Buddha.

Filsafat Budhis memiliki banyak istilah bagus untuk menggambarkan apa yang terjadi. Chittamatra, atau aliran 'batin-semata', menyajikan klasifikasi tiga lapis dari realitas yakni: yang imajiner, yang tergantung dan yang mutlak. Dalam ajaran Dzogchen, ketidaktahuan digambarkan memiliki tiga aspek: ketidaktahuan konseptual, ketidaktahuan muncul-bersamaan, dan ketidaktahuan hakikat-tunggal. Ini semua adalah istilah-istilah yang sangat bagus. Pada dasarnya, kebingungan dapat terjadi dalam keadaan tak-tahu. Tidak mengetahui esensi kita sendiri adalah kebingungan. Esensi dari apa yang berpikir adalah Dharmakaya. Pemikiran itu sendiri bukan Dharmakaya, tetapi identitas dari apa yang berpikir adalah Dharmakaya. Berpikir adalah pikiran. Berpikir bukanlah keadaan bebas-pikiran. Identitas dari apa yang berpikir itulah yang bebas-pikiran.

Entah kita menggunakan istilah 'esensi-batin', 'keadaan primordial murni yang menembus', 'kebijaksanaan orisinal yang muncul-bersamaan', atau 'Jalan Tengah Agung dari makna definitif', satu hal adalah benar: pada saat tidak terlibat dalam pikiran, secara spontan Anda sampai pada pandangan benar, secara otomatis.

Ada dua cara untuk mendekati pandangan itu. Salah satunya adalah melalui pernyataan dan penalaran kitab suci, dan yang lainnya adalah melalui pengalaman. Cara pertama disebut "membangun pandangan melalui pernyataan dan penalaran." Meskipun kita ingin berlatih dalam Mahamudra atau Dzogchen, namun, tanpa rasa kepastian tertentu mengenai pandangan yang diperoleh melalui belajar dan melalui penalaran kita sendiri, tidaklah mudah untuk merasa pasti.

Kadang-kadang dimungkinkan untuk mentransmisikan atau mengkomunikasikan pandangan tanpa menggunakan pernyataan kitab suci apa pun; tetapi hal ini membutuhkan seorang guru yang benar-benar berkualitas yang memiliki madu pembelajaran, perenungan dan meditasi, bertemu dengan seorang murid berkualitas yang siap menerimanya. Ada tiga jenis transmisi. Dua yang pertama, transmisi-batin para Buddha dan transmisi-simbolik dari pemegang pengetahuan, adalah seperti itu. Transmisi-batin bahkan tanpa menggunakan satu kata atau isyarat, tanpa tanda. Namun, ada sesuatu yang dikomunikasikan -- kebijaksanaan realisasi dikomunikasikan dan dikenali sepenuhnya. Transmisi-simbolik menggunakan tidak lebih dari sebuah kata atau kalimat -- tanpa penjelasan, hanya sebuah isyarat -- untuk menunjukkan kebijaksanaan realisasi dan membuatnya dikenali. Jenis transmisi ketiga adalah garis-keturunan mendengar, yang menggunakan pengajaran lisan sangat singkat.

Di zaman kita, kebanyakan orang akan mengalami kesulitan jika kita hanya menggunakan transmisi-batin, transmisi-simbolik atau transmisi-dengar tanpa yang lain, tanpa penjelasan. Penjelasan pada umumnya diperlukan untuk menunjukkan keadaan alami. Ada dua cara untuk melakukannya. Salah satunya adalah pendekatan analitis dari seorang sarjana, yang lain adalah meditasi-istirahat dari seorang meditator sederhana. Ada beberapa orang yang bisa percaya kepada seorang guru, dan diperkenalkan kepada keadaan alami tanpa menggunakan penjelasan panjang lebar. Bagi orang lain, itu tidak cukup. Maka perlu menggunakan referensi kitab suci dan penalaran cerdas untuk dapat memperoleh kepastian dalam pandangan. Tapi setelah sampai pada pemahaman intelektual dari pandangan yang benar, sang sarjana masih perlu menerima berkat seorang guru yang berkualitas dan menerima instruksi yang menuntun dari guru seperti itu.

Apakah Anda memiliki keraguan tentang sesuatu? Apakah ada sesuatu yang harus dijelaskan?

Siswa:
Bisakah Anda memberikan beberapa rincian lagi tentang persepsi murni?

Chökyi Nyima Rinpoche:
Menghindari menyakiti orang lain dan melepaskan dasar bagi kerugian adalah ajaran utama dari Hinayana. Membantu orang lain dan menciptakan dasar bagi kemanfaatan adalah ajaran utama dari Mahayana. Vajrayana dinamakan jalur persepsi murni, dengan pandangan suci sebagai jalan. Hal ini dilakukan di atas dasar dari dua ajaran sebelumnya: sikap menghindari merugikan orang lain, dan ingin membantu mereka. Sebagai tambahan terhadap itu, kita melatih dalam persepsi murni, tidak hanya dalam konteks spiritual tetapi juga dalam setiap situasi kehidupan normal dalam masyarakat manusia.

Pernyataan Vajrayana untuk menganggap segala sesuatu sebagai murni pada mulanya bisa terdengar aneh, bahkan mungkin canggung. Tapi periksalah dengan sangat hati-hati dan Anda akan menemukan bahwa hakikat segala sesuatu adalah kemurnian. Oleh karena itu, menganggap segala sesuatu sebagai murni adalah sangat wajar. Persepsi murni sangat dekat dengan realitas tertinggi, dengan segala sesuatu sebagaimana adanya. Semua makhluk hidup memiliki esensi tercerahkan, Hakikat Kebuddhaan. Dikatakan bahwa semua makhluk adalah Buddha, namun mereka tertutup oleh pengaburan-pengaburan sementara. Meskipun semua makhluk terselubung oleh pengaburan, mereka pada kenyataannya tetap Buddha, dan karena itu, sangatlah baik untuk melihat semua makhluk sebagai murni secara sempurna.

Ajaran Hinayana untuk tidak menyakiti orang lain sangat penting. Ajaran Mahayana tentang niat untuk membantu makhluk lain sangat penting. Selain itu, pelatihan Vajrayana dalam persepsi murni adalah sangat mendalam. Itu adalah pelatihan dalam mengenali dan mengakui kemurnian alami dari segala sesuatu. Oleh karena itu, pendekatan Tibet terhadap Buddhisme adalah pendekatan di mana ketiga kendaraan tidak dipisahkan, tetapi dipraktikkan dalam kombinasi.

Kita perlu memeriksa dengan sangat hati-hati prinsip persepsi murni, karena tampaknya banyak hal tidak murni. Pada tingkat yang tampak, kita dapat memiliki pengertian tentang sesuatu sebagai murni atau tidak murni; tetapi pada tingkat yang sebenarnya, semuanya murni. Perspektif Vajrayana tentang persepsi murni adalah bahwa segala sesuatu, sejak awal sekali, dalam kenyataannya adalah tiga tubuh Buddha [Nirmanakaya, Sambhogakaya dan Dharmakaya]. Semua gerak pikiran adalah permainan keterjagaan asali. Kita membedakan dan menilai oleh karena tidak mengetahui hal ini.

Adalah kesalahan untuk berpendapat bahwa sesuatu yang sebenarnya murni tidak murni. Tapi menganggap yang murni sebagai murni adalah benar. Dibandingkan dengan sikap menganggap segala sesuatu sebagai permanen dan konkrit, maka sikap menganggap segala sesuatu sebagai tidak kekal dan tidak substansial adalah benar. Menganggap segala sesuatu, segala fenomena, sebagai, bukan hanya tidak substansial dan tidak kekal, tetapi sebagai benar-benar murni adalah pandangan lebih tinggi.

Siswa:
Berkenaan dengan persepsi murni, tampaknya lebih mudah untuk melihat diri sendiri sebagai murni, bukan?

Chökyi Nyima Rinpoche:
Tanpa persepsi murni, Vajrayana sangat sukar. Vajrayana adalah jalur cepat, karena melalui kekuatan kepercayaan dan bakti, jauh lebih mudah untuk merealisasikan hakikat segala sesuatu.

Secara umum, persepsi murni berarti menghargai bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk tercerahkan, semua orang memiliki sifat yang dapat benar-benar terungkap dan menjadi sempurna. Selain itu, kelima unsur, kelima kelompok, kelima racun -- semua aspek pengalaman yang berbeda -- secara alami sudah murni. Hanya karena kita melihat dengan cara yang membingungkan maka mereka muncul sebagai tidak murni. Dalam pengalaman murni yang di situ tidak terbentuk konsep bersih atau tidak bersih, konsep murni atau tidak murni, segala sesuatu terlihat seperti apa adanya -- sebagai manifestasi keterjagaan asali.

Ketika seseorang memahami nilai bakti dan persepsi murni dan bersedia berlatih dengan cara ini, ia adalah orang yang cocok untuk menerima ajaran Vajrayana. Kecocokan untuk menerima Vajrayana ini memerlukan wawasan luas dan tajam. Segala sesuatu adalah kemurnian penuh, kemurnian yang mencakup segalanya. Kecuali orang mempunyai pandangan terbuka dan kecerdasan yang tajam, ia tidak memahami bahwa ini adalah realitas sesungguhnya.

Selain itu, kita juga harus berlatih melihat guru dan rekan-rekan praktisi kita sebagai murni. Orang tidak bisa menghakimi orang lain secara benar. Oleh karena itu, kita harus memiliki apresiasi terhadap sesama saudara vajra kita. Sedangkan terhadap guru yang menguraikan Vajrayana, tidak seharusmya kita bersikap: "Dia tidak lebih dari yang lain, manusia lain, mungkin sedikit istimewa, tapi mana saya tahu?" Tidak seperti itu! Milikilah apresiasi murni terhadap guru juga. Ada kekuatan besar dalam persepsi murni seperti itu.

Menurut tradisi Vajrayana, melalui bakti dan percayalah realisasi menyingsing dalam keberadaan kita. Bakti muncul dari persepsi murni terhadap setiap orang. Semua makhluk hidup berpotensi Buddha. Mereka dikaburkan untuk sementara, tetapi pada dasarnya mereka adalah Buddha. Apa adanya [suchness] yng terkaburkan dapat menjadi apa adanya yang tak terkaburkan, yang adalah Buddha. Pengaburan dapat dimurnikan, akan dimurnikan, mampu dimurnikan.

Jadi persepsi murni adalah sangat mendalam dan berharga. Melalui persepsi murnilah kita dapat memiliki bakti sejati. Dan melalui bakti ini, realisasi menyingsing. Ini seperti pernyataan Milarepa kepada Gampopa: "Tidak seperti sekarang, akan ada suatu waktu di masa depan, anakku, ketika engkau akan melihatku sebagai Buddha sendiri. Pada saat itu, pandangan yang benar akan menyingsing dalam aliran batinmu."

Vajrayana tidak seperti ajaran-ajaran umum dari Sang Buddha. Sebuah pepatah Vajrayana berkata: "Anggaplah apa pun yang dikatakan oleh guru sebagai sempurna, apa pun yang dia lakukan sebagai murni, dan padukan batinmu padanya sebagai satu." Kecuali orang berpikiran sangat terbuka dan juga tajam, tidak mudah untuk bersikap seperti itu. Ketika melihat seseorang sebagai murni, bukan berarti menjadi buta. Itu bukan apa yang kita bicarakan di sini. Itu akan menjadi kekaguman bodoh, kekaguman palsu. Sikap percaya yang sejati lebih berkaitan dengan mengakui kemurnian dasar dari segala sesuatu.

Bakti atau sikap percaya dan persepsi murni merupakan dasar untuk praktek Vajrayana. Dan itu berlaku entah kita tengah mendengarkan ceramah Dharma, entah kita tengah menerapkan ajaran, entah kita tengah berinteraksi dalam aktivitas sehari-hari: dalam situasi apa pun persepsi murni sangat penting.

***

Chökyi Nyima Rinpoche adalah kepala biara Ka-Nying Shedrub Ling in Kathmandu. Putra sulung almarhum Dzogchen master, Tulku Urgyen Rinpoche, ia juga mengajar setiap tahun di Rangjung Yeshe Gomde, pusat retretnya di California utara.

[This teaching is excerpted from Present Fresh Wakefulness: A Meditation Manual on Nonconceptual Wisdom, published by Rangjung Yeshe. This article © 2003 Chökyi Nyima Rinpoche. Reprinted with permission of Rangjung Yeshe Publications.]

[dari: http://www.shambhalasun.com/index.php?option=content&task=view&id=1660] The ability to dissolve thoughts is essential to attaining liberation, says renowned Dzogchen teacher Ch"kyi Nyima Rinpoche. Devotion and Pure Perception are two principles that lie at the root of Vajrayana practice that lead beyond confusion to thought-free wakefulness.&amp...

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Hudoyo Hupudio menterjemahkan link yang saya berikan sewaktu saya berdebat dengan dia seputar MMD yang saya kritik metodenya di grup Buddha Indonesia. Rupanya diterjemahkan oleh dia dengan nama dia ditulis sedemikian rupa. Agar pembaca tidak tertipu maka perlu saya beritahukan bahwa metode Hudoyo Hupudio masih jauh dari apa yang dapat dikatakan sebagai Mahamudra apalagi Dzogchen.
Carilah ajaran tersebut HANYA dari silsilah yang otentik setelah menyelesaikan praktek Ngondro.

Posting Komentar

Analitic

Suasana angin Topan di surabaya november 2017

Suhu Malaysia yang gagal Panggil Shen

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;