Rabu, 21 Desember 2016 2 komentar

Tradisi Rondean II (makan ronde Setiap bulan Desember pada sekitar tanggal 21 atau 22)

Kenapa Dong-zhi /Tradisi Sembayang Ronde selalu dihitung berdasarkan penanggalan internasional? Karena sejak semula dalam menentukan saat dong-zhi, mereka menghitung berdasarkan panjang pendeknya bayangan matahari dengan alat yang disebut “gui 圭”. Mereka menemukan dalam kurun satu tahun ada dua saat dimana hari siang terpanjang dan saat hari siang yang terpendek. Saat dimana siang terpendek dan malam terpanjang itulah ditentukan hari dong–zhi, atau tibanya musim dingin, yang dalam istilah orang Barat dinamakan Winter Solstice. Pada saat ini matahari berada pada titik tepat garis 23 ½° Lintang Selatan. Malam terpanjang dalam setahun, setelah itu barulah matahari mulai balik ke utara. Dan hari siang dari yang paling pendek perlahan bertambah panjang, dan malam semakin pendek. Pada saat matahari ada di garis balik 23 ½° derajat Lintang Utara, adalah waktu siang terpanjang dan malam paling pendek. Saat ini disebut xia zhi 夏至 (hee cik), atau Summer Solstice, jatuh pada tanggal 21-23 Juni.

Jadi ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam membicarakan dong-zhi, menurut para sarjana Dinasti Song :
  1. “Yang“ mencapai puncak (Arah selatan atau belahan bumi selatan disebut “Yang”)
  2. Hawa Yin mencapai puncak.  Artinya musim dingin mencapai puncak, waktu malam terpanjang.
  3. Matahari – tai-yang berada pada titik paling selatan (garis-balik 23 ½° LS)
Di Eropa kuno yang sebagian penduduknya menganut penyembahan Dewa Matahari Mithra (Mithraisme), saat itu dianggap kelahiran kembali Dewa Matahari dan dirayakan dengan kegembiraan. Dalam perkembangannya kemudian setelah Kristenisasi, mereka menjadikan festival kelahiran Mithra sebagai hari Natal - kelahiran Yesus [1]
Dong-zhi pada jaman Dinasti Zhou, Qin dirayakan sebagai tahun baru. Pada penanggalan Imlek yang dipakai pada jaman dinasti Han, dong-zhi jatuh pada  bulan 11.  Sebab itu menurut perhitungan waktu di-zhi 地支atau cabang bumi,  bulan 11 dimulai dengan huruf “子zi”, huruf pertama dari 12 huruf cabang bumi, untuk menunjukkan permulaan tahun baru, dong-zhi dirayakan meriah  seperti hari raya, sebab itu dikenal dengan sebutan dong-jie冬节, festival musim dingin. Kerajaan memandang dong-jie sebagai perayaan yang penting. Sebelum dan setelah dong-jie  semua kegiatan libur, sidang kerajaan ditutup, kaisar beristirahat, demikian juga para menteri. Setelah berlaku penanggalan baru dan ditetapkan chun-jie - pesta musim semi atau sincia sebagai tahun baru, dong-jie masih tetap dirayakan walau tidak semeriah sincia.
Dikalangan rakyat perayaan dong-zhi diisi dengan berkumpul dengan sanak keluarga, makan bersama, saling berkunjung dan bersembahyang pada leluhur.
Di beberapa wilayah ada kebiasaan menyantap hun-dun (semacam pangsit)   dan jiao-zi. Kebiasaan makan jiao-zi dihubungkan dengan seorang tabib terkenal jaman Dinasti Han, Zhang Zhongjing. Pada saat hawa begitu dingin ketika dongzhi, banyak orang menderita “radang-dingin-frostbite” ia merebus beberapa macam daun obat dan dicampur cabai, ditambah bumbu sedikit sebagai kuah, lalu cacahan daging kambing dibungkus dengan kulit dari terigu, dimasukan dalam kuah tersebut.  Ternyata hasil ramuan Zhang ini jadi obat manjur untuk penderita radang dingin inilah awal dikenalnya jiao-zi sebagai makanan saat dong-zhi.


Pada Jaman dinasti Ming dan Qing baru dikenal kebiasaan makan ronde. Para anggota keluarga berkumpul sekitar perapian sambil membuat ronde yang diseduh dengan wedang jahe, dengar harapan mereka bisa rukun dan apa yang menjadi pengharapan bisa terkabul. Bentuknya yang bundar bermakna “lancar bergulir” Jadi mereka berharap agar semua permohonan dan harapan bisa lancar dan terkabul.
Makan ronde semangkuk semakin bermakna karena ada kiatnya. Sekali sendok harus dua butir, setelah beberapa kali dan hampir habis sisanya di hitung, apabila sisanya 2 butir, berarti apa yang diharapkan dari keluarga itu akan terkabul. Dan bila sisanya satu butir, anak anak yang masih lajang kemudian hari akan lancar rejekinya.
Tentang awal-mula makan ronde saat tangcik ini ada satu cerita rakyat yang mengharukan. Ada satu keluarga miskin yang terdiri seorang janda dan dua anaknya yang masih kecil. Suaminya telah meninggal beberapa waktu lalu. Ia terpaksa membanting tulang bersusah payah untuk membesarkan anak-anaknya agar kelak bisa jadi orang berguna. Ia berhasil merawat anak anak itu sampai dewasa.  Untuk membalas budi ibunya anak-anak  berusaha mencari pekerjaan. Apa mau dikata, wilayah itu dilanda bencana kekeringan yang hebat, sehingga hampir tak ada yang bisa tumbuh disitu.  Kedua anak itu memutuskan untuk mencari kerja di seberang lautan .
Dengan sangat berat hati sang ibu terpaksa memberi ijin. Pada hari keberangkatannya sang ibu menyiapkan adonan tepung untuk membuat sedikit makanan sebagai bekal. Apa mau dikata, belum sempat tepung di buat adonan, terdengar tanda kapal yang akan ditumpangi anaknya akan segera berangkat. Tanpa menunggu lagi sang anak lalu berpamit dan bergegas menuju kapal. Sang ibu hanya bisa menangis menatap keberangkatan putranya. Air matanya menetes jatuh di tepung yang masih belum sempat dibuat adonan, dan membentuk bola-bola kecil seperti ronde. Dan saat itu kebetulan hari raya tangcik. Sejak itu untuk mengenang anak-anaknya ditempat jauh orang-orang membuat ronde pada waktu tangcik. Mereka mengharap anggota keluarga berkumpul dalam suasana rukun, dan mengenang anggota keluarga dan leluhur yang telah meninggal. Sebab itu pada hari dongzhi selalu diadakan sembahyang leluhur. Pada hari itu pula, kaisar memimpin sembahyang besar di kuil leluhur, dengan doa agar negerinya aman tentram, makmur dan rakyatnya sejahtera - Guo-tai min-an, Feng-tiao yu-shun, Shi-jie an-ning.
Sekian.
1 komentar

Tradisi Rondean I (makan ronde Setiap bulan Desember pada sekitar tanggal 21 atau 22) )

Makna Di Balik Tradisi Makan Onde di Bulan Desember

Tang Yuan / Onde / Ronde
Tang-yuan / Onde / Ronde:. Sbr foto :mochidesu.tumblr.com
Setiap bulan Desember pada sekitar tanggal 21 atau 22, masyarakat Tionghoa secara tradisi merayakan hari festival Dongzhi (冬至) / Tang-cheh (冬節) / Tōji (冬至) / Dongji (동지) / Đông Chí yang berarti Musim Dingin Yang Ekstrem. Dan pada perayaan tersebut mereka memakan makanan yang di masyarakat keturunan etnis Tionghoa di Indonesia sering disebut dengan Onde atau Ronde. Sebuah jenis makanan yang terbuat dari tepung ketan dibentuk bulat besar atau kecil yang disajikan di dalam kuah yang terbuat dari air dan gula. Makanan Onde atau Ronde tersebut di negeri asalnya, Tiongkok, bernama Tāngyuán (Kue Bola Ketan) atau Yuanxiao atau Tangtuan.
Mengapa Onde berbentuk bulat?
Secara tradisi, perayaan Dongzhi atau Tang-cheh merupakan sebuah perayaan untuk berkumpul bersama keluarga di musim dingin di Tiongkok. Kembali berkumpulnya anggota keluarga atau reuni dengan makan onde bersama dengan menggunakan mangkuk di meja bundar menjadi tradisi perayaan tersebut. Reuni dan kebersamaan inilah yang disimbolkan oleh bentuk bulat (nampak bundar saat dilihat dari jauh) dari makanan Tangyuan atau  Onde atau Ronde. Asal kata dari nama makanan Onde atau Ronde di Indonesia pun berasal dari kata “Ronde” dalam bahasa Belanda yang berarti bulat, sesuai dengan bentuk dari makanan tersebut.
Kebersamaan dan ikatan antar anggota keluarga tidak hanya disimbolkan dengan bentuk bulat dari Onde, tetapi juga dari sifatnya yang lengketnya karena terbuat dari tepung ketan. Diharapkan para anggota keluarga memiliki ikatan yang erat atau lengket satu sama dengan lain. Dan disajikannya Onde dalam kuah air gula memberikan simbol hubungan erat keluarga yang manis.
Makna lain dari bulatnya Onde juga dapat ditelusuri dari ajaran filsafat kuno Tiongkok mengenai Yin dan Yang, gelap dan terang. Setelah perayaan Dongzhi yang jatuh pada musim dingin disaat lebih banyak gelap dari pada terang dan energi negatif lebih banyak, maka musim akan berganti menjadi musim semi disaat terang lebih mendominasi dan energi positif lebih banyak. Filsafat ini disimbolkan oleh salah satu gambar pada Hexagram (Ba Gua / Pa Kwa / Pa Kua) dalam kitab I Ching yang disebut fù (復) yang berarti “Kembali”. Hal ini sesuai dengan bentuk bulat yang saat menelusurinya secara lurus dari satu titik maka akan kembali lagi ketitik semula.
Legenda
Menurut salah satu legenda, di Tiongkok pada masa Dinasti Han, hidup seorang gadis pelayan bernama Yuanxiao di Istana raja. Ia memiliki keahlian memasak bola-bola ketan (Tangyuan), dan hanya masakan inilah yang merupakan masakan terbaik yang dapat ia masak. Karena peraturan istana yang ketat, ia tidak bisa keluar istana untuk kembali menemui kedua orang tuanya. Karena ia sangat merindukan kedua orang tuanya, ia menangis sepanjang waktu, siang dan malam, bahkan ia berusaha untuk melakukan bunuh diri karena kerinduannya itu.
Kisah kehidupan Yuanxiao yang malang tersebut terdengar oleh seorang menteri kaisar yang menemuinya dan berjanji untuk menolongnya keluar istana. Menteri tersebut melaporkan peristiwa ini kepada sang kaisar. Tapi, peraturan istana adalah peraturan yang tidak bisa dilanggar oleh siapapun kecuali ia memiliki jasa besar yang pantas menerima hadiah dari sang kaisar. Sang menteri pun mencari cara agar dapat mengeluarkan Yuanxiao dari istana.
Saat itu sekitar sebulan menjelang tahun baru penanggalan Tionghoa (Imlek). Dan setiap bulan pertama tanggal 15 penanggalan Imlek (Cap Go Meh), sebuah festival besar dirayakan untuk berterima kasih kepada Kaisar Langit dengan memberikan persembahan makanan. Sebuah gagasan tebersit dalam kepala sang menteri. Ia mengusulkan kepada sang kaisar agar memerintahkan Yuanxiao untuk membuat bola-bola ketan (Tangyuan) yang lezat sebanyak mungkin untuk disajikan sebagai persembahan kepada langit dan dimakan oleh kalangan istana dalam festival tersebut sebagai syarat agar ia bisa keluar dari istana. Sang kaisar pun menyetujuinya.
Kemudian sang menteri menemui dan memberitahu Yuanxiao mengenai tugas yang diberikan oleh kaisar. Dengan senang hati Yuanxiao menerima tugas tersebut dan memulai pekerjaannya. Siang dan malam, seorang diri ia memulung adonan tepung ketan menjadi Onde atau Tangyuan, satu per satu.
Tiba pada waktunya menjelang festival tanggal 15, Yuanxiao pun akhirnya menyelesaikan tugasnya membuat Tangyuan sebanyak mungkin. Dan tiba saatnya untuk dipersembahkan kepada kaisar dan di altar persembahyangan. Kaisar mencicipi Onde atau Tangyuan yang dibuat oleh Yuanxiao, dan ia merasa senang dan puas akan masakan tersebut.
Dianggap berjasa karena menunaikan tugas dari kaisar dengan baik, Yuanxiao akhirnya mendapatkan izin untuk keluar istana untuk menemui kedua orang tuanya. Dan sejak saat itu kaisar memberi nama masakan dari tepung ketan (Onde / Tangyuan) tersebut dengan nama Yuanxiao dan festival tanggal 15 bulan pertama Imlek (Cap Go Meh) disebut juga dengan Festival Yuanxiao.
Sejarah
Tidak diketahui secara pasti awal dari munculnya makanan Onde / Tangyuan. Menurut catatan sejarah, Tangyuan sudah menjadi makanan ringan yang populer di Tiongkok sejak Dinasti Sung. Nama Tangyuan pun memiliki nama-nama lain. Pada era Yongle dari Dinasti Ming, nama resmi dari makanan ini adalah Yuanxiao (berasal dari Festival Yuanxiao), yang digunakan di Tiongkok utara. Nama ini secara harfiah berarti “malam pertama”, merupakan malam bulan purnama pertama setelah Tahun Baru Imlek yang selalu jatuh pada bulan baru.
Namun di Tiongkok selatan makanan ini disebut dengan mana tangyuan atau tangtuan. Menurut legenda, pada masa pemerintahan Yuan Shikai pada tahun 1912-1916, Yuan Shikai tidak menyukai nama yuanxiao (元宵) karena terdengar identik dengan “menghilangkan Yuan” (袁 消) , oleh karenanya ia memberikan perintah untuk mengubah namanya menjadi Tangyuan. Nama baru ini secara harfiah berarti “bola bundar dalam sup”. Tangtuan sama berarti “kue bola dalam sup”. Dalam dua dialek Tionghoa utama di perdalaman Tiongkok selatan, yaitu Hakka dan Kanton, “Tangyuan” diucapkan seperti tong rhen (Hakka) dan tong jyun (Kanton) . Istilah “tangtuan” (Hakka: tong ton, Kanton: tong tyun) sendiri tidaklah umum digunakan dalam dialek ini sebagaimana Tangyuan. (wikipedia.org)
Jumat, 09 Desember 2016 1 komentar

Tokoh Legenda Zhong Kui, Sang Dewa Penguasa Neraka Pemburu Setan

[​IMG]
Zhong Kui
adalah Sang Dewa Neraka Pemburu Setan yang menurut legenda dari tiongkok (China) dipercaya sebagai penguasa neraka dan tugasnya adalah memburu para setan-setan.

Zhong Kui (钟馗), menurut masyarakat tiongkok adalah seorang tokoh penting yang saat dia menjelma menjadi manusia dan pernah hidup di dalam zaman dinasti Tang Xuangzong (唐玄宗) pada tahun 712 sampai 756 Masehi.

Legenda Zhoung Kui masih kerap diyakinin serta dipercaya oleh masyarakat China sampai zaman sekarang. Selain memburu setan dan roh jahat, beliau juga turut membasmi arwah penasaran. Sering kali ia disebut sebagai Dewa pembasmi kejahatan dari alam bawah neraka. Selama eksistensinya di bumi Dewa Zhoung Kui diceritakan tinggal di lembah Gunung ZhongNan, Provinsi Yongzhou.



Menurut legenda, Zhoung Kui memiliki penampilan fisik yang jelek dan buruk rupa. Ia dilahirkan dengan kepala seperti macan panther, wajah hitam gosong, kumis keriting melengkung, dan mata seperti cincin bacan.

Walaupun begitu, dia adalah sosok pemuda yang berbakat dan terpelajar. Zhoung Kui tidak takut pada kejahatan dan sesuatu ancaman yang berbau sadis. Dia adalah orang yang menjunjung tinggi keadilan, memiliki talenta yang hebat serta berhati baik. Saat awal pemerintahan Kaisar Xuanzong dari Tang, beliau turut ikut ujian beasiswa kenegaraan di ibukota.

Namun sayang sekali karena pada saat penilaian ujian berlangsung, seorang pejabat negara bernama Lu Qi hanya menilai Zhoung Kui berdasarkan penampilannya saja. Bahkan dia berusaha menjatuhkan Zhoung Kui di depan Kaisar. Padahal pemimpin dari juri istana sangat memuji kepintaran Zhoung Kui karena semua jawaban esai yang ditulisnya memiliki isi yang bagus dan berkualitas tinggi.



Meskipun begitu Zhoung Kui berhasil memperoleh gelar 'Zhangyuan' yang merupakan penghargaan tertinggi dalam ujian kenegaraan pegawai negeri sipil berkat keterampilannya. Sayangnya, tak lama kemudian gelar tersebut diambil oleh Kaisar sendiri dengan alasan lagi-lagi karena wajahnya yang buruk rupa. Akibatnya, Zhoung Kui merasa sangat kecewa dan dia mengakhiri hidupnya dengan cara membenturkan kepalanya ke dinding istana sampai remuk.

Dalam kepercayaan Tiongkok Kuno, kematian Zhoung Kui diklasifikasikan sebagai 'Ying Gui' (setan atau roh penasaran) karena bunuh diri sosok Ying Gui dikatakan tidak akan pernah bisa reinkarnasi kembali ke dunia dan tetap dalam siklus berulang berupa penderitaan dan siksaan.

Di akhirat, Kaisar Langit bisa melihat potensi dalam diri Zhoung Kui karena memang beliau sangat cerdas bahkan sampai bisa meraih penghargaan tertinggi dalam ujian kenegaraan, tapi karena beliau melakukan bunuh diri yang merupakan dosa besar maka ia dikutuk masuk ke dalam neraka.

Namun Zhoung Kui diberikan gelar sebagai Raja Neraka atau dewa penguasa neraka, jabatan tertinggi di akhirat oleh Sang Kaisar Langit (Raja Segala Dewa). Tugas utamanya adalah menangkap roh-roh gentayangan serta setan jahat. Ia juga mengepalai 85 ribu pasukan hantu yang setia dan siap kapan saja ia perintah.

[​IMG]

Sosok Zhoung Kui sangat populer di masyarakat selama masa pemerintahan Kaisar Xuangzong dari Dinasti Tang. Ketika sang Kaisar Xuangzong sakit keras, beliau bermimpi melihat 2 hantu yaitu hantu kecil yang membuat kacau seluruh istana dan hantu besar yang menangkap hantu kecil dan menelannya. Hantu besar tersebut bernama Zhoung Kui.

Saat Kaisar Xuangzong bangun dia merasa sehat kembali. Lalu dia memerintahkan orang untuk menggambar lukisan Zhoung Kui berdasarkan gambar mimpinya dan menggantung lukisan tersebut. Lukisan ini diyakini menjadi suatu benda sakral yang mampu mengusir segala energi yang jahat.

Pada zaman dulu, orang akan memasang lukisan Zhoung Kui hanya pada malam tahun baru saja, namun sekarang mereka memasang setiap Festival Perahu Naga yang jatuh pada tanggal 5 bulan Lunar 5 dirumah mereka atau memberikannya sebagai hadiah cindera mata.

Namun dalam catatan sejarah Dinasti Tang ternyata tidak ada orang bernama Zhoung Kui, yang ada hanyalah akar tanaman yang bernama Zhoung Kui. Akar tanaman ajaib ini diyakini mampu menangkal energi jahat atau sebagai tanaman penolak bala seperti kiriman santet, tulah penyakit dan wabah kematian. Dan mungkin ini ada hubungannya dengan sosok Dewa Zhoung Kui, dimana kesaktian roh nya menjelma pada setiap akar tanaman Zhoung Kui.
sumber : http://forum.viva.co.id/indeks/threads/tokoh-legenda-zhong-kui-sang-dewa-penguasa-neraka-pemburu-setan.2283241/

Analitic

Suasana angin Topan di surabaya november 2017

Suhu Malaysia yang gagal Panggil Shen

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;