Kamis, 29 Agustus 2013 0 komentar

Sejarah Singkat Buddhisme Theravada

Beberapa minggu setelah Sang Buddha wafat (483 sebelum Masehi) seorang bhikkhu tua yang tidak disiplin bernama Subhaddha berkata: "Janganlah bersedih kawan-kawan, janganlah meratap, sekarang kita terbebas dari Pertapa Agung yang tidak lagi akan memberitahu kita apa yang sesuai untuk dilakukan dan apa yang tidak, yang membuat hidup kita menderita; tetapi sekarang kita dapat berbuat apa pun yang kita senangi dan tidak berbuat apa yang tidak kita senangi"(Vinaya Pitaka II, 284). Mahâ Kassapa Thera, setelah mendengar kata-kata itu, memutuskan untuk mengadakan Pasamuan Agung (konsili) di Râjagaha.

Dengan batuan Raja Ajâtasattu dari Magadha, lima ratus orang arahat berkumpul di gua Sattapanni dekat Râjagaha untuk mengumpulkan ajaran Sang Buddha yang telah dibabarkan selama ini dan menyusunnya secara sistimatis. Yang Ariya Ananda, siswa terdekat Sang Buddha, mendapat kehormatan untuk mengulang kembali kotbah-kotbah Sang Buddha dan Yang Ariya Upâli mengulang Vinaya (peraturan-peraturan para bhikkhu). Dalam Pasamuan Agung Pertama inilah dikumpulkan seluruh ajaran yang kini dikenal dengan Kitab Suci Tipitaka (Pâli). Mereka yang mengikuti ajaran Sang Buddha seperti tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka (Pâli) disebut Pemelihara Kemurnian Ajaran sebagaimana sabda Sang Buddha yang terakhir: "Jadikanlah Dhamma dan Vinaya sebagai pelita dan pelindung bagi dirimu".

Pada mulanya Tipitaka ini diwariskan secara lisan dari satu generasi ke genarasi berikutnya. Satu abad kemudian terdapat sekelompok bhikkhu yang berniat hendak mengubah Vinaya. Menghadapi usaha ini, para bhikkhu yang ingin mempertahankan Dhamma-Vinaya sebagaimana diwariskan oleh Sang Buddha menyelenggarakan Pasamuan Agugng Kedua dengan bantuan Raja Kâlâsoka di Vesali, di mana Kitab Suci Tipitaka (Pâli) diucapkan ulang oleh tujuh ratus orang arahat. Kelompok bhikkhu yang memegang teguh kemurnian Dhamma-Vinaya ini menamakan diri Sthaviravâda, yang kelak disebut Theravâda; sedangkan kelompok bhikkhu yang ingin mengubah Vinaya menamakan diri Mahâsanghika, yang kelak berkembang menjadi mazhab Mahâyâna. Jadi seabad setelah Sang Buddha Gotama wafat, agama Buddha terbagilah menjadi dua mazab besar yakni Theravâda dan Mahâyâna.

Pasamuan Agung Ketiga diadakan di Pattaliputta (Patna) pada abad ketiga sesuah Sang Buddha wafat (249 sebelum masehi) pada waktu pemerintahan Kaisar Asoka Wardhana. Kaisar memeluk agama Buddha dan dengan pengaruhnya banyak membantu penyebaran Dhamma ke seluruh wilayah kerajaan. Pada masa itu, ribuan bhikkhu gadungan (penyeludup ajaran gelap) masuk ke dalam Sangha dengan maksud menyebarkan ajara-ajaran mereka sendiri untuk menyesatkan umat. Untuk mengakhiri keadaan ini, Kaisar menyelenggarakan Pasamuan Agung dan membersihkan tubuh Sangha dari penyelundup-penyelundup serta merencanakan pengiriman para Duta Dhamma ke negeri-negeri lain.

Dalam Pasamuan Agung Ketiga ini seratus orang arahat mengulang kembali pembacaan Kitab Suci Tipitaka (Pâli) selama sembilan bulan, Dari titik tolak Pasamuan inilah agama Buddha dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia dan terhindar lenyap dari bumi asalnya.

Pasamuan Agung Keempat diadakan di Aluvihâra (Srilanka) di bawah lindungan Raja Vatta Gamanabhaya pada permulaan abad keenam sesudah Sang Buddha wafat (83 sebelum Masehi). Pada kesempatan itu Kitab Suci Tipitaka (Pâli) dituliskan untuk pertama kalinya. Tujuan penulisan ini ialah agar semua orang mengetahui kemurnian Dhamma Vinaya.

Selanjutnya Pasamuan Agung Kelima diadakan di Mandalay (Birma) pada permulaan abad kedua puluh lima sesudah Sang Buddha wafat (1871) dengan bantuan Raja Mindon. Kejadian penting waktu itu adalah Kitab Suci Tipitaka (Pâli) diprasastikan pada 727 buah lempeng marmer (batu pualam) dan diletakan di bukit Mandalay.

Pasamuan Agung Keenam diadakan di Ranggon pada Hari Visâkha Pùja tahun Buddhis 2498 dan berakhir pada tahun Buddhis 2500 (tahun Masehi 1956). Mulai saat itu penterjemahan Kitab Suci Tipitaka (Pâli) mulai digiatkan ke dalam beberapa bahasa Barat.

Sebagai tambahan pengetahuan dapat dikemukakan bahwa pada abad pertama sesudah Masehi, Raja Kaniska dari Afganistan mengadakan Pasamuan Agung yang tidak dihadiri oleh kelompok Theravâda. Bertitik tolak pada Pasamuan ini, agama Buddha mazab Theravâda berkembang di India dan kemudiaan menyebar ke nergeri Tibet dan Tiongkok. Pada Pasamuan ini disepakati ada kitab-kitab suci Buddhis dalam bahasa Sansekerta dengan banyak tambahan sutra-sutra baru yang tidak terdapat dalam Kitab Suci Tipitaka (Pâli).

Dengan demikian agama Buddha mazab Theravâda dalam pertumbuhannya sejak pertama samapi sekarang, termasuk di Indonesia, tetap mendasarkan penghayatan dan pembabaran Dhamm Vinaya pada kemurniah Kitab Suci Tipitaka (Pâli) sehingga dengan demikian tidak ada perbedaan dalam hal ajaran antara Theravâda di Indonesia dengan Theravâda di Thailand, Srilanka, Birma, maupun di negara-negara lain.

Sampai abad ktiga setelah Sang Buddha wafat mazab Sthaviravâda terpecah menjadi delapan belas sub-mazab, antara lain: Sarvâstivâda, Kasyapiya, Mahisâsaka, Theravâda dan sebagainya.

Pada dewasa ini tujuh belas sub-mazab Sthaviravâda di atas telah lenyap, dan yang masih berkembang sampai sekarang hanyalah mazab Theravâda (ajaran para sesepuh). Dengan demikian nama Sthaviravâda tidak ada lagi. Mazab Theravâda inilah yang kemudian dianut oleh negara-negara Srilanka, Birma, Thailand, dan kemudian berkembang di Indonesia dan negara-negara lain.


Kronologi Singkat

Tanggal sesungguhnya dari kelahiran Sang Buddha tidak diketahui dengan pasti. Menurut tradisi Buddhist, Sang Buddha lahir pada tahun 624 BCE ( Before Common Era), dan juga terdapat beberapa perkiraan lainnya terhadap tahun kelahiran Sang Buddha. Tahun 560 BCE adalah tahun yang diterima secara umum sebagai tahun kelahiran Sang Buddha. Kejadian pada garis waktu sebelum tahun 250 sebelum masehi ditunjukkan dengan dua tahun masehi yang berbeda.
Pertama adalah tahun kelahiran Sang Buddha yang ditulis berdasarkan pada sumber “tradisi” yaitu 624 BCE, kemudian diikuti dengan tahun kelahiran Sang Buddha yang berdasarkan pada tahun “sejarah” 560 sebelum masehi. Setelah tahun 250 sebelum masehi, tahun “sejarah” dapat dihilangkan karena waktu dari peristiwa berikutnya diketahui dengan lebih tepat. Cara perhitungan tahun masehi yang berhubungan dengan kejadian dari penanggalan Buddhis tradisional dilakukan dengan melakukan pengurangan dari tahun Buddhis (BE – Buddhist Era) sebanyak 544 tahun
BE__\tBE Tahun Masehi (CE – Common Era)
-80\t-624/-560Bodhisatta atau calon Buddha, lahir di Lumbini (Nepal saat ini) sebagai Siddhata, pangeran dari suku Sakya.
-51\t-595/-531Boddhisatta meninggalkan kehidupan keduniawian
-45\t-589/-525Selama meditasi di bawah pohon Boddhi di hutan Gaya (Sekarang Bodhgaya, India), saat bulan purnama Siddhi di Bulan Mei, Sang Boddhisata mencapai Kebuddhaan. Selama bulan purnama di bulan Juli, Sang Buddha membabarkan ajarannya yang pertama di daerah dekat Varanasi, menunjukkan kepada dunia Empat Kasunyataan Mulia dan memulai pembabaran Dhamma dan Vinaya selama 45 tahun.
1\t-544/-480 Sang Buddha Parinibbana di Kusinara (Sekarang Kusinagar, India) pada usia 80 tahun Selama masa musim hujan, setelah Sang Buddha parinibbana, diadakan Persamuan Agung pertama di Rajagaha, India yang dihadiri oleh 500 orang bikkhu yang telah mencapai tingkat kesucian arahat, yang dipimpin oleh Ven Bikkhu Mahakassapa Thera. Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka.Pada Persamuan Agung ini, diulang kembali peraturan Vinaya oleh Ven Bikkhu Upali Thera yang kemudian diterima sebagai Vinaya Pitaka, dan pengulangan Dhamma oleh Ven Bikkhu Ananda Thera yang kemudian menjadi Sutta Pitaka.
100\t-444/-380100 tahun setelah sang Buddha parinibbana, diselenggarakan Persamuhan Agung kedua di Vesali. Pada Persamuhan Agung ini dibahas mengenai perbedaan yang terjadi saat itu mengenai aturan Vinaya. Keretakan sangha yang pertama timbul antara sekte Mahasanghika dan Sthaviravadins yang tradisional. Permasalahannya adalah Mahasanghika tidak mau menerima sutta dan vinaya sebagai sumber terakhir dari ajaran sang Buddha. Mahasanghika kemudian berkembang menjadi Mahayana yang mendominasi agama Buddha di utara Asia (Cina, Tibet, Jepang dan Korea).
294\t-250Persamuhan Agung ketiga yang didukung oleh Raja Asoka di Pataliputra (India). Perselisihan perbedaan doktrin yang kemudian menimbulkan keretakan, melahirkan sekte Sarvastivadin dan Vibhajjavadin. Abhidhamma Pitaka diulang kembali pada persamuhan ini, dengan tambahan Khuddaka Nikaya. Kitab suci Tipitaka Pali telah lengkap secara keseluruhan.
297\t-247Raja Asoka mengirim putranya, Ven Bikkhu Mahinda Thera ke Sri Lanka dengan misi menyebarkan agama Buddha di Sri Lanka. Kemudian Raja Sri Lanka Devanampiya Tissa memeluk agama Buddha.
304\t-240Ven Bikkhu Mahinda Thera mendirikan Mahavihara di Anuradhapura, Sri Lanka. Komunitas sekte Vibhajjavadin yang berdiam di Sri Lanka kemudian berkembang menjadi Theravadin . Kemudian Saudara perempuan Bikkhu Mahinda, Bikkhuni Sanghamitta, tiba di Sri Lanka dengan membawa potongan pohon Boddhi dan mendirikan Sangha Bikkhuni di Sri Lanka.
444\t-100Peristiwa kelaparan dan perpecahan yang terjadi di Srilanka menyebabkan kitab suci Tipitaka ditulis untuk menjaga kelangsungan agama Buddha. Raja Vattagamani mengadakan Persamuhan Agung keempat dengan 500 bikkhu dan ahli tulis dari Mahavihara untuk menulis Kitab Tipitaka Pali untuk pertama kalinya pada daun palem.
544\t1Dimulainya tahun Masehi (Common Era). Tahun 1 AD atau tahun 1 masehi.
644\t100Agama Buddha Theravada muncul pertama kalinya di Burma dan bagian tengah Thailand.
744\t200Universitas Buddhis Nalanda berkembang di India , merupakan pusat pelajaran agama Buddha kurang lebih selama 1000 tahun.
969\t425Ven Bikkhu Buddhaghosa Thera (Sri Lanka) membuat komentar dari kitab Tipitaka Pali (Atthakatha).
1594\t1050Komunitas Bikkhu dan Bikkhuni di Anuradhapura hancur karena invasi dari India bagian selatan.
1604\t1060Berkembangnya Theravada di Pagan, Burma.
1614\t1070Bikkhu-bikkhu dari Pagan tiba di Polonnaruwa, Sri Lanka untuk mengembalikan kembali garis pentahbisan bikkhu Theravada di Sri lanka.
1744\t1200Polonnaruwa hancur oleh invasi asing.
1780\t1236Bikkhu-bikkhu dari Kancipuram, India tiba di Sri Lanka untuk membangkitkan kembali sekte Theravada.
1831\t1287Pagan dihancurkan oleh invasi Mongol. Jaman kemunduran dimulai.
1900\t1300sTradisi hutan dari Sri Lanka berkembang di Burma dan Thailand. Theravada juga menyebar di Laos.
2000\t1400sTradisi hutan lainnya dari Sri Lanka juga berkembang di Ayudhaya, ibu kota Thailand saat itu. Tradisi yang baru ini juga berkembang di Burma.
2300\t1700sBurma menyerang Ayudhaya. Raja Thailand Rama I membantu pemulihan Theravada dengan membawa duplikat kitab Tipitaka Pali dari Sri Lanka.
2400\t1800sKeadaan Sangha Sri Lanka memburuk dibawah tekanan pemerintahan tiga negara kolonial (Portugis, Belanda dan Inggris). Raja Rama IV dan Rama V dari Thailand mengadakan perubahan pada Sangha Thailand, pada kepemimpinan formasi sekte Dhammayut dan Mahanikaya.
2406\t1862Terjemahan pertama Dhammapada ke dalam bahasa barat (Jerman).
2412\t1868Persamuhan Agung kelima diselenggarakan di Burma. Kitab Tipitaka Pali ditulis pada 729 batu pualam.
2423\t1879Sir Edwin Arnold mempublikasikan syair “Light of Asia”, yang kemudian menjadi buku yang paling laris terjual di Inggris dan Amerika, menyebabkan tertariknya orang-orang barat akan agama Buddha.
2424\t1880Helena Blavatsky dan Henry Steel Olcott, pendiri dari Theosophical Society, tiba di Sri Lanka dari USA, kemudian memeluk agama Buddha dan memulai kampanye pengembangan agama Buddha dengan mendorong pertumbuhan dan perkembangan sekolah-sekolah Buddhist di Sri Lanka.
2425\t1881Pali Text Society didirikan di Inggris oleh T.W.Rhys Davids. Selama lebih dari 100 tahun , banyak bagian dari Tipitaka dipublikasikan dalam tulisan romawi dengan terjemahan ke bahasa Inggris.
2434\t1890sVihara Theravada pertama didirikan di Australia oleh para pekerja mutiara di pulau Thursday yang berasal dari Sri Lanka.
2443\t1899Bikkhu Theravada barat pertama (Gordon Douglas) ditahbiskan di Burma

2444\t1900Ven. Bikkhu Ajaan Mun dan Ven Bikkhu Ajaan Sao membangkitkan kembali meditasi dengan tradisi hutan di Thailand
2469\t1925″The Little Circle of The Dhamma” didirikan oleh Max Dunn, Max Taylor dan David Maurice di Melbourne, merupakan kelompok Theravada pertama yang didirikan oleh bangsa barat.
2484\t1940Vihara Theravada pertama di Vietnam, vihara Buu Quang (Ratana Ramsyarama) didirikan di Saigon. Kepala viharanya adalah Ven Bikkhu Ho Tong (Vansarakkhita) yang ditahbiskan di Kamboja oleh Ven Bikkhu Chuon Nath, Sangharaja Komboja.
2491\t1947Ven Bikkhu Mahasi Sayadaw menjadi kepala pengajar pada pusat meditasi yang disponsori oleh pemerintah Burma di Ranggon.
2494\t1950World Fellowship of Buddhist (WFB) atau Persahabatan Buddhis Sedunia didirikan di Colombo, Sri Lanka oleh 500 utusan dari 26 negara. Kemudian oleh semua utusan, disetujui penggunaan Bendera Buddhis dan waktu untuk merayakan kelahiran Sang Buddha (saat bulan penuh di bulan Mei) yang sama .
2495\t2495 1951 Bikkhuni Dhammadinna (berkebangsaan Amerika) yang ditahbiskan di Sri Lanka, berkunjung ke Australia dan memimpin perayaan Waisak pertama di negeri tersebut.
2498\tPemerintah Burma mensponsori Persamuhan Agung keenam di Rangoon.
2500\t1956 Tahun Buddha Jayanti, memperingati 2500 tahun agama Buddha.
2502\t1958Ven. Bikkhu Nyanaponika Thera mendirikan Buddhist Publication Society, Perhimpunan Publikasi Buddhis di Sri Lanka untuk mempublikasikan buku-buku Theravada berbahasa Inggris. Pergerakan Sarvodaya Shramadana didirikan di Sri Lanka untuk membawa agama Buddha dalam misi penanggulangan berbagai masalah sosial. Dua orang kebangsaan Jerman ditahbiskan di kedutaan besar Kerajaan Thailand di London. Mereka merupakan orang yang pertama kali ditahbiskan secara Theravada di negara barat.

2509\t1965 Vihara Buddhis didirikan di Washington D.C, merupakan vihara Theravada pertama di Amerika Serikat.
2514\t1970Timbul banyak perhimpunan ikatan persaudaraan Buddhis di Amerika dan Eropa, yang disebabkan oleh penolakan perang di Vietnam, komboja, dan Laos.
2519\t1975Ven Bikkhu Ajaan Chah mendirikan Wat Pah Nanachat, vihara hutan di Thailand yang khusus digunakan untuk latihan bagi bikkhu berkebangsaan barat. Insight Meditation Society (IMS), atau Perhimpunan Meditasi Pandangan Terang, didirikan di Massachusetts, Amerika oleh tiga guru (Joseph Goldstein, Sharon Salzberg, Jack Kornfield) yang belajar dibawah bimbingan berbagai guru Buddha dan Hindu di Asia. Vihara Buddharangsee didirikan di Sidney, Australia oleh Bikkhu Khantipalo (Inggris) dan tiga bikkhu Thailand.
2521\t1977Ven Bikkhu Ajaan Chah mengadakan perjalanan ke Inggris bersama-sama dengan Ven Bikkhu Ajaan Sumedho (berkebangsaan Amerika yang berlatih di Thailand) untuk memimpin perhimpunan bikkhu di Vihara Hamsptead, yang kemudian pindah ke Sussex, Inggris berubah menjadi Vihara Pah Cittaviveka (vihara hutan Chithurst).
2522\t1978Vihara Phap Van, vihara Theravada dari vietnam yang pertama kali didirikan di Pomona, California oleh Ven Bikkhu Tinh Duc.
2524\t1980Pusat-pusat meditasi menjadi terkenal di Amerika Serikat dan Eropa.
2526\t1982Di West Virginia, Amerika Serikat didirikan vihara Theravada dengan tradisi hutan yang pertama.
2528\t1984Vihara Amaravati didirikan di Inggris oleh Ven Bikkhu Ajaan Sumedho. Vihara Bodhinyana didirikan oleh Ven Bikkhu Jagaro (Australia) dan Ven Bikkhu Brahmavamso, yang semuanya merupakan murid-murid dari Ajaan Chah.
2534\t1990Vihara Hutan Metta, yang merupakan pusat meditasi dengan tradisi hutan dari Thailand, didirikan di selatan California, Amerika Serikat, dengan kepala vihara Ajaan Suwat.
2541\t1997Ven Bikkhu Aggasami (Khanh Hy) mendirikan vihara Theravada Vietnam yang pertama kalinya di Montreal, Kanada, yaitu Pusat Meditasi Pannarama atau Bat Nha Thien Vien.
2542\t1998Vihara Dhammasara didirikan di dekat Perth, Australia oleh Buddhist Society of Western Australia.
Tahun Masehi atau Common Era (CE) sama dengan tata nama BC (‘Before Christ’) dan AD (‘Anno Domini’). Sebagai contoh, 100 BCE (Before Common Era) atau -100 CE sama dengan 100 BC; 100 CE sama dengan 100 AD. Pada pola CE, tahun 1 BCE diikuti dengan tahun 1 CE. Tidak ada tahun Nol.


Riwayat Singkat Sangha Theravada Indonesia

Awal tahun 1976 terdapat lebih 5 (lima) bhikkhu warga negara Indonesia yang menjalani hidup kebhikkhuan di Indonesia sesuai Kitab Suci Tipitaka Pali, Pandangan Keagamaan Buddha yang berpedoman pada Kitab Suci Tipitaka Pali lazim disebut Theravada (Ajaran Sesepuh).

Bhikkhu adalah seorang pria yang melepaskan kehidupan berumah-tangga untuk berusaha sepenuhnya mencapai pencerahan batin serta mengabdikan diri demi ketenteraman dan kebahagiaan masyarakat.

Sesuai dengan Vinaya (Peraturan Kebhikkhuan) seperti tersebut dalam Kitab Suci Tipitaka Pali, para bhikkhu berhimpun dalam pasamuan yang disebut Sangha, yang paling sedikit harus terdiri dari 5 (lima) bhikkhu.

Fungsi kebhikkhuan seperti pelantikan bhikkhu baru, penyelesaian kasus pelanggaran vinaya, dan kewajiban-kewajiban para bhikkhu lainnya harus dilakukan dalam forum Sangha. Sangha memberikan peluang belajar (pariyatti), berlatih (patipatti), serta memperoleh hasil pelaksanaan (pativedha) Dhamma bagi mereka yang sanggup menjalani kehidupan sebagai bhikkhu. Di samping fungsinya bagi para bhikkhu tersebut di atas; Sangha juga merupakan penjaga keyakinan (saddha), pemelihara moral (sila), tumpuan bakti (caga), dan penumbuh kebijaksanaan (pañña) umat Buddha.

Berdasarkan pertimbangan di atas dan dengan dorongan keyakinan kepada Tiratana, maka dibentuklah SANGHA THERAVADA INDONESIA di Vihara Maha Dhammaloka (sekarang Vihara Tanah Putih), Semarang; pada tanggal 23 Oktober 1976. Adapun para bhikkhu yang mencetuskan gagasan dan membentuk Sangha Theravada Indonesia adalah 5 (lima) bhikkhu Indonesia:

1. Bhikkhu Aggabalo
2. Bhikkhu Khemasarano
3. Bhikkhu Sudhammo
4. Bhikkhu Khemiyo
5. Bhikkhu Ñanavuttho

Bhikkhu Aggabalo diangkat menjadi Sekretaris jenderal yang pertama dalam Sangha Theravada Indonesia.

Sangha Theravada Indonesia dibentuk oleh para bhikkhu yang bukan anggota dari Sangha yang sudah ada di Indonesia pada waktu itu.

Kepemimpinan Sangha Theravada Indonesia ditangani oleh Dewan Pimpinan Sangha (Karaka Sangha Sabha) Sangha Theravada Indonesia.

 

Pali Tipitaka

Kanon Pali atau Tipitaka berarti tiga keranjang penyimpanan Kanon (Kitab Suci). Selama beberapa abad sabda-sabda Sang Buddha disampaikan dengan turun temurun dengan lisan saja, yaitu dengan jalan menghafalkannya di luar kepala. Ajaran Sang Buddha dibukukan beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana.

Segera setelah Buddha Gotama mencapai Parinibbana, diadakanlah Sidang Agung (Sangha-samaya) pertama di Gua Satapana, di kota Rajagaha (343 S.M.). Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Kassapa Thera. Sidang ini dihadiri oleh 500 orang bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat Arahat. Sidang ini bertujuan menghimpun ajaran-ajaran Buddha Gotama yang diberikan di tempat-tempat yang berlainan, pada waktu-waktu yang berbeda dan kepada orang-orang yang berlainan pula selama 45 tahun. Dalam sidang tersebut Y.A. Upali mengulang tata tertib bagi para bhikkhu dan bhikkhuni (Vinaya) dan Y.A. Ananda mengulang khotbah-khotbah (Sutta) Buddha Gotama. Ajaran-ajaran ini dihafalkan di luar kepala dan diajarkan lagi kepada orang lain dari mulut ke mulut.

Sidang Agung kedua diselenggarakan di kota Vesali lebih kurang 100 tahun kemudian (kira-kira 43 S.M.). Sidang ini diadakan untuk membicarakan tuntutan segolongan bhikkhu (golongan Mahasangika), yang menghendaki agar beberapa paraturan tertentu dalam Vinaya, yang dianggap terlalu keras, diubah atau diperlunak. Dalam sidang ini golongan Mahasangika memperoleh kekalahan dan sidang memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya yang sudah ada. Pimpinan sidang ini adalah Y.A. Revata.

Lebih kurang 230 tahun setelah Sidang Agung pertama, diselenggarakan Sidang Agung ketiga di ibu kota kerajaan Asoka, yaitu Pataliputta. Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta dan bertujuan menertibkan beberapa perbedaan pendapat yang menyebabkan perpecahan di dalam Sangha. Di samping itu, sidang memeriksa kembali dan menyempurnakan Kanon (Kitab Suci) Pali. Dalam Sidang Agung ketiga ini, ajaran Abhidhamma diulang secara terperinci, sehingga dengan demikian lengkaplah sudah Kanon Pali yang terdiri atas tiga kelompok besar, meskipun masih belum dituliskan dalam kitab-kitab dan masih dihafal di luar kepala. Golongan para bhikkhu yang terkena penertiban meninggalkan golongan Sthaviravada (pendahulu dari golongan yang sekarang dikenal sebagai Theravada) dan mengungsi ke arah Utara.

Sidang Agung keempat diselenggarakan di Srilanka pada 400 tahun setelah Sang Buddha Gotama mangkat. Sidang ini berhasil secara resmi menulis ajaran-ajaran Buddha Gotama di daun-daun lontar yang kemudian dijadikan buku Tipitaka dalam bahasa Pali. Kitab Suci Tipitaka terdiri atas :
A. Vinaya Pitaka
B. Sutta Pitaka
C. Abhidhamma Pitaka



Kanon Pali atau Tipitaka berarti tiga keranjang penyimpanan Kanon (Kitab Suci). Selama beberapa abad sabda-sabda Sang Buddha disampaikan dengan turun temurun dengan lisan saja, yaitu dengan jalan menghafalkannya di luar kepala. Ajaran Sang Buddha dibukukan beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana.

Segera setelah Buddha Gotama mencapai Parinibbana, diadakanlah Sidang Agung (Sangha-samaya) pertama di Gua Satapana, di kota Rajagaha (343 S.M.). Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Kassapa Thera. Sidang ini dihadiri oleh 500 orang bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat Arahat. Sidang ini bertujuan menghimpun ajaran-ajaran Buddha Gotama yang diberikan di tempat-tempat yang berlainan, pada waktu-waktu yang berbeda dan kepada orang-orang yang berlainan pula selama 45 tahun. Dalam sidang tersebut Y.A. Upali mengulang tata tertib bagi para bhikkhu dan bhikkhuni (Vinaya) dan Y.A. Ananda mengulang khotbah-khotbah (Sutta) Buddha Gotama. Ajaran-ajaran ini dihafalkan di luar kepala dan diajarkan lagi kepada orang lain dari mulut ke mulut.

Sidang Agung kedua diselenggarakan di kota Vesali lebih kurang 100 tahun kemudian (kira-kira 43 S.M.). Sidang ini diadakan untuk membicarakan tuntutan segolongan bhikkhu (golongan Mahasangika), yang menghendaki agar beberapa paraturan tertentu dalam Vinaya, yang dianggap terlalu keras, diubah atau diperlunak. Dalam sidang ini golongan Mahasangika memperoleh kekalahan dan sidang memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya yang sudah ada. Pimpinan sidang ini adalah Y.A. Revata.

Lebih kurang 230 tahun setelah Sidang Agung pertama, diselenggarakan Sidang Agung ketiga di ibu kota kerajaan Asoka, yaitu Pataliputta. Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta dan bertujuan menertibkan beberapa perbedaan pendapat yang menyebabkan perpecahan di dalam Sangha. Di samping itu, sidang memeriksa kembali dan menyempurnakan Kanon (Kitab Suci) Pali. Dalam Sidang Agung ketiga ini, ajaran Abhidhamma diulang secara terperinci, sehingga dengan demikian lengkaplah sudah Kanon Pali yang terdiri atas tiga kelompok besar, meskipun masih belum dituliskan dalam kitab-kitab dan masih dihafal di luar kepala. Golongan para bhikkhu yang terkena penertiban meninggalkan golongan Sthaviravada (pendahulu dari golongan yang sekarang dikenal sebagai Theravada) dan mengungsi ke arah Utara.

Sidang Agung keempat diselenggarakan di Srilanka pada 400 tahun setelah Sang Buddha Gotama mangkat. Sidang ini berhasil secara resmi menulis ajaran-ajaran Buddha Gotama di daun-daun lontar yang kemudian dijadikan buku Tipitaka dalam bahasa Pali. Kitab Suci Tipitaka terdiri atas :
A. Vinaya Pitaka
B. Sutta Pitaka
C. Abhidhamma Pitaka



Berikut ini disampaikan ringkasan kumpulan kotbah Sang Buddha yang hingga saat ini telah tersedia dalam bahasa Indonesia.

Vinaya Pitaka

Suttavibhanga
Khandhaka – khandhaka
Parivara
Sutta Pitaka

Digha Nikaya
Majjhima NIkaya
Samyutta Nikaya
Anguttara Nikaya
Khuddaka Nikaya
Abhidhamma Pitaka

Dhammasangani
Vibhanga
Dhatukatha
Puggalapaññatti
Kathavatthu
Yamaka
Patthana

Berikut ini disampaikan ringkasan kumpulan kotbah Sang Buddha yang hingga saat ini telah tersedia dalam bahasa Indonesia.

Vinaya Pitaka

Suttavibhanga
Khandhaka – khandhaka
Parivara
Sutta Pitaka

Digha Nikaya
Majjhima NIkaya
Samyutta Nikaya
Anguttara Nikaya
Khuddaka Nikaya
Abhidhamma Pitaka

Dhammasangani
Vibhanga
Dhatukatha
Puggalapaññatti
Kathavatthu
Yamaka
Patthana
Sumber: Pedoman Penghayatan dan Pembabaran Agama Buddha Mazab Theravâda di Indonesia
Penerbit : Yayasan Dhammadipa-ârâma Jakarta, Oktober 1992

Senin, 26 Agustus 2013 1 komentar

Sejarah Taoisme

Pada kesempatan kali ini kita akan mencermati tahapan-tahapan perkembangan Daoisme yang terjadi sepanjang sejarah Tiongkok. Adapun pembahasannya dibagi berdasarkan dinasti-dinasti yang silih berganti.

1.Perkembangan keagamaan semasa Dinasti Shang

Dinasti Shang mengenal adanya kelas pendeta (shaman) yang bertujuan untuk melakukan pemujaan terhadap leluhur ataupun para dewa. Dalam legenda Tiongkok kuno terdapat para penguasa yang disebut dengan “Tiga Raja dan Lima Kaisar” (sanhuang wudi). Apa yang dimaksud dengan sanhuang wudi ini telah kita bahas di atas, sehingga tidak akan diulas panjang lebar di sini.
Rakyat Shang mengembangkan suatu kepercayaan politeistik yang terdiri dari berbagai makhluk dewa dan setengah dewa (seperti di Yunani kuno). Kepercayaan ini berbeda dengan kepercayan dinasti berikutnya yang tidak lagi bersifat politeistik dan lebih menekankan pemujaan terhadap Langit. Ini nampak nyata dalam ungkapan Konfusius bahwa masyarakat Shang memuja guishen (gui artinya hantu dan shen berarti dewa) yang dapat diartikan sebagai roh-roh alam, sedangkan masyarakat Zhou menghormati tetapi menjaga jarak terhadap mereka.

2.Para ahli filsafat Daois semasa Zaman Dinasti Zhou

a. Laozi


Perbedaan utama antara Konfusius dan Laozi adalah dalam segi riwayat hidupnya yang masih diselubungi kegelapan sejarah. Tidak banyak catatan yang dapat ditemukan mengenai riwayat hidup ahli filsafat yang bernama asli Li Er ini. Sejarawan terkemuka Tiongkok bernama Sima Qian yang menulis sekitar tahun 100 sesudah masehi, Laozi berasal dari desa Churen, propinsi Hunan, dan hidup sekitar abad ke-6 SM, di ibu kota Loyang dari Kerajaan Chu. Marga Laozi adalah Li sedangkan nama panggilannya adalah Er. Beliau sempat diangkat sebagai seorang ahli perpustakaan kerajaan pada masa pemerintahan Dinasti Zhou. Sebagai seorang ahli perpustakaan, ia memiliki kesempatan untuk membaca literatur-literatur klasik sehingga pada akhirnya juga dikenal sebagai seorang ahli dalam bidang perbintangan serta peramalan.
Tatkala usianya telah lanjut, Laozi mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai ahli perpustakaan kerajaan untuk mengasingkan diri. Saat hendak meninggalkan ibu kota, seorang penjaga gerbang bernama Lin Yixi menghentikan langkahnya, serta meminta agar dituliskan sebuah kitab. Permintaan ini diluluskan oleh Laozi. Ia menuliskan sejilid kitab singkat yang hanya terdiri dari 5000 huruf Tionghua dan setelah itu menyerahkannya pada sang penjaga gerbang. Laozi meninggalkan ibu kota dan tidak pernah terdengar kembali kabar beritanya. Kitab singkat yang berjudul Daodejing itu, untuk selanjutnya menjadi kitab pegangan bagi para penganut Daoisme.
Berbeda dengan penganut Konfusianisme, Dao menurut Daodejing diartikan secara metafisik, yakni sebagai bahan dasar penyusun segala sesuatu. Dao bersifat sederhana dan tanpa bentuk, tanpa keinginan, tanpa nama, serta tanpa gerakan ataupun daya upaya. Dao ini telah ada sebelum adanya langit dan bumi. Seiring dengan perjalanan waktu, semakin jauh diri manusia dari Dao, sehingga semakin berkuranglah kebahagiaannya. Daodejing mengatakan:

Dao adalah bagaikan bejana yang meskipun hampa
Dapat ditimba tanpa hingga
Dan tiada berguna untuk mencoba mengisinya
Begitu luas dan dalamnya
Hingga nampak sebagai yang tertua dari yang ada
Bila terbenam di dalamnya, maka ujung yang paling tajam akan menjadi rata
Masalah tersulit akan sirna
Cahaya gemilang penebar kebahagiaan
Segala yang tak mungkin kembali menjadi sesuatu yang sederhana
Ia adalah setenang alam kematian
Aku tak mengetahui putera siapakah ia .



Berdasarkan kutipan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa Dao bagi penganut Daoisme merupakan sesuatu yang asali sebelum tercemari oleh pikiran-pikiran bentukan manusia. Oleh karena bersifat asali, ia bersifat alami pula dan bukan merupakan sesuatu yang dibuat-buat. Dengan demikian orang yang menjalankan Dao akan menghindari banyak lagak dan mementingkan kesederhanaan serta kewajaran. Kitab Daodejing mengajarkan kembali bagaimana cara hidup sederhana secara wajar:

Sepuluh ribu hal telah terjadi
Dan kusimak semuanya kembali
Betapapun terjadi kesemarakan yang semakin tinggi
Masing-masing pada akhirnya akan berpulang pada kondisi asali
Kembali pada kondisi asali ini berarti mencapai kedamaian abadi
Itulah kedemikianan segala sesuatu
Kedemikian itu merupakan suatu pola tanpa akhir
Memahami pola tanpa akhir itu berarti mencapai pencerahan
Barangsiapa yang tak memahaminya akan kering dan layu oleh musibah
Yang mengenal pola abadi ini akan mencakupi segalanya
Mencakupi segalanya dengan sikap adil sempurna
Adil sempurna menjadikannya seorang penguasa
Seorang penguasa menjadi sama dengan para dewa
Serupa dengan para dewa berarti sejalan dan sehati dengan Dao
Sejalan dan sehati dengan Dao berarti satu dengan Dao itu sendiri, ia tak terbinasakan
Meskipun tubuhnya dapat lenyap ditenggelamkan samudera kehidupan
[Tetapi] akanlah ia luput dari segenap gangguan .

Dari kutipan di atas, kita mengetahui bahwa Dao mengajarkan manusia untuk menyelaraskan diri dengan hukum hakiki alam semesta. Terlalu memaksakan diri untuk melaksanakan sesuatu yang berada di luar jangkauannya adalah suatu kesalahan.

b. Zhuangzi dan Liezi

Setelah zaman Laozi, terdapat banyak ahli filsafat terkenal lainnya yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan Daoisme seperti Zhuangzi (369 SM – 286 SM) dan Liezi (abad 4 SM). Dengan adanya kedua ahli filsafat tersebut, Daoisme memasuki tahapan baru. Terdapat perbedaan ajaran-ajaran mereka dengan Daoisme yang lebih awal ataupun filsafat yang terdapat dalam Daodejing.
Sebelumnya keterlibatan seseorang di dalam politik masih dimungkinkan, namun Zhuangzi dan Liezi mengajarkan bahwa seorang suciwan mustahil untuk terlibat dalam politik. Pengertian wuwei (secara harafiah berarti “tidak berbuat”) berubah menjadi “tidak terlibat” ataupun “membiarkan sesuatu sebagaimana adanya.” Para suciwan tidak lagi memperdulikan hal-hal duniawi. Orang awam terperangkap dalam kemashyuran serta kemewahan, tetapi sebaliknya para suciwan menghindarinya, sehingga mereka benar-benar terbebas dari segenap permasalahan duniawi.
Perbedaan berikutnya, sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, Dao menurut Daodejing adalah kekuatan yang baik. Namun Zhuangzi dan Liezi, memandang Dao sebagai kekuatan yang bersifat netral. Ia masih merupakan dasar bagi keberadaan segala sesuatu, tetapi tidak lagi merupakan suatu kekuatan yang bajik. Lebih jauh lagi menurut keduanya, Dao tidak lagi memegang kendali atas segala sesuatu di muka bumi ini, apa yang akan terjadi, pasti terjadi; dan tidak ada sesuatupun yang dapat dilakukan untuk mencegahnya.
Terlepas dari semua perbedaan tersebut, Ajaran Zhuangzi dan Liezi, masih memiliki banyak kesamaan dengan Ajaran Daoisme dari periode sebelumnya. Dao masih dipandang sebagai sesuatu yang tak bernama, tanpa bentuk, serta tak dapat dipahami dengan rasio manusia biasa. Mereka yang dapat memahami hakekat Dao beserta cara bekerjanya, adalah orang yang tercerahi.
Di dalam Daodejing, Dao dipandang sebagai asal muasal segala sesuatu. Zhuangzi mengolah kembali pandangan ini dengan mengatakan bahwa segala sesuatu memiliki asal muasal yang sama. Tidak ada sesuatupun yang lebih berharga dibandingkan yang lainnya. Begitu pula manusia tidak lebih berharga dibandingkan hewan. Selain mengajarkan prinsip kesetaraan segala sesuatu ini, Zhuangzi juga mengajarkan bahwa hidup ini mengalami transformasi yang terus menerus dari Dao.
Zhuangzi mewariskan pada kita sebuah kitab yang diberi judul namanya sendiri yakni kitab Zhuangzi. Kitab ini memiliki judul lain yang berbunyi Nanhua zhenjing (Kitab Klasik Kemurnian dari Nanhua). Di dalamnya juga terdapat pandangan shamanistik mengenai para suciwan, misalnya dikatakan bahwa mereka dapat terbang ke langit, berbicara dengan hewan, serta memiliki kekuatan-kekuatan atas unsur-unsur alam. Sedangkan Liezi meninggalkan sebuah kitab yang juga diberi judul sesuai dengan namanya.
Zhuangzi dikatakan lahir di Tiongkok bagian tengah yang kini terletak di Propinsi Henan serta mempunyai jabatan rendah dalam pemerintahan. Hanya sedikit riwayat yang kita kenal mengenai dirinya. Kitab hasil karyanya itu terdiri dari 33 bagian, yang masih dibagi lagi menjadi bagian “luar” dan “dalam.” Bagian “dalam” meliputi tujuh bagian pertama. Sebagian besar di antara tujuh bagian pertama ini dianggap otentik oleh para ahli, sedangkan bagian selanjutnya diduga sebagian besar palsu. Zhuangzi mengajarkan relativitas dari segala sesuatu, sebagaimana yang nampak dari kutipan menarik Kitab Zhuangzi berikut ini:

Suatu kali, aku, Zhuang Zhou (nama pribadi Zhuangzi – penulis), bermimpi bahwa aku menjadi kupu-kupu dan merasa bahagia sebagai kupu-kupu. Saya merasa sadar bahwa saya merasa cukup puas dengan diri saya sendiri, namun saya tidak mengetahui bahwa saya adalah Zhou. Tiba-tiba aku terjaga, dan jelas sekali aku adalah Zhou. Saya tidak tahu apakah apakah Zhou yang bermimpi menjadi kupu-kupu ataukah sang kupu-kupu yang bermimpi menjadi Zhou. Antara Zhou dan kupu-kupu pastilah terdapat perbedaan. Inilah yang disebut transformasi segala sesuatu.

Relativitas segala sesuatu ini makin ditegaskan pada kutipan berikut ini:

Bila seseorang tidur di tempat yang basah, maka ketika bangun, ia akan merasa bahwa punggungnya sakit.... namun apakah hal yang sama berlaku pada seekor belut? Jika seseorang mencoba untuk berdiam di atas pohon, maka ia akan pingsan karena ketakutan. Namun hal yang sama berlaku pada seekor monyet? Di antara ketiga hal ini, manakah yang mengetahui habitat yang [paling] benar untuk hidup? Manusia makan daging, rusa makan rumput, kelabang menyukai ular, burung hantu dan burung gagak memakan tikus. Dapatkah Anda mengatakan manakah makanan yang [paling] benar di antara keempat makhluk ini?... Orang memandang Mao Chiang dan Li Ji sebagai wanita-wanita tercantik, tetapi begitu melihat mereka, ikan-ikan menyelam jauh ke dalam air [untuk menyembunyikan diri] dan sementara itu burung-burung lari beterbangan... [Lalu jika demikian], manakah tolok ukur yang benar mengenai kecantikan?

Sebagaimana halnya ajaran yang terkandung di dalam Daodejing, Zhuangzi juga mengatakan bahwa memaksa mengusahakan sesuatu di luar kemampuan kita adalah suatu kekeliruan. Ia mengatakan:

Mereka yang memahami kehidupan tidak akan mengupayakan sesuatu yang tidak diberikan oleh kehidupan. Mereka yang memahami nasib tidak akan mengupayakan sesuatu yang berada di luar jangkauan pengetahuan .

Sikap untuk tidak terlalu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu ini mendorong timbulnya gerakan pertapaan bagi kaum Daois, dimana hal ini ditentang oleh penganut Konfusianisme yang mengajarkan diri untuk tidak menarik diri dari masyarakat.
Kini kita akan mengutip sedikit ajaran Liezi:

Tak ada seorangpun yang berusia lebih dari seratus tahun, dan tidak ada satu dari seribu orang yang dapat mencapai usia seratus. Dan bahkan orang yang satu ini menghabiskan setengah dari kurun waktu kehidupannya sebagai anak yang tak berdaya atau orang tua yang sudah pikun. Dari waktu yang tersisa, setengahnya dihabiskan untuk tidur atau terbuang pada siang hari. Selanjutnya dari sekian waktu yang tersisa dari itu semua, ia masih didera oleh rasa sakit, penyakit, kesedihan, dendam, kematian, kerugian, kekhawatiran, serta ketakutan. Dalam kurun waktu sepuluh tahun atau lebih boleh dikatakan bahwa tidak sampai satu jam seseorang dapat merasakan kedamaian terhadap diri sendiri dan lingkungannya, tanpa diganggu oleh rasa cemas.
[Bila demikian] untuk apakah manusia hidup? Apakah kesenangan yang dapat diperoleh dari kehidupan itu? Apakah kita hidup untuk menikmati keindahan serta kekayaan? Apakah untuk menikmati keindahan suara dan warna semata? Bukankah ada saatnya ketika ketika keindahan dan kekayaan tidak lagi memenuhi kesenangan hati, dan ada pula saatnya ketikga suara dan warna menjadi sesuatu yang mengganggu telinga serta mata.
Apakah kita hidup agar ditakut-takuti sehingga tunduk pada hukum dan kadang-kadang bertindak nekad [melawan hukum] karena didorong oleh upah atau ketenaran? Kita merusak diri sendiri dengan berusaha mati-matian merangkak ke atas, sambil berusaha untuk mereguk pujian dangkal yang diperdengarkan satu jam semata. Mencari akal untuk menemukan bagaimana caranya nama baik kita tetap dikenang setelah kematian. Kita bergerak melintasi dunia dalam suatu celah sempit yang penuh dengan berbagai hal remeh yang kita lihat serta dengar, sambil berpikir berdasarkan prasangka-prasangka, mengabaikan kenyamanan hidup, tanpa menyadari bahwa kita telah kehilangan segala-galanya.
Orang di zaman dahulu menyadari bahwa kehidupan dan kematian datang secara tiba-tiba. Mereka tidak mengingkari salah satupun dari keinginan-keinginan alami mereka, dan tidak pula menekan satupun di antara hasrat-hasrat mereka. Mereka menyimak melalui kehidupan, sambil memperoleh kesenangan yang digerakkan oleh detak jantung mereka. Karena tidak mempedulikan ketenaran setelah kematian, maka mereka mengatasi hukum. Mereka tidak pula mempedulikan nama serta pujian, cepat atau lambat, usia panjang atau pendek...


Ungkapan Liezi di atas mengajarkan manusia untuk merenungkan hakekat kehidupan mereka. Manusia telah lahir dalam suatu dunia yang tidak ikut diciptakannya sehingga tidak dapat dipahaminya secara penuh. Hal ini diperberat lagi oleh belenggu-belenggu kewajiban serta ketakutan. Manusia masih membebani dirinya dengan tuntutan pada diri sendiri agar melakukan sesuatu yang berada di luar kemampuannya. Kita meneladani ajaran ini dengan tidak merasa cemas, menghadapi hidup sebagaimana adanya, dan tidak terperangkap oleh keinginan yang tidak bermanfaat.


c. Perbedaan pandangan lainnya antara Daoisme dan Konfusianisme

Penganut Daoisme dan Konfusianisme memiliki perbedaan pandangan dalam hal keadilan. Untuk memperjelas hal ini kita akan mengutip apa yang diungkapkan Alan Watts dalam bukunya Tao of Philosophy:

Ada kata lain bagi keadilan (justice), atau hukum. Dalam bahasa Tionghua, istilah ini berarti ketel beserta sebilah pisau untuk memasak korban persembahan. Dalam peradaban Tiongkok kuno, kaisar menuliskan hukum-hukum negara dengan sebilah pisau di samping ketel, sehingga ketika korban di bawa untuk dimasukkan dalam ketel itu, mereka yang membawa korban dapat membaca dan mengerti maksudnya. Walaupun demikian, penasihat kaisar mengatakan bahwa tindakan itu sangat buruk, karena pada saat hukum itu dibaca, muncullah keinginan untuk melanggarnya. Mereka yang membaca hukum tadi justru memikirkan cara-cara untuk melanggarnya, dan itulah yang kita lakukan selama ini. Tatkala kongres mengesahkan sebuah undang-undang – khususnya undang-undang pajak – semua penasihat hukum berkumpul dan mencari celah-celah untuk melanggarnya. Mereka mengatakan, “Undang-undang pajak ini ternyata tidak mendefinisikan ini dan itu.” Demikian juga dengan sebagian pengikut Konfusius yang ingin menertibkan bahasa dan membuat semua kata mempunyai arti setepat-tepatnya, tetapi para penganut Daois mentertawakan mereka dan berkata, “Jika Anda mendefinisikan kata-kata, dengan kata-kata apa Anda akan mendefinisikan kata-kata yang mendefinisikan kata-kata itu?” Sehingga, penganut Daoisme menyatakan bahwa kaisar jangan menuliskan hukum karena rasa keadilan bukan sesuatu yang dapat dirumuskan dengan kata-kata. Para penasihat hukum menyebutnya “keadilan” (equity). Jika Anda membicarakan beragam hakim dengan penasihat hukum manapun, ia akan berkata, “Hakim Smith lebih mengacu pada hukum secara harafiah, namun hakim Jones mempunyai rasa keadilan. Hakim Jones tahu dalam kasus khusus apa suatu hukum ternyata tidak dapat diterapkan. Ia mempunyai kecenderungan untuk “bermain sportif,” dan figur seperti itulah yang dipercaya menjadi hakim.”

Berdasarkan kutipan di atas, kita mengetahui bahwa Konfusianisme berusaha menuangkan hal-hal yang sesungguhnya abstrak seperti halnya “keadilan,” ke dalam kata-kata atau hukum tertulis. Sedangkan Daoisme mengatakan bahwa “keadilan” yang sejati tidak dapat dituangkan dengan kata-kata. Menurut hemat penulis kedua-duanya tidak ada yang salah. Meskipun benar bahwa “keadilan” sejati tidak dapat dituangkan dengan kata-kata dan hukum masih dapat dicari celahnya, tetapi hukum tetap saja diperlukan. Tidak dapat dibayangkan apabila suatu negara tidak memiliki hukum. Jadi semuanya memiliki proporsi kebenaran sendiri-sendiri.

3.Berdirinya Daoisme sebagai lembaga keagamaan pada zaman Dinasti Han

Daoisme baru menjelma menjadi suatu agama yang terorganisasi pada masa Zhang Daoling yang hidup semasa Dinasti Han Timur. Meskipun demikian proses transformasi ini tidak akan terjadi begitu saja tanpa faktor-faktor pendukungnya. Berikut ini kita akan mempelajari hal-hal apa saja yang menjadi pendorong bagi proses tersebut.
Pada masa akhir Dinasti Zhou yang terpecah menjadi beberapa negara, banyak orang yang terpelajar yang berkeliling untuk menjajakan kemampuan mereka sebagai ahli ketata-negaraan maupun penasehat politik. Mereka berkeliling untuk mencari raja atau penguasa yang bersedia memanfaatkan jasa mereka. Profesi mereka pada masa sekarang dapat disamakan dengan para konsultan dari berbagai bidang. Dengan penyatuan Tiongkok di bawah Dinasti Qin, praktis jasa mereka tidak diperlukan lagi. Dinasti Han yang merupakan kelanjutan dari Dinasti Qin juga memerintah seluruh Tiongkok. Sama dengan Dinasti Qin, mereka menerapkan sistim pemerintahan yang terpusat serta membatasi kekuasaan para bangsawan. Dengan demikian persatuan negara menjadi kuat. Sistim pemerintahan terpusat tersebut menjadikan kaum terpelajar yang sebelumnya berkeliling menjajakan jasa mereka tidak diperlukan lagi keberadaannya.
Sebelumnya banyak dari mereka yang juga menguasai kemampuan gaib, seperti meramal nasib, penyembuhan, dan memperpanjang usia. Karena pengetahuan mereka dalam bidang ketata-negaraan serta politik tidak diperlukan lagi, dilakukanlah alih profesi dengan memanfaatkan kemampuan lain tersebut. Pada masa Dinasti Qin dan Han awal, mereka membentuk suatu kelompok masyarakat tersendiri yang disebut dengan fangshi. Kata ini sendiri berarti “ahli ilmu gaib” (masters of formulae). Secara umum mereka terbagi menjadi dua, yakni yang mengkhususkan diri pada ilmu gaib, peramalan serta penyembuhan dan mereka yang mengkhususkan diri pada ilmu pemanjang usia serta rahasia hidup abadi. Masing-masing golongan ini hadir guna memenuhi harapan kedua kelompok masyarakat yang berbeda. Kaum kaya lebih menginginkan umur panjang serta hidup abadi, sedangkan kaum miskin tidak memerlukannya. Kehidupan mereka diliputi kesengsaraan, sehingga memperpanjang hidup bagi mereka sama saja dengan memperpanjang penderitaan. Sebaliknya kaum miskin yang antara lain terdiri dari petani, lebih menghendaki jaminan panen yang baik dan kesehatan diri beserta anggota keluarganya, sehingga dapat bekerja di ladang dengan lancar. Para fangshi memenuhi segenap dambaan mereka dengan menuliskan jimat yang berisikan simbol-simbol tertentu serta kata-kata yang dipercaya mengandung kekuatan gaib. Tujuannya adalah untuk mengundang roh-roh suci agar memberikan kesembuhan dari penyakit, perlindungan, serta mengabulkan setiap harapan. Jadi kaum fangshi ini kemudian menjadi semacam kelas pendeta di tengah-tengah masyarakat pada zaman itu, dimana kelas kependetaan semacam ini sebelumnya belum dikenal dalam Daoisme.
Faktor pendorong lain, adalah ajaran seorang ahli filsafat bernama Mozi (± 480 – 390 SM). Beliaulah yang mengawali tradisi suatu agama terorganisasi dengan mendirikan altar-altar guna memuja roh-roh halus lokal. Para pengikut Mozi yang disebut kaum Mohis, mengajak rakyat untuk memuja altar-altar itu. Meskipun Ajaran Mozi (Mohisme) kehilangan pengaruhnya pada masa Dinasti Han, tetapi tetap saja rakyat masih melakukan pemujaan semacam itu, yang kemudian diambil alih oleh Daoisme.
Faktor ketiga yang mendorong perubahan Daoisme menjadi suatu agama, adalah melemahnya upacara ritual kerajaan yang dilakukan oleh para shaman. Sebagaimana yang telah kita bahas di atas, para raja Dinasti Zhou memanfaatkan jasa para shaman untuk melakukan upacara keagamaan bagi mereka. Lambat laun makna dari upacara keagamaan tersebut menjadi tidak dikenal lagi, sehingga upacara tersebut merosot menjadi semacam rutinitas belaka. Karenanya upacara semacam itu tidak dapat lagi memuaskan kebutuhanan spiritual pada masa itu. Akhir upacara-upacara kuno yang diorganisasi kerajaan terjadi semasa Dinasti Han, di mana kaisar memutuskan untuk menganut Daoisme, dengan mendirikan altar pada tahun 150 M guna menghormati Lao Zi. Posisi para shaman penyelenggaran upacara ritual kerajaan digantikan oleh para fangshi.
Demikianlah tiga prasyarat untuk menjadikan Dao suatu agama tersedia sudah: kelas kaum pendeta, sistim pemujaan, dan dukungan kerajaan. Pada masa inilah Zhang Daoling tampil ke panggung sejarah. Semasa mudanya, Zhang Daoling mempelajari kitab-kitab klasik Konfusianisme, namun kemudian beralih pada ajaran-ajaran Lao Zi serta ilmu memperpanjang umur. Ia lalu pindah ke wilayah Shu (Yunnan sekarang), yang pada masa itu merupakan daerah terpencil serta bergunung-gunung. Daerah tersebut didiami oleh suku-suku yang mempraktekkan kepercayaan shamanistik kuno. Bagi orang yang tinggal di desa-desa terpencil semacam itu, roh-roh adalah sesuatu yang nyata dan ilmu gaib adalah pusat kehidupan mereka. Zhang Daoling menyatakan bahwa ia menerima ajaran langsung dari Lao Zi, yang juga memberikannya kekuatan guna menyembuhkan penyakit serta menaklukkan roh-roh jahat. Karena keampuhan air yang telah dibubuhi abu hasil pembakaran jimatnya, Zhang berhasil menarik banyak pengikut. Jimat tersebut adalah sehelai kertas kuning yang ditulisi simbol-simbol tertentu dengan warna merah. Kebanyakan simbol-simbol tersebut merupakan sarana untuk memanggil roh-roh atau makhluk suci. Zhang menciptakan suatu agama yang berpusat pada dirinya sendiri, ia memberikan gelar Lao Zi sebagai Taishang Laoqun (Penguasa Agung nan Tinggi). Zhang Daoling dan keturunannya kemudian menjadi pemimpin gerakan keagamaan itu. Gerakan keagamaan ini disebut dengan wudoumidao atau “Jalan Lima Gantang Beras,” karena orang yang ingin bergabung diharuskan membayar sumbangan sejumlah lima gantang beras. Pujaan utama aliran keagaman ini adalah Lao Zi yang dipandang sebagai pendiri Daoisme (kendati Zhang Daoling yang mentransformasikan Daoisme menjadi suatu agama). Zhang Daoling dan keturunannya menyebut diri mereka sebagai “Guru-guru Langit” (Tianshi) dan menjadi perantara antara para dewa dan umat awam. Namun, hal terpenting di atas semua itu adalah agama baru ini dapat memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat. Zhang Daoling dan pengikutnya menciptakan suatu sistim keagamaan lengkap dengan kaum pendeta, kitab suci, upacara ritual, dan ilmu gaibnya. Mereka memerintah bagaikan paus atas sistim keagamaan baru tersebut.
Karya Daois yang ditulis pada zaman ini adalah Taipingjing (Kitab Perdamaian dan Keseimbangan), yang membahas berbagai hal, seperti penciptaan dunia, pentingnya upacara ritual, aturan moralitas, pahala-pahala, hukuman, serta ilmu menambah kesehatan dan umur panjang. Kitab penting lainnya adalah Huainanzi yang ditulis pada pertengahan abad ke-2 SM oleh seorang pangeran wilayah Huainan (inilah yang menyebabkan mengapa ia juga disebut Huainanzi) yang bernama Liu An – cucu Liu Bang. Isinya mengisahkan legenda para dewa gunung yang memiliki kepala manusia dan tubuh naga. Selain itu disebutkan mengenai Gunung Kunlun tempat seseorang dapat mencapai keabadian. Para kaisar lalu berusaha menghubungkan dirinya dengan dewa-dewa melalui upacara rumit yang dipimpin oleh pendeta Daois. Pada zaman ini tidak hanya kaisar saja yang memiliki harapan untuk meminta bantuan kekuatan kosmis dan meramalkan masa depan, karena hal ini juga dipraktekkan oleh rakyat jelata. Timbul peningkatan minat terhadap hal-hal gaib keagamaan.
Pada zaman Dinasti Han ini pula timbul kultus pemujaan terhadap seorang dewi bernama Xiwang Mu atau Xiwang Shengmu (Hokkian: See Ong Bo atau See Ong Seng Bo) yang berarti Ibu Suci dari Barat. Ia dikabarkan memiliki surga yang diliputi keajaiban. Di sana tumbuh pohon dan sungai keabadian. Terdapat pula hewan-hewan ajaib seperti gagak dengan tiga kaki, kura-kura ajaib, serigala berekor sembilan, dan lain sebagainya yang menghasilkan obat-obatan panjang usia. Rakyat yang berasal dari berbagai kalangan memohon berkahnya dan kuil pemujaannya-pun didirikan di seantero negeri. Bersamaan dengan itu, muncul pula ramalan akan segera berakhirnya Dinasti Han yang benar-benar terjadi dengan perebutan kekuasaan oleh Wang Mang.

4. Perkembangan semasa Zaman Tiga Negara

Pada bagian sebelumnya kita telah menyinggung mengenai Zhang Daoling beserta organisasi keagamaan yang didirikannya. Kita telah mengetahui pula bahwa Dinasti Han berakhir pada tahun 220 dan terpecah menjadi tiga negara, yakni: Wei, Wu, dan Shu. Organisasi keagamaan yang didirikan oleh Zhang Daoling itu, kini dipimpin oleh Zhang Lu, cucu Zhang Daoling dan diakui oleh Kerajaan Wei sebagai Zhengyi Mengwei (Aliran Ortodoks Utama) dari Taoisme. Belakangan, aliran tersebut juga disebut dengan Tianshi Dao (Aliran Para Guru Kedewaan).
Kitab Daois penting yang ditulis pada zaman ini adalah Taishang Lingbao Wufujing (Kitab Pewahyuan Tertinggi Lima Jimat dari Roh Suci). Ini merupakan kitab pertama dari kumpulan kitab-kitab Lingbao (Roh Suci). Di dalam kitab ini dapat dijumpai mengenai jimat untuk melindungi serta memanggil roh-roh suci, penggambaran kosmologi alam kedewaan, teknik meditasi, serta resep-resep untuk meramu obat hidup abadi.
Aliran filosofi Daois lainnya berkembang adalah apa yang dinamakan Aliran Misteri. Tokoh-tokohnya adalah He Yan (wafat tahun 249), yang mengarang sebuah karya berjudul Wuminglun (Risalah Mengenai yang Tak Bernama), Wang Bi (226 – 249), seorang ahli filsafat cendekia yang wafat pada usia 23 tahun dan telah menulis komentar terhadap kitab Laozi dan Yijing, Xiang Xiu (223? – 300), pengarang komentar terhadap kitab Zhuangzi, Guo Xiang (wafat 312) yang menambahkan komentarnya sendiri pada kitab karangan Xiang Xiu, dan Pei Wei (267 – 300) yang mengarang Chongyoulun (Risalah Mengenai Keberadaan). Aliran Misteri membahas masalah-masalah metafisika yang rumit, seperti masalah Keberadaan dan Ketidak-beradaan, yang dipandang bukan sebagai sesuatu yang berlawanan, melainkan sesuatu yang tak terpisahkan satu sama lain.
5.Perkembangan Daoisme semasa Dinasti Jin

Ge Hong (281 – 340) adalah seorang ahli patologi dan alkimia terkemuka semasa Dinasti Jin serta dikenal pula sebagai tokoh Daoisme. Ia dilahirkan di daerah yang sekarang menjadi bagian Propinsi Jiangsu dan telah mengalami kehidupan yang sulit serta miskin semasa mudanya. Ia harus bekerja sebagai penebang kayu, agar dapat membeli kertas dan tinta - dua perlengkapan yang wajib dimiliki seorang pelajar. Karena tidak memiliki cukup uang untuk bersenang-senang, Ge Hong lebih memilih untuk menenggelamkan diri dalam literatur-literatur kuno dan melatih senam pernafasan. Dengan segera ia menjadi salah seorang murid terpandai pamannya yang bernama Ge Xuan, yang mengajarkan padanya rahasia ilmu pengobatan tradisional Tiongkok kuno. Semasa pemberontakan Shibing yang terjadi sekitar tahun 302 – 303, Ge Hong diangkat sebagai pejabat dan berhasil memadamkan pemberontakan itu. Oleh karena jasanya ini, ia diangkat sebagai penasehat militer gubernur setempat. Ge Hong kemudian membaktikan sisa hidupnya untuk menemukan ramuan obat panjang umur dan mempelajari Dao. Ia wafat saat berusia 81 tahun. Legenda mengatakan bahwa ketika peti jenazahnya hendak dibawa ke pemakaman, ternyata peti itu kosong, sehingga masyarakat meyakini bahwa Ge Hong telah menjadi dewa.
Ge Hong pada sekitar tahun 326 menulis sebuah kitab berjudul Baopuzi Neiwaipian. Isinya membahas mengenai alkimia, ilmu tentang diet, dan kegaiban. Karya ini sangat dijunjung tinggi oleh umat Daois hingga sekarang. Saran-saran Ge Hong di dalam Baopuzi yang berhubungan dengan kesehatan ternyata masih relevan hingga saat ini. Sebagai contoh pada bab Yangshen ia menganjurkan kita untuk berpakaian hangat sebelum merasa kedinginan, makan sebelum merasa lapar, berhenti makan sebelum kekenyangan, bila minum alkohol jangan terlalu lama begadang, jangan tidur di udara terbuka, jangan tidur terlalu lama, jangan bekerja berlebihan, makan teratur serta secukupnya, dan lain sebagainya. Ge Hong juga mengajarkan bahwa memperkuat qi (energi vital kehidupan) melalui latihan pernafasan serta menambah darah melalui makanan dan vitamin tertentu dapat memperpanjang usia kita. Prinsip latihan itu adalah “membuang” nafas yang lama dan menarik nafas yang baru. Ia menjelaskan sebagai berikut:

Manusia hidup di tengah-tengah udara, sebagaimana halnya udara (nafas) di dalamnya. Semua makhluk di muka bumi ini, tidak ada yang dapat hidup tanpa udara. Jika seseorang menguasai teknik pernafasan, maka hal ini dapat menunjang kesehatan tubuhnya dari dalam. Dengan demikian, ini akan melindungi dirinya terhadap pengaruh merusak dari luar. Siklus alami nafas mengikuti aturan sebagai berikut: dari tengah malam sampai tengah hari merupakan masa pembangkitan nafas (shengqi, yang secara harafiah berarti “nafas hidup”), sedangkan dari tengah hari hingga tengah malam merupakan masa siqi atau “nafas mati.” Oleh karenanya, pada kurun waktu ini seseorang harus banyak menghirup nafas. Teknik pernafasan (yinqi) meliputi hal-hal sebagai berikut: seseorang menghirup nafas melalui hidungnya. Hiruplah banyak udara tetapi sedikit menghembuskannya lagi. Hiruplah udara, lalu tahanlah nafas. Berikutnya bernafaslah secara perlahan-lahan dan tanpa suara. Jika seseorang menguasa hal ini dengan sempurna, ia dapat menahan nafas dalam jangka yang waktu yang cukup lama, [bahkan] hingga mencapai hitungan ke-1000. Inilah yang disebut taixi (benih nafas) .

Dalam bidang patologi, Ge Hong menyumbangkan pembahasan mengenai penyakit cacar, beri-beri, dan juga penyakit lainnya. Bahan-bahan bagi resep obat Ge Hong tergolong murah tetapi manjur, sehingga cocok bagi rakyat kebanyakan.
Pada bagian ini, kita akan membahas kelanjutan perkembangan Aliran Tianshi Dao terlebih dahulu. Di atas telah diuraikan bahwa Sima Yan mempersatukan Tiongkok kembali dan mendirikan Dinasti Jin. Namun pada tahun 317 M, mereka terpaksa melarikan diri ke selatan oleh karena serangan suku bangsa barbar dari utara. Dengan didukung oleh orang-orang yang masih setia pada Dinasti Jin, mereka mendirikan Dinasti Jin Timur. Di antara para pengikut setia Dinasti Jin, terdapatlah Sun Yin dan Lu Dun. Mereka berdua adalah pengikut Aliran Tianshi Dao dan dipandang sangat berjasa dalam menegakkan kembali Dinasti Jin. Kerajaan kemudian memberikan sokongan bagi aliran tersebut, sehingga menjadikannya makin berkembang.
Perkembangan penting lainnya yang mewarnai Daoisme pada kurun waktu ini adalah timbulnya suatu aliran pemikiran yang disebut dengan Neo-Daoisme. Runtuhnya Dinasti Han yang diikuti oleh zaman kekacauan, menjadikan banyak mantan pejabat dan kaum cendekiawan memilih untuk mengasingkan dirinya. Mereka lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan menulis puisi atau mempelajari berbagai aliran filosofi termasuk Daoisme. Inilah yang menjadi cikal bakal bangkitnya gerakan Neo-Daoisme. Kaum cendekiawan dan mantan pejabat itu merasa menemukan kebebasan dalam gagasan mendasar Daoisme yang disebut dengan “spontanitas” atau “kealamian” (ziran). Secara praktis ini berarti bahwa seseorang dapat bertindak atau berkata seturut kehendak hatinya tanpa dibatasi oleh aturan-aturan kaku dalam masyarakat. Meskipun seseorang dapat bertindak atau berkata seturut kehendak hatinya, tetapi itu semua harus dilandasi oleh spontanitas atau kealamian. Dengan kata lain segenap tindakan itu tidaklah didasari oleh niat-niat tidak baik seperti kebencian, iri hati, kemarahan, keserakahan, dan lain sebagainya. Oleh karena hal-hal negatif itu akan menjadikannya tidak murni, alami, atau spontan lagi.
Para penganut Neo-Daoisme mulai menyadari adanya kemiripan antara gagasan-gagasan mereka dengan Buddhisme, seperti dalam hal konsep “kekosongan” (sunyata). Inilah yang mendorong sintesa antara Daoisme dan Buddhisme. Salah seorang penganut Neo-Daoisme yang bernama Liu Qiu (438 – 495) menyatakan:

Dari Gunung Kunlun ke arah timur (maksudnya Tiongkok – penulis) istilah “Kesatuan Agung” dipergunakan. Sementara itu dari Kashmir ke arah barat (maksudnya lingkup pengaruh budaya India – penulis), dipergunakan istilah sambodhi. Terlepas dari seseorang memusatkan perhatian pada prinsip “ketidak-beradaan” (non-being, istilah Daois – penulis) atau pada “kekosongan” (emptiness, istilah Buddhis – penulis) prinsip dasarnya adalah sama saja .

Tokoh lainnya yang bernama Fan Ye (398 – 445) juga memiliki pendapat sama dengan menyatakan:

Bila kita mengamati lebih dekat lagi ajaran Buddhisme mengenai pemurnian pikiran dan pencapaian kebebasan dari belenggu kehidupan, ajaran tersebut menekankan pula daya upaya untuk membuang [pandangan dualistis] akan “tiada” dan “ada,” dimana kita memandangnya sebagai sesuatu yang selaras dengan Daoisme .

Untuk jelasnya, kita akan membahas terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pandangan dualistis ini. Kita cenderung untuk memandang sesuatu berdasarkan dua kutub pandangan yang berbeda, seperti baik – buruk, menyenangkan – tidak menyenangkan, untung – rugi, dan lain sebagainya. Ternyata bila direnungkan secara lebih mendalam, pandangan dualistis ini tidak mencerminkan realita yang sebenarnya. Sebagai contoh, Anda mengatakan bahwa seseorang adalah baik, tetapi orang lain mungkin mengatakan yang sebaliknya. Sehingga kriteria itu tidak memiliki nilai kebenaran yang mutlak. Oleh karena itu, para penganut pandangan filosofis ini menganjurkan untuk membuang pandangan dualistis semacam itu.
Kedekatan antara Buddhisme dan Neo-Daoisme ini disebabkan karena para penganutnya berasal dari kalangan yang kurang lebih sama dengan para bhikshu Buddhis, yakni dari kaum bangsawan ataupun pejabat.

6.Perkembangan semasa Zaman Dinasti Utara-Selatan

Tokoh Daois terkemuka yang hidup pada zaman ini adalah Kou Qianzhi yang sudah kita singgung di atas, ia merupakan seorang sarjana serta pendeta Daois terkemuka pada masanya. Kou menjadi penasehat spiritual bagi para penguasa Dinasti Wei Utara, oleh karena diperkenalkan namanya oleh Cui Hao. Kou Qianzhi lalu mendirikan cabang utara Aliran Tianshi Dao. Aliran yang didirikannya ini lebih mementingkan pada upacara dan liturgi keagamaan dan berbeda dengan Aliran Tianshi Dao asli yang mementingkan ilmu pembuatan jimat. Dengan diilhami oleh sila-sila dan vinaya (aturan moralitas) Buddhisme, Kou Qianzhi menciptakan aturan mengenai apa yang dilarang dan harus dilakukan oleh seorang praktisi Dao. Para penguasa Kerajaan Wei Utara sangat terkesan dengan Kou Qianzhi dan menjadikan bentuk Aliran Tianshi Dao yang diperkenalkannya sebagai agama negara. Tetapi, ketika kaisar memutuskan untuk membantai seluruh biarawan Buddhis, Kou memprotes hal itu.
Lu Xiujing, merupakan tokoh Aliran Tianshi Dao di Tiongkok Selatan. Jasa pentingnya adalah pengumpulan menjadi satu kitab-kitab Taois, yang menjadi inti bagi kanon kitab suci Taoisme pada masa sekarang. Pada masanya jumlah kitab suci Taois telah semakin banyak jumlahnya. Di samping kitab-kitab Daodejing, Zhuangzi, dan Liezi yang telah dibahas pada bagian terdahulu, timbul pula kitab-kitab mengenai ramuan-ramuan serta teknik untuk mencapai keabadian yang diwariskan oleh para fangshi. Selain itu masih terdapat pula kitab-kitab Lingbao, yang pada jaman Lu telah berjumlah 50 jilid. Sebagai tambahan timbul pula jenis kitab-kitab baru yang disebut kitab-kitab Shangqing. Kitab-kitab ini merupakan pertanda masuknya mistisisme dalam Daoisme.
Dengan diilhami oleh kanon Tripitaka Buddhis, Lu menyusun kanon Kitab Suci Taois (Daozang) yang dipublikasikan pada tahun 471. Susunannya terbagi menjadi dua bagian besar, yakni “bagian besar” dan “bagian kecil.” Bagian besar terbagi menjadi tiga bagian yang disebut Dongzhen (Gua Realisasi), Dongxuan (Gua Rahasia-rahasia), dan Dongshen (Gua Roh-roh suci). Empat “bagian kecil” terbagi lagi menjadi empat, yakni Taixuan (Misteri Agung), Taibing (Keseimbangan Agung), Taiqing (Kemurnian Agung), dan Zhengyi (Kitab-kitab Klasik Ortodoks). Kanon ini telah mencakup semua naskah dari berbagai bentuk utama Daoisme masa itu, yakni aliran yang mengembangkan ilmu memperpanjang usia, ilmu gaib dan upacara-upacara dari Aliran Tianshi Dao dan Taoisme Mistik yang kemudian dikenal sebagai Aliran Shangqing. Pada saat kematian Lu Xiujing pada tahun 477, Daoisme telah memiliki pengaruh penting di Tiongkok Selatan. Atas jasanya itu, Daoisme menjadi agama yang dapat diterima oleh semua kalangan masyarakat.
Di atas kita telah menyinggung sedikit mengenai kumpulan kitab Daoisme baru yang disebut dengan Shangqing. Kitab-kitab ini mendorong terbentuknya aliran Daoisme baru di samping Tianshi Dao yang sudah ada sebelumnya, yakni Aliran Shangqing atau Daoisme Mistik. Cikal bakal Aliran Shangqing ini sebenarnya adalah seorang wanita bernama Wei Huacun pada masa Dinasti Jin. Nyonya Wei dikatakan telah menerima wahyu dari para dewa dan mencatat ajaran mereka pada sebuah kitab yang berjudul Shangqing Huangding Neiqing Yujing (Kitab Klasik Batu Giok Istana Kuning Mengenai Gambaran-gambaran Internal atas Alam Murni nan Tinggi) pada tahun 288 M. Isinya mengajarkan bahwa organ-organ dalam tubuh manusia dikendalikan oleh sesuatu kekuatan yang disebut dengan “roh-roh penjaga.” Meskipun demikian, gagasan mengenai adanya “roh-roh penjaga” pada tiap-tiap organ tubuh manusia telah dikenal sebelumnya. Kitab Taibingjing yang telah ada sebelumnya menyebutkan:

Jika tubuh berada dalam ketenangan dan energi kehidupan [atau “roh”] dijaga di dalamnya, penyakit tidak akan sanggup berkembang-biak. Anda akan berumur panjang, oleh karena energi-energi yang baik melindungi Anda.

Pada kitab komentar Daodejing yang ditulis oleh He Shanggong, disebutkan apabila seseorang dapat membina “roh-roh penjaga” yang terdapat dalam tubuhnya, ia dapat mencapai keabadian. Kelima “roh-roh penjaga” yang berdiam dalam organ manusia itu adalah sebagai berikut:

1. Hati tempat berdiam roh manusia
2. Paru-paru tempat berdiam jiwa manusia
3. Jantung tempat benih roh abadi
4. Limpa tempat berdiam keinginan-keinginan manusia
5. Empedu tempat berdiam energi pembangun

Apabila kelima organ tersebut mengalami gangguan, kelima roh itu akan meninggalkannya.
Orang yang berjasa menyebarkan Aliran Shangqing ini adalah Yang Xi. Dikatakan bahwa ia telah menerima penampakan dari Nyonya Wei yang saat itu telah menjadi dewi. Ia kemudian mencatat ajaran-ajaran dari Nyonya Wei tersebut dan selanjutnya diwariskan kembali pada Xu Hui dan Xu Mi (ayah dan anak). Kitab-kitab Aliran Shangqing lainnya adalah Taishang Baowen (Tulisan Suci dari Yang Tertinggi), Dadong Zhenjing (Kitab Sejati dari Gua Agung), dan Basu Yinshu (Kitab Tersembunyi mengenai Delapan Kesederhanaan).
Para penganut Aliran Shangqing ini berhubungan satu sama lain melalui ikatan keluarga atau perkawinan. Xu Hui dan Xu Mi ini berkerabat dengan Ge Hong, yang menulis kitab Baopuzi (lihat kembali bagian 8.4). Anggota lain keluarga Ge yang ikut berjasa dalam Aliran Shangqing adalah Ge Xuan. Ia mengumpulkan menjadi satu Kitab-Kitab Lingbao dari Daoisme.
Bentuk awal dari Aliran Shangqing menggabungkan banyak aspek dari Aliran Tianshi Dao. Mereka menggunakan jimat-jimat dan menjadikan Yuanshi Tianqun (nama lain dari Lao Zi), sebagai dewa tertinggi mereka. Mereka juga memakai kitab-kitab Taipingjing, Zhengyi Fawen (Aturan-aturan dan Kitab-kitab aliran Tianshi Dao), Taishang Lingbao Wufujing, dan kitab-kitab Lingbao lainnya sebagai kitab utama mereka.
Apa yang menjadi pembeda antara Aliran Shangqing dengan Tianshi Dao adalah:

1. Aliran Shangqing mengajarkan untuk memelihara “roh-roh penjaga” dalam tubuh, demi tercapainya kesehatan tubuh umur panjang, sedangkan Aliran Tianshi Dao tidak mengenal paham ini dan lebih meyakini bahwa penggunaan jimat dan ramuanlah yang bertujuan menyembuhkan penyakit serta menjaga kesehatan tubuh.

2. Aliran Tianshi Dao menggunakan jimat untuk menyembuhkan penyakit, mengusir setan, dan melindungi diri terhadap roh jahat, sedangkan Aliran Shangqing menggunakan jimat untuk memanggil dan memvisualisasikan “roh-roh penjaga” di dalam tubuh serta mengadakan perjalanan menuju alam realita lainnya.

Meskipun terdapat perbedaan, hal ini tidaklah mengundang permusuhan dari Aliran Tianshi Dao yang lebih tua. Memang, toleransi beragama telah dijunjung tinggi di Tiongkok semenjak jaman dahulu.
Tokoh selanjutnya yang ikut mengembangkan Aliran Shangqing adalah Tao Hongjing (yang warisannya dalam ilmu pengobatan telah kita bahas pada bagian 9.5). Setelah mengundurkan diri dari jabatannya dan berdiam di Maoshan, sebuah gunung di Propinsi Jiangsu, ia menulis kembali silsilah Aliran Shangqing, mencatat otoritas pewariskan ajarannya, mencatat susunan penghuni alam kedewaan beserta jabatan-jabatan dan wewenang di dalamnya. Oleh karena itu Tao Hongjinglah yang berjasa menetapkan kosmologi kedewaan Taois. Tingkatan para dewa tersebut dibagi-bagi berdasarkan tingkat pencapaian kesucian mereka. Tao Hongjing juga tertarik dengan ilmu alkimia (nenek moyang ilmu kimia) dan ia mempunyai sebuah laboratorium di Maoshan (Gunung Mao) yang dibiayai oleh kerajaan. Dengan laboratorium itu ia berusaha menciptakan pil panjang umur dan memperkenalkan penggunaan mineral serta rempah-rempah untuk menjaga kesehatan dan memperpanjang usia ke dalam Aliran Shangqing. Aliran Shangqing yang didirikan oleh Tao ini dikenal sebagai Cabang Maoshan atau lengkapnya Aliran Maoshan Shangqing (Aliran Maoshan Shangqing ini berbeda dengan Aliran Maoshan yang menekankan ilmu gaib pada masa Dinasti Ming).
Kita akan mempelajari secara sekilas mengenai Gunung Mao tersebut, mengingat arti pentingnya bagi Daoisme, dimana gunung ini dianggap suci oleh umat Daois. Maoshan sebagai gunung suci ini tercantum dalam kanon kitab-kitab Dao (Daozhang) dan juga kitab-kitab lainnya. Sesungguhnya, nama asli gunung ini adalah Di Fei dan terkadang disebut pula Ji Qi. Pada tahun 153 SM, terdapat seorang sesepuh bernama Mao Ying, yang bertapa mendalami Dao di sana. Mao Ying kemudian diikuti oleh dua adiknya yang lain. Ketiga Mao bersaudara itu sering menolong rakyat tanpa pamrih dan tidak membeda-bedakan antara kaya dan miskin. Untuk mengenang jasa-jasa mereka, nama gunung tersebut diganti menjadi Gunung Mao (Maoshan). Gunung Mao ini telah menghasilkan pakar-pakar Taoism yang terkenal seperti: Ge Hong, Lu Xiujing , dan Tao Hongjing sendiri.
Kini kita akan sedikit membahas lebih dalam ajaran Aliran Shangqing. Ajaran aliran ini dibagi menjadi tiga hal: “alam semesta bagian dalam”, “alam semesta bagian luar”, dan perpaduan keduanya. Alam semesta bagian dalam meliputi tubuh manusia sendiri, yang dipenuhi oleh makhluk suci, roh, dan monster. Sehingga dengan demikian Aliran Shangqing meyakini bahwa terdapat makhluk suci dan roh-roh yang menjaga tubuh dari penyakit. Hal ini menarik sekali, mengingat ilmu kedokteran modern, juga menemukan keberadaan darah putih, yang juga menjaga tubuh manusia dari penyakit (fungsi kekebalan tubuh). Apabila para roh pelindung ini telah meninggalkan tubuh, maka tubuh manusia akan melemah dan akhirnya mati. Oleh sebab itu, Aliran Shangqing sebagian besar menitik beratkan pada usaha untuk menjaga agar “roh-roh penjaga” tersebut tidak lemah atau pergi. Selain adanya makhluk-makhluk suci tersebut, mereka juga meyakini keberadaan tiga monster yang menjaga tiga titik pada tulang punggung. Monster-monster tersebut memiliki kemampuan untuk menghambat jalan energi kita, namun mereka menjadi kuat dikarenakan oleh makanan yang kita makan. Karenanya, demi menjaga agar monster tersebut tidak menjadi terlampau kuat, para praktisi melakukan puasa atau diet tertentu. Alam semesta bagian luar meliputi segala sesuatu di luar kita yang juga dihuni banyak roh dan dewa. Yang terpenting dari mereka hidup di matahari, bulan, dan bintang-bintang.

7.Perkembangan semasa Dinasti Tang

a. Kondisi umum

Zaman Dinasti Tang adalah masa kejayaan Daoisme. Seluruh kaisar Dinasti Tang, dengan Wu Zetian sebagai pengecualian adalah penganut Daoisme yang taat (meskipun mereka juga menghargai Buddhisme). Kejayaan Daoisme semasa Dinasti Tang didukung oleh dua faktor. Yang pertama adalah karena nama keluarga kaisar kebetulan sama dengan Laozi, sang pendiri Daoisme. Oleh karena itu, mereka memandang diri mereka sebagai keturunan Laozi. Faktor kedua adalah karena Daoisme menjanjikan pil panjang umur atau hidup abadi bagi para kaisar, padahal obat yang diramu pada pendeta Daois itu justru membahayakan kesehatan kaisar sendiri, karena mengandung berbagai substansi beracun. Beberapa kaisar Dinasti Tang tewas keracunan "obat panjang usia" ini. Puncak keemasan Daoisme terjadi semasa pemerintahan Kaisar Xuanzong. Kuil-kuil Daois dibangun di seantero negeri, namun keyakinan ini hanya tersebar di kalangan bangsawan saja, sehingga tidak dapat dibandingkan dengan pengaruh Buddhisme terhadap rakyat jelata.

b. Berkembangnya Daoisme Alkimia (Aliran Taijing)

Alkimia merupakan nenek moyang dari ilmu kimia, dan telah diterapkan pada sebagian besar belahan dunia ini jauh sebelum ilmu kimia yang berdasarkan metode ilmiah berkembang. Aliran Daoisme yang menitik-beratkan pada alkimia ini juga disebut sebagai Taijing. Aliran Taijing membagi alkimia menjadi dua, yakni alkimia eksternal dan internal. Alkimia eksternal menitik-beratkan penggunaan rempah-rempah dan mineral-mineral tertentu untuk menjaga kesehatan, memperpanjang usia, atau bahkan menjadikan orang yang meminumnya tidak dapat mati. Rempah-rempah dan mineral tersebut kemudian diolah menjadi pil. Alkimia internal menunjukkan bahwa segala macam unsur untuk menjadikan seseorang sehat, panjang umur, atau bahkan hidup abadi telah terdapat dalam tubuh manusia itu sendiri. Sehingga alkimia internal lebih bertujuan untuk mengembangkan serta mengolah energi hidup dalam tubuh manusia sendiri tanpa bantuan obat-obatan dari luar.
Sesungguhnya, perhatian Daoisme pada kesehatan dan umur panjang dapat ditelusuri pada karya-karya Lao Zi dan Zhuangzi. Sebagaimana yang telah kita bahas sebelumnya, terdapat dua golongan kaum fangshi. Yang pertama mengkhususkan diri pada penggunaan jimat-jimat untuk kesembuhan dan mereka merupakan pendahulu dari Aliran Tianshi Dao. Sementara kelompok lainnya menekankan pada teknik-teknik utuk memperpanjang usia, menjaga kesehatan, dan mencapai kehidupan abadi dengan bantuan ramuan-ramuan dan merupakan pendahulu bagi Aliran Taoisme Alkimia (Taijing).
Cikal bakal aliran ini adalah Wei Boyang yang hidup pada masa Dinasti Han Timur. Legenda mengisahkan bahwa ia bereksperimen menciptakan pil hidup abadi. Ketika yakin telah berhasil, ia memberikan pil tersebut pada anjingnya. Anjing tersebut terjatuh dan seolah-olah telah mati. Wei Boyang sendiri kemudian menelan pil itu dan juga jatuh tak sadarkan diri. Wei Boyang mempunyai dua orang murid, yang seorang setelah melihat kejadian itu menjadi kehilangan kepercayaan dan meninggalkan tempat tersebut. Sementara itu murid lainnya yang memiliki keyakinan kuat, menelan pil terakhir dan juga jatuh bagaikan mati. Tak lama kemudian mereka bertiga hidup kembali, merasakan tubuhnya ringan dan selanjutnya terbang ke langit menjadi dewa. Wei meninggalkan sebuah kitab yang berjudul Candongqi (Kesatuan Rangkap Tiga). Sama dengan ajaran yang terdapat pada Aliran Daoisme sebelumnya, Candongqi menyebutkan bahwa Dao adalah sumber segala sesuatu, termasuk kehidupan. Ketika alam terus menerus memperbaharui dirinya sesuai dengan Dao, begitu pula manusia dapat memperbaharui dirinya terus menerus dan mencapai keabadian dengan cara menyelaraskan diri dengan prinsip-prinsip ini.
Pada perkembangan selanjutnya, para kaisar Dinasti Tang benar-benar tergila-gila pada pil yang dapat membuat hidup abadi atau memperpanjang usia. Jumlah kaisar Dinasti Tang yang mati keracunan obat-obatan pembuat hidup abadi melebihi dinasti-dinasti lainnya. Obat pembuat hidup abadi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial kemasyarakatan dan kerajaan menunjang eksperimen untuk menciptakan obat semacam itu.
Pada masa akhir Dinasti Tang, orang mulai bertanya-tanya apakah pembuatan pil hidup abadi merupakan hal yang masuk akal. Pertanyaan ini menyebabkan orang untuk merenungkan dan mendefinisi ulang makna keabadiaan. Salah satu makna keabadian ini disumbangkan oleh Agama Buddha: keabadian merupakan hasil pembebasan dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tanpa akhir. Definisi lainnya adalah umur panjang dan kesehatan yang baik. Pandangan-pandangan baru tersebut di atas yang menyebabkan para penganut Aliran Taijing berpaling pada yoga dan meditasi. Setelah runtuhnya Dinasti Tang, usaha manusia untuk mencari keabadian dengan jalan mengkonsumsi dan mengolah berbagai rempah-rempah dan mineral berakhir sudah, dan dengan demikian alkimia eksternal ikut berakhir. Sebagai ganti mengkonsumsi substansi pemanjang usia, orang mulai mengembangkan berbagai teknik yoga demi menjaga dan meningkatkan kesehatan, yang di antaranya disebut Qigong.

8.Perkembangan semasa Dinasti Song

Kehancuran Dinasti Tang diikuti masa kacau selama kurang lebih 60 tahun, dan sesudahnya Dinasti Song (960 – 1279) berhasil mempersatukan Tiongkok kembali. Masa pemerintahan Dinasti Song ini merupakan zaman keemasan ilmu alkimia internal. Tokoh terkenal alkimia internal pada masa ini adalah Lu Dongbin yang merupakan murid Zhongli Quan. Lu Dongbin mewariskan ajarannya pada berbagai muridnya. Salah seorang di antara mereka adalah Chen Xiyi yang terkenal dengan pelatihan Qigongnya, di mana teknik ini merupakan penggabungan Yijing serta usaha untuk melancarkan aliran energi dalam tubuh. Murid lainnya adalah Wang Zhe atau juga disebut Wang Chongyang (1123 – 1170). Dialah yang menggabungkan Ajaran Dao, Buddha, dan Konfusianisme. Selain itu, ia juga merupakan pendiri Aliran Quanzhen (Realitas Sempurna, juga disebut aliran Dan Ding), meskipun aliran tersebut baru dinamakan demikian setelah kematiannya. Tokoh-tokoh alkimia internal berikutnya adalah Zhang Boduan, Qiu Changchun, Qiu Chuji, dan Zhang Sanfeng. Zhang Sanfeng (lebih terkenal dengan nama Thio Sam Hong) inilah yang menggabungkan antara alkimia internal dan ilmu bela diri, dimana ia juga merupakan pencipta Taiqichuan.
Qiu Chuji (1148 –1237) adalah penerus ajaran Wang Zhe yang diundang oleh Genghis Khan, karena tertarik oleh obat keabadian. Ia mengatakan pada penguasa Mongol tersebut, bahwa obat semacam itu sebenarnya tidak ada dan keabadian hanya dapat dicapai melalui perealisasian Dao. Qiu banyak memberikan nasihat agar Khan tidak banyak membunuh. Ia pandai pula menulis puisi dan banyak sekali puisinya yang tersimpan hingga saat ini, demikian pula catatan perjalanan perjalanannya ketika mengunjungi Genghis Khan.

9.Perkembangan semasa Dinasti Yuan

Barangkali episode paling menarik semasa Dinasti Yuan adalah perselisihan antara Buddhisme dan Daoisme, dimana khan harus turun tangan untuk menyelesaikannya. Sebelum mengenal Buddhisme, para penguasa Mongol lebih dahulu tertarik pada Daoisme. Qiu Chuji yang merupakan seorang mahaguru Daois aliran Quanzhen diundang oleh Genghis Khan karena tertarik dengan obat panjang usia., Genghis Khan yang kagum dengan ajarannya lalu mengangkat Qiu sebagai pemimpin tertinggi Daois dan juga agama-agama lainnya termasuk Buddhisme. Dengan memanfaatkan kedudukan pemimpin mereka, para pendeta Daois mulai bertindak ugal-ugalan dan dengan seenak sendiri menyita serta mengambil alih vihara-vihara Buddhis. Bahkan mereka menghancurkan dan mengganti patung-patung Buddha dengan dewa-dewi Daois.
Mereka mengembangkan doktrin yang menyatakan bahwa Buddha hanyalah salah satu dari 81 penjelmaan Laozi, sehingga Daoisme dianggap lebih unggul dan merupakan asal muasal Buddhisme. Lukisan-lukisan yang menggambarkan 81 penjelmaan Laozi (Bashiyihuatu) ini disebarkan ke mana-mana. Kaum Daois menyebarkan pula doktrin lainnya bahwa Laozi pernah pergi ke India dan mengajarkan Daoisme pada Buddha. Doktrin ini didasarkan atas kitab palsu berjudul Laozi Huahujing (Kitab Laozi Mempertobatkan Kaum Barbar), yang ternyata isinya justru banyak mengutip kitab-kitab Buddhis. Setelah kematian Qiu Chuji, perseteruan makin menjadi-jadi, sehingga Mangu Khan mengundang mereka semua untuk menyelesaikan masalahnya. Karena gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan (termasuk bukti keotentikan Laozi Huahujing), kaum Daois dianggap kalah. Pihak Buddhis dengan segera menuntut umat Daois yang telah merampas vihara dan menghancurkan patung-patung mereka. Mangu lalu mengeluarkan titah bahwa vihara yang telah dirampas harus dikembalikan kepada umat Buddha, patung-patung yang dihancurkan harus diganti oleh pihak Daois, serta melarang penyebaran kitab-kitab palsu yang merendahkan Buddhisme.
Oleh karena kaum Daois menolak untuk memenuhi titah ini, umat Buddhis melaporkannya kembali pada khan (1256). Namun, Mangu Khan yang sudah jenuh dengan masalah ini lalu meminta saudaranya Kubilai untuk mengambil alih penyelesaiannya. Pada tahun 1258, Kubilai mengundang 300 umat Buddhis, 200 umat Daois, dan 200 kaum Konfusianis ke ibukotanya di Karakorum. Setelah melalui perdebatan panjang, pihak Daois akhirnya mengakui bahwa naskah Daois yang asli hanyalah Daodejing dan di sana tidak pernah disebutkan bahwa Laozi pernah pergi ke India dan mengajar Buddha. Kubilai lalu memerintahkan agar seluruh naskah Laozi Huahujing dikirim ke ibukota untuk dibakar dan begitu pula halnya dengan lukisan Bashiyihuatu. Pelanggaran akan hal ini akan mendapatkan hukuman yang berat. Setelah menjadi kaisar, Kubilai meneguhkan kembali perintah ini dalam bentuk titah kekaisaran yang dikeluarkan pada tahun 1261.
Untuk sementara waktu perseteruan ini mereda, tetapi pada tahun 1280, umat Daois membakar sendiri kuil mereka, tetapi menuduh umat Buddhis sebagai pelakunya. Penipuan ini segera terbongkar dan pencetusnya dijatuhi hukuman mati. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh umat Buddhis untuk melaporkan pelanggaran-pelanggaran yang masih dilakukan oleh kaum Daois, seperti mengedarkan secara sembunyi-sembunyi kitab-kitab yang dilarang. Investigasi yang dilakukan oleh pihak berwenang ternyata mengungkapkan hal yang jauh lebih parah dibandingkan dengan tuduhan itu. Plat dan huruf-huruf untuk mencetaknya masih disembunyikan oleh kaum Daois dan karya-karya terlarang memang masih diedarkan dengan judul lain. Mengetahui kenyataan ini, Kubilai Khan mengeluarkan titah pada bulan ke-10 tahun 1281 bahwa seluruh naskah Daois dengan Daodejing sebagai pengecualian harus dimusnahkan beserta plat-plat pencetaknya. 

Rabu, 21 Agustus 2013 1 komentar

Liang Hwang Pao Chan atau Sadhana pertobatan mulia Kaisar Liang

Liang Hwang Pao Chan atau Sadhana pertobatan mulia Kaisar Liang adalah suatu sadhana yg legendaris yg disusun pd jaman Dinasti Liang. Kaisar Liang Wu Ti adalah Kaisar Dinasti Liang (di China) yang memerintah antara tahun 502-547. Pada usia 30 tahun Sang Permaisuri wafat. Meskipun telah meninggal beberapa bulan, Sang Kaisar masih bermuram-durja saja baik siang maupun malam. Pada suatu hari, saat sedang di kamar tidur, ia mendengar ada suara berisik di luar. Begitu melihat, ada seekor ular besar sedang bertengger di ruang utama. Sambil menyeringai, ular ini mengerdip-ngerdipkan mata kepada Sang Kaisar. Kaisar menjadi ketakutan, mau lari menyelamatkan diri, apa lacur tiada jalan keluar. Akhirnya ia memberanikan diri berseru kepada ular, "Istana Kaisar dijaga ketat bukan tempat tinggal bagi ular seperti Anda, Anda pasti siluman, apakah ingin mencelakai saya?" Si ular menjawab dengan suara manusia, "Saya adalah permaisuri Anda. Karena semasa hidup suka iri hati, bersifat kejam, bila marah, benda mati maupun hidup tidak luput dari amukan saya. Setelah meninggal, karena dosa-dosa ini terlahir sebagai ular. Tiada makan dan minum, tiada lubang tempat berteduh, hidup serba kekurangan, tidak berdaya. Ditambah lagi setiap sisik saya tumbuh banyak ulat, daging dan otot digigit dan digerogoti, sakit sekali bagai dicungkil pisau. Karena terlahir sebagai ular besar, bukan ular biasa, sehingga memiliki kemampuan khusus dapat menerobos penjagaan ketat istana. Mengetahui Kaisar amat menyayangiku, oleh karena itu menampakkan diri yang buru rupa ini di hadapan Kaisar, memohon bantuan untuk diselamatkan." Setelah itu ular besar ini pun menghilang.

Pada keesokan harinya, Kaisar mengumpulkan sejumlah bhiksu di istana, menceritakan kisah ini, kemudian menanyakan jalan keluar untuk membebaskan permaisuri dari penderitaan. Oleh Bhiksu Pao Ce dikatakan bahwa pengakuan dosa dengan bersujud kepada para Buddha dapat menyelamatkan permaisuri. Sang Kaisar lalu memerintahkan Bhiksu Pao Ce dan bhiksu lainnya membuat kitab pertobatan dosa berdasarkan berbagai kitab suci agama Buddha. Setelah itu menyelenggarakan upacara pertobatan dosa untuk Sang Permaisuri.

Tak lama setelah upacara dilangsungkan, pada suatu hari, istana diliputi wangi yang harum sekali. Secara kebetulan pada saat Sang Kaisar menengadah ke atas, tampak seorang dewa yang amat anggun. Sang Dewa berkata,"Saya adalah jelmaan ular besar. Berkat jasa-jasa Kaisar, saya telah terlahir di alam Trayastrimsa (Surga Tiga Puluh Tiga). Kini menampakkan diri untuk menunjukkan keampuhan pengakuan dosa. Terima kasih banyak." Sesudah berkata demikian, Sang Dewa pun segera menghilang.

Semenjak itu Sadhana Pertobatan ini mulai dikenal secara luas dan dijalankan oleh umat Buddhis Mahayana dalam menjalankan pertobatannya.

Seperti yg termaktub pada awal kitab ini, pembacaan Kitab Pertobatan Dosa Kaisar Liang mempunyai 12 harapan :
1. Semoga makhluk hidup di keenam alam memiliki pikiran luhur yang tiada batasnya.
2. Semoga kebajikan luhur yang tiada batasnya ini dapat membalas jasa semua welas asih yang telah diterima.
3. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup mematuhi sila (moralitas), tidak berpikiran untuk melanggarnya.
4. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak acuh tak acuh terhadap yang patut dihormati.
5. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup, dimana saja mereka berada tidak timbul pikiran dendam atau marah.
6. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak iri terhadap apa saja.
7. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak pelit terhadap apa saja.
8. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup tidak egois terhadap rejeki yang telah diperoleh, tetapi membagikan juga kepada semuga yang tidak terlindungi.
9. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup menjalankan empat perbuatan Boddhisattva bukan hanya untuk diri sendiri saja.
10. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup bila melihat orang sakit-sedih-tiada sanak keluarga timbul pikiran untuk menolong agar mereka memperoleh kebahagiaan.
11. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini bila ada makhluk hidup harus ditundukkan (kebajikan), menjadi tertunduk; bila ada makhluk hidup yang harus diterima, menjadi diterima.
12. Semoga dengan kekuatan kebajikan ini membuat semua makhluk hidup, dimana saja mereka berada selalu ingat untuk mengembangkan Bodhicitta, membuat Boddhicitta ada terus tiada putus-putusnya.
0 komentar

Asal Muasal Pertobatan Kaisar Liang

Ketika permaisuri tercinta dari Kaisar Liang, Permaisuri Chi sedang sakit berat, dayangnya menyuapkanair kepadanya, karena kurang hati-hati air tumpah dan membasahi pakaian Permaisuri Chi. Permaisuri Chi marah dan memukul dayangnya. Tidak lama kemudian, karena sakit beratnya Permaisuri Chi pum wafat.

Beberapa bulan setelah kematian Permaisuri Chi, Kaisar Liang sering merindukannya. Tiba-tiba suatu malam Kaisar Liang melihat seekor ular sanca merayap ke istana dan berbicara kepada Kaisar, ”Saya adalah Permaisuri Chi, karena semasa saya masih hidup saya suka iri kepada pejabat kekaisaran dan berhati kejam. Sekali saya marah saya langsung menjatuhkan hukuman mati. Makanya setelah wafat saa terlahir menjadi ular sanca dan seluruh tubuh saya sakit sekali. Mohon Kaisar Liang menolong saya.”

Itu sebabnya Kaisar Liang mengumpulkan seluruh bhiksu senior untuk menulis kitab pertobatan dan melakukan pertobatan untuk Permaisuri Chi.
Suatu hari Kaisar Liang mencium keharuman yang aneh dan melihat sesosok dewi yang anggun dan cantik. Sang dewi memberitahu Kaisar, “Dulunya saya adalah Permaisuri Chi. Berkat kebajikan yang dilakukan Kaisar Liang untuk saya, sekarang saya telah terlahir di Surga Trayastrimsa. Sekarang Saya khusus datang untuk membuktikan kepada Kaisar.”

Inilah asal muasal dari Pertobatan Kaisar Liang; dan selama ribuan tahun terakhir, siapapun yang melakukan pertobatan Kaisar Liang ini akan mengalami kontak batin yang luar biasa.
0 komentar

Mengenal Sekilas 13 Patriarch Aliran Sukhavati


Patriarch ke 1  : Hui-Yuan


Patriarch ke 1  : Hui-Yuan (334-416, AD)
 
Master Hui-yuan hidup pada abad ke 4 di masa dinasti Jin Timur di gunung Lu, Jiang-xi. Sejak kecil dia suka belajar, tidak hanya menguasai ajaran Konfucius bahkan ajaran Taoisme juga dipahaminya dengan jelas. Pada usia 21 tahun dia ditabhiskan oleh Master Dao An dan bertekad untuk menyebarkan ajaran Buddha. Dia mendirikan Vihara Dong-lin di gunung Lu, di mana tempat berkumpulnya 123 orang dan membentuk asosiasi lotus untuk pertama kalinya. Mereka melafal nama Buddha bersama dan bertekad lahir di Alam Sukhavati. Selama 30 tahun menetap di Gunung Lu, beliau menulis tentang metode melafal nama Buddha, kemudian dia dikenal sebagai pendiri aliran Sukhavati di China.

莲宗初祖庐山东林远公大师(334-416, AD)
东晉庐山慧遠大師(HuiYuan)雁門(山西崞县)人,幼年好学,通达六经,精晓儒道。年廿一礼道安大师出家,誓弘佛教,於庐山建东林寺,鑿池种莲。集緇素百二十三人共結莲社,立誓念佛求生西方。居庐山三十年,著书立说倡导念佛法门,为世所崇.乃中国佛教净土宗之创始人.
 


Patriarch ke 2 : Shan-Dao




Patriarch ke 2 : Shan-Dao (AD 613-681)
 
Master Shan-Dao tinggal di Vihara Guang Ming, Chang-an, ibukota China pada abad ke 7 masa Dinasti Tang. Hidup dengan sederhana, menaati sila dengan disiplin. Pada usia yang masih muda telah menjadi Bhiksu, tinggal di Chang-an selama lebih dari 30 tahun, tekun melafal Amituofo, menyebarkan ajaran Sukhavati. Dia menulis penjelasan pada tiga sutra aliran Sukhavati. Dia menyalin kembali Amitabha Sutra sebanyak lebih dari 100.000 gulungan dan menghasilkan lebih dari 300 buah lukisan tentang Sukhavati. Karena sewaktu melafal nama Buddha, dari mulut Master Shan-Dao keluar cahaya terang, maka itu beliau disebut “Bhiksu Cahaya Terang”. Aliran Sukhavati  Jepang menghormatinya sebagai Sesepuh Terkemuka.

莲宗二祖长安光明导公大师(613-681,AD)
 
唐朝长安光明寺善导大师(Shan Dao)山东临淄人,字净业,一生精苦勤笃,严持律仪,丝毫不犯。少年出家,居长安三十余载,精勤念佛,广弘净土。为净土三经注疏,写《阿弥陀经》十万余卷,画<<西方净土圣相>>三百余壁。师因念佛口出光明故,世人尊为"光明和尚"。日本净土宗更奉为高祖。
 

Patriarch ke 3 : Cheng-Yuan



Patriarch ke 3 : Cheng-Yuan (712-802, AD)
 
Master Cheng-Yuan hidup pada masa Dinasti Tang pada abad ke 8 di vihara Gunung Heng di Hunan, China. Setelah menjadi bhiksu, dia berkelana menimba ilmu, bertemu Master Hui Ri yang mengajarinya Samadhi Pelafalan Nama Buddha berdasarkan Maha Sukhavati Vyuha Sutra, bertekad lahir di Alam Sukhavati. Selama tinggal di Gunung Heng, dia memantapkan diri di dalam ajaran Sukhavati, hidup sederhana dan melatih diri dengan disiplin. Membangun Vihara Amitabha, melatih pratyutpanna-samādhi pelafalan nama Buddha,  mengajari puluhan ribu insan, akhirnya Kaisar Tang Dai-zong memberinya gelar Vihara Pratyutpanna.




莲宗三祖南岳般舟远公大师(712-802, AD)
 
唐朝南岳承远大师(ChengYuan)汉州(今四川锦竹县)人。出家之后曾四处游访参学,慧日三藏教之依<<无量寿经>>修念佛三昧,乃笃志净土.居南岳衡山(今湖南省)设净土教法,生活检朴,刻苦办道。建弥陀寺(今祝圣寺),修持<般舟三昧念佛>法门,受其教者万计,后被唐代宗恭称为<般舟道场>.
 




Patriarch ke 4 : Fa-Zhao




Patriarch ke 4 : Fa-Zhao
Master Fa-Zhao hidup pada masa Dinasti Tang pada abad ke 9. Beliau juga bergelar “Master Lima Lantunan”. Menjadi bhiksu pada usia muda, mengkagumi ajaran Master Hui Yuan dari Vihara Dong-lin, segenap hati melafal nama Buddha. Dalam samadhinya, memperoleh bimbingan langsung dari Patriarch Kedua. Dia tekun melatih diri di Vihara  Yun-feng di Hunan.
 Suatu hari dia melihat di dalam mangkok patranya ada pemandangan Gunung Wu Tai, lalu dia berkunjung ke sana. Kemudian dia bertemu dengan Bodhisattva Manjusri, yang membabarkan ajaran Sukhavati padanya.
Pada tahun ke 4 masa pemerintahan Kaisar Da Li, Master Fa-Zhao mulai membangun “Vihara Lima Lantunan Lafalan Nama Buddha”.  Seluruh lapisan masyarakat memberikan sambutan yang hangat. Akhirnya berdirilah Vihara Zhu-lin  di Gunung Wu Tai untuk menyebarkan ajaran Sukhavati.
Kaisar Tang Dai-zong jadi terkesan pada “Lima Lantunan Lafalan Nama Buddha”, lalu mengundang Master Fa-Zhao ke istana dan mengangkatnya menjadi Guru Kerajaan untuk mengajari “Lima Lantunan Lafalan Nama Buddha”, karena itu beliau juga digelar “Master Lima Lantunan”.

 



莲宗四祖五台竹林照公大师(生卒年籍贯皆不祥)
 
唐朝五台法照大师又称五会法师(Fa Zhao),少年为僧,仰慕东林远公遗教,至心念佛,定中得见二祖授 真传.居衡洲云峰寺精勤修行。于钵内见五台圣境,后诣五台,亲见文殊,为说念佛法门。大历四年,于湖东寺开设<五会念佛>道场,从宫廷至蔗民感应殊胜。遂于五台山建竹林寺广弘净土法门,唐代宗于京城感应师于五台念佛之声,礼请入宫尊称为国师,教导五会念佛法,故又称五会法师".
 



Patriarch ke 5 : Shao Kang




Patriarch ke 5 : Shao Kang ( 770-805, AD)
 
Master Shao Kang hidup pada abad ke 9 masa Dinasti Tang di Zhe-jiang, China. Menjadi bhiksu pada usia muda, mempelajari sutra ajaran Sukhavati, dan berkonsentrasi pada metode melafal nama Buddha. Pernah demi menyebarkan ajaran, dia membagikan uang kepada anak-anak agar mau melafal nama Buddha, agar seluruh lapisan masyarakat mau melafal nama Buddha. Ketika Master Shao Kang melafal nama Buddha, dari mulutnya terpancar cahaya dan dalam cahaya terdapat rupang Buddha Amitabha. Akhirnya dia mendirikan vihara aliran Sukhavati di Gunung Hei-long di Lu-zhou. sebagai tempat umat berkumpul untuk melafal nama Buddha dan menyebarkanluaskan ajaran Sukhavati.
  
莲宗五祖新定乌龙康公大师(770-805, AD)
 
唐朝新定少康大师(Shao Kang)缙云(浙江)人。少年出家,博通经论,志心净土,专修念佛。曾为方便施教故,将乞食钱散诱小儿念佛,接引群生信受念佛法门。师念佛时,口出光明现阿弥陀佛像。后于睦州乌龙山建净土道场,集众念佛,大弘净土。
 




Patriarch ke 6 : Yan-Shou




Patriarch ke 6 : Yan-Shou (904-975, AD)
 
Master Yan-Shou hidup pada abad ke 10 masa Dinasti Song di Vihara Yong-ming di Hang-zhou, China. Sebelum menjadi bhiksu, dia adalah seorang jenderal, suka melakukan kebajikan dan berdana, tidak membunuh dan melepaskan makhluk hidup. Ketika baru ditabhiskan beliau diangkat menjadi sesepuh ketiga sekte Dharma-Eye dari aliran Chan. Namun akhirnya beliau beralih ke Aliran Sukhavati dan tekun melafal nama Buddha, Setiap hari dia menetapkan 108 jenis pelajaran yang harus dilaksanakannya, sehari harus melafal puluhan ribu nama Buddha, menggabungkan metode melatih diri aliran Sukhavati dan aliran Chan, dengan ajaran Sukhavati sebagai inti dan ajaran Chan sebagai kedisiplinan.
 
莲宗六祖杭州永明寿公大师(904-975,AD)
 
宋朝杭州慧日山永明寺延寿大师(Yan Shou)浙江坑县人又名智觉禅师,将军出身,行善好施,戒杀放生.初 出家本为禅门法眼宗第三代祖,后归心净土,精进念佛,每日订功课一百零八种,日持佛号数万,作四料简提倡禅净双修。着有《宗镜录》百卷及《万善同归集》等传世.
 




Patriarch ke 7 : Sheng-Chang





Patriarch ke 7 : Sheng-Chang (959-1020, AD)
 
Master Xing Chang hidup pada masa Dinasti Song pada abad ke 11, merupakan penduduk provinsi Zhe-jiang, China. Semasa menjadi umat awam namanya Zao Wei. Ketika usianya masih kecil, dia telah menjadi bhiksu, tekun melatih diri, disiplin dalam menjalankan sila, menguasai Sraddhotpada Sastra, juga melatih metode Samatha Vipasyana seperti yang diajarkan aliran Tian Tai. Selama menetap di Vihara Zhāo-qìng, Hang-zhou, beliau mengukir rupang Buddha, meneteskan darahnya sendiri untuk menyalin Avatasamka Sutra dan sebagainya. Dia berhasil menciptakan suasana keagamaan di kalangan masyarakat, setiap insan berminat melatih diri mencari pencerahan, mengadakan kebaktian bersama, sehingga ajaran Sukhavati berkembang pesat pada masa itu.
莲宗七祖杭州昭庆常公大师(959-1020,AD)
 
宋朝杭州省常大师(Xing Chang)浙江人,字造微,童真入道,精进修持,戒行严谨,通《大乘起信论》, 修天台止观.住杭州西湖昭庆寺,雕刻佛像,刺血书写《华严经》等。结净行社,率众共修,遂使念佛求生净土蔚然成风.
 



Patriarch ke 8 : Lian-Chi




Patriarch ke 8 : Lian-Chi (1532-1612, AD)
 
Master Lian Chi hidup pada masa Dinasti Ming di abad ke 17 di Vihara Yún qī  di Hang-zhou, China. Di usia 17 tahun dia telah mendapatkan gelar sarjana, terkenal baik pendidikan maupun budi pekertinya. Setelah menjadi bhiksu, beliau memusatkan diri dalam mempelajari ajaran Buddha. Untuk memadukan ajaran Sukhavati dan ajaran Chan, beliau menulis buku penjelasan tentang Sutra Amitabha dengan prinsip aliran Chan. Beliau juga menerapkan upacara kebaktian untuk meringankan penderitaan para makhluk di alam samsara. Master Lian Chi menempati urutan pertama dari 4 bhiksu agung pada masa Dinasti Ming.
莲宗八祖杭州云栖宏公大师(1532-1612, AD)
 
明朝杭州云栖寺祩宏大师(Zhu Hong)杭州人,号莲池(Lian Chi)亦称云栖大师。年十七岁中秀才,以学问德行著称。出家后博学经教,融通禅净二宗,以禅理疏《弥陀经》。制定水陆仪文,瑜伽焰口法,以济幽冥之苦.著作甚丰,<<云栖法汇>>刊行于世,为明朝四大高僧之一。



Patriarch ke 9 : Ou Yi





Patriarch ke 9 : Zhi-Xu (1598-1655 AD)
 
Master Zhi-Xu hidup pada masa Dinasti Qing pada abad ke 17 di provinsi Jiang-su, China. Nama lainnya adalah Master Ou-Yi. Pada usia belia, dia merupakan penganut konfucius yang anti ajaran Buddha. Tetapi ketika menginjak usia 17 tahun dia menjadi tercerahkan saat membaca karya tulis Master Lian-Chi. Dia bertekad memperbaiki sikapnya, menjadi bhiksu dan menyebarkan ajaran Buddha, menyerukan perpaduan ajaran Konfucius, Buddha dan Taoisme. Beliau juga menyatukan tiga sekte ke dalam aliran Sukhavati, di mana pada saat itu perpaduan ini menimbulkan doktrin baru yang dinamakan doktrin Ling-feng. Hasil karya tulis Master Ou Yi menjadi referensi penting dalam Aliran Sukhavati.
莲宗九祖北天目灵峰旭公大师(1598-1655, AD)
 
清朝灵峰智旭大师(Zhi Xu)吴县(江苏)木渎人,即澫益大师,自号八不道人.初时受学儒家作《辟佛 论》数篇.十七岁阅读莲池大师《竹窗随笔》始悟,隋即痛改前非,出家后博学诸宗教义,主张儒释道三教一致,统禅教律三学为一,而归净土,谓"灵峰派"学说。著有《灵峰宗论》、《净土十要》等注释和论著共六十余种其中《澫益大师净土集》为其净土教法之专著。
 



Patriarch ke 10 : Xing-Ce




Patriarch ke 10 : Xing-Ce (1627-1682, AD)
 
Master Xing-Ce hidup pada masa Dinasti Qing pada abad ke 17 di provinsi Jiang-su, China. Pada usia 23 tahun menjadi bhiksu, tekun melatih samadhi aliran Chan selama 5 tahun, sehingga menyadari akan intisari dari semua Dharma. Kemudian dia menyebarkan ajaran Sukhavati di  provinsi  Jiang-su dan Zhe-jiang, sehingga ajaran Sukhavati berkembang dengan pesat. Membangun kembali asosiasi lotus, mengumpulkan umat untuk melafal nama Buddha selama 7 hari, yang di kemudian hari menjadi tradisi yang populer disebut “Fo Qi”.  Master Xing-Ce menghasilkan banyak karya tulis untuk aliran Sukhavati.
莲宗十祖虞山普仁策公大师(1627-1682, AD)
 
清朝常熟虞山普仁寺行策大师(Xing Ce)江苏宜兴人,字截流.二十三岁出家,参习禅定,精进不懈历 时五载,因而顿悟诸法要义。后于江浙一带专弘净土,大阐净宗。复兴莲社,倡导集众七日念佛共修,乃为"佛七"之开始.撰《莲藏集》,《净土警语》、《劝发真信文》等书行世。
 



Patriarch ke 11 :  Shi-Xian


Patriarch ke 11 :  Shi-Xian (1686 – 1734, AD)

Master Shi Xian hidup pada masa Dinasti Qing abad ke 17 di Hang-zhou, China. Pada usia 15 tahun menjadi bhiksu, tekun melatih diri, berpengetahuan luas, dia menguasai ajaran berbagai sekte misalnya Chan, Tian-Tai, Śūnyāta, Yogacara, dan sebagainya. Telah 5 kali dia menyalakan api di jarinya sebagai persembahan kepada pagoda relik Buddha di Vihara Raja Asoka dan mengikrarkan 48 tekad agung, sehingga relik tersebut  memancarkan cahaya. Di masa tuanya, beliau menetap di Vihara Fan-tian, mengumpulkan umat untuk melafal nama Buddha, melatih diri dengan ajaran Sukhavati, salah satu karya tulisnya yang populer adalah “kisah tentang insan-insan yang terlahir di Alam Sukhavati”.
莲宗十一祖:杭州梵天贤公大师(1686-1734, AD)
 
清朝杭州梵天禅寺实贤大师(Shi Xian)江苏常熟人,号省庵,字思齐。十五岁出家,修行用功,广学多 闻.禅、教、性、相,无不精通。曾于阿育王寺佛陀舍利塔前,先后五次燃指供养,发四十八大愿,感得舍利放光。晚年居杭州梵天寺,结社念佛,专修净土,著有《往生传》、《劝发菩提心文》等行世.




Patriarch ke 12 – Che Wu




Patriarch ke 12 – Ji-Xing (1741-1810, AD)
 
Master Ji-Xing juga bernama Chè-wù, hidup pada abad ke 18 pada masa Dinasti Qing, pada masa berkuasanya Kaisar Qian Long. Master  Chè-wù menguasai ajaran aliran Chan dan Tian Tai, namun akhirnya dia beralih memusatkan perhatian pada ajaran Sukhavati. Membimbing umat untuk mengadakan kebaktian melafal nama Buddha, menyebarkan ajaran Sukhavati secara meluas. Di masa tua nya, beliau menetap di Gunung Hóng luó, umat silih berganti datang berkunjung meminta bimbingannya, akhirnya dibangunlah Vihara aliran Sukhavati.
 
蓮宗十二祖﹕紅螺資福醒公大師(1741-1810,AD)
 
清朝紅螺際醒大師(JiXing)字徹悟,號訥堂,乾隆時人,既通達禪宗又通達教理,而後卻獨獨歸心極樂淨土。率眾精修,蓮風遠播。晚居紅螺山,歸者愈眾,遂成淨宗道場。
 



Patriarch ke 13 : Yin-Guang
Patriarch ke 13 : Yin-Guang (1861-1941, AD)
 
Master Yin Guang hidup pada masa akhir Dinasti Qing abad ke 18 di Su-zhou, provinsi Jiang-su, China. Master Yin Guang juga mendapat sebutan sebagai bhiksu yang selalu merasa malu pada diri sendiri. Ketika usianya masih kecil Master Yin Guang belajar ajaran Konfucius bersama abangnya. Menjadi bhiksu pada usia 21 tahun. Beliau mempelajari ajaran berbagai sekte namun menitikberatkan pada ajaran Sukhavati. Beliau membangun kembali vihara Ling yan shan di Jiang-su, mengajarkan umat tentang hukum karma, membangkitkan tekad lahir  ke Alam Sukhavati.
Di Jiang-su ini pula Master Yin Guang mendirikan Hong hua she, yakni lembaga yang mencetak dan menyebarkan sutra secara gratis, menjalin jodoh baik secara meluas. Ketika usianya telah lanjut, Master Yin Guang menetap di Vihara Ling yan shan, mengubah vihara tersebut menjadi vihara yang hanya mempelajari ajaran Sukhavati. Master Yin Guang menghasilkan banyak karya tulis.

莲宗十三祖﹕苏州灵岩量公大师(1861-1941, AD)
 
民国苏州圣量大师(Sheng Liang)陕西合阳人,即印光大师,别号常惭愧僧。年幼时随兄长读儒家书 籍,二十一岁出家。博通经藏及各宗教法,但力倡念佛。复建天台宗江苏灵岩山寺,教人以伦常因果为基础,念佛生西为归宿。在苏州创办弘化社,印经布施,广结善缘.晚居灵岩山寺,改成净土专修道场.著《印光大师文钞》《印光大师全集》等行世.

Sumber Referensi : Highlights of the 13 Pure Land Patriarchs

Analitic

Suasana angin Topan di surabaya november 2017

Suhu Malaysia yang gagal Panggil Shen

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;