Rabu, 19 Agustus 2020

Hayagriva

【马头观音】,梵名 Hayagrīva。
Mǎ tóu guānyīn ,Nama Sansekerta Hayagrīva。

Avalokitesvara Kepala Kuda (Hayagriva, Matou Guanyin, Jep. Bato Kannon)

Istilah ‘Hayagriva’ secara harfiah berarti ‘yang berleher kuda’ dan merupakan salah satu bentuk perwujudan menyeramkan dari Avalokitesvara. Perwujudan ini biasanya dilukiskan dengan kepala kuda berambut terurai. Sebelum ditampilkan sebagai perwujudan Avalokitesvara, Hayagriva berdiri sendiri sebagai emanasi Amitäbha dan Aksobhya. Orang Cina memanggilnya ‘Matou Mingwang atau Fennuchi Mingwang’. Tanda khususnya adalah mudra uttarabodhi (‘Pencerahan Tiada Tara’) —kedua telapak dirangkap bersama kecuali ibu jari dan telunjuk terentang keluar dan bersentuhan di ujung. (Mudra ini juga dikenal sebagai mudra padma atau teratai.)

Di Tibet, dia di-kenal sebagai salah satu dari ‘Delapan Pelindung Dharma’ (drag-gshed). Dalam Sädhanamälä disebutkan bahwa dia mendampingi perwujudan Lokanätha Avalokitesvara bersama Tärä, dan juga ditemukan dalam rombongan Khasarpana Avalokitesvara bersama Sudhana Kumära, Bhàkuti, dan Tärä. Kuda adalah bagian dari Tujuh Permata Kerajaan Dunia ( cakravarti). Sama seperti Permata Kuda yang mampu berlari ke seluruh penjuru dunia dan menaklukkannya, Hayagrìva juga menaklukkan lautan kelahiran, usia tua, sakit, dan mati.

Kadangkala dia dikenali bersama Avalokitesvara yang muncul di antara binatang. Karenanya dia dianggap sebagai pelindung binatang. Ringkikannya yang membahana dikatakan untuk mengusir mara. Hayagrìva dipuja oleh para penjual kuda. Dia juga menjelma pada gagang phurbu (pisau ritual) Tibet. Secara simbolis, phurbu dipakai dalam ritual untuk‘membunuh’ mara dan menghancurkan semua kekuatan jahat.

Bentuk Hayagrìva yang lain

Salah satu keterangan terawal tentang Hayagrìva ditemukan dalam Mahävairocana Sütra (Dapilizhena Chengfo Shenbian Jiachi Jing T 18:1) yang diterjemahkan tahun 724. Dalam perwujudannya yang paling sederhana, dia tampil dengan kepala kuda, mahkota tengkorak, rambut terurai, dan di bawah untaian kalung tengkorak tergantung kulit harimau. Dia mengacungkan pedang di tangan kanan dan memegang jerat di tangan kiri. Bentuk perwujudannya yang lain adalah:

1. Satu kepala dan empat lengan. Tangan bagian atas memegang tongkat kebesaran (kadangkala bermahkota tengkorak) dan bunga; tangan bawah memegang roda (atau jerat) di depan dada; tangan kanan membuat mudra mistis; dan dia menginjak sisi kanan tahta teratai.

2. Tiga kepala, empat lengan, dan empat kaki. Lengan atas memegang vajra dan bunga, lengan bawah membentangkan busur. Dia menginjak sisi kanan mara. Pakaiannya mirip seperti bentuk yang sebelumnya. Inilah bentuk yang diyakini dilihat oleh Atiÿa (982-1054), pembaharu Buddhis India yang ajarannya mendasari ajaran sekte Kadampa Tibet.

3. Tiga kepala, enam lengan, dan enam kaki. Dia memegang semua lambang yang disebutkan dalam dua bentuk lainnya, tetapi dari rambutnya yang terurai muncul tigakepala kuda. Biasanya dia digambarkan dengan tiga mata, memegang sayap garuda, dan berpakaian kulit harimau dan gajah. Lengan bagian atas memegang vajra gandadan pedang, pasangan lengan berikutnya memegang tongkat kebesaran dan tombak ( khatvanga). Lengan bawah memeluk prajñä biru muda, dan memegang mangkuk tengkorak di kiri, sementara yang kanan membentuk mudra mistis (seperti mudra abhaya).

Semua aspek menakutkan dari Hayagrìva ini dimaksudkan untuk melambangkan ketakutan semua makhluk dalam simbol yang konkret. Dalam ‘simbolisme terbalik’ itu, hal yang ditakuti oleh seseorang diubah menjadi pelindungnya sendiri. Sesungguhnya tak ada yang harus ditakuti selain diri sendiri. Ini adalah dasar perlambang Hayagrìva.

0 komentar:

Posting Komentar

Analitic

Suasana angin Topan di surabaya november 2017

Suhu Malaysia yang gagal Panggil Shen

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;