Kamis, 26 September 2013

5 Murid Utama Wanita dan Consort dari Guru Padmasambhava

1. Mandarava - emanasi tubuh Vajra Varahi
2. Khandroma Yeshé Tsogyel – emanasi ucapan Vajra Varahi
3. Sakya Devi - emanasi pikiran Vajra Varahi
4. Kalasiddhi - emanasi kualitas VajraVarahi
5. Tashi Chidren - emanasi aktivitas Vajra Varahi

1. Putri Mandarava / Machig Drupa Gyalmo

Merupakan putri di India Utara dari Raja Vihardhara, Mandi, Zahor dan ratu Mohauki yang lahir pada abad ke-8 M dan pasangan dari Guru Padmasambhava. Mandarava merupakan emanasi dari tubuh Vajravarahi. Ia disebut juga sebagai “Putri Putih”. Nama Mandarava diambil dari nama bunga yang tumbuh di Tanah Suci Sukhavati.

Kelahirannya ditandai dengan berbagai tanda ajaib. Tanda-tanda spiritualnya telah muncul sejak ia masih muda.
Mandarava menolak untuk menikah dan lebih memilih untuk menjadi bhiksuni, padahal wajahnya cantik, sehingga banyak raja-raja India dan Tiongkok yang melamarnya. Ayahnya tidak setuju kalau ia tidak menikah dan Mandaravapun pergi dan akhirnya menjadi pengemis. Mandarava kemudian ditahbiskan oleh Bhiksu Shantarakshita. Raja Zahor kemudian setuju terhadap jalan yang ditempuh anaknya dan membangun sebuah kuil untuknya dan murid-murid wanitanya.

Ketika Guru Padmasambhava tiba di mandi dari Orgyen, Mandarava tiba-tiba pingsan ketika Sang Guru terbang di angkasa. Kemudian Mandaravapun menjadi muridnya. Namun gossip segera tersebar bahwa terjalin hubungan yang tidak benar antara Mandarava dengan Guru Padmasambhava. Sang raja, yang merupakan ayah dari Mandarava sangat marah mendengar hal tersebut dan memerintahkan penangkapan Guru Padmasambhava dan kemudian berusaha membakarnya hidup-hidup sebagai pengorbanan. Namun Sang Guru Padma diselamatkan oleh para Dakini dan api yang akan membakar Guru Padma berubah menjadi danau yang berasap selama 7 hari. Di hari yang kedelapan, sang raja menemukan Guru Padmasambhava berwujud sebagai bocah berumur 8 tahun duduk di atas teratai di tengah-tengah danau. Mandarava saat itu telah dilempar ke dalam lubang yang ditutupi oleh duri-duri. Sang raja yang menemukan bahwa anaknya masih hidup sangat berterima kasih dan akhirnya sang raja sendiri berusaha untuk mempersatukan kembali Guru Padmasambhava dengan Mandarava. Guru Padmasambhava dan mandarava benar-benar pasangan yang tidak dapat dipisahkan dan hubungan mereka sangat erat, setidaknya sebelum Guru padmasambhava pergi ke Tibet.

Guru Padma menetap selama beberapa waktu di Zahor dan setelah menjadikan orang-orang sebagai pengikut Buddhis, guru Padma dan Mandarava (yang telah berusia 16 tahun) pergi ke Gua Maratika di Heileshe, Nepal, di mana mereka mempraktekkan yoga keabadian dalam Mandala Amitayus. Guru Padmasambhava dan Mandarava kemudian mencapai tingkatan Vidyadhara. Dari Nepal mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Bangala, di mana Mandarava berubah menjadi Dakini berwajah kucing dan menjadikan masyarakat di Bengal sebagai umat Buddhis.

Mereka akhirnya kembali ke tanah asal mereka, namun karena tidak ada guru spiritual yang diakui di tanah asal mereka, maka Guru Padma dan Mandarava bersama-sama dibakar namun mereka sekali lagi tidak sedikitpun terluka. Maka dari itu Mandarava berubah menjadi Machig Drupa Gyalmo, ratu dari Orgyen Dakini. Orgyen adalah Tanah Suci para Dakini, tanah nirmanakaya Buddha. Ketika Guru padmasambhava pergi ke Tibet, Mandarava tetap menetap di India. Menjelang akhir hidupnya, Mandarava muncul di hadapan Tsogyel ketika bermeditasi di Phukmoche dan memohon agar Tsogyel mengajarkannya 27 sila rahasia yang Guru Padma tidak ajarkan di India.

Mandarava pernah memanifestasikan Sambhogakayanya di Roda Dharma di Tramdruk ketika berdialog tentang mantra dan mudra dengan Guru Padmasambhava. Mandarava kemudian akhirnya berhasil mencapai “Tubuh Pelangi”.

Mandarava tampil sebagai yidam panjang umur, memakai ornament layaknya bodhisattva dan kulitnya berwarna putih. Tangan kanannya memegang sebatang panah dengan berhiaskan panji yang menyimbolkan tradisi Dzogchen dan tangan kirinya memegang melong, cermin bundar yang menyimbolkan sifat dasar dari pikiran yang kosong dan bumpa, vas panjang umur. Mandarava duduk seperti layaknya Tara dengan kaki kanan diturunkan yang menyimbolkan kehendaknya menolong para makhluk hidup. Namun terkadang Ia digambarkan berdiri menari menyimbolkan aktivitas pencerahan dan seorang dakini. Apabila bersama dengan sang Guru, maka Mandarava berada di sebelah kiri Guru Padmasambhava.
Mandarava juga mempunyai banyak emanasi di antaranya adalah: yogini Mirukyi Genchen pada waktu Marpa, Risulkyi Naljorma pada waktu Nyen Lotsawa dan Drubpey Gyalmo pada masa rechungpa. Chusingi Nyemachen, pasangan wanita dari Maitripa adalah juga emanasi Mandarava. Niguma juga dianggap sebagai Mandarava. Melalui praktek dan ketekunannya, mandarava mencapai pencapaian spiritual yang seimbang dengan pencapaian Guru padmasambhava, sehingga mendapatkan gelar Machig Drupa Gyalmo. Mandarava juga pernah menolong Kalasiddhi ketika masih kecil.

2. Yeshe Tsogyal (Dechen Gyalmo)
Ia adalah pasangan wanita dari Tibet dan murid utama dari Guru Padmasambhava. Tsogyal adalah emanasi dari ucapan Vajravarahi. Tsogyal banyak mendapat ajaran yang langka dari Guru Padmasambhava. Terkadang digambarkan dalam bentuk Nirmanakaya dengan pakaian Tibet sehari-hari, duduk dan memegang Kartri dan kapala. Ia disebut juga Dechen Gyalmo dengan wujud bertubuh merah dalam posisi berdiri dan memegang damaru di tangan kanannya yang diangkat dan Kartri di tangan kirinya. Yeshe Tsogyel juga dikenal sebagai emanasi dari Dewi Sarasvati dan reinkarnasi dari Dorje Phagmo.

Yeshe Tsogyal (777-837 M) terlahir di antara keluarga kerajaan Kharchen di Taiyespa. Ayahnya bernama Namkhai Yeshe dan ibunya bernama Gewabum. Ketika ia terlahir, semburan air segar tiba-tiba muncul dari dalam tanah dan akhirnya membentuk sebuah kolam tepat di sebelah rumahnya. Kolam atau danau tersebut kemudian dikenal dengan nama “Lha-tso”, Danau Ilahi, yang kemudian menjadi tempat ziarah oleh para umat dari generasi ke generasi.

Ia tumbuh lebih cepat dari anak-anak lain. Ketika bermain dengan anak-anak lain, ia meninggalkan bekas telapak tangan dan kakinya pada batu-batu. Sifatnya welas asih dan selalu siap menolong siapa saja. Pikirannya tajam dan memiliki Bodhicitta. Ia juga berkeyakinan pada Triratna dan rajin melaksanakan meditasi sehingga pikirannya menjadi seimbang. Semua yang melihatnya menjadi senang. Banyak orang ebrusaha melamarnya pada saat ia berumur 13 tahun. Namun orangtua tsogyel tidak mau memberikan anaknya. Tsogyel selalu ingin lebih banyak belajar dan menolong orang. Ia ingin mendapatkan kebijaksanaan yang diraih Sang Buddha.

Namun hidup Yeshe Tsogyal juga tak terlepas dari kendala. Ia diperkosa oleh pelamarnya yang pertama sendiri dan bertengkar dengan yang kedua. Ia juga melarikan diri dari pelamarnya yang kedua.

Ketika popularitasnya dan welas asihnya diketahui seluruh Tibet, Trisong Deutsen yang mendengar tentangnya langsung mengirim menterinya ke rumah Tsogyel untuk meminta dan menyerahkan Tsogyel kepada raja. Ketika Tsogyel mendengarnya, ia berlari dari rumah ke tempat yang terpencil. Ia melepas semua permatanya, menghancurkannya sampai menjadi debu dan melemparkannya ke sepuluh penjuru. Ia berdoa kepada Buddha dan Bodhisattva agar menghilangkan rintangannya dalam mencapai pencerahan.

Ketika ia berdoa, anak laki-laki berumur 16 tahun muncul dengan mala di tangan kanannya. Ia berkata bahwa menangis dan merusakkan perhiasan tidak akan membantunya. Anak laki-laki tersebut berkata bahwa engkau harus terus berdoa pada Buddha dan Bodhisattva tanpa hentinya. Doamu akan didengar dan harapanmu akan terkabul. Kemudian laki-laki tersebut berkata, “Ikutlah aku dan aku akan menunjukkan jalan menuju pencerahan. Ia mengambil tangan Tsogyel dan secara tiba-tiba mereka sudah berada di tempat terpencil di Tsang namun indah dan tenang.

Anak laki-laki itu sebenarnya adalah manifestasi Guru Padmasambhava. Anak tersebut mengajarkan pada Tsogyel tentang hidup dan samsara. Ia memberitahu agar Tsogyel tetap berada di tempat itu. Tsogyel bertanya kepadanya bagaimana ia akan praktek setelah ia (anak laki-laki) pergi. Anak laki-laki tersebut memberikan instruksi tentang sifat alami pikiran dan memberitahunya bagaimana untuk berpraktek. Tsogyel berterima kasih padanya dan bertanya siapa dan dari mana sebenarnya anak laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut berkata, “Aku datang dari Dharmakaya dan apapun yang aku katakan padamu engkau harus praktekkan.” Yeshe Tsogyal memintanya untuk tinggal, namun anak laki-laki tersebut harus pergi sekarang, karena ia tak bisa berlama-lama, nanti tiba saatnya mereka dapat bersama. Setelah itu anak laki-laki tersebut menghilang.

Yeshe Tsogyel merasakan kesedihan sekaligus kegembiraan. Ia bingung apakah itu nayata atau mimpi. Namun ia sadar itu bukanlah mimpi. Ia sangat senang berada di tempat yang indah. Ia menjadikan tanaman liar sebagai makanannya dengan tak lupa minuma ir yang tersedia di daerah tersebut. Ia terus berlatih dan tumbuh beberapa pemahaman dalam dirinya. Terkadang ia bermeditasi di luar dan terkadang di dalam gua apabila hujan tiba.

Orang tua Tsogyel menyalahkan menteri tersebut atas hilangnya anak mereka. Namun menteri tersebut tidak tahu apa-apa dan ia melapor pada raja atas apa yang terjadi. Sang raja kemudian memerintahkan banyak orang untuk mencarai Yeshe Tsogyal di seluruh Tibet dan membawanya kembali. Bagi siapapun yang berhasil akan mendapatkan imbalan yang sesuai.

Beberapa peziarah menemuklan Yeshe Tsogyal sedang bermeditasi. Mereka kagum melihat gadis secantik itu berada di tempat yang terpencil. Setelah bercakap-cakap dengan tsogyel, mereka memberikannya tsampa dan theh. Setelah itu para peziarah itu menyebarkan berita bahwa ada seorang bhiksuni yang bermeditasi di sebuah tempat terpencil ketika mereka kembali ke desa.
Menteri raja mendengar hal tersebut dan tiba di tempat Yeshe Tsogyal. Ia mengajak Tsogyel untuk tinggal di istana yang mewah ketimbang di tempat terpencil dan liar seperti itu. Namun Tsogyel menolak karena ia ingin mempraktekkan Dharma. Namun akhirnya sang menteri memaksa membawa Tsogyel kepada raja tanpa memperdulikan tangisannya. Pada saat siang ia membawa Tsogyel dan malamnya Tsogyel dijaga dengan ketat. Dengan cara ini ia diambil dan ditempatkan di kediaman raja Trisong Deutsen. Kemudian raja tersebut memberikannya pada Guru Padmasambhava yang datang ke Tibet.

Guru Padmsambhava kemudian membebaskannya dan Tsogyal pun menjadi muridnya. Baru saat itu ia merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Pada saat Yeshe Tsogyal berumur 16 tahun, tepatnya pada tahun 749 M, ia menerima inisiasi dari Guru Padma yang memberinya nama Dechen Gyalmo, di mana bunganya jatuh ke dalam Mandala Vajrakilaya dan dengan mempraktekkan sadhana yang benar, Tsogyal dengan cepat meraih berbagai pencapaian termasuk siddhi di mana ia bisa mengingat segala ajaran Guru Padma tanpa ditulis terlebih dahulu. Tsogyal kemudian menerima semua ajaran Guru Padmasambhava dan menjadi penerus garis silsilahnya.
Yeshe Tsogyal kemudian berusaha untuk kebahagiaan semua makhluk. Ia pergi ke alam neraka dan membebaskan para makhluk disana. Guru padma juga mengirim Tsogyel untuk membebaskan seorang Acharya di Nepal. Bahkan Yeshe Tsogyal juga mengampuni dan memberikan pencerahan bagi para perampok yang memperkosanya.
Yeshe Tsogyal juga mempunyai ingatan yang tajam sehingga memungkinkannya untuk mengingat sejumlah besar isi teks tanpa kesulitan. Keseluruhan ajaran Khadro Nyingtig tersimpan dalam ingatannya.

Putri Yeshe Tsogyal kemudian pergi menuju Nepal pada tahun 795 M untuk mencari seorang Acharya sebagaimana yang diminta oleh Guru Padmsambhava. Ia menemukan seorang laki-laki yang masih muda yang kemudian ia sadari bahwa laki-laki tersebutlah yang dimaksud Guru padmasambhava sebagai Acharya. Laki-laki tersebut bernama Atsara Sahle. Namun orang tua Sahle memberikan syarat bahwa mereka akan memberikan anak mereka pada Guru Padmasambhava apabila tsogyel memberi mereka sejumlah uang emas. Tsogyel menyanggupinya dan mendapatkan emas seetalh membangkitkan kembali anak dari sebuah keluarga dari kematian. Setelah itu orang tua Sahle pun setuju menyerahkan anaknya. Atsara Sahle kemudian menjadi pujaan hati dan pasangan dari Yeshe Tsogyal. Tsogyel dan pasangannya pergi melakukan perjalanan ke berbagai gua pertapaan dan mereka rajin melakukan Sadhana.

Tsogyal mempunyai kepribadian yang lebih kokoh ketimbang pasangannya, karena sejak kecil ia sudah menderita. Ia sudah mempunyai ketetapan hati dalam meraih pencerahan. Yasodhara juag mempunyai rasa cinta kasih dan kebaikan yang besar. Atsara Sahle berasal dari lembah Kathmandu, di mana ia tidak pernah merasakan udara dingin Tibet yang menusuk. Oleh karena itu lebih sulit baginya untuk menjalankan pertapaan di gunung-gunung yang tinggi. Namun mereka berusaha sebaik-baiknya yang mereka bisa untuk mencapai pencapaian spiritual.
Dan tibalah suatu saat, di mana Tsogyal tinggal sendirian di gua Nering Senge dan pasangannya ketika itu pergi ke tempat yang iklinya lebih hangat. Tsogyal kemudian harus mulai menghadapi segala iblis dalam pikirannya. Dengan tetap bermeditasi, ia mengatasi segala macam iblis yang datang kepadanya baik itu iblis pikiran maupun iblis-iblis lain yang menakutkan, penuh nafsu maupun yang jahat. Tsogyal harus menghadapi mereka selama berhari-hari hingga akhirnya ia berada dalam kedamaian dan ketenangan batin. Brahma juga datang mengetes welas asih Tsogyel dengan cara menyamar menjadi seorang penderita kusta.

Setelah itu, di gua terpencil di Paro Taksang, dataran tinggi Bhutan, dengan pasangannya Atsara Sahle, ia mendisiplinkan dirinya melalui puasa, meditasi yang panjang dan praktek spiritual yang bernama karmamudra, untuk menyatukan positif dan negatif bindu dari Cakra hati dan sistem saraf (nadi), tempat di mana 5 energi biologis (vayu) utama dan 5 energi biologis sekunder berasal; dan dengan tujuan untuk mengkristalkan keseluruhan keberadaannya sebagai basis dari inti tubuh vajra. Melalui penyatuan yang tepat antara inti syaraf yang dihaluskan (bindu merah dan putih) dengan melepaskan ikatan psikologis yang terakhir pada Chakra hati, maka pencapaian ke-Buddhaan dalam masa waktu satu kehidupan dapat tercapai.

Di Paro Taksang, setelah mencapai tujuannya dengan usaha yang sangat tekun dan rajin, Yeshe Tsogyal mencapai tingkatan Vidyadhara, di mana Ia mengimbangi pencapaian Guru Padmasambhava. Dan dari itu ia mencapai tahap dasar dari pencerahan.

Setelah itu bersama dengan Guru Padmsambhava, Tsogyal melakukan perjalanan mengelilingi Tibet membabarkan Dharma, memberkati bebagai lokasi dan menaruh berbagai terma. Kemudian ia menjalankan rtreat meditasi di tempat terpencil tahun 796 M dan tidak keluar sampai pada tahun 805 M, setelah Guru Padmasambhava meninggalkan Tibet. Namun sekarang ia kembali sebagai Buddha Yang Tercerahkan. Dan pada tahun 837 M, ia menembus keberadaan duniawinya dan dengan tubuhnya menuju Tanah Suci dari Gunung Merah, tempat Guru Padmasambhava berada.
Biografi Yeshe Tsogyal ada dalam teks “Autobiografi Rahasia Yeshe Tsogyal” yang ditulis oleh Namkhai Nyingpo (abad 9 M). Biografi tersebut ada dalam bentuk terma. Yeshe Tsogyal sendiri juga menulis tentang biografi Guru Padmasambhava.

3. Putri Sakyadevi

Putri Belmo Sakyadevi adalah anak dari Raja Sukkhadhara (Punyedhara?) dari Nepal dan emanasi dari pikiran Vajravarahi. Ibunya meninggal pada saat melahirkan dan ia digantikan oleh ratu selanjutnya dan ditinggalkan oleh kaum kerajaan. Sakyadevi dibawa ke pemakaman bersama dengan jasad ibunya dan ditinggalkan di sana. Kemudian ia dirawat oleh para monyet namun tangan dan kakinya berselaput.

Saat Sakyadevi tumbuh, ia menjadi Yogini dan bertempat tinggal di dekat Parphing, di pegunungan di luar Lembah Kathmandu. Di Vihara Sankhu, sebelah timur laut dari lembah Kathmandu, ia bertemu Guru Padmasambhava dan menjadi murid wanita Guru Padmasambhava dan menerima ajaran darinya. Keduanya hidup di gua yogi Yanglesho di mana mereka menguasai praktek Vajrakilaya dan Mahamudra dengan menggunakan mandala Yangdak dan Dorje Phurba. Ketika Tsogyel berkunjung ke Yanglesho beberapa tahun kemudian, Sakyadevi masih tinggal di sana sebagai yogini. Ia kemudian mencapai “Tubuh Pelangi” sebagai seorang yang telah terealisasi menjadi Buddha. Ia juga mencapai Mahamudra dan menguasai zap-lam yoga, togal yoga dan yoga tidur(mimpi?).

Rakyat Tibet meyakini bahwa Raj Kumari, “Dewi Hidup” dari Basantapur Kumari Bahal di Kathmandu yang terkenal itu, adalah emanasi dari Sakyadevi.


4. Kalasiddhi

Belwong Kalasiddhi dari Nepal adalah anak gadis dari penenun Bhadana dan Nagini di kota Balbong Jur. Nama aslinya adalah Dakini. Pada saat itu memang Nepal terkenal dengan kain wolnya. Ibunya meninggal karena kelaparan dan dia dibuang dan ditinggalkan bersama tubuh ibunya di pemakaman oleh ayahnya sendiri.

Seorang wanita Yogini bernama Mandarava yang ketika itu berwujud harimau wanita, menemukan bayi Kalasiddhi yang sedang menyusu pada ibunya yang telah meninggal. Kemudian Mandarava menyelamatkannya dari kondisi kritis dan membesarkannya, mengajarkannya berbagai ajaran rahasianya. Ketika remaja, Dakini bekerja memintal benang pada siang hari dan menenunnya pada malam hari. Kalasiddhi akhirnya mendapat pentahbisan dari Bhiksu Sakyadeva. Setelah Kalasiddhi mencapai pencerahan, Ia meneruskan silsilahnya kepada anak laki-laki petani yang akan menjadi Guru besar Vajrahunkara.

Dalam tradisi terma dari Terton Tagsham, Kalasiddhi bertemu dan menjadi murid dari Guru Padmasambhava dan Yeshe Tsogyal. Ketika berumur 14 tahun, Dakini ditemukan oleh Tsogyel yang saat itu melakukan perjalanan keduanya ke Nepal untuk mengajarakan sila rahasia dari Guru Padmasambhava. Tsogyel memberinya nama Kalasiddhi. Di Mangyul, menyebrangi batas Tibet dari Trishuli-kola, Kalasiddhi menerima inisiasi dalam Tantra Lama Mandala dan setelah ia mempraktekkan meditasi dengan tekun dan rajin, kalasiddhi akhinya mencapai siddhi. Kalasiddhi juga menemani Tsogyel ke istana Mutri Tsenpodi Samye dan tempat retreat di Chimpu di mana ia bertemu dengan guru Padmasambhava. Guru Padmsambhava segera merasakan bahwa Kalasiddhi memiliki potensial sebagai mudra dalam prakteknya untuk mengembangkan tantra di Tibet dan meminta Tsogyel untuk memberikan Kalasiddhi padanya. Setelah itu dalam waktu yang singkat, Guru Padmasambhava pergi ke arah Barat daya dan meninggalkan Kalasiddhi di bawah bimbingan Tsogyel.

Kalasiddhi berhasil mencapai Pencerahan Sempurna dari Pemegang Ajaran (Vidyadhara). Ia adalah emanasi dari kualitas Vajravarahi. Sebagai tanda perpisahan, Tsogyel memberikan instruksi zap-lam secara detail pada Kalasiddhi.

5. Tashi Khyidren / Mangala

Tashi (abad ke-8 M) adalah murid wanita Guru Padmasambhava yang berasal dari Bhutan. Ia adalah pemberian dari Bhutan kepada Padmasambhava untuk dijadikan murid-Nya dan membantunya menyebarkan Dharma melalui Tantra. Ia adalah anak dari Raja Kerajaan Iron (Shinduraja), yang mengundang Guru Padmasambhava ke Bhutan untuk menyembuhkan penyakitnya. Sumber lain mengatakan ia adalah anak dari Raja Hamra. Di usianya yang ketiga belas, Tashi bertemu dengan Yeshe Tsogyal yang saat itu sedang bermeditasi di Gua Nering Drak dan sering menjadi sasaran tipu muslihat para iblis lokal. Penuh kekaguman terhadap yogini tersebut, Khyidren kemudian selalu membawakan susu dan madu untuk Yeshe Tsogyel. Setelah Tsogyel berhasil menundukkan para iblis dan penduduk lokal yang memusuhinya, ayah Khyidren memberikan hormat padanya dan Tsogyel meminta anaknya, Khyidren. Raja Hamra memenuhi permintaannya dan Tsogyel mengganti nama Khyidren menjadi Chidren. Tak lama kemudian, Khyidren pergi menemani Tsogyel menuju ke Womphu Taktsang di Tibet untuk menemui Guru Padmsambhava.

Padmasambhava meminta Tsogyel agar membawa Khyidren kepadanya agar ia dapat melakukan mudra dalam inisiasi Dorje Phurba, di mana Guru Padmasambhava lakukan untuk melindungi Tibet. Khyidren berperan sebagai pasangan kedua dalam inisasi ini. Dalam simbolisasi Phurba-Tantra, Khyidren disimbolisasikan sebagai macan wanita yang ditunggangi Phurba dan pasangannya (Padmasambhava dan Tsogyel) dalam menakukkan para dewa dan iblis di Tibet.Setelah meninggal, Khyidren juga berinkarnasi kembali menjai anak perempuan Machig Labdron.

Dan satu lagi murid wanita Guru Padmasambhava:

Lacham PemaSel

Lacham PemaSel (Pematsal) adalah anak perempuan dari Raja Trisong Deutsen dari Tibet dan Ratu Dromza Changchub. Pada saat berumur delapan tahun, ia sakit dan mati. Padmasambhava, yang pada saat itu berada di istana kerajaan, dipanggil. Ia tiba-tiba datang ke ruangan di mana Lacham PemaSel terbaring dan menulis huruf ‘Nri’ berwarna merah di hatinya dangan mengucapkan mantra. Memasuki kesadaran tak sadarkan diri(Antarabhava?), Guru Padmasambhava memanggil kembali kesadarannya dan mengembalikan hidup ke tubuhnya. Keajaiban membangkitkan orang mati ini menghebohkan istana dan mengakibatkan Sang Raja memiliki keyakinan yang absolut terhadap kekuatan Guru Padmasambhava.

Setelah Lacham bangkit dan dapat berbicara, Guru Padmasambhava menganugrahkan inisiasi Khadro Nyingt'ig, instruksi esoterik yang langka. Di kehidupan yang selanjutnya sebagai yogi laki-laki Peme Ledrel Tsal (1291-1315) ajaran Padmasambhava mengembalikan kesadarannya untuk bangun kembali. Kesadarannya terus bereinkarnasi dan akhirnya mencapai realisasi sebagai Guru Agung tradisi Nyingma yaitu Longchenpa (1308-1363).

0 komentar:

Poskan Komentar

Informasi

Video ini biasanya banyak dicari , saya bagikan untuk kawan kawan . Semoga Buddha Dharma semakin berkembang,Jika Tergerak untuk Donasi , Silahkan Di paypal saja.Om Mani Padme Hum.

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;