Minggu, 15 Maret 2015

Xuan Tian Shang Di (Dewa Tolak Bala)


Xuan Tian Shang Di [Hian Thian Siang Te - Hokkian] adalah salah satu Dewa yang paling populer, wilayah pemujaannya sangat luas, dari Tiongkok utara sampai selatan, Taiwan, Malaysia dan Indonesia.

Pemujaan terhadap Xuan Tian Shang Di  mulai berkembang pada masa Dinasti Ming. Dikisahkan pada masa permulaan pergerakannya, Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di pegunungan Wu Dang Shan (Bu Tong San - Hokkian], di propinsi Hubei, dalam sebuah kelenteng Shang Di Miao.

Berkat perlindungan Shang Di Gong (sebutan populer Xuan Tian Shang Di), Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya. Kemudian berkat bantuan Xuan Tian Shang Di , maka Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongol dan menumbangkan Dinasti Yuan. Ia mendirikan Dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok.

Untuk mengenang jasa-jasa Xuan Tian Shang Di  dan berterima kasih atas perlindungannya, ia lalu mendirikan kelenteng pemujaan di ibu kota Nanjing (Nanking) dan di gunung Wu Dang Shan.
Sejak itu Wu Dang Shan menjadi tempat suci bagi penganut Tao. Kelentengnya, dengan patung Xuan Tian Shang Di juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara. Tiap tahun tanggal 3 bulan 3 Imlek ditetapkan sebagai hari She-jietnya dan tanggal 9 bulan 9 Imlek adalah hari beliau mencapai kesempurnaan dan diadakan upacara sembahyangan besar-besaran pada hari itu.

Sejak itulah pemujaan Shang Di Gong meluas ke seluruh negeri, dan hampir setiap kota besar ada kelenteng yang memujanya.

Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong didirikan. Tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah, dan menjadi pusat pemujaan bersama rakyat dan tentara. Oleh sebab itu, maka kelenteng Shang Di Miao tersebar diberbagai tempat. Diantaranya yang terbesar adalah di Taiwan yang dibangun pada waktu Belanda berkuasa di Taiwan.
 
Setelah jatuhnya Zheng Cheng Gong, Dinasti Qing yang berkuasa mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliau sebetulnya adalah seorang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan dan mengkikis habis sisa-sisa pengikut Dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng aliran Buddha tentang seorang jagal yang telah bertobat lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya dan menjadi pengikut Buddha. Kura-kura dan ular yang diinjak itu dikatakan sebagai usus dan jeroan si jagal.

Pembangunan kelenteng-kelenteng Shang Di Miao sejak itu sangat berkurang. Pada masa Dinasti Wing ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu, yaitu Lao Gu She Miao di Tainan. Tetapi sebetulnya kaisar-kaisar Qing sangat menghormati Xuan Tian Shang Di , ini terbukti dengan dibangunnya kelenteng pemujaan khusus untuk Shang Di Gong di komplek kota terlarang, yaitu Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian dan satu lagi di Istana Persinggahan di Chengde.

Mengenai riwayat Xuan Tian Shang Di ini, seorang pengarang yang hidup pada akhir Dinasti Ming, Yu Xiang Tou telah menulis sebuah novel yang bersifat dongeng yang berjudul "Bei You Ji" atau "Catatan Perjalanan Ke Utara".

Adapun ringkasan riwayat Xuan Tian Shang Di seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut adalah sebagai berikut:

Lahir pada keluarga Liu. Ayahnya Liu Tian Jun, kemudian memberi nama Zhang Sheng yang berarti "Tumbuh Subur". Liu Zhang Sheng tumbuh menjadi anak yang cerdas. Pada usia tiga tahun ia sudah dapat membawakan sajak dan membuat syair.

Kembali Liu Zhang Sheng menitis di dunia, kali ini menjadi seorang putra raja yang bernama Xuan Ming. Karena kegagahannya Xuan Ming akhirnya diangkat menggantikan ayahnya yang wafat dan menjadi raja di negeri itu. Pada suatu hari Miao Le Tian Zun [Biauw Lok Thian Cun - Hokkian] datang dan mendidiknya memahami masalah kedewaan.

Titisan berikutnya adalah sebagai seorang putera raja di negeri Jing Luo Guo [Ceng Lok Kok - Hokkian] yang bernama Xuan Yuan Tai Zi.

Setelah melewati beberapa ujian dalam hidupnya, Xuan Yuan berhasil mencapai kesempurnaan dan menjadi Dewa dengan gelar Xuan Tian Shang Di .
 
Selanjutnya dikisahkan Xuan Tian Shang Di  turun ke bumi menaklukkan berbagai siluman, antara lain siluman ular dan kura-kura, yang kemudian menjadi pengikutnya. Disamping itu seorang tokoh dunia gelap Zhao Gong Ming [Tio Kong Bing - Hokkian] juga ditaklukkan dan menjadi pengawalnya, sebagai pembawa bendera berwarna hitam.

Xuan Tian Shang Di memiliki beberapa nama atau gelar sebagaimana yang dicantumkan di bawah ini.
   Xuan Tian Shang Di (Hanzi: 玄天上帝;Hokkien: Hian Thian Siong Te; Kantonis: Yuen Tin Sheung Tai; lit. Kaisar Tinggi Surga Misterius).
   Xuan Tian Da Di (Hanzi: 玄天大帝; lit. Kaisar Agung Surga Misterius).
  Xuan Wu (Hanzi: 玄武; lit. "Ksatria Gelap/ Misterius ") atau Xuan Wu Di (Hanzi: 玄武帝; lit. "Kaisar Kesatria Gelap/ Misterius ").
   Shang Di Gong (Hanzi: 上帝公; Hokkien: Siang Te Kong; lit. Kakek Kaisar dari Shang/ Kakek Kaisar Agung).
    Di Gong (Hanzi: 帝公; Hokkien: Teh Kong; lit. Kakek Kaisar).
    Yuan Tian Da Di (Hanzi: 元天大帝).
    Yuan Wu Di (Hanzi: 元武帝).
    Bei Ji Da Di (Hanzi: 北極大帝).
    Beidi (Hanzi: 北帝; Kantonis: Pak Tai ; lit. Kaisar Utara).
    Kai Tian Da Di (Hanzi: 開天大帝).
    Zhen Wu Da Di (Hanzi: 真武大帝; Hokkien: Cin Bu Tay Te; lit. Kaisar Agung Maha Ksatria).
    Zhen Wu Di (Hanzi: 真武帝); lit. Kaisar Maha Ksatria).
Xuan Tian Shang Di digambarkan sebagai seorang ksatria yang mengenakan jubah kekaisaran (pakaian perang keemasan); tangan kirinya membentuk "mudra tiga gunung "[2] yang menyerupai mudra Kwan Im, dan tangan kanannya memegang sebilah pedang yang konon merupakan pedang milik Lü Dong Bin (salah satu dari Delapan Dewa (Tiongkok)).
Biasanya ia ditampilkan duduk pada sebuah kursi kerajaan. Kedua kakinya tidak mengenakan sepatu; kaki kanannya menginjak seekor ular sementara yang kiri menginjak kura-kura air tawar(bulus). Wajahnya berwarna merah, berjanggut hitam panjang, dan matanya membuka lebar terlihat garang
Kedudukan Xuan Tian Shang Di di kalangan Dewa Langit sangat tinggi, berada setingkat di bawah Yu Huang Da Di Xuan Tian Shang Di mempunyai kekuasaan di Langit bagian Utara dan menjadi pemimpin tertinggi para Dewa di kawasan tersebut. Ia merupakan salah satu dari Si Tian Shang Di atau Empat Maha Raja Langit, yaitu[1]:
    Qing Tian Shang Di (青天上帝) di Timur.
    Yan Tian Shang Di (殷天上帝) di Selatan.
    Bai Tian Shang Di (白天上帝) di Barat.
    Xuan Tian Shang Di (玄天上帝) di Utara.
Xuan Tian Shang Di terkadang digambarkan bersama dua jenderal yang berdiri di sampingnya. Mereka adalah Jenderal Wan Gong (萬公) dan Jenderal Wan Ma (萬媽) (atau Jenderal Zhao dan Jenderal Kang. Sebagian besar kuil yang didedikasikan untuk Xuan Tian Shang Di juga memiliki altar untuk mereka. Kedua jenderal tersebut dipuja untuk menangani berbagai masalah, dari kelahiran bayi, pengobatan, masalah keluarga, hingga konsultasi fengshui, bahkan menjadi penangkal black magic (dewa tolak balak).
Xuan Tian Shang Di merupakan tubuh penjelmaan dari Guan Shi Thian Cun dan merupakan bagian dari diri Maha Guru tersebut. Ia menyerap hawa intisari matahari, masuk ke dalam kandungan wanita Sian Ceng Hujin dari negeri Jing Le (di utara Hebei) pada masa pemerintahan Kaisar Kuning. Ia dilahirkan setelah dikandung selama 14 bulan sebagai seorang pangeran dari negeri tersebut.
Saat berusia 10 tahun, ia sudah dapat memahami semua kitab yang ada pada masa tersebut. Saat berusia 15 tahun, ia merasakan penderitaan kehidupan sebagai manusia biasa sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri pada sebuah gunung terpencil untuk memperlajari Tao. Giok Ceng Seng Cow Chi Hi Guang Kun memberinya petunjuk untuk bertapa di Gunung Tay Ho selama 42 tahun kemudian dipanggil untuk datang ke langit.
Pada masa jatuhnya Dinasti Shang, sesosok Raja Iblis (Kui Sin) menghancurkan dunia. Dewa Tao Yuen Chi Tin Chuen (元始天尊) menyuruh Kaisar Giok untuk menunjuk Xuan Wu sebagai komandan atas 12 legiun surga untuk membinasakannya. Rakyat sudah tidak sanggup memikul penderitaan sehingga Xuan Wu berangkat dengan terburu-buru;  tanpa memakai alas kaki dan memakai helm dengan cepat sehingga rambutnya terurai berantakan. Setelah pertempuran yang dahsyat, Kui Sin berubah menjadi kura-kura dan ular yang sangat besar, Xuan Wu menempatkan keduanya di bawah kakinya sebagai pijakan. Sekembalinya di langit, Yuen Chi Tin Chuen menganugerahinya gelar Xuan Tian Shang Di. kura-kura (bulus) dan ular perunggu di bawah kaki efigi Xuan Wu melambangkan bahwa kebaikan selalu mengalahkan kejahatan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Informasi

Video ini biasanya banyak dicari , saya bagikan untuk kawan kawan . Semoga Buddha Dharma semakin berkembang,Jika Tergerak untuk Donasi , Silahkan Di paypal saja.Om Mani Padme Hum.

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;