Kamis, 29 Maret 2012

Buku 2 (Desi)-Mendapatkan Kontak Batin dgn Dewa (Buddhist, Taoist) I

Mendapatkan Kontak Batin dgn Dewa (Buddhist, Taoist)
Salam untuk semua,

Thread ini bermaksud untuk menceritakan kisah seorang Desi yang punya pengalaman tentang guru roh sejati dan perjalanannya dalam membina diri. Untuk mereka yang sudah tidak asing dengan cerita Pak Herman Oetomo, tentu juga akan merasa familiar dengan cerita ini karena dalam hemat saya, mereka sedang berbagi pengalaman spiritual mereka dalam dibimbing oleh guru gaib.

Sengaja diberikan Tag "Buddhism/Taoisme" karena dalam kisah2 nya memang tidak terlepas dari pengalaman2 bertemu/bersua/belajar dengan para sesepuh/gaib/dewa/makhluk suci aliran Tao dan Buddhisme. Beberapa pengalaman mungkin tampak begitu sulit dipercaya dan tidak sesuai dengan konsepsi pada umumnya. Saya pribadi mengambil hikmah dari cerita yang diberikan, soal gaib2nya ya bergantung pada jodoh masing2 apakah memutuskan untuk percaya atau tidak.Ini adalah buku kedua yang aku tulis, isinya agak jauh berbeda dengan isi buku pertamaku. Penemuan jati diri kehidupan lalu yang telah kuketahui selama ini ternyata baru sebagian kecil terbuka. Semakin mendalami jalan hidupku saat ini, aku semakin diperlihatkan banyak hal-hal baru dan tidak masuk akal menurut pemahamanku sebagai manusia awam. Aku kira setelah aku mengetahui jati diriku, itu sudah selesai sampai disitu dan aku hanya menjalankan kehidupanku dengan baik saja, tidak berbuat hal-hal yang jahat dan banyak berbuat kebajikan.

Ternyata semakin mengikuti bimbingan ada rencana lain yang telah digaris padaku, yang tidak bisa aku pahami dan tidak masuk akal. Menurut petunjuk Guru-Guruku dari angkasa, semua ini telah diatur dari awal dan masih rahasia langit dan kedepannya banyak tugas yang harus aku jalankan. Aku diminta untuk menjalankan hidup dengan baik, selalu mendengarkan petunjuk para Dewa, terlebih bimbingan Guru-Guruku maka aku tidak akan tersesat dan salah jalan.

Dalam buku pertamaku, aku tidak menceritakan jati diriku karena para Dewa belum mengizinkan aku menulisnya. Dan pada buku keduaku ini, disamping tugas dan tanggung jawabku dalam menjalankan misi lebih berat, agar semua orang tidak bertanya-tanya dan berprasangka, maka dibuku keduaku ini aku akan kembali menceritakan apa yang kualami selama mendapatkan kontak batin dengan para Dewa dan misi apa yang sedang aku jalankan.
Mungkin keluarnya buku kedua ini akan banyak memicu pertentangan dan kritikan yang lebih keras, karena mungkin banyak orang yang tidak percaya dengan tulisanku ini. Tapi aku tidak bisa menutupi kebenaran yang telah kudapatkan, langit sudah memberi petunjuk kepadaku bahwa aku harus menulis semuanya, itu pesan para Dewa kepadaku.

Saat ini, aku mohon maaf yang sebesar2nya jika tulisan buku ke-2 ini tidak sesuai dengan pemahaman dan keinginan para pembaca dan umat se-dharma. Aku tidak dapat berbuat banyak, apalagi berusaha untuk menghindar dari tanggung jawab yang telah diberikan kepadaku. Aku harus menjalankan hidupku ini ini sesuai dengan arahan dan bimbingan para Dewa. Aku tak mungkin lagi berbalik dan menentang kehendak langit. Kehidupanku yang sekarang adalah kesempatan untuk bisa kembali ke tempat asalku. Jika aku melewatkan kesempatan ini dan tidak menghiraukannya, mungkin aku harus kembali mengalami tumimbal lahir dan harus menunggu kesempatan untuk bisa kembali yang tidak diketahui kapan waktunya.

Setelah sekian lama aku bertemu dengan banyak orang yang menanyakan tentang kehidupan mereka, sebagian banyak dari mereka yang punya jati diri/roh asal yang tidak bisa, punya bibit yang baik untuk membina diri dan mencapai keBuddhaan, tapi mereka sama sekali tidak mengetahui hal ini, kadang aku berpikir apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya mengenai roh asal mereka, kata orang rahasia langit tidak boleh dibocorkan, tapi jika mereka tidak mengetahuinya, bagaimana mungkin mereka bisa terlepas dari lingkaran tumimbal lahir dan termotivasi untuk membina diri mengikuti jalan Bodhisattva. Bibit-bibit baik itu kadang terlahir bukan dari orang berada, di zaman sekarang untuk mendapatkan jalan dharma saja harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit, orang yang susah kadang tidak bisa ikut ambil bagian dalam ritual keagamaan untuk mendapatkan berkah rejeki bahkan juga untuk menolong keluarganya agar bisa tersbrangkan, karena untuk bisa mengikuti ritual keagamaan itu harus punya dana untuk bisa ikut, kadang aku tidak bisa membedakannya lagi, jalan dharma sepertinya bisa dibeli dengan uang.

Tapi kadang pula orang-orang tersebut tidak mendapatkan dukungan dari keluarganya ataupun dari lingkungannya, kadang ada juga yang takut, ketika mereka mulai membina diri rohnya bereaksi, sehingga mereka menarik diri dan tidak menjalaninya, kadang ada juga orang yang dari lahir sudah membawa kelebihan dalam dirinya, yang seharusnya bisa digunakan untuk berbuat kebajikan menolong orang tanpa pamrih agar bisa kembali ke tempat asal, tapi mereka mempergunakan kelebihan mereka dengan sombong dan mengutamakan materi semata.

Jujur saja, sesungguhnya aku pernah bimbang menjalankan jalan dharmaku saat ini, sesuatu yang diluar pikiranku sebagai manusia. Kadang sulit untuk mempercayai semua yang aku alami. Tapi aku bersyukur dan masih beruntung karena aku tidak sendirian menjalaninya. Disaat aku mulai bimbang dan ragu, suami memberikan pandangan yang baik padaku, selalu meyakinkan aku dan tidak membiarkan aku bingung sendiri.

Apa yang dikatakan para Dewa kepadaku, walaupun aku belum menceritakannya pada suamiku, tapi dia sepertinya sudah tahu dan mengatakan kata-kata yang sama dengan kata-kata para Dewa. Kadang terasa aneh, kenapa suamiku bisa punya pandangan sama dengan para Dewa, dan kadang dia sudah mengetahui maksud dari setiap perkataan para Dewa kepadaku. Sehingga yang tadinya aku mulai keluar dari jalur bimbingan , mendengar perkataannya aku kembali bersemangat dan kembali yakin.
Dari sekian banyak orang yang datang padaku untuk berkonsultasi, ada orang-orang yang punya kelebihan-kelebihan yang tidak dipunyai orang awam, aku berpandangan mereka itu pasti bukan orang bisaa, bisa saja mereka memiliki jati diri yang khusus hasil dari pembinaan diri di kehidupan lalu. Tidak sedikit dari mereka yang tidak bisa menjalaninya dengan baik sehingga jalan dharma mereka tidak bisa berjalan dengan baik. Malah ada yang dihalangi dan tidak diarahkan dengan baik sehingga mengakibatkan mereka pesimis, frustasi dan takut menjalaninya, bahkan banyak dari mereka yang terjebak dalam keduniawiannya.

Sesungguhnya menjalani dharma memang tidak mudah, semua tergantung pada hati. Jika hati memandangnya mudah, maka akan menjadi mudah. Tapi jika hati memandangnya sulit, maka akan menjadi sulit untuk dijalani, yang penting bisa memandang setiap masalah dengan tenang, maka apapunyang terjadi dalam kehidupan ini walaupun baik atau buruk tidak ada kekuatiran dalam hati.

Berusaha meredam keinginan-keinginan dan mengkoreksi pikiran, sikap dan tingkah laku buruk kita, agar pendekatan yang kita lakukan kepada para Dewa bisa mendapatkan respon yang baik dan bisa mendapatkan kontak batin dengan para Dewa, karena mereka melihat ketulusan hati kita.
Demikianlah kata-kata yang bisa kuungkapkan disini, semoga buku ke-2 ini bisa mendatangkan kebaikan dan bisa membuat banyak orang lebih mengenal jati diri masing-masing, berusaha mendapatkan pencerahan dan tidak mengejar keinginan duniawi, harta, nama, jabatan dan pemuasan akan Indra tubuh kita hanyalah halangan bagi kita dalam membina diri, semakin kita tergantung pada hal itu, kita semakin sulit mendapatkan kebahagiaan yang abadi, dan terlebih lagi harus kembali menjalani kehidupan di dunia ini yang penuh dengan penderitaan dan kesulitan.
Jati Diri/Roh Asal

Dalam buku pertama, aku pernah menuliskan bahwa aku telah mengetahui jati diriku/roh asalku yang sebenarnya. Aku telah mengalami 2 kali kelahiran, kehidupan sebelumnya dan kehidupan yang sekarang, Guru Sejatiku yang mengatakannya dan aku telah mengetahui kehidupanku itu dari meditasi. Dan dalam kelahiranku itu aku harus mengalami penderitaan dan kesulitan hidup di dunia ini.

Aku beruntung karena dikehidupanku yang sekarang, bisa mendapatkan kesempatan untuk membina diri sehingga bisa mengetahui jati diriku yang sesungguhnya dan bisa memutuskan rantai tumimbal lahir.

Aku berusaha melatih diriku untuk bisa mencapai penerangan dan mencapai keBuddhaan di kehidupan saat ini juga. Dengan adanya pertolongan dari Guru Sejatiku, juga para Dewa yang membimbing dan mendukungku, juga dari suami dan keluarganya selalu memberikan kekuatan dan dorongan kepadaku, sehingga aku bisa menjalankan kehidupanku yang agak berbeda ini.

Penemuan jati diriku berawal dari mulainya menjalankan kepercayaan agama Buddha, sebelumnya aku beragama Kristen, saat mulai menjalankan agama Buddha bersama suamiku, aku agak canggung. Karena aku tidak mengerti tata cara sembahyang, kadang aku merasa risih jika harus sembahyang dan memegang dupa hio di depan banyak orang. Tapi, sejak mulai belajar membaca mantera Dewa Bumi, hatiku mulai bisa menerima dan tulus menjalani agamaku, walaupun kehidupanku saat itu masih diiringi dengan pemuasan keinginan duniawi.

Suatu kali aku bermimpi pergi ke suatu Vihara dengan membawa bunga melati, bersujud di hadapan rupang seorang Dewi, saat itu aku melihat mata rupang Dewi tersebut bergerak dan melirik ke kanan wajahnya, aku melihat ada api yang membakar rambutnya, aku segera memadamkan api tersebut dan membersihkan wajah kanannya dari noda hitam.

Kejadian mimpiku ini terjadi dalam kehidupan nyataku. Disaat aku bersembahyang di salah satu vihara di daerah Tangerang, seperti sudah diatur, aku tiba-tiba saja membersihkan pipi kanan salah satu rupang Dewi di vihara itu. Saat itu aku belum sadar, kalau itu adalah pertanda untukku, dan awal kontak batin dengan Guru sejatiku. Hanya saja sejak kejadian itu aku ingin selalu membaca “Maha Karuna Dharani”.

Sejak kejadian itu, aku seperti dituntun untuk bertemu dengan Guru sejatiku, yaitu Bodhisattva yang berjodoh denganku selama ini mendampingiku tapi aku tidak mengetahuinya. Hanya saja aku berulang kali memimpikan Bodhisattva itu, dan sepertinya memberikan petunjuk dalam mimpiku.

Sejak sering membaca mantra Dewa Bumi, entah sudah berapa banyak, aku mulai mendapatkan penglihatan gaib setiap membaca mantra dan ditunjukkan tempat bertemu dengan Guru sejatiku itu. Sampai saat itu, aku belum bisa berkomunikasi dengan Guru sejatiku itu apalagi dengan para Dewa.

Hanya karena sudah dapat penglihatan, aku bisa meminta petunjuk melalui penglihatan saja disaat membaca mantra Dewa Bumi, jadi saat ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, aku tidak minta jawaban melalui pua pue, tapi memohon agar bisa diberi penglihatan saat membaca mantra, dan percaya tidak percaya, aku bisa mendapatkan jawaban dari para Dewa atas pertanyaan-pertanyaanku itu.

Setelah bertemu dengan rupang Guru sejatiku di salah satu toko penjual rupang para Dewa di daerah Jakarta, aku memasang rupang Guru sejatiku itu di rumah, saat itu hanya menempatkannya sebagai pajangan biasa saja, karena aku belum menyadari kalau aku berjodoh dengannya.

Setelah tiga hari rupang Guru sejatiku itu terpajang di rumah keanehan terjadi, suster dirumahku ingin memakai telepon tapi saat dia menempelkan telpon di telinganya, terdengar suara mantra di telepon itu, suaranya sama dengan mantra yang ada di rupang Guru sejatiku itu.

Kejadian aneh itulah awal mulanya aku memutuskan untuk menjalani meditasi, walaupun tidak yakin atas apa yang kulakukanm aku tetap mencoba untuk menjalani keinginanku. Beberapa teman menyarankan agar aku tidak melakukannya karena katanya bisa kemasukan/kerasukan roh jahat, awalnya aku sedikit takut juga, tapi entah kenapa aku tak menghiraukannya lagi dan tetap menjalani meditasi. Karena aku percaya para Dewa pasti melindungi, karena sebelum meditasi aku membaca Sutra dan mantra terlebih dahulu.

Sesuatu terjadi pada hari ke-21 aku menjalani meditasi, sebelum ke-21 hari itu tak ada pengalaman apapun dalam meditasi yang aku jalani. Tiba-tiba saja saat aku selesai meditasi dan berniat untuk tidur, jantungku berdetak sangat kencang, sepertinya dadaku dipukul-pukul dari dalam , hal itu kurasakan kurang lebih 1 menit saja dan begitu jelas. Aku bertanya-tanya dalam hati, karena tidak mengerti apa yang terjadi padaku, aku bertanya pada suamiku mengenai apa yang kurasakan, suamiku mengatakan “ mungkin disuruh meditasi lagi”, walaupun kata-kata suamiku terdengar tidak masuk akal, karena baru saja aku selesai meditasi. Tapi aku ikuti saja sarannya untuk kembali bermeditasi. Benar saja, saat aku meditasi beberapa lama, mulai ada sensasi yang aneh yang tidak pernah aku rasakan selama meditasi, aku seperti mencapai suatu kekosongan bisa menenangkan pikiranku.

Setelah sensasi itu dalam hati aku mendengar ada orang yang memanggil namaku, aku kira itu suamiku jadi aku tidak menghiraukan panggilan itu. Tapi suara itu kembali memanggilku lagi 2 kali, aku mulai merasa aneh apa iya itu suara suamiku, tapi kedengarannya suara seorang wanita, aku tidak bisa membedakannya karena saat itu mata batinku belum terbuka. Akhirnya aku menjawab panggilannya,

“ya…”

“Desi.. aku adalah Dewi Seribu Tangan Seribu Mata. Karma kehidupan masa lalumu telah selesai, rohmu telah terbangunkan dengan sendirinya. Sejak saat ini kau akan bisa berkomunikasi dengan Dewa dan roh, bisa mengetahui kehidupan masa lalu dan masa yang akan datang. Aku memberi anugrah benda pusaka untuk melindungi dirimu. Jalanilah kehidupanmu dengan baik”.

Guru sejatiku itu meminta aku mengulurkan tangan kepadanya, tapi aku belum bisa melihat Dia dengan mata batinku, jadi aku hanya mengikuti instruksi darinya saja. Sejak itulah, perubahan demi perubahan kualami dalam diriku, mulai bisa berkomunikasi dengan Dewa dan roh, aku mengalami perubahan, dari manusia awam menjadi manusia yang bisa berinteraksi dengan para Dewa seperti yang dikatakan Dewa Bumi kepadaku. Setiap ada tugas yang diberikan oleh Guru sejatiku itu, aku pasti merasakan tubuhku berubah, hal ini hanya aku yang bisa merasakannya sendiri.

Sampai suatu hari aku mengetahui jati diriku, dari mana asal rohku sebelum turun menjadi manusia dan mengalami berulang kali tumimbal lahir. Dalam meditasi aku mengalami kejadian kehidupanku, dari saat masih sekolah di bangku SMA bergerak mundur ke SMP, terus mundur saat aku masih kecil, saat masih di kandungan ibuku, lalu mundur lagi ke suatu tempat entah di mana, aku melihat seorang wanita yang mengalami penderitaan, lalu mundur lagi melihat seorang wanita yang lain yang seperti seorang Dewi. Penglihatan itu berhenti sampai disitu, aku mencoba untuk merenungkan apa yang kulihat, tapi mungkin karena aku bukan orang yang pintar menganalisa, aku tidak menemui jawabannya.

Mungkin Guruku mengetahui hal ini, sehingga dia datang dan memberiku petunjuk.

“Desi… kau sudah mengetahui jati dirimu, roh asalmu adalah seorang Dewi di alam Sukhavati Surga Barat Buddha Amitabha, yang berada di tingkat ke-27. Kau adalah Dewi keindahan di alam Sukhavati. Alam Sukhavati ada 28 tingkat, dan masing-masing tingkat ada Dewi Sukhavati yang mengurus keindahan alam tersebut, yang terdiri dari masing-masing warna, kau sendiri adalah Dewi Sukhavati kuning”.

“apakah seperti itu Guru…tapi bagaimana mungkin?”

“Desi, kau turun ke dunia karena ada kesalahan yang pernah kau lakukan, sehingga harus mengalami penderitaan hidup di dunia manusia. Di alam Dewa, kita sering bertemu dan bercengkrama. Oleh karena itu aku sudah menunggu waktunya kau terbuka, sehingga bisa membimbingmu untuk bisa kembali ketempat asal.”

“Guru…apa kesalahan yang pernah saya lakukan saat menjadi Dewi Sukhavati?”

“ini masih rahasia langit aku tidak bisa mengatakannya kepadamu, nanti kau akan mengetahuinya sendiri. Kau harus mulai mengumpulkan jasa pahalamu dan berbuat banyak kebajikan agar bisa kembali ke tempat asalmu, ikutilah setiap petunjuk yang diberikan oleh para Dewa”.

Begitulah, Dewi Seribu Tangan Seribu Mata adalah Guru sejatiku, yang selama ini selalu datang setiap hari membimbing, memberi nasehat, memberi petunjuk dan menjagaku. Sehingga aku bisa menjalani kerohanian dengan begitu cepat. Dan mulai menuntun diriku menuju jalan kebenaran. Melalui Guru sejatiku itu pula, misi dari langit diberikan kepadaku, yaitu “Menjalankan Kebenaran dan Menolong Orang.

Semoga saja, misi yang telah diturunkan kepadaku itu bisa aku jalani dengan setulus hati, bisa menjalani kehidupanku dengan baik dan membina diri dengan bersadhana, membaca mantra, berbuat kebajikan dan bermeditasi, itulah yang kulakukan saat ini. Walaupun baru aku jalani tapi entah mengapa aku sepertinya nyaman melakukannya.
Berkat di Malam Tahun Baru

Pada malam tahun baru 2010, aku diminta oleh Guru sejatiku untuk bermeditasi pukul 10 malam. Entah mengapa dia menyuruhku seperti itu, dan saat itu aku tidak tahu maksudnya. Tapi aku tetap menjalani petunjuk yang dia berikan.

Saat itu aku melihat para Dewa turun dari langit, mereka berkumpul di hadapanku dan memancarkan sinar hijau kepadaku secara bersamaan dan setelah itu mereka satu persatu menghampiri aku dan menopangkan tangannya di kepalaku seperti memberkati. Aku agak bingung melihat hal ini, mengapa mereka datang dan memberikan berkat, apa maksudnya? Tapi dari semua Dewa yang hadir, aku tidak melihat Guru sejatiku juga Guru-guru pembimbingku.

Setelah selesai memberkati mereka pergi, tinggal aku sendiri kebingungan dan tidak mengerti. Lalu Guru sejatiku member petunjuk bahwa para Dewa telah memberikan anugrah kepadaku, jadi disaat aku mengalami kesulitan dimanapun aku berada, para Dewa itu akan datang menolongku.
Ini hadiah tahun baru yang paling indah yang aku dapatkan, para Dewa begitu baik dan memperhatikan aku, tapi kenapa aku kan manusia biasa, yang tidak memiliki kelebihan apa-apa, mendapatkan berkah dari para Dewa seperti itu, apakah pantas kuterima. Apa maksud dari semua ini..??

Pada tanggal 7 bulan 1 saat aku hendak menghadap Mahadewi Yao Chi untuk menerima bimbingan setiap harinya, Guru sejatiku memanggil, disamping beliau ingin membantu menjawab beberapa pertanyaan orang yang diajukan kepadaku, dia juga mengatakan sesuatu yang tidak bisa kupercaya. Petunjuk yang diberikan membuat aku agak bingung dan takut sehingga membuat aku menangis. Guruku berkata:

“Desi… Aku beritahukan kepadamu, bahwa akan ada Bodhisattva yang turun ke dunia demi menjalankan ikrar dan misiNya menjadi Buddha demi menyelamatkan semua makhluk. Dan dari sekian banyak umat manusia, kau telah dipilih untuk menjalankan amanat dan akan menerima anugrah dariNya.”

Aku terkejut mendengar perkataan Guruku itu.

“Guru, ini pasti bukan yang sebenarnya, mana mungkin Bodhisattva berkenan memberikan anugrah kepadaku.”

“Desi, ini atas petunjuk Bodhisattva itu sendiri, Dia sudah memilih dirimu untuk menjalankan amanat ini, karena memang sudah saatnya bagi Dia untuk terlahir ke dunia.”

“Tapi aku ini bukan orang yang bersih dan tidak layak menerima anugrah itu, akupasti sedang berkhayal. Guru, aku tidak berani menerimanya.”

“Semua ini sudah ditakdirkan, karena itu persiapkanlah dirimu untuk kedatanganNya dan ikutilah setiap petunjuk yang aku berikan.”

Dengan hati gundah aku menghadap Mahadewi Yao Chi, tapi Beliau tidak langsung memberikan bimbingan seperti biasanya. Beliau malah membahas apa yang dikatakan Guru sejatiku itu. Mahadewi Yao Chi juga mengetahui hal ini dan katanya berkat yang diberikan para Dewa waktu itu, yang memberkatiku dengan sinar warna hijau dan menopangkan tangan mereka di kepalaku satu persatu adalah untuk hal ini. Semua itu agar aku layak menerima anugrah dari Bodhisattva tersebut. Oleh sebab itu, para Dewa akan menolong jika aku mengalami kesulitan dimanapun aku berada.

Aku sungguh tidak percaya hal ini, tapi Mahadewi Yao Chi malah mengajari aku mantra untuk mempersiapkan kedatangan Bodhisattva tersebut untuk aku baca setiap hari sampai waktunya tiba.

Perasaan hatiku begitu gundah sat ini, mengapa aku harus mengalami hal ini, benarkah yang kualami ini. Tapi jauh hari sebelum Guruku mengatakan hal itu, aku pernah mendapatkan penglihatan lebih dulu. Saat aku hendak beranjak tidur, aku tahu kalau aku belum tidur saat itu, tapi saat aku hendak memejamkan mata, aku melihat kejadian-kejadian menyedihkan dan menyenangkan yang pernah aku alami dalam kehidupanku sekarang ini, setiap kejadian demi kejadian begitu jelas di mataku.

Aku melihat seseorang yang kakinya sakit telah sembuh dan dia datang menemuiku, entah apa yang kami bicarakan. Hanya saja beberapa waktu kemudian dia datang ke tempatku bersama banyak orang lainnya, sepertinya dia sedang mengatur pekerjaan untuk membangun sesuatu. Setelah jadi baru terlihat kalau bangunan itu sebuah Vihara. Vihara itu sama persis dengan yang kulihat dalam meditasi saat aku mengetahui masa depanku. Aku juga melihat diriku dalam keadaan mengandung dan dari langit turun Bodhisattva masuk ke dalam perutku.

Penglihatan ini ku alami dalam keadaan sadar dan bukan sedang bermimpi, dengan adanya petunjuk Guruku mengenai turunnya Bodhisattva tersebut, begitu berhubungan dengan penglihatanku itu. Hal ini membuat aku serba salah, ini seperti khayalan tapi aku tidak pernah mengharapkannya.

Anugrah ini datang begitu saja tanpa bisa aku hindari, hanya perasaan takut dan merasa tidak pantas menerimanya. Bisa berkomunikasi dengan Kaisar Langit saja sudah membuat orang tidak percaya, aku tidak bisa membayangkan jika ada Bodhisattva yang berkenan memberi anugrah, pasti aku akan dikecam dan dianggap orang gila.

Tgl 7-1-2010 pkl 10 pagi, Guru sejatiku memanggil dan berkata:

“Desi, kau sudah mengerti dan memahami mengenai anugrah yang akan diberikan Bodhisattva kepadamu bukan. Kau harus mempersiapkan dirimu dengan baik. Malam ini bermeditasilah untuk menghadap para Buddha, karena mereka akan memberkatimu.”

“Aku mengerti, tapi saat ini saya sedang berhalangan.”

“tidak apa=apa, tetap bisa menghadap. Dan ingat, setelah berhalanganmu selesai kau tidak boleh menundanya lagi, biarkan apa adanya.”

“Baiklah Guru.”

Besoknya kira-kira pukul 11:15 WIB, tanpa sengaja telunjukku memegang bara hio yang aku pasang saat ingin sembahyang di altar Dewa bumi, aku takut ini pertanda buruk, jadi aku coba bertanya kepada Dewa Bumi.

Ternyata Dia ingin memberitahukan kepadaku, karena hari ini para Buddha akan datang memberkatiku, Dia dan para Dewa Bumi akan membantu membukakan jalan untukku. Mara dan setan penggoda pasti akan berusaha mengganggu dan menggagalkan. Karena jika aku sudah diberkati, mereka akan sulit untuk merajalela.

Setelah aku pulang dari salah satu vihara di Jakarta, aku bermeditasi sesuai petunjuk Guru sejatiku. Aku melihat para Dewa Bumi datang, mereka semua menyebar kesegala penjuru seperti membuka dan melapangkan jalan, baru setelah itu aku melihat kehadiran Buddha Sakyamuni, Buddha Amitabha, dan Buddha Bhaisajyaguru menghampiriku dan menopangkan tangan mereka di kepalaku dan banyak Buddha di belakangnya, seperti ikut memberkati dari kejauhan, setelah itu semua Buddha itu menghilang.

Hari ini juga Guru Sejatiku meminta agar aku pergi ke salah satu vihara di daerah Jakarta, tapi aku ragu apa hari ini ada puja bakti, karena aku tidak tahu jadwal pujabakti di vihara itu. Untuk meyakinkan hatiku aku mencoba menghubungi salah satu umat yang ada di vihara itu, darinya aku mengetahui kalau hari ini adalah hari perayaan ulang tahun vihara itu, jadi aku baru sadar kalau guruku meminta aku kesana agar bisa menghadiri acara ulang tahun vihara itu. Akhirnya aku, suamiku, anakku dan mertuaku pergi ke vihara itu, sesampai di sana aku sudah terlambat, acara pujabaktinya sudah selesai.

Saat itu sedang ada lomba membaca mantra, bagi umat yang hadir dan ingin ikut lomba boleh ikut mengangkat tangan. Aku melihat banyak yang maju untuk ikut, satu persatu umat maju untuk membacakan mantra Ta Pei Cou, mantra Kao Wang Kwan Se Im, dan disaat pembacaan mantra Sin Cing (Sutra Hato) entah dorongan dari mana mengisyaratkan aku untuk maju kedepan, aku berusaha menolaknya, tapi dorongan itu begitu kuat dan tanpa bisa kutahan, tanganku dengan sendirinya terangkat dan akhirnya aku dipanggil ke depan untuk ikut lomba.

Perasaanku bercampur aduk, tapi tubuh ini terasa begitu ringan saja maju kedepan, sepertinya kepercayaan diriku tumbuh begitu saja, dan tidak memperdulikan lagi semua yang hadir di situ, padahal saat itu ada mertuaku dan biasanya aku paling tidak bisa menampilkan diriku di depan banyak orang, dan terlebih lagi aku bukanlah umat di vihara itu.

Aku membaca mantra Sin Cing seperti biasa aku membacanya di rumah saat bersembahyang, sepertinya hanya aku sendiri yang berbeda melantunkan mentra itu dan anehnya malah aku menang lomba.

Aku merasa aneh sendiri, selama ini dari sejak remaja sampai aku dewasa aku sering ikut lomba-lomba menyanyi, tapi saat itu lomba menyanyi lagu-lagu duniawi.

Aku tidak pernah bisa menang menyanyikan lagu-lagu duniawi dan tidak ada jalan menuju dunia hiburan/penyanyi, walaupun teman-temanku dahulu pernah mengatakan bahwa suaraku bagus. Anehnya sekali ikut lomba baca mantra aku malah bisa menang. Aku pikir mungkin suaraku ini memang hanya diperuntukkan untuk kerohanian, mungkin para Dewa tidak mengizinkan aku tenggelam dala kesenangan duniawi, sehingga tidak pernah diberi kesempatan untuk berhasil dalam ajang keduniawian agar aku tidak lupa diri.


Kedatangan Bodhisattva

Tgl 18/1/2010
Hari ini aku ditegur oleh Guru sejatiku karena kemarin malam tidak konsentrasi dalam meditasi. Guru sejatiku memang menyuruhku meditasi, tapi saat itu aku sudah terlalu lelah pulang dari membersihkan rumah orang di daerah Bogor.
Saat aku tiba di rumah sudah hampir pukul 12 malam, aku mencoba untuk meditasi, tapi mataku sudah berat karena mengantuk dan tidak bisa konsentrasi dengan baik, hingga ketika melihat ada Bodhisattva datang dan berbicara padaku, aku tidak mendengarnya lagi dan tidak tahu lagi apa yang dibicarakan.

Karena itu, malam ini aku diminta untuk meditasi kembali, aku juga hampir terlupa petunjuknya karena pada saat itu sedang menerima tamu untuk konsultasi, kira2 pkl. 11 malam Guru sejatiku memanggil dan meminta agar aku meditasi karena Bodhisattva yang kemarin sudah menunggu.

Aku segera masuk ke ruang altar pribadiku untuk meditasi. Benar saja aku melihat kedatangan satu Bodhisattva, wujudnya sama dengan rupang yang ada di altar rumahku dengan warna kulit dan jubah yang sama. Dia tersenyum melihatku, kemudian kami berkomunikasi.

Bodhisattva bertanya kepadaku apakah aku sudah siap? Aku katakan iya dan Dia memberitahukan agar aku tidak perlu takut. Bodhisattva itu juga membicarakan satu rahasia padaku, katanya akan ada sesuatu di tahun 2012. Aku tidak bisa menuliskannya disini karena ini rahasia langit. Setelah mengatakan hal itu Bodhisattva itu pergi dan aku keluar dari meditasi.

Pagi harinya sekitar pkl 3 pagi, seperti biasa aku turun ke lantai dasar rumahku menuju ruang latar pribadi untuk meditasi. Saat itu hujan turun dengan derasnya dan tidak berhenti-henti tapi aku tetap konsentrasi dalam meditasi, tapi dalam meditasi ada sedikit kekhawatiran dalam hatiku, jika hujan terus seperti ini bisa-bisa daerahku banjir seperti tahun-tahun sebelumnya.

Meditasi pagi ini aku merasakan kekuatan roh besar menggerakkan tubuhku, begitu kuat sekali tidak seperti biasanya, walaupun aku seperti berada di alam yang lain dan gerakan tangan dan tubuhku begitu cepat dan kuat. Sekitar pelipis mata sampai hidung juga mulut dan dagu, seperti ada gerakan menekan yang kuat, ini pasti prana, tapi aku terus berkonsentrasi dan membiarkan proses pergerakan itu berhenti dengan sendirinya.

Setelah selesai meditasi, aku kembali ke lantai atas menuju kamar tidurku. Tapi saat di pertengahan tangga naik, Guru sejatiku memanggil dan berkata:

“Desi, aku minta kau mengikuti petunjukku karena hari ini adalah saatnya.”

“Apa maksud Guru?”

“Desi, kau sudah dipilih untuk menjalankan amanat ini, dan ini adalah saat dimana aura Bodhisattva menyatu dengan dirimu. Jadi lakukanlah.”

“Tapi diluar hujan deras sekali dan tidak berhenti-henti, aku takut akibatnya kurang baik.”

“Tidak apa-apa, jika kau melakukan petunjukku, maka hujan akan berhenti dengan sendirinya.”

“Apa bisa begitu Guru?”

“Cuaca dan keadaan alam belakangan ini tidak teratur dan selalu berubah-ubah dengan cepat, itu semua karena mara mencoba untuk menghalangi. Jadi, jangan ditunda lagi, ikutilah petunjuk yang kuberikan.”

“Baiklah Guru.”

Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, tapi aku kembali ke kamar tidurku saja dengan agak bingung. Aku berpikir, apakah petunjuk Guruku itu harus kujalani atau tidak, karena petunjuk kali ini agak sedikit aneh dan tidak masuk akal bagiku dan aku tidak berani melakukannya. Tapi hujan diluar tidak berhenti-henti, jika terus seperti ini, daerahku bisa kebanjiran.

Akhirnya aku kuatkan hatiku untuk melakukannya, petunjuk Guruku lebih penting dari sekedar rasa takut yang kualami. Dan benar saja, saat aku menjalankan petunjuk itu hujan langsung berhenti. Tapi air hujan sempat masuk ke teras rumahku, dan walaupun hujan benar-benar berhenti aku melihat langit masih mendung.

Aku memohon pada para Dewa untuk tidak menurunkan hujan lagi, karena jika tidak tempatku pasti tidak bisa diselamatkan dari banjir. Setelah selesai sembahyang, tiba-tiba angin bertiup kencang, awan hitam yang tadinya menyelimuti daerahku tersapu pergi, langit kembali cerah, matahari bersinar dengan sangat terik dan tidak turun hujan lagi saat itu.

Ini adalah keajaiban yang aku terima dari para Dewa, aku percaya, aku dan keluargaku selalu dalam perlindunganNya. Hari ini aku sadar, bahwa segala yang aku alami ini adalah garis hidup yang harus aku jalani, yang arahnya menuju ke tempat asalku, awalnya aku tidak mengerti maksud dari semua ini, dari beragama Kristen menjadi beragama Buddha, sama sekali tidak terpikirkan dan seiring berjalannya waktu aku mendekatkan diri dan dibimbing oleh para Dewa.

Aku telah bertemu dengan orang-orang yang belum pernah kukenal sebelumnya, mengetahui permasalahan dari kehidupan mereka. Ada yang karmanya berat, ada juga yang berjodoh kuat dengan Dewa. Dari yang tua sampai anak berumur 3 tahun memiliki aura keDewaan.

Aku baru mengetahuinya, bahwa setiap orang itu tidak sama, bukan hanya fisik dan sifat mereka, tapi roh yang ada dalam diri mereka ternyata tidak sama. Aku merasa dingin dan tidak nyaman jika berhadapan dengan orang yang tubuhnya ditempeli roh yang tidak baik, aku merasa biasa-biasa saja jika berhadapan dengan orang yang memiliki roh biasa yang terjebak pada keduniawian, aku merasa takjub dan tubuhku bereaksi kuat jika berhadapan dengan orang yang memiliki roh kedewaan atau pernah membina diri di kehidupan lalu dan rajin membaca mantra atau dilindungi oleh Dewa.

Ternyata aku diarahkan oleh para Dewa untuk membimbing orang lain, menuntun mereka untuk menjalani kehidupan dengan baik dan mendekatkan diri kepada para Dewa agar mereka bisa kembali ke tempat asal atau bisa naik ke tanah suci Sukhavati dan tidak mengalami tumimbal lahir kembali.

Aku telah diberikan misi dari langit dan mendapatkan tugas-tugas yang agak berat. Menjalankan kebenaran dan menolong orang adalah misiku. Perasaanku pasang surut menjalaninya, kata suamiku aku seperti air laut, kadang semangat menjalaninya kadang semangat hilang mengikuti perasaan hatiku yang tidak karuan.

Menjalankan misi ini begitu banyak rintangan dan cobaan, tapi sesungguhnya rintangan itu datangnya dari diriku sendiri, bukan dari mana-mana. Sendiri yang malas, lelah dan bosan, atau merasa terbeban dengan misi itu. Kadang suka merasa dipermainkan oleh para Dewa, karena perkataan dan petunjuk yang Mereka berikan penuh dengan teka-teki yang kadang sulit kuketahui maksud dan maknanya, tapi aku bersyukur ada suamiku, dia yang selalu memberikan pandangan baik kepadaku, sehingga aku sedikit demi sedikit mengetahui maksud para Dewa.

Seharusnya aku menjalani semua ini dengan keyakinan penuh dan percaya bahwa para Dewa tidak akan berbohong, karena jika seperti itu bagaimana mungkin ada keajaiban dan mukjizat yang terjadi di dunia ini jika para Dewa tidak mengatakan kebenaran. Dan tidak ada lagi manusia yang percaya pada kebesaran Tuhan.

Aku harus tetap menjalankan misi dan tugasku, tidak boleh memikirkan diriku sendiri, apapun yang terjadi padaku, semua kuserahkan kepada para Dewa. Apalah artinya tubuh ini, pada akhirnya akan kembali menyatu dengan tanah, jadi untuk apa kusayangi dan kutakutkan terjadi pada diriku.

Para Dewa melindungiku dan menjagaku. Tidak semua orang bisa seberuntung diriku, yang punya kekayaan lain yang tidak dimiliki orang awam. Tapi aku tidak boleh sombong, harus tetap rendah hati. Karena semua kelebihan yang diberikan para Dewa padaku adalah bukan untuk diriku sendiri melainkan untuk menolong orang lain juga.



Hari Para Dewa Naik ke Surga
Tgl 6/2/2010 Lunar 23/12
Hari ini tamu dari luar kota datang kerumahku salah satunya punya roh yang tidak biasa, tapi dia tidak percaya diri dan terombang ambing menjalani kehidupan dan jalan dharmanya, karena ada yang mengatakan kalau dia beraura yin dan diikuti oleh roh yang tidak baik, patung Dewa di altarnya dikatakan kotor dan harus dihancurkan.

Saat dia datang dan bertanya kepadaku mengenai hal itu aku mengatakan bahwa dia tidak yin, dan dia dibimbing oleh roh yang baik. Perkataanku itu membuat dia semakin bingung, sesungguhnya yang mana yang benar pikirnya. Tapi aku katakan kepadanya, kebenaran itu tidak ada dimana-mana, dan tidak perlu dicari kemana-mana.

Kebenaran itu ada dalam diri sendiri, jadi percayalah pada diri sendiri bahwa bimbingan yang diterima adalah benar. Untuk mengetahuinya adalah dengan cara melihat dan merasakan setiap bimbingan yang diterima mengarah ke baik atau ke arah yang jahat, seharusnya diri sendiri bisa mengetahuinya.

Semua tergantung pada keyakinan dan keteguhan hati, jika tidak ada semua itu akan sulit menjalani hidup apalagi menjalani dharma menolong manusia. Karena sejak dulu, para Dewa menjalani jalan Dharma mereka dengan keyakinan selama hidup di dunia.

Saat aku sedang makan dengan tamuku itu di restoran dekat rumahku, Guruku memanggil, dia menyuruhku untuk bermeditasi mala mini.

Setelah kembali ke rumah aku mandi dan meditasi, aku melihat para Dakini/Dewa Dewi khayangan sedang menari-nari dengan indahnya, setelah itu aku melihat Guru-Guruku, Dewa Kwan Kong, Mahaguru Tay Sang Lo Kun, Buddha Chikung, Buddha Sun Go Kong, Dewi Kwan Im, Mahadewi Yao Chi, Dewa Hian Tian Shang Tee dll turun satu persatu dan berbaris kesamping, dan terakhir aku melihat Guru sejatiku Dewi Seribu Tangan Seribu Mata datang dengan wujud yang lebih besar dan berhenti di atas para Guru yang lain. Aku mendengar mereka berbicara sama-sama:

“Desi, saat ini kami semua akan naik kelangit untuk memberikan laporan, untuk sementara bimbingan para Guru diliburkan dan kau tidak perlu menerima konsultasi sementara waktu, tapi jika ada hal yang mendesak kau boleh meminta petunjuk, setelah tanggal 5 bulan 1 lunar baru akan mendapat bimbingan, dan kembali seperti biasa. Tapi kau tetap harus menjalani meditasi dan membaca mantra, walaupun para Dewa naik, bukan berarti tidak melihat semua yang kau lakukan. Jalankanlah hidupmu dengan baik.” Lalu semua Guru-Guruku itu pergi.

Ternyata para Guru memperhatikan aku, padahal aku lupa kalau hari ini mereka akan naik ke langit, mereka semua datang menemuiku dan berpamitan denganku, perhatian mereka itu membuatku terharu, aku sempat menangis saat itu, beginikah rasanya ditinggal Guru, ada kehilangan didalam hati.

Selama para Dewa naik ke langit, aku merasakan tubuhku agak ringan, biasanya banyak Dewa mendampingiku kemanapun aku pergi. Tapi hari ini, aku merasakan kekosongan dalam hatiku. Biasanya aku merasakan keberadaan mereka didekatku, tapi beberapa hari ini aku seperti kembali seperti orang awam dan tidak ada keanehan pada diriku. Tapi walaupun begitu, Guruku kadang masih datang menemuiku jika ada sesuatu hal yang penting, jadi sama sekali tidak membiarkan aku dan meninggalkanku.

Pada hari dimana para Dewa naik, dalam perjalanan aku melihat ke angkasa, disitu aku melihat sebuah garis agak lebar dan panjang seperti sebuah jalan, aku berpikir apakah mungkin para Dewa lewat jalan itu karena hari ini langit kulihat berbeda sekali.

Setiap tahun para Dewa naik kelangit untuk melaporkan setiap kejadian yang ada di bumi, setiap perbuatan manusia baik atau jahat sepanjang tahun ditulis dan dilaporkan ke langit, karena itulah karma manusia selalu berjalan dan berputar, kadang manusia menuai karma baik kadang juga karma buruk, semua itu tergantung pada apa yang dilakukan manusia itu di kehidupan lalu dan kehidupannya saat ini.

Aku baru mengetahui, kalau sesungguhnya jika karma buruk yang telah tertanam tidak langsung terhapuskan jika kita berbuat baik dan membina diri. Tapi dengan membina diri dengan membaca mantra, meditasi dan berbuat kebajikan, akan mematangkan karma buruk kita sehingga karma buruk bisa terkikis dengan cepat.

Hal ini berbeda dengan manusia yang tidak membina diri, memang dia tidak langsung menerima karma buruknya, tapi tanpa dia sadari dia telah menumpuk karma buruk semakin banyak, sehingga disaat buahnya matang, dia tidak bisa menghindar dari karmanya yang berat itu dan tidak ada yang bisa menolong dia baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang.

Banyak manusia yang takut membina diri, karena menganggap bahwa membina diri itu sama artinya dengan menjadi biksu dan harus meninggalkan keduniawian, tidak boleh ini dan itu, hidup terikat dengan sila dan lain sebagainya. Padahal sesungguhnya tidak seberat yang dipikirkan manusia, justru dengan membina diri dan mendekatkan diri pada para Dewa, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi, terhindar dari segala kesulitan dan penderitaan, karena kita akan dilindungi oleh para Dewa.

Tidak harus menghindari diri dari dunia ini, semua yang ada di dunia ini masih bisa dinikmati, hanya saja tidak terikat dan melekat terhadap segala kesenangan duniawi, bisa berpikir lebih jernih dan bijaksana, bahwa semua yang ada di dunia ini adalah kosong. Kita datang dan lahir di dunia ini dengan kekosongan dan nantinya saat meninggalkan dunia ini juga dengan kekosongan pula, jadi apa yang harus dirisaukan dan apa yang harus diharapkan. Karena sesungguhnya betapa berat dan besarnya usaha kita mengumpulkan harta, menaikkan jabatan dan mengejar hal-hal duniawi itu, pada akhirnya kita tidak mendapatkan apapun didunia ini.

Gadis Yang Menjadi Tumbal Pada suatu hari suamiku bermimpi, dia menceritakan mimpinya itu kepadaku. Dalam mimpi itu saat dia sedang berjalan-jalan dengan keluarga, dia dikagetkan oleh jatuhnya seorang gadis berseragam sekolah dari sebuah gedung bertingkat tepat didepannya, dia tidak tahu kenapa gadis itu bisa jatuh dari atas gedung itu, sampai dia bangun dari tidur masih mengingat mimpi itu.

Guru sejatiku memberi petunjuk kalau nanti akan ada anak gadis sekolahan yang meminta tolong, karena dia sedang mengalami kesulitan. Benar saja, esok harinya saat waktu menunjukkan pukul 4 pagi, ada anak gadis menghubungiku dia bernama Yanti, ini bukan nama sebenarnya.

Nada bicaranya terlihat panik dan tidak karuan, seperti sedang mengalami ketakutan. Katanya sudah beberapa tahun ini tidak bisa tidur, semakin hari dia merasa banyak hantu mengganggunya. Jika dia tidur lebih cepat, maka akan terbangun di tengah malam dan tidak bisa tidur lagi, karena dia melihat banyak hantu di kamarnya.

Dari nama dan tanggal lahirnya, aku mengetahui kalau dia sedang ditempeli oleh roh jahat, tapi roh jahat ini bukan berasal dari dirinya, dia telah menjadi tumbal roh-roh jahat itu. Awalnya aku tidak mengerti mengenai hal ini, tapi Guruku mengatakan kalau demi usaha lancar dan tidak kesulitan uang, orang tuanya pergi ke orang pintar dan tidak menyadari tempat yang mereka datangi itu tidak bersih.

Setiap kali mereka ke tempat itu selalu disuruh memakan sesuatu dari orang pintar itu dan membawa pulang sesuatu yang diberikannya. Usahanya memang lancar, tapi rumah yang mereka tempati tidak nyaman dan anaknya yang bernama Yanti ini terganggu dengan adanya roh-roh itu, sehingga dia tidak bisa berkonsentrasi di sekolah dan dijauhi teman-teman sekolahnya. Roh-roh itu menunggu sampai Yanti berusia 17 tahun baru membawanya.

Yanti dan orang tuanya datang ke rumahku untuk meminta petunjuk apa yang harus dilakukan agar bisa menjalani hidup dengan baik, selama ini orang tuanya susah menghadapi Yanti karena sudah tidak bisa diatur. Aku pergi kerumahnya dan membersihkan rumah itu dari roh-roh pengganggu, serta melakukan kias untuk Yanti.

Ini adalah pertama kalinya aku membersihkan rumah orang dari gangguan roh-roh jahat. Sampai-sampai setelah pulang dari rumahnya, tubuhku benar-benar lelah dan terasa berat, sepertinya aura roh-roh jahat itu mengikuti dan menempel padaku dan aku sampai bermimpi diganggu mereka, tapi entah kenapa dalam tidur itu aku seperti tidak pernah putus melafal mantra dalam hati, sehingga roh-roh itu tidak bisa mendekatiku.

Esok paginya aku merasa tidak enak lalu bermeditasi untuk mengetahui ada apa. Ternyata di hadapanku muncul banyak sekali makhluk-makhluk menyeramkan. Ada yang berwujud kelabang, kalajengking, jin dll. Mereka marah padaku karena telah mengganggu, mereka mengatakan kalau Yanti sudah menjadi jatah mereka dan menyuruhku agar tidak ikut campur. Mereka menyerangku bersama-sama, dengan cepat aku mengaktifkan mustika dari Guruku. Mereka terpental satu persatu tidak bisa mendekatiku dan hilang menjadi asap.

Setelah itu Yanti sudah bisa tidur di kamarnya saat malam hari dan mulai berangsur-angsur mendapatkan teman disekolahnya, lingkar matanya yang gelap saat pertama kali kami bertemu tidak terlihat lagi saat kami bertemu untuk kedua kalinya setelah berkurangnya gangguan roh-roh itu.

Kita harus bersyukur bisa dilahirkan sebagai manusia, karena ini adalah kesempatan kita untuk bisa membina diri menjadi lebih baik dengan mengikuti Buddha-Bodhisattva. Jangan mengotori diri kita dengan menjadi pengikut roh-roh kegelapan, karena itu akan membuat kita tersesat dan roh kita dikuasai oleh roh-roh kegelapan itu.

Jalan terang dan jalan gelap, sulit untuk dibedakan, jika kita tidak berhati-hati dalam menjalani kehidupan kita maka kita akan tersesat dan tidak tahu jalan untuk kembali. Janganlah hanya karena menginginkan sesuatu yang berlebihan dalam dunia ini, kita menjadi hamba kegelapan dan harus mengorbankan kebahagiaan dan keluarga kita.
Terbakarnya Rambutku dan Kehadiran Bodhidharma Tgl 10/2/2010 / lunar 27/12

Saat pagi hari aku membersihkan altar Dewa Bumi, entah kenapa tiba-tiba rambutku yang panjang terbakar terkena pelita altarnya, apinya sampai merambat begitu cepat di rambutku membuat aku kaget setengah mati. Aku pikir ini karena kteledoranku, tapi aku mencoba mengingat hari apa ini, setelah kuhitung-hitung seharusnya Kong co Ho Tek Ceng Sin sudah turun kembali ke bumi, aku mencoba untuk berkomunikasi, ternyata benar ada jawaban padahal kemarin tidak ada. Dalam komunikasi kami:

“Dewa Bumi, apakah Kongco telah kembali, mohon petunjukmu?”

“Ya aku telah kembali, aku melihat apa yang terjadi padamu. Rambutmu terbakar?”

“Iya, Kongco mengetahuinya?”


“Tentu, apa yang kau pikirkan setelah mengalami hal itu?”

“Aku hanya berpikir untuk memotong rambutku ini.”

“Kau memang harus memotongnya, karena jika rambutmu panjang akan membuat kau kesulitan saat sedang menjalankan tugas, kau akan sibuk dengan rambutmu itu, jadi potonglah. Kedepannya kau akan lebih sibuk lagi dari sebelumnya. Janganlah melekat pada tubuhmu yang sekarang karena itu bukan dirimu yang sebenarnya.”

“Baiklah, aku akan memotong rambutku ini.”

Mendengar perkataan Dewa Bumi aku mengerti, memang untuk apa aku menyayangi tubuh ini, ternyata aku masih melekat pada tubuh palsu, dan belum rela melepaskan semuanya.

Malam harinya aku diminta Guru sejatiku untuk meditasi, katanya ingin memperlihatkan sesuatu padaku. Saat meditasi, anehnya aku malah melihat Buddha Sun Go Kong sedang beraksi, lalu berganti dengan Guru sejatiku dengan tangannya yang bergerak-gerak, kemudian berganti lagi Dewi Kwan Im berdiri di atas naga (tidak biasanya). Lalu aku melihat sekelompok orang berkepala botak dan mengenakan celana saja (seperti shaolin) sedang membentuk formasi, dan mereka satu persatu mempertunjukkan gerakan masing-masing yang berbeda-beda. Setelah bayangan itu menghilang berganti dengan kehadiran seperti Tatmo Cosu/Bodhidharma. Aneh sekali, aku kira akan berganti lagi dengan penglihatan lain, tapi terbuka komunikasi antara aku dengan Bodhidharma.

“Desi, aku adalah Tatmo Cosu.”


“Mahaguru Tatmo, mengapa engkau datang menemuiku?”

“ Aku tahu kalau pemahamanmu tentang ajaran Buddha tidak begitu kuat sedangkan kau harus menjalankan dharma, karena itu aku datang untuk membantumu. Aku akan mengajarimu ajaran Buddha, filsafat dan meditasi. Apakah kau bersedia dibimbing olehku?”

“Saya merasa bersyukur bisa mendapatkan anugrah ini, tapi saya ini orang bodoh, apakah saya layak mendapatkan bimbingan dari Mahaguru Tatmo?”

“Kau jangan merendahkan dirimu, jika Bodhisattva saja berkenan memilihmu untuk menerima anugrahNya, bagaimana mungkin kau tidak layak menerima bimbinganku.”

“Baiklah, saya siap.”

Mahaguru Tatmo memberikan aturan-aturan sebelum dibimbing dan selama menjalani bimbingannya. Dalam ajaran Mahaguru Tatmo, dalam meditasi aku tidak diperkenankan untuk duduk beralas bantal/matras, tapi harus di atas papan kayu. Katanya kalau sudah terbiasa meditasi di atas alas yang empuk, maka jika saat bermeditasi di alam terbuka dan beralaskan keras akan sulit berkonsentrasi, tapi jika terbiasa duduk meditasi di alas keras, maka meditasi di mana saja, baik beralas keras atau empuk tetap bisa berkonsentrasi. Mahaguru Tatmo memberikan bimbingan padaku setiap penanggalan ganjil lunar.

Akhirnya sampai sekarang ini aku selalu menghadap Mahaguru Tatmo untuk belajar, setiap dia membacakan filsafat yang harus kutulis, kepalaku berputar-putar mengikuti kata-kata filsafatnya, seperti pelajar tiongkok zaman dulu yang membaca filsafat sambil memutar kepala. Setiap waktu bimbingannya, aku selalu menyalakan dupa khusus untuk mengundang kehadirannya dan dia selalu datang dengan menggunakan jubah putih, menggunakan tongkat dan dan rambutnya agak panjang di atas pundak, lalu duduk posisi meditasi di hadapanku, saat itu cakra dahiku tertekan kuat. Tekanan itu berangsur hilang ketika dia selesai membimbing dan pergi dari hadapanku.
Bertemu dengan Murid Masa Lalu Hari ini aku pergi ke vihara di daerah Jakarta untuk sembahyang kias anakku agar tahun ini terhindar dari segala mara bahaya, sekaligus menjalankan petunjuk Mahaguru TatmoCosu.

Pada malam harinya aku duduk meditasi, aku melihat seorang wanita dengan rambut terkuncir dan memakai baju Sutra warna abu-abu gaya wanita Tiongkok jaman dulu, aku mencoba untuk tak menghiraukannya karena kupikir itu hanya ilusiku, tapi setiap kucoba hilangkan dan kuabaikan, wujud wanita itu selalu saja datang dalam konsentrasi meditasiku sampai 3 kali, lalu tiba-tiba aku merasakan cakra mahkotaku terbuka seperti bunga teratai merekah dan rohku keluar dari tubuhku dalam sekali hentakan, mengikuti wanita itu entah kemana.

Akhirnya kami tiba di suatu tempat yang tidak asing bagiku dan rasanya aku pernah kesitu, tapi saat ini banyak orang berlalu lalang dan setiap orang yang berpapasan denganku selalu membungkukkan badan seperti memberi hormat, kami menuju ke sebuah rumah yang agak besar, aku masuk ke dalamnya dan melihat ada lukisan seorang Dewi mengenakan baju surgawi warna kuning tepat ditengah rumah tersebut, aku pernah melihat perwujudan Dewi itu dalam meditasi, lalu terbuka komunikasi antara aku dan wanita itu.

“Guru, aku Wei Siu Ling”

“Siapa kau, aku tidak mengenalmu.”

“Guru, aku muridmu. Aku sudah menunggu Guru lama sekali, selama kau pergi aku menjaga tempat ini untukmu. Apakah Guru tahu tempat apa ini?”

“Aku sepertinya pernah ke alam ini.”


“Ini adalah tempatmu, alam Sukhavati tingkat ke-27, tempat tinggalmu.”

“Begitukah? Mengapa kau memanggilku Guru, kapan aku punya murid?”

“Aku muridmua satu-satunya di alam Sukhavati ini, aku mohon kembalilah guru, kembalilah….”

Dengan perasaan bingung aku pergi meninggalkannya. Dan suaranya memintaku kembali masih terdengar olehku. Setelah itu aku masih dalam konsentrasi meditasi karena sepertinya masih ada sesuatu, tak lama kemudian tanpa aku harapkan sama sekali, aku melihat kedatangan Buddha, aku semakin bingung mengapa ada Buddha datang, Buddha itu berkata:

“Desi, aku Buddha Sakyamuni. Bagaimana keadaanmu?”

“Saya baik-baik saja, ada apakah Buddha Sakyamuni datang menemui saya?”

“Apakah kau percaya bahwa saat ini, kau sedang mendapat amanat dan anugrah besar?”

“Aku percaya, walaupun kadang masih ada kebimbangan dalam hati.”

“Apa yang dikatakan para Dewa adalah kebenaran, jika Dewa berbohong, bagaimana mungkin bisa mempercayai Dewa lagi, dan tidak akan mungkin ada keajaiban-keajaiban, kau telah mendapatkan anugrah dari Bodhisattva, pada waktunya berikanlah dia nama “xxx”. Ini adalah nama Buddha yang aku berikan. Ikutilah setiap petunjuk yang diberikan para Dewa kepadamu.”

Itulah perkataan Buddha Sakyamuni kepadaku, walaupun aku masih dalam keadaan bingung, aku mencoba meyakinkan hatiku kalau perkataan Buddha Sakyamuni dan para Dewa adalah kebenaran, apa yang terjadi padaku aku serahkan kepada para Dewa, aku percaya setiap bimbingan dan petunjuk yang diberikan kepadaku tidak akan salah.

Bertemu dengan seorang wanita yang mengaku muridku dan kehadiran Buddha Sakyamuni member petunjuk hari ini, membuat aku semakin yakin, bahwa kontak batin yang aku alami dengan para Dewa adalah kebenaran. Semua yang diberikan kepadaku, baik perlindungan, pertolongan, bimbingan, arahan dan perhatian dari para Dewa membuat aku semakin termotivasi untuk setulus hati menjalankan jalan dharmaku ini, ini semua semata-mata bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk semua orang yang berjodoh dengan jalan dharma Buddha yang sedang diamanatkan kepadaku. Semoga saja aku bisa bertemu dengan orang-orang yang berjodoh untuk bersama-sama mengembangkan jalan dharma ini sesuai dengan kehendak para Buddha dan Bodhisattva.


Bimbang pada Anugrah yang Diberikan 21-2-2010

Hari ini tanggal 9 bulan 1 lunar perayaan bagi warga keturunan China, sembahyang tebu pada tepat jam 12 malam untuk mengucapkan terimakasih atas pertolongan Kaisar Langit, karena telah melindungi dan memberikan keselamatan.

Aku sembahyang pada pukul 12 malam. Dan hari ini pertama kalinya aku menjalankan po’un (cap baju). Aku memohon kepada Kaisar Langit agar disaat aku sembahyang pukul 12 malam ini tidak turun hujan, karena aku telah memasang altar di teras atas, jika hujan maka altar itu akan basah dan berantakan. Permohonanku dikabulkan, pukul 8 malamnya turun hujan rintik, dan kemudian berhenti langit kembali cerah, bintang bermunculan, sampai aku selesai sembahyang hujan tidak turun, dan baru pukul 12 siang esok harinya setelah altar dibereskan hujan baru turun.

Aku tahu sejak aku mendapatkan kontak batin dengan para Dewa, permohonanku sering kali dikabulkan, banyak bukti nyata diberikan kepadaku. Seperti tahun ini, bencana dimana-mana, yang biasanya setiap tahun daerahku selalu mengalami kebanjiran, tapi tahun ini terhindar dari hal itu, ini semua berkat pertolongan para Dewa dan Kaisar langit yang begitu murah dan selalu melindungi umatnya.

Tapi, disamping bukti-bukti nyata itu, sesungguhnya aku punya kegundahan hati yang dalam. Sejak awal para Dewa mengatakan bahwa aku telah diberikan anugrah besar dari Bodhisattva untuk menjalankan amanat khusus. Tapi tanda-tanda itu belum aku rasakan, kadang timbul rasa tidak percaya atas semua yang kualami. Kadang aku berpikir apakah aku telah mengalami cobaan dan telah masuk ke dalam perangkap Mara. Suamiku mengatakan supaya aku yakin saja apa yang dikatakan Guru sejatiku, karena buku ke-2 yang akan kutulis telah suamiku mengerti maksudnya, bahwa akan ada keajaiban yang terjadi dalam diriku, jika peristiwa yang kualami wajar dan seperti pada umumnya, itu bukan keajaiban. Mengapa suamiku selalu saja satu pandangan dengan para Dewa? Mengapa para Buddha juga mengatakan hal yang sama? Padahal jelas-jelas dilihat dengan mata duniawi/ilmiah itu sesuatu yang tidak mungkin. Aku diminta mempercayai yang tidak mungkin itu!

Tapi, jika dipikir dengan lebih dalam makna lebih dalam dari semua petunjuk yang diberikan kepadaku mengandung arti yang penuh dengan teka-teki, mungkin rencana langit belum boleh diketahui. Guruku bilang bahwa semua sudah direncanakan dan sudah diatur, mana mungkin tidak benar. Keyakinanku saat ini sedang diuji, sebuah dilema yang sama yang dialami beberapa orang wanita tapi dalam situasi yang agak berbeda, tapi intinya adalah sama yaitu keyakinan dan kepercayaan pada kebesaran dan kekuatan alam semesta.

Guru sejatiku bilang, yakinlah pada petunjuk yang diberikan oleh para Dewa kepadamu, keyakinan dalam jalan dharma paling penting, ketulusan hati bisa menggetarkan langit, hati yang tulus bisa mengundang Buddha dan Bodhisattva, berkenan memberkati. Aku telah mengalami beberapa kali tumimbal lahir menjadi manusia, aku selalu mengulang kembali kejadian yang aku alami pada kehidupan-kehidupan sebelumnya, selama aku belum menyadari dan bisa mengendalikan diriku, karmaku pada saat itu tidak bisa terhapus.

Kini karma masa laluku telah terkikis, tapi tentunya aku masih punya karma buruk yang telah kutanam di kehidupan sekarang ini, bisa terbuka dan mendapatkan kontak batin dengan para Dewa, akan dapat membantuku untuk secepatnya menghapus karma burukku itu, membina diri dengan bimbingan para Dewa aku mendapatkan banyak kemudahan, dibantu menuju ke arah yang benar, dituntun untuk berbuat banyak kebajikan bagi semua makhluk, hal itu akan mempercepat proses pencucian karmaku. Tapi karma buruk yang telah kulakukan di kehidupanku sekarang ini bukan sama sekali hilang, tapi dipercepat kematangannya, sehingga dengan pertolongan Buddha dan Bodhisattva, karma burukku bisa terkikis segera di kehidupan ini.

Menurut Guru sejatiku dan juga para Buddha dan Dewa, hidupku saat ini sudah diatur dan digariskan, aku harus selalu mengikuti petunjuk yang mereka berikan. Karena pada kehidupanku sekarang inilah aku sudah ditentukan akan kembali ke tempat asalku, di alam Sukhavati.

Aku hanya bisa pasrah, menyerahkan semua kepada para Dewa, setiap rencana dan jalan hidup yang diberikan, aku percaya ada maknanya dan tentunya mengandung makna yang baik.



Diyakinkan oleh Buddha Tgl 23-2-2010
Datang bulanku kali ini agak berbeda, banyak sekali dan bercampur dengan gumpalan-gumpalan, aku agak takut melihatnya, seperti mengalami keguguran/pendarahan saja. Aku meminta petunjuk Guruku, katanya tidak apa-apa, tubuhku sedang dalam proses pembersihan sehingga aura Bodhisattva mendapatkan ruang yang bersih. Tidak perlu ke dokter karena akan berhenti dengan sendirinya.

Dan entah kenapa mendadak aku merasakan aneh pada tubuhku, Guruku meminta agar aku bermeditasi. Dalam meditasi aku melihat ada Bodhisattva datang tapi dia tidak berbicara denganku, lalu rohku keluar mengikuti dia naik ke langit entah kemana. Sampai akhirnya aku tiba disuatu tempat, ada satu Buddha sedang duduk bersila dan berkata:

“Desi, Aku Sakyamuni.”

“Buddha Sakyamuni, mengapa saya kesini.”


“Aku mengutus Bodhisattva yang berjodoh denganmu itu untuk menemuiku. Kau adalah orang pilihannya dan semua telah ditentukan dan telah diatur, kau akan menjalani tugas ini. Aku, Julai hut, Mile hut dan Bodhisattva ini adalah Satu. Hanya saja aku turun ke dunia beberapa kali dengan tubuh fisik yang berbeda-beda berdasarkan perkembangan zaman. Di dunia ini hanya kau dan Mahagurumu yang bisa berkomunikasi denganKu, kebanyakan mereka hanya menjalankan jalan dharma berdasarkan tradisi dan buku, tidak ada petunjuk langsung dariku karena mereka tidak ada ketulusan hati dan menganggap Au tidak ada. Kau dan Mahagurumu mempunyai tugas meluruskan ajaran-ajaranku. Desi, kau harus mendengarkan perkataan Guru-Gurumu karena itu adalah kebenaran. Apakah kau sanggup menjalani tugas ini?”

“Saya akan berusaha. Tapi kenapa saat ini saya datang menemuiMu? Maafkan saya yang bodoh ini tidak mengetahui maksud Buddha Sakyamuni.”

“Aku ingin meyakinkanmu dan memintamu untuk meneguhkan hati, sekaligus memperlihatkan padamu bahwa Aku ada dan semua ini adalah nyata benar-benar kau alami.”

“Baiklah aku percaya.”

Lalu aku kembali diantar oleh Bodhisattva yang menjemputku tadi, setelah itupun Dia pergi.

Guru sejatiku mengatakan, memang tidak mudah menjalani jalan Dharma, menuntun orang dan memberi petunjuk pada mereka tidak pernah ada habisnya, satu masalah teratasi datang masalah yang lain, membuat mereka menderita dan sedih, walaupun banyak hal yang mereka tanyakan mengenai masalah mereka, aku tidak perlu takut ataupun kesal melihat semua itu, dengarkan saja setiap petunjuk yang diberikan, jika ada jawaban bagi pertanyaan mereka aku harus menyampaikannya.

Sesungguhnya semua masalah yang mereka kuatirkan dari besar sampai kecil, jawabannya hanya satu, yaitu mendekatkan diri kepada para Dewa, maka semua kekuatiran mereka akan bisa lebih ringan.

Guruku juga bilang, ada rahasia langit yang ingin dia beritahukan kepadaku mengenai rencana Buddha Sakyamuni (aku tidak bisa menulisnya disini dan belum saatnya untuk diketahui). Aku bilang pada Guru sejatiku kalau ini bukan rahasia lagi karena Buddha Sakyamuni telah memberitahukan hal ini kepadaku.

Guru sejatiku berkata:

“Desi, masi hada satu lagi rahasia langit yang ingin aku sampaikan padamu, aku telah meminta izin pada Kaisar Langit dan para Buddha untuk mengatakannya padamu, karena aku melihat kau sudah mulai paham dan mulai mempersiapkan buku ke-2.”

“Apakah itu Guru?”

“Desi, selain anugrah yang diberikan kepadamu sebelumnya dari Bodhisattva ada satu anugrah lagi yang akan datang kepadamu, sesuatu hal yang tidak akan kau percaya, ini adalah anugrah baru yang akan diberikan kepadamu. Anugrah ini tidak begitu saja diberikan, semua karena kau selalu mengikuti petunjuk yang diberikan oleh para Dewa, Buddha dan Bodhisattva.”

Aku kaget mendegar hal itu, rasanya begitu banyak rahasia langit yang dibukakan padaku, membuat aku tidak bisa bernafas. Jika orang yang berambisi dan mengejar keduniawian diberikan anugrah ini mungkin bisa menjadi tinggi hati, tapi aku merasa kebalikannya, karena hal ini terlalu tinggi dan di luar logika manusia. Siapakah diriku ini hingga mendapatkan anugrah-anugrah yang begitu besar. Apakah ini semua ilusi ataukah godaan yang harus aku alami dalam menjalankan dharma.

Aku tidak mau terpancing, aku tidak mau keluar dari jalan yang benar. Aku serahkan semua kepada para Dewa, aku mencoba untuk berpikir bijaksana menyikapi apapun yang diberikan kepadaku, aku tidak mau takabur dan juga tidak mau terlena, aku hanya akan berusaha menjalani kehidupanku dengan baik saja.

Hari ini aku mendengar kabar yang kurang baik lagi, kasus bayi tidak berkembang kembali terjadi, entah mengapa belakangan ini banyak terjadi kasus seperti ini, dunia begitu luas mengapa kasus seperti ini terus berkembang cepat, dan dialami oleh orang-orang yang aku kenal. Padahal zaman dulu, jarang sekali aku mendengar kasus ini dan kalaupun ada, orang yang mengalaminya bukan dari orang-orang yang aku kenal.

Hal ini menimbulkan ketakutan yang dalam di hati manusia, khususnya seorang ibu, apakah ini karma yang harus mereka terima? Ataukah keyakinan mereka kepada Tuhan saat ini sedang diuji, karena dengan semakin berkembangnya teknologi di dunia membuat mereka tidak mau mengandalkan kebesaran Tuhan, tapi terikat dengan kesenangan duniawinya?

Bencana alam terjadi dimana-mana, gempa bumi, banjir, tanah longsor dll datang silih berganti. Apakah kiamat/akhir zaman benar-benar akan terjadi di tahun 2012 seperti yang diramalkan orang? Tapi, asetiap aku memohon petunjuk mengenai hal ini, para Dewa selalu meyakinkan aku untuk percaya, bahwa tidak akan terjadi hal itu, karena Bodhisattva akan turun ke dunia untuk menjadi Buddha demi menolong umat manusia dari kesulitan dan penderitaan.

Banyak calon ibu yang mengalami dilema dengan keadaan bayi yang tidak berkembang dalam rahimnya, sesuatu kebahagiaan yang seharusnya mereka dapatkan berganti dengan kesedihan dan duka yang teramat dalam di hati mereka, dengan begitu cepatnya vonis jatuh pada mereka, sehingga harus ada pengguguran kandungan (aborsi). Kesalahan terletak di mana? Iman ibu yang tidak kuat ataukah terlalu canggihnya alat kedokteran zaman sekarang yang sudah bisa melihat keadaan janin lebih awal?

Sejak aku mendapatkan kontak batin dengan para Dewa, sudah terjadi beberapa kasus bayi tidak berkembang terjadi. Membuat hatiku sendiri sedih, apa yang bisa aku lakukan melihat semua ini. Sebagai manusia awam mungkin aku tidak percaya pada apa yang para Dewa katakan kepadaku, tapi tubuhku jalan hidupku memang menunjukkan banyak perubahan. Banyak keajaiban-keajaiban yang telah diberikan kepadaku selama ini, perlindungan, pertolongan dan berkah.

Apakah yang aku alami ini memang untuk menguji keyakinanku kepada para Dewa? Aku hanya bisa menyerahkan dan menjalankan setiap petunjuk yang diberikan kepadaku, aku percayakan semuanya kepada para Dewa dan tidak ingin menentangnya, aku berusaha meyakinkan hatiku dan percaya sepenuhnya, bahwa semua yang kualami ini memang telah digariskan dan diatur.
Membina Diri harus Benar Hari ini juga aku mendapat pembuktian atas petunjuk yang diberikan oleh Guruku, kemarin aku sempat kesal dan menangis karena apa yang kuharapkan tidak menjadi kenyataan.

Ada seorang yang bernama Yeni menghubungiku, dia meminta tolong untuk membantu ayahnya karena 2 hari yang lalu ayahnya mendadak muntah lalu tidak sadarkan diri, dia membawanya ke rumah sakit, dokter mengatakan bahwa ayahnya terkena penyumbatan otak/batang otak, gejala struk awal, tapi dokter sudah angkat tangan dan meminta untuk dibawa saja ke luar negeri dan sementara waktu ayahnya diberi obat penenang agar tidak merasakan sakitnya.

Aku mencoba meminta petunjuk Guruku, katanya ada roh yang masuk ke otaknya dan membuat ayahnya seperti sekarang. Karena ada dendam roh wanita bernama Ayi pada kehidupan yang lalu, ayahnya itu telah berbuat tidak baik padanya sehingga dia tidak bisa menjalani hidup dan membunuh dirinya. Aku mencoba berkomunikasi dengan Ayi, dia bialng sebenarnya dia tidak mau mengikuti ayahnya Yeni, tapi dendam masa lalu itu yang membuat dia tidak bisa pergi dari ayahnya, jika dia keluar maka akan ditangkap oleh Raja Akhirat, karena itu Guruku menganjurkan agar memasukkan Ayi ke dalam pagoda saat dikeluarkan dari tubuh ayah Yeni. Suamiku mencari pagoda itu ke mana-mana, katanya jika Ayi telah keluar dari tubuh maka ayah Yeni akan bisa sembuh.

Akhirnya aku menjalankan ritual yang diajarkan Guruku dan memanggil Dewa Pencari Arwah, aku memohon agar ayah Yeni ditemukan dan dikembalikan ke tubuhnya agar bisa tertolong. Malam harinya aku menunggu kabar Ayen mengenai ayahnya, tapi dia tidak menghubungiku dan telah berangkat ke luar negeri membawa ayahnya. Besoknya aku menghubungi Yeni tapi ayahnya telah meninggal di sana. Aku sedih mendengar hal itu, kenapa bisa seperti itu, kenapa Dewa tidak membantu, bukankah aku telah menjalankan semuanya dengan tulus. Aku menangis sejadi-jadinya, merasa kecewa dengan para Dewa atas kejadian ini.

Disaat aku lebih tenang Guruku memanggil dan memberitahukan bahwa aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku jalankan, aku telah berbuat kebaikan. Tidak semua bisa sesuai yang aku inginkan, segala sesuatunya bisa saja berubah, tapi itu semua bukan kesalahanku. Roh ayah Yeni telah ditemukan oleh Dewa Pencari Arwah dan sudah ingin mengembalikan ke dalam tubuhnya, tapi ayahnya tidak mau kembali, dia telah menyadari kesalahan di masa lalu dan merasa bersalah, dia siap menerima hukuman atas kesalahannya dan tidak mau kembali lagi ke tubuhnya yang sekarang.

Mendengar hal itu, para Dewa melihat ketulusan hatinya dan memberikan kesempatan kepadanya untuk reinkarnasi kembali. Dendam masa lalu telah terselesaikan, masing-masing telah mendapatkan kebaikan, ayah Yeni pergi reinkarnasi dan Ayi telah kubantu menyebrangi rohnya.

Beberapa waktu kemudian Yeni dan keluarganya datang kerumahku. Dia bercerita kalau dia sebelum menghubungiku untuk meminta tolong, telah lebih dulu menghubungi orang pintar yang lain dan orang pintar itu juga mengatakan hal yang sama, kalau roh ayahnya gentayangan dan dia sedang ditempeli penagih hutang. Mereka menemukan surat tulisan ayahnya yang memberitahukan bahwa hidupnya tidak lama lagi dan dia menyesali semua kesalahan yang dia lakukan. Karena ayah Yeni juga seorang praktisi meditasi, mungkin dia sudah mengetahui masa lalunya dan telah menyadari, sehingga dia telah pasrah akan hidupnya.

Tapi disini aku berpikir, pasti ayah Yeni tidak ada perlindungan dalam meditasinya, tidak ada perlindungan dari Dharmapala dan Dewa sehingga tidak bisa eluar dari karma buruknya dan tetap menerima pembayaran karma sesuai dengan takdirnya. Mungkin dia tidak membina diri dengan membaca mantra-mantra, tapi hanya menjalani meditasi saja. Jika kita menjalani meditasi tanpa membaca mantra, hati kita harus benar-benar bersih dari segala kilesa, jika kita tidak rajin membaca mantra dan membuat perlindungan saat bermeditasi, akan bisa membahayakan diri kita, kita akan mudah diganggu oleh Mara dan kita tidak mendapatkan perlindungan para Dewa dan para Dharmapala.

Karena itu, kita tidak mengetahui karma apa yang kita tanam di kehidupan yang lalu, jika karma baik maka kita akan mendapat kebaikan di kehidupan sekarang, tapi jika karma buruk maka akan mendapat hal yang buruk pula di kehidupan sekarang. Karma itu benar-benar ada, semua karena perbuatan kita sendiri, karma tidak diturunkan oleh orang tua kita, atau tertular dari keluarga atau orang lain yang berada di sekitar kita.

Kita sendiri yang berbuat maka kita sendiri yang akan mendapatkan akibat, jadi jangan menyalahkan siapapun terlebih menyalahkan alam semesta. Tapi introspeksi diri dan renungkanlah segala yang terjadi di sekeliling kita agar kita bisa menyadari bahwa hidup di dunia ini begitu penuh dengan penderitaan dan kesulitan karena kita yang menciptakannya sendiri.


Kertas Mantra Ksitigarbha Bodhisattva Tgl 5/3/2010

Malam harinya Guruku meminta agar aku meditasi pukul 10 malam, katanya ada yang ingin bertemu denganku. Tapi karena aku lelah bertemu dengan tamu, saat meditasi aku tidak bisa konsentrasi dan tidak bisa masuk dalam samadhi, jadi aku baru bisa meditasi esok malamnya.

Aku kira akan ada Guru roh baru yang akan menggantikan Dewa-dewa langit yang telah selesai membimbingku, dalam konsentrasi meditasi aku melihat perwujudan seorang pangeran dengan baju putih berbarengan dengan munculnya seekor naga putih yang melesat cepat dan berputar, aku amati saja semua itu dan membiarkan berjalan karena kupikir itu hanya ilusi, tapi alurnya semakin jelas, secara tiba-tiba muncul Cu Pat Kai dengan wajahnya di depan mukaku lalu muncul Sa Cie dan Sun Go Kong.

Aku merasa aneh… kenapa mereka semua muncul dalam meditasiku hari ini. Pertanyaan dalam hatiku terjawab dengan munculnya Ksitigarbha Bodhisattva dengan mengenakan jubah kebesarannya lengkap dengan Mahkota dan tongkatnya. Aku berpikir apakah kedatangan Ksitigarbha Bodhisattva adalah untuk mengangkat aku menjadi murid? Apa yang akan diajarkannya? Seiring dengan pertanyaan dalam hatiku, terbuka tanda komunikasi antara aku dengan Ksitigarbha Bodhisattva.

“Desi.. aku Tong Sam Cong, Te Cang Wang Pusa, Ksitigarbha Bodhisattva. Aku datang menemuimu untuk memberikan petunjuk kepadamu.”

“Ksitigarbha Bodhisattva, saya bersyukur mendapatkan berkah ini, apa yang ingin engkau sampaikan.”

“Aku tahu pada saat ceng beng nanti banyak arwah dan leluhur yang akan kau sebrangkan, karena itu aku datang hari ini untuk membantumu agar pelimpahan jasa bisa berjalan dengan baik.”

“Mohon petunjuknya.”

“Pada ritual penyebrangan roh nanti, saat membaca sutra tidak perlu terus menerus tidak berhenti, tapi bacalah tiap bab dengan diselingi istirahat, karena hasilnya tetap sama. Buatlah teratai dari kertas Perak untuk para arwah dan leluhur, tidak perlu satu nama pada satu teratai, tapi satu kelopak teratai satu nama, jadi satu teratai bisa beberapa nama arwah. Aku juga ingin memberikan kertas mantram dengan kertas mantra ini semua arwah dan leluhur yang kau lakukan penyebrangannya bisa terangkat semua dan bisa naik tingkat tidak ada yang tertinggal. Bakarlah setelah selesai memvaca sutra dan satu hari sebelumnya kertas mantra itu harus diletakkan di bawah dupa altar.”

“Terimakasih atas petunjuk dan kebaikan yang Ksitigarbha Bodhisattva berikan kepada saya.”

Lalu Beliau dan murid-muridnya pergi, inilah pertama kalinya aku dikunjungi oleh Ksitigarbha Bodhisattva dan mendapatkan petunjuk dariNya, disaat aku akan menjalankan ritual penyebrangan roh untuk yang pertama kalinya.

Aku menjalankan petunjuk yang diberikan oleh Ksitigarbha Bodhisattva, dan menjalankan ritual penyebrangan roh dengan setulus hati. Walaupun lelah aku senang menjalaninya, apalagi setelah melihat reaksi alam terjadi saat itu. Aku melihat kehadiran Ksitigarbha Bodhisattva di antara langit dan bumi duduk diatas teratai, mustika api yang berada di tangannya memancarkan sinar emas menyorot ke bumi, secara perlahan roh-roh yang telah mendapatkan bekal dari keluarga yang melakukan pelimpahan jasa pada saat itu terangkat naik melewati sinar itu dan mereka semua yang telah terangkat berdiri mengelilingi Ksitigarbha Bodhisattva.

Hujan juga tidak turun saat itu, setelah selesai ritual langit memerah sampai menyinari bumi seperti warna sorotan mustika Ksitigarbha sedang mengangkat para roh ke atas untuk disebrangkan.

Aku bahagia melihat kejadian itu, menandakan apa yang kulakukan diterima oleh para Dewa dan mereka berkenan terhadap apa yang kulakukan. Aku akan terus menjalani semua ini dengan tulus, membantu Ksitigarbha Bodhisattva menyelamatkan para roh yang tersesat. Semoga aku bisa menjalankan setiap petunjuk yang diberikan oleh para Dewa dengan baik.



Mendapat Rupang dan Japamala dari Guru Sejatiku Pada suatu malam aku merasakan perubahan aneh dengan diriku. Aku merasakan tubuhku ringan dan rohku seperti bangkit, sehingga aku seperti merasakan kulit dan tulangku berpisah. Merasakan hal itu aku segera menuju ke ruang khusus dan mulai mencoba untuk masuk ke dalam meditasi, karena aku merasa seperti akan ada sesuatu yang kualami.

Setelah beberapa lama masuk ke dalam samadhi, aku melihat seorang anak remaja perempuan sedang bermain ayunan, kemudian dia masuk ke dalam rumah yang berada di dekat tempat dia bermain itu, lalu menuju ke suatu kamar di lantai atas rumah itu. Ternyata itu kamarnya, diatas tempat tidur dia berniat nonton televisi, tapi acara tidak ada yang bagus kemudian dia mematikan televisi itu dan berniat untuk tidur, tapi dia seperti terlupa sesuatu lalu bangkit dari tempat tidurnya menuju sebuah lemari baju, dia mengambil sebuah japamala dari lemari itu.

Kemudian dia turun melewati sebuah tangga spiral dan masuk ke dalam suatu ruangan, sepertinya ruangan altar, disana terpasangan gambar Guru sejatiku Dewi Seribu Tangan Seribu Mata berukuran agak besar. Gadis itu bersujud dan membaca mantra sambil memutar japamala, aku melihat gambar Guru sejatiku itu hidup dan menopangkan tangannya kekepala gadis itu yang sedang bersujud di depannya. Setelah selesai bersembahyang, gadis itu kembali ke kemarnya dan tidur.

Saat dia tidur, rohnya keluar dari tubuh dan pergi ke langit melalui jendela, ternyata dia pergi ke alam Sukhavati, disana dia bertemu dengan Guru sejatiku, Dewa Ganesha dan para Dewi lainnya, Guru sejatiku itu memberi sebuah japamala bergambar dirinya kepada gadis itu, setelah itu gadis itu kembali ke dalam tubuhnya.

Saat gadis itu bangun, dia kembali ke ruang altar tadi untuk bersembahyang, tapi tiba-tiba saja gadis itu jatuh pingsan, aku melihat Guru sejatiku keluar dari gambarnya itu dan menolong gadis itu dengan memasukkan sesuatu (seperti permata kecil) ke dalam dahinya, kemudian gadis itu siuman kembali.

Awalnya aku tidak mengerti mengapa aku melihat hal itu dalam meditasi hari ini, apakah ini suatu petunjuk atau hanya ilusiku saja. Aku menanyakan mengenai hal ini pada Guruku, Guruku bilang bahwa dia pernah memberikan japamala kepadaku pada kelahiranku yang lalu dan akan mendapatkan dariNya melalui orang yang berjodoh juga denganNya. Dan Guru sejatiku juga mengatakan, karena aku belum memiliki rupang diriNya sampai saat ini, aku diminta untuk pergi ke suatu toko di daerah Jakarta disana aku bisa bertemu dengan rupangNya yang berjodoh dengan ku.

Mendengar itu aku senang sekali, aku segera mengatakan hal ini pada suamiku. Dan kami pergi ke toko tersebut. Ternyata benar apa yang dikatakn Guruku, saat aku masuk ke toko itu aku melihat ada rupang Guru sejatiku sama seperti gambar yang aku miliki sebelumnya, melihat rupang itu aku merasakan persaan yang berbeda, dan memang di toko itu rupang Guruku Cuma ada satu-satunya. Dan anehnya lagi harga rupang itu jumlahnya pas sekali dengan uang yang kami bawa dari rumah padahal sebelumnya tidak kami hitung dulu.

Selang beberapa hari, tiba-tiba saja datang seorang tamu yang sudah pernah kukenal dan berjodoh dengan Dewi Seribu Tangan Seribu Mata kerumahku, dia memberikan sebuah japamala kepadaku sebagai oleh-oleh.

Apakah ini suatu kebetulan, aku rasa tidak. Aku percaya bahwa aku bisa mengetahui apa yang akan kualami dalam kehidupan ini, walaupun belum terjadi. Karena pembinaan diriku selama inilah yang telah membuat aku bisa mendapatkan kelebihan itu, aku sungguh amat bersyukur.

Pada sore harinya, setelah aku mengalami kebenaran dalam meditasi, saat aku sedang di teras lantai atas rumahku, aku merasa tubuhku agak goyang, sedikit melayang dan ada sesuatu yang naik turun di belakang kepalaku. Merasakan keganjilan ini aku segera masuk ke dalam meditasi. Aku melihat sesuatu yang kuncup dengan ukuran besar, di dalamnya seperti ada sesuatu yang bersinar, lalu kuncup itu terbuka, semakin diperhatikan seperti bunga teratai mekar, dan ditengahnya muncul Guru sejatiku dengan seluruh tangannnya yang bergerak-gerak duduk di atas teratai itu.

Lalu dibawah teratai itu muncul sebuah tangga yang terbuka turun ke bawah satu demi satu, tidak lama kemudian rohku keluar dari tubuh dan naik ke atas melalui tangga tersebut. Sesampainya diatas, Guru sejatiku turun dari teratai dan menghampiriku, dia menuntunku untuk duduk di sampingnya dan berkata:

“Desi…. Percayalah pada perkataanku, semua sudah ditetapkan, kau tidak perlu berpikir macam-macam, yang penting jalanilah hidupmu dengan baik dan semua tugas-tugasmu. Biarkan semua berjalan sesuai rencana.”

“Tapi Guru.. kenapa sampai saat ini tidak ada tanda apapun?”

“Sesungguhnya itu untuk mengecoh Mara, agar Mara tidak menyadari kalau kau telah mendapat anugrah itu. Jadi alam membuat dirimu seperti orang biasa, karena semua ini masih rahasia.”

“Oh begitu… baiklah Guru saya percaya.”

Akhirnya Guru sejatiku menyuruh aku kembali dan Dia menghilang.

Sejak mendapatkan anugrah ini, telah sering Guru sejatiku dan para Dewa meyakinkan aku, walaupun aku merasa sedikit bimbang, tapi Guru sejatiku dan para Dewa meminta agar aku mempercayainya. Karena keyakinanku kepada para Dewa harus Teguh, dengan begitu jalan dharma bisa berjalan dengan baik.

Aku amat berterimakasih kepada para Buddha, karena berkenan memilih aku untuk menjalankan amanat ini. Walaupun aku sadar, aku bukanlah manusia yang suci dan bersih, tapi merupakan keberuntungan besar bagiku, bisa mendapatkan perlakuan khusus dalam pembinaan diriku selama ini. Semoga segala petunjuk dan bimbingan yang mereka berikan kepadaku, bisa aku jalankan dengan baik.

Aura Buddha dan Bodhisattva Pada tanggal 20 Maret 2010, aku diminta oleh Guru sejatiku untuk bermeditasi. Disitu aku melihat ada stupa-stupa, apa yang kulihat pada saat itu tidak bisa kuteruskan, karena aku terlalu lelah sehingga tidak bisa berkonsentrasi, aku memohon maaf pada Guru sejatiku.

Esok harinya, aku kembali diminta untuk meditasi karena kemarin tidak menjalaninya. Karena hari ini tubuhku agak segar, aku lebih bisa berkonsentrasi dan bisa memasuki samadhi.

Apa yang kulihat sama seperti kemarin, ada stupa-stupa dan patung Buddha, stupa-stupa itu tersusun dari yang paling tinggi di tengah dan stupa lainnya mengelilingi stupa yang diatas, membentuk sesuatu seperti sebuah candi, entah candi apa? Aku melihat disitu diriku sedang bermeditasi di bawah pohon menghadap candi itu. Stupa-stupa itu terbelah dua dan patung Buddha yang ada di dalamnya terangkat keatas, bergabung menjadi satu memancarkan cahaya hijau ke arahku yang sedang meditasi di bawah pohon.

Penglihatan itu hilang dan berganti dengan sebuah vihara di daerah Jakarta, daerahnya tidak asing bagiku karena aku pernah ke vihara itu sebelumnya. Dalam meditasi aku pergi ke vihara itu, di altar utama duduk rupang Buddha Maitreya besar dan didepannya ada beberapa rupang Buddha Maitreya juga yang agak kecil. Aku meditasi di depan altar itu dan rupang-rupang Buddha Maitreya yang ada disitu bergabung menjadi satu dan memancarkan sinar kuning ke arahku.

Penglihatan itu hilang lagi dan berganti dengan sebuah vihara dengan pintu gerbang masuknya yang melengkung bertuliskan vihara Sukhavati, aku masuk ke dalam dan melihat altar bersinar emas dan terang. Lalu itupun menghilang. Aku tidak mengerti dengan apa yang kulihat itu. Guruku berkata:

“Desi…kau harus pergi ke Candi Borobudur di Yogya dan ke vihara Maitreya yang ada di Jakarta untuk mendapatkan berkah dari Buddha Sakyamuni dan Buddha Maitreya.”

“Kenapa harus ke Borobudur Guru, saya sudah pernah kesana sebelumnya.”

“Saat itu kau belum terbuka, disana ada kekuatan yang besar karena merupakan peninggalan dari Buddha Sakyamuni, setiap waisak selalu diadakan ritual sembahyang, tapi hanya orang-orang seperti kau yang bisa menyerap energi murni di tempat itu, banyak dari mereka yang tidak merasakan apa-apa dan tidak mendapatkan apa-apa, karena kebanyakan dari mereka hanya mengikuti tradisi saja dan tidak benar-benar mendapatkan berkat dari tempat itu.”

“Tapi… itu ada di luar kota.”

“Carilah waktu untuk kesana, karena ini sangat penting. Apa kau mengerti?”

“Baiklah, saya akan berusaha.”

Aku mencoba untuk menjalankan petunjuk itu, yang paling mudah untuk pergi adalah ke Vihara Maitreya di Jakarta karena tempatnya dekat. Disana saat bermeditasi aku melihat cahaya kuning bersinar dan merasakan cakra mahkotaku terbuka, aku kira rohku akan keluar, tapi ternyata salah satu rupang Buddha Maitreya yang ada di altar terangkat menuju ke arahku dan masuk kedalam tubuhku melalui cakra mahkotaku yang terbuka itu.

Satu petunjuk telah aku jalankan, tinggal satu lagi dan agak sulit karena tempatnya jauh. Suatu hari dalam meditasi, aku melihat seekor gajah berwarna putih yang cantik dan diatasnya ada seseorang yang duduk bersila di atas teratai, melihat hal ini aku sempat keluar dari meditasi, karena kupikir aku sedang berkhayal dan tidak berkonsentrasi dengan baik.

Aku mencoba menenangkan pikiran sejenak dan kembali masuk dalam meditasi, tapi aku melihat hal yang sama, seekor gajah dan seseorang yang duduk di atasnya, kemudian muncul lagi seekor singa dengan orang duduk diatasnya juga, aneh siapa mereka? Aku mencoba menerka-nerka dalam hati, lalu terbuka komunikasi antara kami:

“Desi… kami adalah Bodhisattva Manjusri dan Samantabhadra, kau akan pergi menemui Buddha Sakyamuni di candi Borobudur, kami ingin memberikan petunjuk kepadamu mengenai kepergianmu ke sana. Buddha Sakyamuni adalah Buddha tertinggi dan paling diagungkan, ada hal-hal yang harus kau lakukan.”

“Apakah itu?”

“Saat kau sampai disana, ada beberapa stupa yang paling dekat dengan stupa utama Buddha Sakyamuni, pada setiap stupa kau harus menempelkan dahimu dan membaca mantra “GATE GATE PARAGATE PARA SAMGATE BODHI SVAHA” sebanyak 3 kali. Keliling stupa memutar searah jarum jam, setelah itu pada stupa utama bernamaskara dan membaca mantra yang sama lalu mundur kebelakang sebanyak 35 langkah, kemudian turunlah ke bawah untuk bermeditasi menghadap candi, itulah yang harus kau lakukan. Apakah kau bisa?”

“Bisa… saya akan mengikuti petunjuk yang Bodhisattva berikan. Terimakasih.”

Lalu Bodhisattva Manjusri dan Bodhisattva Samantabhadra menghilang, dan aku masih bingung akan kedatangan mereka memberi petunjuk, apa hubungan mereka dengan Buddha Sakyamuni, sehingga Mereka datang menemuiku? Aku mencoba mencari tahu mengenai Mereka, ternyata Mereka berdua adalah 2 pembantu utama Buddha Sakyamuni, ini pengalaman yang membuat aku takjub. Percaya atau tidak ini benar-benar terjadi, hanya kadang merasa aneh saja bisa mengalami hal ini.

Pada tanggal 9 April 2010, aku, suamiku dan anak pertamaku tiba di Yogya menjalani petunjuk ke Candi Borobudur. Karena pamanku yang tinggal disana hanya tinggal di tempat kerjanya, jadi kami memutuskan untuk menginap di hotel. Saat mencari hotel aku tidak ikut mereka dan tidak tahu kalau hotel itu tidak bersih, suamiku menyewanya selama 2 malam, saat sampai di kamar hotel aku sudah terlalu lelah dan ketiduran, saat itu masih pukul 9 malam, suamiku juga masih mengobrol dengan pamanku.

Pada jam 3 pagi aku bangun dan berniat untuk sadhana dan meditasi seperti biasa, dan mempersiapkan tempat menghadap pintu kamar dan duduk bersila disana. Saat mulai membaca mantra aku mendengar sesuatu, aku membuka mataku sambil tetap melafal mantra tapi menunggu beberapa saat tidak ada apa-apa, lalu aku menutup mata lagi dan berkonsentrasi kembali pada pembacaan mantra, tapi ada suara lagi kudengar, aku kembali membuka mata. Saat buka mata tidak ada suara, tapi saat tutup mata ada suara-suara yang mengganggu konsentrasiku. Aku mencoba tak menghiraukan suara itu dan tetap berkonsentrasi, tapi saat aku menutup mata kembali untuk yang ketiga kalinya bukan suara aneh lagi yang aku dengar, tapi ada roh berada didepanku dan mengeluarkan suara ssstttttttttt………….sepertinya dia menyuruh agar aku diam dan tidak membaca mantra.

Mendengar itu konsentrasiku pecah, aku tidak bisa lagi meneruskan pembacaan mantra dan bermeditasi di kamar itu, banyak arwah yang masuk kekamarku. Aku bergerak mundur dan mencoba untuk tidur, tapi saat aku pejamkan mata arwah-arwah itu muncul, sepertinya ramai sekali, aku berpikir tempat apa ini, kenapa banyak hantu disini? Aku tidak bisa tidur lagi, suamiku merasakan kegelisahanku dan bertanya ada apa? Aku bilang padanya kalau tempat ini tidak bersih. Dia bilang dia sudah tahu karena saat pamanku pulang pukul 12 malam saat ingin ditur, ada suara-suara aneh di kamar itu.

Ini salahku juga, karena aku tidak memeriksa tempat ini sebelumnya, kalau tahu dari awal aku pasti memilih tempat lain untuk menginap, memang kadang-kadang aku tidak mempergunakan kelebihanku untuk berjaga, sehingga harus mengalami hal ini. Guruku blang kalau tempat ini dulunya adalah tempat pemakaman umum, pantas saja begitu ramai. Guruku bilang agar aku tidak perlu memperhatikannya, dan bersikap seolah aku tidak merasakan keberadaan mereka nanti mereka akan pergi sendiri.

Aku masih menginap di hotel itu satu malam lagi, dan memagari kamarku dengan perlindungan yang diajarkan Guruku, agar hantu-hantu itu tidak masuk ke kamarku. Dengan tidur sambil membaca mantra di dalam hati di malam kedua, aku merasa diselimuti oleh cahaya Buddha-Bodhisattva sehingga tidak terganggu dan bisa tidur dengan nyaman. Saat kami pulang dengan menggunakan taxi, supir taxi itu juga mengatakan kalau tempat itu bekas kuburan umum.

Tanggal 10 April 2010, aku pergi ke Candi Borobudur dan mengikuti petunjuk yang diberikan Manjusri Bodhisattva dan Samantabhadra Bodhisattva, saat meditasi menghadap candi aku melihat stupa-stupa teratas yang mengelilingi stupa utama terbuka dan patung-patung Buddha didalamnya terangkat keatas dan berputar cepat searah jarum jam mengelilingi stupa utama yang paling besar yang perlahan terbuka dan patung Buddha disitu naik, saat Mereka sedang berputar cakra mahkotaku terbuka, dan patung Buddha yang paling besar menghampiriku dan masuk kedalam diriku melalui cakra mahkotaku yang terbuka. Kemudian patung-patung Buddha yang berputar, kembali ke stupa masing-masing dan stupa-stupa itu tertutup kembali. Setelah itu datang Manjusri Bodhisattva dan Samantabhadra Bodhisattva berkata :

” Desi… aura Buddha dan Bodhisattva telah masuk kedalam dirimu. Jalanilah hidupmu dengan baik agar kedatangan mereka bisa berjalan dengan baik dan tiada cela »

Akhirnya kedua petunjuk telah aku jalankan dengan baik, aku serahkan semua kepada para Dewa. Segala kebenaran yang terjadi padaku, biarlah nantinya bisa memberi kebaikan bagi semua makhluk.



Mengucapkan Sumpah Bodhi Tanggal 14 April 2010, aku kembali ke Jakarta. Setelah selesa menjalankan petunjuk para Dewa untuk ke Candi Borobudur di Yogya. Kami pulang dengan menggunakan pesawat terbang, saat pesawat kami landing di bandara Soekarno Hatta, Guru sejatiku memanggil dan meminta agar aku pergi ke salah satu vihara di Tangerang untuk mengikuti ritual api homa, karena ada sesuatu yang akan aku lakukan di sana.

Sebenarnya aku tidak ada rencanan untuk ke vihara itu, karena baru kembali dari Yogya dan tidak tahu acara api homa itu jam berapa, kami berpikir pasti tidak akan keburu waktunya. Kami harus pulang dulu ke rumah untuk mandi dan bersiap ke vihara itu. Ternyata memang Para Dewa sudah mengatur waktunya, sehingga saat kami sampai di sana acara pujabakti baru saja dimulai.

Pada saat itu ada 3 orang Biksu yang memimpin pujabakti, aku tidak mengenal mereka semua, katanya mereka dari luar negeri. Saat mulai ritual api homa yang dipimpin oleh salah satu Biksu itu, aku merasakan kehadiran para Buddha Bodhisattva karena Biksu itu punya konsentrasi yang sangat baik, sehingga para Buddha-Bodhisattva berkenan untuk turun dan memberkati api homa hari itu.

Saat sesi meditasi, Ksitigarbha Bodhisattva datang memberikan petunjuk cara meletakkan rupangnya di altar rumahku, apa saja yang harus aku siapkan. Ksitigarbha Bodhisattva tahu kalau aku baru saja membeli rupang dirinya juga rupang Mahadewi Yao Chi di vihara itu.

Setelah api homa dan meditasi selesai, disaat ceramah dharma Guru sejatiku memberitahu, kalau aku harus ke rumah salah satu Biksu yang memimpin pujabakti di vihara itu, aku sempat kaget dan bingung kenapa begitu. Untuk apa aku ketempatnya, apalagi mereka semua dari luar negeri, mengapa aku harus pergi ke rumahnya. Banyak pertanyaan dalam hatiku, tapi aku tidak menolak petunjuk yang diberikan oleh Guruku, karena aku percaya dia tidak akan menyusahkan aku.

Guruku memberitahu kalau aku harus pergi ke rumah salah satu dari tiga biksu yang duduk di depan, untuk bernamaskara dan mengucapkan sumpah bodhi/ikrar dihadapan altar Buddha-Bodhisattva di rumahnya. Biksu itu duduk dipaling kanan, setelah aku menyelidiki dan mencari tahu mengenai Biksu itu, ternyata dia bukan orang luar negeri dan tinggalnya di Jakarta. Aku sungguh bersyukur untuk semua ini, karena Guruku memang tidak menyulitkan aku.

Akhirnya di akhir acara, aku dan suamiku menghampiri Biksu itu dan meminta izin untuk datang ke rumahnya, aku ceritakan petunjuk yang diberikan oleh Guru sejatiku padanya. Awalnya dia tidak mengizinkan, karena altar pribadi tidak boleh dimasuki oleh orang lain. Aku memahami kesulitannya taoi tugas Guruku harus kujalankan, karena aku selalu berusaha untuk tidak melewatkan satu tugaspun yang diberikan oleh Guruku. Aku menitipkan buku pertamaku padanya agar paling tidak jika dia berkenan membacanya mungkin sedikit mengetahui dan memahami apa yang kujalani saat ini.

Aku harus tiga kali menemui Biksu itu di beberapa vihara, di saat dia memimpin ritual. Akhirnya dia mengizinkan aku ke rumahnya untuk bernamaskara di depan altar rumahnya.

Tepatnya tanggal 25 Mei 2010, aku datang ke rumah Biksu yang ditunjuk oleh Guru sejatiku, bernamaskara di altar rumahnya dan mengucapkan sumpah bodhi/ikrar di hadapan para Buddha, Bodhisatta, Dewa, Dharmapala dan Dakini.

Isi ikrar itu adalah:

1. Menjalankan misi yang diberikan sejak awal mendapatkan kontak batin dengan para Dewa, yaitu “menjalankan kebenaran dan menolong orang”.
2. Membantu Ksitigarbha Bodhisattva untuk mengosongkan neraka dengan melakukan Penyebrangan Roh.
3. Menjalankan ajaran dharma sesuai petunjuk yang diberikan oleh para Guru dharma dari angkasa untuk menyelamatkan para insan, agar terlepas dari tumimbal lahir dan bisa terlahir di tanah suci Sukhavati, surga barat Buddha Amitabha.

Itulah ketiga sumpah bodhi yang aku ucapkan di hadapan para Buddha, Bodhisattva, Dewa, Dharmapala dan para Dakini. Aku telah menyerahkan kehidupanku ini untuk mengikuti jalan para Bodhisattva, melepaskan ke-aku-an dalam diriku. Mengabdikan diriku saat ini untuk menjalankan dharma Buddha dengan setulus hati.

Aku sangat berterimakasih pada Biksu itu, atas bantuannya sehingga aku bisa menjalankan tugas dan petunjuk Guruku dengan baik. Aku percaya kalau Guru sejatiku juga para Buddha dan Bodhisattva memilih dia itu dan juga tempatnya untuk datang memberkati aku saat mengucapkan sumpah bodhi, pasti telah melihat sisi baik dalam dirinya dan Buddha Bodhisattva berkenan kepadanya.

Dalam menjalankan tugas ini, sempat membuat aku gemetar dan berdebar-debar. Manusia tidak sembarangan mengucapkan sumpah, apalagi sumpah yang diucapkan di hadapan para Buddha. Tapi aku merasakan sisi positif dari mengucapkan sumpah bodhi ini, karena setiap aku mulai sedikit menyimpang dari ajaran Buddha, dengan sendirinya mengingat sumpah bodhiku, dengan segera kembali pada jalan dharma.




Mahaguru Datang Memberi Perlindungan Pada saat peluncuran buku Mahaguru di sebuah pertokoan di Jakarta, aku pergi ke pameran itu untuk membeli beberapa buku tulisan Mahaguru yang belum aku miliki dan aku membeli 3 buah buku karyanya dan membawanya pulang.

Pada keesokan harinya, saat aku hendak pergi bersama dengan suami dan anakku, aku membaca salah satu buku Mahaguru di mobil dalam perjalanan ke sebuah mal untuk menemani anakku bermain. Baru saja membaca beberapa halaman tiba-tiba saja mataku terasa berat seperti mengantuk, aku berusaha untuk tetap membaca buku itu tapi rasa berat pada mataku sulit kutahan, aku mencoba menutup mata dan berniat untuk tidur sesaat karena kupikir aku memang ingin tidur.

Beberapa lama memejamkan mata ternyata aku tidak bisa tidur, pikiranku seperti melayang entah kemana tapi secara samar aku melihat perwujudan Mahaguru. Mungkin aku hanya berhalusinasi, lalu aku kembali membuka mataku, tiba-tiba saja Guruk memberitahu, kalau Mahaguru ingin berkomunikasi denganku dan aku diminta untuk berkonsentrasi meditasi sejenak.

Aku mengikuti petunjuk Guruku itu, dan dalam keadaan mobil yang sedang berjalan, aku memposisikan tubuhku untuk bermeditasi, walau mobil bergoyang tapi aku sudah terbiasa dan sudah bisa berkonsentrasi dalam meditasi. Setelah beberapa saat aku melihat kedatangan Mahaguru, dia duduk bersila memegang genta di tangan kirinya dan vajra di tangan kanannya dan mengenakan jubah kebesaran dengan Mahkota Panca Dhyani Buddha berwarna merah. Mahaguru semakin jelas kulihat sedang menggoyang-goyangkan genta, suara genta kudengar secara samar.

“Desi… aku sudah mengetahui mengenai dirimu, bahwa kau telah dipiih untuk menjalankan amanat yang besar dari Buddha Sakyamuni dan Buddha Maitreya. Buddha Sakyamuni telah memberitahukan hal ini padaku. Kedatanganku adalah sekaligus untuk membuktikan kebenaran ini. Mulai hari ini aku akan melindungi dan menjagamu, karena waktunya sudah tidak lama lagi. Kau tidak boleh mengatakan kalau kau bukan bagian dari aliranku, kau dan aliranku memiliki garis silsilah yang sama, kau dan aliranku akan bersama-sama saling mendukung menjalankan dan mengembangkan jalan dharma. Jangan berpikir sama terhadap semua umat, karena tidak semua umat tidak tulus dan salah, tapi ada juga yang tulus dan benar.”

“Baiklah, saya mengerti Mahaguru.”


“Jagalah dirimu dengan baik dan ikutilah setiap petunjuk yang diberikan oleh para Dewa. Aku meminta agar kau membaca mantra hatiku setiap hari.”

Lalu Mahaguru menghilang seiring dengan redanya tanda komunikasi antara kami.

Aku agak sedikit aneh dengan pengalamanku ini, kenapa Mahaguru mendadak datang, apakah ini sungguhan? Apakah Mahaguru benar-benar telah tahu siapa diriku? Ataukah ini hanya ilusiku saja?

Guru sejatiku meminta agar aku mempercayai apa yang kualami barusan, aku agak tegang dan was-was menghadapi hal ini. Apakah kebenaran ini akan terjadi? Apakah akan ada mukijzat yang kualami? Aku hanya bisa berserah diri kepada para Dewa, hidup dan mati bukan milikku.

Aku akan berusaha agar misi yang telah diturunkan dari langit bisa berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan kehendak para Dewa. Aku hanya sebagai perantara dan media penyebaran jalan dharma agar banyak makhluk di muka bumi ini dan di 4 alam kehidupan terselamatkan dari penderitaan.

Aku bersyukur bisa berjodoh dengan Mahaguru, tubuh dharmakayanyalah yang selalu datang membimbing. Beliau mengajarkan visualisasi dan beberapa mudra, beliau juga yang membantu rohku bisa keluar dari tubuh fisik dan membawaku berkeliling ke nirwana dan neraka.

Aku percaya beliau bukan orang biasa, benar-benar seorang Buddha Hidup yang tingkat pencapaian meditasinya sudah mencapai samyaksambodhi. Beliau telah sama dengan Buddha-Bodhisattva, karena di saat aku mendapatkan kontak batin dan bimbingan dari Buddha-Bodhisattva, Mahaguru juga datang membimbingku. Walaupun aku mendengar kata-kata tidak baik mengenai dirinya, aku tidak terpengaruh sebab aku sendiri telah mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak.

Mempersiapkan Anugrah Datang Tanggal 08 Agustus 2010, saat aku dalam perjalanan pulang dari sebuah mal, aku merasakan sisi kanan kepalaku terasa memanas dan seperti ada arus listriknya. Aku rasakan hanya sesaat saja, karena itu aku tidak terlalu menghiraukan keanehan pada diriku itu.

Sampai dirumah anakku meminta untuk memasakkan sesuatu untuk dia makan, dan saat memasak itu, aku merasakan perubahan aneh pada tubuhku, rasa melayang, ringan dan kelembutan yang aku rasakan membuat aku memutuskan untuk turun ke ruang altar. Tapi aku tidak langsung meditasi karena berharap Guru sejatiku memberikan petunjuk mengenai yang kualami ini, tapi aku tidak tahan untuk masuk ke dalam meditasi.

Dalam meditasi aku merasakan kenyamanan dan keringanan dalam tubuhku, tapi ada tekanan kuat pada ujung hidungku, tekanan itu perlahan lahan naik ke atas sampai ke cakra dahiku dan menyebar disana, setelah itu aku merasakan tanda komunikasi. Perlahan aku melihat kehadiran Buddha Sakyamuni dan Buddha Maitreya, aku juga melihat tubuhku memancarkan cahaya terang bersamaan dengan kehadiran Mereka. Buddha Sakyamuni berkata:

“Desi… Aku tahu kau ragu dengan apa yang kau alami, Aku beritahukan kepadamu, semua yang kau alami adalah kebenaran, Buddha dan Bodhisattva tidak akan berbohong mengenai dirimu. Teguhkanlah hatimu, ikutilah semua petunjuk yang diberikan oleh Gurumu dan para Dewa.”

“Tapi, saya merasa takut apa yang dikatakan Buddha dan Dewa tidak sesuai dengan kenyataan yang hamba terima. Hamba takut telah salah jalan dan masuk dalam perangkap Mara.”

“Percayalah kau tidak salah jalan, kau telah mendapat berkah dariKu dan juga para Bodhisattva serta perlindungan dari para Dharmapala. Kau sudah dipilih untuk menjalankan amanat ini, tidak perlu berpikir yang tidak-tidak, yang penting jalankanlah hidupmu dengan baik dan ikutilah selalu petunjuk yang diberikan oleh para Dewa.”

“Baiklah Buddha Sakyamuni aku akan berusaha.”

Lalu Buddha Maitreya dan Buddha Sakyamuni menghilang, setelah aku keluar dari meditasi, Guruku memberikan petunjuk lagi kepadaku.

“Desi, kau harus percaya terhadap setiap petunjuk yang telah diberikan kepadamu. Kau adalah Dewi Sukhavati ke-27. Roh yang masuk ke alam Sukhavati tidak mudah untuk bisa mencapai tingkatan ke-27, kebajikan yang mereka tanam haruslah besar. Kebanyakan dari mereka berada di alam Sukhavati tingkat ke-5. Hanya kau Dewi Sukhavati yang turun ke dunia fana. Jalan hidupmu sudah diatur sejak kau mulai membina diri dan kau telah dipilih. Jadi jangan menganggap dirimu tidak berarti dan tidak berharga.”

“Guru… apa yang harus aku lakukan?”

“Persiapkanlah semua dengan baik dan jangan ragu lagi. Waktunya tidak lama lagi, semua ini kau lakukan agar tidak tergesa-gesa nantinya.”

Aku bingung apa yang harus aku lakukan, mengikuti petunjuk Guruku atau tidak? Dalam jalan dharma, keyakinan adalah iman kita. Karena disitulah letak ketulusan hati, bukankah aku telah berikrar mengikuti jalan Bodhisattva. Seharusnya aku punya keteguhan hati, apapun resikonya aku harus Teguh pada keyakinanku, percaya sepenuhnya pada perkataan dan petunjuk Guruku, dan para Dewa, bahwa semua itu adalah kebenaran.

Akhirnya aku membulatkan hatiku untuk mempersiapkan semuanya dan aku yakin pada perkataan Guruku, yakin pada perkataan para Buddha dan yakin pada perkataan para Dewa. Aku tidak peduli lagi terhadap apa yang dikatakan orang nantinya, yang mungkin menganggap aku sudah gila dan aneh, mempersiapkan sesuatu hal yang tidak mungkin menurut mereka.

Aku percaya pada kekuatan alam semesta, percaya kepada Guru, percaya kepada Buddha Sakyamuni. Semua ini telah diatur, jalan hidupku telah diatur ke arah yang baik. Mereka tidak akan menuntunku ke jalan yang salah. Aku yakin selama hati terdalamku tidak ternoda oleh kekotoran batin aku pasti tidak akan salah jalan.

Sebagai seseorang yang telah mendapatkan kontak batin dan selalu berusaha membina diri dengan baik, aku tidak ingin ragu sedikit pun. Aku tidak ingin melekat pada keakuan, keegoisan dan amarah. Segala ketakutan dan kekhawatiranku selama ini tidak beralasan, karena sesungguhnya aku hanya takut dinilai oleh orang lain, takut dikatakan orang lain kalau aku hanya mengada-ada. Kejadian dan pengalaman batin dengan para Dewa benar-benar aku alami dan begitu bermakna bagiku.

Hari ini juga aku teguhkan hatiku kembali, berkat bimbingan suamiku, keyakinan yang diberikan oleh Guru sejatiku dan perhatian para Buddha, Bodhisattva, Dharmapala, Dewa dan Dakini kepadaku, tidak akan aku abaikan. Aku akan tetap di jalan yang diberikan oleh Mereka, dan tidak ingin berpaling lagi.

Mengapa aku begitu yakin akan petunjuk Guruku, karena tanpa aku harapkan dalam mempersiapkan segala petunjuk aku mendapatkan berkah dan kemudahan serta pertolongan dari Mereka.


Roh-Roh yang Menempel di Kaki
Ada seseorang yang bernama Wawan, ini bukan nama sebenarnya. Kakaknya telah membaca buku yang kutulis dan menghubungiku untuk membantu adiknya, yang telah 5 hari berada di rumah sakit di daerah Jakarta. Kaki kanannya bengkak, dokter telah memberi macam-macam obat tapi bengkak pada kakinya tidak sembuh.

Aku dijemput oleh kakaknya pada malam hari untuk pergi kerumah sakit melihat keadaan adiknya itu. Tapi sebelumnya aku sudah mengetahui kalau ada roh jahat yang menempel pada kakinya. Ini adalah pengalaman pertamaku kerumah sakit membantu orang. Guruku mengatakan kalau dia tidak sengaja menginjak persembahan para roh, hingga setan-setan kelaparan yang sedang memunguti persembahan itu marah dan menempel serta menggigit kakinya.

Saat tiba di rumah sakit dan melihat sendiri keadaannya, kaki kanannya memang bengkak sekali dan merah seperti terbakar. Dia mengatakan kalau sejak dia sembahyang kuburan orang tuanya di kampung halaman. Dia sempat melompati kuburan-kuburan lainnya karena pada saat itu dia sibuk mencari letak kuburan orang tuanya, jadi tanpa dia sadari telah menginjak sesuatu, setelah dia pulang dari kuburan pada malam harinya mendadak kakinya bengkak dan sakit.

Sebelum membakar hu dan membaca mantra pada kakinya, aku mencoba untuk berkomunikasi dulu dengan roh-roh yang masuk kedalam kakinya itu, salah satu roh mengatakan kalau dia sudah tidak sopan menginjak persembahan yang sedang mereka ambil.

Aku mencoba meminta roh-roh itu untuk keluar dari kakinya dan akan memberikan persembahan yang baru untuk mereka, mereka menyetujuinya. Setelah itu aku membasuh kaki kanannya yang bengkak dengan air Maha Karuna Dharani dan Hu. Dengan mata batin aku melihat roh-roh berbentuk sinar keluar dari kakinya, maka dengan segera aku menuntun roh itu untuk keluar dari rumah sakit dan membakar persembahan baru untuk mereka, mereka senang dan akhirnya pergi.

Esok harinya, kakaknya memberi kabar kalau kaki kanan adiknya yang bengkak itu telah kempes banyak sekali, aku bersyukur mendengarnya. Tapi aku juga mendengar pada hari itu dia memutuskan pindah rumah sakit karena tidak puas dengan penanganan rumah sakit itu, dia pindah ke rumah sakit di luar negeri. Tapi sesampainya disana, saat dokter melihat keadaan kakinya, dokter memutuskan untuk mengamputasi kakinya itu. Mendengar hal itu dia dan keluarganya kaget dan menangis.

Kakaknya kembali menghubungiku dan meminta petunjuk harus bagaimana, apakah kakinya harus diamputasi atau tidak. Aku sedih mendengar hal ini, dan memohon petunjuk Guru sejatiku. Guru sejatiku mengatakan kalau kakinya tidak boleh diamputasi, kakinya akan sembuh hanya proses penyembuhannya agak lama karena dia punya penyakit diabetes/gula.

Aku memberitahu petunjuk Guru sejatiku kepada kakaknya dan meminta agar adiknya membaca mantra yang aku tunjukkan sebanyak mungkin. Aku ikut merasakan penderitaannya dan mencoba membantunya membaca mantra di altar utama dan memohon pertolongan para Dewa.

Pada saat itu rohku bergerak dengan sangat kuat, tanganku membentuk mudra-mudra dengan sendirinya, sepertinya rohku sedang berkomunikasi dengan Buddha dan Bodhisattva. Dan dalam meditasi aku melihat wawan sedang tidur di rumah sakit, ada dokter dan suster yang menangani kakinya, diatasnya muncul Buddha Bhaisajyaguru meneteskan air pengobatan pada kakinya.

Esok harinya dokter melakukan ronsen pada kakinya, ternyata keajaiban datang, kakinya tidak apa-apa, hanya bagian kulit luar saja yang terbakar karena dokter rumah sakit sebelumnya telah mengoleskan sesuatu pada kakinya dan kakinya tidak perlu diamputasi, tapi hanya melakukan operasi kecil untuk mengeluarkan sedikit nanah pada tumit kakinya. Aku bahagia mendengarnya, dan bisa melihatnya dalam keadaan sehat.

Kejadian ini memberikan pelajaran bagiku, bahwa kita tidak boleh sembarangan dalam melakukan sesuatu. Kita hidup berdampingan daengan roh di alam bardo, kita tidak bisa melihat keberadaan mereka bukan berarti mereka tidak ada, kadang kita tidak sengaja mengganggu mereka saja, mereka tetap mengejar kita.

Karena itu, untuk menghindari diri dari gangguan-gangguan roh yang tidak terlihat mata kita itu, kita harus rajin berdoa dan membaca mantra setiap hari, agar bisa mendapatkan perlindungan dari para Dewa, kapanpun dan dimanapun kita berada.


Diyakinkan untuk Membawa Aliran Tantra Tgl 7-5-2010 pukul 09:30 WIB

Aku merasakan keanehan pada tubuhku dan mencoba mencari tahu melalui meditasi, disitu aku melihat sesuatu yang berjalan dan melesat cepat seperti perwujudan seekor naga, tapi tidak begitu jelas. Serta melihat seperti pusaran-pusaran cahaya yang berputar-putar.

Setelah itu aku melihat sesuatu yang berbentuk seperti mahkota yang dipakai para Acharya, yaitu mahkota Panca Dhyani Buddha berukuran agak besar, lalu muncul Vajrasattva Bodhisattva. Aku mengenali perwujudannya dengan memegang Genta dan Vajra.

Aku merasa sedikit aneh terhadap apa yang aku lihat, kenapa Vajrasattva Bodhisattva tiba-tiba datang. Lalu terbuka komunikasi antara aku dengan Beliau.

“Desi, aku adalah Vajrasattva.”

“Ada apakah Bodhisattva datang menemui saya hari ini?”

“Desi, aku datang ingin memberikan Abhiseka kepadamu untuk menjalankan aliran Tantra, dan menganugrahkan Mahkota Panca Dhyani Buddha berwarna kuning. Dengan begitu kau tidak perlu takut lagi untuk menjalankan aliran Tantra. Aku akan mengajarimu cara menjalankan Api Homa dan penggunaan Genta-Vajra. Datanglah menghadap kepadaku setiap hari pukul 9 atau 10 malam agar aku bisa membimbingmu. Mahadewi Yao Chi hanya mengajarkan sadhana-sadhana rahasia dan liturgi pujabakti, jadi ritual api homa aku yang akan mengajarkannya. Kau siap menerima Transmisi Ajaran dariku?”

“Baiklah, saya siap.”

Aku diminta untuk menundukkan kepala, dan Vajrasattva Bodhisattva memasangkan Mahkota Panca Dhyani Buddha itu kekepalaku. Kemudian Dia pergi. Tinggal aku agak bingung sendiri, sungguhkah ini? Suatu pengalaman baru lagi terjadi padaku, membuat aku tidak bisa berkata-kata dan agak terharu akan peristiwa ini. Tapi esok dan seterusnya Vajrasattva benar datang dan memberi bimbingan padaku seperti apa yang dikatakanNya.

Tgl 17-5-2010 pkl. 10 malam, dalam meditasi Mahadewi Yao Chi datang menemuiku. Dia memperlihatkan kepadaku beberapa benda. Ada uang logam emas, perhiasan, baju-baju bagus dan perlengkapan pemimpin homa. Disitu juga ada Buddha Sakyamuni, Buddha Amitabha dan Buddha Bhasaijyaguru datang menyaksikan. Lalu Guru sejatiku Dewi Seribu Tangan Seribu Mata muncul dan berkata kepadaku:

“Desi, dari sekian benda ini manakah yang akan kau pilih?”

Aku berpikir sejenak, saat ini Vajrasattva Bodhisattva datang membimbing api homa, jadi aku memutuskan untuk memilih perlengkapan homa saja.

“Guru, saya memilih perlengkapan pemimpin homa.”

Lalu seiring dengan perkataanku itu, benda-benda yang lain menghilang.

“Kau sudah memilih. Untuk sementara benda ini aku simpan, sampai waktunya baru akan kuberikan kepadamu, saat kau sudah selesai belajar dan sudah siap.”

“Baiklah Guru.” Setelah itu semuanya menghilang.

Suatu hari saat aku sedang dalam kebimbangan karena ajaran Tantra yang aku terima. Tiba-tiba Vajrasattva Bodhisattva datang dan meminta aku untuk bermeditasi, disitu aku melihat orang-orang yang sedan duduk bersila dan pakaian yang mereka pakai seperti para Karmapa, Lhama atau Rinpoche. Salah satunya, yang wujudnya agak besar bicara kepadaku, katanya aku harus percaya dengan apa yang aku alami, bahwa aku telah mendapatkan transmisi ajaran Tantrayana sama halnya dengan mereka semua, mereka adalah para pendahulu yang mendapatkan ajaran dari angkasa, jadi antara aku dan mereka merupakan satu garis silsilah dalam aliran Tantrayana. Aku berpikir aneh, mereka semua dari Tibet sedangkan aku di Indonesia, kenapa ajaran Tantra diturunkan kepadaku?

Mereka mengatakan bahwa aku mempunyai misi yang berbeda dan akan membentuk aliran sendiri. Aku diarahkan untuk membentuk cetya yang diberi nama Sukhavati Prajna, logo/lambang cetya telah diberikan oleh Mahadewi Yao Chi, dan aku diminta agar segera mengurus izin cetya di tempatku.

Aku agak bingung dengan petunjuk ini, baru hari ini aku selesai mengucapkan sumpah bodhi, begitu cepatnya hari ini juga sudah diminta menjalani hal itu. Aku jadi agak sedikit pusing, kenapa begitu cepat dan rasanya seperti tergesa-gesa? Mahadewi Yao Chi bilang bahwa waktunya memang dipercepat.

Tgl 4-6-2010
Dalam meditasi aku melihat kehadiran Buddha Sakyamuni tapi dengan tubuh yang berwarna hitam, aku hanya melihat tangannya memegang pindapata, ada banyak Arahat dan Guru-guru silsilah juga datang. Lalu terbuka komunikasi dengan salah satu dari Arahat.

“Desi, aku Mahakasyapa.”

“Mahakasyapa? Ada apakah gerangan sehingga semua datang hari ini?”

“Desi, kau akan menjalankan aliran tantra, aliran ini bermula dari ajaran Buddha Sakyamuni, lalu turun kepadaku dan murid-muridnya, lalu ke Padmasambhava, Tilopa, Naropa, Milarepa, Nagarjuna, Vajrasattva, para Rinpoche, para Karmapa dll. Selama ini ajaran Tantra sebagian besar diturunkan di Tibet, lalu di Taiwan melalui Mahaguru Lu Sheng Yen dan sekarang di Indonesia melalui dirimu. Untuk itu aku ingin memberikan pratima Hevajra, agar kau bersadhana kepada Hevajra selama 7 hari berturut-turut. Kau akan melakukan penyatuan dengan Hevajra, karena Hevajra adalah gabungan dari seluruh Guru-Guru Tantra.”

“Baiklah Mahakasyapa, terimakasih aku akan menjalankan petunjukmu.”

Setelah mendengar perkataanku mereka semua memberkatiku, aku merasakan sesuatu yang damai dan nyaman. Itulah yang aku alami, aku tidak bisa mundur lagi. Dan akan menjalankan setiap petunjuk dengan keteguhan hati. Semoga saja segalanya bisa berjalan dengan baik.



Pertama Kalinya Menjalankan Ritual Waisak dan Bertemu dengan Ratu Mahamaya Tgl 10-4-2010

Hari ini aku menjalankan pemandian rupang Buddha Sakyamuni untuk memperingati hari Trisuci Waisak, bahan dan tata cara telah ditunjukkan oleh Mahadewi Yao Chi dan Buddha Sakyamuni datang memberikan petunjuk-petunjuk kepadaku. Ini adalah pengalaman baru bagiku. Sekarang ini dalam satu hari aku dibimbing oleh 4 Dewa, Mahadewi Yao Chi, Mahaguru Tatmo Cosu, Semien Fo dan Vajrasattva.

Hari-hariku agak sedikit padat, belum lagi menjawab pertanyaan orang lewat sms, e-mail dan yang datang ke tempatku. Kadang membuatku sulit untuk bernafas. Tapi ikrar yang telah kuucapkan di hadapan para Buddha Bodhisattva selalu menyadarkan aku disaat mulai timbul rasa lelah. Aku juga amat berterimakasih pada seorang Biksu, jika bukan karena bantuan darinya aku pasti tidak bisa menjalankan tugas dan petunjuk dengan sempurna, dan sumpah bodhi tidak bisa aku ikrarkan di hadapan para Buddha-Bodhisattva sesuai dengan keinginan mereka.

Hari ini juga sempat hujan besar, kata Dewi Kwan Im langit bereaksi, karena ikrar itu diketahui oleh langit baik Buddha ataupun Mara, tapi aku tidak perlu kuatir karena tidak akan terjadi banjir di daerah tempatku karena sudah terlindungi. Saat aku sadhana kepada Buddha Amitabha hari ini, dalam meditasi aku melihat kehadiran seorang wanita dengan pakaian sedikit aneh, dia berubah-ubah gerakan dengan gemulai seperti wanita zaman kerajaan, dari pakaiannya terlihat bukan dari Tiongkok, tapi sepertinya dari India. Kenapa saat sadhana kepada Buddha Amitabha muncul penglihatan seperti ini. Dan lebih aneh lagi terbuka komunikasi dengan wanita itu.

“Desi, aku Maya Chandravati.”

“Maya Chandravati siapa?”

Aku sama sekali tidak mengenalinya. Lalu dia berkata lagi:

“Aku Mahamaya, Ibu dari Buddha Sakyamuni.”

Aku agak kaget mendengarnya, dan mencoba untuk tenang.

“Ada apakah ratu Mahamaya datang menemui saya, bukankah saya sedang bersadhana kepada Buddha Amitabha?”

“Desi aku telah meminta izin kepada Buddha Amitabha untuk bertemu denganmu, hari ini langit gempar karena ikrarmu. Aku datang ingin melihat seperti apakah dirimu. Ternyata kau memang selalu menjalankan setiap petunjuk dengan baik. Pantas saja Buddha Bodhisattva telah memilihmu untuk menjalankan amanat dari langit.”

“Ratu Mahamaya, saya hanya orang biasa dan tidak pantas menerima berkah. Apakah ada pesan yang ingin disampaikan?”

“Desi, kau telah mendapatkan anugrah yang amat besar. Kau tak perlu bingung dengan keadaanmu. Pesanku kepadamu supaya kau bisa menjaga dirimu dan janganlah mengotori dirimu dengan hal-hal yang tidak baik, agar kesucian Bodhisattva tetap terjaga dengan baik pula.”

“Baiklah ratu Mahamaya, saya akan mengingat pesanmu.”

Lalu ratu Mahamaya prgi.

Dihari perayaan Waisak, banyak hal baru yang aku alami. Dari mempersiapkan ritual pemandian rupang Buddha Sakyamuni yang pertama kali, diberikan hu/kertas mantra oleh Ksitigarbha Bodhisattva untuk menolong arwah yang masuk ke alam setan, mengelilingi pagoda silsilah dan menghadiri acara waisak yang dihadiri oleh Bapak Presiden RI.

Aku yang dulunya tidak pernah tergabung dengan orang-orang yang menjalankan kerohanian dan lebih banyak menjalani hidup keduniawian yang kental. Suatu terobosan baru yang membuatku tidak bisa habis berpikir. Guruku mengatakan, kalau aku nantinya juga akan tergabung dengan mereka dalam membabarkan dharma.

Hari waisak kali ini begitu bermakna dalam bagiku, biasanya aku melewati hari waisak dengan biasa saja. Aku yang baru saja berjodoh dengan agama Buddha, secara demikian cepat mulai memahami sedikit ajaran buddha, tapi tidak melalui ceramah dharma yang ada di vihara-vihara tapi melalui pengalaman hidup yang aku jalani sejak mendapatkan kontak batin, dan mempelajari banyak hal yang dialami oleh setiap orang yang datang kepadaku. Semoga saja pengetahuanku akan dharma bisa semakin berkembang, dan aku bisa menjalankan tugas-tugasku dengan baik dan dengan setulus hati. Yang terpenting aku bisa meredam ego, keakuan dan kemelekatan.


Membentuk Cetya Sukhavati Prajna Tgl 10-5-2010
Pagi ini aku dikagetkan dengan adanya keanehan yang terjadi dirumahku. Saat itu aku sedang sibuk mengurus usaha dikantorku yang terletak di lantai dasar. Aku mendengar beberapa orang di luar agak ribut berbicara seperti sedang aneh melihat sesuatu.

Mendengar itu aku beranjak keluar rumah, ternyata didepan rumahku banyak sekali capung-capung, jumlahnya mungkin ratusan. Mereka beterbangan dan hanya berputar-putar saja didepan rumahku, capung-capung itu sudah dari pagi disitu dan sudah hampir jam tidak pindah-pindah ataupun pergi menghilang.

Aku merasa aneh dengan pemandangan ini, kenapa bisa ada capung yang demikian banyaknya. Biasanya capung hanya terlihat satu atau dua ekor saja, tapi ini jumlahnya ratusan. Melihat hal itu aku sempat terpikir sepertinya capung-capung itu sedang berada di taman bunga yang penuh dengan bunga dan tumbuhan, tapi didepan rumahku sama sekali gersang, tidak ada pohon ataupun bunga, tapi kenapa capung-capung itu berkumpul dan beterbangan didepan rumahku. Ini pertanda baik atau buruk?

Saat aku masih dalam kebingungan Guruku berkata, capung-capung itu memberi tanda kalau para Buddha-Bodhisattva telah berkenan untuk turun ke rumahku dan akan menjadikan rumahku sebagai vihara. Aku diminta untuk segera merenovasi rumahku untuk menjadi cetya dan mengurus izinnya. Dan nama cetya itu nantinya adalah Sukhavati Prajna.

Mendengar petunjuk Guruku, aku jadi semakin takut, apakah aku bisa menjalankan petunjuk ini, aku sama sekali tidak paham dengan pembentukan cetya apalagi untuk mengurus iznnya. Dan aku sama sekali tidak tahu harus memulainya darimana, karena memang aku sama sekali tidak pernah menjalani hal ini. Guruku bilang tidak perlu cemas, ikuti saja setiap petunjuk yang diberikan oleh para Dewa, maka aku akan bisa menjalaninya dengan baik.

Sudah beberapa hari ini Mahadewi Yao Chi dan Vajrasattva Bodhisattva tidak membimbingku, karena tugas yang diberikan belum aku jalankan, yaitu merenovasi rumahku menjadi cetya dan mengurus izinnnya, dan juga harus mempelajari mudra, mantra dan visualisasi untuk ritual api homa yang nantinya akan aku jalankan.

Mahadewi Yao Chi bilang waktuku tidak banyak, harus segera menjalankan petunjuk agar dia bisa melanjutkan bimbingannya. Vajrasattva Bodhisattva juga meminta agar aku menghafal mudra dengan sempurna dulu baru menghadapnya lagi. Wah lumayan berat juga, kali ini tidak ada toleransi, aku memang dipersiapkan dengan ketat. Akkhirnya aku hanya bisa menghadap Mahaguru Tatmo Cosu dan Semien Fo saja.

Aku dan suamiku membuat surat permohonan untuk pembentukan cetya. Kami agak kuatir tidak bisa menjalankan petunjuk ini, karena daerah sekitar rumahku mayoritas beragama Kristen. Ada beberapa orang yang mengatakan kalau susah mendapatkan izin vihara, bahkan sampai bertahun-tahun izin tidak keluar. Mendengar hal itu kami sedikit putus asa, apakah benar seperti apa yang mereka katakan, kalau benar mana mungkin aku bisa mendapatkan izin juga.

Surat permohonan yang kami buat, aku mohon para Dewa memberkati, saat sedang berkonsentrasi memohon berkat, aku melihat sinar memberkati surat permohonan itu dan muncul Bodhisattva yang berbaju putih duduk di atas teratai dan diatas seekor burung Merak. Aku mengira itu Guruku yang memberkatinya lalu keluar dari meditasi dan menyerahkan surat itu kepada suamiku. Tapi tubuhku mendadak bergoyang-goyang, saat membaca majalah dharma tubuhku terbawa kekiri dan kekanan seperti naik perahu yang digoyang ombak.

Aku memutuskan untuk meditasi kembali mungkin ada petunjuk yang aku dapatkan dengan keanehan tadi. Benar saja aku kembali melihat kehadiran Bodhisattva yang kulihat tadi. Ternyata bukan Guruku. Kekuatannya kembali menggerakkan rohku, aku dibimbing gerakan. Gerakannya agak berbeda dengan Hevajra dan Kalacakra. Kalau kuperhatikan gerakannya lebih gemulai dan penuh dengan energi. Aku bingung melihat hal ini tapi tetap mengikuti setiap gerakannya sampai berhenti sendiri.

Akhirnya Guruku memberitahu kalau aku telah diabhiseka oleh Bodhisattva Mahamayuri Vidyarajni dan meminta agar aku bersadhana kepadanya selama 7 hari berturut-turut agar permohonan pembentukan cetya yang sedang aku ajukan bisa sukses dan berjalan lancar.

Aku menjalankan sadhana kepada Bodhisattva Mahamayuri sesuai petunjuk, tapi saat itu kami masih belum berniat merenovasi rumah kami menjadi cetya, karena masih tidak begitu yakin bisa menjalani dan kami merasa tempat kami belum layak untuk dijadikan cetya, karena tempatnya sempit dan tidak tahu bagaimana menata cetya itu sendiri.

Mungkin Guruku mengetahui apa yang kami pikirkan, sehingga pada suatu hari dia menyuruh kami untuk pergi kesatu vihara yang ada di Jakarta yang pernah kudatangi sebelumnya. Aku berpikir untuk apa Guruku memintaku pergi ke vihara itu lagi, kata Guruku untuk mendapatkan berkat dalam rangka pembentukan cetya.

Walau Guruku bilang seperti itu, aku tetap saja ragu dan mencoba untuk mengalihkan petunjuknya ke vihara yang lain yang letaknya tidak jauh dari vihara yang ditunjuk Guruku, tapi Guruku mengatakan bahwa bukan vihara itu. Akhirnya kami pergi juga ke vihara yang ditunjuk, saat kami datang kesana tidak ada kebaktian, tapi kami boleh bersembahyang. Jadi aku putuskan untuk bermeditasi didepan altar vihara itu. Dalam meditasi Guruku muncul dan berkata:

“Desi aku memintamu kesini agar kau bisa memperhatikan vihara ini. Vihara ini awalnya kecil seperti yang kau datangi sekarang ini, tapi pada saat ini akan membangun vihara yang besar. Didalam vihara ini tidak ada yang bisa berkontak batin denganku walaupun mandala utam adalah rupangku, tapi bisa membangun vihara yang besar sekali. Bagaimana dengan kau yang bisa berkontak batin dan sudah menyatu denganku, pasti akan bisa membangun vihara yang besar juga. Maka teguhkanlah hatimu, yang penting selalu mengikuti setiap petunjuk, karena jika tidak kau akan tersesat.”

“Tapi Guru, apakah itu bisa?”

“Tentu saja bisa. Percayalah bahwa akan menuju kesana jika selalu mengikuti petunjuk para Dewa.”


“Baiklah Guru saya percaya.”

“Kau boleh kembali.”

Lalu Guruku itu menghilang, dan kami pulang kembali kerumah. Dalam perjalanan saat aku ingin memberitahukan hal itu pada suamiku, anehnya suamiku sudah mengetahuinya kenapa kami disuruh ke vihara itu, dan dia sudah berpikir apa yang harus dia lakukan, sesampainya dirumah kami mulai menyusun rencana renovasi dan ternyata bisa berjalan dengan lancar, yang tadinya kami berpikir sulit dan tdaik mudah, tapi mendadak bisa berjalan sempurna.

Akhirnya rumahku mulai direnovasi untuk dijadikan cetya bertepatan dengan tanggal ulang tahun Mahaguru. Dan lebih membuatku takjub lagi. Pengurusan izin cetya yang semula dikatakan orang susah didapat dan kalaupun dapat pasti tidak bisa cepat dan butuh waktu bertahun-tahun, tapi kami bisa mengurusnya dengan hanya dalam beberapa hari saja izin bisa keluar.

Dari sini kami percaya bahwa semuanya telah diatur oleh para Buddha-Bodhisattva, disaat kami mengalami kesulitan dan merasa tidak sanggup, mereka datang memberikan bantuan dan pertolongan sehingga semua tugas bisa berjalan dengan baik. Aku dipertemukan dengan orang-orang yang bisa membantuku dan tidak akan pernah melupakan jasa-jasa mereka.

Sebenarnya sebelum rumahku direnovasi untuk menjadi cetya, pada awal kontak batin dengan Guru sejatiku, Beliau sudah mengatakan dari awal kalau tempatku akan menjadi vihara, tapi aku tidak begitu percaya saat itu dan hanya menjalani saja setiap petunjukNya. Aku pernah pergi ke dasar tanah dan melihat para Dewa Bumi membersihkan tanah disekitar rumahku. Mereka mempersiapkan tempatku dengan mengangkat kotoran didalamnya, banyak sekali Dewa bumi yang bekerja saat itu.

Ini adalah kejadian yang nyata, sama sekali tidak terpikirkan akan bisa terjadi. Kami memang diarahkan ke jalan dharma, dan Mereka tidak membiarkan kami tersesat dan mengalami kesulitan dalam menjalankan jalan dharma kami. Bodhisattva Mahamayuri Vidyarajni telah membantuk melancarkan tugas ini.













14 komentar:

Darmawan Tjong mengatakan...

Kalo berkenan apakah ada yg tau dimana tepatnya letak cetya dari Guru Desi ini di jakarta, kalo berjodoh saya kepengin kesana melihat. Terima kasih kalo ada yg bersedia memberitahu.

Anonim mengatakan...

Alamat: Daan Mogot KM. 19,8 Jln. Galaxy IV Blok G8 No.15 Poris Indah - Cipondoh Tangerang 15148, Indonesia

Anonim mengatakan...

Gw juga ah ..daerah Daan Mogot ya Km 19,8 Jalan Galaxy lV G8 No.15 poris indah-cipondoh Tangerang 15148 ya?

Anonim mengatakan...

Terima kasih atas tulisan Nya yang telah membuka mata bathin saya karena saya sudah lama sekali terombang ambing dalam hidup ini tanpa arah yang pasti

Anonim mengatakan...

Bisa saya minta no hp yang bisa dihubungi, karena ada yang harus saya ceritakan sebelum bertemu, mohon maaf sekali karena saya berada di Surabaya, Khing 085257216388, 031 72134388,Thanks

Anonim mengatakan...

Ammitoffo... Ibu Desi, saya sangat dekat dengan cerita ini, saya sangat berharap bisa mendapatkan arahan dari Ibu desi, apabila Ibu Desi berkenan saya akan senang sekali bisa kantak langsung dengan Ibu Desi lewat email Nopitalo@gmail.com atau di nomor Hp. 082390866699, Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.. Ammitoffo..

Anonim mengatakan...

Omitofo......ibu desi yg saya hormati.saya chai an.saya sudah membaca artikel yg ibu muat dilaman ini.perjalanan astral ke alam binatang dan juga kontak batin dengan dewa.kalau diizinkan.mohon diberikan no hp ibu yg bisa dihubungi.berhubung saya berdomisili di medan ,sumatera utara.saya pernah bermimpi di bawa oleh seseorang yg tidak bisa saya lihat ujudnya ke suatu alam.dan berkomunikasi dengan saya,tp saya tdk bs mengatakannya disini.mohon bimbingan dan pengarahan dari ibu desi.saya takut tersesat.mohon bantuannya ibu.alamat email saya.andiliustanto@yahoo.com.hp.085372240240.terima kasih sebelumnya atas bantuan ibu desi.Omitofo...OM GATE GATE PARAGATE PARASAMGATE BODHI SVAHA......

Macca Centama mengatakan...

miracle

Macca Centama mengatakan...

kalau berjodoh aku akan datang

Vincent Gustinov mengatakan...

Amitofo ibu desi yang saya hormati dari cerita ibu desi saya ingin sekali meminta ibu desi menyembuh kan paman saya atau sepupu dari mama saya yang sekarang sedang mengalami cacat mental dia sudah di bawak ke tempat orng pintar pun tidak sembuh",saya tidak bisa cerita di sini,semoga ibu ingin membantu kami ini nomor hp saya 089697036409 vincent gustinov nayoan email vincentgustinov1996@gmail.com

Anonim mengatakan...

amitofo. selamat pagi. kpd yth cc desi. saya ingin bertanya sedikit. saya tertarik dengan blog ini. setelah membaca blog ini saya jadi teringat dengan almarhum 'ayah' saya. yang menjadi pertanyaan saya. bagaimana cara saya untuk meringankan karma almarhum, saya bukan seorang sosok anak yang berbakti. saya agama buddha tapi saya jarang sembahyang dan jarang sekali pergi ke bio. sudah berlangsung 4 tahun sejak kepergian almarhum. apakah saya masi mempunyai kesempatan untuk meringankan karma almarhum ? selain berbuat kebajikan dan doa apakah ada cara lain yang bisa saya berikan untuk meringankan karma almarhum? jika dengan doa, doa seperti apa ya yang bisa saya bacakan untuk almarhum? terima kasih sebelum ny. semoga semua makhluk berbahagia. amitofo.

Anonim mengatakan...

Amitabha.ibu desi yg terhormat setelah saya baca apa yg ibu tulis jdnya saya senang diblok ini.Saya tinggal di sumut.tg.balai asahan.Saya ingin bertanya mulai dr tahun 2010 saya udh dapat mimpi di bawa ke alam ghaib.Dan saya pernah di kedasar laut di karang angar.Padahal saya blm pernah ketempat itu.Dan thn 2011 saya mimpi di atas langit ada tuliasan arab yg artinya aku bersujud dihadapanmu aku sadar kebesaranmu.Dan dr itulah aku sering dpt mimpi berjumpa dewa.contohnya buddha julai.dewa tanah.dewi kwan im.thai siang lo khun.Dan terakhir saya bermimpi di kasih 2 lembar daun dr langit.Dan berjumpa dengan Thi Kong.Dan saya mempunyai anak dan istri di alam ghaib.Tapi sampai sekarang saya tak bs berkomunikasi dengan dewa maupun roh di alam ghaib.Dan saya mempunyai Bpk angkat di alam ghaib yg bernama prabu siliwangi,dan shekh maulana malik ibrahim.Tolong atas bantuannya dr bu Desi.mohon di balas ke email selamatwijaya180@gmail.com.sms ke 082172574666.amitabha.

Aldi Gunawan mengatakan...

Jika saya berjodoh dengan ibu desi saya mau datang dan ingin meminta bantuaan agar saya bisa lebih terarah lagi.karena di dalam kehidupan saya yg saya jalani ini saya merasa kehidupan saya tidak baik dan ingin merubah sifat2 dan prilaku saya dengan baik

Aldi Gunawan mengatakan...

Jika saya berjodoh dengan ibu desi saya mau datang dan ingin meminta bantuaan agar saya bisa lebih terarah lagi.karena di dalam kehidupan saya yg saya jalani ini saya merasa kehidupan saya tidak baik dan ingin merubah sifat2 dan prilaku saya dengan baik

Poskan Komentar

Informasi

Video ini biasanya banyak dicari , saya bagikan untuk kawan kawan . Semoga Buddha Dharma semakin berkembang,Jika Tergerak untuk Donasi , Silahkan Di paypal saja.Om Mani Padme Hum.

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;