Minggu, 09 September 2012

Catur Maharajika


PROLOG
Dalam mitologi China, banyak tokoh yang dapat dijadikan panutan bagi pengembangan batin dan moralitas. Tak ada batasan strata maupun gender yang menjadi aral dalam pembentukan karakter bijaksana tersebut. Mereka dapat dari kalangan apa saja. Bangsawan ataupun jelata. Laki-laki maupun perempuan. Sebab sosok demikian, murni lahir dan berangkat dari sebuah cita luhur. Maka dalam perkembangan zaman, mereka tidak pernah dapat dilupakan oleh rakyat. Menjadi legenda turun-temurun, diteladani dan disanjung setinggi langit. Mereka adalah maharesi yang mengisi dunia ini dengan cinta dan kasih. Mereka adalah manusia-manusia yang diradi Langit.
Dan salah satunya adalah Si Da Tian Wang, dalam bahasa Sansekerta adalah Catur Maharajika-Kayikas atau lebih lazim disebut Catur Maharajika-Dewa.
***

Si Da Tian Wang dalam bahasa Sansekerta adalah Catur Maharajika-Kayikas atau lebih lazim disebut Catur Maharajika-Dewa.
Catur Maharajika-Dewa merupakan dewa-dewa yang populer dalam pengaruh kepercayaan dan buddhisme. Sosok-sosok tersebut selalu mendapat tempat terhormat dalam pemujaan masyarakat Tionghoa. Acuan dan runut kebajikannya Catur Maharajika dalam mitologi China tidak terlepas dari konsep kebenaran hakiki atau dharma yang telah membaur dengan kepercayaan brahmanisme, terutama mengenai alam para dewa.

Dalam mitologi yang telah diyakini turun-temurun dan terkultus, terdapat pengertian tiga alam kehidupan yang masing-masing bernama: Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Diyakini pula bahwa semua bentuk kehidupan apa pun bentuknya pasti menempati ketiga dhatu atau alam kehidupan tersebut. Semua makhluk hidup bersiklus dalam reinkarnasi ketiga dhatu tersebut. Kelahiran berulang-ulang itu biasa disebut purnarbhava. 

Ketiga alam tersebut memiliki strata yang menakar tinggi-rendahnya pahala mereka. Kamadhatu adalah alam yang berstrata tinggi, yang dihuni para dewa dan maharesi. Selanjutnya, Rupadhatu adalah alam yang dihuni manusia, dan berada pada strata menengah. Sementara Arupadhatu merupakan alam terendah, dan berada pada strata terakhir, yang dihuni oleh makhluk halus jin serta hantu-hantu gentayangan. Manusia dan segala bentuk kehidupan lain seperti hantu dan dewa tidak dapat lepas dari reinkarnasi atau siklus kelahiran dan kematian dari alam ini sebelum dapat memutus rantai tanha atau nafsu babur, dan mencapai pembebasan sejati menuju Nirwana.

Kamadhatu sendiri terbagi menjadi Enam Bagian. Dan dari Enam Bagian itu, Bagian Pertama merupakan kediaman yang utama dan ditinggali oleh Catur Maharajika-Dewa. Sementara Lima Bagian lainnya seterusnya ditempati oleh dewa berstrata lebih rendah dan maharesi-maharesi bijak lainnya.

Menurut keng atau sutra masyarakat Tiongkok kuno, Catur Maharajika-Dewa berdiam di puncak gunung Gandhana. Keempat mahadewa tersebut berdiam masing-masing pada pucuk gunung yang terbagi empat. Salah satu mahadewa mengusai area Timur gunung yang disebut Gunung Ching, dan yang lainnya masing-masing dengan nama Area Barat gunung Barat yang disebut Gunung Ing, Area Selatan gunung yang disebut Vaiduri, dan area gunung Utara disebut Ma Nao. Dan masing-masing memiliki tanggung jawab serta fungsi masing-masing.

Catur Maharajika-Dewa sangat dekat dengan manusia karena ia memiliki sifat kinasih dan welas asih untuk menolong manusia dari dera karma buruk. Keempat mahadewa tersebut yang telah diserahi tugas mulia dalam pikul tanggung-jawab masing-masing kerap disebut Purva Videha atau Sang Timur, Jambudhipa atau Sang Selatan—kini daerah itu adalah perbatasan India dan Tiongkok, Apara Godaniya atau Sang Barat, dan Uttarakuru atau Sang Utara; dan semuanya berfungsi melindungi dunia dari marabahaya.

***

Aplikasi kebajikan dan kebatilan merupakan hal yang seiring dan sejalan, bagai fenomena alam siang dan malam. Dalam ranah yang tercabik-cabik, timbullah manifesto yang merupakan perwujudan kebaikan, dan merupakan kontrakejahatan.

Keempat Catur Maharajika-Dewa seiring bergulirnya sang waktu disosokkan dalam berbagai versi. Namun semua rupam yang telah dilentuk oleh perupa meski berlainan wujud memiliki tipikal 'sifat' yang sama.

Sang Timur, salah satu dari Catur Maharajika-Dewa yang bernama Dratarasta atau Chi Guo Tian Wang adalah sosok bertubuh putih, mengenakan zirah strata Jenderal, memegang alat musik serunai, dan berdiam di cakrawala jingga mentari pagi. Serunai bermakna bahwa kebenaran itu serupa merdu dan indah suara. Ada pengharapan jika merdu sang musik akan menggugah hati manusia menuju pada kebenaran nan indah. Di antara duapuluh alam dewa, Dratarasta atau Chi Guo Tian Wang berada di surga Strata Empat. Ia bertanggung-jawab penuh pada area Purva Videha atau buana Timur insani.

Vidradhaka atau Zheng Zhang Tian Wang menangani buana Selatan. Vidradhaka sendiri berharfiah 'Maha Bakti dan Puja', bertugas mengembangkan kebajikan insan dan menjaga kesucian dharma atau kebenaran hakiki. Sosoknya dilentuk mengenakan zirah rana, bertubuh hijau dengan tangan memegang sebilah pedang pusaka. Ia berdiam di bagian Vaiduri dan menjaga Jambudhipa yang terletak di bagian Selatan buana. Di antara duapuluh alam dewa, ia berada pada surga Strata Lima.

Virapaksa alias Guang Mu Tian Wang, bentara Barat yang memiliki nama berharfian 'Maha Celik Benderang Buana', bertugas membantu para jelata nan papa. Ia disosokkan dengan tubuh berwarna merah dan mengenakan zirah rana sebagai Pemimpin Dewa Naga. Tangannya tampak memegang temali merah yang melambangkan seekor Naga Merah, simbolitas benang merah keterikatan manusia dengan dharma atau kebenaran hakiki. Diriwayatkan, ia berdiam di balik selubung gemawan putih di puncak gunung dan menjaga Apara Godaniya atau Xi Niu He Zhou. Di antara duapuluh alam dewa, ia berada pada surga Strata Enam.

Vaisramana alias Pi Sha Men berdiam di Utara. Ia memiliki nama berharfiah 'Maha Tahu dan Welas Asih', merupakan bentara yang bertugas mendengar keluhan dan penderitaan rakyat, dan menuaikan berkah bagi manusia berbudi luhur. Ia disosokkan bertubuh hijau juga mengenakan zirah rana serupa Catur Maharajika-Dewa yang lainnya. Tangan kanannya memegang payung pusaka, sementara tangan kirinya memegang seekor tikus perak. Semuanya bermaknakan penundukan akan mara dan kebatilan yang senantiasa menggerus harta benda rakyat. Ia berdiam di salah satu puncak gunung pun serupa totem Langit lainnya tadi. Di antara duapuluh alam dewa, ia berada di surga Strata Tiga.

Meski begitu, kapasitas penghormatan di antara Catur Maharajika-Dewa yang sama-sama berjasa bagi kemanusiaan, namun Vaisramana-lah yang paling dipuja oleh masyarakat Tionghoa. Sebab dalam mitologi lain yang diyakini dari versi lain pula, ia merupakan mahadewa yang bertugas menggelontorkan rezeki dan kesejahteraan bagi manusia. Lagipula, pada sebuah epik, dikisahkan kalau mahadewa tersebut pernah membantu Kaisar Tang Ming Huang lolos dari maut saat terkepung dalam sebuah penyerangan musuh. Peristiwa tersebut melegenda, apalagi Sang Kaisar memberikan penghormatan besar tanda berterima kasih dengan melakukan puja-bakti kepada Sang Mahadewa.

Dan sejak saat itulah, nama mahadewa Vaisramana kesohor sebagai maharesi luhur dalam salah satu Tetranitas Metta Karuna Catur Maharajika-Dewa. Lalu, seiring bergulirnya sang waktu pula, masing-masing sosok mahadewa tersebut semuanya mengultus dalam kebijakan yang senantiasa abadi sepanjang masa.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;