Jumat, 28 September 2012

Inti Ajaran Konfusius


BAGIAN 1

Confucius (Khung Fu Zi / Khung Zi atau Guru Khung) merupakan seorang Guru Agung, yang mana
kumpulan tulisannya telah dikutip secara luas oleh berbagai kalangan sampai kehidupan saat ini.


Salah
satu pandangannya yang sangat berarti adalah bahwa segala pengetahuan yang sesungguhnya berarti
mengatakan apa yang diketahui bila memang mengetahui, dan mengatakan apa yang tidak diketahui
bila memang tidak mengetahui. Ungkapan lainnya yang sering dijadikan tolak-ukur dan membangun
semangat kepercayaan diri dalam menjalani kehidupan ini, adalah nasehatnya yang mengatakan
bahwa kita janganlah bersedih hati hanya karena tidak diakui oleh orang lain, tetapi lebih baik
tanyakan diri kita sendiri (instropeksi) apakah sudah sepantasnya diakui orang.

Ajaran utama Confucius menekankan cara menjalani kehidupan yang harmonis dengan
mengutamakan moralitas atau kebajikan. Seseorang dilahirkan untuk menjalani hubungan tertentu
sehingga setiap orang mempunyai kewajiban tertentu. Sebagai contoh, kewajiban terhadap negara,
kewajiban terhadap orang tua, kewajiban untuk menolong teman, dan suatu kewajiban umum
terhadap kehidupan manusia.

Kewajiban-kewajiban tersebut tidaklah sama dimana kewajiban terhadap negara dan orang tua lebih diutamakan daripada kewajiban terhadap teman dan kehidupan
manusia. Sifat-sifat mulia yang diajarkan oleh Confucius bertujuan untuk menciptakan manusia yang
berbudi-pekerti luhur yang disebut Budiman (C'un Zi), suatu proses latihan yang meliputi peningkatan
kualitas diri secara tetap, dan kemampuan berinteraksi di dalam kehidupan bermasyarakat secara
berkelanjutan. Walaupun Beliau menekankan proses belajar sebagai 'suatu kepentingan untuk diri
sendiri', dimana pada akhirnya terbentuk pengetahuan diri dan realisasi diri, namun Beliau juga
menyatakan bahwa kebanyakan orang akan memperoleh pendidikan sejati secara alami.

Confucius dikenal juga sebagai guru pertama di Tiongkok yang memperjuangkan tersedianya
pendidikan bagi semua orang, dan menekankan bahwa pendidikan bukan hanya sebagai suatu
kewajiban semata-mata, melainkan suatu cara untuk menjalani kehidupan ini.

Beliau mempercayai
bahwa semua orang dapat menarik manfaat dari hasil pengolahan diri dalam belajar. Beliau
mengabdikan seluruh hidupnya untuk belajar dan mengajar dengan tujuan meningkatkan dan
mengubah kehidupan sosial saat itu. Confucius juga memperkenalkan suatu program ajaran moralitas
atau kebajikan untuk para calon pimpinan negara, membuka peluang belajar bagi semua orang, dan
mendefinisikan kegiatan belajar tidak hanya berdasarkan penguasaan pengetahuan semata-mata,
tetapi juga membentuk moralitas atau kebajikan seseorang.

RIWAYAT SINGKAT CONFUCIUS

Confucius, bernama kecil Khung Chiu atau Zhong Ni, lahir pada masa pemerintahan Raja Ling dari
dinasti Zhou (551 SM) di desa Chang Ping Negara bagian Lu (Sekarang Chu-fu, propinsi Shandong).

Secara tradisi dikatakan bahwa Confucius dilahirkan pada hari ke-27 bulan lunar ke-8, tetapi hal
tersebut masih dipertanyakan oleh para ahli sejarah.

Di kebanyakan Negara Asia Timur, kelahiran
Confucius diperingati pada tanggal 28 September, dan di Taiwan pada hari tersebut diberlakukan
sebagai hari libur nasional atau 'Hari Guru'.

Ayahnya meninggal dunia pada saat Confucius berusia 3 tahun, dan ibunya menyusul pada waktu
Beliau berumur 17 tahun. Pada usia 15 tahun , Confucius telah mempelajari berbagai buku pelajaran.

Menjalani kehidupan berkeluarga pada usia 19 tahun dengan menikahi gadis dari negara bagian Song
bernama Yuan Guan. Anak pertama Confucius lahir setahun kemudian dan diberi nama Khung Li.
Sebagai seorang pemuda , Beliau cepat dikenal sebagai seorang yang bijaksana, sopan dan senang
belajar. Berbagai pekerjaan pernah dilakukan oleh Confucius, antara lain sebagai kepala pembukuan di
lumbung padi, pengawas peternakan, dan mandor bangunan .

Untuk kemudian Confucius sangat
mengkonsentrasikan diri dalam mempelajari sejarah (Shu), ungkapan-ungkapan (Shi), tata krama (Li)
dan musik (Yue) sebelum diangkat sebagai gubernur distrik tengah Lu oleh Bangsawan Ding.

Beliau
melakukan berbagai perjalanan dan pernah menimba ilmu pengetahuan di Ibu Kota Negara , Zhou,
dimana Beliau bertemu dan berdiskusi dengan Lau Zi. Tidak diketahui siapa saja guru dari Confucius,
tetapi Beliau senantiasa berusaha untuk menemukan seorang guru yang ahli guna menimba ilmu dari
mereka, khususnya dalam bidang tata-krama (Li) dan musik (Yue). Confucius menguasai enam seni,
yaitu tata-krama, musik, memanah, menunggang kuda, menulis huruf indah (kaligrafi) dan ilmu
menghitung (aritmatika). Selain itu Beliau juga menguasai berbagai bentuk tradisi klasik, sejarah dan
puisi kebangsaan sehingga menjadikannya seorang pengajar yang tiada bandingnya pada saat Beliau
berusia tiga-puluhan.

Dalam memegang pemerintahan , Beliau sangatlah arief dan bijaksana, sehingga selalu mendapatkan
promosi jabatan (dari usia 35 tahun sampai 60 tahun) dimana Beliau pernah menjabat sebagai Menteri
Pekerjaan Umum dan Komisaris Polisi untuk menjaga ketertiban dan keamanan serta Menteri
Kehakiman. Sesudah mengundurkan diri dari jabatan pemerintahan, Confucius lebih banyak berdiam
di rumah untuk menerbitkan Kitab tentang Puisi (The Book of Poetry / Odes = She Cing),
menggubah musik, dan menyusun tata krama kuno termasuk menulis dan menerbitkan Kitab Sejarah
Musim Semi dan Gugur (Spring and Autumn Annals = Chuen Chiu).

Confucius juga selalu meluangkan waktu untuk memberi kuliah dan berbagi pengetahuan dengan
murid-muridnya. Beliau menerima siapa saja, tanpa memandang miskin atau kaya, semuanya diberikan
pelajaran sesuai dengan kemampuan masing-masing, sehingga murid-muridnya mengalami
penambahan dalam jumlah yang sangat besar untuk jangka waktu yang relatif pendek.

Dalam usia 67 tahun, Beliau kembali ke tempat kelahirannya untuk mengajar dan mengabadikan
karya-karya tradisi klasik dengan cara menulis dan mengolah kembali bentuk karya tersebut.
Confucius meninggal dunia pada tahun 472 SM, bulan ke-4 tahun ke-16 dalam masa pemerintahan
bangsawan Ai , dalam usia 73 tahun. Menurut buku 'Records of the Historian', dijelaskan bahwa 72
murid Beliau menguasai enam jenis seni, demikian juga terdapat kurang lebih 3000 orang yang
mengaku sebagai pengikut Confucius waktu itu.
BAGIAN 2

AJARAN-AJARAN CONFUCIUS

Lebih tepat disebut sebagai ajaran daripada tulisan, karena banyak sekali buah karya Confucius
terutama "Buku Kumpulan Ujaran [The Analects = Lun Yu]" yang ditulis kembali oleh
murid-muridnya setelah Beliau meninggal dunia.

Berbagai terjemahan atas ajaran Confucius telah
dilakukan ke dalam berbagai bahasa. Ajaran-ajaran Confucius tersebar ke negara-negara di luar
Tiongkok, bahkan tidak sedikit yang mempengaruhi kebudayaan mereka.

Pengaruh ajaran Confucius
berkembang pesat di Eropa dan Amerika, dimana dapat dilihat semboyan revolusi Perancis yang
terkenal, yaitu Liberty (kebebasan), Equality (persamaan) dan Fraternity (persaudaraan), yang berasal
dari ajaran kemanusiaan (Humanism) Confucius.

Demikian juga Piagam Kemerdekaan Amerika
Serikat (Declaration of Independence) sangat terpengaruh oleh ajaran Confucius, dimana dalam
diskusi pembahasan naskah tersebut, Thomas Jefferson sendiri mengakuinya.

Negara-negara Asia
paling banyak menerima pengaruh ajaran Confucius, terutama negara Korea, Jepang, Vietnam,
Singapura, dan Taiwan.

Dari hasil riset ke dalam situs jaringan (Web Sites) di internet yang Penyusun lakukan, membuktikan
bahwa sampai saat ini ajaran-ajaran Confucius masih diakui dan dipelajari secara meluas terutama di
luar Asia.

Secara garis besar, Confucius membagi proses ajarannya melalui 4 tahapan, yaitu :

1. Mengarahkan pikiran kepada cara.
2. Mendasarkan diri pada kebajikan.
3. Mengandalkan kebajikan untuk mendapat dukungan.
4. Mencari rekreasi dalam seni.

Beliau menyusun 8 prinsip belajar, mendidik diri sendiri dan hubungan social, yaitu :

1. Menyelidiki hakekat segala sesuatu (Ke'-wu)
2. Bersikap Jujur
3. Mengubah pikiran kita
4. Membina diri sendiri (Hsiu-shen)
5. Mengatur keluarga sendiri
6. Mengelola negara
7. Membawa perdamaian di dunia.

Confucius membuat suatu daftar prioritas dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, yaitu :
- Kelakuan adalah syarat utama,
- Berbicara adalah prioritas kedua,
- Memahami soal-soal Pemerintahan adalah prioritas ketiga,
- Kesusasteraan adalah prioritas keempat.

Ajaran-ajaran Confucius telah mempengaruhi kehidupan sebagian besar kebudayaan China baik
kehidupan berumah-tangga, sosial ataupun politik.

Walaupun ajaran Confucius telah menjadi suatu
ideologi resmi di Tiongkok, namun ajaran Beliau tidaklah dapat dianggap sebagai suatu organisasi
keagamaan dengan gereja dan pendeta sebagaimana yang terdapat dalam agama-agama resmi lainnya.

Para cendekiawan China menghormati Confucius
sebagai seorang Guru Agung dan Orang Suci tetapi
tidak menyembahnya sebagai dewa. Demikian juga Confucius tidak pernah menyatakan dirinya
sebagai utusan Ilahi. Namun dalam perkembangannya lebih lanjut, yang dipengaruhi oleh ajaran
Taoisme saat itu, Confucius juga dipuja sebagai salah satu Dewa Pendidikan dalam vihara para Taois.

Di Indonesia, para umat Confucius sampai saat ini masih berjuang agar dapat diakui sebagai salah satu
agama resmi negara dengan alasan bahwa ajaran Confucius menegaskan dan mengakui adanya
keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.

Namun di negara Barat, ajaran Confucius lebih dipandang sebagai
suatu ajaran moralitas yang menekankan kebangkitan diri sejati dalam bertingkah laku secara sopan
dan berkepatutan serta pencurahan rasa bhakti yang tinggi terhadap orang tua, istri, anak, saudara,
teman, atasan, dan pemerintahan.

Prinsip ajaran Confucius tertuang dalam sembilan karya kuno China yang diturunkan oleh Confucius
dan pengikutnya yang hidup pada masa pengajaran Beliau. Karya tersebut dapat dikelompokkan dalam
dua bagian utama, yaitu Empat Buku (Shih Shu) dan Lima Kitab (Wu Cing).

Kata kunci utama etika para pengikut Confucius adalah JEN, yang dapat diterjemahkan secara
bervariasi sebagai Cinta Kasih, Moralitas, Kebajikan, Kebenaran, dan Kemanusiaan. Jen merupakan
perwujudan akal budi luhur dari seseorang yang mana dalam hubungan antar manusia, Jen diwujudkan
dalam cung, atau sikap menghormati terhadap seseorang (tertentu) ataupun orang lain (pada
umumnya), dan shu, atau sikap mementingkan orang lain (altruisme) dimana terkenal dari ucapan
Confucius sendiri, "Janganlah engkau lakukan kepada orang lain apa yang tidak ingin engkau lakukan
terhadap dirimu sendiri."

Ajaran Confucius lainnya yang penting adalah Kebenaran, Budi Pekerti, Kebijaksanaan, Kepercayaan,
Bhakti, Persaudaraan, Kesetiaan, dan Kesadaran Diri.

Seseorang yang telah menguasai keseluruhan
sifat luhur tersebut maka layak disebut Budiman (C'un-Zi).

Ajaran politik yang dikembangkan oleh Confucius mengarah kepada suatu pemerintahan yang bersifat
paternalistik (kebapakan), dimana terjalin sikap saling menghormati dan menghargai antara
pemerintahan dan rakyat. Pemimpin negara haruslah menciptakan kesempurnaan moral dengan cara
memberikan contoh yang benar kepada rakyat.

Dalam ajaran pendidikan, Confucius berpegang pada teori, yang diakui selama periode pemerintahan
selama Beliau masih hidup, bahwa "Dalam pendidikan, tidak ada perbedaan kelas."

4 komentar:

Sahrul Mauludi mengatakan...

Sangat bermanfaat. Terima kasih

Tarinem Lidya mengatakan...

Saya tidak tahu yang menulis ini siapa? Mengutip dari buku apa? Tetapi intinya sangat bermanfaat dan apresiasi terhadap yang publikasikan di bulog ini.

Nur KhamidMHum mengatakan...

terimakasih.ijin kopas untuk materi pembelajaran

Nur KhamidMHum mengatakan...

adakah yang tahu dengan siapa kami dapat menghubungi kalau ingin berdiskusi secara lebih mendalam mengenai ajaran konfisinism ini? saya posisi di Salatiga. Trimakasih

Poskan Komentar

Informasi

Video ini biasanya banyak dicari , saya bagikan untuk kawan kawan . Semoga Buddha Dharma semakin berkembang,Jika Tergerak untuk Donasi , Silahkan Di paypal saja.Om Mani Padme Hum.

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;