Selasa, 19 Juni 2012

Prostitusi didalam teks Buddhist

Prostitusi didalam teks Buddhist

Istilah protitusi ditemukan dalam teks Buddhist yang berarti Sobhini, singkatnya dari Nagara Sobhini, yang memiliki arti seorang perempuan cantik disebuah kota. Penghargaan ini diberikan oleh Raja Vajji pertama kalinya, secara konstitusi, didalam inti kata ini adalah seseorang yang secara professional hidup sebagai protitusi. Yang pantas menerima penghargaan ini hanyalah seorang wanita, yang mana wanita itu harus betul-betul extra cantik, memiliki kepandaian dan pandai dalam kesenian, seperti menyanyi, berjoget, bercakap, berpantun, dan memiliki kepandaian khusus didalam Kamasutra yaitu kepandaian dalam melakukan hubungan seksual. Karena pada saat itu beberapa wanita berkeinginan untuk bisa bercakap dengan Raja, Pangeran, dan para yang mulia lainnya, ketika akhirnya mereka menjadi bahan pergunjingan para laki-laki dan dapat menimbulkan suatu peperangan. Seorang Raja memberikan suatu penghargaan Sobhini, yang dimaksudkan disini adalah seorang wanita yang tidak pernah dimiliki secara special oleh seorang laki-laki, sekalipun dia adalah seorang Raja, tetapi bisa berhubungan dengan setiap orang, yang mana orang tersebut sanggup membayar dengan mahal atas pelayanannya. Satu Sobhini bernilai sebanding dengan harga setengah kota Varanasi (Kasi). Sangat jelas, bahwa status wanita-wanita ini bukan seorang wanita biasa tetapi wanita-wanita pilihan dan berharga sangat tinggi, dan mereka hanya memilih para laki-laki yang berkasta tinggi. Dan kelas yang lain didalam protitusi adalah mereka bisa melayani masyarakat pada umumnya. Wanita ini dinamakan Ganika, yang mana kata ini untuk mengungkapan yang secara tidak langsung terhadap komunitas wanita-wanita tersebut. Ganika juga disebutkan didalam literature Buddhist, tetapi kita kembali fokus terhadap istilah sobhini. Buddhist literature sendiri tidak menunjukkan sesuatu yang negatif terhadap para prostitusi tersebut. Buddha dengan sangat welcome terhadap wanita-wanita tersebut dan memberikan suatu kesempatan untuk berjalan diatas Jalan Pembebasan seimbang dengan semua orang, tanpa melihat jenis kelamin, kasta maupun ras.
Seorang Ambapali adalah seorang Sobhini dari kota Vesali. Diceritakan ketika dia masiih bayi, dia ditinggalkan dibawah sebuah pohon mangga, maka dari itu dia dipanggil dengan sebutan “wanita dari pohon mangga”. Ketika itu seorang pekerja kebun menemukannya dan membawanya kehadapan Raja Vesali, dan dia tumbuh didalam lingkungan kerajaan. Dibagian Kuddhaka Nikaya mengungkapkan tentang kecantikannya “dia memilik keindahan, rambutnya berkilau, alis matanya sangat indah bagai sebuah lukisan ditangan seorang selebritis. Kedua kakinya seperti sebuah gading, kulitnya halus seperti kapas”. Didalam Kitab suci Mahavagga menyatakan bahwa bayaran untuk pelayanannya rata-rata Lima Puluh kahapana setiap malamnya, dan dia memiliki beberapa versi pelayanan yang bisa menggoda dan membahagiakan para keluarga kerajaan maupun orang-orang yang memiliki level tinggi, dinyatakan dia memiliki Enam Puluh cara untuk membuat para laki-laki merasa senang dalam pelayanannya. Beberapa pangeran dan raja-raja diVesali menginginkannya untuk dijadikan selir, dan ketika mereka tidak bisa menyelesaikan perselisiannya untuk merebutkan dia, maka mereka memberikan sebuah gelar “Sobhini” atau pelacur yang independent. Seorang Ambapali melayani mereka sama rata. Kemudian, Raja Bimbisara dari Rajagraha mengambilnya sebagai istrinya, dan memiliki seorang anak dari hasil perkawinannya. Nama anaknya adalah Vimala Kondanna, yang kemudian hari bergabung menjadi anggota Sangha dan dapat merealisasi kebahagiaan yang sejati. Didalam Ambali Theriyapadana menceritakan tentang kisah seorang Ambapali dalam kehidupannya yang lampau. Ketika itu dia (Ambapali) lahir sebagai orang yang berkastakan Kstriya, dan dia menjadi seorang adik perempuan dari seorang Bhikkhuni yang bernama Bhikkhuni Pussamuni. Karena dia telah dapat mempraktekkan Dhamma dan telah menanam kusalakamma dengan baik, dan keinginannya sebagai seorang yang cantik dikehidupan yang akan selanjut telah terkabulkan. Dan hal itu berbuah sesuai dengan aditthananya, dia lahir didalam keluarga Brahmana dan mempunyai paras yang caantik dan anggun. Pada saat itu dia selalu memuji akan kecantikannya sendiri, dan dia selalu mengutuk dan menghina seorang bhikkhuni. Karena perbuatan inilah dia terlahir berulang-ulang dalam keadaan yang menderita dalam kehidupannya, dan dia terlahirkan berulang kali sebagai seorang pelacur. Pada masa Buddha Kassapa, dia sempat diupasampada dan menjadi seorang bhikkhuni. Setelah itu dia terlahirkan disurga Tawatimsa. Lalu pada masa kehidupan Buddha Gotama, dia terlahirnya seperti kehidupan-kehidupannya yang lalu, yaitu sebagai seorang pelacur.
Didalam Maha Parinibbana Sutta, diceritakan pada masa Buddha Gotama, Buddha sempat datang dan istirahat dikebun mangga milik Ambapali. Dia (Ambapali) memberikan hormat kepadaNya dan mengundang Buddha dan para bhikkhu pengikutnya untuk makan siang dikemudian hari. Pada saat yang bersamaan dari para Pangeran Licchavi juga menginginkan untuk mempersembahkan dana makanan kepada Buddha dihari yang sama, dan mereka akan memberi 100.000 kahapana kepada Ambapali jika dia (Ambapali) menarik kembali keinginannya untuk mengundang makan Buddha dan para pengikutnya. Ketika Ambapali menolaknya, para Pangeran langsung menghadap Buddha tetapi Buddha mengatakan kepada mereka bahwa Buddha telah menerima undangan terlebih dahulu dari Ambapali. Ketika Buddha pergi menerima undangan ditempat Ambapali dihari selanjutnya, dia (Ambapali) mempersembahkan kebun mangganya kepada Buddha dan Sangha. Kemudian dia menyerahkan segala kepunyaannya,dan pada saat bersamaan telah diumumkan bahwa dikehidupan lampaunya pernah menjadi seorang bhikkhuni. Dia mempraktekkan dhamma dengan sangat rajin , dan mencapai pembebasan, setelah beberapa tahun dia telah mempraktekkan dhamma dengan segala kemampuannya.
Salavati, salah satu pelacur yang terkenal dikota Vesali juga. Dia sangat cantik dan terpelajar, pintar dalam hal kesenian seperti menari, menyanyi dan cara menghibur laki-laki. Untuk menghabiskan malam dengannya harus membayar uang maksimal 100 kahapana. Anak pertamanya yang bernama Jivaka, dibesarkan oleh Pangeran Abhyaraja, anak dari Raja Bimbisara diRajagraha. Kemudian dia (Jivaka) meninggalkan kerajaan, kemudian pergi keTaxila untuk belajar ilmu pengobatan, dan menjadi seorang tabib untuk Buddha dan anggota sangha lainnya. Salavati adalah anak kedua dari Sirima, dia sangat cantik dan mempunyai sebuah kemampuan yang luar biasa, dan dia menjadi seorang pelacur setelah ibunya. Dia seorang penyokong dalam Buddhasasana, yang setiap harinya membuat suatu persembahan kepada delapan orang bhikkhu. Salah satu bhikkhu muda sedang mengetahui tentang kecantikannya, dan menginginkan untuk bertemu denganya. Dia (Bhikkhu) ingin menerima dana makanan dirumahnya. Disuatu hari dia (sirima) sedang sakit, dan tidak bisa menampakkan diri untuk mempersembahkan makanan secara rutin kepada bhikkhu. Bhikkhu itu berpikir bahwa tanpa sebuah hiasan dia sangat cantik, dan bagaimana cantiknya kalau dia (sirima) menghiasi tubuhnya, bhikkhu muda ini menjadi terobsesi dengan kecantikan sirima dan berkeinginan untuk memilikinya. Beberapa setelah kejadian itu, sirima meninggal dunia dan Buddha meminta untuk menyimpan tubuh sirima selama empat hari. Dihari keempat Buddha pergi ke tempat dimana sirima disimpan bersama-sama dengan sekelompok bhikkhu termasuk bhikkhu muda itu sendiri yang telah kesengsem akan kecantikannya. Buddha membuat harga untuk mempersembahkan tubuh sirima, dimulai dengan harga 1000 kahapana dan menurunkan harga samapi yang terakhir, tak seorangpun yang menginginkan tubuhnya. Lalu Buddha menjelaskan tentang ketidakkekalan badan jasmani. Dengan kekuatan Ajaran Buddha yang mendalam dan dibabarkanNya dengan sangat jelas, akhirnya bhikkhu muda dengan sangat cepat telah mencapai tingkat kesucian Arahat.
Bagaimana teks menjelaskan tentang sebab terjadinya prostitusi? Kita sudah melihat, bagaimana seorang Ambapali Theriyapadana berhubungan dengan kehidupan lampaunya. Disini sebuah cerita tentang pelacur Addhakasi, yang telah menjadi seorang pelacur dengan pengaruh kamma masa lampau. Pada waktu kehidupan Buddha Kassapa, dia adalah seorang bhikkhuni. Dia telah memarahi seorang bhikkhuni yang lain, dengan memanggilnya seorang pelacur. Karena pengaruh perbuatan inilah, dia menderita selama beberapa kehidupan. Dikelahirannya yang lampau, dia lahir dikeluarga yang sangat kaya, tetapi karena kecantikannya, dia diberi sebuah julukan seorang pelacur (sobhini). Addhakasi telah dapat mendengarkan Dhamma dan kemudian hari bergabung dalam pesamuan Sangha. Telah menjadi seorang pabbhajita dia melakukan sebuah perjalanan dari Kasi menuju Savatthi, tetapi beberapa pencuri disebuah jalan besar mempunyai sebuah rencana untuk menculiknya. Mengetahui hal ini, Buddha untuk pertama kalinya, memberikan sebuah pentahbisan melalui sebuah pesan atau yang disebut Dutena Upasampada. Addhakasi segera mencapai penerangan dan segera membantu pembabaran dhamma melalui pengalamannya sendiri.
Didalam Therigatha atau Kitab yang menjelaskan tentang wanita-wanita buddhis, ada sebuah cerita mengenai seorang Vimalapurana Ganika, seorang pelacur yang sangat cantik yang kemudian bergabung didalam pesamuan sangha dan mencapai penerangan. Untuk mengerti tentang versinya dengan benar dan jelas anda bisa baca didalam Therigatha.
Sebelum kembali melihat masalah prostitusi diseluruh dunia, masalah ini mungkin akan bermanfaat terhadap sikap seorang buddhis terhadap seorang pelacur untuk sebuah pengujian didalam masyarakat. Pada dasarnya, Buddhisme tidak menolak seorang pelacur untuk berkesempatan untuk mencapai sebuah penerangan. Beberapa telah menjadi bagian utama didalam mencapai sebuah kebahagiaan yang mutlak didalam buddhisme melalui jalan yang telah ditunjukkan oleh Buddha sendiri walaupun dalam kenyataannya mereka adalah seorang pelacur, yang telah mempunyai sebuah pengalaman dalam hal hawa nafsu dan mengerti dengan dalam maksud yang sesungguhnya hal itu sehingga akhirnya mereka dapat merealisasi Nibbana.
Tetapi para pelacur diwaktu Buddha masih hidup sangat berbeda dengan para pelacur disaat ini. Pada saat ini para prostitusi diibaratkan sebuah profesi yang tinggi dalam sebuah kasta dimasyarakat. Sirkulasi seorang prostitusi didalam masyarakat termasuk dalam keluarga yang berlevel tinggi. Bagaimanapun, keberadaan seorang prostitusi menjadi tersohor saat ini maupun dikemudian hari, yang dimiliki mayoritas seorang laki-laki yang mempunyai keserakahan dan nafsu keinginan. Ketika mereka tidak menyetujui tentang diri mereka yang memiliki seksual yang tinggi, mereka membuat semua kalangan masyarakat memilikinya, jadi dia tidak dimiliki oleh seorang pun, dia milik semua kalangan. Seperti kita melihat kultur diIndia, semua perempuan menjadi sebuah objek bagi laki-laki yang menjadi miliknya sendiri. Jika pembaca tidak percaya silahkan buktikan sendiri…………….
Semoga bermanfaat……….

0 komentar:

Poskan Komentar

Informasi

Video ini biasanya banyak dicari , saya bagikan untuk kawan kawan . Semoga Buddha Dharma semakin berkembang,Jika Tergerak untuk Donasi , Silahkan Di paypal saja.Om Mani Padme Hum.

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;