Selasa, 15 Mei 2012

Ajaran Mengenai Inkarnasi oleh H.H. Dalai Lama

Ajaran Mengenai Inkarnasi oleh H.H. Dalai Lama PDF Print
Translated by Valentina Suhendra   
Article hits: 313
Monday, 14 November 2011 02:41

24 September 2011

Kata Pembuka

Saudara saya dari Tibet, di dalam maupun di luar Tibet, semua yang mengikuti tradisi ajaran agama Buddha dari Tibet, dan setiap orang yang mempunyai hubungan dengan Tibet dan orang dari Tibet: karena pandangan ke depan dari raja, menteri, dan cendikiawan dari masa lalu, yang terdiri dari skriptur dan ajaran yang berdasarkan pengalaman dari Tiga Roda dan Empat Set Tantra dan subyek dan disiplin terkait berkembang di mana-mana di Tanah Salju. Tibet telah menjadi sumber ajaran Buddha dan tradisi kebudayaan terkait bagi dunia. Khususnya, ia telah berkontribusi secara signifikan bagi kebahagiaan makhluk yang tidak terhitung banyaknya di Asia, termasuk mereka yang berasal dari China, Tibet, dan Mongolia.

Dalam memegang tradisi agama Buddha di Tibet, kami mengembangkan tradisi Tibet yang unik untuk mengakui reinkarnasi dari cendikiawan yang telah memberikan bantuan besar kepada Dharma dan makhluk hidup, terutama kepada komunitas biara.
Sejak Gedun Gyatso yang diakui dan dikonfirmasi sebagai reinkarnasi dari Gedun Drub di abad ke-15 dan Gaden Phodrang Labrang (institusi Dalai Lama didirikan), reinkarnasi selanjutnya telah diakui. Di urutan ke-tiga, Sonam Gyatso, diberikan gelar Dalai Lama. Dalai Lama ke-lima, Ngawang Lobsang Gyatso, mendirikan Pemerintahan Gaden Phodrang di tahun 1642, dan menjadi pemimpin spiritual dan politik di Tibet. Selama lebih dari 600 tahun sejak Gedun Drub, banyak reinkarnasi yang asli sudah diakui sebagai Dalai Lama.
Dalai Lama berfungsi sebagai pemimpin politik dan spiritual di Tibet selama 369 tahun sejak tahun 1642. Sekarang saya secara sukarela telah membawa hal ini menuju akhir, bangga dan puas karena kita bisa memiliki sistem demokratis yang berkembang dimana-mana di dunia. Secara fakta, sejak tahun 1969, saya telah menjelaskan kepada orang-orang yang peduli bahwa reinkarnasi Dalai Lama harus berlanjut di masa yang akan datang. Akan tetapi, karena tidak adanya petunjuk yang jelas, ada resiko bahwa kepentingan politik akan menyalah-gunakan sistem reinkarnasi untuk memenuhi agenda politik mereka. Karena itu, walaupun saya tetap dalam keadaan yang sehat secara fisik dan mental, sangat penting bagi saya bahwa kita membuat petunjuk yang jelas untuk mengakui Dalai Lama selanjutnya, sehingga tidak ada tempat untuk keraguan atau penipuan. Agar petunjuk ini dapat dimengerti, sangat penting bagi kita untuk mengerti mengenai sistem pengakuan Tulku dan konsep di belakangnya. Karena itu, saya akan menjelaskannya secara singkat.

Kehidupan masa lalu dan masa yang akan datang

Agar dapat menerima reinkarnasi dan realitas Tulku, kita harus menerima keberadaan kehidupan masa lalu dan masa depan. Makhluk hidup datang ke kehidupannya yang sekarang dari kehidupannya yang lalu dan mendapatkan kelahiran kembali lagi setelah meninggal. Ini adalah sistem kelahiran kembali yang diterima oleh tradisi spiritual dari India kuno, dan sekolah filosofi, kecuali Charvakas, yang merupakan gerakan materialis. Beberapa pemikir modern, tidak mengakui adanya kehidupan masa lalu dan masa depan berdasarkan argumentasi bahwa kita tidak dapat melihat mereka. Yang lain tidak mengambil kesimpulan yang jelas atas dasar ini.
Walaupun banyak tradisi agama yang mengakui kelahiran kembali, mereka berbeda pandangan mengenai apa itu kelahiran kembali, bagaimana dilahirkan kembali, dan bagaimana cara melewati periode transisi diantara dua kehidupan. Beberapa tradisi agama menerima prospek dari kehidupan yang akan datang, tetapi menolak ide dari kehidupan masa lalu.
Pada umumnya, orang beragama Buddha percaya bahwa tidak ada awal dari kelahiran dan sekali kita mendapatkan kebebasan dari lingkaran keberadaan dengan mengatasi karma dan emosi yang merusak, kita tidak akan dilahirkan kembali dibawah kondisi ini. Karena itu, penganut agama Buddha percaya bahwa ada akhir dari dilahirkan kembali sebagai hasil dari karma dan emosi yang merusak, tetapi kebanyakan sekolah filosofi Buddha tidak menerima bahwa keberadaan pikiran akan berakhir. Untuk menolak kehidupan masa kini dan masa lalu akan berkontradiksi dengan konsep agama Buddha mengenai dasar, jalan, dan hasil, yang harus dijelaskan atas dasar pikiran yang disiplin dan tidak disiplin. Bila kita menerima argumen ini, secara logis, kita juga akan menerima bahwa dunia dan penghuninya terjadi tanpa sebab dan akibat. Karena itu, selama kalian beragama Buddha, sangatlah perlu untuk menerima kehidupan masa lalu dan masa datang. Bagi mereka yang mengingat kehidupan di masa lalu, kelahiran kembali adalah pengalaman yang jelas. Akan tetapi, kebanyakan makhluk melupakan kehidupan mereka yang sebelumnya pada saat mereka melalui proses kematian, masa transisi, dan kelahiran kembali. Karena kelahiran kembali di masa di masa lalu dan masa yang akan datang meragukan bagi mereka, kita perlu menggunakan bukti logis untuk membuktikan kehidupan sebelumnya dan yang akan datang kepada mereka.
Ada banyak argumentasi logis yang diberikan dengan kata-kata Buddha dan komentar setelahnya untuk membuktikan keberadaan kehidupan di masa lalu dan masa depan. Singkatnya mereka terangkum dalam empat hal: Logika bahwa semua hal didahului oleh hal lain yang mirip jenisnya, logika bahwa semua hal didahului oleh sebab yang logis, logika bahwa pikiran yang telah mengenal hal dari masa lalu, dan logika mengenai pengalaman di masa lalu.
Akhirnya semua argumen ini berdasarkan ide bahwa sifat dari pikiran, kejernihan dan kesadarannya, harus mempunyai kejernihan dan kesadaran karena ini adalah sebab yang substansial. Ia tidak bisa memiliki entitas lain seperti obyek yang bersifat inanimate sebagai penyebab substansial nya. Hal ini terbukti dengan sendirinya. Melalui analisis logis kita beragumentasi bahwa aliran baru mengenai kejernihan dan kesadaran tidak bisa ada tanpa sebab atau dari sebab yang tidak berkaitan. Sementara kita mengamati bahwa pikiran tidak bisa diproduksi di laboratorium, kita juga berargumentasi bahwa tidak ada yang bisa menghilangkan kesinambungan dari kejernihan dan kesadaran.
Sejauh yang saya tahu, tidak ada psikolog modern, psikiater, atau ahli neuro yang dapat mengamati atau memprediksi produksi dari pikiran baik dari suatu hal atau tanpa sebab.
Ada beberapa orang yang dapat mengingat kehidupannya di masa lalu atau banyak kehidupan masa lalu sebelumnya, dan bisa mengenali tempat dan keluarga dari kehidupan tersebut. Hal ini bukan hanya terjadi di masa lalu. Bahkan hari ini ada banyak orang di Timur dan Barat, yang dapat mengingat insiden dan pengalaman dari kehidupan mereka di masa lalu. Menolak hal ini bukanlah cara yang jujur dan tidak bias dalam melakukan penelitian, karena berlawanan dengan bukti ini. Sistem Tibet yang mengakui reinkarnasi adalah cara yang otentik untuk melakukan investigasi berdasarkan ingatan seseorang akan kehidupannya yang lalu.

Bagaimana kelahiran kembali terjadi

Ada dua cara bagaimana seseorang bisa lahir kembali setelah kematian: Lahir karena pengaruh karma dan emosi merusak dan kelahiran kembali karena kekuatan kasih sayang dan doa. Berkaitan dengan yang pertama, karena kebodohan, karma negatif dan positif diciptakan dan jejak mereka tetap berada pada kesadaran. Hal ini diaktivasi kembali melalui keinginan dan kemelekatan, yang membawa kita kembali ke kehidupan selanjutnya. Ketika kita lahir kembali tidak secara sukarela di alam yang lebih tinggi atau lebih rendah. Ini adalah cara makhluk biasa berputar dalam keberadaan seperti memutar roda. Bahkan dalam keadaan seperti itu, makhluk biasa bisa melatih aspirasi positif dengan rajin dalam kehidupan sehari-hari. Mereka memperkenalkan diri mereka dengan kebaikan yang pada saat kematian dapat di re-aktivasi untuk menyediakan cara bagi mereka untuk lahir kembali di alam yang lebih tinggi. Dalam sisi lain, Bodhisattva yang superior, yang telah mencapai jalan penglihatan, yang tidak dilahirkan kembali melalui dorongan karma mereka dan emosi yang merusak, tetapi karena kekuatan kasih sayang dan doa mereka untuk memberi manfaat bagi makhluk lain. Mereka dapat memilih tempat dan waktu mereka dilahirkan dan orang tua mereka di masa depan. Kelahiran seperti ini, yang hanya untuk memberikan manfaat bagi makhluk lain, adalah kelahiran kembali karena kekuatan kasih sayang dan doa.

Arti dari Tulku

Sepertinya, tradisi Tibet untuk menambahkan kata "Tulku" (emanasi tubuh sang Buddha) untuk mengakui reinkarnasi dimulai ketika pengikut ajaran menggunakannya sebagai gelar kehormatan, tetapi sejak saat itu, hal ini telah menjadi ekspresi umum. Pada umumnya, kata Tulku merujuk pada aspek khusus dari Buddha, salah satu dari tiga atau empat yang dideskripsikan di Sutra Vehicle. Menurut penjelasan ini, aspek dari Buddha, seseorang yang terikat oleh emosi merusak dan karma mempunyai potensi untuk mendapatkan Tubuh Kebenaran (Dharmakaya), yang terdiri dari Tubuh Kebenaran Kebijaksanaan dan Tubuh Kebenaran Sifat. Yang pertama merujuk pada pikiran Buddha yang tercerahkan, yang melihat semua hal secara langsung dan tepat, seperti apa adanya, secara instan. Ia telah dibersihkan dari semua emosi perusak beserta jejaknya melalui akumulasi pahala dan kebijaksanaan dalam waktu yang lama. Yang kedua, Tubuh Kebenaran Sifat, merujuk pada sifat kekosongan dari pikiran tercerahkan yang mengetahui segalanya. Kedua hal ini bersama-sama adalah aspek Buddha. Akan tetapi mereka tidak dapat diakses orang lain secara langsung, tetapi hanya oleh para Buddha sendiri. Sangat penting bagi Buddha untuk bermanifestasi dalam bentuk fisik yang dapat diakses secara langsung oleh makhluk hidup agar dapat menolong mereka. Karena itu, aspek fisik yang utama dari Buddha adalah Tubuh yang Bahagia (Sambhogakaya), yang dapat diakses oleh Bodhisattva yang superior, dan memiliki lima kualifikasi seperti tinggal di Surga Akanishta. Dan dari Tubuh yang Bahagia munculah emanasi tubuh Tulku (Nirmanakaya), dari para Buddha, yang nampak sebagai dewa atau manusia dan dapat diakses oleh makhluk biasa. Kedua aspek fisik ini dari sang Buddha dikenal dengan Bentuk Tubuh, yang ditujukan untuk makhluk lain.
Emanasi tubuh ada tiga bagian: a) Emanasi Tubuh yang Tertinggi seperti Buddha Shakyamuni, Buddha bersejarah, yang memanifestasikan dua-belas kegiatan sang Buddha seperti dilahirkan di tempat yang dia pilih dan seterusnya; b) Tubuh Emanasi yang Artistik untuk melayani makhluk lain dengan menampakan diri sebagai ahli seni, artis, dan seterusnya; dan c) Tubuh Emanasi yang terinkarnasi, dimana sang Buddha menampakan diri dalam berbagai bentuk seperti manusia, dewa, sungai, jembatan, tanaman obat, dan pohon untuk menolong makhluk hidup. Dari ketiga Tubuh Emanasi ini, reinkarnasi dari guru spiritual yang diakui dan dikenal sebagai Tulku di Tibet masuk dalam kategori ketiga. Diantara Tulku ini mungkin ada banyak Emanasi Tubuh Inkarnasi dari sang Buddha, tetapi hal ini tidak untuk diaplikasikan kepada semuanya. Diantara Tulku di Tibet, ada mereka yang merupakan inkarnasi dari Bodhisattva superior, Bodhisattva pada jalan akumulasi dan persiapan, dan juga guru yang akan memasuki jalan Bodhisattva. Karena itu, gelar Tulku diberikan kepada reinkarnasi Lama baik atas dasar mereka menyerupai makhluk tercerahkan atau melalui hubungan mereka dengan beberapa kualitas makhluk yang tercerahkan.
Seperti yang dikatakan Jamyang Khyentse Wangpo:
"Reinkarnasi adalah apa yang terjadi ketika seseorang mengalami kelahiran kembali setelah kehidupan sebelumnya meninggal; emanasi adalah ketika manifestasi terjadi tanpa kematian kehidupan sebelumnya."

Pengakuan reinkarnasi

Kebiasaan untuk mengakui siapa adalah siapa dengan mengidentifikasi kehidupan sebelumnya dari seseorang terjadi bahkan pada saat Buddha Shakyamuni masih hidup. Banyak cerita yang ditemukan dalam Empat Seksi Agama di Vinaya Pitaka, cerita Jataka, Sutra kebijaksanaan dan Kebodohan, Sutra Seratus Karma dan seterusnya, dimana Tathagata menunjukan cara bekerja Karma, dengan mengingat banyak cerita mengenai akibat dari beberapa karma yang diciptakan pada kehidupan sebelumnya dan dialami oleh seseorang di kehidupan saat ini.
Dan juga, di cerita kehidupan Guru dari India, yang hidup setelah sang Buddha, banyak yang menceritakan tentang tempat kelahiran sebelumnya. Ada banyak cerita seperti itu, tetapi sistem untuk mengakui dan menghitung reinkarnasi mereka tidak terjadi di India.

Sistem untuk mengakui reinkarnasi di Tibet

Kehidupan masa lalu dan masa yang akan datang diceritakan dalam tradisi agama Bon di Tibet sebelum kedatangan agama Buddha. Dan sejak tersebarnya agama Buddha di Tibet, hampir semua warga Tibet mempercayai adanya kehidupan yang lalu dan yang akan datang. Menginvestigasi reinkarnasi dari banyak guru spiritual yang berpegang pada Dharma, dan kebiasaan untuk berdoa dengan penuh keyakinan pada mereka, berkembang dimana-mana di Tibet. Banyak sutra otentik, berasal dari Buku Tibet seperti Mani Kabum dan Lima Bagian Ajaran Kathang dan lain-lain seperti Buku Murid Kadam dan rangkaian Permata: Menjawab Pertanyaan yang bisa diingat oleh Guru India yang disanjung dan tidak tertandingi di abad ke-11 di Tibet, menceritakan tentang reinkarnasi Arya Avalokiteshvara, Bodhisattva Kasih Sayang. Akan tetapi, tradisi yang sekarang untuk secara formal mengakui reinkarnasi para guru dimulai pada awal abad ke-13 dengan pengakuan Karmapa Pagsi sebagai reinkarnasi dari Karmapa Dusum Khyenpa oleh murid-muridnya sesuai dengan prediksi beliau. Sejak saat itu, ada 17 inkarnasi Karmapa selama lebih dari 900 tahun. Begitu juga dengan pengakuan Kunga Sangmo sebagai reinkarnasi dari Khandro Choekyi Dronme di abad ke-15, ada lebih dari sepuluh inkarnasi dari Samding Dorje Phagmo. Jadi, diantara Tulku yang diakui di Tibet ada biarawan dan praktisi tantrik awam, laki-laki dan perempuan. Sistem untuk mengakui reinkarnasi secara perlahan tersebar ke Tradisi Agama Buddha yang lain, dan Bon, di Tibet. Hari ini, ada Tulku yang diakui di semua tradisi agama Buddha dari Tibet, Sakya, Geluk, Kagyu dan Nyingma, dan juga Jonang dan Bodong, yang melayani Dharma. Dan juga ada kejadian, dimana beberapa dari Tulku ini bertingkah memalukan.
Gedun Drub yang maha tahu, yang merupakan murid langsung dari Je Tsongkhapa, mendirikan Biara Tashi Lhunpo di Tsang dan membimbing murid-muridnya. Beliau meninggal di tahun 1474 pada usia 84 tahun. Walaupun pada awalnya tidak ada usaha untuk mengidentifikasi reinkarnasi beliau, orang-orang merasa berkewajiban untuk mengakui seorang anak bernama Sangye Chophel, yang terlahir di Tanak, Tsang (1476), karena apa yang beliau katakan mengenai ingatanya yang tanpa cela mengenai kehidupan beliau yang sebelumnya. Sejak saat itu, dimulailah tradisi untuk mencari dan mengakui reinkarnasi dari Dalai Lama oleh Gaden Phodrang Labrang dan setelah itu oleh Pemerintah Gaden Phodrang.

Cara untuk mengenali reinkarnasi

Setelah sistem untuk mengakui Tulkus didirikan, berbagai prosedur mulai diciptakan dan dikembangkan. Diantaranya yang paling penting mencakup surat prediksi dari reinkarnasi yang sebelumnya dan instruksi lain, dan indikasi yang mungkin terjadi; reinkarnasi mengingat kehidupan sebelumnya dan berbicara mengenainya; mengidentifikasi barang milik reinkarnasi sebelumnya dan mengenali orang-orang yang pernah dekat dengannya. Selain cara-cara ini, metode tambahan seperti meminta kepada guru spiritual untuk melakukan divinasi dan juga meminta oracle untuk melakukan prediksi melalui medium dalam keadaan trance, dan mengobservasi visi yang bermanifestasi di danau suci sang Pelindung seperti, danau di selatan Lhasa yang kramat.
Ketika terjadi lebih dari satu prospektif kandidat untuk diakui sebagai Tulku, hal ini menjadi sulit diputuskan, ada praktek untuk membuat keputusan akhir dengan melakukan divinasi dengan adonan bola roti (zen tak) di depan rupa yang sakral sementara memanggil kekuatan kebenaran.
Emanasi sebelum orang yang dimaksud meninggal (ma-dhey tulku)
Biasanya, seorang reinkarnasi harus merupakan seseorang yang telah mengalami kelahiran kembali setelah meninggal di kehidupan sebelumnya. Makhluk biasa umumnya tidak bisa bermanifestasi sebagai emanasi sebelum meninggal (madhey tulku). Tetapi Bodhisattva yang superior dapat memanifestasikan diri mereka dalam ratusan atau ribuan tubuh secara bersamaan, dan dapat memanifestasikan emanasi sebelum kematian. Dalam sistem Tibet yang mengakui Tulku ada beberapa emanasi yang berasal dari aliran pikiran yang sama dengan yang sebelumnya, emanasi yang terhubung dengan orang lain melakui kekuatan karma dan doa, dan emanasi yang datang sebagai hasil dari berkah dan penunjukan.
Maksud utama dari penampakan reinkarnasi adalah untuk melanjutkan pekerjaan reinkarnasi sebelumnya yang belum selesai untuk melayani Dharma dan makhluk hidup. Dalam kasus seorang Lama yang hanya merupakan makhluk biasa, daripada memiliki reinkarnasi yang berasal dari pikiran yang sama, orang lain karena hubungannya dengan Lama tersebut melalui karma yang suci dan doa dapat diakui sebagai emanasi beliau. Alternatif lain, sangat memungkinkan bagi seorang Lama untuk menunjuk penerus yang merupakan muridnya atau seseorang yang masih muda yang akan diakui sebagai emanasi beliau. Karena pilihan ini dimungkinkan untuk makhluk biasa, emanasi sebelum kematian yang bukan berasal dari pikiran yang sama diperbolehkan. Dalam beberapa kasus, seorang Lama dapat mempunyai beberapa reinkarnasi secara bersamaan, inkarnasi dari tubuh, perkataan dan pikiran dan seterusnya. Dalam masa kini, ada beberapa emanasi sebelum kematian yang dikenal seperti Dudjom Jigdral Yeshe Dorje dan Chogye Trichen Ngawang Khyenrab.

Reinkarnasi Dalai Lama yang selanjutnya

Seperti yang saya sebutkan tadi, reinkarnasi adalah sebuah fenomena yang harus terjadi baik secara sukarela atau melalui kekuatan karma makhluk yang bersangkutan, pahala dan doa. Karena itu, seseorang yang bereinkarnasi mempunyai otoritas tunggal mengenai kemana dan bagaimana dia akan terlahir kembali dan bagaimana reinkarnasi tersebut akan diakui. Adalah sebuah realitas bahwa orang lain tidak dapat memaksa orang yang bersangkutan, atau memanipulasi dia. Karena itu, sangat tidak pantas bagi komunis Tiongkok yang menolak secara eksplisit mengenai kehidupan yang akan datang dan masa lalu, apalagi konsep reinkarnasi Tulku, untuk turut campur dalam sistem reinkarnasi dan terutama reinkarnasi Dalai Lama dan Panchen Lama. Kegiatan turut campur ini mengkotradiksi ideologi politis mereka dan menunjukan standar yang mendua. Bila situasi ini diteruskan di masa depan, akan tidak mungkin bagi warga Tibet dan mereka yang mengikuti tradisi agama Buddha Tibet untuk mengakui atau menerimanya.
Ketika saya berumur sekitar sembilan-puluh tahun, saya akan berkonsultasi dengan para Lama di tradisi agama Buddha Tibet, publik Tibet, dan orang-orang terkait yang mengikuti tradisi agama Buddha Tibet, dan melakukan evaluasi ulang mengenai apakah institusi Dalai Lama harus dilanjutkan atau tidak. Atas dasar ini, kami akan mengambil keputusan. Bila diputuskan bahwa reinkarnasi Dalai Lama harus dilanjutkan dan ada kebutuhan untuk mengakui Dalai Lama yang ke-15, tanggung jawab untuk melakukan hal ini akan dipegang oleh Pejabat Perwalian Dalai Lama Gaden Phodrang. Mereka harus berkonsultasi dengan pemimpin tradisi agama Buddha Tibet dan Pelindung Dharma yang dapat dipercaya dan diikat oleh sumpah, terhubung dan tidak terpisahkan dengan aliran Dalai Lama. Mereka harus meminta nasihat dan petunjuk dari makhluk2 terkait ini dan menjalankan prosedur untuk mencari dan mengakui menurut tradisi dari masa lalu. Saya akan meninggalkan instruksi yang jelas mengenai hal ini. Ingatlah, selain reinkarnasi yang diakui melalui metode yang resmi, tidak ada pengakuan atau penerimaan yang boleh diberikan kepada kandidat yang dipilih untuk memenuhi tujuan politis oleh siapapun di Republik Rakyat China.
Dalai Lama
Dharamsala
(diterjemahkan dari Bahasa Tibet)

0 komentar:

Poskan Komentar

Informasi

Video ini biasanya banyak dicari , saya bagikan untuk kawan kawan . Semoga Buddha Dharma semakin berkembang,Jika Tergerak untuk Donasi , Silahkan Di paypal saja.Om Mani Padme Hum.

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;