Selasa, 29 Mei 2012

Pandangan Buddha Kassapa Tentang Makan Daging

Pandangan Buddha Kassapa Tentang Makan Daging

Makan Daging
Makan Daging
Dahulu, sebelum Bodhisatta Kassapa mencapai kebuddhaan, ia memiliki sahabat bernama Tissa yang kemudian meninggalkan keduniawian dan menjadi pertapa. Dalam pertapaannya, Tissa menjauhkan diri dari makanan yang berasal dari daging dan menggolongkannya sebagai Amagandhā (yang menodai).
Sewaktu Bodhisatta Kassapa meninggalkan keduniawian dan mencapai kebuddhaan, Tissa sangat gembira. (Tissa percaya akan pencapaian yang akan dicapai oleh Kassapa karena melihat 32 tanda manusia agung (maha purisa lakkhana) pada tubuh Kassapa, di mana dikatakan jika berumah tangga, akan menjadi seorang Cakkavati, dan bila meninggalkan kehidupan berumah tangga, akan menjadi seorang Samma Sambuddha).
Kemudian Tissa pergi mengunjungi Buddha Kassapa dan mencari tahu apakah Buddha Kassapa ini makan daging. Dan ketika melihat bahwa ternyata Buddha Kassapa ini makan daging, ia menjadi kecewa. Kemudian Buddha Kassapa berkata kepada Tissa:
Menghancurkan mahluk hidup, membunuh, mengikat, mencuri, berbohong, penipuan, bicara tak berguna, berzinah dengan istri orang lain, inilah amagandhā (ternoda), bukan memakan daging.
Mereka di dunia yang tidak mengendalikan diri dalam kenikmatan indriya, tamak akan hal-hal yang indah, berkumpul dengan yang tidak baik, berpandangan salah, tidak adil, tidak rasional, inilah amagandhā (ternoda), bukan memakan daging.
Mereka yang tidak sopan, kasar, menghasut, pengkhianat, kejam, sombong, memaksakan kehendak, kikir, inilah amagandhā (ternoda), bukan memakan daging.
Kemarahan, bermabuk-mabukan, keras kepala, tidak menghargai pendapat orang, dusta, iri hati, omong besar, angkuh, tinggi hati, bergaul dengan yang tidak bermoral, inilah amagandhā (ternoda), bukan memakan daging.
Mereka di dunia yang jahat, yang tidak membayar hutangnya, pemfitnah, pengingkar janji, pemalsu, mereka yang melakukan perbuatan rendah, inilah amagandhā (ternoda), bukan memakan daging.
Mereka di dunia ini yang tidak menjaga perilaku terhadap mahluk lain, yang tidak mengaku setelah mengambil milik orang lain, jahat, kejam, kasar, tidak memiliki rasa hormat, inilah amagandhā (ternoda), bukan memakan daging.
Para makhluk yang haus akan permusuhan, menyakiti, selalu melakukan kejahatan, yang karenanya, setelah meninggal, akan pergi pada kegelapan dan jatuh ke alam neraka, inilah amagandhā (ternoda), bukan memakan daging.
Bukan daging atau ikan, atau berpuasa, atau ketelanjangan, atau rambut tercukur, atau rambut kusut, atau kotoran, atau kulit kasar, atau pemujaan pada api, atau penyiksaan diri, atau mantra-mantra, atau sumpah (keagamaan), atau persembahan (pengorbanan), atau perayaan musim yang dapat menyucikan seseorang yang belum mengalahkan keragu-raguan.
Seorang yang bijaksana berjalan dengan indera yang terjaga, indera yang terkendali, teguh dalam Dhamma, berbahagia dalam hal yang benar dan wajar, mengalahkan semua ikatan dan meninggalkan semua dukkha, tidak melekat dengan apa yang dilihat dan didengar’
Setelah itu, Tissa bersujud dua puluh ribu pengikutnya memasuki Sangha Buddha Kassapa. Tissa bersama Bharadvaja kemudian menjadi murid utama (Agga Savaka) Buddha Kassapa, seperti halnya Sariputta dan Maha-Moggallana pada zaman Buddha Gotama.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;