Jumat, 04 Mei 2012

Sejarah ceng beng

SEMBAHYANG Cing Bing/Qing Ming adalah sebuah sembahyang kepada arwah
leluhur, dimana dengan mengimani antara Tuhan sebagai Yang Maha Leluhur
dengan manusia dirajut dengan adanya leluhur langsung. Juga menyatu
pada mata rantai turun-temurun dalam tanggung jawab suci atas arti
kehidupan manusia yang tak lepas dari nilai spiritual imani.

Sembahyang yang disertai hajat sadranan atau berziarah ke tempat
peristirahatan terakhir (makam) ini menjadi wahana “reuni” keluarga
yang bisa bermakna banyak dan sangat memberi arti dan manfaat dalam
sebuah keluarga.

Sembahyang Cing Bing ini dilakukan pada setiap tanggal 4 atau 5 April
(dilakukan 4 April apabila berada di tahun kabisat), dengan tengat 104
hari sejak hari raya Tangcik, tanggal 22 Desember.

Kata Cing Bing berarti terang dan cerah gilang gemilang, karena pada
hari tersebut cuaca sangat baik sekali sehingga dihayati sebagai hari
suci yang paling baik untuk melakukan ziarah ke makam leluhur,
mendoakan agar arwah leluhur memperoleh jalan yang terang dan cerah
kembali keharibaan Thian.

Ada tiga hari penting untuk bersujud menyatakan bakti kepada leluhur,
yakni: Hari Cing Bing, Hari Tiong Yang (tanggal 15 Chiet Gwee) dan hari
menjelang Tahun Baru (Sin Cia). Kesemuanya ini adalah merupakan
wujud/apresiasi dari umat Ru (umat Khonghucu) dalam melaksanakan bakti
kepada leluhur.

Kewajiban berziarah ke makam leluhur pada hari Cing Bing sudah
mempunyai sejarah yang tua, sudah dilakukan oleh umat Ru jauh sebelum
lahir Nabi Khongcu. Ini terbukti adanya satu peristiwa yang terjadi
kira-kira seabad sebelum lahir Nabi Khongcu yang dihubungkan dengan
saat Cing Bing diperingati sebagai Hari Raya Makan Dingin atau Han Siet
Ciat.

Pada jaman dahulu tiap menjelang Hari Cing Bing orang biasa makan
dingin-dingin, sehari penuh tidak menyalakan api. Upacara ini untuk
memperingati seorang menteri setia dan suci bernama Kai Cu Chui dari
negeri Cien tatkala diperintah oleh Rajamuda Cien Hian Kong. Pada
hari-hari tuanya, rajamuda ini sangat dipengaruhi oleh salah seorang
selirnya yang kemudian dijadikan permaisuri bernama Li Ki. Liki
menginginkan agar puteranyalah yang diangkat menjadi putera mahkota.
Maka ia melaksanakan suatu muslihat memfitnah putera mahkota bernama
Sien Sing. Dengan muslihatnya yang licin telah membuat Cien Hian Kong
percaya bahwa suatu saat Sien Sing berusaha meracuninya. Fitnah ini
mengakibatkan Sien Sing yang sesungguhnya sangat berbakti dan mencintai
ayahnya dan tidak mau membongkar rahasia jahat ibu tirinya itu membunuh
diri. Akibatnya Cien Hian Kong makin percaya kepada Liki dan mencurigai
putera-putera yang lainnya.

Demikian beberapa puteranya lari menyelamatkan diri keluar negeri.
Salah seorang puteranya bernama Tong Ji; ia seorang yang pandai dan
banyak dicintai menterinya. Salah seorang menterinya yang mengikuti
dalam pelarian itu bernama Ka Cu Chiu. Dalam masa pelarian ini, Tiong
Ji mengalami banyak penderitaan. Pernah sampai berbulan-bulan hanya
makan daun-daunan hutan untuk menghindari mati kelaparan. Tiong Ji yang
biasa hidup mewah, suatu saat ingin merasakan lezatnya daging, sayang
menteri-menteri yang mengikutinya tiada yang pandai berburu untuk
memenuhi selera itu. Melihat penderitaan dan keputus-asaan tuannya itu,
Kai Cu Chui yang setia itu dengan diam-diam mengiris daging paha
sendiri lalu direbus dan disajikan kepada tuannya. Tiong Ji yang lapar
dan ingin makan daging itu tanpa curiga melahap santapan itu; baharu
kemudian ia tahu bahwa yang dimakan itu daging kaki menterinya sendiri,
yang kini menteri itu jalannya timpang. Lebih kurang 19 tahun Ting Ji
terlunta-lunta ke negeri Cee, Song, Cho dan Chien. Akhirnya dengan
bantuan rajamuda negeri Chien, Chien Bok Kong, ia dapat pulang ke
negeri Cien dan menjadi rajamuda dengan gelar Cien Bun Kong. Semua
menterinya yang berjasa dianugerahi kedudukan tinggi, hanya Kai Cu Chui
terlupakan karena ia tidak muncul ke istana mengemukakan jasa-jasanya.
Mengalami perlakuan demikian, Kai Ci Chui merasa tiada manfaatnya
mengabdi lebih lanjut kepada Cien Bun Kong Tiong Ji. Kewajibannya
sebagai menteri telah dilakukan dengan setia. Oleh dorongan ibunya ia
meninggalkan ibukota dan hidup menyepi di pegunungan Bian San yang
berhutan lebat. Salah seorang kawan Kai Cu Chui bernama Hai Tiang tidak
rela melihat kenyataan ini lalu menulis sebuah sanjak dan ditempelkan
pada pintu istana. Sanjak itu berbunyi:

Adalah seekor naga, dari barat lari ke timur,

Beberapa banyak ular membantunya, berbuat pahala

Naga terbang naik ke langit, ular-ular mendapatkan guanya

Ada seekor, terlunta-lunta jatuh di gunung

Membaca sanjak itu Cien Bun Kong sadar dan menyesali diri. Segera
diperintahkan utusan mengundang Kai Cu Chui. Tetapi utusan itu dengan
tangan hampa kembali. Hutan Bian San sangat lebat, sukar dijelajahi.
Seorang menteri mengusulkan agar membakar hutan itu dengan harapan Kai
Cu Chui yang sangat berbakti itu akan keluar menyelamatkan ibunya yang
sangat dihormati dan dicintainya itu. Hutan dibakarnya sampai habis,
tetapi tidak kelihatan bayangan Kai Cu Chui. Setelah api padam dan
dilanjutkan usaha mencarinya, akhirnya ditemukan jenasah Kai Cu Chui
bersama ibunya di sebuah gua di bawah sebatang pohon Yang Liu dalam
keadaan telah hangus.

Mendapat laporan peristiwa itu, rajamuda itu merasa sangat menyesal
tetapi terlambat. Tahun berikutnya pada saat menjelang hari Cing Bing,
Cien Bun Kong berpantang makan daging dan memberi amanat kepada rakyat
agar pada hari itu tidak menyalakan api. Segala makanan dimakan
dingin-dinginan. Demikianlah dilakukan tiap tahun.

Di bukit Bian San itu dibangun sebuah kuil untuk memperingati dan
menghormati Kai Cu Chui. Demikianlah timbul upacara Han Siet Ciat
menjelang hari suci Cing Bing yakni memperingati seorang yang berjiwa
suci, setia dan berbakti kepada orangtuanya.

Riwayat ini menunjukkan kepada kita bahwa upacara ziarah ke makam pada
hari Cing Bing itu sudah mempunyai sejarah yang tua dan mengundang umat
untuk berlaku-bakti.

“Hati-hatilah pada saat orang tua meninggal dunia, janganlah lupa
memperingati leluhur sekalipun yang telah jauh. Dengan demikian rakyat
akan tebal kembali Kebajikannya” Lun Gi I : 9.**

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;