Minggu, 20 Mei 2012

Penulis Kitab-kitab Sansekerta

Penulis Kitab-kitab Sansekerta

Terdapat banyak penulis kitab ajaran Buddha dalam bahasa Sansekerta, antara lain Bhikkhu Asvaghosa, Bhikkhu Nagarjuna, Sthavira Buddhapalita, Sthavira Bhavaviveka, Asanga, Vasubandhu, Dinnaga, dan Dharmakīrti.

Bhikkhu Asvaghosa
Bhikkhu Asvaghosa terkenal sebagai seorang penyair dan pemikir pada zaman pemerintahan Raja Kaniska. Para sarjana menilai bahwa Bhikkhu Asvaghosa dalam sejarah Ajaran Buddha mempunyai kedudukan yang unik. Selain sebagai pemikir, beliau juga seorang penyair yang dapat dibandingkan dengan Valmiki (penulis Ramayana). Karya utama dari Bhikkhu Asvaghosa dalam ajaran Buddha adalah dalam Buddha Bhakti.
Pemahaman terhadap aliran Sarvāstivāda tercermin dalam karya Bhikkhu Asvaghosa meskipun pandangan Mahāyāna telah muncul dua atau tiga abad sebelumnya.
Informasi mengenai Bhikkhu Asvaghosa lebih banyak diperoleh dari hasil karyanya. Beliau berasal dari Saketa (Ayodhya), ibunya bernama Survanaksi. Hal tersebut dapat diketahui pada bagian akhir dari ketiga karyanya, yaitu : Buddhacarita, Sundarananda dan Sāriputraprakarana.
Kitab-kitab Buddhacarita dan Sundarananda adalah dua buah kitab yang terpenting dari Bhikkhu Asvaghosa yang berbentuk syair yang puitis. Naskah asli karya-karya tersebut diketahui oleh I-Tsing (meninggal dunia tahun 713) sudah diterjemahkan dalam bahasa China pada abad ke-7 dan terdiri dari 28 conto (jumlah yang sama di jumpai pula di Tibet). Oleh karena itu, disimpulkan bahwa naskah aslinya dalam bahasa Sansekerta juga terdiri dari 28 conto, namun dari jumlah tersebut hanya 17 conto saja yang ada.
Syair dari Bhikkhu Asvaghosa yang indah dan menurut I-Tsing banyak dibaca oleh kalangan luas ini, selain menggambarkan tentang kehidupan dan ajaran Buddha, juga memuat pengetahuan ensiklopedia tradisi mitologi di India serta sistem filsafat India sebelum zaman Buddha atau filsafat lainnya. Selain menulis dua syair yang terkenal itu, Bhikkhu Asvaghosa juga menulis tiga buah drama (ditemukan di Turfan, Asia Tengah, pada awal abad ke-20). Salah satu drama tersebut adalah Sāriputraprakarana yang ditulis dalam bahasa Sansekerta, terdiri dari 9 babak.

Bhikkhu Nagarjuna
Bhikkhu Nagarjuna adalah sahabat dari Raja Yajnasri Gautamiputra (166-196) dari kerajaan Satavahana. Peranan besar yang diberikan oleh Bhikkhu Nagarjuna sebagai seorang pemikir (filsuf) adalah menentukan arah titik-balik perkembangan Ajaran Buddha. Bhikkhu Nagarjuna meletakkan dasar-dasar dari ajaran Madhyamika, yang juga terkenal sebagai Sūnya Vāda.
Dalam bidang filsafat, Bhikkhu Nagarjuna dinilai sebagai pemikir dilektis terbesar. Karya filsafatnya yang terkenal yaitu Madhyamika Kārikā (Madhyamika Sastra) terbagi ke dalam 27 bab dan meliputi 400 kārikā. Bhikkhu Nagarjuna sebagai pemikir diakui sebagai pemikir besar yang tidak mempunyai tandingan di India.
Riwayat kehidupan Bhikkhu Nagarjuna yang diterjemahkan ke dalam bahasa China oleh Kuniarajiva sekitar tahun 405, menyebutkan bahwa beliau dilahirkan dari keluarga Brāhmaa di India Selatan. Huan-Tsang menyebut Kosala Selatan sebagai tempat kelahiran Bhikkhu Nagarjuna. Selanjutnya dikatakan bahwa Bhikkhu Nagarjuna mempelajari seluruh isi kitab suci Tipiaka hanya dalam waktu 90 hari, namun beliau tidak puas. Bhikkhu Nagarjuna menerima Mahāyāna Sūtra dari seorang Bhikkhu tua di pegunungan Himalaya yang sebelumnya menghabiskan waktunya di Sri Parvata (Sri Sailam) di India selatan pusat penyebaran ajaran Buddha.
Catatan tentang Bhikkhu Nagarjuna dalam naskah Tibet menyebutkan bahwa beliau pernah berdiam di Nalanda. Selanjutnya Huan-Tsang menyebutkan 4 matahari yang menyinari dunia dan yang dimaksud adalah Bhikkhu Nagarjuna, Bhikkhu Asvaghosa, Bhikkhu Kumāraladha (Kumāralata) dan Bhikkhu Aryadeva. Sebanyak 20 naskah dari Bhikkhu Nagarjuna didapati dalam bahasa China (18 diantaranya telah dicatat oleh Bunyiu Nanjio).

Sthavira Buddhapalita dan Sthavira Bhavaviveka
Sthavira Buddhapalita dan Sthavira Bhavaviveka keduanya merupakan eksponen aliran Sūnyavāda yang dasar-dasarnya diletakkan oleh Bhikkhu Nagarjuna. Mereka hidup pada abab ke-5 dan dalam sejarah perkembangan ajaran Buddha, mereka terkenal sebagai pendiri dua aliran yang mengutamakan penggunaan penalaran logika dalam Ajaran Buddha, yaitu aliran Prasangika dan aliran Svatantra.
Aliran Prasangika yang dipelopori oleh Sthavira Budhapalita mengembangkan pandangan yang mendorong individu (perorangan) mandiri dalam mencapai tujuan ajaran. Sementara aliran Svatantra yang dipelopori Sthavira Bhavaviveka mencoba untuk mengungkapkan kebenaran dari ajaran Madhyamika melalui argumen-argumen yang bersifat bebas (svatantra). Beberapa pemikir yang mewakili Madhyamika antara lain Aryadeva, Santideva, Santaraksita, dan Kamalasila.

Asanga dan Vasubandhu
Asanga dan Vasubandu adalah dua bersaudara yang hidup pada abad ke-4 serta merupakan pemikir Ajaran Buddha yang kreatif, yang telah membawa pemikiran filsafat klasik dalam Ajaran Buddha. Sebenarnya mereka adalah tiga bersaudara dan Asanga adalah yang sulung, Vasubandhu yang kedua dan yang bungsu bernama Virincivatsa.
Asanga dan Vasubandhu dilahirkan di Purusapura di negeri Gandhara serta berasal dari keluarga Brāhmaa Kausa-likagotra. Mereka berdua belajar Vibhasa-sastra di Kashmir.
Vibhasa-sastra adalah komentar-komentar yang terdiri dari Vinaya, Sūtra dan Abhidharma yang disusun pada sagāyanā yang diselenggarakan pada masa pemerintahan Raja Kanishka. Komentar yang mencerminkan pandangan Sarvāstivāda itu bertahan selama beberapa abad di Kashmir dan Gandhara serta masih populer pada abad ke-4.
Asanga dikenal sebagai guru terkemuka dari aliran Yogacara atau Vijñānavāda. Asanga diberitakan menghimbau adiknya Vasubandu untuk bergabung dengan aliran Yogacara serta meninggalkan Sarvāstivāda. Sebagaimana diketahui Asanga adalah murid dari Maitreyanatha, pendiri aliran Vijñānavāda. Karya Asanga yang terutama adalah :
01.  Mahāyāna Samparigraha
02.  Yogacara Bhūmi Sastra
03.  Mahāyāna Sūtralankara

Dua karya terakhir tersebut menceritakan tentang masalah-masalah etika (sīla) dan ajaran. Kitab Yogacara Bhūmi Sastra terdiri dari 17 Bhūmi, menguraikan secara rinci disiplin yang dilaksanakan dalam ajaran Yogacara. Kitab Mahāyāna Sūtralankara adalah karya bersama dari Asanga dan Maitreyanata.

Vasubadhu yang kemudian menganut pandangan aliran Vijñānavāda juga dikenal sebagai guru dari aliran Vaibhasika, suatu cabang dari aliran Sarvāstivāda. Karya terbesar dari Vasubandhu adalah kitab Abhidharmakosa yang merupakan ensiklopedi filsafat Ajaran Buddha, serta kitab aslinya mencerminkan pandangan Vaibhasika yang dominan di daerah Khasmir. Karya besar ini terdiri dari 600 karika dan merupakan hal yang tidak ternilai di Asia.
Selain menulis kitab Abhidharmakosa, Vasubandhu juga menulis kitab Paramathasaptati sebagai reaksi dari kitab Sanknyasaptati yang ditulis oleh seorang guru dan aliran Sanknya bernama Vindyavasi. Karya lain dari Vasubandhu adalah Tarkasastra dan Vāda Vidhi. Sebagai seorang guru ajaran Mahāyāna, Vasubandhu menulis komentar mengenai Saddharmapundarika Sūtra, Mahāparinirvāa Sūtra dan Vajrac-chedika-prajñā-pāramitā. Vijñāptimatrata Siddhi adalah karya lain dari Vasubandhu yang terdiri dari Vimsika (20 karika) dan Trimsika (30 karika).
Diantara para penerus Vasubandhu adalah Dinnaga (saudara bungsu Dharmapāla) dan muridnya Dharmakirti.

Dinnaga dan Dharmakirti
Dinnaga terkenal sebagai penawar logika dalam Ajaran Buddha. Dinnaga adalah pendiri aliran Nyāya dan beliau hidup pada awal abad ke-5. Sumber dari Tibet memberitakan bahwa Dinnaga lahir di Simha Vaktra (Kanci Selatan) dari keluarga Brāhmaa. Sebelum menganut pandangan Mahāyāna, Dinnaga adalah penganut paham Vatsiputriya dari Hīnayāna. Tradisi Tibet memberitakan bahwa Dinnaga adalah seorang murid Vasubandhu. Dinnaga juga mengunjungi Nalanda, Mahāvihāra, tempat beliau berdebat masalah ajaran dengan seorang tokoh logika, yaitu Brāhmaa Sudurjaya.
Dinnaga yang meninggal dunia di suatu hutan di wilayah Orissa diperkirakan menulis sekitar 100 karya. Sebagian dari karya Dinnaga masih tersimpan di dalam bahasa China dan Tibet.
Menurut I-Tsing, karya Dinnaga adalah buku acuan (teks book) ketika beliau berkunjung ke India. Di antara karya Dinnaga, yang terpenting adalah Pramana-samuccaya (karya terbesar), Nyāya Pravesa, Hetucakradamaru, Pramana Sastra Nyāya Pravesa, Ālambana Pariksa dan lain-lain yang pada umumnya sukar untuk dipahami.  Dilihat dari kitab-kitabnya, Dinnaga menjembatani pandangan kuno dari sistem Nyāya di India dengan Ajaran Buddha (Mahāyāna).
Dharmakirti terkenal sebagai seorang pemikir yang bijaksana, yang pemikirannya bukan saja berpengaruh dalam Ajaran Buddha tetapi juga dalam pemikiran filsafat di India. Karya Dharmakirti yang terkenal bernama Pramma Vartika, ditemukan di Tibet, yang aslinya ditulis dalam bahasa Sansekerta.
Karya-karya lain dari Dharmakirti yang pada umumnya membahas ilmu pengetahuan, ajaran Buddha terdapat dalam Pramana Viniscaya, Nyāya Bindu, Sambandha Pariksa. Hetu Bindu, Vandanyāya, dan Samanantara Siddhi.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;