Minggu, 22 April 2012

Bodhisattva Manjusri / Wen Shu Shi Li Pou Sat / 文殊師利菩薩



10.jpg

Menyambut Ulang Tahun Manjusri Bodhisatwa 24 -04-2012


Artikel 1 :
Nama "Bodhisattva Manjusri" adalah perkataan bahasa sanskerta yang artinya "Nasib Baik Yang Mendatangkan Kesuksesan Yang Mentakjubkan". Di dalam tradisi Buddha Mahayana, Bodhisattva Manjusri itu dianggap Pribadi Maha Agung yang telah memiliki Kebijaksanaan Tinggi di antara para Bodhisattva. Bersama-sama dengan Bodhisattva Samantabhadra, beliau adalah merupakan pembantu utama Buddha Sakyamuni.

Beliau di dalam daftar semua Bodhisattva, termasuk yang paling utama di bidang menegakkan Buddha Dharma, beliau juga dinamai "Pangerannya Dharma". Menurut kitab suci Agama Buddha yang bemama "Sutra Shurangama Samadhi", beliau telah menjadi Buddha, pada Kalpa-Kalpa (hitungan waktu berjuta-juta tahun), yang tak terhitung lamanya, di masa yang lampau, dan dinamai "Sang Tathagata Yang Telah Mengatasi, Atau Telah Dapat Membangunkan Benih Ular Naga, Atau Telah Mampu Membangunkan Kundalini Saktinya".

Walaupun beliau sekarang ini, manifestasi sebagai pembantu utama Hyang Buddha Sakyamuni, dan berada di sebelah kanannya Hyang Buddha Sakyamuni. Menurut Sutra-Sutra dan Sastra-Sastra Buddhis, beliau adalah Sang Guru dari banyak sekali pribadi-pribadi yang telah menjadi Buddha di masa-masa yang lampau; dengan kata lain, beliau telah membimbing banyak orang-orang yang telah memetik buah Ke-Buddha-an. Dengan demikian Bodhisattva Manjusri ini lalu dinamai "Sang Ibunya para Buddha di Tiga Alam.

Di dalam Sutra-Sutra Buddhis, terdapat banyak cerita-cerita yang memberi gambaran bahwa beliau telah mengajarkan kepada pribadi-pribadi yang mengadakan pembinaan diri, dengan sarana kebijaksanaan beliau. Manifestasi beliau yang bersifat sementara di dalam "Memegang Pedang untuk Memperkuat Keberadaan Hyang Buddha atau Ajaran Agama Buddha " itu mengungkapkan kebijaksanaan beliau untuk melenyapkan keragu-raguan para Bodhisattva pendamping Hyang Buddha, yang kurang mampu dalam memberikan kecerahan, atau menolong untuk mencapai pencerahan Agung, kepada orang-orang lain, agar mereka dapat memperdalam Dharma.

Beliau itu selalu mempergunakan kata-kata yang negatif, yang berisi penantangan, dan diucapkan secara tiba-tiba, untuk memperingatkan manusia-manusia yang berbuat salah. Di dalam Agama Buddha Sekte Mahayana, beliau menggaris-bawahi, pertama-tama, melalui metode-metode, atau cara-cara, yang sifatnya untuk dipakai sementara waktu saja, (bersifat provisional method). Di dalam sebuah Sutra, yang bernama Avatamsaka Sutra, beliau telah mendorong, memacu, seorang yang bernama Sudhade, untuk mencari Dharma, hingga 53 (lima puluh tiga) kali. Doktrin, atau Ajaran dari Agama Budha Mahayana, Sekte Dhyana, adalah sama dengan Ajaran dari Sang Bodhisattva, mengenai "pintu-Dharma".

Sejak Dinasti Hsin yang memerintah Wilayah Timur, umat Buddha di Tiongkok, telah mempercayai Bodhisattva Manjusri. Gunung Suci Wu Tai, di Propinsi Shansi, dikenal sebagai Bodhimanda-nya Bodhisattva Manjusri. Para penganut Agama Buddha, yang mempercayai Bodhisattva Manjusri, menjadikan Gunung Suci tersebut, sebagai Pusat Kepercayaan Keagamaan.

Di Kutip Dari Buku Mengenal Para Bodhisattva

Semoga Semua Makhluk Hidup Berbahagia

Artikel 2 :



普見如來
The Glory of Pujian Rulai

Kedua tangan memegang padma dengan mudra Dharmadesana, di atas padma tangan kanan terdapat Prajnakhadga, melambangkan menebas semua kilesha ; Padma di tangan kiri terdapat sutra, melambangkan mematahkan semua pengetahuan. (dengan pengetahuan Lokuttara, sehingga menjadi sempurna)

Manjusri bermakna manggala nan luhur (妙吉祥 – Miaojixiang) , berpasangan dengan Samanthabadra Bodhisattva (普賢菩薩 – Puxianpusa) , Manjusri Bodhisattva sering nampak di sisi kanan dan kiri Sakyamuni Tathagata.

Manjusri Bodhisattva adalah yang nomor satu dalam hal prajna, kelak mencapai Kebuddhaan dengan gelar Tathagata Yang Nampak Secara Universal (普見如來 – Pujian Rulai)

Sakyamuni Buddha memuji Manjusri Bodhisattva :

“Manjusri adalah Bunda Vajra dari semua Buddha Tathagata. Dari Tubuh dan Hati Vajraprajna Manjusri Bodhisattva, lahirlah semua Buddha Bodshiattva.” (semua insan mencapai Kebuddhaan dari Prajna)

Dalam “Sutra Maha Ajaran dari Seribu Lengan Seribu Patra Manjusri” tercatat dasapranidhana Agung dari Manjusri Bodhisattva :

“Bila ada insan memfitnah Ku, membenci Ku, mencelakai Ku, orang itu senantiasa menanam kebencian kepada Ku dan yang lainnya dan dia tidak mampu mengatasi kebenciannya ini, (demi mengubahnya) semoga dia berjodoh dengan Ku. Aku akan membuatnya membangkitkan Bodhicitta”

Manjusri Bodhisattva juga mengatakan :

“Bila Aku berada di dunia, ataupun (walau) setelah Parinirvana, para insan dan para Bodhisattva , bila melafalkan nama Pujian Rulai atau nama Ku (Manjusri), maka semua dosa berat dan pelanggaran karena penghinaan pada sutra akan sirna! Bahkan dosa anantarya juga akan sirna, pada akhirnya akan mencapai Kebuddhaan!”

Manjusri Bodhisattva mempunyai Bodhicitta yang sangat agung. Maitri Karuna Nya meresap sampai ke sum-sum tulang, hati Nya seluas angkasa, kebajikan Nya tiada tara.

Kelak saat Manjusri Bodhisattva mencapai Kebuddhaan , dunia saha kita ini akan diserap masuk kedalam Tanah Suci Pujian Rulai. Saat itu, semua dukkha di dunia saha ini akan sirna.

Tanah Suci Manjusri Bodhisattva yang keagungannya jauh melebihi Sukhavatiloka, ada tertulis dalam Maharatnakutasutra Bab Pasamuan Vyakarana Manjusri Bodhisattva.

Yang paling luar biasa adalah, dunia saha ini kelak adalah salah satu bagian dari Tanah Suci Pujian Rulai ;

Saat itu Simha Yang Gagah (nama) berkata kepada Buddha :

“Baghavan, apakah nama Tanah Suci tersebut?”

Buddha berkata :

“Tanah Suci itu bernama Suci Sempurna Terhimpun Mengikuti Jodoh.”

Simha Yang Gagah bertanya kembali :

“Baghavan , dimanakah letak Buddhaksetra tersebut?”

Buddha mengatakan :

“Di sebelah Selatan, dan dunia saha ini kelak akan berada di tengah Buddhaksetra tersebut.”

Tanah Suci Pujian Fo (Manjusri Bodhiattva) :

1. Bila dibandingkan dengan Sukhavatiloka

. . .Kemudian, diantara para hadirin terdapat Para Bodhisattva, mereka berpikir :

“Apakah pahala dan keagungan Tanah Suci Manjusri Bodhisattva bisa menyamai Tanah Suci Amitabha Buddha ?”

Pada saat itu, Sang Baghavan mengetahui pikiran para Bodhisattva tersebut, kemudian Baghavan memberitahukan kepada Simha Yang Gagah :

“Wahai putera yang berbudi, bila ada orang membelah satu helai bulu menjadi seratus bagian, kemudian dengan menggunakan satu belahan itu mengambil satu tetes air samudera, satu tetes air ini, jika digunakan sebagai pembanding dengan keagungan Tanah Suci Amitabha Buddha , maka Keagungan Tanah Suci Pujian Rulai (Manjusri Bodhisattva) adalah bagaikan samudera. Bahkan melebihi perumpamaan ini sendiri, kenapa demikian? Karena Tanah Suci Pujian Rulai memiliki keagungan yang tak terperikan!”

2、 Manjusri Bodhiattva membangkitkan Bodhicitta sejak masa yang lama sekali, orang yang bersama dengan Nya membangkitkan ikrar ada 2 milyar orang, dan semua telah mencapai Kebuddhaan dan memasuki Parinirvana, hanya tersisa (Manjusri) yang telah mencapai Kebuddhaan namun usia Nya tanpa batas.: Raja Pufu yang saat itu membangkitkan ikrar adalah Manjusri Bodhisattva, yang pertama kali membangkitkan Bodhicitta pada masa lampau 700.000 asamkyeya kalpa butiran Sungai Gangga, kemudian lewat 64 kalpa butiran pasir sungai Gangga, mencapai Anuttpatika Dharmaksanti, mencapai Dasabhumi Bodhisattva dan Dasabhala Tathagata. Menyempurnakan sarva Dharma dan Kebuddhaan, namun sama sekali tidak pernah berhasrat “Aku kelak akan menjadi Buddha.” . Wahai Putera yang berbudi, kemudian 2 milyar orang itu mengikuti Sang Raja, membangkitkan Bodhicitta di hadapan Buddha Suara Guntur (雷音佛 – Leiyin Fo) , semua adalah karena dorongan dan motifasi dari Manjusri Bodhisattva, sehingga mereka semua menjalankandana – sila – ksanti – virya – dhyana dan Prajna. Sehingga saat ini (2 milyar orang itu) semua mereaslisasikan Anuttarasamyaksamboddhi, memutar Dharmacakra nan Agung, setelah melaksanakan karya Buddha, kemudian memasuki Parinirvana. . . . . Saat diuraikan nidana masa lampau dari Manjusri, para insan di pasamuan yang jumlahnya 7000 , membangkitkan Anuttarasamyaksamboddhi.”


3、Saat Manjusri Bodhisattva mencapai Kebuddhaan, Beliau menggunakan Buddhacaksu (Mata Buddha) untuk mengamati kesepuluh penjuru loka, melihat bahwa para Buddha yang menetap di berbagai dunia semua memulainya dari jalan Kebodhisattvaan ;

Saat itu Manjuri Bodhisattva berkata kepada Sang Buddha :

“ Sejak asamkyeya kalpa yang tak terhingga lamanya, Aku telah membangkitkan ikrar demikian : Dengan Divyacaksu tanpa rintangan, Aku melihat Para Tathagata di Buddhaksetra sepuluh penjuru loka yang banyaknya tak terhingga. Jika Aku tidak membangkitkan Boddhicitta untuk membimbing mereka semua supaya menekuni Sadparamita, sampai tercapainya Anuttarasamyaksamboddhi, maka Aku tidak akan mencapai Kebuddhaan, Aku harus memenuhi ikrar ini, barulah kemudian merealisasikan Boddhi.”


4、Buddhaksetra Manjusri Bodhisattva ini sangat luas, bila trisahasra mahasahasralokadhatu (Ribuan sistim Tata Surya besar) dijadikan sebuah Negeri Buddha, maka Negeri Buddha Manjusri Bodhisattva luasnya adalah bagaikan Negeri Buddha tadi dalam jumlah butiran pasir Sungai Gangga.

Saat itu, Manjusri berkata kepada Sang Buddha :

“Baghavan, Aku ada satu ikrar, yaitu membuat satu Negeri Buddha yang luasnya bagaikan Negeri Buddha sebanyak butiran pasir sungai Gangga, Negeri itu akan diperagung dengan ratna manikam yang tak terhingga banyaknya, bila tidak terjadi demikian, maka Aku tak akan mencapai Anuttarasamyaksamboddhi!”

5、Pohon Boddhi tempat Manjusri Bodhisattva duduk akan sebesar sepuluh Negeri Buddha(Satu Negeri Buddha adalah seribu lokadhatu):

Manjusri Bodhisattva melanjutkan :

“Dan lagi Baghavan, Aku ada ikrar, supaya didalam Negeri Ku ada sebuah pohon Boddhi, yang besarnya bagaikan seribu lokadhatu, cahayanya akan terpancar keseluruh penjuru Negeri.”

6、Setelah mencapai Kebuddhaan, Bodhisattva Manjusri tidak beranjak dari tempat duduk Nya, namun mampu memanifestasikan tubuh Nya memenuhi berbagai dunia untuk membabrkan Dharma.

Manjusri mengatakan :

“Aku juga berikrar, duduk di bawah Pohon Boddhi, merealisasikan Anuttarasamyaksamboddhi, pada sata itu tidak beranjak dari sana, namun Aku akan termanifestasi di sepuluh penjuru Buddhaloka, membabarkan Dharma demi para insan.”

7、Dalam Tanah Suci Manjusri Bodhisattva, semuanya adalah para Bodhisattva suci ;

Manjusri Boddhisattva mengatakan :

“Dan lagi wahai Baghavan, Aku mempunyai ikrar, supaya di Tanah Suci Ku tiada wanita, semua adalah Para Bodhisattva yang bebas dari noda dan menjalankan kehidupan suci (membuat para wanita menjadi pria dan mencapai tingkatan Bodhisattva suci) , kelahiran di Tanah Suci Ku adalah dengan manifestasi dan begitu lahir langsung mengenakan jubah kasaya. Bodhisattva yang demikian akan memenuhi Tanah Suci, tidak akan ada Sravaka maupun Pratyeka Buddha (semua di Tanah Suci akan dibuat mencapai Kebodhisattvaan)Hanya saja penjelmaan dari Tathagata akan menyebar kesepuluh penjuru demi para insan (demi menyesuaikan dengan bakat para insan) mengajarkan mengenai Tiga Yana.”

8、Nidana dari Gelar Kebuddhaaan bagi Manjusri Bodhisattva :

Manjusri Bodhisattva merealisasikan Kebuddhaan dengan gelar Yang Nampak Secara Universal (普見 – Pujian), kenapa bisa bergelar Pujian ? karena Tathagata ini bermanifestasi di berbagai Negeri Buddha yang tak terhingga banyaknya, bila para insan melihat Buddha ini, pasti kelak akan memperoleh Anuttarasamyaksamboddhi ; Meskipun Pujian Rulai (saat ini) belum mencapai Kebuddhaan, jika saat ini atau bahkan (jika) Aku telah berparinirvana , ada insan yang mendengar nama ini (Pujian Rulai), semuanya pasti akan memperoleh Anuttara Samyaksamboddhi, kecuali yang telah mencapai tingkatan terbebas dari kelahiran dan insan yang berhati picik.


9、Makanan dan minuman di Tanah Suci Pujian Rulai :

Manjusri Bodhisattva mengatakan kepada Sang Buddha:

“Baghavan, Aku juga berikrar, bagaikan Tanah Suci Amitabha yang menjadikan Dharmasukha sebgaai makanannya, Bodhisattva di Tanah Suci Ku yang baru terlahir dan mulai timbul keinginan untuk makan, berbagai makanan lezat akan muncul dan memnuhi patra di tangan kanannya. Kemudian dia akan membangkitkan pemikiran : Bila belum mempersembahkan ini pada sepuluh penjuru Buddha, serta mendanakannya kepada para insan yang miskin papa (di dunia lain ) serta hantu kelaparan dan lain sebagainya supaya mereka semua terkenyangkan, saya tidak akan memakan makanan lezat ini. Dan setelah berpikir demikian, ia akan memperoleh lima macam abhijna dalam sekejap, tanpa rintangan mampu berkelana di angkasa, kemudian menuju ke sepuluh penjuru Negeri Buddha, mempersembahkan makanan itu kepada Para Buddha Tathagata dan para Sravaka, juga mendanakannya kepada para insan yang miskin papa dan lainnya, kemudian membabarkan Dharma supaya mereka terhindar dari hawa nafsu. Setelah itu, dalam sekejap dia akan kembali ketempat semula (Tanah Suci Pujian Rulai)

10、Pakaian para insan yang terlahir di Negeri Pujian Rulai :

Manjusri berkata kepada Sang Buddha, “Dan lagi Baghavan, Aku ada ikrar, Para Bodhisattva di Tanah Suci Ku, sehabis lahir, bila ia menginginkan pakaian, dari tangannya akan muncul berbagai jubah indah sesuai dengan kehendak , pakaian itu sangat bersih dan bercirikhas jubah sramana. Kemudian ia akan timbul pemikiran ini : Jika aku belum mempersembahkan jubah ini kepada Para Buddha di sepuluh penjuru, maka tidak sepantasnyalah aku mengenakannya. Dalam waktu sekejap, dia akan sampai di berbagai penjuru Tanah Buddha, dan setelah mempersembahkan jubah mustika kepada Para Buddha, mereka akan kembali ke tempat semula dan mengenakannya.”

11、Harta benda insan di Tanah Suci Pujian Rulai :

Manjusri mengatakan kepada Sang Buddha :

“Dan lagi wahai Baghavan, Aku berikirar, para Bodhisattva di Tanah Buddha Ku, harta benda yang diperolehnya, terlebih dahulu akan dipersembahkan kepada Para Buddha dan Sravaka, kemudian barulah dia akan mengenakannya.”

12、Tanah Pujian Rulai bebas dari segala kekejian :

Manjusri mengatakan : “Dan lagi, di Tanah Suci Ku, tidak aka nada delapan bahaya dan kesesatan, tidak ada pelanggaran , tidak ada penderitaan dan tidak ada kesengsaraan.”

13、Keagungan Luar Biasa dari Tanah Suci Pujian Rulai :

Manjusri berkata lagi kepada Sang Buddha : “Aku juga berikirar, di Tanah Suci Ku, terbentuk dari ratna mutu manikam yang tak terhingga banyaknya, ratna manikam itu juga tidak pernah ada di sepuluh penjuru lokadhatu , sangat sulit mendapatkannya. Nama – nama berbagai jenis ratna yang digunakan juga tidak akan habis – habisnya disebutkan, mengikuti apa yang ingin disaksikan oleh Para Bodhisattva, bila ingin melihat Tanah itu berupa emas, maka akan terlihat sebagai emas. Jika ingin melihat perak, maka akan terlihat sebagai perak. Bila ingin melihat Kristal, lazuardi, manao, mutiara dan lainnya, maka semua akan muncul sesuai kehendak dan tidak akan saling merintangi (kemunculan penataan ratna manikin yang diinginkan , tidak akan menjadi tidak teratur hanya karena ingin menyaksikan banyak) ; Dan juga terdapat wewangian cendana, Ajialuo, bahkan cendana merah dan lain sebagainya, semua muncul sesuai dengan harapan.

14、Penerangan di Tanah Buddha :

Manjusri mengatakan :

“Dan lagi, di Tanah Buddha ini, tidak disinari oleh sinar bintang dan matahari - rembulan, Para Bodhisattva di tanah Suci Ku akan menyinari nayuta milyaran Tanah Suci lainnya dengan menggunakan sinar yang keluar dari tubuhnya sendiri.”

15、Perbedaan siang dan malam di Tanah Suci Pujian Rulai :

Manjusri : “Dan lagi di Tanah Suci itu, dengan mekarnya bunga sebagai tanda siang hari, sedangkan mengatupnya bunga adalah tanda malam hari.”

16、Apa yang tiada dalam Tanah Suci Buddha dari Bodhisattva Manjusri :

“Berbagai musim akan timbul seusai kehendak para Bodhisattva, namun tiada fenomena kedinginan dan kepanasan, tiada usia tua – sakit dan kematian. Bila Para Bodhisattva menghendaki merealisasikan Boddhi dan menuju ke Tanah Buddha yang lain, maka dia akan menuju ke Surga Tusita dan setelah usianya habis di sana, ia akan terlahir ke dunia fana dan mencapai Kebuddhaan, karena di Tanah Suci Pujian Rulai tidak ada Parinirvana.”

17、Musik :

Walau tiada wujudnya, namun suara alunan berbagai macam music akan terdengar di angkasa sesuai dengan kehendak, namun music ini tidak akan menimbulkan keserakahan akan suara, justru akan mengeluarkan suara Sangha Buddha yang menyabdakan Dharma Prajnaparamita, dan suara Pintu Dharma Bodhisattva, yang akan terdengar sesuai dengan pemahaman Dharma dari para Bodhisattva.”

18、Jika Para Bodhisattva di Tanah tersebut timbul pertanyaan :

“Dan bila Para Bodhisattva ingin bertemu dengan Buddha, entah saat itu dia sedang beraktivitas, duduk atau berdiri, dengan memvisualisasikan dan merennungkan Pujian Rulai duduk di bawah Pohon Boddhi , hanya dengan melihat Pujian Rulai saja , tidak perlu penjelasan panjang lebar, semua kerguannya akan terpatahkan dan memahami makna sejati Dharma.”

19、Sang Buddha menyarankan penjapaan Nama Suci Manjusri Bodhisattva dan Pujian Rulai :

Kemudian Buddha Sakyamuni memberitahukan kepada Para Bodhisattva :

“Demikianlah, demikianlah. . .seperti yang engkau katakana, wahai Putera Berbudi, bila ada insan yang menjapa ratusan milyar Nama Buddha, dibandingkan dengan yang menjapakan nama Manjusri Bodhisattva saja, berkah pahala pelafalan nama Manjusri melampaui perumpamaan sebelumnya. Terlebih lagi bila menjapakan nama Pujian Rulai, kenapa demikian ? Para Buddha yang banyaknya ratusan milyar nayuta itu memberikan manfaat kepada para insan, namun tetap tidak sanggup melebihi manfaat yang dikaryakan oleh Manjusri Bodhisattva dalam masa satu kalpa saja.”

20、Bagaimanakah Pahala Keluhuran di Tanah Suci Manjusri Bodhisattva ?

Manjusri Bodhisattva kembali berkata kepada Sang Buddha :

“Aku juga berikirar, tak terhingga banyaknya Para Buddha Baghavan seperti yang Aku lihat, semua keagungan pahala di Tanah Suci Buddha tersebut, Aku akan membuat semuanya itu menyatu di satu Tanah Suci Ku ! Kecuali (Tanah) yang masih terdapat dua macam kendaraan dan lima kekeruhan.”

21、Ikrar Agung di Tanah Suci Buddha Manjusri Bodhisattva :

Buddha Sakyamuni memberitahukan kepada Maitreya :

“Delapan puluh empat ribu Bodhisattva ini, saksikan betapa agungnya tanah suci mereka, walau mereka semua berikrar untuk menciptakan Tanah Suci Buddha yang demikian, namun diantaranya ada enam belas Mahapurusha, yang mempunyai vijayasukha sehingga membangkitkan ikrar (paling) agung, dan bisa menyempurnakan ikrarnya, bagaikan Ikrar Agung yang diaspirasikan oleh Manjusri Bodhisattva.”

“Para Bodhisattva yang lain kelak juga akan segera mencapai Anuttarasamyaksamboddhi, keagungan Tanah Buddha yang diciptakan akan seagung Tanah Suci Amitabha. Wahai Maitreya, ketahuilah, Para Bodhisattva itu (16) telah mempunyai vijayasukha, maka pencapaian mereka juga besar, karena yang emmiliki vijayasuka itu telah bertekad supaya mereka merealisasikan Tanah Suci Buddha yang agung bagaikan Tanah Suci Manjusri Bodhisattva.”

22、Buddha Sakyamuni menasehati Para Bodhisattva :

Setelah usai sabda Sang Buddha, Catur Maharajika – Dewa Indra – Raja Brahma dan lainnya, serta Para Dewa Putera Mahabhairava, bersama menyanyikan :

“Insan yang mendengarkan metode ini akan memperoleh manfaat kebajikan yang agung, apalagi bisa menerima dan menjapakannya, ketahuilah bahwa akar kebajikan yang direalisasikannya sangatlah luas. Oh, Baghavan, kami semua akan menerima – menjapakan dan mewartakan metode ini, demi melindungi Dharma nan mendalam ini.”

Kemudian Simha Yang Gagah berkata kepada Sang Buddha :

“Baghavan, bila ada yang bisa mendengarkan metode ini, menerima- menjapa dan merenungkannya, serta membangkitkan ikrar untuk menciptakan Tanah Suci Buddha yang demikian agung, berapa besar berkah pahalanya?”

Buddha menjawab : “Wahai putera berbudi, dengan Buddhacaksu tanpa rintangan, Tathagata melihat para Buddha dan Tanah Suci Nya, jika ada Bodhisattva yang memperagung Tanah Suci tersebut dengan saptaratna, mempersembahkannya kepada semua Tatahagat tersebut satu-persatu, sampai masa yang akan datang, membuat Bodhisattva in menetap pada sila kesucian, berpandangan sama rata terhadap para insan. Bila ada Bodhisattva dengan metode keagungan Tanah Suci ini. Menerima , menjapakan dan membangkitkan tekad, belajar meneladani Manjusri Bodhisattva melangkah tujuh langkah, maka pahalanya lebih besar daripada perumpamaan pertama mengenai dana saptaratna. Tidak ada seper seratusnya, bahkan perumpamaan dengan jumlah itu pun tidak bisa menggambarkannya dengan tepat.”

Sakya Baghavan memuji Manjusri adalah :

“Bunda Vajra dari para Buddha Tathagata. Dari tubuh dan batin Vajraprajna Manjusri Bodhisattva, lahir Para Buddha Bodhisattva.”

Sadhu – Sadhu – Sadhu

Sumber: Sutra Keagungan Tanah Suci Manjusri Bodhisatva

0 komentar:

Poskan Komentar

Informasi

Video ini biasanya banyak dicari , saya bagikan untuk kawan kawan . Semoga Buddha Dharma semakin berkembang,Jika Tergerak untuk Donasi , Silahkan Di paypal saja.Om Mani Padme Hum.

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;