Senin, 27 Agustus 2012

Riwayat Patriach Sesepuh Agung I Kuan Tao

  1. Default Riwayat Singkat Cin Kung Cu She (Kakek Guru Suci – Lu Cung I) part 1

    Riwayat Singkat Cin Kung Cu She (Kakek Guru Suci – Lu Cung I)

    Guru Suci pertama pada zaman pancaran putih, marganya adalah Lu, nama beliau adalah Cung I lahir di Ci Ning, propinsi San Tung, China, pada tahun masehi 1849 bulan 4 tanggal 24 imlek, adalah titisan Buddha Maitreya, merupakan Guru generasi ke 17 pada zaman timur periode ke dua. Sewaktu masih kecil beliau sudah kehilangan kedua orang tua, bersama adik perempuan tinggal di luar kota yang berjarak 5 mil dari batalyon tentara. Tempat tinggalnya terbuat dari rumput kering dan tanah (gubuk) dan hidup dalam keprihatinan, setiap hari bekerja, dengan pakaian yang sangat sederhana (kasar dan robek), kehidupannya sangat susah.

    Di saat berumur 22 tahun, pemerintah membuka lowongan bagi rakyat untuk masuk tentara dan membagikan uang santunan bagi keluarganya, sehingga beliau langsung pergi mendaftarkan diri untuk masuk tentara dibatalyon kecil. Pada awal tahun 1896, tiba-tiba “Tuhan memberikan petunjuk”, selama tiga malam berturut-turut BUNDA SUCI memberikan pesan kepada beliau melalui mimpi sebagai berikut: “Cepatlah pergi ke San Tung, tempat Kakek Ching Si (yang dimaksud adalah Guru Suci generasi ke 16 Liu Ching Si, beliau adalah orang Ching Chou, I Tu, menerima Firman pada tahun 1887) untuk memohon Tao, jangan terpikat pada hal-hal duniawi”.

    Keesokan hari, Kakek Guru melepaskan pekerjaannya, lalu berkemas dan membawa uang 100 tail yang ditabung selama bertahun-tahun, berangkat kearah selatan. Di sepanjang jalan, di malam hari pada saat beliau bermalam di tempat penginapan selalu ada dewa yang memberi petunjuk melalui mimpi. Pada satu malam beliau dapat petunjuk lagi didalam mimpi. “Esok hari, pergilah anda ke suatu gunung, temui Guru Penerang untuk memohon TAO”. Kakek Guru Liu juga bermimpi pada malam yang sama, didalam mimpi itu dewa memberi petunjuk “Esok pagi ada seorang yang sangat bijak datang, pergilah ke muka gunung menyambut dia”.

    Esok hari pagi-pagi Kakek Guru Liu pergi ke muka gunung, saat memandang ke jalan, dilihatnya ada seorang yang tubuhnya pendek dan gemuk, mengenakan topi bludru besar yang bundar, badan memakai jaket pendek yang sudah rombeng, memikul barang bawaan di bahu datang menghampiri. Begitu sampai di hadapan Kakek Liu, Kakek Guru Lu langsung bertanya: “Apakah disini ada guru penerang menyebarkan TAO?” Kakek Guru Liu dalam hatinya masih ragu apakah orang ini yang dimaksud dalam mimpi, lalu membuka mulut berusaha bertanya menyelidiki: “Anda juga ingin memohon TAO?” Tetapi memohon TAO memerlukan 100 tail uang perak”. Kakek Guru Lu tanpa ragu menyetujui. Kakek Guru Liu berkata di dalam hatinya: “Aku kata 100 tail baru dapat TAO, sebetulnya adalah kata-kata tidak serius yang kuucapkan. Tapi tak sangka orang ini punya 100 tail ”. Hatinya merasa tidak enak. Lalu mereka pergi ke atas gunung bersiap mengadakan persembahan, akhirnya di bawah sinar pelita suci, Kakek Guru Lu menerima satu petunjuk suci, membukakan kesejatian Tao yang agung. Kakek Guru Lu langsung sadar, mendapatkan sepertinya tidak mendapatkan apa-apa, sebab segalanya di saat itu tersedia semuanya, tak perlu meminjam yang berwujud untuk mengetahui keberadaannya”.

    Setelah selesai menurunkan Tao pada Kakek Guru Lu, Kakek Guru Liu berkata: “Tao sudah diturunkan kepadamu! Anda sudah boleh pulang”. Kakek Guru Lu menjawab: “Uang 100 tail itu adalah hasil tabunganku sebagai tentara selama bertahun-tahun semua sudah kuberikan kepada Guru, saya tidak punya rumah untuk pulang, saya ikut Guru membina Tao saja”. Kakek Guru Liu bertanya lagi: “Apa yang bisa anda kerjakan?” Kakek Guru Lu menjawab: “Saya buta huruf, hanya mampu mengerjakan pekerjaan kasar”. “Kalau begitu pekerjaanmu memotong kayu bakar dan memikul air saja”. Kata Kakek Guru Liu. Sejak saat itu tugasnya adalah menanam sayur, memikul air, memotong kayu bakar dan memasak nasi. Kakek Guru Lu menerima semua itu lalu tinggal di tempat kediaman Kakek Liu membina Tao sambil bekerja keras. Kakak-kakak seperguruan yang berpendidikan semua masuk kelas mempelajari Dharma rohani atau melakukan meditasi. Hanya Kakek Guru Lu secara diam-diam menghayati dalam lubuk hati, setiap hari memikul air dan memasak nasi, tanpa ada keluhan dan rasa benci.

    Saat Kakek Guru Liu berusia 50 tahun, dalam hatinya berpikir dirinya sudah tua, perjalanan Tao akan berubah. Pada suatu hari, Kakek Guru Liu mohon petunjuk pada BUNDA SUCI, kelak tugas-tugas TAO ini akan diteruskan oleh siapa? Petunjuk BUNDA SUCI berkata: “Orang yang bijak ada dihadapan mata.” Kakek Guru Liu bertanya lagi: “Siapakah orang itu?”
    “Bila engkau bertanya Buddha Maitreya berada dimana? Dalam kolam sungai Chi telitilah dengan seksama, kepalanya mengenakan topi bludru kulit kambing, memakai pakaian orang biasa, mulutnya mengucapkan kata-kata sejati, selalu mengutamakan kasih dan keadilan, mata membelalak jalan (Lu) terbagi dua, di tengah (Cung) terdapat satu (I) rahasia, matahari dan bulan bersatu (合/He) jagat jadi terang, pekerjaannya (仝/Thung) selalu dijinjing di tangan.” Kakek Guru Liu pada waktu itu masih belum mengerti, maka beliau bertanya lagi: “Siapakah orang itu?” Petunjuk BUNDA SUCI berucap lagi: “Saatnya belum sampai, sulit untuk kau ketahui.”

    Kakek Guru Liu tiba-tiba menghayati maknanya, lalu menyuruh semua muridnya mencuci tangan untuk sembahyang, dihadapan altar menyuruh semua muridnya membuka dan mengulurkan tangan untuk diperiksa satu persatu, melihat apakah dalam telapak tangan ada sesuatu yang ganjil. Namun Kakek Guru Liu tidak menemukan 2 huruf ”合仝/He Thung “ diatas telapak tangan mereka. Pada saat beliau terdiam bingung, Kakek Guru Lu sesudah mencuci tangannya di dapur lari ke cetya menjulurkan tangannya supaya Kakek Guru Liu memeriksanya sambil berkata: “Telapak tangan murid apakah sudah bersih?” Kakek Guru Liu tidak melihat dengan teliti lagi segera berkata: “Benarkah kau ada itu?”
  2. Part 2:

    Selang satu masa, Kakek Guru Liu mengumpulkan muridnya dan berkata: “Tao yang agung harus di teruskan, jiwa sejati harus dihayati, kalian semua menerima Firman Tuhan (Thien Ming), Turunlah dari gunung dan tempuhlah hari depan kalian masing-masing!” Semua orang menerima tugas, lalu masing-masing berkemas, ada yang pulang ke rumah, ada yang pergi mengembangkan Tao, hanya Kakek Guru Lu yang hatinya sedih, karena yang lain punya keluarga, namun dirinya sudah bertahun-tahun meninggalkan kampung halaman, kedua orang tuanya juga sudah lama meninggal dunia, hari depan tiada menentu, mau pergi kemana? Lalu beliau meminta petunjuk kepada Kakek Guru Liu: “Murid tidak punya rumah untuk pulang , bolehkah mohon petunjuk kepada BUNDA SUCI?” Kakek Guru Liu memohon BUNDA SUCI hadir di altar. BUNDA SUCI memberi petunjuk: “Kini sudah sampai di akhir jaman stadium ke tiga, dan penyelamatan global telah digelar, sebuah jalan mengaitkan semua gunung-gunung, sungai-sungai diatas bumi. Dengan bahtera suci mengarungi air yang jernih menuju Tung Lu mendirikan basis…” Kakek Guru Lu bertanya lagi: “Ananda harus pergi kemana?” BUNDA SUCI memberi petunjuk lagi: “Berdiam dirilah didalam biara Kwan Im.”

    Lalu beliau berangkat menuruni gunung, namun tak tahu harus pergi kemana. Beliau berpikir, biara Kwan Im adalah rumah ibadah kaum padri wanita, aku sebagai kaum pria mana boleh tinggal disana? Lalu beliau pun teringat kampung halamannya masih ada seorang adik perempuannya. Lebih baik ke sana dulu mencari tempat tinggal dahulu. Sampai di daerah Ci Ning, kampung halamannya, lalu mencari alamat adiknya. Tapi begitu ketemu, ternyata sang adik tidak mengenal kakaknya lagi. Karena kakak menjadi tentara dan sudah begitu lama tidak bertemu dan tidak ada kabar berita mungkin sudah lama gugur. Sekarang ini tiba-tiba bertemu, tidak berani saling mengenal. Lalu Kakek Guru Lu bercerita untuk membuktikan jati dirinya, bagaimana sengsaranya kehidupan keluarga sejak kecil, kakak beradik bagaimana mencari sayur di hutan dan banyak hal-hal lain, sang adik baru mengenali kakaknya dan menampungnya untuk tinggal bersama.

    Adiknya yang telah tua memiliki dua orang anak, adik iparnya bermarga Chen berperangai bodoh dan keras, keadaan rumah tangga juga susah. Saat itu kakak beradik dengan leluasa membicarakan masalah membina dan mengembangkan Tao, masalah penyelamatan umat, bagaikan kembali ke masa lalu, rasanya tidak ingin berhenti. Lalu membuka cetya di rumah, menyelamatkan umat ke mana-mana, demikianlah Tao yang agung secara perlahan-lahan terus berkembang luas. Kemudian kedua anak adik beliau pun menerima Firman mengembangkan Tao, orang menyebut mereka Guru Chen yang besar dan Guru Chen yang kedua.

    Pada tahun 1925 masehi, sebelum Kakek Guru Lu meninggal. Karena terserang radang tenggorokan, sehingga tak bisa menelan makanan, beliau sadar bahwa umurnya tidak panjang lagi, sedangkan tugas banyak belum selesai, murid-muridnya juga kualitasnya tidak sama, tidak semua baik, yang sejati dan yang pura-pura sulit dibedakan, kenapa tidak mengambil kesempatan itu untuk menguji mereka? Maka beliau mengumpulkan muridnya dan berkata: “Aku mematuhi semua pantangan-pantangan dan membina diri puluhan tahun, menjalankan tugas sesuai dengan kehendak Tuhan, tapi sekarang ini aku terserang penyakit yang tidak ada obatnya, ini terbukti Tao ini bukan yang sejati. Maka mulai sekarang kalian menempuh jalannya masing-masing, tidak usah bertahan membina Tao”. Lalu beliau memerintahkan koki beli daging sepuluh kati, dimasak dan dibagikan kepada murid-muridnya untuk dimakan bersama. Karena Kakek Guru Lu terserang penyakit radang tenggorokan, tidak dapat menelan makanan. Mereka yang pengertiannya kurang jelas, sebagai tanda taat pada perintah Guru, lalu banyak yang batal sebagai vegetarian, memakan daging, ataupun mundur tak melakukan pembinaan lagi. Hanya Guru kita yang usianya paling muda diantara mereka, mengerti semua ini adalah ujian yang dilakukan Kakek Guru, beliau tidak banyak ribut, mempertahankan kesucian dirinya.

    Pada tahun yang sama, bulan 2 tanggal 2 imlek, Kakek Guru Lu mencapai kesempurnaan, dalam usia 76 tahun. Kakek Guru tidak beristri sepanjang hidupnya, berambut putih tapi wajah merah seperti wajah anak-anak. Murid-murid beliau sudah berjumlah ribuan orang, yang merupakan tokoh besar ada 8 orang. Setelah Kakek Guru Lu meninggal dunia, pimpinan Tao jadi kosong, lalu para tokoh memohon kepada roh Kakek Guru Lu untuk hadir di altar memberi petunjuk, Kakek Guru Lu memberikan petunjuk: “Tunggulah 3 bulan, setelah 100 hari, dengan sendirinya akan ada kabarnya.”Belum sampai 3 bulan para tokoh merasa diri masing-masing jasa pahalanya banyak dan kebajikannya tinggi, lalu mereka memohon petunjuk kepada BUNDA SUCI siapakah yang menggantikan kedudukan Kakek Guru Lu. BUNDA SUCI berkata: ”Kalian semua masing-masing memiliki Firman.” Mereka tidak sadar bahwa sejak dahulu kala Firman hanya diemban oleh satu atau dua orang, mana bisa diemban oleh banyak orang, Mereka tidak menghayati kehendak Tuhan, dengan paksa memohon Firman Tuhan, sehingga masing-masing tokoh berdiri sendiri-sendiri, melaksanakan pekerjaannya masing-masing. Setelah itu akhirnya ada yang meninggal, ada juga yang tidak mempunyai tugas yang bisa dilaksanakan.

    Hanya Guru kita yang patuh kepada pesan Kakek Guru Lu, tidak berani banyak masalah. Menunggu sampai 100 hari, lalu BUNDA SUCI berkata: “Firman (Thien Ming) dipegang oleh adik Kakek Guru Lu selama 12 tahun.” Kemudian karena situasi mendesak, dengan perhitungan penanggalan masehi dan imlek secara kombinasi, diubah menjadi 6 tahun. Bapak Guru merupakan tokoh yang umurnya paling muda diantara 8 tokoh besar, pengikutnya paling sedikit. Namun selama 6 tahun, tugas yang diselesaikan oleh Guru paling banyak, dan semua dilaporkan kepada adik Kakek Guru (Lau Ku Nai Nai)

    Pada tahun 1930 masehi di depan pembakaran dupa “Pa Kua” BUNDA SUCI berfirman, memerintahkan Bapak dan Ibu Guru bersama menerima Firman dan secara formalitas mengikat hubungan suami istri, beliau berdua menerima Firman sebagai Guru Suci generasi ke 18, juga disebut Guru ke 2 di jaman pancaran putih, memimpin kalangan Tao, mengadakan penyelamatan global 3 alam (alam dewa, alam manusia dan alam arwah), melanjutkan tugas-tugas penyelamatan akhir di ujung jaman dan penyelamatan secara global.

    bersambung...
    Last edited by YongCheng; 19-03-08 at 20:37.
    Apabila diri sendiri tidak ingin disakiti, maka hendaknya seseorang tidak menyakiti makhluk lain
  3. part 3

    Setahun setelah Kakek Guru Lu meninggal, yaitu pada tahun 1926 masehi, bulan 3 tanggal 3 imlek, roh beliau dengan meminjam raga Yang Chuen Ling yang berasal dari propinsi San Si datang ke sebuah cetya di propinsi San Tung di daerah Ci Ning, memberikan penampakan selama 100 hari. Dari mulutnya menurunkan kitab “Cin Kung Miao Tien (Kitab Suci dari Kakek Mas)” dan kitab suci “Mi Lek Cen Cing (Kitab Suci Buddha Maitreya Sejati) untuk umat dunia, dalam waktu yang bersamaan dengan dua tangan sekaligus, memakai tulisan kuno Mei Hoa menulis dua bait syair sebagai berikut: “Angin meniup daun bambu bagaikan naga menarikan cakarnya, hujan menerpa bunga teratai bagaikan burung Hong menganggukan kepala.” Selama 100 hari banyak sekali penampakan yang diperlihatkan, sesuatu yang sangat luar biasa yang tak terpikirkan oleh akal sehat manusia. Sejak dahulu kala ada kata-kata kuno yang mengatakan ayam jago mas berkokok tiga kali, itu maksudnya Kakek Guru akan datang berkunjung sebanyak tiga kali, sekali melalui diri Yang Chuen Ling, kedua kali melalui Thu I Khun bila Ayam Mas berkokok yang ketiga kalinya Kakek Guru akan datang sendiri untuk mempersatukan semua ajaran dan agama, TAO akan tersebar merata, dunia aman sentosa.

    Lampiran:

    Semasa hidup Kakek Guru Lu dalam mengembangkan TAO, hanya ada istilah penyelamatan umum, yaitu melintaskan orang-orang yang percaya dan mengangkat arwah para leluhur, tapi untuk mengangkat arwah leluhur dibawah kita satu tingkat, dibutuhkan jasa pahala melintaskan umat 100 orang. Sampai pada tahun 1930 masehi, Bapak dan Ibu Guru kita memimpin kalangan TAO baru betul-betul dimulai penyelamatan (atau pelintasan) global dari tiga alam, meneruskan tugas-tugas diakhir zaman. Sejak masa itu kita dapat melintaskan dewa-dewi dari alam hawa, arwah-arwah di alam baka dan umat manusia di dunia. Semula seorang dewi besar yang dilintaskan oleh Ibu Guru kita adalah Yin Yu Ku Niang (Gadis Pengembara di Alam Awan), setelah mendapatkan TAO, BUNDA SUCI memberikan gelar sebagai Boddhisatva Pendidik (Ciao Hua Pu Sha)

    Di telapak tangan Kakek Guru Lu ada tulisan 2 huruf ”合仝/He Thung”, ditangan kiri ada “合/He” dan ditangan kanan“仝/Thung” tulisan ini tidak hilang dicuci. He Thung merupakan tanda stempel/mudra bagi para Buddha. Pembuktian/pertanda dari tempat roh suci, mewakili penurunan silsilah Dharma Hati dari satu generasi ke satu generasi, Kesamaan Tao, kebenaran, watak sejati dan hati sesuai dengan kehendak Tuhan. Sehingga disebut sebagai Guru Generasi pertama masa pancaran putih.

    Dan adik dari Kakek Guru (Lau Ku Nai Nai) adalah titisan pecahan roh Kwan Im Ta Se (Kwan Im Pu Sa) yang turun ke dunia, demi membantu Buddha Maitreya di masa pancaran putih dalam tugas menyelamatkan umat di dunia. Hal ini di ketahui pada tahun masehi 1939 bulan 8 imlek di kota Thien Cin cetya Ming Te pada saat latihan, datanglah roh seorang malaikat yang disebut “Kwan Khung Seng Mu”, barulah dimengerti adanya jodoh yang begitu istimewa.

    Selesai
  4. Default Riwayat Singkat Thien Ran Ku Fo (Bapak Guru Suci)

    Riwayat Singkat Thien Ran Ku Fo (Bapak Guru Suci)

    Bapak Guru bermarga Zhang nama Kuei Seng alias Kuang Pi adalah titisan pecahan roh Buddha Hidup Ci Kung, sebagai Guru Suci generasi ke 2 masa pancaran putih, Guru Generasi ke 18 pada zaman timur periode akhir. Beliau lahir pada tahun 1889 bulan 7 tanggal 19 imlek. Pada saat Guru Suci lahir, pagoda suci “Thien Than” tempat raja-raja bersembahyang kepada TUHAN (Thien) di Beijing terbakar, di langit terlihat hamparan sinar merah, dan Sungai Kuning (Huang He) yang selalu keruh airnya, pada hari itu mendadak jernih sampai terlihat dasarnya, Ini karena cahaya bola api menerangi umat manusia, dan juga pertanda merubah yang keruh (kacau) menjadi jernih (damai sentosa)

    Bapak Guru secara lahiriah nampak aneh dibandingkan dengan orang biasa, kepala beliau berbentuk persegi dan rata atasnya, bayangan pada biji mata ada dua, sangat cerdas, bersifat jujur, dilahirkan di keluarga terpelajar turun temurun. Pedoman keluarga sangat baik. Sang ayah yang berwelas asih mendidik Guru Suci kita sejak beliau masih kecil, secara langsung memberikan pendidikan sastra padanya, secara garis besar beliau sudah mengerti akan kitab dan syair, setelah dewasa mencapai keberhasilan, sehingga beliau mempunyai cita-cita besar.

    Saat berumur 22 tahun, beliau merantau ke Nan Jing, Shanghai, mengikuti paman (suami bibi). Profesi beliau pada waktu itu adalah sebagai perwira. Pada suatu hari, tiba-tiba mendapat kabar ayahnya jatuh sakit berat, beliau meninggalkan jabatan pulang ke tempat kelahirannya. Tidak berapa lama ayahnya meninggal dunia. Setelah melewati hari berkabung, beliau menetap ditempat kelahiran menemani ibunya mengurus karya peninggalan, mempertahankan sifat setia dan bisa dipercaya, sehingga terkenal dan dipuji tetangga di daerah sekitarnya.

    Pada tahun 1915, Bapak Guru berusia 27 tahun, bertemu dengan Guru Chu yang sedang mengajarkan ajaran I Kuan Tao dari ajaran Khung-tze, Meng-tze, semula beliau tidak berani begitu saja percaya. Sehingga beliau mempersilahkan ibunya dulu untuk mendapatkan TAO (Inisiasi), untuk menyelidiki dengan jelas dahulu apakah ajaran ini sejati atau sesat baru memastikan keputusannya. Setelah sang ibu mendapatkan TAO dan mempelajarinya, ternyata ajaran itu sesuai dengan kebenaran dan sangat bagus, memiliki manfaat yang besar dalam membantu penegakkan moral dan hati manusia, Guru Suci juga mendengar bahwa ajaran itu dapat menolong arwah orang tua supaya terlepas dari siksaan neraka dan naik ke surga. Karena ayah beliau sudah keburu meninggal, beliau merasa belum dapat berbakti kepadanya, tak dapat dihindari ada penyesalan dalam hati, maka beliau mengambil keputusan untuk mendapatkan TAO supaya kelak dapat membalas budi orang tua.

    Setelah Bapak Guru mendapatkan Tao, jodoh kelahiran lalu tertampilkan, ketulusan hatinya terus berkembang tanpa ada yang dapat menghalanginya, sejak itu bersama segenap anggota keluarga membina TAO, mendirikan cetya dirumah, mengikuti Guru Chu menjalankan dan membuka ladang Tao baru, mengikat jodoh dengan luas. Dalam beberapa tahun, beliau melintaskan umat sebanyak 64 orang. Karena masa Kakek Guru sudah ditentukan peraturan suci yang menetapkan melintaskan umat sebanyak 100 orang baru dapat mengangkat arwah leluhur satu tingkat di atas, Bapak Guru karena merasa tak mampu melintaskan umat lebih banyak lagi, sehingga merasa sangat risau.

    Guru Chu melihat Guru Suci begitu tulus hatinya dan sangat berbakti kepada orang tua, lalu meminta petunjuk Kakek Guru. Kemudian Kakek Guru mohon petunjuk kepada BUNDA SUCI mengatakan: “Dimulai dari orang ini, melintaskan 64 orang di tambah dengan satu jasa, maka siapa yang membina Tao dengan tulus hati, bisa mengangkat arwah leluhur satu tingkat diatas, yaitu arwah ayah dan ibu.”
    Ini benar-benar adalah ketulusan hati menggugah, Tuhan mengikuti kehendak manusia.

    Pada tahun 1920, Guru Chu meninggal dunia, karena Kakek Guru tidak pernah bertemu dengan Bapak Guru, mendengar kabar orang ini sangat tulus hati membina Tao, kepribadiannya juga menonjol dari orang lain, lalu mengutus seorang murid untuk memanggilnya menghadap. Lalu bertanya: “Guru mu telah tiada, anda ingin menyertai siapa dalam membina dan melaksanakan Tao?” Bapak Guru menjawab: “Mohon petunjuk Kakek Guru, murid akan patuh pada perintah Kakek Guru.” Kakek Guru mendengar demikian, lalu berkata: “Baiklah, kamu ikut saya saja!” Sejak saat itulah Bapak Guru mengikuti dan melayani Kakek Guru menjalankan dan mengembangkan Tao yang mengutamakan ajaran Kongfusius; menghormati Guru dan menjunjung tinggi Tao, dengan ketulusan menjalankan tugasnya dengan baik.

    BUNDA SUCI memberikan Firman, Bapak dan Ibu Guru bersama-sama menerima Firman Tuhan (Thien Ming), dan secara formalitas harus berstatus sebagai suami istri, baru bisa mengadakan penyelamatan secara global, pria dan wanita sama rata, sama-sama boleh membina dan menjalankan Tao. Barulah sesuai dengan masa penyelamatan, dimana Tao di turunkan pada rakyat biasa.

    Setelah Bapak dan Ibu Guru menerima Firman Tuhan, merasa bingung tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Dan orang-orang menjadi geger dan berkata: “Sejak dahulu kala mana ada orang yang membina Tao sampai jadi suami istri!” Gosip ini tersebar ke mana-mana, menjadi pembicaraan dari mulut ke mulut, sampai-sampai sangat mengagetkan orang! Bapak dan Ibu Guru bukan main pedih hatinya mendengar ocehan-ocehan itu, merasa tiada tempat untuk berlindung (merasa malu). Tetapi BUNDA SUCI telah berfirman, Kakek Guru juga sudah mengambil keputusan, wadah Tao yang baru harus didirikan kembali, di berbagai tempat para Buddha dan malaikat hadir di cetya untuk membuktikan hal ini. Demikian, orang yang memohon Tao semakin banyak dan tiada hentinya.

    Setelah Bapak dan Ibu Guru menerima Firman bersama, membuka ladang Tao baru ke berbagai tempat, menyelamatkan umat secara luas. Karena situasi penuh gejolak, kondisi sangat gawat, didalam dan diluar rumah juga risau tanpa henti, bencana alam dan petaka terus terjadi, umat manusia berada dalam penderitaan dan tidak tenang, negara juga dalam keadaaan darurat. Oleh itu Mensius pernah berkata: “Dunia dalam situasi darurat/kacau, harus diselamatkan dengan Tao.” Oleh itu Tuhan mengutus Guru Suci, Tao yang agung dikembangkan secara luas. Dan Bapak dan Ibu Guru mengemban tugas berat, dengan hormat mengikuti kehendak Tuhan, dengan berkorban diri demi menyelamatkan umat manusia, pagi-pagi keluar rumah dan malam hari baru kembali ke rumah, siang dan malam risau dan bekerja keras takut tidak mampu melaksanakan tugas dengan baik. Sejak kalangan Tao didirikan, dalam waktu yang sangat pendek, kalangan Tao dari Ci Ning berkembang ke Ci Nan, Thien Cin, Beijing, Nanjing, Shanghai, dan berbagai tempat, secara pelan-pelan berkembang pesat.

    Pada tahun 1936, pemerintah memerintahkan aparatnya menyelidiki sebuah oraganisasi yang disebut “I Sin Lung Hwa Sheng Ciau Hui” karena pemimpinnya Ma Se Wei menyebut dirinya sebagai Kaisar Ma. Orang-orang yang masuk organisasinya berganti marga menjadi Ma. Mereka memakai pakaian seragam aneh. Sangat berkembang dan terkenal disekitar kabupaten Wei propinsi San Tung. Para penyelidik pemerintah setibanya di propinsi San Tung, Ci Nan, tidak tahu alamat organisasi itu dimana, lalu ada yang memberi petunjuk cobalah Tanya Guru Zhang. Begitu sampai di cetya Bapak Guru, para penyelidik langsung bertanya: “Disini ada orang yang bermarga Ma tidak?” Karena murid Guru Suci sangat banyak, sehingga Guru Suci menjawab: “Ada.” Tanpa bertanya lebih lanjut aparat pemerintah membawa Bapak Guru, Chi Tien Chuan She (Ming Cou), Wang Sing U, dan San Chai, berjumlah lima orang ke Nanjing. Setelah diinterogasi ternyata salah tahan. Karena pejabat sembrono, menjalankan tugas bertele-tele, maka Bapak Guru dan rombongan di tahan selama 300 hari, baru dilepas pada tahun 1937 di musim semi, setelah kembali ke Ci Nan, barulah di ketahui, BUNDA SUCI pernah memberikan wejangan: “Di Cin Ling (Nanjing) akan terdapat 5 tungku tua”, yang dimaksud adalah ujian besar ini.

    Karena penyelamatan Tao yang agung secara global tidak begitu lama, walaupun orang yang memohon Tao sangat banyak, tapi yang benar-benar mengerti dan menghayati Tao sangat sedikit. Demi menjelaskan makna Kebenaran Tao, menunjukkan jalan kesadaran pada umat manusia, agar para umat bisa memiliki sebuah pedoman, sehingga tak membina tanpa arah yang jelas (membabi buta), menaruh kecurigaan dan keraguan yang tak terjawab. Maka pada tahun 1937 diterbitkan buku “I Kuan Tao Yi Wen Cie Ta/Jawaban Keraguan/Pertanyaan Mengenai Tao”, sebagai pedoman penyebaran Tao. Setelah itu pada tahun 1939 diterbitkan buku “Can Ting Fo Kui/Peraturan Buddha Sementara” agar membina bisa memiliki peraturan yang bisa diikuti, setiap hari ada sebuah tugas yang harus di kerjakan, meminjam peraturan ini untuk menyelaraskan badan dan hati, terus dilatih sampai memiliki sifat welas asih dan ksatria. Dan pada tahun 1941, memohon BUNDA SUCI memberikan petunjuk, akhirnya diturunkan sebuah buku “Sepuluh Sari Nasehat Bunda Suci” , menjelaskan perubahan situasi langit, masalah besar penyelamatan tiga alam. Sampai saat ini aturan kebenaran Tao sangat jelas, peraturan suci juga sangat sempurna, Tao yang agung dan Firman Tuhan tersebar jelas di dunia fana.

    Pada tahun 1938, bertepatan dengan tahun ke 2 peperangan antara Jepang dan Cina, hati manusia berbagai tempat saat itu bergejolak, hidup merasa tidak tenang, ditambah dengan matangnya jodoh hutang karma, nyawa manusia sepertinya tak bernilai bagaikan semut. Karena itu BUNDA SUCI tidak tega, demi untuk menyelamatkan bencana, perlu melatih anak-anak Buddha, untuk menghilangkan dan merubah bencana, sehingga diadakanlah “Li Lu Li Huei/Penggemblengan bagaikan tungku yang membakar” Pesertanya ada yang puluhan sampai ratusan orang, dan waktunya ada yang belasan hari sampai satu bulan lebih. Dalam Sidang Dharma penggemblengan tungku, seperti dimasak dan digembleng dalam tungku, tidak hanya para Buddha yang hadir memberikan penampakan, mencapai tingkatan dimana hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.

    Pada tahun 1940 saat diadakan sembahyang Tuhan di musim semi, Bapak Guru kita datang di Thien Cin, bermalam di salah satu umat, BUNDA SUCI memberikan petunjuk untuk diadakan penggemblengan lagi untuk menggembleng orang-orang yang berbakat. Bapak Guru kita memohon berkali-kali: “Ananda tak sanggup memikul tanggung jawab yang berat ini, penggemblengan berat mohon dihapuskan.” BUNDA SUCI menjawab: ”Baiklah, sejak kini langit dan bumi sebagai tungku, penggemblengan berat tidak lagi diadakan” Para Pembina harus menerima ujian dari Tuhan dan manusia, untuk membedakan yang sejati dan yang pura-pura membina, menghilangkan hutang karma, merubah sifat yang tidak baik serta menentukan kedudukannya. Dan setelah itu dalam beberapa tahun kemudian terjadi perang dunia ke 2 peperangan yang paling lama dalam sejarah, gunung dan sungai turut bersedih dan menangis, situasi berubah drastis, orang yang terbunuh tak terhitung banyaknya, dimana-mana terjadi perang. Sepertinya dunia akan kiamat, karena itu orang yang memohon Tao untuk menghindari bencana, berdatangan tanpa henti. Dan Bapak Guru dan Ibu Guru tak ada waktu untuk istirahat dan menetap di satu tempat, khawatir bagaikan api yang membakar, demi menyelamatkan umat manusia agar terhindar dari bencana, selain siang dan malam memohon BUNDA SUCI, juga menyemangati murid untuk membina dan menjalankan Tao. Pada tahun 1945 setelah Jepang menyerah, Tao yang agung telah tersebar di seluruh Negara. Orang yang mendapatkan Tao tak terhitung banyaknya

    Pada tahun 1946, umat di propinsi Se Chuan menyambut Bapak dan Ibu Guru sampai di kota Cheng Tu, setahun kemudian pada tahun 1947 di bulan 8 di suatu tempat yang bernama Wang Cia Thang. Bapak Guru menghampiri taman bunga yang dimuka pintu, tiba-tiba nampak sebuah buah dari kembang yang berbentuk aneh rontok dari dahannya, wajah beliau tampak terkejut dan curiga, timbul firasat yang tidak baik, seperti sebuah pepatah: “Bila malang dan mujur akan tiba, ada orang yang dapat firasat dahulu dengan pasti”. Sejak saat itu kesehatan Bapak Guru semakin melemah dan semakin parah, akhirnya pada malam Perayaan Tiong Ciu (bulan purnama), beliau wafat dalam usia 59 tahun

    Di saat Bapak Guru sakit, Ibu Guru memohon pada BUNDA SUCI agar memperpanjang umur Bapak Guru, BUNDA SUCI memberikan wejangan: “Menjelang tujuh kali tujuh empat puluh sembilan, langit dan bumi gelap gulita tanpa bintang, lima iblis mengacau dunia, keanehan akan terlihat/terjadi, tanah Negara dicabik-cabik, bersedih hati dikala fajar karena Bapak dan anak berpisah, jagat raya dan manusia bersedih, kemajuan teknologi tak berdaya, ilmu gaib akan bangkit, berbagai agama dan aliran akan muncul merajalela, badai akan merontokkan buah-buah dibawah pohon, untuk berteguh iman mempertahankan Tao harus tahan hinaan, dunia akan kacau bagaikan ekor kuda. Tapi tergantung engkau akan menuju kemana. Tahun ini ting-hai 36 penuh, budi api (lambang Bapak Guru – penerjemah) akan melapor diri kembali ke Surga, pohon telah berbunga tinggal menanti buahnya, sang Guru dan murid akan berpisah ditengah musim rontok (Tiong Chiu).” Dalam wejangan menjelaskan keseluruhan situasi jodoh akhir jaman, serta hasil akhir perjalanan dan riwayat satu generasi Guru Penerang

    Lima hari setelah wafatnya Bapak Guru, Ibu Guru memohon petunjuk, Ci Kung Huo Fo hadir di cetya memberikan wejangan: “Makam didirikan di sisi danau Si Hu, dekat Yii Ciao Thang, membelakangi gunung Nan Phing, menghadap ke timur ke gunung Feng Huang, disebelah kiri adalah danau Si Ce, sedangkan gunung disebelah kanan adalah gunung Yii Huang.” Tanggal 15 bulan 9, para murid menyewa sebuah pesawat terbang membawa dan mengantar jenazah Bapak Guru ke Shanghai, esok hari (tanggal 16) dengan mobil khusus diangkut lagi sampai di Hang Cou, Si Hu dikaki gunung Nan Phing kebun Lu Ling dan jenazah diistirahatkan disitu sambil memilih hari baik untuk dimakamkan. Murid-murid beliau yang datang dari berbagai tempat untuk memberi penghormatan terakhir tiada hentinya. Diantara para pendeta Buddha dikelenteng-kelenteng di Hang Cou sejak tanggal 1 bulan 9 ramai tersiar kabar: “Buddha Hidup Ci Kung telah kembali” kelenteng-kelenteng itu dipugar, mereka semua membaca paritta-paritta. Sampai tanggal 16 bulan 9 Pagoda Ci Kung di kelenteng Hu Pao selesai dibangun dan diadakan upacara pembukaan. Umat yang datang untuk memberi penghormatan tiada hentinya. Bapak Guru adalah titisan roh Buddha Hidup Ci Kung yang turun ke dunia, tapi kini telah wafat dan kembali ke Si Hu, Hang Cou.

    Setelah Bapak Guru mencapai kesempurnaan, semua tanggung jawab berat penyebaran Tao dipikul Ibu Guru. Pada tahun 1949 Shen Cou berganti pemerintahan, daratan China dikuasai kaum komunis, hubungan beliau dengan para pendahulu yang pergi ke Taiwan terputus. Kemudian berkat pertolongan para pendahulu dari Hongkong, beliau hijrah ke Hongkong. Sampai pada tahun 1954 atas usaha maha sesepuh dan pendahulu lainnya dijemput ke Tai Cung dan tinggal disana. Akhirnya pusat wadah Tao berpindah ke Taiwan. Telah tercipta sebuah babak baru perkembangan Tao, dimana Tao dikembangkan ke seluruh pelosok dunia.

    Lampiran:

    Bapak Guru kita adalah titisan Buddha Ci Kung, yang dilahirkan pada jaman menjelang runtuhnya dinasti Sung, nama beliau pada waktu itu adalah Li Siu Yen. Pada kelahiran sebelum itu beliau sebagai salah seorang dari 18 lohan yang bernama Pertapa Penakluk Naga, juga disebut Lohan berbaju Ungu. Setelah diingatkan oleh seorang pendeta tinggi di biara Ling Yin, Hang Cou, beliau lalu berpura-pura sinting dan bodoh menyembunyikan sifat aslinya, seperti bunyi kata-kata dari sebuah kitab suci Pusaka Pembina: “Berkelana ke selatan, utara, timur dan barat, wajah asli disembunyikan nama berada diatas, tiga kegaiban tiada yang tahu, semua hanya menertawakan Ci Kung orang dungu.”

    Roh Bapak Guru pada tahun 1978 juga pernah memberikan wejangan sebagai berikut: “Orang menertawakan aku sinting, sebetulnya tidak. Aku dinamakan Ci Kung. Aku berkelana keseluruh penjuru, ringan tiada beban, murid-muridku bila meniru aku pura-pura bodoh, engkau adalah Ci Kung kecil, Ci Kung menolong masalah pribadi juga akan menjadi kepentingan umum (Ci Kung mengandung 2 arti: 1. Penolong Publik 2. Penolong Adil)

    Beliau juga pernah bertutur:
    “Ha ha... ada orang membuat Hikayat Ci Kung, menuturkan aku minum-minuman keras dan makan-makanan dari yang berjiwa, masih beruntung tidak digambarkan Ci Kung beranak istri punya keluarga, itu lebih gawat lagi! Kesalahan ini turun-temurun, sangat menggelikan. Sejak lahir nasibku memang sudah ditentukan, sejak remaja berniat jadi pendeta. Lalu setelah diingatkan oleh pendeta tinggi dari biara Ling Yin, baru aku tahu aku adalah titisan Lohan Berbaju Ungu, karena masa itu adalah dinasti Sung sedang mengalami kesulitan besar, maka aku khusus diutus ke dunia untuk menolong negara, aku menyembunyikan sifat asliku, berpura-pura mabuk dan makan daging, mengingatkan orang-orang yang bodoh dan sesat, merubah situasi yang buruk, tapi belakangan ada orang yang mengatakan Ci Kung juga minum arak dan makan daging, salah pengertian ini terus berlanjut, betul-betul dari kesalahan pengertian yang sedikit menjadi fatal. Di dunia ada kaum padri yang taat pada pantangan dan aturan, maka tidak mungkin ada Lohan yang minum arak makan daging. Aku disebut sebagai Buddha, hal ini harus dapat anda bedakan mana yang benar mana yang tidak, mana yang pualam, mana yang batu biasa. Jangan Salah.”

    Nb: Semoga riwayat dari Bapak Guru ini MENJAWAB PERNYATAAN FITNAHAN yang mengatakan kalo Bapak Guru kita (Thien Ran Ku Fo) ditangkap dan meninggal di tembak oleh regu penembak pemerintahan Cheng Tu, apalagi juga menyatakan bergabung dengan Jepang melakukan kerusuhan benar-benar fitnahan yang sangat kejam....

    QUOTE dari Pada tahun 1946, Chang Thien Ran ditangkap karena menyebarkan doktrin
    sesat yang meracuni pikiran masyarakat setempat bahwa dengan
    menyatakan kode rahasia akan membuat mereka menjadi Buddha dalam
    bentuk manusia. Disamping itu, dia juga bergabung dengan Jepang
    melakukan kerusuhan di ibukota.

    Pada tanggal 13 Agustus 1947, Chang Thien Ran ditembak mati oleh regu
    penembak pemerintah di Cheng Tu, ibukota She Chuan. Tindak
    kejahatannya diterbitkan di koran-koran setempat. Menyusul peristiwa
    ini, pemerintah mengeluarkan larangan keras segala aktivitas Yi Guan
    Dao.

0 komentar:

Poskan Komentar

Informasi

Video ini biasanya banyak dicari , saya bagikan untuk kawan kawan . Semoga Buddha Dharma semakin berkembang,Jika Tergerak untuk Donasi , Silahkan Di paypal saja.Om Mani Padme Hum.

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;