Senin, 27 Agustus 2012

Sesat Atau Tidak kah i - kuan tao itu ?



APAKAH SANG BUDDHA MASA MENDATANG TELAH HADIR DI DUNIA INI?


PENGANTAR

Belakangan ini di negeri kita dimarakkan oleh suatu aliran keagamaan yang menamakan dirinya Maitreya, yang dalam Bahasa Mandarin disebut dengan Yi Guan Dao (baca I Kwan Tao). Sesungguhnya sebagai seorang Buddhis kita dapat menghormati agama dan aliran apapun, sebagaimana yang diajarkan Sang Buddha dalam UPALI SUTTA, namun yang menjadi masalah aliran ini telah mendompleng nama Buddhisme dalam penyebarannya.

Dalam makalah kali ini kita akan membahas benarkah aliran Maitreya dapat digolongkan pada Buddhisme dan apabila tidak apakah alasannya. Mengingat perkembangan aliran ini yang demikian pesatnya. Berdasarkan pengalaman penulis semasa masih tinggal di Jakarta, pada hampir tiap-tiap perumahan terdapat cetiya (mereka menyebutnya dengan istilah Mandarin: Fo Tang [baca: Foo Dang]) aliran tersebut.

Selain itu kita juga akan membahas gerakan-gerakan keagamaan yang serupa dengan Maitreya pada sepanjang sejarah Tiongkok untuk menarik keterkaitannya dengan Aliran Maitreya.

Makalah ini juga tidak dimaksudkan untuk menjelek-jelekkan ataupun menghina aliran Maitreya, melainkan untuk mendudukkan permasalahan pada proporsinya yang benar. Bagi rekan-rekan diharapkan agar mendapatkan pengertian yang benar mengenai apa itu sesungguhnya Aliran Maitreya tersebut. Selamat membaca.


A.SEJARAH.


1.Ciri Khas Umum Aliran-Aliran Sesat dalam Sejarah Tiongkok.

Negeri Tiongkok merupakan tempat yang subur bagi perkembangan berbagai aliran bidaah atau menyimpang, baik yang berakar dari Taoisme maupun Buddhisme. Sebelum kita menganalisanya satu persatu, maka baiklah kita menarik terlebih dahulu ciri-ciri umum aliran-aliran tersebut:

(i).Berawal dari gerakan pemberontakan untuk menggulingkan suatu dinasti atau pemerintah yang saat itu sedang berkuasa.

(ii).Para pemimpinnya mengaku titisan dewa tertentu (bagi yang berlatar belakang Taoisme) dan titisan Bodhisattva tertentu (bagi yang berlatar belakang Buddhis). Dalam propagandanya mereka mengatakan bahwa dinasti yang sedang berkuasa telah terlalu bobrok dan mereka telah menerima mandat surgawi untuk berkuasa menggantikan pemerintahan yang lalim pada saat itu.

(iii).Bagi aliran sempalan yang berlatar belakang Buddhis, Bodhisattva yang banyak dipilih adalah Maitreya. Jadi banyak pemimpin sekte atau pemberontakan yang berasal dari kalangan Buddhis mengaku bahwa diri mereka adalah penjelmaan Maitreya.

(iv).Pemberontakan diawali dengan membentuk suatu sekte rahasia untuk mengumpulkan para pengikut. Agar menarik minat rakyat jelata maka kadang-kadang dibumbui dengan mistik. Para anggota disumpah dengan ritual khusus, yang juga timbul saat ketidak puasan merajalela di kalangan rakyat.

Baik marilah kita mulai membahas sejarah aliran-aliran sesat di Tiongkok mulai dari jaman yang paling awal hingga pada timbulnya aliran Teratai Putih (Bai Lian, baca: Pai Lien) yang merupakan cikal bakal Yi Guan Dao.


2.Sejarah Aliran-Aliran Sesat dalam Sejarah Tiongkok.

a.Dinasti Han (202 SM ? 221M)

Marilah kita kembali pada masa akhir Dinasti Han pada abad ketiga Masehi. Pada saat itu kekuasaan Kaum Kasim menjadi semakin besar, sehingga kaisar hanya menjadi boneka mereka saja. Mereka sangat lalim dan korup sehingga Dinasti Han menjadi lemah. Ketidakpuasan merebak di kalangan rakyat, di mana hal tersebut berpuncak pada Pemberontakan Topi Kuning (Huang Qin) pada tahun 184 M

(i). yang dipimpin oleh tiga bersaudara bermarga Zhang. Pemimpin utamanya bernama Zhang Yue (Thio Kak dalam lafal Hokkian)

(ii). Zhang Yue merupakan seorang mahasiswa ilmu ketabiban yang gagal, namun ia memiliki kemampuan mengobati orang. Banyak rakyat yang disembuhkan olehnya dari berbagai penyakit sehingga mereka kemudian tertarik untuk menjadi pengikutnya. Legenda mengatakan bahwa kemampuan pengobatan tersebut diperolahnya dari seorang dewa bernama Nan Hua Lao Shen (Hokkian: Lam Hoa Lo Sian) atau dewa tua dari pegunungan Lam Hoa yang memberikannya sejilid kitab ilmu pengobatan. Di depan massa pengikutnya Zhang Yue berpidato bahwa pamor kerajaan Han telah pudar dan ia telah ditakdirkan untuk menggantikannya, oleh sebab itu ia mewajibkan para pengikutnya untuk mengenakan topi atau penutup kepala berwarna kuning, yang melambangkan keunggulan gerakannya dari Dinasti Han

(iii). Ia juga membagi-bagikan jimat (hu) pada para pengikutnya agar mereka menang perang. Mereka kemudian bergerak ke ibu kota dan berhasil menimbulkan kepanikan dan kerusakan besar pada Dinasti Han, namun akhirnya pemberontakan ini berhasil ditumpas.

b. Dinasti Sui (589-618)

Pada bulan Januari 610 AD, sejumlah orang berpakaian warna putih dengan rambut diikat pita putih dan tangan memegang kemenyan yang membara serta bunga-bunga, mengumumkan datangnya Maitreya Buddha ke dunia ini dengan mengadakan prosesi menuju kota Chian Kuok dan pada saat mereka hendak memasuki pintu Chian Kuok, pengawal di pintu menyambut kedatangan mereka dengan berlutut dan mempersilahkan mereka masuk.

Tetapi ketika mereka sedang berlutut, orang-orang saleh palsu (bandit-bandit) itu merampok senjata-senjata mereka dan ketika tindakan ini hampir mengakibatkan kerusuhan, bantuanpun datang untuk menaklukkan bandit-bandit tersebut. Orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan ditangkap. Jumlah yang tertangkap mencapai kira-kira seribu keluarga.

Tiga tahun kemudian pada bulan Desember 613 AD, seorang yang bernama Siang Hai Ming menyatakan dirinya sebagai reinkarnasi Maitreya Buddha, mengumpulkan penganut-penganut dan melancarkan pemberontakan dan mengangkat dirinya sebagai raja, dan pada akhirnya membangun satu kerajaan di Pei Wu. Setelah beberapa saat, Raja dari Dinasti Sui mengirimkan pasukan untuk menaklukkan dia.

c. Dinasti Tang (618-906)

Pada zaman Dinasti Tang, ada lagi seorang saleh palsu yang bernama Wang Hwai Koo mengumumkan suatu berita yang keliru yakni Sakyamuni Buddha telah mengundurkan diri dan telah digantikan oleh Maitreya Buddha, dan bahwa keluarga Li akan runtuh sedangkan keluarga Yang akan bangkit lagi. Li adalah marga dari Raja pertama Dinasti Tang dan Yang adalah marga dari Raja pertama Dinasti Sui. Pemerintah mendengar kabar itu segera mengirimkan pasukan untuk bertempur dengan kelompok Wang Hwai Koo. Wang Hwai Koo dan pengikut-pengikutnya ditangkap dan dihukum mati.

Tokoh lain pada masa Dinasti Tang yang juga mengaku sebagai penjelmaan Maitreya adalah Ibu Suri Wu Zetian (Hokkian: Bu Cek Tian). Ia memerintah dari tahun 690-705. Setelah suaminya Kaisar Gao Zong (649-683) wafat, ibu suri Wu perlahan-lahan berusaha untuk meraih kekuasaan, hingga akhirnya berhasil menumbangkan Dinasti Tang untuk sementara waktu dan menjadi kaisar. Ratu Wu sebagai alat propaganda kemudian memanfaatkan Agama Buddha dan Tao agar rakyat menganggapnya sebagai makhluk suci (padahal Ratu Wu sangat kejam karena telah menyiksa sampai mati para selir suaminya terdahulu).

(iv). Dari Kalangan Tao ia menerima gelar "Ibu para Dewa" (Bahasa Inggris: Sage Mother) atau Lao Mu dan dipuja pada kuil-kuil Taois. Untuk meraih simpati Umat Buddha dikaranglah pada saat itu suatu Sutra palsu yang berjudul Sutra Awan Agung (Great Cloud Sutra) yang isinya seolah-olah Buddha Sakyamuni telah menubuatkan bahwa Maitreya atau Buddha yang akan datang akan terlahir sebagai wanita, yang di bawah pemerintahannya "Panen akan berlimah, kebahagiaan akan menjadi tak terhingga. Rakyat akan berjaya, terbebas dari penderitaan dan penyakit. Para penguasa dari negara-negara tetangga akan berdatangan dan menawarkan diri untuk menjadi taklukan." Vihara-vihara yang disponsori negara bersama-sama mempermaklumkan ajaran baru ini dan menggelarinya "Maitreya yang tanpa cela". Wu kemudian memerintahkan dipahatnya patung Maitreya raksasa di Longmen yang wujudnya mirip dirinya.

d. Dinasti Sung (960-1279).

Pada masa pemerintahan Kaisar Ren Zong (1022-1063), bulan November 1047, pemimpin dari Aliran Maitreya Wang Tzeh merencanakan suatu pemberontakan. Pada mulanya dia adalah seorang gembala kemudian dia mendaftarkan diri menjadi tentara. Sementara itu buku ajaran-ajaran sesat telah beredar ke-mana-mana. Buku tersebut memuat pernyataan jahat yang sama yaitu "Sakyamuni Buddha telah mengundurkan diri dan Maitreya Buddha yang bertanggung jawab atas urusan manusia di dunia. Mereka mengeluarkan slogan bahwa Zaman Putih "istilah Bahasa Cina adalah Pai Yang" telah tiba.

Ketika Wang Tzeh menjadi walikota, penganut-penganutnya mengangkat dia sebagai pemimpin mereka dan kemudian melancarkan pemberontakan di propinsi Pei. Wang Tzeh memproklamirkan dirinya sendiri sebagai Raja. Pada tahun baru di bulan Pebruari 1048, pasukan-pasukan raja menyelinap ke dalam kota melalui terowongan. Wang Tzeh ditangkap dan dihukum mati.

e. Dinasti Yuan (Mongol) (1279-1368).

Orang-orang kerajaan Mongol menghormati segala agama: Buddha, Kr*st*n, Isl*m dan Taoisme. Tetapi melarang Aliran Maitreya. Di antara agama yang disebut di atas, agama Buddhalah yang mendapatkan penghargaan tertinggi, khususnya oleh keluarga raja, sehingga agama Buddha mendapat fasilitas khusus dan juga mendapatkan fasilitas bebas pajak. Oleh karena itu, penganut-penganut Maitreya merembes ke perkumpulan Bai Lian yang dibentuk oleh Master Hwei Yen. Pengembangan utama bagi sekte ini dititik beratkan pada pembacaan nama Amitabha Buddha. Setelah 5 tahun berada di perkumpulan Bai Lian, nama Maitreya menjadi Perkumpulan Bai Lian (sesuai dengan nama organisasi yang mereka nyusupi).

Mereka menjalin hubungan baik dengan pegawai-pegawai pemerintah dan juga orang-orang berpengaruh di masyarakat. Selain itu, mereka juga ber-pura-pura melakukan kegiatan sosial. Dengan cara demikian, secara bertahap mereka menjadi sah dalam hukum pemerintahan, tetapi pengesahan tersebut bertahan hanya 9 tahun. Ketika Raja Shidebala (Ying Zong) naik tahta pada tahun 1321, beliau melarang aliran itu. Pada saat itu, situasi politik sedang memburuk dan Aliran Maitreya mengambil keuntungan dari situasi tersebut untuk menyebarkan ajaran yang menyimpang.

Hampir tiga tahun kemudian (1323), Raja Ying Zong dibunuh. Dua puluh delapan tahun setelah beliau wafat atau pada masa pemerintahan Raja Toghon Temur (Shun Di ? memerintah 1333-1368) yakni pada bulan Mei 1351, penganut-penganut Bai Lian, dengan Liew Foo Thong sebagai dalang utama dan Han San Thong sebagai pemimpin, merencanakan untuk memberontak melawan Dinasti Yuan dan memproklamirkan dirinya sebagai King Ming. Ciri-ciri tentara mereka adalah membakar kemenyan dan pengikut-pengikutnya mengikat kepala mereka dengan syal merah. Karena itulah pemberontakan ini dalam sejarah dinamakan Pemberontakan Ikat Kepala Merah (Red Turban). Tetapi rencana pemberontakan tersebut bocor, Han San Thong tertangkap dan dihukum mati. Istri dan anak lelakinya, Han Lin Er meloloskan diri. Pengikut-pengikut yang melarikan diri dikumpulkan oleh Liew Foo Thong untuk membentuk suatu tentara yang berjumlah ratusan ribu orang. Tentara tersebut menyerbu dan menaklukkan propinsi Ing Chuan.

Pada bulan Februari 1355, Liew Foo Thong memproklamirkan Han Lin Er sebagai Raja Ming kecil.

Pada bulan Januari 1352, seorang penganut Bai Lian yang kaya, Kuo Tze Hsing, juga mengumpulkan penganut-penganut untuk bekerja sama dengan Han Lin Er. Kuo menyatakan dirinya sebagai Jenderal. Pada tanggal 26 Februari, tentaranya menaklukkan propinsi Hau Chou.

Pada bulan Maret tahun yang sama, Zhu Yuanzhang (Hokkian: Cu Goan Ciang) bergabung dengan mereka sebagai bawahannya. Zhu telah menjadi rahib sejak kecil. Dia meninggalkan Sangha untuk menjadi seorang awam karena kuti di mana dia tinggal telah dibakar. Zhu mempunyai penampilan yang tampan dan tubuhnya tegap. Selain itu, dia selalu menang dalam peperangan. Kuo Tze Hsing begitu terkesan sehingga dia mengangkat Zhu sebagai menantu laki-laki.

Tiga tahun kemudian, Kuo meninggal dan putranya Kuo Thien Shih menjadi pemimpin. Han Lin Er mengangkat anak Kuo sebagai panglima, Chang Thien Yew dan Zhu sebagai Jenderal pertama dan kedua. Enam bulan kemudian, Kuo Thien Shih dan Chang Thien Yew dibunuh. Akibatnya semua tentara berada di bawah perintah Zhu Yuanzhang.

Pada bulan Februari 1363, Liew Foo Thong dibunuh dan Han Lin Er dengan cepat mengirim berita kepada Zhu untuk meminta bantuan segera.Bantuan diberikan segera dan Han Lin Er diselamatkan. Sejak itu Han Lin Er menjadi boneka Zhu Yuanzhang. Pada bulan Desember 1366, atasnama untuk menyambut kedatangan Han Lin Er ke selatan, Zhu mengirim satu kapal untuk menjemput Lin Er. Dalam perjalanan, Zhu memerintahkan orang membalikkan kapal tersebut dan Lin Er tenggelam, tentu saja Zhu Yuanzhang menjadi pengganti.

Supaya bisa menghibur mereka, Zhu pada tanggal 4 Januari 1368 mengumumkan "Ming" sebagai nama rezimnya. Dengan demikian, dia menjadi Raja pertama Dinasti Ming. Inilah untuk pertama kalinya suatu pemberontakan sekte rahasia berhasil mengangkat pemimpinya menjadi kaisar. Zhu lalu bergelar Hong wu dan memerintah dari tahun 1368-1398.

f. Dinasti Ming (1368-1644)

Berhubung Raja Choo Yen Zang pernah menjadi bhikkhu, dia amat paham tentang isi dari agama Buddha. Oleh karena dia sadar bahwa penganut-penganut Bai Lian telah mengambil dan kemudian merubah Buddhadharma sesuai pemikiran mereka. Mereka menggunakan nama aliran Maitreya Buddha hanya sebagai topeng untuk menipu orang-orang yang tidak mengerti latar belakang mereka.

Setelah Zhu naik tahta menjadi raja dia mengeluarkan perintah melarang aktivitas dari aliran Bai Lian. Sejak itu, pengikut ajaran Bai Lian mengajarkan ajaran sesatnya pada malam hari saja dengan pintu dan jendela tertutup rapat.

Pada zaman Dinasti Ming, kerajaannya paling banyak menderita karena pemberontakan Bai Lian yang sangat sering terjadi. Banyak dari pemberontakan ini terjadi ketika negara tersebut sedang dalam kehancuran dan lelah dalam menghadapi perang dengan penyerang dari luar negeri. Berikut adalah beberapa pemberontakan terkenal yang tercatat dalam sejarah:

1.Pada tahun 1373 Pheng Phu Kui, pengikut Bai Lian dari SheChuan mengumpulkan orang-orang, menyerang dan menjajah 14 kota secara berturut-turut dan pemerintah menghabiskan waktu beberapa bulan untuk menaklukkan mereka.
2.Zin Kang Nu dan Tien Chiew Cheng berontak pada saat negara sedang kalah perang dengan Vietnam.
3.Thang Sai Er mengambil keuntungan dari kesempitan ketika Jepang sedang mengganggu Liaw Tong yang terletak di timur laut China.
4.Ketika ada ancaman dari Manchuria dan keluarga raja sedang mengalami keributan dalam kerajaan, Chao Ik San, atas nama Maitreya Buddha mengumumkan dirinya sebagai raja dan berontak melawan pemerintah.
5.Wang Hsing and Chee Hong Joo paling terkenal dengan nama buruknya dan memiliki tentara yang terbesar. Pada saat keluarga raja dan rakyat pada umumnya sedang panik karena Manchuria sudah masuk perbatasan China dan telah menaklukkan 40 kota di Liaw Tong, Wang Hsing and Chee Hong Joo memimpin 2 juta tentara, menyerang dan menjajah kota-kota besar di propinsi Shantong dan bahkan mencuri alat transportasi pemerintah yang membawa makanan. Supaya dapat bertempur dengan tentara yang begitu besar, pemerintah terpaksa mengirimkan tentara di Liaw Tong. Ini berarti tentara Bai Lian memberikan bantuan besar kepada tentara Manchuria.

Di antara penganut-penganut Bai Lian yang terkenal, terdapat seorang wanita, Tang Sai Er, yang memiliki ilmu hitam. Dia berkata bahwa dia telah memperoleh sebuah buku dari surga di mana buku tersebut diketemukan dari dalam batu besar. Dengan buku tersebut dia bisa menguasai roh-roh dan dewa/dewi dan bisa mendapatkan pakaian maupun makanan yang ia inginkan.

Beribu-ribu orang awam, karena terpesona oleh ajaran sesatnya, mengikuti dia. Pada satu pertempuran dengan tentara kerajaan, Tang Sai Er menggunakan ilmu hitam untuk melindungi dirinya. Banyak roh-roh yang tampangnya mengerikan muncul di langit. Karena tahu bahwa Tang Sai Er mungkin akan menggunakan ilmu hitam, jenderal kerajaan itu membawa sedikit darah yang kemudian disiramkan ke roh-roh yang tampak itu. Dengan segera, roh-roh yang mengerikan tersebut berubah menjadi manusia-manusia dan kuda-kuda kertas. Sai Er berhasil meloloskan diri tetapi kemudian tertangkap. Dia dirantai dan dikirim ke ibukota dengan menggunakan kereta tahanan. Tetapi, dalam perjalanan, dengan kekuatan ilmu hitam, Sai Er berhasil bebas dari belenggu rantainya dan menghilang. Sejak saat itu dia tidak pernah diketemukan lagi.

Ilmu hitam Tang Sai Er diperkirakan diwariskan ke generasi berikutnya. Pada tahun 1557, terdapat seorang yang bernama Ma Cu She di mana dengan ilmu hitamnya dapat membuat prajurit kertas menjadi seperti prajurit yang sebenarnya. Pada saat prajurit kertas itu diserang, ia akan berbalik menyerang dan melukai penantangnya, meskipun begitu, ketika rencana pemberontakan Ma Cu She diketahui oleh pemerintah, pemerintah segera mengirim tentara untuk menaklukkan Ma Cu She dan pengikutnya. Diperkirakan lebih dari 100 orang pengikutnya mati dalam medan peperangan, tetapi Ma Cu She sendiri berhasil lolos dari maut.

Pemimpin Kedelapan Yang Palsu

Pada zaman Dinasti Ming, terdapat seorang pengikut Bai Lian yang paling jahat dalam sejarah di Cina. Ajaran sesatnya mempunyai pengaruh yang paling dalam dan luas terhadap pengikut-pengikutnya sampai saat ini. Nama orang itu adalah Lo Wei Ching, lahir pada tanggal 8 Januari 1446. Dia mengatakan bahwa Sesepuh Hui Neng adalah merupakan pemimpin Sangha yang terakhir, karena Jalan ke Surga telah berubah dari sistim kepemimpinan Sangha menjadi sistim kepemimpinan orang awam. Dia merekayasa sebuah cerita bagaimana dia menerima garis kepemimpinannya sebagai berikut:

Seseorang yang bernama Pai Ik Chan menyelamatkan Sesepuh Ke-6 yang sedang dikejar oleh seorang bhikkhu kejam di ladang. Oleh karena itu, Pai Ik Chan diberikan baju dan mangkok sebagai bukti penerimaan garis keturunan pemimpin. Selama 3 tahun, Sesepuh ke-6 sembunyi di rumahnya. Kemudian Pai Ik Chan dan seorang guru besar Tao Ik dinobatkan bersama sebagai pemimpin ke-7. Ini benar-benar merupakan kebohongan yang besar dan menggelikan.

Penjelasan yang benar adalah Sesepuh ke-6 lahir pada tanggal 8 February 638, sedangkan Pai Ik Chan lahir tahun 1194 pada jaman Dinasti Sung, sehingga ada perbedaan waktu 450 tahun. Maka itu, bagaimana dia bisa menyelamatkan Sesepuh ke-6? Kecuali waktu bisa berputar kembali. Guru Pai Ik Chan yang bernama Ma Tao Ik adalah cucu murid dari Sesepuh ke-6 dan lahir sedikitnya 400 tahun sebelum Pai Ik Chan. Oleh karena itu, bagaimana Pai Ik Chan bisa bertemu dengan pemimpin ke-6 sebelum guru dia Ma Tao Ik? Selain itu, Lo Wei Ching adalah orang yang hidup pada zaman Dinasti Ming, lahir beberapa ratus tahun setelah Pai Ik Chan, bagaimana Pai Ik Chan menyampaikan "Jalannya" kepada Lo Wei Ching?

Seperti yang tertulis dalam sejarah agama Buddha, garis keturunan dari kepemimpinan berakhir pada Sesepuh ke-6 Hui Neng. Sistim kepemimpinan ini diteruskan ke Cina dari India oleh pemimpin Bodhidharma. Dia adalah Sesepuh pertama di Cina dan juga sebagai pendiri sekolah Zen di Cina. Sebelum meninggal, beliau mengatakan bahwa sistim kepemimpinan Zen akan berakhir pada Sesepuh ke-6. Sejak itu, hanya Dharma yang akan berputar, kain dan mangkok tidak merupakan tanda kepemimpinan.

Berikut ini adalah ajaran sesat yang dipelopori oleh Lo Wei Ching:

-Dia merupakan pendiri dari sistim kepemimpinan umat awam. Dia mengatakan bahwa "Jalan Surga" telah berubah dari sistim kepemimpinan Sangha menjadi sebuah sistim yang dikendalikan oleh umat awam (penerjemah: maksudnya tidak ada lagi Sangha dalam ajaran mereka).

-Dia memulai semboyan bahwa "Tiga agama menjadi satu". Ketiga agama itu adalah Juisme (ajaran kuno di Cina), Taoisme dan Buddhisme.

-Dia mengarang cerita bahwa Tuhan yang bernama Lao Mu ada di Surga Wu Zhi. Segala makhluk diciptakan olehNya.

-Sejak terbentuknya Aliran Maitreya (Yi Guan Dao), selalu ada pernyataan bahwa sistim dunia terbagi menjadi 3 periode yakni Periode Hijau, Periode Merah dan Periode Putih. Periode Putih ini merupakan periode akhir zaman yang menurut mereka dunia akan kiamat pada periode ini.

Lukisan tentang dunia kiamat oleh mereka sbb : Akan terjadi malapetaka angin, hembusan angin begitu kuat sehingga orang hanya akan mendengar "bum?" bagaikan surga akan ambruk dan bumi akan retak, dan hanya sekejap mata segala sesuatu benda musnah, tak satu makhlukpun yang terlihat. Mereka membuat cerita dunia kiamat dengan menjiplak teks ajaran Buddha dan kemudian melakukan banyak pengubahan-pengubahan.

Menurut teks agama Buddha, periode waktu antara pembentukan alam dunia dihitung berdasarkan tiga kalpa: Kalpa Kecil, Kalpa Sedang dan Maha Kalpa. Aliran Yi Guan Dao (Aliran Maitreya) mengubah nama kalpa menjadi Periode. Sebenarnya teks agama Buddha mengatakan bahwa dunia akan musnah total pada akhir Maha Kalpa yang akan tiba pada trilliun tahun mendatang. Mereka mengatakan bahwa akhir kalpa akan segera datang supaya dapat membuat orang-orang menjadi panik dan masuk aliran sesat tersebut.

Berdasarkan ajaran ini Lo Wei Ching selanjutnya menyatakan bahwa pada akhir Periode Putih (penerjemah: maksudnya akhir zaman), Tuhan mereka "Lao Mu" akan turun ke dunia membawa kembali 96 milyard anak-anak sejati ke sisiNya. Anak-anak ini akan menikmati kekayaan dan kemakmuran di surga sesuai dengan perbuatan baik mereka (pengertian perbuatan baik disini adalah dedikasi yang dalam kepada Aliran mereka).

Agar dapat mengendalikan pengikut-pengikutnya, Lo mengeluarkan peraturan bahwa orang-orang yang mencari "Jalan Surga" harus bersumpah kepada Tuhan Lao Mu. Sumpah-sumpah itu sangat kejam dan berbunyi sebagai berikut:

-Seorang tidak boleh mencari "Jalan Surga" dengan pura-pura
-Seseorang tidak boleh mundur ketika diminta untuk maju
-Seseorang tidak boleh membocorkan rahasia aliran, karena tindakan itu akan mengakibatkan tertangkapnya pemimpin dan kematian dari pemimpin aliran tersebut.
-Seseorang tidak boleh tidak sopan kepada "Chien Jen" yakni gelar yang diberikan kepada pejabat tinggi dalam aliran itu. Chien Jen memegang jabatan "orang kedua" dalam aliran tersebut. (Jumlah Chien Jen sangat sedikit, tetapi selain pemimpin tertinggi mereka "She Mu" mereka memegang kekuasaan tertinggi dan disanjung oleh pengikut-pengikut mereka, dan saat mereka tiba ataupun pergi selalu diiringi tata cara yang khidmat seperti yang biasa dilakukan terhadap keluarga kerajaan atau pejabat kerajaan yang berpangkat tinggi).
-Seseorang tidak boleh menganggur tanpa melakukan penyebaran ajaran mereka dengan penuh semangat.

Siapa saja yang melanggar salah satu dari peraturan-peraturan tersebut di atas akan disambar halilintar dan dibakar lima kali.

Dalam agama Buddha, terdapat satu hal yang amat penting yaitu Triratna: Buddha, Dharma dan Sangha. Maka untuk menandingi Triratna agama Buddha, Lo Wei Ching menciptakan Triratna versi dia sbb:

-Menunjuk "Hsien Kuan" yaitu menunjuk bagian tengah dahi di antara kedua alis mata dengan menggunakan jari tengah oleh seorang pandita mereka yang disebut Tien Chuan She
-Memberitahukan kode lisan yang terdiri dari 5 kata: Wu, Thai, Fu, Mi, Lek.
-Mengatupkan tangan dengan cara-cara tertentu

Seseorang yang ingin menjadi anggota baru harus mendapat rekomendasi dari dua orang anggota lama. Tetapi orang cacat, tukang jagal, pelacur-pelacur, preman-preman dan gelandangan-gelandangan tidak diterima sebagai penganut.

Pada tahun 1527, usaha Lo Wei Ching untuk menggulingkan rezim itu gagal. Dia ditangkap dan kemudian dihukum mati dengan cara tubuhnya ditarik dan dikoyak oleh 5 kereta kuda.

Kode Lisan
Lima kode lisan yaitu Wu, Thai, Fu, Mi, Lek dikatakan sangat membantu dalam keadaan bahaya. Tetapi kode lisan ini tidak dapat dibocorkan kepada siapapun, bahkan orang tua sendiri, suami dan isteri atau anak mereka jika mereka bukan anggota. Pada zaman Dinasti Qing, lima kata itu dirubah lagi menjadi: Min, Ta, Pao, Sin, Ik. Tetapi kode ini dirubah kembali menjadi kode yang semula, ketika Dinasti Qing runtuh dan menjadi Republik.

g. Dinasti Qing (Manchu) (1644-1911).

Pada zaman Dinasti Qing, pemberontakan dari aliran Bai Lian (Yi Guan Dao) sangat sering terjadi, khususnya pada pemerintahan Raja Qian Long (1736-1795) dan Raja Jia Jing (1796-1820). Pada akhir Dinasti Qing, yaitu pada tahun ke-18 pemerintahan Raja Jia Jing, nama aliran Bai Lian berubah lagi menjadi aliran Tien Li atau kadang-kadang disebut aliran Pa Kua. Pada suatu pemberontakan pengikut-pengikut Bai Lian gagal dan mereka bubar. Sebagian mereka bertobat dan menjadi bhikkhu tetapi yang lainnya tetap setia pada alirannya. Untuk menghindari perhatian pemerintah, aliran Bai Lian dibagi menjadi berbagai cabang-cabang dengan nama yang berbeda-beda. Aliran "Yi Guan Dao" yang ada sekarang merupakan salah satu cabang dari aliran Bai Lian.

He Liau Ko
Dia merupakan pemimpin kedua Yi Guan Dao. Dia mulai berontak melawan Dinasti Ching pada pemerintahan Qian Long di tahun 1774. Dia adalah seorang penghasut dan perencana jahat. Beberapa pemberontakan yang terjadi pada masa itu adalah hasil hasutannya. Pada tahun 1795, dia melancarkan satu pemberontakan secara besar-besaran yang merusak banyak propinsi yakni She Chuan, Hu Pei, He Nan, An Hui, Khan Su dan lain-lain. Pemberontakan ini disebut dalam sejarah Cina sebagai "Kerusuhan oleh bandit-bandit dari aliran Bai Lian (sekarang disebut Yi Guan Dao).

Wang Jue Yi
Dia merupakan keturunan dari Wang Hsing yang terkenal dengan reputasinya yang buruk pada zaman Dinasti Qing. Pada akhir zaman Dinasti Qing, ada organisasi yang memberikan pelatihan tinju yang disebut Yi He Tuan (Tuan== bataion) atau disebut Yi He Quan (Quan==tinju).

Organisasi ini berkedok sebagai tempat pelatihan tinju padahal organisasi ini Yi He Tuan adalah organisasi militer dengan cabang-cabang yang tersebar di berbagai tempat. Wang Jue Yi adalah panglima dari organisasi ini. Dengan kata lain, sebenarnya Yi He Tuan adalah organisasi Pai Lian (sekarang disebut Yi Guan Dao).

Sudah tentu, aliran Pai Lian masih dibawah pengawasan ketat dari pemerintah. Usaha pembasmian dari pemerintah terhadap pemberontak Pai Lian masih sering dilakukan. Pada saat itu, Ibu Suri Ci Xi ingin menggulingkan Kaisar dari tahta dengan tujuan untuk mengalihkan tahta kerajaan kepada keponakannya (Kaisar itu adalah anak dari hasil perkawinan selir dengan kaisar almarhum), tetapi rencana Ci Xi mendapat hambatan yang luar biasa dari pihak asing yang mendukung Kaisar. Supaya bisa menangani orang-orang asing tersebut, Ibu Suri mengizinkan anggota Yi He Tuan memasuki ibukota. Anggota seperguruan tertua (paling senior) yang bernama Chao Fu Thien, bersama dengan pemimpin-pemimpin cabang lainnya dipanggil ke istana untuk diberikan kehormatan berupa topi dan jubah yang mana hadiah ini hanya boleh dipakai oleh pejabat-pejabat tinggi di istana. Ini merupakan yang kedua kali dalam sejarah Cina dimana aliran sesat ini disetujui oleh pemerintah. Tidak lama setelah aliran Bai Lian masuk ibukota,
sekretaris Duta Besar Jepang dibunuh dan menyusul peristiwa itu, terjadi pembakaran dan pembunuhan secara besar-besaran. Pembakaran dan pembunuhan tersebut mengakibatkan pengaruh yang sangat besar dalam sejarah yaitu delapan negara asing (yaitu Inggeris, Amerika, Perancis, Jepang, Rusia, Austria dan Itali) bergabung dalam membentuk tentara sekutu untuk menyerang dan menduduki ibukota Cina. Inilah yang dalam sejarah dikenal sebagai Pemberontakan Boxer.

Setelah kejadian ini, anggota seperguruan tertua Chao Fu Thien, ditangkap oleh penduduk sekampung dengan kedua tangan diikat untuk diserahkan kepada pemerintah. Chao Fu Thien kemudian dihukum mati. Aliran sesat ini kembali mendapat larangan dari pemerintah Cina. Dengan kata lain, pengesahan aliran sesat ini hanya bertahan lebih kurang sebulan saja.

h. Republik Cina (1911- sekarang).

Chang Thian Ran.
Dia adalah pemimpin ke-18 aliran Yi Guan Dao. Dia dibesarkan di keluarga yang menganut aliran Pai Lian selama beberapa generasi. Semua pemimpin aliran sesat ini menyatakan dirinya sebagai inkarnasi Buddha Maitreya, namum ironisnya, semuanya mempunyai ambisi menjadi kaisar dan berakhir dengan kematian tragis. Berdasarkan fakta-fakta yang telah disebutkan diatas, maka Chang Thien Ran merubah pernyataan "Inkarnasi Buddha Maitreya" menjadi "Manusia Buddha Ci Kong". Dengan kata lain, dia menamakan dirinya sebagai Manusia Buddha Ci Kong.

Chang Thien Ran menyatakan dirinya telah menerima suatu mandat dari surga untuk menjadikan dirinya sebagai pemimpin ke-18 Yi Guan Dao. Dia menyebarkan doktrin yang sesat sebagaimana pendahulunya melakukan yakni "Sakyamuni Buddha telah mengundurkan diri sebagai Lord of Buddhism dan Maitreya Buddha telah mengambil alih dalam pembabaran Buddhadharma. Disamping doktrin sesat yang telah tersebar luas ini, dia juga menyebarkan pernyataan yang menyimpang bahwa zaman di dunia ini terdiri dari 3 periode:

-Periode (zaman) Hijau merupakan periode untuk Dipankhara Buddha
-Periode (zaman) Merah merupakan periode untuk Sakyamuni Buddha
-Periode (zaman) Putih merupakan periode terakhir dibawah naungan Maitreya Buddha. Dengan kata lain, kalpa sekarang adalah kalpa Maitreya Buddha.

Pada tahun 1946, Chang Thien Ran ditangkap karena menyebarkan doktrin sesat yang meracuni pikiran masyarakat setempat bahwa dengan menyatakan kode rahasia akan membuat mereka menjadi Buddha dalam bentuk manusia. Disamping itu, dia juga bergabung dengan Jepang melakukan kerusuhan di ibukota.

Pada tanggal 13 Agustus 1947, Chang Thien Ran ditembak mati oleh regu penembak pemerintah di Cheng Tu, ibukota She Chuan. Tindak kejahatannya diterbitkan di koran-koran setempat. Menyusul peristiwa ini, pemerintah mengeluarkan larangan keras segala aktivitas Yi Guan Dao.

Setelah kematian Chang Thien Ran, isterinya yang bernama Sun Suk Cen, sering dipanggil dengan SheMu (gelar kehormatan untuk isteri guru) dijadikan pemimpin tertinggi Yi Guan Dao. Tidak lama kemudian Sun Suk Cen datang ke Taiwan dan menjadi pemimpin tertinggi Yi Guan Dao di Taiwan.


3. Sutra-Sutra palsu yang menjadi doktrin Maitreya.

Sejarah mencatat bahwa Agama Buddha masuk ke Tiongkok pada jaman Dinasti Han (202 SM ? 221 M). Masuknya agama asing tersebut telah membangkitkan perasaan tidak senang di kalangan agama lain yang lebih tua atau asli Tiongkok, seperti misalnya Agama Dao (baca Tao). Untuk menunjukkan bahwa Agama Tao lebih unggul maka dikaranglah Sutra-Sutra palsu untuk mendukung hal tersebut. Isinya antara lain menyebutkan bahwa Sang Buddha hanyalah merupakan salah satu penjelmaan Lao tzu (pendiri Agama Tao). Versi lain mengatakan bahwa Lao tzu telah menghilang dan pergi ke India. Ia mempertobatkan banyak orang di sana dan menjadi Buddha. Ada lagi yang mengatakan bahwa Lao tzu telah pergi ke India dan mengajar Sang Buddha ajaran kebijaksanaan. Inti sari dari semuanya adalah berusaha membuktikan bahwa Agama Buddha adalah berasal dari Agama Tao.

Salah satu karya semacam itu misalnya adalah Lao-tzu Hua-hu-cing atau Sutra Pertobatan Kaum Barbar, karangan seseorang bernama Wang Fu pada abad keempat M. (v). Anehnya doktrin yang dianut oleh Aliran Yi Guan Dao juga mencerminkan ajaran-ajaran semacam itu.


B. AJARAN UTAMA.

Untuk meneliti Ajaran Maitreya dapat membuka website sebagai berikut:

Bahasa Inggris:
http://www.taoism.net/gateways/Buddha.htm
http://home.kimo.com.tw/yp2758/Eyiguantao.html
http://www.taoism.net/html.html

Bahasa Indonesia:
http://www.buddhismemaitreya.org/
http://www.dutamaitreya.org/

1.Maitreya telah datang menjelma ke dunia ini dan terlahir sebagai guru mereka.

Umat Buddha Maitreya meyakini bahwa guru mereka adalah penjelmaan Buddha Maitreya dan Era Sakyamuni Buddha telah berakhir, jadi mereka yakin bahwa Maitreya telah hadir di dunia ini. Namun marilah kita perhatikan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha sendiri.

Kritikan: Mari kita perhatikan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha dalam CAKKAVATTI-SIHANADA SUTTA, Sutta ke-26 dari DIGHA NIKAYA:

"Pada saat itu [kota] yang sekarang merupakan Varanasi akan menjadi sebuah ibu kota yang bernama Ketumati, kuat dan makmur, dipadati oleh rakyat dan berkecukupan. Di Jambudipa akan terdapat 84.000 kota yang dipimpin oleh Ketumati sebagai ibu kota. Dan pada saat itu orang akan memiliki usia kehidupan sepanjang 84.000 tahun, di kota Ketumati akan bangkit seorang raja bernama Sankha, seorang Cakkavati (Raja Dunia), seorang raja yang baik, penakluk keempat penjuru?Dan pada saat orang memiliki harapan hidup hingga 84.000 itulah muncul di dunia seorang Yang Terberkahi, Arahat, Sammasambuddha bernama Metteya?.."

Jadi saat Metteya (Maitreya dalam Bahasa Sansekerta) hadir di dunia ini akan terdapat hal-hal sebagai berikut:

1.Terdapat kota "megapolis" yang bernama Ketumati.
2.Terdapat 84.000 kota di Jambudipa.
3.Terdapat seorang raja bernama Sankha. Beliau seorang Cakkavati atau raja dunia.
4.Manusia dapat hidup hingga mencapai 84.000 tahun

Nah, pada kenyataannya keempat hal di atas belum terwujud atau belum ada. Hingga saat ini usia hidup hingga mencapai 84.000 tahun masih merupakan sesuatu yang teramat sangat fantastis dan susah dibayangkan manusia. Dapat hidup hingga mencapai usia 100 tahun saja sudah merupakan sesuatu yang luar biasa.

Marilah kita coba pelajari tanda-tanda lainnya sebagaimana yang terdapat dalam BUDDHAVACANA MAITREYA BODHISATTVA SUTRA:

"O, Arya Sariputra! Pada saat Buddha baru tersebut dilahirkan di dunia Jambudvipa. Situasi dan kondisi dunia Jambudvipa ini jauh lebih baik daripada sekarang! Air laut agak susut dan daratan bertambah. Diameter permukaan laut dari ke 4 lautan masing-masing akan menyusut kira-kira 3000 yojana, Bumi Jambudvipa dalam 10.000 yojana persegi ? persis kaca dibuat dari permata lazuardi dan permukaan buminya demikian rata dan bersih?"

Nah, pertanyaannya apakah sekarang kondisi dunia sudah lebih baik dari jaman Sang Buddha? Jawabnya belum! Apakah kondisi fisik dunia sudah seperti yang digambarkan pada Sutra di atas? Jawabnya juga belum! Karena itu jelas sekali Maitreya belumlah terlahir di muka bumi ini dan saat ini masih jaman Buddha Sakyamuni.

2.Jaman Tiga Pancaran

Umat Buddha Maitreya membagi jaman dalam apa yang mereka sebut dengan tiga pancaran.

(i).Jaman pancaran hijau, Buddhanya adalah Dipankara.
(ii).Jaman pancaran merah, Buddhanya adalah Sakyamuni.
(iii).Jaman pancaran putih, Buddhanya adalah Maitreya.

Sekarang telah memasuki jaman pancaran putih, karena itu ajaran Buddha Sakyamuni tidak berlaku lagi.

Kritikan: Marilah kita pelajari urutan Buddha-Buddha yang telah hadir di dunia ini sebagaimana yang tercantum dalam kitab suci Tipitaka: BUDDHAVAMSA, yang merupakan bagian ke-14 dari KHUDDAKA NIKAYA menyebutkan mengenai 25 Buddha pada masa lampau (dengan menambahkan nama 18 Buddha pada daftar 7 Buddha yang terdapat pada Mahapadana Sutta): Dipankara, Kondanna, Mangala, Sumana, Revata, Sobhita, Anomadassin, Paduma, Narada, Padumuttara, Sumedha, Sujata, Piyadassin, Atthadassin, Dhammadasin, Siddhattha, Tissa, Phussa, Vipassin, Sikhin, Vessabhu, Kakusandha, Konagama, Kassapa, dan Gotama (Sakyamuni). Lalu kalau begitu kemanakah Buddha-Buddha yang telah hadir di antara Buddha Dipankara dan Buddha Sakyamuni. Digolongkan dalam pancaran apakah Mereka itu? Jelas sekali pengarang ajaran Maitreya tidak paham Tipitaka. Mereka tidak menyadari bahwa di antara Buddha Dipankara dan Buddha Sakyamuni masih terdapat banyak Buddha-Buddha lainnya. Kalau mereka sendiri tidak paham Tipitaka bagaimana
dapat kita mempercayai ajaran mereka?

3.Triratna atau Tiga Mestika (San Bao) ala Maitreya.

Ada tiga mestika atau San Bao yang diajarkan oleh aliran Maitreya:

(i).Membuka apa yang disebut dengan "pintu suci", yakni suatu titik di tengah-tengah alis. Aliran Yi Guan Tao (Maitreya) mengajarkan bahwa titik tersebut merupakan titik tempat keluarnya roh yang benar pada saat seseorang akan meninggal.

(ii).Mengatupkan tangan dengan cara tertentu: telapak tangan kanan dengan posisi empat jari merapat, kecuali ibu jari, posisi horisontal agak mengarah ke bawah menekuk membentuk huruf V dengan telapak bagian dalam menghadap ke arah tubuh kita. Telapak tangan kiri dengan posisi sama seperti tangan kanan menempel menutupi telapak tangan kanan sehingga telapak tangan kanan berada di antara telapak kiri dan tubuh kita. Ujung ibu jari tangan kiri menyentuh kuku ibu jari tangan kanan, kedua ibu jari posisi horizontal mengarah ke bawah.

(iii).Lima kata rahasia yang tidak boleh bocor berbunyi: "Wu Tai Fo Mi Le."

Kritikan: Bagi seseorang yang belajar Buddha Dharma, maka tidak dikenal istilah "pintu suci" atau tempat keluarnya roh. Lagipula dalam Buddhisme tidak dikenal adanya roh yang kekal (atta). Juga tidak pernah ada yang namanya mengatupkan tangan ala Maitreya dan lima kata rahasia tersebut. Yang menjadi pertanyaan mengapa kata-kata tersebut harus dalam Bahasa Mandarin? Tidak bolehkah diterjemahkan dalam bahasa lain? Hal ini juga bertentangan dengan Buddha Dharma, dimana Sang Buddha mengajarkan bahwa Dharma ajarannya bolehlah diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Lebih jauh lagi apa yang mereka sebut dengan tiga mestika tersebut jauh sekali berbeda dengan yang terdapat dalam Buddha Dharma.

4.Lao Mu
kita baca puisi yang ditulis oleh Aliran Maitreya berikut ini: "Buddha Maitreya, bangkitkanlah kekuatan jiwa, sehingga aku mampu bangkit dari kegelapan... Bekerja dan berkorban dalam nama LAOMU adalah pengimpasan dosa, namun tetap kulakukan tanpa pamrih. Membina diri berarti mencintai diri sendiri. Siapa membina, dialah yang mendapatkan. Bukanlah LAOMU yang menjauhiku, melainkan akulah yang telah menjauhkan diri dari LAOMU. Buddha Maitreya, bantulah aku dalam menghancurkan ego ini, sehingga mampu menjadi seorang pengasih bagi sesama. Terima kasih LAOMU, kesempatan masih Kau berikan kepadaku. LAOMU, melalui alam semesta, aku bersaksi akan kebesaran Kasih dan Kuasa-Mu!

Datang kepada LaoMu
Ada kalanya kita lelah dan datang kepada LaoMu, tetapi tampaknya LaoMu diam saja. Lao Mu sepertinya meninggalkan kita menghadapi semua masalah itu sendiri. Sesungguhnya tak ada yang lebih benar dari LaoMu 'LaoMu tak pernah meninggalkan kita' terlebih-lebih disaat kita dalam keadaan sulit. Hingga ada kisah yang mengatakan orang jahat lebih dekat dengan surga karena semakin jahat seseorang maka Tuhan akan berada semakin dekat untuk menyadarkannya. Penyebab mengapa kita merasa 'dianggap sepi' adalah karena kita datang sebagai cangkir yang sudah terlalu penuh. Tak ada lagi tempat kosong bagi LaoMu dan para Buddha untuk meletakkan penghiburan serta kekuatan bagi kita. Ketika menghadap LaoMu , hendaknya membiarkan hening mengisi diri, biarkan cangkir menjadi kosong. Ketika kita sedih tak perlu datang dengan kata-kata, LaoMu mengetahui dengan jelas semua yang kita alami. Hanya ada kita yang mau berserah diri untuk dihibur-Nya dan bersandar pada tiang-Nya. Jika kita menghendaki LaoMu
berkuasa sebagai Sang penghibur sejati dan sumber kekuatan diri, maka jangan pernah meragukan petunjuk-Nya. Ingat ketika kita merasa sedih, merasa pilu, merasa derita pastikan dalam diri kita bahwa LaoMu ada disamping kita, sebaliknya jika kita merasa bahagia, gembira LaoMu juga menyertai kita. "

Kritikan: Pertama kali tidak ada dalam Agama Buddha sesuatu yang disebut dengan nama Lao Mu. Menilik puisi di atas jelas sekali Umat Maitreya hendak mengasosiasikan Lao Mu dengan Tuhan, padahal dalam Buddhisme tidak dikenal konsep Tuhan semacam itu. Tidak ada Tuhan yang pengasih, sebagaimana yang dibabarkan Sang Buddha dalam JATAKA VI:208:

"Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan. Mengapa "mahadewa" itu tidak menciptakan secara baik? Bila kekuatannya dikatakan tak terbatas, Mengapa tangannya begitu jarang memberkati, Mengapa dia tidak menganugerahi kebahagiaan saja? Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela Mengapa kepalsuan menang, sebaliknya kebenaran dan keadilan gagal Saya menganggap, padangan tentang "mahadewa" adalah Ketakadilah yang membuat dunia yang diatur keliru."

Demikianlah pandangan Buddhis tentang Tuhan sudah jelas dan tidak ada yang namanya Lao Mu sebagai Tuhan ataupun mahadewa. Sajak-sajak di atas jelas lebih dekat pada Kr*st*n daripada Buddhisme. Oleh sebab itu jelas sekali Yi Guan Tao bukanlah Buddhis.

C.KESIMPULAN.
Sebenarnya masih banyak kesalahan ajaran Yi Guan Tao ditinjau dari sudut pandang Buddhisme, namun karena terbatasnya waktu akan dibatasi sampai di sini saja, karena hal-hal yang dipaparkan di atas sudah cukup jelas membuktikan perbedaan doktrin yang menyolok antara Buddhisme yang sejati dengan Yi Guan Tao. Yang kita perlu tahu hanya satu hal: YI GUAN TAO BUKAN BUDDHIS dan banyak ajarannya yang bertentangan dengan Buddhisme yang sejati. Bagi Umat Yi Guan Tao saran saya belajarlah Buddhisme yang sejati, agar pintu penerangan sempurna terbuka bagi kalian.

DAFTAR PUSTAKA
Mizuno, Kogen: Buddhist Sutras, Origin, Development, Transmission, Kosei Publishing, Tokyo, 1995.

Dharma Pitaka

Walshe, Maurice: The Long Discourses of the Buddha, A Translation of the Digha Nikaya, Wisdom Publication, 1995.

Paludan, Ann: Chronicle of The Chinese Emperors, Thames & Hudson, 1999.
I Kuan Tao atau Yi Guan Dao (一貫道)
Adalah aliran agama baru yang bermula dari Tiongkok awal abad ke-20. "I Kuan" berarti persatuan atau kesatuan, sementara Tao berarti jalan, kebenaran atau juga ketuhanan. Di Indonesia sering diterjemahkan sebagai Jalan Ketuhanan. Ajaran I Kuan Tao menekankan ajaran moral berasal dari Tiongkok, menggabungkan aliran Konfusianisme, Taoisme and Buddha. I Kuan Tao bukan aliran atau kepercayaan Taoisme.

Aliran I Kuan Tao di Indonesia dikenal sebagai agama Buddha Maitreya. Aliran ini berkembang di Indonesia berasal dari Taiwan sekitar tahun 1950-an. Di Taiwan, aliran ini berdiri sendiri sebagai sebuah agama baru dan tidak mendompleng agama Buddha.

Sejarah

Aliran I Kuan Tao menyatakan bahwa pencipta alam semesta, bumi dan seluruh mahluk hidup adalah Tuhan yang berupa seorang Ibunda yang disebut Lao Mu. Lingkaran hidup bumi dan alam semesta adalah 108 000 tahun, dan kita berada dalam zaman terakhir (kiamat) dimana manusia telah hidup 60 000 tahun. Anak-anak Lao Mu karena telah terlalu lama di bumi, tersesat dalam hidup duniawi, terjerumus dalam dosa menyebabkan mereka hidup dalam roda reinkarnasi dan tidak bisa kembali ke Surga. Lao Mu sangat merindukan anak-anaknya di bumi ini, dan mengutus 10 Buddha untuk menyelamatkan anak-anaknya di bumi. 7 Buddha pertama telah datang saat bermulanya kebudayaan manusia, dan 3 Buddha terakhir mengemban tugas penyelamatan. Sehingga dibagi 3 zaman: Zaman Hijau, Merah, dan Putih. Buddha Dipamkara diutus saat Zaman Hijau (sekitar 3000 SM) sampai lahirnya Siddharta Buddha. Zaman Merah bermula dengan diutusnya Siddharta Gautama. Zaman Putih atau zaman terakhir (kiamat) bermula saat Buddha Maitreya diutus. Menurut I Kuan Tao Buddha Maitreya telah datang ke dunia sebagai Guru ke-17 Lu Zhong I.

Sejarah resmi I Kuan Tao membagi perkembangan Tao dalam 3 periode. Periode pertama disebut sebagai 18 Sesepuh Pertama dari Timur, yang bermula dari awal adanya manusia. Sesepuh pertama adalah Fu Shi, tokoh mistis dari Tiongkok, pencipta pa kwa (8 triagram). Kemudian berlanjut ke tokoh mitos dan sejarah: Shen Nong (penemu pertanian), Huang Ti (Kaisar Kuning), diteruskan ke raja-raja Tiongkok, sampai Kong Hu Cu, dan terakhir Lau Ce (Penulis Tao Te King). Dikatakan bahwa karena perang saudara di daratan Tiongkok, menyebabkan Lao Ce membawa Tao ke India dan meneruskan ke Siddharta Gautama. Di sini bermula periode ke-2 yang disebut 28 Sesepuh dari Barat, bermula dari Siddharta Gautama, diteruskan ke Mahakasyapa, dan menurut aliran Zen sampai terakhir Bodhidharma. Bodhidharma dikatakan membawa Tao kembali ke Tiongkok, dan bermulalah periode ke-3: 18 Sesepuh Terakhir dari Timur. Bermula dari Bodhidharma sampai sesepuh ke-6 Hui Neng (sama seperti aliran Zen). Dari sesepuh ke-7 bermula nama-nama dari sekte atau aliran bawah tanah Tiongkok. Guru ke-9 yang bernama Huang Te Hui 黃德輝 (1624-1690) adalah juga pendiri sekte "Shien Thien Tao" 先天道 (atau Jalan Surga Pertama). Aliran Shien Thien Tao masih ada di Indonesia dalam bentuk kelenteng kelenteng yang dipegang oleh Bhiksuni (Chai Ma). Sehingga disebutlah I Kuan Tao bercabang dari Shien Thien Tao. Dokumen dinasti Ching yang ditemukan belakangan ini menunjukkan bahwa Wang Cue Yi 王覺一, sesepuh ke-15, mendirikan aliran "I Kuan Ciao" (Agama I Kuan) di zaman dinasti Ching (sekitar tahun 1850). Sejarah I kuan Tao menunjuk ke sesepuh ke-17 Lu Chong I 路中一 sebagai jelmaan Buddha Maitreya, merupakan awal Zaman Putih (Kiamat) di tahun 1905.

I Kuan Tao mulai berkembang pesat saat sesepuh ke-18 Chang Thien Ran 張天然 memegang pemimpin. Chang lahir tahun 1889 pada tanggal Imlek 19 bulan 7, di Ji Ning, propinsi Shan Tong. Chang mengikuti aliran I Kuan Tao sejak tahun 1914. Sesepuh ke-17 Lu Zhong I yang dipercayai adalah jelmaan Maitreya melihat talenta Chang. Dan setelah meninggalnya sesepuh ke-17 tahun 1925, Chang diangkat menjadi sesepuh ke-18 tahun 1930. Chang dikatakan sebagai jelmaan Ci Kung, Buddha Sinting, atau disebut Buddha Hidup. Chang Thien Ran disebut sebagai Se Cun 師尊 (Bapak Guru Agung). Chang dikatakan atas mandat Lao Mu, menikahi Sun Su Chen 孫素真 yang disebut sebagai jelmaan Bodhisatwa Yek Huei 月慧菩薩 (Dewi Bulan Bijaksana). Sun Su Chen besama Chang Tien Jan menjabat sebagai sesepuh ke-18 I Kuan Tao. Sun dihormati sebagai Se Mu 師母(Ibu Guru Suci).
I Kuan Tao menyebar pesat dari tahun 1930 sampai 1936. Dari tahun 1937-1947 selama kekuasaan Jepang, I Kuan Tao juga berhasil menarik penganut dari utara, tengah sampai selatan Tiongkok. Chang Tien Ran meninggal tahun 1947 saat komunis mulai berkuasa di Tiongkok.

Dengan meninggalnya Chang, dan berkembangnya Komunis di China, I Kuan Tao tidak dalam keadaan yang bersatu. Para muridnya secara tersendiri melarikan diri ke Hong Kong dan Taiwan. Sun Su Cen (Se Mu) mengambil alih kedudukan dan membawa ajaran I Kuan Tao ke Hong Kong dan Taiwan. Dari Taiwan I Kuan Tao berkembang pesat dan menyebar ke Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand). Sementara itu, para murid Chang secara individual menyebarkan ajaran I Kuan Tao, sehingga muncul kelompok-kelompok I Kuan Tao dengan sesepuh atau pemimpin yang berbeda-beda. Di Taiwan, I Kuan Tao mulai resmi diakui pemerintah sejak tahun 1987.

Aliran Buddha Maitreya di Indonesia

Aliran I Kuan Tao bermula di Indonesia di tahun 1949 di Malang oleh seorang pengikut I Kuan Tao dari Taiwan bernama Tan Pik Ling (Hokkian) atau Chen Po Ling (Mandarin) atau dikenal sebagai Maitreyawira (Indonesia). Tan adalah seorang dokter gigi, pertama sekali datang ke Indonesia sejak tahun 1930. Beliau dikatakan diutus oleh Se Mu (Ibu Guru Suci) dan Pan Hua Ling 潘華齡 pemimpin Kelompok Pau Kuang 寶光組. Sejarah lain dari kelompok Pau Kuang Cien Te 寶光建德 mengatakan bahwa sesepuh Li Su Ken 呂樹根 mengutus Tan Pik Ling ke Indonesia. Vihara Maitreya pertama didirikan di Malang bernama Chiao Kuang di tahun 1950. Vihara ini adalah Fo Tang 佛堂 pertama yang berdiri di luar China dan Taiwan. Di bawah pimpinan Tan, I Kuan Tao (Buddha Maitreya) berkembang pesat ke Surabaya, Jakarta, Medan, Pontianak dan seluruh Indonesia. Tan meninggal tahun 1985. Di Indonesia, I Kuan Tao menempel sebagai agama Buddha, karena pemerintah hanya mengakui 5 agama resmi. Sehingga di Indonesia Buddha Maitreya muncul sebagai aliran agama Buddha, membentuk Majelis Pandita Buddha Maitreya Indonesia (MAPANBUMI) dan bernaung di bawah Walubi.
Se Mu 師母(Ibu Suci) sewaktu di Taiwan berada di bawah asuhan Wang Hao Te 王好德(atau sesepuh Ong) selama 11 tahun, Wang sendiri adalah pengikut kelompok Pao Kuang 寶光組. Dengan meninggalnya Se Mu 4 April 1975, Wang Hao Te mengaku sebagai penerus asli I Kuan Tao yang diangkat oleh Se Mu. Hanya melalui beliau Kuasa Firman Tuhan Tien Ming dapat diberikan, Sesepuh Ong mengaku sebagai penerus Benang Emas yang sejati. Banyak kelompok I Kuan Tao yang menolak sehingga Wang Hao Te membentuk aliran sendiri yang disebut Tao Agung Maitreya 彌勒大道. Tan Pik Ling di Indonesia yang juga pengikut kelompok Pao Kuang memutuskan untuk bergabung dengan Wang Hao Te. I Kuan Tao membentuk organisasi sendiri dengan kantor pusat di El Monte, California, pada tahun 2000 membentuk organisasi I Kuan Tao Indonesia dan Yayasan Eka Dharma (dari kelompok Pau Kuang Cien Te). I Kuan Tao tidak mengakui aliran Maitreya dan sebaliknya juga. Namun aliran Buddha Maitreya di Indonesia jauh lebih pesat dan lebih banyak pengikutnya daripada I Kuan Tao.

Aliran Buddha Maitreya berkembang sebagai agama unik Indonesia. Aliran ini mengadopsi istilah-istilah Indonesia dan Sansekerta Buddha. Disebabkan juga oleh tekanan pemerintah ORBA yang melarang penggunaan bahasa Mandarin, liturgi dan upacara keagamaan juga menggunakan Bahasa Indonesia. Larangan juga untuk menggunakan patung-patung non-buddhis (seperti Kuan Kung). Dalam era reformsi sekarang, vihara Maitreya kembali lebih bebas menggunakan bahasa Mandarin. Vihara Maitreya di Indonesia juga unik, berciri khas tercantum kalimat "Tuhan Maha Esa" (Sekarang diganti dengan Tuhan Yang Maha Besar) dan mengikuti perayaan Buddha seperti Waisak, Katina, dan menggantungkan gambar Siddharta Buddha. Ciri-ciri ini jarang ditemukan di vihara Maitreya di Taiwan, karena I Kuan Tao mengajarkan bahwa agama Buddha telah ketinggalan zaman, dan sekarang adalah zaman Buddha Maitreya. Vihara Maitreya sekarang lebih bebas mengekspresikan sebagai aliran Maha Tao, bentuk umum Vihara yaitu Buddha Maitreya di tengah, di kiri dan kanan foto "Se Cun" and "Se Mu" tanpa gambar Siddharta Gautama.

Aliran Maitreya dan I Kuan Tao menjadi ganjalan pengikut Buddha di Indonesia. Pengikut Buddha Indonesia menganggap bahwa aliran Maitreya bukan termasuk Buddha yang 'resmi' dan tidak sepatutnya menggunakan agama Buddha.

Dalam praktinya, Aliran Maitreya sering menggunakan dalil bahwa ajaran Buddha Sakyamuni telah digantikan oleh ajaran Buddha Maitreya. Sering kali pula, umat aliran Maitreya dalam usaha Maitreyanisasi menjelek-jelekkan umat Buddha yang berpegang teguh pada ajaran Buddha yang sesungguhnya.

Namun aliran ini berkembang paling pesat di antara aliran Buddha di Indonesia. Para pengikut aliran Maitreya dianjurkan untuk menjadi vegetarian, dan menyebarkan ajaran ini dengan membawa teman atau saudara untuk memohon jalan ketuhanan.

Sejarah lengkap dapat ditemukan dalam makalah penelitian antropologi dari Amerika dan Eropa. Makalah terlengkap oleh David Jordan dalam bukunya The Flying Phoenix.


Tiga Mustika

Para pengikut aliran I Kuan Tao atau Buddha Maitreya dianjurkan untuk mengajak teman dan saudara untuk "dibaptis" atau memohon Jalan Ketuhanan 求道 Chiu Tao. Upacara dhiksa firmani (pembaptisan) dipimpin oleh seorang pandita 點傳師 ("Tien Cuan Se") yang dipercayai memegang "Kuasa Firman Tuhan" 天命(Thien Ming). Dengan dhiksa pengikut baru akan diberikan Tri Mustika 三寶 San Pao yang tidak boleh diceritakan kepada orang lain. Tri Mustika tersebut yakni:

a.. Membuka Pintu Suci atau 玄關 Sien Kuan, adalah titik di pusat muka yang dipercayai adalah tempat dimana hati nurani seseorang tinggal, juga merupakan pintu keluar roh untuk kembali ke surga.
a.. Ucapan Suci Khou Cue 口訣, berupa 5 kata yang dapat memanggil bantuan para dewa di saat kesusahan atau malapetaka.
a.. Pertanda Suci atau Mudra He Tung 合同, berupa lipatan tangan: tangan kiri (simbol kebaikan) berada di luar menutupi tangan kanan (simbol kejahatan), melipat jari, dan meletakkan di depan dada. Mudra atau simbol ini menandakan pengikut Maitreya (anak Lao Mu) untuk melewati 9x9 bencana terakhir.
Dengan Tri Mustika ini, para pengikut I Kuan Tao diyakinkan bahwa mereka akan naik ke surga sewaktu meninggal dengan bukti bahwa mayat orang yang telah di-dhiksa akan lemas dan tidak kaku.


Jadi kesimpulannya, saudara- saudari sedharma, marilah ber EHIPASSIKO, ketahuilah terlebih dahulu apa yang akan kita percayai sebelum kita meyakini nya, jangan lah terlalu mudah untuk terbujuk pada hal- hal yang ditawarkan oleh suatu kepercayaan. Selidiki, buktikan, baru terima.

Namo Amithuofo

Kembali Ke Atas

50 komentar:

Anonim mengatakan...

dawjidhawjkdhaijdhajkwdanhkjdhawjkdhajkwdhjkdhawjkdhawjkalwddahdakjdawhkdhawjkdhawjkdhawjkdhajkdhajkhdawjk

Anonim mengatakan...

bacot

Anonim mengatakan...

agama buddha selalu mengajarkan respect kepada agama lain..NB: lebih baik mendalami iman anda daripada panjang lebar menulis sesuatu yg belum tentu anda mengerti dan menyebut kepercayaan orang lain sebagai ajaran sesat...

happy man mengatakan...

Apakah semua cerita diatas bs dipertanggung jawabkan baik di dunia maupun diakhirat.kalau bs ya bersyukur.akan tetapi kalau tdk bs bs kualat 7 turunan loh.jangan main main.loh.sahabat ku.terimah kasih sebelumnya.Buddha bless you.

Anonim mengatakan...

Jangan sembarangan blg ajaran tao itu sesat.. Jaga mulutmu.. Buktikan dulu ajaran itu sesat ato gk ? Jgn tls n copy paste dr org ttg sejarah ajaran tao.. Namanya u udh fitnah ajaran tao.. U akan dihukum oleh langit..

Vaan legrand mengatakan...

Artikel yang menarik, terimakasih atas informasi yang saudara berikan, semoga semua makhluk hidup berbahagia sadhu sadhu sadhu

ming shent mengatakan...

Jawaban pasti ttg sesat atau tdk sesat hanya kembali lagi ke pengertian pemahaman & perilaku individu masing - masing, " Selama tdk merugikan diri sendiri & orang lain, dapat membawa berkah bagi dunia, memberi manfaat bagi seluruh makhluk, di puji oleh para bijaksana ", utk apakah ??? kita mencari kebenaran dari sejarah masa lalu yg belum tentu pasti benar, marilah secara arif & bijaksana kita melihat bahwa kebenaran sejati cuma berada pada tindakan nyata saat ini.

ming shent mengatakan...

Dan janganlah sekali - kali ada komentar atau pendapat yg dapat membuat kesalah-pahaman antar sekte atau aliran krn pada dasarnya kebenaran yg hakiki bukan berada pada aliran atau sekte. Para Guru Suci : Saat hadir ke dunia hanya mengajarkan & mempraktekkan kebenaran, tdk membuat kitab suci & mendirikan aliran atau sekte.

Anonim mengatakan...

Mulutmu Harimau mu !!!!!

Anonim mengatakan...

Nah!!! Orang model kayak begini nih yang bisa dibilang sesat.

Coba kita perhatikan kejadian-kejadian yang belakangan yang terjadi di Negara kita, aksi teror yang mengatas namakan agama tertentu yang melakukan tindakan ektrim terhadap orang lain yang berbeda agama maupun kepercayaan dengannya. Kalau kita renungkan, inti dari semua agama maupun aliran kepercayaan adalah mengatur hubungan yang baik antara manusia dengan penciptaNya dan juga hubungan yang baik antara manusia dengan manusia. Dari kerjadian teror tersebut, orang yang melakukan teror merupakan orang-orang yang salah mempersepsikan ajaran agamanya, sehingga melakukan tindakan-tindakan sesat kepada orang yang berbeda keyakinan dengannya.

Demikian juga sama halnya dengan orang yang memfitnah aliran kepercayaan orang lain, juga merupakan tindakan orang-orang sesat.

Anonim mengatakan...

Ngakunya agama Buddha sejati, tp merendahkan agama org lain, tdk bs mentolerir agama org lain, intinya agama it mengajarkan kebaikan, cinta sesama makhluk hidup, dan tdk menyinggung agama org lain,,,
3 mustika jg d tulis seenaknya..
#semoga Buddha memberkati anda..

Anonim mengatakan...

banyak omong...kau kira agamamu yg paling hebat apa?
dengan kamu menjelek-jelekkan ajaran org itu tandanya kamu itu sangat tidak punya iman dan agamamu juga tidak baik...agamamu hanya bisa mengajarkan menjelek-jelekkan ajaran org lain...

Anonim mengatakan...

Prasaan tdi kan kmu blg 3 mustika atau san pao tdk boleh d bocorkan lalu kenapa km bocorkan ?
Belajarlah bijaksana dan mnambah kearifanmu
Jangan menilai ajaran orang lain tidak baik smua ajaran sama hanya manusia yg membeda*kan dan menganggap ajaran mreka yg benar
Semoga tuhan memberkatimu dan memaafkan atas kelancanganmu membocorkan san pao itu
Xie xie untuk infonya

Charles Susanto mengatakan...

Marilah kita baca ulang tulisan diatas dari awal.
Penulis cuma merangkumkan semua informasi didapatkan.
Tao bisa diibaratkan dengan: Suatu hukum alam, Aturan tata kerama antar manusia, atau pun cara menjalani hidup sehari" sebagai orang yang berbudi.

Sesat atau tidaknya suatu ajaran tidak bisa dilihat dari ulah oknum "srigala berbulu domba" yang mau mengambil suatu keuntungan dengan mendompleng ajaran tersebut.

Belum tentu kita-kita yang bijak, tapi pada suatu saat karena "Emosi/Stress" akhirnya melakukan apa yang menyimpang dari ajaran kita.

Mohon agar semuanya mau menurunkan ego masing", jadikanlah ini sebagai bahan referensi maupun pengetahuan, karena sesungguhnya benar dan salah cuma merupakan suatu bagian yang tidak terpisahan, tergantung sudut pandang dan cara kita menyikapi.

LMBU

Anonim mengatakan...

apakah argumen diatas bisa benar-benar dipertanggung jawabkan...
menghargai orang lain itu penting loh..
klo hal hal kayak gini mending diam ajj deh.. gimana klo ajaran ini sebenarnya baik dan tidak sesat seperti yang dikatakan tadi? bisa gawat kan urusannya sama Tuhan :)

NOTE bagi kalangan i kuan tao yang membaca ini: kenapa di atas itu banyak comment dari orang yang tidak terima dengan artikel diatas? karena mereka sudah mengerti dan sudah belajar lebih banyak... jika ada kata yang membuat kalian merasa bahwa artikel ini betul yang harus anda lakukan adalah belajarlah lebih dalam tentang TAO itu, dengan begitu barulah bisa mengerti, klo ada pertanyaan lainnya silahkan bertanya dengan senior masing masing dengan begitu segala kesalahpahaman bisa terluruskan

saran saya sih jangan memberi argumen yang merendahkan SARA ingat! SARA adalah salah satu bagian yang paling sensitive di Indonesia... jdi tolong setiap artikel diteliti dengan baik...

lagi pula artikel yang mengenai permasalahan SARA dapat ditindak dengan undang-undang
"Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)"
Ancaman pidana dari Pasal 28 ayat (2) UU ITE tersebut diatur dalam Pasal 45 ayat (2) UU ITE yaitu pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

Makasih... :)

Anonim mengatakan...

buddha tidak mengajarkan persilisihan antar aliran sektenya tetapi jika tentang yi guan dao saya rasa itu merupakan suatu ajaran yang dibuat oleh nabi" palsu,
saya pernah membaca kitab wejangan dari kwan kong tentang perzinahan bahwa disitu dikatakan bahwa neraka bagi biksu, pendeta" itu berbeda dengan neraka orang biasa karena biksu" maupun pendeta tao ialah yang lebih mudah masuk neraka karena seenaknya sendiri menyebarkan ajaran yang tidak sesuai
maaf SARA

welcome mengatakan...

Terima kasih atas informasinya. Walaupun informasi yang diberikan lumayan mendetail, saya sebagai umat buddhist sungguh malu melihat yang tertulis dan komentar2nya.

Bukankah kita diajarkan untuk mengasihi? Selama suatu ajaran mengajarkan penyebaran cinta kasih, dan tidak merugikan makhluk lain. Itu membuktikan kemulian suatu ajaran. Sesat tidak sesat, menurut saya pribadi yang termasuk awam adalah harus ditinjau dari sudut pandang cinta kasih tersebut. Untuk kecocokan ajarannya, itu tergantung persepsi masing2. Jika Anda merasakan ketidakcocokan, Anda seharusnya tidak melakukan hal penjelekkan ajran secara demikian. Jika memang tercium penyimpangan ajaran yang ditandai dengan penjauhan cinta kasih antar makhluk, maka itu adalah kewajiban Anda yang lbh mengerti untuk meluruskannya.

Saya sendiri pengikut i guan dao, setelah mengikuti ajarannya. Saya lebih mengenal cara berbakti serta cinta kasih kepada semsta ini. Dan menghargai semua pemberian Tuhan yang maha esa atau Lao Mu. Dan sudah banyak kesaksian dari kehidupan saya sendiri serta keluarga dan serta orang sekitar mengenai keagungan tao. Dan perlu diluruskan, permohonan tao sama sekali tidak ad kaitan dengan agama saudara-saudariku. Tidak ad paksaan dan unsur penjelekkan agama untuk mendapatkan Tao ini, malahan sebaliknya semua agama sangat dihargai pada wadah Tao ini. Semua yang didapatkan murni dari jodoh2 hasil karma kita di kehidupan2 yang sebelumnya.

Sekali terima kasih untuk masukan Anda. Semoga semua makhluk berbahagia. Mohon maaf jika ad kata yang tidak berkenan

Art Of Education mengatakan...

ada baiknya kita menghargai sesama .. walaupun saya bukan umat budha.. tp ajaran maitreya utk cinta kasih bagus. klo ada perbedaan sebaiknya jangan di perdebatkan. jangan saling berantem satu sama lain.

Anonim mengatakan...

Semua berdasarkan sejarah,tapi masih bisa disangkal juga..salut...itulah mentalitas anak bangsa...

Anonim mengatakan...

Kasihan sekali mereka2 yang terlanjur tersesat mengikuti ajaran sesat i kuan dao / mi le da dao / maitreya ini.
Kalau melekat tidak mudah lagi bisa lepas.
Sungguh karma buruknya mengerikan sekali dengan merubah-rubah Buddhism sesuai seleranya sendiri.
Mestinya kalau pendahulu itu tahu diri, bikin aja agama terserah, tetapi janganlah mengaku ngaku sebagai agama buddha.
Sungguh tidak tahu diri.

Anonim mengatakan...

kalian yang merasa benar bilang ini sesat itu sesat apa yakin akan masuk surga/nirwana. itu semua tidak perlu, seperti pada jaman buddha banyak yng bilang beliau sesat, tidak waras etc..., tapi pada akhirnya pengikutnya paling banyak di dunia walau tidak semua berani terang2an mengakui sebagai pengikut ajaran buddha. Annumodana

Anonim mengatakan...

Untuk mengetahui i kwan tao sesat atau tidak silahkan bergabung dan mendengarkan ceramahnya baru bisa mengerti, jangan asal memfitnah dengan mecampuradukan kisah pemberontakan di tiongkok ribuan tahun lalu dengan i kwan tao yg berdiri belum lama ini. Ndak ada hubungannya ceritamu dengan realitanya

Anonim mengatakan...

Hukum karma terus berlaku, tidak di kehidupan ini, makan di kehidupan akan datang,.
BBU All,.

Anonim mengatakan...

Bagi saya agama, aliran kepercayaan atau organisasi apapun yang intinya mengajarakan segala kebaikan demi tercapainya kerukunan, perdamaian dan keharmonisan di dunia bukanlah sesuatu yang sesat. Bukankah lebih sesat orang yang mengaku beragama tapi menghasut dan merendahkan ajaran atau kepercayaan orang lain padahal dirinya belum mengerti betul tentang ajaran tersebut ...

Selama tidak menimbulkan perpecahan dan peperangan dalam masyarakat ada baiknya tidak saling menghasut bukankah itu yang terbaik :)

Semoga semua makhluk berbahagia :)

Human nature mengatakan...

Kalau suatu ajaran mengajarkan qta tuk lebih baik,menghormati org, lbh ramah,sopan santun,beretika,tdk mencuri,tdk menbunuh, tdk berbohong, tdk bermabuk-mabukan, menjadi rendah hati, sabar, melestarikan lingkungan, berbakti pada ortu, serta mengasihi makhluk hidup.. Apakah ajaran ini sesat? Anak kecil aj tahu jawabannya.. Apalagi penulis....

Anonim mengatakan...

Waaa... terimakasih posting di atas ... sampai capek juga bacanya --"
Tapi saya salut kok sama ajaran maitreya yang mengajarkan cinta kasih, perwujudan cinta kasih dengan tidak membunuh hewan2, melestarikan lingkungan, dll ... melakukan sesuatu dengan hati nurani.. sekarang ini manusia susah sekali menjalani sesuatu dengan hati nurani ... kalaupun ini ajaran sesat, inilah ajaran sesat yang patut di jalani ... ajaran sesat yang membawa manusia dalam kehidupan yang lebih baik ... toh "sesat" hanya sebuah nama ... yang penting adalah cemerlangnya Nurani ... apa itu nurani ??? Artinya sederhana; Ketika tidak membunuh, tidak menghina satu sama lainnya (bhineka tunggal ika)..

Agiva mengatakan...

Waduh Gimana vincent spirit apanya yang mau di spirit [semangat] di ikuti katanya beragama tapi tuduhannya tanpa bukti apakah sudah pernah masuk ke vihara maitreya dan dengar apa yang mereka ceramahi apa yang mereka lakukan jangan hanya dengar dari orang lain , jangan hanya sambung lidah dari orang lain yang "katanya", cek dahulu kenyatanya di sana secara pribadi dengar secara langsung dengan telingga anda , lihat keadaan langsung dengan mata anda , kecap dahulu suasana dengan mulut anda terakhir hisap aura di sana dengan hidung anda kalau benar benar sesat baru pubkikasikan, dari comment yang ada rata rata tidak setuju kalau di katakan ajaran sesat dan dari fakta sejarah banyak yang tidak valid

kHiM mengatakan...

Anda keliru tao adalah Agama yang benar begitu juga agama budha anda menganggap tao sesat sama halnya dengan agama lain yg menganggap Agama budha sesat agama budha menyembah berhala sebenarnya mereka telah keliru sama juga dengan anda cepat cepatlah hapuss blog ini sebelum terlambat

Anonim mengatakan...

saya ngequote dari tulisan anda sendiri:
"Namun aliran ini berkembang paling pesat di antara aliran Buddha di Indonesia. Para pengikut aliran Maitreya dianjurkan untuk menjadi vegetarian, dan menyebarkan ajaran ini dengan membawa teman atau saudara untuk memohon jalan ketuhanan."

jikalau ada ajaran sesat yang mengajarkan untuk tidak membunuh / memakan binatang, bukankah itu baik?

kenapa harus sewot suatu ajaran itu sesat atau tidak selama yang diajarkan itu kebaikan... terlepas dari keyakinan ada atau tidaknya Tuhan.. yang penting inti utama dari ajaran nya kan? bagaimana kita harus bersikap sebagai manusia.. :)

GBU.. BBU.. LMBU.. :)

edwin budianto mengatakan...

Bapak hati hati kalau menulis artikel ini, anda kalo belum terlalu mendalami suatu artikel lebih baik jgn d posting atau d publikasikan karena tindakan anda ini membahayakan diri anda sendiri apalagi masalah san bao, anda sdh tau kalo sifatnya rahasia kenapa malah d posting d media internet. Anda jg tdk memp hak utk memposting artikel diatas dgn alasan apapun. Anda kalo memang seorg Buddhis sejati tdk akan melakukan tindakan ini. Lebih baik anda introspeksi diri, lihat diri anda sendiri jgn lihat orang lain, inilah salah satu inti ajaran Buddha. Karena Buddha tdk pernah membandingkan antara satu dgn lain, tiada hati membedakan atau membandingkan. Semoga anda cepat tersadar, segera hapus posting ini dan anda segera memohon ampun utk tdk mengulangi kesalahan lg. BBU

hendra ibaraki mengatakan...

gue mo nanya kalo ikuantao itu sembahyangnya itu gimana
sembahyangnya ikuan tao itukan memanfaatkan orang yang sedang kesurupan
sedangkan maiterya tidak

Anonim mengatakan...

Bertobatlah engkau yang buat blog ini.. segeralah hapus karna anda tidak tau kemuliaan tao. Bagi umat awam boleh lah anda selidiki kebenaran sesungguhny dari ajaran tao. Karna dari pengalaman dan pengetahuan saya ajaran sesat tidak akan dapat berkembang pesat karna ada hukum karma yang mengaturnya.. jadi bijaksana lah jadi orang jgn menjelek jelekkan doktrin kebenaran yang anda sendiri tidak mengerti.. namo buddhaya

Anonim mengatakan...

apa anda pernah datang ke vihara aliran maitreya ?? vihara saya memang tidak ada foto dari Buddha Siddharta Gautama, NAMUN KAMI MEMILIKI PATUNGNYA . dan setiap kami datang atau pergi, kami selalu berhormat seperti kami menghormati Buddha Buddha lainnya. bagaimana ?? apa kami masih dianggap sesat ?

Anonim mengatakan...

saya hanya ingin menambahkan, anda katakan
BAGI YANG MELANGGAR AKAN DISAMBAR PETIR DAN DIBAKAR
itu hanyalah sebuah perumpamaan, naksud dari kata tersebut adalah, orang yang tidak menjalankan dengan sungguh sungguh, ada sifat" yg masih tdk baik, tidak dengan tulus, maak hatin akan terguncang, seperti tersambar petir.

DWIHONO mengatakan...

Yg saya tahu di aliran ini dikatakan semua agama sama !! ini yg saya rasa sesat ... karena apa ?? ajarannya saja beda ... gimana bisa dikatakan sama ?? soal siapa yg benar itu rahasia ilahi ...dwihono@yahoo.com

Anonim mengatakan...

Ibu atau bapak jangan pada sewot ,hehehhe cukup baca saja dan amati saja dgn bathin tenang seimbang. Pahami makna kosong = isi, isi= kosong

Anonim mengatakan...

berdasarkan ttulisan diatas, maka ciri2 tao maitreya / buddha maitreya :
1. Pemimpin2 nya selalu reputasi buruk
2. Pemimpin2 nya selalu mengikuti siklus : tenar mendadak - bikin ribut - dihukum mati - pengikut kabur
3. Di china dilarang, di indo dilarang karena rezim militer anti cina

Pertanyaan :
Mengapa tetap survive dan berkembang hingga kini ?
Secara logis semua medan mempunyai kondisi yg buruk bagi maitreya utk berkembang

Kesan nya maitreya selalu bisa menemukan jalan keluar dalam situasi yg sesulit apapun, entah itu dgn mendompleng ajaran buddha, dll

Apa rahasia dari survival rate mereka yg tinggi ?

Anonim mengatakan...

Aliran sesat menurut saya adalah apabila aliran tersebut menjauh dari kebenaran..apabila aliran tersebut berpusat pada kebaikan maka tidaklah sesat adanya..apabila kita tidak sepaham, maka jalani apa yang paling kita yakini..saya juga pernah ikut maitreya dan i kuan tao, tapi tidak sepantasnya kita membocorkan apa yang disebut rahasia...saling menghargai adalah baik dalam buddha dharma..apabila tidak sejalan kembali saja..membina diri kita dengan baik itulah yang terutama...saya pernah dengar ceramah agama buddha(saya theravada)."apabila sepotong kayu dapat membuatmu me jadi baik dan takut berbuat jahat, maka meyakini sepotong kayu itu pun baik untukmu" hanya saja ada kemelekatan dalam sepotong kayu juga tidak baik...Buddha menunjukkan jalan untuk kita membina..apa yang paling baik bagi kita individu untuk membina ke arah yang lebih baik jalani dengan sepenuh hati...agama apapun ketika meyakininya jalani dengan sepenuh hati dan sebaik2nya..tidak perlu kita mencari2 celah untuk menyakiti dan menyalahkan..soal i kuan tao mendompleng buddha di Indonesia tidak berbeda dengan aliran kong hu cu pada mulanya juga demikian..ini semua karena adanya aturan di setiap negara...yang patut kita contoh dari i kuan tao dan maitreya adalah semangat membina diri..bukan chiu tao yang akan membawa surga atau pembebasan, tapi agama yang kita yakini dan kita membina dengan sebaik2nya itulah yang akan memmbebaskan kita dari ikatan roda reinkarnasi..ajaran buddha sangat mendalam, beda kebijaksanaaan, beda pjla yang dapat kita selami..bersikap sebaik2nya dalam membina diri itu adalah yang terutama..lepaskan keterikatan duniawi dan tidak mengharap pamrih atas kebajikan..lakukan dengan tulus..karma akan berbuah sesuai dengan yang kita tanam...semakin banyak melakukan kebajikan, semakin banyak dosa karma terkikis, semakin banyak karma baik yang akan berbuah..semakin baik membina diri, sesuai dengan jalan dharma maka itulah jalan ke arah nibbana...semoga pandangan saya ini tidak menyinggung siapapun, apabila ada kesalahan saya mohon maaf..semoga semua makhluk hidup berbahagia..sadhu sadhu sadhu

Unknown mengatakan...

Ada banyak jalan menuju Roma, naik pesawat melalui Dubai, naik kapal melalui Mumbai atau bahkan naik mobil melalui jalur sutera di China...Ada banyak jalan menuju Nibbana, jika hanya berkomentar Agama Buddha adalah yang terbaik bukankah anda juga memiliki keterikatan batin?

Roh suci makhluk hidup adalah TAO yang sejati, maka pentinglah bagi kita untuk senantiasa membina diri, ada baiknya sebelum anda memutuskan ajaran mana yang lebih baik berdasarkan penelitian anda lihatlah dan buktikanlah sendiri apakah TAO merupakan aliran sesat. Karena pengalaman religius masing2 individu manusia sangatlah berbeda. Sebagai catatan Hou Xue sendiri adalah pengikut K*****n K********k (B*****y) dari tahun 2003 hingga 2008, sebagai seorang umat Hou Xue tidak pernah diajarkan mengenai BAKTI TERHADAP ORANG TUA di gereja, ketika sudah mendalami I KUAN TAO dan mengalami FA HUI/ SIDANG DHARMA Hou Xue barulah menyadari begitu pentingnya bakti terhadap orang tua baik semasa hidup ataupun ketika orang tua kita sudah meninggal dunia. Sebagai catatan hanya agama K*****n yang menyebutkan orang yang telah meninggal sebagai urusan Tuhan dan jika kita berpuja bakti/ bersembahyang dikatakan menyembah setan. I KUAN TAO tidak pernah mengajarkan pengikutnya untuk berbuat demikian. Lantas apakah I KUAN TAO disebut aliran sesat? Sekali-kali pun tidak.

Ada sebuah kisah: seorang wanita berjalan menyusuri pertokoan, pemuda A melihat dengan takjub "alangkah cantiknya wanita itu, rambutnya yang panjang terurai dengan alaminya" lantas pemuda B yang duduk di sebuah cafe berkata "wanita itu terlalu klasik, lebih cantik lagi jika ia memotong pendek rambutnya". Para budiman sekalian, apakah komentar dari kedua pemuda tadi langsung memvonis bahwa wanita tersebut adalah cantik atau jelek? Sebenarnya cantik & jelek, benar & salah hanyalah persepsi dari manusia yang melihatnya saja. Sejatinya Guru Penerang kami Ci Kong Lao Shi & Buddha Gotama sendiri tidak pernah memperkarakan benar & salahnya suatu masalah. Semuanya tergantung dari cara kita menempatkan KEARIFAN/ CE HUI kita pada suatu pandangan. Lantas apakah karena mengajarkan hal ini I KUAN TAO disebut sebagai aliran sesat? Sekali-kali pun tidak.

Untuk lebih dalam lagi, Hou Xue sebagai umat dari I KUAN TAO dianjurkan untuk bervegetarian (TIDAK DIPAKSAKAN), semua itu adalah untuk memutuskan karma buruk yang didapatkan dari membunuh hewan, sebagai tujuan akhir untuk melepaskan diri dari tumimbal lahir. Seluruh JIANG SHI/ PENCERAMAH & TIAN CHUAN SHI/ PANDITTA dalam ajaran I KUAN TAO adalah seorang yang bervegetarian, itu semua sangat sesuai dengan ajaran Buddhis yang mengedepankan cinta kasih. Dimana sebelum seseorang diperbolehkan untuk berceramah Dharma terlebih dahulu harus memutuskan hubungan dengan darah & dging hewan. Ketika tahun 2013 silam, Hou Xue sempat mengikuti perlombaan membaca Paritta SIN CING dalam acara STG (Swayamvara Tripitaka Gatha) di Samarinda. Alangkah terkejutnya Hou Xue ketika mendapati para Bhikku sedang menyantap rawon daging sapi untuk makan siang. OMITHUOFO. Hou Xue mengetahui ketika seorang Bhikku selesai memimpin acara Puja Bhakti, ia pasti akan menutup dengan mengatakan kalimat SABBE SATTA BHAVANTU SUKHITATTA yang artinya SEMOGA SEMUA MAKHLUK HIDUP BERBAHAGIA, tetapi perbuatan para Bhikku yang menyantap rawon daging sapi tersebut apakah mencerminkan sikap seorang pembina diri yang mendalami ajaran Buddhis? Bukankah umat2 I KUAN TAO yang bervegetarian dan menghargai kehidupan makhluk hidup lain selain manusia lebih menghargai dan mengerti ajaran dari Buddha Gotama? Lantas apakah karena hal ini I KUAN TAO disebut sebagai aliran sesat? Sekali-kali pun tidak.

BERSAMBUNG*

Unknown mengatakan...

SAMBUNGAN*

Terlepas dari pemberitaan yang menyatakan bahwa ajaran I KUAN TAO meniru ajaran Buddha, hal tersebut sangatlah tidak benar. I KUAN TAO pada dasarnya mendalami ajaran2 luhur dari Buddha Gotama, wejangan2 dari Guru Besar Konfusius, panutan serta suri tauladan dari Para Suci di jaman terdahulu. Ketika Yesus membabarkan Injil apakah ia pernah menyebut dirinya adalah seorang Nabi/ Mesias? Ataukah pernah ia menyebut ajarannya sebagai agama Katolik atau Kristen? Ketika Nabi Muhammad SAW menyebarkan keluhuran Islam pada Jazirah Arab, pernahkah ia menyebut dirinya adalah seorang Nabi? Ia malah merendahkan dirinya dan berkata "Sebagaimana Allah adalah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang, sesungguhnya Aku hanyalah pesuruh Allah". Para Budiman, sesungguhnya tiada agama yang terbaik di atas muka bumi. Hou Xue meyakini kesemuanya kembali pada individu masing2 manusia yang meyakini ajarannya dan mengamalkan kebaikan yang diajarkan padanya. Lantas apakah karena hal ini I KUAN TAO disebut aliran sesat? Sekali-kali pun tidak.

Hou Xue sangat menghargai penelitian yang dilakukan oleh saudara, dimana itu berati anda sangat memahami ajaran Buddhis. Tetapi seperti peribahasa yang mengatakan, KETIDAKTAHUAN ADALAH MUSUH TERBESAR MANUSIA. Karena dari ketidakthuanlah akan muncul persepsi yang salah yang pada akhirnya akan menuju pada pertikaian. Hou Xue menyarankan, gunakanlah CE HUI/ KEARIFAN dalam berbagi pandangan dengan orang lain.

Kepada Para Budiman sekalian, teruslah berkarya dalam TAO. Pegang teguh ikrar dalam menjalankan TAO, senantiasa LAO MU & LAO SHI akan setia mendampingi kita. GAN EN - XIE XIE LAO MU CHE PEI.

SEMOGA BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA.

Anonim mengatakan...

Sungguh informatif dan menarik. Tetapi akan lebih baik bila artikel yang akan datang bersifat netral. Terima kasih.

Unknown mengatakan...

Saya mohon anda jangan mengatai ajaran maitreya yang tidak2. Karena artikel yang ada sampaikan tidaklah benar. Namo Ami Dasaman Buddhaya

LimOei Noei mengatakan...

maaf...tradisi ci sen sdh ada sejak zaman kakek guru...mldd mau dgn keluar dr segmen tsb....silahkan...mohon jangan sarkasme

LimOei Noei mengatakan...

baiklah... saya pemeluj ikuantao dr klan JI Cu CHU... saya sangat yakin ... empunya blogger sama sekali tidak asal usul tulisannya.
nah...sedikit saya beri keterangan ...diterima atau tidak...saya serahkan kembali kepada pribadi masing masing...

TULISAN DI atas itu merupakan hasil cuplikan dr salah satu forum keagamaan yg notabene beranggotakan orang orang asal Singapore...forum tersebut berbahasa Inggris.... saat itu diposting salah satu membernya pada tahun 2006.
oleh beberapa seperatis Buddhist asal Indonesia mencoba menyadurkannya kedalam bahasa INdonesia dgn berbagai sudut pandang...
Banyak yg tidak tahu...sebenarnya asal muasalnya itu berasal dr TAIWAN...ditulis tahun 1979 oleh seorang mantan ikuantao yg menjadi upasaka pd saat itu...
tulisan bahkan memprovokasi warga sehingga aparat setempat terpaksa bertindak untuk menangkapi para pemeluk ikuantao yg aktif...setelah itu buku tsb hilang dr peredaran.... tahuun 80 an...ikwantoa diresmikan sebagai aliran kepercayaan di TAIWAN..
....
ini hanya informasi yg saya ketahui jika ada para pendahulu yg lebih tahu..mohon menambah atau meluruskan informasi yg salah....
terima kasih

hindra mengatakan...

Penjelasan yang sangat bisa diterima..
Xie xie...
Saya juga pengikut ajaran i kuan tao fa i chong de..
Saya rasa..
Selama belajar membina diri..
Ada perubahan dalam diri saya...

Saya merasa ajarannya tidak bisa dikatakan sesat apabila ajaran yg diajarkan bersifat baik...

Anonim mengatakan...

Selama ajarannya baik,tidak boleh dikatakan sesat.karena ajaran yang baik akan menimbulkan energi yang baik bagi dirinya keluarganya dan seisi alam semesta.
Maka marilah berlomba menyebarkan kebaikan menimbulkan energi positif demi keselamatan dunia

Anonim mengatakan...

selama ajaran tersebut tetap di mengemplang nama ajaran sang buddha tetapi yang diajarkan berbeda dengan yang dibabarkan sang buddha. (silahkan baca sutta yang dibabarkan buddha) selama itu berbeda, tetaplah dikatakan sesat.
Buddha mengajarkan dhamma yang sangat berharga.. terus di copy paste sana sini di ubah sana sini.. hello.. come on..

kalau gak mau dibilang sesat, boleh kok daftar jadi agama baru. karena memiliki ajaran sendiri yang berbeda dari yang diajarkan sang buddha gotama.

Anonim mengatakan...

Keluarga Papa saya salah satu pengikut Cu Tao yang cukup fanatik dan di rumah kami ada Po Tang (sembahyang setiap Selasa). Saya sendiri bukan penganut (dan sering dikata-katai sebagai orang yang keras kepala karena saya percaya pada iman yang saya miliki). Ncek saya selalu bilang saya tidak mungkin selamat masuk sorga karena tidak ikut 'cu tao'. Dan, dalam perdebatan kami terakhir, dia menyatakan (bersikeras) Buddha itu berasal dari China bukan India.

Maaf, topik SARA memang isu sensitif. Orang takut bicara menyinggung SARA. Tapi, saya menjelaskan tokoh Sidharta Gautama sebagai tokoh sejarah, yang mana pasti bisa ditelusuri lewat serangkaian penelitian ilmiah. Dalam hal ini kita berpikir ILMIAH (obyektif), bukan subyektif.

Namun, perdebatan tentang agama selalu berakhir dengan cacian subyektif seperti "kualat" atau "bakal disambar petir".

Prilaku macam ini yang membuat orang emoh bicara soal SARA secara terbuka dan lapang dada, karena setiap orang yang diajak berdiskusi selalu bersikap "DEFENSIF" dan memojokkan secara personal.

Jadi, apapun ajaran agama yang berada di luar sana mengisi kekosongan yang tidak bisa atau sulit diisi oleh pola pikir ilmiah/science. Contohnya: Kematian, Kehidupan setelah mati, Reinkarnasi, atau Kebahagiaan, Kesengsaraan dsb.

Dan, inti ajaran yang terbaik biasanya tenggelam dengan prilaku pengikutnya. Dan sering kali kita terjebak dalam stigma tertentu seperti sesat, teroris, kafir.

Jadi apapun agamanya, kembali pada PEMELUK-nya! Apa tujuan mereka memeluk, apa tujuan mereka percaya, apakah agama tersebut menjawab pertanyaan mereka yang paling sulit terjawab. Jika mereka percaya itu, maka orang lain tak dapat menghakiminya. Itu saja.

Tapi, diskusi terbuka dengan pola pikir terbuka, ilmiah, dan obyektif itu perlu, biarpun topiknya tentang SARA. Dengan begitu kita belajar mengerti (bukan menghakimi).

Anonim mengatakan...

Jadi orang so tahu banget si...
Emang lu ud mati n ngerasain emang lu tahu dri mn ini salah itu salah .kalo semisalkan ini sesat berarti agama lu ga menutup kemungkinan itu sesat dong.emang lu tahu dri mana kalo ajaran lu ga sesat. emang (maaf) siddh**ta ksh tahu lu ktanya dia uda di nibbana lama . jadi gmn dikasih tahu lunya dia dinibanna uda lama.aduh mikir dong jadi orang.kalo kemungkinan ga nutup besar ajarannya sesat .brrti ajaran yg lain ga nutup kemungkinan juga ajarannya sesat.

Anonim mengatakan...

Saya sebelum nya juga i kuan tao. Lalu saya banyak mendengar prinsip budhhis dan saya ehipassiko. Jadi saya agak berubah sdkit pandangan dan saya skrng memeluk mahayana 100%. Menurut saya tidak seharusnya nya kita sbgai umat buddha menghina ajaran lain. Cukup dengan membetulkan pandangan yang salah tidak boleh menghina.. Kalau menurut pribadi saya sendiri i kuan tao adalah ajaran yang baik. Secara praktek sangat baik tapi untuk secara teori menurut saya kurang.. Tapi yang terpenting ada praktek. Jika sudah praktek maka semoga bisa selalu terlahir di alam yang lebih baik. Namobuddhaya

Poskan Komentar

Informasi

Video ini biasanya banyak dicari , saya bagikan untuk kawan kawan . Semoga Buddha Dharma semakin berkembang,Jika Tergerak untuk Donasi , Silahkan Di paypal saja.Om Mani Padme Hum.

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;