Jumat, 10 Agustus 2012

Se Mien Fo / Se Mien Shen / Dewa Empat Muka

Se Mien Fo / Se Mien Shen / Dewa Empat Muka

Polemik Brahmarupa
Oleh : Y.M. Maha Dhammadhiro Thera
(Artikel ini merupakan bagian dari tulisan berjudul Buddharupa)
Brahmarupa atau bentuk Brahma banyak dikenal belakangan ini dengan sebutan Dewa Empat Muka. Sebagian masyarakat suku Tiong Hoa menyebutnya Sie Mien Fuo (Buddha empat muka) atau Sie Mien Sen (Sie Bin Sin, Dewa empat muka). Sesungguhnya, apakah Brahma itu? Artikel di bawah ini ditampilkan untuk membantu mengkaji tentang keberadaan Brahma melalui pandangan beberapa sudut.

Arti Kata Brahma
Kata Brahma menurut konteks katanya berarti besar; makhluk yang berbadan besar disebut Brahma (mahantasarratya brahma, akar kata Braha = besar). Menurut pengertiannya, brahma berarti pembesar atau penguasa tiga alam, yakni; alam manusia, alam dewa dan alam brahma. Istilah Brahma memiliki banyak pengertian lain disesuai dengan ciri dan fungsinya, seperti: kakek (pitmaha), bapak, bapak makhluk alam (pitu), penguasa tiga alam (lokesa), makhluk yang lebih luhur di antara para dewa (surajettha), pemelihara makhluk hidup (pajapati), dsb.
Brahma dalam Tradisi Brahmana/Hindu

Brahma, sebagaimana yang kita kenali, adalah salah satu dari tiga dewa utama dalam agama Hindu. Pengikut Hindu mempercayai dewa ini sebagai dewa pencipta, dewa yang kekal, yang lebih tinggi dari dewa lainnya. Apabila berpasangan dengan dua dewa yang lainnya, yakni: Visnu dan Siva, ketiganya ini dikenal dengan julukan Trimurti. Istilah Trimurti ini muncul sekitar dua ratus tahun setelah Buddhaparinibbana, yakni saat kaum Brahmana menamakan ajarannya sebagai ajaran Hindu atau Jaman Hindu.

Sebenarnya, istilah Brahma ini telah muncul lama sebelum kemunculan jaman Hindu; yakni muncul pada Jaman Veda. Jaman Veda adalah jaman kedua dari empat jaman dalam agama Brahmana, yakni: jaman Ariyaka, jaman Veda, jaman Brahmanaka, dan jaman Upanisada (Hindu). Teori pembedaan masyarakat berdasarkan warna kulitnya atau yang dinamakan kasta muncul di jaman Veda ini. Dan, Brahma pada masa ini diyakini sebagai sumber dari keempat kelompok kasta di atas.

Rinciannya secara berturut-turut adalah, kasta Brahmana muncul dari mulut Brahma, kasta Ksatriya muncul dari lengan Brahma, kasta Vaisa muncul dari paha Brahma dan kasta Sudra muncul dari kaki Brahma. Kemudian pada jaman Brahmanaka, Brahma dijadikan sebagai objek pujaan tertinggi dengan menyisihkan kebesaran dewa Indra yang sebelumnya telah menjadi pujaan tertinggi sejak awal mula berdirinya agama ini, yakni sejak jaman Ariyaka dan awal jaman Veda. Brahma dianggap sebagai dewa pencipta menggantikan dewa Indra. Dan kaum Brahmana menyatakan diri bahwa kaum mereka adalah keturunan Brahma.

Terhitung sejak jaman Ariyaka, yakni jaman awal kaum Ariyaka menduduki wilayah India sekarang, kepercayaan terhadap dewa-dewa di jaman Brahmanaka ini kian lama kian bertambah kompleks dan timpang tindih asal-usul maupun tugasnya. Satu sosok nama dewa bisa berasal dari bermacam-macam sumber kemunculannya dan berlainan kwalitas dan kekuasaannya. Dewa-dewa yang dulunya berderajat tinggi pada satu jaman menjadi merosot sebagai dewa lumrahan di jaman lainnya. Sebaliknya, yang dulu berderajat rendah naik menjadi berderajat tinggi yang berperanan penting dalam mengatur kelangsungan alam semesta, termasuk alam manusia.

Brahma misalnya, dalam kitab Mandharmasastra dikatakan muncul dari telor emas dan sebagai pencipta dewa Visnu. Tetapi dalam kitab Varhapurna disebutkan bahwa Brahma muncul dari teratai yang muncul dari pusar dewa Visnu. Dalam kitab Padmapurna dikatakan, dewa Visnu ingin menciptakan alam, kemudian ia membagi diri dengan menciptakan Brahma dari pundak kanannya, menciptakan dirinya sendiri dari pundak kirinya dan menciptakan dewa Siva dari badannya. Kecuali di atas, masih banyak dewa-dewa objek pujaan lain yang kian lama kian tumpang tindih keberadaannya. Ketimpang tindihan sosok dewa berikut kwalitas dan kekuasaannya ini salah satu sebabnya adalah karena masing-masing kelompok masyarakat pemuja dewa tertentu berusaha mengorbitkan dewanya masing-masing. Dan terhadap dewa yang bukan pujaan mereka, keberadaannya akan dikesampingkan, bahkan didiskreditkan.

 Sehingga, setelah jaman Brahmanaka yang bertahan selama beberapa ratus tahun di mana dewa-dewa agama Brahmana pada masa itu berada pada titik puncak ketidak-jelasan dan sebagai salah satu subjek pertikaian antar kepercayaan, muncullah jaman Hindu yang berhasrat mengatur kembali, baik segi ajaran maupun objek-objek pujaan mereka. Di jaman Hindu, kaum Brahmana berhasil meringkas bentuk-bentuk dewa yang beraneka macam itu dalam satu bentuk berupa Trimurti. Terbit satu kesepakatan bahwa, Brahma adalah sosok pencipta, Visnu adalah sosok pemelihara, dan Siva adalah sosok penghancur.
Mengapa dewa Brahma memiliki empat muka? Pertanyaan sejenis ini banyak terlontar. Keberadaan Brahma dengan empat muka ini muncul dari kalangan kaum Brahmana sendiri. Asal usul dewa Brahma bukanlah memiliki empat muka, melainkan lima muka. Muka yang kelima terletak di ubun-ubun kepala. Namun muka yang kelima ini sirna karena adanya satu peristiwa. Ceritanya adalah sebagai berikut. Dulu, dewa Brahma hanya bermuka satu, seperti dewa-dewa lainnya. 

Ia mempunyai seorang shakti (dewi) bernama dewi Sarasvati, sebagai pendampingnya. Saat sang dewi, yang adalah sesosok dewi bertubuh indah, sedang memberikan pelayanan di dekat sang Brahma, sekonyong-konyong timbul sorot mata berbaur nafsu birahi tertampak di wajah sang Brahma. Karena tekanan perasaan gelisah atas pandangan itu, sang dewi menghindar sorotan mata sang Brahma dengan berpindah di sebelah kanan Brahma. Sang Brahma, atas dorongan nafsu birahinya untuk bisa mengagumi keindahan tubuh sang dewi, menciptakan muka di sisi kanan kepalanya. Sang dewi yang pemalu itu pindah lagi ke sebelah kirinya. Sang Brahma tidak pantang menyerah. Dia ciptakan muka di sisi kiri kepalanya mengikuti arah sang dewi.

 Sang dewi pindah lagi ke belakang dengan harapan bisa lepas dari sorot mata Brahma. Namun, sang Brahma tidak putus asa. Ia menciptakan muka di sisi belakang kepalanya. Karena merasa tidak ada tempat nyaman lagi baginya, sang dewi pun berdiam di angkasa. Di pihak lain, atas dorongan nafsu yang tiada tanda reda, sang Brahma menciptakan muka kelimanya di bidang atas kepalanya. Akhirnya, sang dewi yang tidak tahu apa yang harus diberbuat, pergi melaporkan hal tersebut kepada dewa Siva (versi lain mengatakan kepada dewa Visnu). 

Dewa Siva membantu mengatasi masalah sang dewi dengan menebas muka yang berada di bidang atas kepala,Brahma kehilangan muka atasnya. Dan mulai dari situlah Brahma menjadi bermuka empat,Cerita ini tampak seperti dongeng seribu satu malam. Tetapi inilah yang tercantum dalam kitab milik kaum Brahmana tentang asal mula Brahma empat muka atau Sie Mien Sen dalam bahasa Mandarinnya.
Brahma dalam Tradisi Buddhis
Tidak seperti dalam tradisi Brahmana/Hindu yang menempatkan Brahma di alam surgawi dan masih berlumur gairah nafsu (Komavacarabhava), Brahma dalam ajaran Buddha diletakkan di alam tersendiri, yakni alam Brahma, yang bebas nafsu gairah (Ruparupabhava). Dalam kitab-kitab agama Buddha, istilah Brahma sering disebut di sana. Artinya, agama Buddha mengakui keberadaan Brahma. Namun, istilah brahma dalam kitab agama Buddha itu memiliki pengertian yang berbeda dari kepercayaan kaum Brahmana. Batasan pengertian brahma diubah sedemikian rupa hingga sesuai dengan doktrin agama Buddha. Perlu diketahui juga, bahwa Sang Buddha banyak memberikan makna baru atas kata-kata yang sebelumnya telah dipakai di jaman itu, seperti misalnya kata arahanta, brahmana, mokkha, bhagavantu, dsb. Pengubahan ini utamanya ditujukan agar para pendengar ajaran Beliau memiliki pengertian baik dan benar.
Sebuah kata atau nama bisa mengandung makna lebih dari satu arti. Tiap-tiap makna berperan dalam memahami suatu ucapan atau ajaran. Karena itu, pemilahan makna kata dari makna-makna adalah satu tugas yang amat penting untuk mencapai maksud sebenarnya si pengucap. Pengertian lebih penting daripada nama itu nama yang menjulukinya sendiri. Karena, nama adalah sekadar julukan. Sedangkan pengertian adalah arahan dari suatu nama diucapkan. Untuk kata brahma misalnya, umat Buddha tidak diarahkan untuk memahaminya sebagai pusat dari makhluk alam semesta, sosok makhluk yang kekal, yang menentukan nasib setiap insan (yang sebenarnya juga termasuk nasib hewan dan makhluk lain), atau sosok makhluk yang secara langsung memberi anugerah sekaligus kutukan terhadap makhluk lain. 

Brahma dalam pengertian sebagai sesosok makhluk, adalah makhluk-makhluk yang telah mengembangkan kebajikan besar sehingga mampu menempati alam brahma. Brahma dalam agama Buddha bukanlah mewaliki satu makhluk saja, melainkan mewakili sekelompok makhluk dengan berbagai macam tingkatannya. Alam Brahma memiliki banyak tingkat. Tiap tingkat memiliki ciri khas, kemampuan, dan batas usia penghuninya. Dewa Brahma, meskipun berusia amat lama, juga akan habis masa usianya (meninggal dari alamnya). Ia pun akan melanjutkan kehidupannya di alam-alam lain seperti halnya makhluk manusia dan binatang. Dan, semasih belum mencapai tingkat-tingkat kesucian, mereka semua tak terlepaskan dari alam samsara.
Kembali pada pengertian Brahma, Sang Buddha sendiri dalam sabdanya, pernah menyebut diri beliau sebagai Brahma,
1 Brahmati kho bhikkhave tathagatassetam adhivacanam. Para bhikkhu, kata brahma ini merupakan nama Tathagata.
2 Brahma juga dipakai untuk pengertian orangtua, seperti dalam Buddhavacana ini, Brahmati matapitaro pubbacariyati vuccare, Ibu dan ayah pemelihara anak, disebut brahma dan disebut guru awal. Brahma berarti luhur
3 Brahmacakkam pavatteti Memutar roda nan luhur. setthatthena brahmam sabbabutanam
4 Pengetahuan si pengetahu segala yang merupakan brahma dalam pengertian luhur. Brahma mengacu pada empat keberadaan luhur (metta, karuna, mudita, upekkha), Brahmam, bhikkhave muditya cetovimuttiy.
5 Duhai para bhikkhu, di kala itu para bhikkhu berada dalam kediaman yang luhur yakni tempat berdiam dalam mudit, kebebasan pikiran. Keberadaan Brahma sebagai sosok penentu nasib, pemberi rejeki, kesehatan, keselamatan, dsb. tidak dikenal dalam pengertian Buddhis.

Perbandingan Brahma menurut Brahmana dan Buddhis

Brahma dalam Ajaran Brahmana:

1. Dikenal dalam ajaran para brahmana sejak Jaman Veda.
2. Sebagai sang pencipta dan bersifat kekal. Pada jaman Veda dianggap merupakan bagian dari segala sesuatu.
3. Dalam cirinya sebagai paramatman, dianggap sebagai sumber semua jiwa (atman).
4. Pada Jaman Brahmanaka, Brahma bersifat nonperson dan tak berjenis kelamin.
5. Masa berikutnya, bentuk Brahma lebih berbentuk person menyerupai manusia dengan memiliki empat muka.
6. Belakangan, Brahma mempunyai istri atau Shakti bernama Sarasvati (dewi kebijaksanaan) dan mempunyai angsa sebagai wahananya.
7. Dilengkapi dengan Brahma viharadharma.
Brahma dalam Ajaran Buddha :
1. Bukan makhluk kekal, bukan pencipta, bukan penentu garis hidup makhluk lain.
2. Berasal dari makhluk yang telah mengembangkan batin hingga di tingkat rupajjhana dan arupajjhana. Kehidupannya dibatasi oleh waktu.
3. Bersifat person, bermuka satu dan tidak memiliki istri atau Shakti.
4. Dilengkapi dengan Brahmaviharadhamma.
5. Istilah Brahma juga dipakai untuk pengertian luhur, dewasa, orangtua, dsb.
Menimbang perbandingan di atas, penerimaan brahmarupa sebagai bentuk pujaan dalam tradisi Buddhis dengan hanya beralasan bahwa brahma dikenal baik dalam ajaran Buddha tidaklah cukup. Baik bentuk dan konsep brahmarupa maupun persepsi pemuja terhadap brahmarupa perlu mendapat pelurusan sedemikian rupa sehingga penghormatan yang dilakukan itu bisa dikatakan sebagai penghormatan secara Buddhis. Namun pernyataan ini adalah terlepas dari sikap kebebasan berkehendak dari pemuja sendiri. Satu hak penuh bagi seseorang, dengan dasar pemikiran dan tujuan yang disadarinya, untuk memuja satu bentuk pujaan. Ulasan ini hanya memberikan kejelasan tentang prinsip brahma di masing-masing kepercayaan. Sebab, penerimaan satu bentuk pujaan luar ke dalam tradisi Buddhis akan berarti juga menghalalkan bentuk pujaan lain untuk masuk dalam tubuh Buddhis. Apa yang terjadi dalam agama Buddha apabila dalam tubuhnya penuh terisi dewa-dewa pujaan kepercayaan lain?
Brahmarupa di Thailand
Berikut ini adalah sekilas tentang kehadiran Brahmarupa ditengah-tengah masyarakat Thai. Artikel ini mengambil Thai sebagai kajian karena objek pujaan brahma yang sedang dibahas di sini berkaitan erat dengan yang ada di sana. Bisa dikatakan bahwa menjamurnya objek pujaan brahma oleh umat Buddha di Indonesia adalah pemasukan budaya dari negara itu.
Selain mewarisi tradisi Buddhis, masyarakat Thai mewarisi tradisi kaum Brhamana pula. Ajaran Brahmana berpengaruh di masyarakat ini tak kurang dari seribu tahun yang lalu dan masih tersisa pengaruhnya hingga kini. Kendati, ajaran Buddha telah menyebar luas di hampir keseluruhan negara sejak lebih dari seribu tahun. Ajaran Brahmana datang ke negara ini hampir bersamaan dengan kedatangan agama Buddha ke sana. Namun, ajaran Brahmana di sana lebih dikenal dari segi tradisi dan tata upacaranya, alih-alih dari ajarannya. Di sisi lain, agama Buddha mendapatkan tempat yang lebih resmi sebagai agama panutan mereka. Tradisi dan tata upacara Brahmana pun seolah menjadi bagian dari tradisi Buddhis. Para brahmana sendiri, sebelum memulai upacara ala tradisinya, memimpin peserta upacara memohon Pancasila kepada bhikkhu.
Seiring dengan berlangsungnya pengaruh tradisi Brahmana, kehidupan masyarakat sana pun tak terpisah dari hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan ini. Pura-pura Brahmana, ritual-ritual, pemujaan kepada para dewa, seperti: dewa Brahma, dewa Rah, dewi Umi atau Durga (pendamping dewa Siva), dewa Ganesa dan lain-lain bisa dijumpai di sana. Di antara para dewa di atas, Brahma adalah paling populer dipuja, yang mana adalah hal yang jarang terjadi dalam masyarakat penganut kepercayaan Brahmana di wilayah lain, meski di India sekalipun. Umat Brahmana di wilayah lain justru cenderung memuja dewa Siva, dewa Visnu atau dewa-dewa lainnya. Jadi, meskipun masyarakat Thai mengaku penganut Buddhis, yang sebagian memang adalah penganut buddhis yang taat, sebagian lagi adalah pemuja Brahmarupa juga. Brahmarupa yang dipuja adalah brahma dalam kepercayaan Bruhmana, sosok dewa bermuka empat, yang mampu sang pencipta makhluk, pemberi anugerah, rejeki, dan penentu garis hidup.
Berhubungan dengan Brahmarupa di Thai, ada sebuah legenda yang membuat patung dewa ini melejit tingkat kepopulerannya. Meskipun sebelumnya Brahma sudah dipuja oleh sebagian masyarakat Thai, puncak kepopuleran patung ini adalah baru sekitar duapuluh tahunan yang lalu. Satu hotel dengan nama Erawan, yang adalah nama seekor Gajah, dibangun di pusat pertokoan kota Bangkok. Konon pemilik hotel ingin membangun sebuah patung dewa yang menjadi penunggang gajah Erawan. Maka dibangunlah patung Brahma di pojok sebelah depan hotel, yang semestinya bukanlah patung dewa Brahma melainkan patung dewa Indra. Sebab gajah Erawan adalah wahana atau tunggangan dari dewa Indra. Sedangkan, dewa Brahma memiliki angsa sebagai wahana. Tidak diketahui kesalahan ini adalah suatu kesengajaan atau tidak. Belakangan, ada satu cerita tentang seorang wanita yang sedang di landa permasalahan, tidak tahu kemana harus bersandar, datanglah ia ke depan patung dewa Brahma yang kebetulan ia lihat di pojok sebuah hotel. Ia memohon penyelesaian masalah di hadapan sang patung. Tekadpun ia keluarkan, bahwa kalau masalahnya bisa terselesaikan, ia akan bertelanjang menari dihadapan sang patung. 

Alkisah, ia benar-benar terlepas dari kegundahan akan permasalahannya. Dilakukanlah tekadnya itu. Dari mulut ke mulut, peristiwa ini mengundang sensasi besar bagi masyarakat sekitar. Para pemandu jalan pun berpropaganda kepada para pelancong manca negara, terutama yang berasal dari wilayah Asia. Para pelancong pun, yang bak sembari menyelam minum air, beradu nasib dengan memohon segala hal yang mereka inginkan. 

Alhasil, meskipun yang terkabulkan permohonannya itu tidak lebih dari 1 persen dari keseluruhan jumlah pemohon, gema ketenaran sang patung di pojok sebuah hotel ini menjadi ke mana-mana. Dan, celakanya, sang patung ini akhirnya dikenal dengan istilah Sie Mien Fuo (Buddha 4 muka) alih-alih Sie Mien Sen (Dewa 4 muka), hanya karena untuk memudahkan pendengaran para pelancong. Asal berupa sebuah patung dan berada di kota Bangkok, satu kota yang padat dengan pemeluk Buddhis, semuanya dianggap sebagai Fuo, patung Buddha saja.
Dari ulasan yang cukup panjang lebar di atas, kira-kira jelaslah apa yang dimaksud Brahmarupa; bagaimana konsep dewa Brahma menurut Brahmana dan menurut Buddhis; dan, bagaimana pula sepantasnya seorang buddhis mengerti dan menghormat dewa Brahma. Sorot baliknya tentunya kembali kepada pengikut Buddhis masing-masing.

catatan kaki :
1. Majjhimanikaya, Atthakatha.
2. Vinayapitaka, samantapasdiktaka.
3. Mlapannasaka, Majjhimanikaya.
4. Salakkhandhavagga Atthakatha.
5. Lonakapallavagga, dukanipata.
Se Mien Fo ( Phak Phom )
1. Mengenal Se Mien Fo
Dalam sutra Buddha, di sepuluh penjuru Buddha dan bodhisattva serta alam semesta terdapat 31 alam kehidupan. Bumi ini hanya satu titik kecil di alam semesta.dalam 31 alam tersebut terdapat alam manusia, binatang, surge, neraka, alam jhana dsb.
Dalam alam pathana jhana bhumi terdapat 3 alam, yaitu alam Brahma Parisajja, Brahma Purohita, dan alam maha Brahma.
Se Mien Fo yang dikenal dengan Maha Brahma Sahampati ( dalam bahasa Thai dikenal sebagai Phak Phom sin Nei atau Pah pong ) adalah penguasa dari alam maha brahma yang merupakan alam tertinggi dalam alam pathana jhana bhumi dan merupakan penguasa alam semseta.
Dalam sejarah para dewa Thailand, ditulis yang pertama sekali lahir dijagad raya ini adalah Maha Brahma. Oleh karena itu dia dianggap sebagai pencipta oleh para dewa dan manusia, dia dianggap sebagai dewa terbesar karena menggerakan alam semesta dan merupakan penguasa dari alam-alam yang ada seperti manusia, asura, dewa dan alam lainnya.
Phak Pom memiliki kesaktian yang tidak terbatas. Keistimewaan Phak Pom ialah menawarkan pertolongan kepada orang yang dengan tulus bersujud dan berdoa kepada Nya dari seluruh arah, dan dia akan dengan senang hati mengabulkan permintaan mereka, sehingga terlihat semua hal yang dilakukan adil dan bijaksana.
Phak Pom memiliki empat muka yang melambangkan empat masa penciptaan, delapan telinga yang welas asih mendengarkan doa dari seluruh mahluk hidup, dan delapan tangan yang membawa alat keagamaan yang dipercaya memiliki makna khusus, yakni :
1. Tasbih ( manic manic ) untuk mengontol karma mahluk hidup dan reinkarnasi
2. Tangan di depan dada untuk menawarkan belas kasih dan berkah kepada seluruh mahluk hidup
3. Rumah keong untuk lambing kekayaan dan kemakmuran
4. Vas bunga ( teko ) untuk air berkat (pemenuhan keinginan )
5. Buku ( kitab Veda ) untuk lambing ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan
6. Tongkat untuk lambing kehendak dan kesuksesan
7. Cinta mani ( bendera kebesaran ) lambing kekuatan maha kuasa Buddha
8. Roda terbang ( cakram ) lambing menangkal bahaya bencana dan celaka, menangkal setan
Karena kewelas asihan dan kesaktian Phak Po mini maka semua dewa tunduk padanya. Kekuatan dari Phak pom memberikan bantuan atas nyawa yang dalam bahaya, keuntungan dalam usaha, jodoh dan lainnya.
Dikatakan bahwa jika seseorang ingin keinginan dipenuhi maka harus mendapat seorang penari striptease ( tarian tanpa busana ) wanita untuk pertunjukan di hadapan maha brahma sebagai persembahan, hal ini salah pengertian dan penuh dosa, memojokan dan tidak menghargai maha brahma.
Usia dari dewa Maha Brahma di alam pathana jhana bhumi mencapai satu asekheyya kappa sama dengan dua puluh antara kappa. Kappa sama dengan satu mil kubik berisi biji sawi dikali 100 tahun masa manusia untuk satu biji sawi.
Dalam menyembah Phak Pom, kita juga harus menerima ajaran kewelas asihan Phak Pom dari 4 penjuru, yaitu :
1. Arah depan ( metta ) artinya mengasihi seluruh mahluk hidup tanpa memandang perbedaan apapun.dengan mengasihi melalui ucapan, perbuatan, dan pikiran.
2. Arah kanan ( galula ) artinya memiliki hati yang tergerak untuk menolong penderitaan orang lain dan mahluk lain. Contoh : menolong orang miskin, orang sakit, melepas hewan.
3. Arah kiri ( mutitia ) artinya ikut berbahagia dengan perbuatan bajik orang lain, tidak iri, dan tulus membantu dan mengajak orang lain bebruat kebajikan.
4. Arah belakang ( ubega ) artinya kita harus mengembangkan ketulusan dan tidak terpaksa dalam membantu mahluk lain, tidak mengharap imbalan, menganggap semua adalah sama, tiada musuh atau kawan yang hendak ditolong saja.
Jika dengan tulus melakukan 4 hal diatas, maka semua akan berjalan lancer. Semakin banyak kita melakukan kebajikan, maka akan semakin membawa dampak yang baik bagi kita.bahkan para dewa juga ikut senang.
2. Tata cara sembahyang di Rumah
Dalam mengundang se mien fo, harus memperhatikan beberapa hal. Tempat sembahyang ( altar ) se mien fo jika tidak dapat ditaruh di ruang terbuka maka dapat ditaruh dalam rumah, asal ada tempat yang bersih sudah boleh. Hanya harus ingat tidak boleh ditaruh dekat toilet, atau berhadapan dengan toilet.
Hal yang perlu diperhatikan :
1. Altar se mien fo harus lebih rendah dari altar Buddha ( jika ada Buddha ), tetapi harus lebih tinggi dari tempat duduk dan tempat tidur kita.
2. Perlengkapan altar
a. Rupang atau gambar kalau di depannya ada ruang kosong boleh ditaruh vas bunga sepasang
b. Hio 7 buah
c. Bunga 7 warna
d. Hiolow 4 buah
e. Gelas 7 buah
f. Mi siang ( sejenis snack dari beras dan gula atau disebut jipang atau mipang )
g.Lilin 7 buah hari khusus, 2 buah hari biasa.
3. Meja sembahyang ( tempat sajian ) harus lebih rendah dari tempat kedudukan patung.tidak boleh lebih tinggi.
4. Altar harus bersih, saat sembahyang dengan bunga segar kalau layu segera diganti. Bunga-bunganya dapat berupa lotus, mawar, melati atau krisan, sedap malam atau bunga berwarna kuning cerah.
5. Usahakan air minum 7 gelas dapat diganti setiap hari.atau 3 hari sekali.
6. Sisa hio harus dibersihkan dari meja
7. Sembahyang dengan buah dapat berupa tebu, kelapa, pisang, jeruk, nanas, dsb. Hari biasa dapat ditaruh kelapa saja.
8. Jika mau minta permohonan, maka yang penting ada 7 hio dan satu mangkuk mi pang sudah cukup. Atau jika tidak dengan tulus berdoa saja.
9. Ketika mempersembahkan sesajian harus mengucap :
Saya yang bernama …..dengan tulus bersujud mempersembahkan sajian ini. Semoga phak pom menerima sajian ini dan semoga semua mahluk berbahagia dengan jasa pahala ini.

3. Upacara 
a. Kelahiran se mien fo
Hari kelahiran se mien fo tanggal 9 november setiap tahunnya.berbagai sajian yang perlu :
1. Jika sajian ditaruh I depan altar phak pom
a. Bunga 7 warna ditaruh dalam 7 mangkuk
b. Tebu dipotong dan dibagi dalam 7 mangkuk, diatasnya ditaruh satu bunga mawar setiap mangkuk.
c. 7 mangkuk bi pang diatasnya ditaruh satu mawar tiap mangkuk
d. 7 lilin disusun membentuk lingkaran dengan satu lilin di tengah, disusun di atas satu piring
e. 3 kelapa hijau yang kedua ujungnya sudah dikupas
f. Pisang 2 sisir
g. Air putih 7 gelas
h. Hio 7 batang
2. Jika sajian di empat arah muka
a. Hio 7 batang tiap arah
b. 4 kelapa hijau di tiap arah
c. Tebu tiap arah
d. Lilin kuning 4 buah, di tiap arah
e. 7 bunga mawar ditaruh di depan saja ( bagian muka utama )
f. Kalung melati dikalungkan di leher atau di setiap tangan
g. Bi pang di tiap arah.
Menaruh lainnya juga boleh seperti patung gajah ataubuah nanas dll. Jika hendak membersihkan patung. Harus phak puei ( minta ijin )dan saat mencuci harus dengan tulus dan badan kita juga bersih.
Akan lebih baik jika 7 hari, 3 hari sebelumnya atau tepat pada hari kelahirannya kita vegetarian. Dalam menyambut upacara nya, kita berdoa semoga semua lancer, tiada gangguan. Waktu yang terbaik pada jam 7 – 10 malam.
b. Hari biasa / khusus
Hari yang biasa untuk menaruh sajian yaitu hari uposatha dan kamis dalam setiap minggu.sajiannya yaitu :
a. Bunga apa saja dikalungkan atau ditaruh saja
b. Hio 7 batang
c. Lilin kuning
d. Satu mangkuk bi pang
e. Kelapa tiap arah 1 biji
f. Tebu satu potong tiap arah
Untuk sajian d,e,f, sesuaikan kemampuan. Jika tidak tersedia boleh salah satunya saja. Untuk hari biasa sembahyang cukup dengan lilin kuning dan hio 7 batang atau 4. Satu batang tiap arah, untuk air harus diganti tiap hari atau 3 hari sekali.
Waktu sembahyang terbaik pagi atau malam jam 7-8. Setiap pukul itu dipercaya phak pom turun kedunia. Sedangkan sajian boleh jam berapapun.
Tata cara sembahyang
Muka depan ( utama ) jam 6 pagi memohon kesehatan ketentraman, kerukunan, damai, jauh dari penyakit, bahaya, panjang umur, dan kesembuhan.
Muka kanan jam 9, memohon jodoh pribadi, pergaulan yang baik, wibawa, masalah selesai.
Muka belakang jam 12 siang. Memohon rejeki, lancer dagang, naik gaji, kemakmuran, utang piutang lancer.
Muka kiri jam 3. Memohon kui jin, selamat dijalan, ujian lulus, mengusir sial dan kemalangan.
Cara berdoa dimuali dari arah depan muka. Menuju ke kanan,searah jam, pada jam 6,9,12,3 digunakan untuk memohon sesuatu yang lebih khusus.

Hal yang dieprhatikan waktu memuja :
 Sewaktu memuja se mien fo baik sekali jika duduk di sebelah timur, menghadap barat.
Waktu sembahyang terbaik pukul 7 sampai 8. Sehari cukup 2x sembahyang, cukup 10 menit berdoa.
Patung phak pom bagusnya berwarna emas, karena ia berasal dari janin emas.
Mantra Maha Brahma
Pah pong ( dibaca 7x )
Om palam pati lama ( dinaca 7x )
Nammo tassa bhagavato arahate samma sambuddhassa
( dibaca 3x sebelum doa suci )
Doa Maha Brahma
Om karabindunatam Uppannam Brohmasaha patinama
Attikappe su, A, Kato pancapatunam Tsiva Namo Buddhaya
Vandanam
Siddhi kiccam, siddhi kammam, siddhi kariya tadakato,
Siddhi teco jayoniccam, siddhi ladho nirantaram sabba kamman
Pra siddhime, sabba siddhi bhavantu me
Mantra Maha brahma
Maha lapo, maha tero
Maha khong kha phan
Maha savathit, maha sitichai
Maha siti chut, maha amalichut
Om, si, siti, ut, bhavantu me
Iti piso bhagava, bhagavan patik
Nammo buddhaya, buddhaya, buddhaya

1 komentar:

Sanggar Agung mengatakan...

apa yang menyebabkannya punya empat muka?

Poskan Komentar

 
;