Jumat, 10 Agustus 2012

SEKILAS TENTANG KUAN KONG

Menyambut Ulang Tahun 

Maha Dewa Kongco Kwan Kong 

11 agustus 2012 ( Imlek 6 Gwee 24)



Hari Kebesaran Kwan Sing Tee Kun ( Kwan Kong ) :

Ulang Tahun Dewa Kwan Kong Imlek 6 Gwee 24 
Dewa Kwan Kong Naik Ke Langit Imlek 1 Gwee 14 
Dewa Kwan Kong Bersabda :

Manusia di dunia wajib sepenuhnya menghargai kejujuran, berbakti, kesetiaan dan keadilan dengan begitu, maka tidak mempermalukan diri sebagai seorang manusia yang dapat berdiri tegak diantara langit dan bumi. Jika tidak menghargai kejujuran, kesetiaan, berbakti dan keadilan, biarpun hidup di dunia, namun hatinya telah mati. Bisa dikatakan hidup semua umat manusia: Hati adalah spirit (Tuhan), Tuhan senantiasa didalam Hati. Barang siapa tidak mempermalukan hati, maka tidak mempermalukan Tuhan. Siapa berbohong terhadap hati, berbohong terhadap Tuhan. Maka orang yang bijak senantiasa menjaga perlakuan diri sendiri ( karena*) *(Three fears : Fear of heaven; fear of those who are more noble; and fear of Saints) *(Four knowledges: every act is known by heaven, earth, their partners and themselves).

Jangan mengira didalam “Ruang Gelap” bisa berbuat sewenang-wenang. Setiap tindak-tanduk kita harus dipertanggungjawabkan pada Tuhan, setiap tindak tanduk kita diawasi oleh 10 pasang mata dan 10 pasang tangan. Kebenaran akan ditegakkan, karma berjalan, tanpa sehelai rambutpun lolos.
Cabul adalah kejahatan yang utama, Berbakti adalah amal yang utama. Walaupun untung, bisa melanggar kebenaran, dan hati merasa bersalah, “Jangan dilakukan”. Walaupun tidak ada untung, tapi melanggar kebenaran dan hati tidak merasa bersalah, “Tetap lakukan”. Jangan mengira hal tersebut tidak ada gunanya dan menjadi malas, Barang siapa yang melanggar ajaran Ku, “Silahkan rasakan tajamnya golok Ku”.
Menghormat langit dan bumi, hormati para Mulia (Buddha dan Dewa-Dewi), hormati para leluhur, berbakti pada orang tua dan patuh pada hukum Negara. Hormati guru, sayangi saudaramu, percaya pada teman, harmonis dan ramah pada tetangga dan relasi, saling bantu dalam rumah tangga, dan didiklah anakmu.
Sering membantu dengan kemampuanmu, menolong yang susah dan perlu bantuan, kaum miskin, yatim piatu dan yang tertimpa bencana. Membantu dan memperbaiki vihara/kelenteng , mencetak kitab-suci. Sumbangkan teh dan obat-obatan pada peminta, melaranglah membunuh dan bebaskan makhluk-makhluk yang bernyawa kembali ke alam. Bangun jembatan dan perbaiki jalan, kasihanilah si janda, bantulah dikala kesulitan, hargai makanan dan rezeki, damaikan selisih paham, bantulah mereka yang berniat baik, berikan contoh yang baik, hapuskan kebencian dan kesalahpahaman, jujurlah dalam berbisnis, dekati teman yang berbudi, jauhi yang bertabiat jahat, jangan mengungkit kesalahan seseorang, ungkit kebaikannya, bantulah rakyat jelata.
Kembalilah pada jalan yang benar, sucikanlah hati dan pikiran. Bertindak welas-asih, lepaskanlah pikiran-pikiran jahat dan kotor, Semoga segala kebajikan dijalankan dengan percaya diri dan terus dilakukan, walau perbuatan itu belum diketahui orang, namun telah dicatat oleh Tuhan yang maha kuasa.
Dialah bertambah rezeki, berpanjang usia, keturunan semua dijaga didalam kemakmuran dan kebahagiaan, Dialah bencananya lenyap, penyakitnya bebas, dan seumurnya tak diserangi malapetaka dan mara bahaya. Orangnya sehat walafiat, aman sentosa pada semesta, bintang terang terus mencahayai seisi-rumahnya.
Jika orang senang berlaku kejahatan, tidak senang pada kedermawanan, atau suka mengotori orang perempuan, Kejodohan orang diperceraikan, atau senang mengumpat nama-nama orang, dan senang iri akan orang yang berkecakapan. Atau, Ingin memiliki harta orang lain, Dan sering menghasut orang, memperkarai dipengadilan, atau senang merugi orang lain. Keperluannya untuk memperkaya diri sendiri.
Ada kala memaki-maki pada angin dan hujan. Adakala mendendam pada langit, bumi dan alam, Juga memfitnah / menjelekan para orang bijak / Buddha atau orang yg juga suka membunuh sapi dan anjing. Merobek kertas yang bertuliskan kata2 suci atau mendidik,  Menghina pada Tuhan, makin kaya , makin tinggi kekuasaan, memaksa orang miskin merendahkan kedermawanan orang lain, menghasut dan mengganggu kerukunan saudara orang, supaya orangnya bercerai perpisahan, apalagi tak senang berlaku tulus-ikhlas, malahan senang berlaku pencabulan, pencurian, dan kedurjanaan, suka memboros, suka tipuan, tak suka giat bekerja, tak suka penghematan, juga tak sayangi hasil tanaman, gampang lupa membalas kebajikan orang lain, memperdaya diri sendiri, sering menggunakan timbangan yang tidak adil, dan berani menyiarkan agama Bida’ah untuk menipu rakyat jelata, dan membohong umatnya dapat naik surga menjadi dewata, sampingnya menipu barang-barang orang dan mengotori wanita, Main daya tipu muslihat tidak pilih terang atau gelap, omongnya penuh tipu muslihat, bersumpah serapah kepada orang diwaktu siang hari, namun membunuh orang digelap gulita, tidak senang mematuhi peraturan-peraturan Tuhan, malahan mengajak orang lain menjadi pelanggar, Juga tidak suka berlaku kedermawanan, suka melakukan hal hal jahat. Akhirnya, Dialah tertimpa hukuman, kesengketaan, kebencana alam, dan pencurian. Akhirnya, dialah keracunan, menderita penyakit berwabah, turunanya bodoh-bodoh dan anak guguran atau sekeluarganya dibunuh sipenjahat, kemudian yang sisanya jatuh disarang perampokan dan persundalan. Macam-macam malapetaka (karma) yang jauh menimpa anak cucu, yang dekat menimpa pada diri sendiri.
Segala dosa diawasi oleh Tuhan, Sekecil rambut pun tidak ada kesalahan yang lolos, Oleh karena itu, baik budi, buruk jahat adalah dua  jurusan, ditakdir Tuhan berlainan. Maka yang kedermawanan tetap dibalasi kebahagian, yang jahat hati tetap di timpa penderitaan. Persabdaan Saya ini, semoga umat sekalian dengan beribadat menjalankan, walaupun kata katanya begini sederhana, tetapi intinya yang berguna untuk meningkatkan kebutuhan jiwa raga kemanusiaan, barang siapa Sengaja mengkianati Sutra saya ini, Tentu tidak dapat dimaafkan. Barang siapa rajin membaca sutra ini setiap hari, pasti terhindar dari penderitaan dan mendatangkan kebahagian. Rajin2 baca sutra ini, memohon anak pasti didapat, memohon panjang umur juga pasti dipanjangkan. Rajin-rajin baca sutra ini, ingin rezeki, ingin kaya serta ingin kedudukan tinggi, pasti dikaruniai. Bila senantiasa membaca sutra yang mahasuci ini, percayalah apa yang niat pasti akan datang kemudian, ribu-ribuan malapetaka telah musnah, seisi rumah penuh kebahagiaan. Segala rezeki akan diberkati oleh Ti Cuen, tapi hanya dengan jalan yang berbudiman. Ti Cuen yang maha mulia tidak akan memihak, siapa jujur, siapa dilindungi. Segala kelakuan baik harap dilaksanakan, Semoga sukses, Semoga berjumpa dengan Tien Cuen dinegeri kesucian.

Pada akhir dinasti Han (199-220 SM) telah terjadi perang kekuasaan (perang saudara) yang menyebabkan negara di daratan Tiongkok itu terbagi atas tiga negara yaitu Wek, Suk Dan Wu pada tahun 220-280 SM). Kuan Kong adalah seorang jendral negara. Negara Suk amat termasyur. Dalam suatu pertempuran negara ia tertangkap bersama dengan anaknya dan keduanya dihukum mati.

Pada suatu hari Bhiksu Phuh Cing yang berdiam di suatu gunung Yu Chuan sedang bermeditasi, ia mendengar suatu teriakan: “kembalikan kepalaku! Kembalikan kepalaku!” berulang-ulang, Bhikshu Phuh Cing menengadah dan mengamati secara seksama karena ingin tahu siapakah orang yang berteriak-teriak itu. Ternyata yang berteriak itu adalah arwah Kuan Kong yang penasaran, dan sesaat kemudian Kuan Kong turun dari angkasa dengan menunggang kudanya sambil memegang golok besar.

Bhikshu Phuh Cing memukul pelana kudanya dengan kebutan seraya berkata “Dimana Yun Cang; (Yun Cang atau Un Ting adalah nama asli Kuan Kong). Pertanyaan ini membuat Kuan Kong mulai sadar (pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan tentang khas guru-guru sekte Dhaya kepada siswanya yang bertanya kepada Dharma, yang tidak dimengertinya. Pertanyaan sang siswa kadang kala dijawab oleh sang guru dengan pertanyaan pula dengan maksud agar siswa mencari sendiri apa jawabannya, karena pertanyaan sang guru mengandung Dharma).

Cerita Riwayat KongCo Kwankong
Guan Di atau secara umum disebut Guang Gong ( Kwan Kong – Hokkian ) yang berarti paduka Guan, adalah seorang panglima perang kenamaan yang dihidup pada zaman San Guo ( 221 – 269 Masehi ).


Nama aslinya adalah Guan Yu alias Guan Yun Chan ( Kwan In Tiang – Hokkian ). Oleh kaisar Han ia diberi gelar Han Shou Ting Hou. Kwan Kong dipuja karena kejujuran dan kesetiaan. Dia adalah lambang atau tauladan kesatria sejati yang selalu menempati janji dan setia pada sumpahnya.

Sebab itu Kwan Kong banyak dipuja dikalangan masyarakat, disamping kelenteng-kelenteng khusus. Gambarnya banyak dipasang dirumah pribadi, toko, bank, kantor polisi, pengadilan sampai ke markas organisasi mafia. Para anggota perkumpulan rahasia itu biasanya melakukan sumpah sejati dihadapan Kwan Kong.

Disamping dipuja sebagai lambang kesetiaan dan kejujuran, Kwan Kong dipuja sebagai Dewa Pelindung Perdagangan, Dewa Pelindung Kesusastraan dan Dewa Pelindung rakyat dari malapetaka peperangan yang mengerikan. Julukan Dewa Perang sebagai umumnya dikenal dan dialamatkan kepada Kwan Kong, harus diartikan sebagai Dewa untuk menghindarkan peperangan dan segala akibatnya yang menyengsarakan rakyat, sesuai dengan watak Kwan Kong yang budiman. Kwan Kong adalah penduduk asli kabupaten Hedong (sekarang Jiezhou) di propinsi Shanxi.

Bentuk tubuhnya tinggi besar, berjenggot panjang dan berwajah merah. Tentang wajahnya yang berwarna merah ini adalah cerita tersendiri yang tidak terdapat dalam novel San Guo ( kisah tiga negeri). Suatu hari dalam pengembaraannya, Kwan Kong berjumpa dengan seorang tua yang sedang menangis sedih.

Ternyata anak perempuan satu-satunya dengan siapa hidupnya bergantung, dirampas oleh wedana setempat untuk dijadikan gundik, Kwan Kong, yang berwatak budiman dan tidak suka sewenang-wenang semacam ini, naik darah. Dibunuhnya wedana yang jahat itu dan sang gadis dikembalikan kepada orang tuanya. Tetapi dengan perbuatan ini Kwan Kong sekarang menjadi buronan. Dalam pelariannya itu Ia sampai dicela DongGuan di propinsi Shanxi.

Ia lalu membasuh mukanya di sebuah sendang kecill yang terdapat di pergunungan itu. Seketika rupanya berubah menjadi merah, sehingga tidak dapat dikenali lagi. Dengan mudah Ia menyelip diantara para petugas yang diperintahkan untuk menangkapnya tanpa diketahui.


Riwayat Kwan Kong selanjutnya dan sampai akhir hayatnya ditulis dengan sangat indah dalam novel San Guo yang terkenal itu. Dalam babak pertama dalam novel tersebut diceritakan bagaimana Kwan Kong dalam pengembaraannya berjumpa dengan Liu Bei dan Zhan Fei disebuah kedai arak.

Dalam pembicaraan mereka ternyata cocok dan sehati, sehingga memutuskan untuk mengangkat saudara. Upacara pengangkatan saudara ini, dilaksanakan dirumah Zhan Fei dalam sebuah kebun buah Tao atau persik Liu Bei menjadi saudara tertua, Kwan Kong yang kedua dan Zhan Fei bontot. Bersama-sama mereka bersumpah sehidup semati dan berjuang untuk membela negara.

Peristiwa ini terkenal dengan nama “ Tao-Yuan-Jie-Yi ” ( Tho Wan Kiat Gie – Hokkian ) atau “ Sumpah Persaudaraan Di kebun Persik ”, sangat dikagumi oleh orang dari zaman ke zaman dan dianggap sebagai lambang persaudaraan sejati. Lukisan tiga bersaudara ini sedang melaksanakan upacara sumpah ini banyak menjadi objek lukisan, pahatan, patung keramik yang sangat disukai orang hingga dewasa ini.

Selanjutnya diceritakan ketiga saudara angkat ini membentuk pasukan sukarela untuk memerangi kaum pemberontak Destar Kuning yang pada waktu itu sangat mengguncangkan sendi-sendi kerajaan Han yang telah rapuh. Dalam pertempuran itu mereka memperlihatkan kegagahan sebagai prajurit dan pimpinan militer yang cakap.

Kegagahan Kwan Kong menjadi perhatian orang pertama kali pada saat terjadi pertempuran di benteng Hu Luo Guan. Waktu itu Liu Bei bersama kedua adiknya bergabung dengan ke-18 Raja Muda yang membentuk pasukan gabungan untuk menumpas Dong Zhuo yang lalim. Dong Zhuo mengangkat diri menjadi perdana menteri dan dengan seenaknya sendiri makzulkan Kaisar, dan menggantikannya dengan Kaisar kecil yang menjadi bonekanya.

Di Hu Luo Guan terjadi pertempuran besar antara pasukan gabungan para raja muda melawan bala tentara Dong Zhuo yang dipimpin oleh seorang panglima yang gagah perkasa, Hua Xiong ( Hoa Hiong – Hokkian ).

Dalam beberapa kali pertempuran pasukan raja muda mengalami kerusakan besar dan beberapa panglimanya tewas ditangan Hua Xiong. Yuan Xiao dan Cao Cao yang menjadi pimpinan gerakan itu jadi gelisah. Tiba-tiba Kwan Kong menyanggupkan diri untuk maju ke medan perang menghadapi Hua Xiong.

Semua orang memandang rendah kemampuannya, hanya Cao Cao yang melihat kehebatan terpendam yang ada pada diri Kwan Kong. Dengan secawan arak yang masih hangat Cao Cao mempersilakan Kwan Kong minum sebelum maju ke medan laga. Kwan Kong menolak, Ia minta agar arak itu ditunda setelah Ia pulang dengan membawa kepala Hua Xiong.

Di medan laga, hanya dengan beberapa gebrakan saja Hua Xiong jatuh dan tewas diujung senjata Kwan Kong. Dengan membawa kepala Hua Xiong, Kwan Kong pulang ke kubunya di sambut Cao Cao dengan arak yang masih hangat.

Sejak itu Cao Cao mulai tertarik kepada Kwan Kong. Hu Lou Guan masih sekali lagi menjadi saksi kehebatan Kwan Kong. Dengan gugurnya Hua Xiong, Dong Zhuo lalu mengangkat Lu Bu ( Lu Po – Hokkian ) sebagai komandan pasukannya. Lu Bu adalah seorang yang gagah perkasa yang jarang ada tandingannya di medan laga pada zaman itu. Dengan senjata tombak bercagak, Lu Bu mengobrak-abrik pasukan para raja muda tanpa ada yang mampu menghalanginya.

Pada saat yang genting itu, Kwan Kong maju ke depan dan mencegat Lu Bu. Keduanya bertempur dengan seru tanpa ada yang kalah dan yang menang. Melihat saudaranya sulit mengalahkan lawan, Liu Bei dan Zhang Fei segera mengeprak kudanya untuk menggerubuti Lu Bu. Pertempuran antara ketiga saudara menggerubuti Lu Bu, banyak menjadi objek lukisan yang menarik.


Akhirnya Lu Bu merasa tidak dapat memenangkan mereka, lalu ia memutar kudanya dan mengundurkan diri. Pertempuran yang bersejarah ini diperingati orang sebagai San Ying Zhan Lu Bu atau Tiga Pahlawan Menempur Lu Bu.

Kesetiaan Kwan Kong terhadap saudara angkat juga dikisahkan dalam novel sejarah ini. Dikisahkan setelah lolos dari usaha pembunuhan oleh suatu komplotan yang dipimpin oleh Dong Cheng ( Tang Sin – Hokkian ), Cao Cao makin menancapkan kuku kekuasaannya di ibukota, tanpa ada yang berani menantang. Sampai-sampai kaisarpun harus memperoleh izinnya terlebih dahulu apabila akan menemui seseorang.

Cao Cao berusaha menyingkirkan Liu Bei, yang dianggap duri dalam daging. Liu Bei pada waktu itu ada di kota Xuzhou. Bala tentara dikerahkan untuk menggempur kota kedudukan Liu Bei. Bersama Zhang Fei, Liu Bei berusaha menahan serbuan dari pasukan Cao Cao yang tak seimbang jumlahnya. Liu Bei dan Zhang Fei melarikan diri dengan berpencar diikuti tentaranya yang cerai berai.


Setelah Xuzhuo jatuh, Cao Cao mengerahkan pasukannya menggempur Xiapei, tempat kedudukan Kwan Kong dan keluarga Liu Bei. Karena kalah jumlahnya, akhirnya Kwan Kong terkepung di sebuah bukit. Cao Cao yang telah mengagumi pribadi Kwan Kong, berusaha menarik Kwan Kong agar mau menakluk kepihaknya.

Menyadari resiko dan tanggung jawab akan keselamatan keluarga kakaknya, Kwan Kong memutuskan menyerah, tapi dengan syarat bahwa walaupun bekerja pada Cao Cao Ia tetap setia pada Liu Bei, kakaknya dan begitu tahu Liu Bei berada Ia akan segera pergi untuk bergabung dan meninggalkan Cao Cao. Mulanya Cao Cao ragu-ragu menerima syarat ini.

Tetapi ia beranggapan bahwa apabila ia memperlakukan Kwan Kong lebih baik daripada yang telah dilakukan Liu Bei, tentu Kwan Kong akan tetap memihak dia. Begitulah Kwan Kong menakluk pada Cao Cao. Cao Cao memperlakukannya secara istimewa dan penuh dengan penghormatan. Pernah suatu ketika di perjalanan kembali ke Kota Raja, Cao Cao sengaja hanya menyediakan satu kamar di tempat rombongan Kwan Kong. Tetapi Kwan Kong tetap teguh hati.

Dibiarkannya tempat itu ditempati oleh dua orang istri Liu Bei, sedangkan Dia sendiri menjaga didepan pintu dengan golok terhunus sambil membaca kitab Chun Qiu ( kitab catatan hikayat zaman Chun Qiu yang ditulis oleh Nabi Kong Zi ).

Pose Kwan Kong membaca kitab Chun Qiu ini menjadi salah satu poin yang juga banyak disukai oleh pelukis dan pemahat pada zaman kemudian. Berulang kali Cao Cao berusaha merebut hatinya, tetapi selalu gagal. Suatu hari Cao Cao menghadiahkan jubah kebesaran kepada Kwan Kong ketika dilihatnya bajunya sudah tua dan lusuh.

Kwan Kong segera menanggalkan baju lamanya dan mengenakan baju baru pemberian Cao Cao. Tapi Kwan Kong mengenakan baju tuaNya kembali diluar baju baru Cao Cao. Ketika Cao Cao dengan heran bertanya, Ia menjawab “Baju Tua ini adalah pemberian kakak angkatKu Liu Bei, walaupun Aku kini mengenakan baju pemberian Paduka Perdana Menteri, tidak seyogyanya Aku melupakan budi kakak angkatKu”.

Mendengar jawaban ini, kekaguman Cao Cao makin bertambah. Hadiah-hadiah berupa emas, perak tak terhitung banyaknya, tetapi Kwan Kong tidak pernah menyentuhnya. Barang-barang tersebut hanya ditumpuk dalam gudang. Puluhan wanita cantik yang dikirimkan kepadanya diserahkan untuk melayani kedua kakak iparnya, tanpa Ia merasa tertarik untuk memiliki.


Dia dapat menjaga budi pekerti dan kesusilaan sehingga lawan-lawannya segan dan kagum padanya.
Untuk mengambil hati Kwan Kong, Cao Cao menghadiahkan seekor kuda yang disebut Chi Tu ( Kelinci Merah ) kepadanya. Kuda ini adalah bekas tunggangan Lu Bu yang dapat berjalan 1.000 li dalam sehari.

Seketika itu juga Kwan Kong berlutut untuk menghaturkan terima kasih kepada Cao Cao. Cao Cao dengan heran lalu bertanya “Aku telah menghadiahkan banyak barang kepada Jendral, tapi Jendral hanya menerima dengan biasa saja. Tapi kini demi seekor kuda, Jendral lutut dihadapanku, sungguh aneh”. Kwan Kong segera menjawab “ Barang lain walau bagaimana berharganya, Aku tidak memperdulikan, tapi dengan memiliki kuda ini, begitu Aku mendengar kabar dimana kakakKu, Liu Bei berada, Aku dapat dengan cepat pergi menemuinya ”.

Mendengar ini Cao Cao menyesal bukan main. Liu Bei yang melarikan diri dari Xuzhou akhirnya diterima oleh Yuan Xiao ( Wan Siauw – Hokkian ) penguasa wilayah Hebe. Atas saran Liu Bei, Yuan Xiao menggerakan tentaranya untuk menyerang Cao Cao. Pasukan Yuan Xiao ini dipimpin oleh panglimanya yang terkenal yaitu Yang Liang ( Gan Liang – hokkian ).

Para panglima Cao Cao tak dapat menahan serbuan Yang Liang, bahkan beberapa panglimanya tewas. Cao Cao gelisah melihat kegagahan panglima musuh ini. Kwan Kong minta izin untuk melawan Yang Liang, sekaligus untuk membalas budi Cao Cao. Yang Liang terbunuh hanya dengan sekali gebrakan saja, Wen Chou ( Bun Ciu – Hokkian ) juga salah satu panglima gagah yang diandalkan oleh Yuan Xiao, memimpin pasukannya untuk menuntut balas.

Kembali pertempuran berkobar, dan beberapa panglima Cao Cao terbunuh diujung senjata Wen Chou. Kembali Kwang Kong maju ke medan perang dan berhasil menumbangkan pahlawan dari Hebei itu, tanpa mengetahui bahwa Liu Bei ada di pasukan musuh. Kemudian secara rahasia Liu Bei berhasil mengadakan kontak dengan Kwan Kong dan menjelaskan dimana dia berada sekarang.


Bergegas-gegas Kwan Kong bersiap untuk pergi bersama kedua iparnya dan beberapa pengiring. Sesuai dengan janjinya Ia akan pergi secara jantan, dengan berpamitan kepada Cao Cao. Cao Cao secara licik selalu menghindar agar Kwan Kong jangan sampai bertemu dengannya. Akhirnya Kwan Kong memutuskan untuk berangkat walau tanpa perkenaan Cao Cao, dengan meninggalkan barang-barang berharga termasuk para wanita cantik hadiah Cao Cao dan sepucuk surat perpisahan.

Dengan menunggang kuda, Kwan Kong temani beberapa penggiring, mengawal kedua kakak iparnya melewati kota-kota yang dijaga oleh para panglima Cao Cao. Karena mencegah lewatnya Kwan Kong, enam panglima yang menjaga lima kota tewas di tangannya. Begitulah akhirnya Kwan Kong dapat bergabung kembali dengan Liu Bei dan Zhang Fei, dan bersama-sama mereka merintis usaha untuk menegakkan negara Shu yang akan menjadi salah satu dari Tiga Negeri atau San Guo.

Berkat keuletannya dalam berjuang akhirnya Liu Bei berhasil mengundang seorang ahli militer dan politik kenamaan yaitu Zhuge Liang alias Kong Ming ( Cut Kat Liang alias Kong Bing – Hokkian ), untuk menjadi penasehatnya. Pada waktu itu Cao Cao mengerahkan pasukan besar-besaran untuk menyapu daerah kekuasaan Liu Bei. Dalam beberapa kali pertempuran pasukan-pasukan Liu Bei terdesak.

Atas saran Zhuge Ling. Liu Bei mengadakan perserikatan dengan Sun Quan ( Sun Kwan – Hokkian ) untuk melawan Cao Cao. Berkat usaha Zhuge Liang akhirnya pasukan gabungan Liu Bei dan Sun Quan berhasil menghancurkan armada perang Cao Cao mundur ke darat, disana pasukan-pasukan Liu Bei bersiap memberikan pukulan yang terakhir.

Pertempuran di Chibi ini betul-betul menghabiskan energi Cao Cao, sehingga sejak itu ia tak berani bergerak ke seleatan lagi. Dikisahkan dengan sisa-sisa pasukannya Cao Cao yang tidak seberapa jumlah mengundurkan diri ke utara. Seperti yang telah diperhitungkan oleh Zhuge Liang, Cao Cao telah melewati suatu celah strategis yang disebut Huarong.

Tugas menjaga jalur penting ini dipercayakan kepada Kwan Kong. Mulanya Zhuge Liang ragu apakah Kwan Kong akan dapat menangkap atau membunuh Cao Cao, sebab penasehat militer ulung ini sangat paham watak Jendral yang sangat mengutamakan budi ini. Bukankah Cao Cao pernah menanam budi pada Kwan Kong, pada waktu Kwan Kong berpihak kepada Cao Cao. Kwan Kong berkeras akan menjalankan tugasnya, bahkan sedia di hukum mati bila Dia sampai gagal.


Melihat tekadnya, Zhuge Liang akhirnya menerima dan memberinya tugas untuk menjaga jalur vital itu. Cao Cao sesuai dengan perhitungan, lewat Huarong. Kwan Kong segera menghadang dan akan membunuhnya. Cao Cao melihat Kwan Kong, segera turun dari kuda dan berlutut mohon dia dibiarkan lewat, sambil mengingatkan Kwan Kong betapa ia memperlakukannya pada waktu Kwan Kong menyerah kepadanya.

Melihat keadaan Cao Cao yang compang camping dan prajuritnya yang tinggal tak seberapa itu, Kwan Kong tergerak hatinya, bagaimanapun dulu Cao Cao pernah menanam budi kepadanya. Akhirnya Ia rela melepaskan musuhnya itu, sebagai balasan atas perlakuan baik pada dirinya pada masa lalu, dan dengan tegap kembali kehadapan Zhuge Liang untuk bersedia dihukum mati karena telah menelantarkan tugas utamanya.

Atas saran Liu Bei, Kwan Kong dibebaskan dari hukuman. Zhuge Liang sendiri juga menyadari bahwa memang Cao Cao belum saatnya tumpas. Perbuatan Kwan Kong ini sangat di kagumi oleh orang dari zaman ke zaman, sehingga Ia diangkat sebagai Dewa dan banyak dipuja dan dihormati. Sampai akhir hayatnya Kwan Kong tetap setia pada saudara-saudara angkatnya.

Pada waktu itu Liu Bei sudah berhasil mendirikan kerajaan dengan nama Shu ( Siok – Hokkian ) yang merupakan kelanjutan kerajaan Han yang dirampas oleh Cao Cao, wilayahnya yang meliputi propinsi Sichuan sekarang dengan ibukota Chengdu. Cao Cao menguasai daerah lembah sungai Huang He ( Sungai Kuning ) dan mendirikan kerajaan Wei ( Gui – Hokkian ) dengan ibukota Luoyang. Sun Quan mendirikan kerajaan Wu ( Gui – Hokkian ) dengan ibukota Wuchang, kemudian dipindahkan ke Nanjing yang meliputi wilayah yang membentang dari tengah dan hilir sungai Yangzi.

Keadaan yang disebut Tiga Negeri sudah terbentuk. Kwan Kong menjaga kota strategis, Jingzhou berusaha meluaskan kekuasaannya dengan menyerbu ke utara. Dengan waktu singkat dapat disebut kota Fancheng dan memukul mundur pasukan Cao Cao yang dipimpin oleh Jendralnya yang bernama Cao Ren ( Co Jin – Hokkian ). Kemudian ketika bala tentara Cao Cao dengan jumlah besar datang memberikan bantuan, Kwan Kong berhasil menhancurkan mereka dengan menenggelamkan dalam banjir dan pimpinannya, Pang De ( Bank Tek – Hokkian ), dan Yu Jin tertawan.

Memahami situasi yang tak menguntungkan pihaknya, Cao Cao segera mengajak Sun Quan untuk berserikat. Sun Quan, yang telah lama menginginkan kota JingZhou, yang dikuasai Kwan Kong, kembali kedalam wilayah kekuasaannya, setuju dan mengerakan pasukan merebut JingZhou. Kwan Kong akhirnya berhasil di jebak dan di tawan, kemudian dihukum mati karena menolak untuk menakluk. Karena takut akan pembalasan Liu Bei, kepala Kwan Kong dikirimkan ke tempat Cao Cao.

Kwan Kong gugur pada tahun 219 Masehi dalam usia 60 tahun. Cao Cao yang telah lama kagum kepada Kwan Kong, memakamkan kepalanya, setelah disambung dengan tubuh dari kayu cendana, secara kebesaran. Kuburan Kwan Kong terletak di propinsi Henan kira-kira 7 km sebelah utara kota Louyang. Pemandangan di situ sangat indah, sedangkan bangunan kuburannya sangat megah seakan-akan sebuah bukit kecil dari kejauhan.


Sekeliling bangunan itu ditanami pohon Bai (Cypress) yang selalu hijau, melambangkan semangat Kwan Kong yang tidak pernah padam dan abadi dari jaman ke jaman. Pohon-pohon itu kini sudah menghutan dan ratusan tahun umurnya, seban itu tempat tersebut dinamakan Guan Lin atau Hutan Guang Gong. Batu nisannya adalah hadiah dari kaisar dinasti Qing, dimana makan itu dipudar kembali.Berdekatan dengan Guan Lin, terdapat sebuat kelenteng peringatan untuk mengenang Kwan Kong, yang dibangun pada jaman dinasti Ming.

Kelenteng itu merupakan hasil seni bangunan dan seni ukir yang bermutu tinggi, sehingga merupakan objek wisata yang selalu dikunjungi para wisatawan dari dalam negeri dan luar negeri. Kelenteng peringatan Kwan Kong yang tersebar diseluruh Tiongkok terdapat di Jiezhou, propinsi Shanxi. Jiezhou, yang pada jaman San Guo disebut Hedong, adalah kampung halaman Kwan Kong. Kelenteng itu memiliki keindahan bangunan dan arsitektur yang sangat mengagumkan dan merupakan salah satu objek wisata terkemuka di Shanxi.

Sebagai dewata, Kwan Kong dipuja umat Taoisme, Konfusianisme dan Buddhisme, Kaum Taoist memujanya sebagai Dewata pelindung dari malapetaka peperangan, sedangkan kaum Konfusianisme menghormati sebagai Dewa Kesusasteraan dan kaum buddhis memujanya sebagai Hu Fa Qie Lan atau Qie Lan Pelindung Dharma.

Menurut kaum Buddist, setelah Kwan Kong meninggal arwahnya muncul dihadapan rahib Pu Jing di kuil Yu Quan Si di gunung Yu Quan Shan, propinsi Hubei, Rahib Pu Jing pernah menolong Kwan Kong yang akan dicelakai seorang panglima Cao Cao, dalam perjalanan bergabung dengan Liu Bei. Setelah itu karena takut pembalasan Cao Cao si rahib menyingkir ke gunung Yu Quan Shan dan mendirikan Kuil Yu Quan Si. Liu Bei yang sangat berterima kasih akan budi Ragib Pu Jing kepada adik angkatnya itu, lalu memberikan dana yang cukup besar untuk membangun kelenteng Yu Quan SI sebagai balas budi.

Setelah meninggal roh Kwan Kong kemudian pergi menemui Rahib Pu Jing yang ketika itu sedang bersemedi, Kwan Kong menampakkan diri di hadapan Rahib itu, tempat penampakan roh Kwan Kong itu kemudian ditandai oleh sebatang pilar yang bertuliskan “Disini tempat Guan Yun Chang dari dinasti Han menampakkan diri”. Pilar batu itu adalah hadiah dari kaisar Wan Li jaman Dinasti Ming dan masih bisa dilihat sampai sekarang.Kepada Rahib Pu jing, roh Kwan Kong minta pelajaran Dharma. Sejak itu Kwan Kong menjadi pengikut Buddist dan berikrar menjadi pengawal agama Buddha dan ajarannya.

Telah lebih 1000 tahun sejak itu Kwan Kong dipuja sebagai Boddistsatwa Pelindung Buddhadharma.Penghormatan terhadap Kwan Kong sebagai orang ksatria yang teguh terhadap sumpahnya, tidak goyah akan harta kekuasaan dan kedudukan dan setia terhadap saudara-saudara angkatnya, menyebabkab ia memperoleh penghormatan yang tinggi oleh kaisar - kaisar pada jaman berikutnya.


Kwan Kong memperoleh gelar yang tidak tangung-tanggung Ia dsebut ” Di ” yang berarti ” Maha Dewa ” atau ” Maha Raja “. Sejak itu Ia disebut Guan Di atau Guan Di Ye ( Koan Te Ya - Hokkian ) yang berarti Paduka Maha Raja Guan, sebutan Kedewaan yang sejajar dengan Xuan Tian Shang Di. Tercatat disini beberapa gelar kehormatan untuk Kwan Kong yang dianugrahkan oleh kaisar - kaisar dari berbagai dinasti :

1. Pada tahun 1120 kaisar Wei Zong dari dinasti Song memberi gelar kehormatan sebagai ” Zhong - Yi - Hou atau Raja Muda Nan Setia dan Berbudi “. Delapan tahun kemudian sejak itu, kaisar Gao Zong menanbah dengan sebutan Xie Tian Shang Di atau Maha Raja Agung dan Penentram Langit ( Hiap Thian Siang Te - Kokkian ).

2. Kaisar Wei Zong dari Dinasti Yuan ( Mongol ) pada tahun 1330, menghormatinya dengan tambahan gelar ” Wen Heng Di Jung atau Maha Raja Kesusastraan Yang Abadi “.

3. Kemudian pada tahun 1594 kaisar Wan Li dari dinasti Ming memberi gelar ” Zhong-Yi Da Di yang berarti Maha Raja Agung Yang Berbudi Dan Setia”. Pada jaman ini lebih banyak lagi kelenteng untuknya didirikan sedangkan yang telah ada dipugar diseluruh negeri agar masyarakat luas dapat lebih leluasa menghormatinya.

4. Tahun 1813 kaisar Jia Qing dari dinasti Qing ( Manzhu ) melengkapi gelar untuk Kwan Kong dengan menyebutkan ” Wu Sheng Guan Gong atau Guan Gong Orang Bijak Kemiliteran “.

5. Pada tahun 1813, konon Kwan Kong menampakkan diri membantu pasukan kerajaan dalam pertempuran dengan pasukan pemberontakan. Sejak itu kaisar Xian Feng mengangkat sebagai Dewata Pelindung Kerajaan dan menambah sebutan Fu-Zi yang berarti Nabi, setara dengan nabi besar Kong Fu-Zi ( Kong Hu cu - Hokkian ) dalam upacara kehormatan.

Kwan Kong ditampilkan dengan berpakaian perang 1 lengkap, kadang - kadang membaca buku dengan putra angkatnya Guan Ping ( Koan Ping - Hokkian ) yang memegang cap kebesaran dan Zhou Chang pengawalnya yang setia, bertampang hitam brewokan, memegang golok Naga Hijau Mengejar Rembulan, senjata andalan tuannya.

Guan Ping memperoleh gelar Ling Hou Thi Zi ( Leng Houw Thay Cu - Hokkian ), hari kelahirannya diperingati tanggal 13 bulan 5 imlek, sedangkan Zhou Chang ( Ciu Jong - Hokkian ) atau Jendral Zhou, diperingati hari kelahirannya pada tanggal 20 bulan 10 imlek. Dalam pemujaan dikalangan buddhis, kwan Kong dipuja sendirian tanpa penggiring. Sering juga ditampilkan sebagai Qie Lan Pu Sa ( Ka Lam Po Sat -Hokkian ) atau Boddhisatwa Pelindung, bersama-sama Wei Tuo.

Hari ulang Tahun Kwan Kong jatuh pada tanggal 13 bulan 2 dan tanggal 13 bulan 5 imlek di Singapura dan Malaysia. Sedangkan Di Hong Kong, Taiwan dan daratan Tiongkok memperingati kelahirannya pada tanggal 24 bulan 6 imlek, tanggal 13 bulan 1 imlek sebagai hari kenaikannya.Seiring dengan mengalirnya para imigran Tionghoa keluar Tiongkok, pemujaan Kwan Kong tersebar ke negara-negara yang menjadi tempat tinggal para perantau itu.

Di Malaysia, Singapura dan Indonesia banyak sekali kelenteng yang memuja Kwan Kong. Di Indonesia kelenteng yang khusus memuja Kwan Kong, dan terbesar dengan wilayah seluas kira-kira 4 Ha adalah kelenteng Guan Sheng Miao ( Kwan Sin Bio ) di Tuban, Jawa Timur. Ditempat Pemujaan Kwan Kong biasanya ikut dipuja juga seorang tukang kuda yang dipanggil Ma She Ye atau Tuan Ma. Ia bertugas merawat kuda tunggangan Kwan Kong yang disebut Chi-Tu-Ma ( Cek Thou Ma - Hokkian ) atau Kelinci Merah, yang dalam sehari bisa menempuh jarak 500 Km tanpa merasa lelah.

Hari lahir Ma She Ye ini diperingati pada tanggal 13 bulan 4 Imlek. Dibeberapa kelenteng di wilayah Taiwan bersama-sama Kwan Kong dipuja Zhang Fei, Sang Adik Angkat, Liu Bei Sang Kakak, dan Zhao Zi Long ( Thio Cu Liong - Hokkian ). Zhao Zi Long atau Zhao Yun ( Thio In - Hokkian ) adalah panglima perang yang terkenal berani yang membantu Liu Bei menegakkan negaranya.


Jasa Zhao Yun yang terutama adalah bahwa ia pernah menyelamatkan putra Liu Bei dari tangan musuh-musuhnya. Pada waktu itu Liu Bei sedang menghadapi situasi kritis, serbuan pasukan Cao Cao memaksanya mengundurkan diri untuk membangun pertahanan yang aman.Zhao yun pada waktu itu bertugas mengawal keluarga Liu Bei. Dalam keadaan kacau balau akibat serbuan pasukan Cao Cao, Zhao Yun kehilangan istri Liu Bei bersama putranya. Ia lalu membalikkan kudanya dan menerjang kembali barisan musuh untuk mencari istri junjungannya itu.

Para panglima Cao Cao menyerbunya. Seorang diri Zhao Yun menerjang, siapa yang menghalangi tewas kena tebasan pedang dan tombaknya. Berpuluh-puluh pahlawan Cao Cao tewas ditangannya. Akhirnya istri Liu Bei yaitu Nyonya Mi, ditemukan berlindung di sebuah rumah yang sudah runtuh di dekat sebuah sumur dengan putra dipelukannya.

Zhao Yun meminta Sang Nyonya menaiki kudanya, ia mengawalnya sambil berjalan menerobos kepungan musuh yang berlapis-lapis. Tapi Sang Nyonya yang memahami kesulitan pahlawan ini menolak. Setelah menyerahkan putranya agar diselamatkan oleh Zhao Yun, ia lalu menerjunkan diri kedalam sumur. Seorang diri Zhao Yun kembali menerjang kepungan musuh, sampai akhirnya berhasil lolos dan menyerahkan sang bayi kepada Liu Bei yang menunggu dengan cemas.

kepahlawanan Zhao Yun ini dilukiskan dengan sangat menawan dalam novel San Guo. Zhao Yun atau Zhao Zi Long secara umum disebut Zi Long Ye atau Paduka Zi Long. Hari lahirnya diperingati pada tanggal 16 bulan 2 imlek.
Zhang Fei diperingati kelahirannya pada tanggal 13 bulan 8 imlek. Sebuah kuil peringatan untuk Zhang Fei terdapat di kaki gunung Fei - feng Shan, di tepi sungai Yang Zi diluar kota Yunyang, propinsi Sichuan, yang dibangun lebih dari 1700 tahun yang lalu, pada akhir kerajaan Shu. Liu Bei diperingati pada tanggal 24 bulan 4 imlek. Pemujaan secara bersama-sama Liu Bei, Kwan Kong dan Zhang Fei juga sering terdapat untuk mengenang sumpah persaudaraan mereka yang abadi dan di kagumi orang dari jaman ke jaman.

KWAN KONG – BODHISATTVA SATYAKALAMA

Guan sheng di jun (Hokkian:Kwan Seng Tek Kun) atau yang lebih dikenal sebagai Guan Gong (Kwan Kong) adalah seorang jenderal terkenal yang hidup pada zaman tiga negara (Sam Kok – 219 M). beliau lahir di He Dong (sekarang Jie Zhou), propinsi Shan Xi, dan bernama asli Guan Yu alias Guan Yin Zhang.

Kwan Kong telah mencapai kesempurnaan dengan gelar Bodhisattva Satyakalam, Guan Sheng Di Jun (Kwan Seng Tek Kun). Dalam Agama Buddha, gelar Di Jun (Tek Kun) adalah setingkat dengan Bodhisattva. Bodhisattva pria biasanya bergelar Di Jun. Sedangkan Bodhisattva wanita bergelar Pho Sat. Kwan Kong juga bergelar Fu Mo Da Di (Bodhisattva Penakluk Mara), Guan Fa Li Zu (Bodhisattva Penegak Hukum). Ada umat yang bertanya: dari mana kita tahu bahwa Dewa Kwan Kong telah mencapai Bodhisattva? Perlu kita ketahui bahwa perbedaan utama antara Bodhisattva dengan Dewa adalah: Bodhisattva bersifat internasional (Diakui seluruh dunia), sedangkan Dewa bersifat lokal (kedaerahan). Contoh: Kwan Im Pho Sat yang dikenal sebagai dewi Kwan Im, adalah Bodhisattva. Beliau di hormati (diakui) diseluruh dunia, bahkan orang Baratpun mengenalnya sebagai Goddes of Mercy. Dimana ada Wihara/Kelenteng, disitu pasti ada arca Kwan Im Pho Sat. San Bao Da Ren (Sam Po Tai Jin) adalah Dewa, beliau dihormati di Indonesia khususnya Jawa Tengah, arcanya hanya terdapat di beberapa kelenteng saja.

Kwan Kong bersifat Internasional, diakui seluruh dunia. Arca Kwan Kong terdapat di Wihara/Kelentang di berbagai belahan dunia. Bahkan Kwan Kong adalah salah satu Dewata yang dipuja oleh ketiga agama (Sam Kauw) sekaligus. Kaum Buddhist menganggapnya sebagai Dewata Pelindung Kuil dan Bangunan-bangunan suci (Salah satu dari Ke Lan Seng Ciong Pho Sat). Kaum Taoist menghormatinya sebagai Malaikat Pelindung Peperangan. Sedangkan kaum Confusianist memujanya sebagai orang suci dan teladan dalam hal setia, pri kebenaran dan keberanian. Sepanjang kekaisaran Tiongkok dan pada dinasti Qing, Kwan Seng Tee Kun amat dipuja bersama-sama Kwan Im Hut Co. Beliau adalah Dewata Utama Pelindung Kerajaan.

Gambar dan arcanya populer dengan ujud Beliau duduk membaca kitab Hikayat zaman Chun Chiu (salah satu dari lima kitab klasik). Bersama 4 dewata pendidikan lainnya beliau dipuja sebagai 5 dewata pendidikan (Ngo Bun Ciang). Rakyat pada umumnya memujanya sebagai dewata sipil dan militer (Bun Bu Seng Sin) dan salah satu dari Dewata Harta (Cay Sin). Bersama anak angkatnya Koan Phing, dan pengawalnya Ciu Chong yang setia, Beliau banyak dipuja baik di kelenteng maupun di rumah-rumah.

Dalam kisah tiga negara (Sam Kok) Kwan Kong adalah seorang Jenderal yang bernama Guan Yi (Kwan Yi). Lalu bagaimana Jendral Kwan Yi (Kwan Kong) bisa menjadi Bodhisattva? Seperti kita ketahui, Bodhisattva adalah seorang pembina diri yang penuh dengan cinta kasih. Sedangkan seorang jendral di jaman peperangan pastilah banyak membunuh orang. Ini adalah hal yang amat kontradiktif. Namun perlu kita ketahui bahwa seseorang bisa menjadi Bodhisattva bila ia memiliki suatu kepribadian luhur yang luar biasa. Kepribadian luhur Jendral Kwan Kong yang luar biasa adalah Kesetiaan dan Peri Kebenaran.

Berikut adalah intisari dan kepribadin luhur dari sejarah hidup Kwan Kong dalam kisah Sam Kok (kisah tiga negara).
  1. Setia kepada negara
pada suatu peperangan, Kwan Kong sendirian dikurung oleh ratusan prajurit musuh (Chao-Chao). Namun beliau tidak takut mati, tetap tidak mau menyerah kepada kepada Chao-chao. Malah mengajukan 3 syarat: 1.takluk kepada kerajaan Han, bukan kepada Chao-chao. 2.keluarga Lauw Pie (isteri Lauw Pie) dijamin kemanannya, 3.bila telah mendengar keberadaan Lauw Pie, Kwan Kong diperbolehkan bergabung kembali dengan kakaknya. Chao-chao dengan sangat terpaksa menerima ketiga syarat ini (Coba kita pikir: mana ada orang yang menyerah, tapi mengajukan 3 syarat???). kemudian Kwan Kong tinggal di istana Chao-chao selama 12 tahun, namun beliau tetap setia kepada Dinasti Han dengan prinsip patriotic:menyerah kepada Han, bukan Chao.

  1. Menjaga norma susila
Kwan Kong menjaga keselamatan kedua kakak ipar selama 12 tahun, ditemani lilin membaca kitab sastra Chun Chiu. Tak berani meninggalkan kakak ipar, karena takut mereka mendapat bahaya. Saat kedua kakak ipar tidur, Kwan Kong tidak tidur dan menjaga di luar kamar, mempersiapkan golok untuk menjaga keselamatan kedua kakak ipar. Sebenarnya Chao telah membangun istana yang megah untuk Kwan Kong, namun Beliau tak mau tinggal di dalamnya, karena senantiasa mengkhawatirkan kedua kakak iparnya. Lalu Chao dengan licik mengatur Kwan Kong tinggal dengan kedua kakak iparnya dalam satu atap yang sama, ingin melihat Kwan Kong bisa menjaga norma susila. Kalau melanggar berarti kegagahan Kwan Kong telah lenyap di tangan Chao, dan tidak ada muka untuk kembali kepada Lauw Pie. Tapi taktik Chao tidak berhasil. Selama 12 tahun Kwan Kong berhasil menjaga Norma Susila. Manusia adalah makhluk yang berperasaan, orang yang tinggal bersama selama 12 tahun pasti ada perasaan. Namun Kwan Kong bisa menjaga kesucian. Sungguh luar biasa! Hawa ksatria membumbung tinggi ke angkasa, sepanjang sejarah manusia tiada orang kedua (along the history there was no the second man).
  1. Tidak tergiur akan kesenangan
Chao-chao melayani Kwan Kong dengan 3 hari 1 pesta kecil, 5 hari 1 pesta besar, dengan siasat lembut ingin menaklukkan hati Kwan Kong agar mau mengabdi kepadanya. Karena Chao-chao melihat Kwan Kong menjaga Lauw Pie selama berperang, dengan penuh penderitaan, letih, tiap saat terancam bahaya. Namun Kwan Kong tetap setia kepada Lauw Pie, hatinya tidak tergerak dengan pesta-pesta tersebut.
  1. tidak silau akan nama dan harta
Kwan Kong dilantik sebagai Sou Ting Hou (panglima laskar tertinggi angkatan perang), naik kuda diberi emas, turun kuda diberi perak. Chao chao sangat pintar menjilat/mengambil hati: setiap Kwan Kong turun dari kuda ada pengawal yang memberi sekantung perak. Tetapi Kwan Kong tidak bergeming, tidak serakah akan harta (Coba kalau kita tukar posisi; misalnya setiap mau naik mobil diberi emas, begitu turun dari mobil diberi sekantung perak. Jika kita serakah, ingin mendapat harta yang berlimpah dengan mudah, maka kita setiap hari pekerjaannya hanya naik dan turun mobil saja). Chao merasa kesal, apakah emas dan perak saya palsu?karena di otak Chao chao, di dunia ini tidak ada orang yang tidak bisa ditaklukkan dengan 4 Ta: harta (emas dan perak), tahta (kedudukan tinggi:Sou Ting Hou), wanita cantik (chao chao mengirimkan puluhan wanita cantik kepada Kwan Kong, tetapi beliau tidak merasa tertarik sama sekali, malah diserahkan untuk melayani kedua kakak iparnya. Ada pepatah Tiongkok yang mengatakan, Ying Xiong Nan Guo Mei Ren Guan, yang berarti seorang pahlawan sukar melewati gerbang ujian wanita cantik. Pepatah ini sudah banyak terbukti di berbagai negara dari zaman ke zaman. Antara lain: pada Zaman Sam Kok ini ada seorang pahlawan lain yang sangat luar biasa hebat, yaitu jenderal Lu Pu (Lu Po). Pernah pada suatu pertempuran Lu Po ini dikeroyok oleh Lauw Pie, Kwan Kong dan Tio Hui (3 saudara) sekaligus. Tetapi pertempuran ini berlangsung seimbang. Jendral Lu Po yang hebat tidak bisa dikalahkan di medan pertempuran, tapi ia ditaklukkan oleh .......... wanita yang cantik, yaitu Tiao Xian. Namun pepatah ini tak berlaku untuk Kwan Kong, yang tidak bisa ditaklukkan oleh wanita cantik). Ta yang keempat jamuan pesta. Namun semua cara Chao Chao untuk menaklukkan Kwan Kong gagal total. Kwan Kong tak bergeming, tetap setia kepada Lauw Pie!

  1. tidak mengharap yang baru dan membuang yang lama
chao chao memberikan hadiah jubah merah yang dilapisi permata kepada Kwan Kong. Namun oleh Kwan Kong jubah merah (Baru) tersebut dipakai di dalam, sementara jubah hijau pemberian dari Lauw Pie yang sudah lama, robek dan lusuhu dipakai di luar. Melihat hal ini Chao Chao merasa amat heran, lalu bertanya kepada Kwan Kong mengapa demikian? Lalu Kwan Kong menjawab, jubah merah yang baru pemberian dari Chao Chao di pakai di dalam adalah sebagai tanda Kwan Kong menghormat Chao Chao. Sementara jubah hijau yang sudah lama dan lusuh tapi dipakai diluar adalah sebagai tanda bahwa Kwan Kong senantiasa mengingat kakak angkatnya, Lauw Pie!

  1. tidak melupakan kesetiaan persaudaraan
pada saat menerima kabar dari kakaknya Lauw Pie, Kwan Kong segera mohon pamit kepada Chao-Chao, tapi Chao Chao sengaja tidak mau bertemu, mengantung plat di depan kamar: tidak menerima tamu! Tetapi Kwan Kong tidak terbelenggu oleh budi awam, lalu mengembalikan semua emas dan perak yang telah diterimanya, juga stempel kebesaran Sou Ting Hou. Kemudian Kwan Kong meninggalkan istana Chao Chao untuk pergi ribuan kilometer mencari kakak angkatnya, Lauw Pie.
  1. Melupakan aku, tidak memperdulikan keselamatan sendiri
Chao chao begitu mengetahui kaburnya Kwan Kong dari istananya, menurunkan perintah:jika tidak bisa menahan Kwan Kong, lebih baik bunuh saja! Kwan Kong sendirian dengan membawa dan melindungi kedua kakak iparnya berhasil menerobos 5 benteng dan membunuh 6 jendral. Sungguh luar biasa!!! Akhirnya Kwan Kong yang sudah amat letih berhasil bertemu dengan Lauw Pie dan Tio Hui, kakak dan adik angkatnya. Kesetiaan dan peri kebenaran Kwan Kong sungguh tak tertandingi, sepanjang sejarah manusia hanya ada 1 orang. Beliau berhasil mempertahankan kepribadian luhur Gang Zheng: ksatria, adil, jujur, teguh, berintegritas, dan gagah berani, akhirnya mencapai kesempurnaan sebagai Maha Bodhisattva Kumala Raja.

Bersama ini menghimbau umat agar waktu sembahyang kepada Kwan Kong, tidak menggunakan daging sebagai persembahan, tapi hanya menggunakan buah-buahan atau kue (vegetarian). Ingat, Beliau telah mencapai Bodhisattva dengan gelar Bodhisattva Satyakalama (Kwan Seng Tek Kun).

SEJARAH SINGKAT BODHISATTVA SANGHARAMA/GUAN YU

Sebagian besar orang bisa saja tidak mengenal nama Bodhisattva Sangharama, tetapi begitu melihat citra rupang seorang jenderal gagah perkasa dengan jenggot panjang indag bergemulai dan paras muka merah lebam berkilau, maka mereka pasti akan langsung tahu. Ya, Bodhisattva Sangharama adalah Guan Yu alias Guan Gng (Kwan Kong).

Siapa tidak tahu Guan Yu? Banyak orang mengetahuinya dari cerita Sam Kok (kisah tiga negara) dan game Dynasty Warrior. Namum, tahukah kita bagaimana latar belakang Guan Yu hingga dinobatkan sebagai Dharmapala (pelindung Dharma) dalam tradisi Mahayana Tiongkok?

Guan Yu (160-219 M), alias Yun Chang, lahir pada tanggal 24 bulan 6 Imlek, adalah penduduk asal Jiezhou, Hedong (sekarang Yuncheng, Propinsi Shanxi). Sejak kecil dididik dalam bidang kesusastraan dan sejarah. Beliau sangat menggemari kitab sejarah Chunqiu (musim semi dan gugur) dan Zuozhuan (kitab sejarah karya Zuo Qiuming). Guan Yu memiliki 3 anak: Guan Ping, Guan Xing  dan Guan Suo. Salah satu watak sitimewa yang dimiliki Guan Yu adalah jiwa setia dan ksatria, beliau berani membela yang lemah dan tertindas. Tahun 184, Guan Yu melarikan diri dari kampung halamannya setelah membunuh orang demi membela kaum yang lemah. Beliau menuju wilayah Zuo, kemudian berkenalan dengan Liu Bei dan Zhang Fei. Liu Bei adalah anggota keluarga kaisar kerajaan Han yang sedang merekrut prajurit untuk membasmi pemberontakan sorban kuning. Karena memiliki cita-cita yang sama, maka mereka bertiga menjalin tiga persaudaraan yang dikenal dengan sebutan tiga pertalian setia taman bunga persik. Semenjak itu, mereka bertiga berkomitmen sehidup semati memperjuangkan cita-cita penegakan hukum demi membersihkan kerajaan Han dari gerogotan korupsi dan pengkhianatan.   

Namun kerajaan Han yang telah berdiri kokoh selama 400 tahun itu akhirnya terpecah menjadi 3 kerajaan, yang mana Liu Bei sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan yang menyatakan diri sebagai penerus Dinasti Han. Era inilah yang kemudian di kenal dengan sebutan San Guo (Sam Kok-tiga negara). Perjuangan keras tiga bersaudara Taman Bunga Persik untuk mempersatukan Tiongkok tidak berhasil. Begitulah hingga usia 60 tahun, Guan Yu bersama puteranya, Guan Ping, akhirnya gugur dalam pertempuran.

Meskipun demikian, rasa hormat terhadap Guan Yu tidak serta merta lenyap seiring dengan gugurnya pahlawan berparas merah lebam ini. Keberanian, kesetiaan dan jiwa ksatria beliau menjadi kisah harum dalam masyarakat Tionghoa selama turun temurun. Selain itu, dalam kalangan spiritual, dikenal pula kisah perjodohan Guan Yu dengan ajaran Buddha, sebuah ajaran kebenaran sejati yang menembus kepekatan misteri dimensi ruang dan waktu. Ya, Guan Yu menjadi siswa Buddha setelah beliau gugur.

Awal mula sebagai pelindung Dharma

Kisah berikut ini terjadi beberapa ratus tahun setelah gugurnya Guan Yu. Berdasarkan catatan sejarah Buddhis – Fozhu Tongji, pada tahun 592 M, (dinasti Sui, era Kai Huang ke-12), disebutkan bahwa pada suatu malam, langit tiba-tiba menjadi cerah, bulan terlihat jelas sekali, Guan Yu bersama Guan Ping dan sekelompok makhluk gaib muncul di hadapan Master Tripitaka Zhiyi (pendiri aliran Tiantai Tiongkok) yang sedang bermeditasi dibukit Yuquan. Guan Yu berkata ”Saya Guan Yu dari era akhir Dinasti Han. Ini adalah putra saya, Guan Ping. Kami terus berkelana setelah meninggal. Yang arya, dengan tujuan apakah anda datang ke sini? Master Zhiyi menjawab, ”Aku datang kesini untuk mendirikan vihara.”

Guan Yu menjawab, ”Yang Arya, ijinkanlah kami untuk membantumu. Tidak jauh dari sini, terdapat lahan yang kokoh tanahnya. Saya dan putra saya dengan senang hati akan membangun vihara disana untuk anda. Mohon lanjutkan meditasinya, vihara akan selesai dalam waktu 7  hari saja.” Setelah Master Zhiyi selesai meditasi, terlihat sebuah vihara yang sangat indah muncul persis di tempat yang ditunjukkan oleh Guan Yu. Vihara itu kemudian diberi nama Vihara Yuquan.

Suatu hari Guan Yu datang ke Vihara Yuquan untuk mendengarkan Master Zhiyi membabarkan Dharma, setelah itu beliau memohon untuk dapat menjadi siswa Buddha dengan menerima Trisarana dan Pancasila Buddhis. “Aku sangat beruntung mendapat kesempatan mendengarkan Dharmad dan beraspirasi mempraktikkan Jalan Bodhi (pencerahan) mulai dari sekarang. Mohon ijinkanlah saya untuk menerima sila dari anda,” demikian ucap Guan Yu kepada Master Zhiyi. Master Zhiyi kemudian membangun sebuah kuil untuk Guan Yu di sebelah Barat Daya Vihara. Sebuah batu ukiran yang bertajuk tahun 820 M di Vihara Yuquan mengisahkan tentang pertemuan antara Guan Yu dan Zhiyi tersebut.

Selain kisah diatas, ada versi lain tentang kisah bagaimaa Guan Yu menjadi seorang pemeluk agama Buddha. Dikatakan bahwa pada suatu malam Guan Yu menemui Bhiksu Zhikai, murid dari Tiantai Master Zhiyi, dan menerima Trisarana dari Bhiksu Zhikai. Kemudian Bhiksu Zhikai melaporkan perjumpaannya dengan Guan Yu tersebut kepada Yang Guang, Pangeran Jin (yang kelak akan dikenal sebagai Kaisar Sui-Yang Di). Pangeran Yang Guang memberikan Guan Yu gelar ”Sangharama Bodhisattva”. Itulah asal muasal dari mana gelar Sangharama diberikan kepada Guan Yu.

Pada kisah lainnya, seperti dalam catatan Kisah Tiga Negara (San Guo Yan Yi), Guan Yu muncul dihadapan Bhiksu Pujing di malam sat gugur karena dipenggal oleh pihak Sun Quan, Raja Wu. Tubuhnya dikubur di dekat Bukit Yuquan yaitu di JingZhou. Di sela-sela kegalauan atas kehilangan kepala, raga halus Guan Yu bergentayangan mencari kembali kepalanya. Bhiksu Pu Jing dengan kekuatan batinnya melihat Guan Yu turun dari angkasa penunggang kuda sambil menggenggam golok besar Naga Hijau, bersama dengan 2 pria, Guan Ping dan Zhou Cang. Semasa hidupnya saat dalam pelarian dari kubu Cao Cao, Guan Yu pernah ditolong oleh Pu Jing di vihara Zhen-guo. Lalu Bhiksu Pu Jing memukul pelana kuda dengan kebutan cambuknya seraya berkata, ”Dimana Yun Chang?” seketika itu juga Guan Yu tersadarkan.

Guan Yu kemudian memohon petunjuk untuk dapat terbebas dari kegelapan pengembaraan batin. Pu Jing memberi nasihat, “Dulu salah atau sekarang benar tak perlu dipersoalkan lagi, karena terjadi pada saat sekarang tentunya ada sebab pada masa lalu.” Pu Jing lalu melanjutkan, “sekarang engkau meminta kepalamu, menuntut atas kematianmu di tangan Lu Meng, namun kepada siapa Yan Liang, Wen Chou dan penjaga lima perbatasan serta banyak lagi yang lainnya yang telah kamu bunuh, meminta kembali kepala mereka?” kata-kata Pu Jing itu terasa sangat menyentak.

Setelah tersadarkan dari kegalauannya, Guan Yu lalu menjadi pengikut Buddhis. Sejak itu Guan Yu sering muncul melindungi masyarakat di sekitar Bukit Yuquan. Sebagai rasa terima kasih kepada Guan Yu, para penduduk membangun Vihara dipuncak Bukit Yuquan.

Gubuk rumput tempat tinggal Pu Jing kemudian dibangun menjadi Vihara Yuquan. Vihara Yuquan ini didirikan pada abad ke 6 M dan didalamnya ada aula Sangharama. Ini adalah salah satu tempat pemujaan Guan Yu yang tertua, juga merupakan Vihara tertua di Dangyang. Tempat penampakan raga halus Guan Yu ditandai dengan sebatang pilar batu yang dituliskan: “Disini tempat Guan Yun Chang dari dinasti Han menampakkan diri.” Pilar batu itu adalah hadiah dari Kaisar Wan Li masa dinasti Ming dan masih bisa dilihat sampai sekarang. Dalam sutra Saptabuddha Ashtabodhisattva Maha Dharani Sutra (sutra tentang Mantra Sakti Mahadharani yang dibabarkan 7 Buddha dan 8 Bodhisattva) tercatat bahwa ada 18 Sangharama (Qielan Shen) sebagai pelindung lingkungan vihara, yaitu: Meiyin, Fanyin, Tian’gu, Tanmiao, Tanmei, Momiao, Leiyin, Shizi, Miaotan, Fanxiang, Renyin, Fonu, Songde, Guangmu, Miaoyan, Cheting, Cheshi, dan Bianshi.

Guan Yu sendiri bukanlah sosok yang tercatat dalam sutra Mahayana sebagai Sangharama. Sangharama sendiri mengandung pengertian sebagai tempat tinggal anggota Sangha, atau lebih umum dikenal sebagai Vihara. Secara etimologi, istilah Sangharama telah dikenal sejak masa kehidupan Buddha. Selain 18 dewa Sangharama yang telah disebutkan di atas, dua tokoh yang dianggap sebagai pelindung utama Sangharama adalah Anathapindika dan Pangeran Jeta, penyokong Vihara Jetavanarama pada masa kehidupan Buddha.

Secara kualitatif, Guan Yu memiliki pengabdian yang setara dengan para pelindung Sangharama, pun karena memiliki komitmen yang besar untuk melindungi lingkungan Vihara, maka tidaklah mengherankan bila kemudian diapresiasi secara khusus oleh Mahayana Tiongkok sebagai Bodhisattva Sangharama. Ada juga yang menyebutnya Bodhisattva Satyadharma Kalama.

Di kalangan Mahayana Tiongkok, Guan yu sering ditampilkan berdiri berpasangan dengan Dharmapala Veda (Weituo Pusa) yang juga merupakan pelindung Dharma. Keduanya mendampingi rupang Buddha atau Avalokitesvara.

Pemujaan Guan Yu Hingga ke Tibet

Pemujaan Guan Yu juga meluas sampai ke Tibet (terutama di aliran Gelugpa dan Nyingmapa). Altar beliau ada di Vihara-vihara Tibet, seperti Mahavihara Tsurphu, sejak kunjungan Maha Ratna Dharmaraja Karmapa V ke Tiongkok atas undangan Kaisar Yong Le. Dulu di Tibet, Guan Yu sebagai Sangharama dikenal dengan nama Karma Hansheng.

Di Tibet dan Mongolia, pemujaan Guan Di (Dewa Guan Yu) diasosiasikan sebagai raja Gesar dari Ling yang terkenal merupakan emanasi guru Padmasambhava. Pengasosiasian tersebut dimulai sejak zaman Dinasti Qing (Manchu). Lobsang Palden Yeshe, Panchen Lama ke 6 (1738-1780 M) adalah yang pertama kali mengatakan bahwa Guan Di adalah Gesar. Oleh karena itu Guan Di Miao (kuil Guan Gong)di Lhasa disebut juga dengan nama Gesar Lhakhang. Ada juga yang percaya bahwa Guan Di dan Gesar adalah inkarnasi masa lalu dari Panchen Lama.

Guan Gong dipandang sebagai Dewa Pelindung Dinasti Qing, sedangkan ajaran Vajrayana Buddhis sekte Gelug adalah agama yang dianut anggota kerajaan Dinasti Qing. Demikianlah Guan Gong (Yang Mulia Guan Yu) dihormati baik oleh kalangan Mahayana maupun Vajrayana (Tantrayana) sebagai Bodhisattva Dharmapala (Pelindung Dharma). Bahkan dalam kepercayaan masyarakat, diyakini Guan Gong kelak akan menjadi seorang Buddha bernama Ge Tian (Ge Tian Gu Fo).

Pemujaan di kalangan umat Tao dan Kong Hu Cu

Pemujaan Guan Yu luas di kalangan umat Tao dan Konghucu sebagai Guansheng Dijun, Guan Gong, dan Guan Di. Penghormatan ini tampak nyata sekali dibanyak kelenteng. Sejak dinasti Song para Taois memuja Guan Yu sebagai Dewata Pelindung Malapetaka Peperangan, sedang umat Konghucu menghormati sebagai dewa kesusastraan Wenheng Dadi.

Pemujaan Guan Gong mulai meluas di kalangan Taois pada abad ke 12 M. Menurut sejarawan Boris Riftin dan Barend J. Ter Haar, pemujaan Guan Yu dikalangan Buddhis lebih awal daripada dikalangan Taois.

Pemujaan ini mulai popular pada masa dinasti Ming. Guan Di dupuja karena kejujuran dan kesetiaannya, pun dipandang sebagai dewa pelindung perdagangan, dewa pelindung kesusasteraan dan dewa pelindung rakyat dari malapetaka peperangan yang mengerikan. Julukan dewa perang yang umumnya dialamatkan kepadan Guan Di, harus diartikan sebagai dewa yang mencegah terjadinya peperangan dan segala akibatnya yang menyengsarakan rakyat, sesuai dengan watak Guan Yu yang budiman. Dikalangan rakyat, Guan Yu juga dianggap sebagai Dewa Rejeki-Wuchai Shen.

Bagaimana mungkin Guan Yu sebagai seorang jendral yang sering berperang dan membunuh akhirnya dihormati sebagai Bodhisattva? Meskipun tampak kontradiktif, namun semua ini tak lebih hanyalah masa lalu yang telah sirna setelah disadarkan oleh nasihat Bhiksu suci. Penyadaran ini seperti halnya kisah kehidupan Angulimala dimasa kehidupan Buddha.

Sifat keteladanan Guan Yu

Meskipun pemujaan Guan Yu tersebar di berbagai kalangan, seperti lingkungan ibadah, kepolisian, bahkan hingga kalangan mafia yang konon dikatakan meneladani sikap kesetiakawanan Guan Yu, namun tidak berarti aspek negatif dari dunia mafia lalu dikaitkan dengan sosok Guan Yu. Ini hanyalah cermin kebebasan orang dalam memilih tokoh pemujaan. Terlepas dari hal ini, ada baiknya kita melihat sifat mulia yang tercermin dari sifat mulia yang tercermin dari sosok Guan Yu, yang bisa menjadi teladan bagi kita semua.

  1. patriotis
  2. menjaga norma susila
  3. tidak tergiur akan kesenangan /kenikmatan
  4. tidak silau akan nama dan harta
  5. tidak mengharap yang baru dan membuang yang lama
  6. tidak melupakan kesetiaan persaudaraan
  7. berjiwa altruis (mementingkan orang lain)

Guan Yu bukan saja telah menjadi sosok yang identik dengan pemujaan spiritual, pun adalah penyatu kultur masyarakat Tiongkok dimanapun berada dan menjadi sebuah maskot tentang semangat pengabdian, kesetiaan, dan sikap lurus.

Sebagai penutup, kita kutip sebuah sajak yang dilantunkan sebagai apresiasi terhadap Guan Yu dalam penuntun kebaktian sore kalangan Mahayana Tiongkok:
“Pemimpin Sangharama, yang mempunyai wibawa dan keagungan menata seluruh vihara. Dengan penuh sujud dan kesetiaan menjalankan Buddha Dharma. Selalu melindungi dan mengayomi Dharma Raja Graha. Tempat suci selalu damai tentram selamanya. Namo Dharmapala Garbha Bodhisattva Mahasattva Mahaprajnaparamita.”

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;