Kamis, 02 Agustus 2012

Apa Itu Buddhisme Menurut Ilmuwan Pecinta Spiritualitas

Dearest Bros & Sis,

Semoga Bacaan Singkat & Sederhana Ini Mampu Memberikan Ide2 Positif Bagi Kita Semua.
with metta, ika.


Buddhisme Selama Berabad-abad Telah Menjadi Tradisi Spiritual Yang Dominan Di Sebagian Besar Wilayah Asia, Termasuk Di Negara-negara Indocina, Juga Di Sri Lanka, Nepal, Tibet, Cina, Dan Jepang.
Seperti Halnya Hinduisme Di India, Buddhisme Memiliki Pengaruh Kuat Pada Kehidupan Intelektual, Budaya, Dan Seni Di Negara-negara Ini.
Namun, Tidak Seperti Hinduisme, Buddhisme Mengacu Kepada Seorang Pendiri Tunggal, Sidhartha Gautama, Yang Juga Disebut Buddha “Historis”.
Dia Hidup Di India Pada Pertengahan Abad Ke-6 SM, Suatu Periode Luar Biasa Yang Telah Melahirkan Begitu Banyak Jenius Spiritual Dan Filsuf: Confucius Dan Lao Tzu Di Cina, Zarathustra Di Persia, Dan Pythagoras Dan Heraclitus Di Yunani.

Jika Bumbu Penyedap Hinduisme Bersifat Mitologis Dan Ritual, Maka Bumbu Penyedap Buddhisme Sepenuhnya Bersifat Psikologis.
Buddha Tidak Tertarik Untuk Memuaskan Rasa Ingin Tahu Manusia Tentang Asal-Usul Dunia, Alam Dewa, Ataupun Pertanyaan-pertanyaan Serupa Lainnya.
Dia Khusus Berkonsentraqsi Dengan Situasi Manusia, Dengan Penderitaan-penderitaan Dan Keputusasaan-keputusasaan Umat Manusia.
Meskipun Demikian, Doktrinnya Bukan Merupakan Salah Satu Dari Metafisika Melainkan Psikoterapi.
Dia Menunjukan Asal-Usul Keputusasaan Manusia Dengan Cara Menghampirinya, Mengambil Konsep-konsep Tradisional India Tentang Maya, Nirvana, Dan Lain Sebagainya Demi Mencapai Tujuan Ini Dan Memberikannya Sebuah Tafsir Yang Segar, Dinamis Dan Relevan Secara Psikologis.

Setelah Buddha Wafat, Buddhisme Berkembang Menjadi Dua Ajaran Utama, Hinayana Dan Mahayana.
Hinayana Atau Kendaraan Kecil, Adalah Sebuah Ajaran Ortodoks Yang Setia Kepada Surat Ajaran Buddha; Sementara Mahayana Atau Kendaraan Besar, Menunjukan Sebuah Sikap Yang Lebih Luwes, Meyakini Bahwa Ruh Dari Doktrin Adalah Lebih Penting Dari Rumusannya Yang Asli.
Ajaran Hinayana Didirikan Di Ceylon, Burma, Thailand, Sementara Mahayana Menyebarluas Ke Nepal, Tibet, Cina, Dan Jepang, Dan Mungkin Menjadi Ajaran Paling Penting Dari Kedua Ajaran Ini.
Di India Sendiri, Selama Berabad-abad, Buddhisme Telah Terserap Oleh Hinduisme Yang Bersifat Fleksibel Dan Asimilatif, Dan Buddha Kemudian Diadopsi Sebagai Inkarnasi Dari Dewa Berwajah Banyak, Vishnu.
Karena Buddhisme Mahayana Menyebar Luas Ke Asia, Ia Terlibat Kontak Dengan Orang-orang Dari Beragam Budaya Dan Mentalitas Yang Berbeda, Yang Menginterpretasikan Doktrin Buddha Dari Sudut Pandang Mereka Masing-masing, Menelaborasi Beragam Pokok Yang Subtil Ke Dalam Begitu Banyak Detil Dan Menambahkan Ide-ide Asli Mereka Sendiri Ke Dalamnya.
Dengan Cara Ini Mereka Mempertahankan Buddhisme Untuk Tetap Hidup Selama Berabad-abad Dan Mengembangkan Filsafat-filsafat Yang Sangat Sempurna Dengan Pemahaman-pemahaman Psikologis Yang Mendasar.

Tingginya Tingkat Filsafat-filsafat Itu, Tidak Kemudian Menjadikan Buddhisme Kehilangan Gagasan Genuine-nya, Yakni Pemikiran-pemikiranabstrak spekulatif.
Seperti Umumnya Mistisisme Timur, Kekuatan Pikiran Dianggap Memiliki Makna Untuk Menjelaskan Bagaimana Cara Menggapai Pengalaman Mistik Langsung, Yang Oleh Buddhis Dinamakan “Penyadaran”.
Esensi Dari Pengalaman Ini Adalah Untuk Melampaui Jangkauan Dunia Dari Perbedaan-perbedaan Intelektual Dan Menentang Pencapaian Dunia Acintya, Yang Tak Dapat Dipikirkan, Dimana Realitas Muncul Sebagai “Sesuatu” Yang Tak Terbagi Dan Tak Terbedakan.

Berikut Adalah Pengalaman Siddharta Gautama Pada Suatu Malam, Setelah Menjalani Tujuh Tahun Disiplin yang Giat Di Dalam Hutan.
Duduk Dalam Meditasi Yang Khusuk Di Bawah Pohon Bodhi, Pohon Pencerahan yang Terkenal, Tiba-tiba Dia Mendapatkan Satu Wawasan Purna Dan Jawaban Pasti Tentang Seluruh Pencarian Dan Semua Keraguannya Yang Menjadikannya Seorang Buddha, Yakni Seorang “Yang Tercerahkan”.
Bagi Dunia Timur, Citra Buddha Dalam Meditasi Sama Signifikannya Dengan Citra Kristus Yang Di Salib Di Dnia Barat Dan Telah Mengilhami Begitu Banyak Seniman Di Seluruh Penjuru Asia Untuk Menciptakan Pahatan-pahatan Yang Indah Tentang Buddha Yang Bermeditasi.

Menurut Tradisi Buddhis, Buddha Pergi Ke Taman Rusa Di Benares Secepatnya Setelah Puncak Pencerahannya, Datang Untuk Mengkotbahkan Doktrin-doktrinnya Kepada Rekan-rekan Sepertapaan Yang Selama Ini Telah Membentuknya.
Dia Mengungkapkan Dalam Bentuk Yang Terkenal Sebagai Empat Kebenaran Agung, Sebuah Presentasi Yang Padat Tentang Doktrin Esensial Yang Tidak Seperti Pernyataan Seorang Dokter Fisik, Yang Mula-mula Mengidentifikasi Sebab Penyakit Manusia, Lalu Mengafirmasikan Bahwa Penyakit Tersebut Akan Dapat Disembuhkan, Dan Terakhir Meramalkan Kesembuhannya.

Kebenaran Agung Yang Pertama Menyatakan Karakteristik Terkemuka Dari Situasi Manusia, Dukha, Bahwa Penderitaan Atau Keputusasaan-keputusasaan Ini Berasal Dari Kesulitan Kita Dalam Menghadapi Fakta Dasar Kehidupan Bahwa Semua Yang Ada Di Sekitar Kita Adalah Fana Dan Sementara. “Semua Hal Muncul Dan Pergi (lahir dan mati),” Kata Buddha, Dan Paham Yang Mengalir Dan Mengubah Adalah Bambaran-gambaran Dasar Dari Kehidupan Yang Memiliki Akar Tunjang Dalam Buddhisme.
Penderitaan Muncul, Dalam Pandangan Buddhis, Kapanpun Ketika Kita Menolak Aliran Kehidupan Dan Mencoba Menganut Bentuk-benatuk Pasti Yang Kesemuanya Maya, Apakah Bentuk-bentuk Tersebut Berwujud Benda-benda, Peristiwa-peristiwa, Orang-orang, Maupun Ide-ide.
Doktrin Tentang Kefanaan Ini, Juga Berarti Bahwa Tidak Ada Ego, Tidak Ada Diri yang Merupakan Suyek Yang Kokoh Dari Pengalaman-pengalaman Kita Yang Beragam.
Buddhisme Berpegang Bahwa Ide Tentang Satu Sosok Diri Individu Yang Terpisah Adalah Ilusi, Sekadar Bentuk Lain Dari Maya, Sebuah Konsep Intelektual Yang Tidak Memiliki Realitas.
Konsep Yang Dianut Ini Mengarah Kepada Keputusasaan Yang Sama Sebagai Ketaatan Kepada Seluruh Kategori Pasti Yang Sangat lain Dari Pemikiran.

Kebenaran Agung Yang Kedua Selaras Dengan Penyebab Semua Penderitaan, Trishna, Yang Berarti Melekat Atau Memegang.
Ia Adalah Sesuatu Yang Memegang Sesuatu Yang Sia-sia Dari Kehidupan Yang Berdasarkan Pada Satu Sudut Pandang Yang Salah Yang Dinamakan Avidya, Atau Pengabaian Dalam Filsafat Buddha.
Di luar Pengabaian Ini, Kita Membagi Dunia Yang Tampak Menjadi Masalah-masalah Individu Dan Terpisah, Dan Kemudian Berusaha Untuk Menyempurnakan Bentuk-bentuk Cair Dari Realitas Ke Dalam Kategori-kategori Pasti Yang Diciptakan Di Atas Keputusasaan.
Mencoba Melekat Kepada Hal-hal Yang Kita Anggap Sebagai Sesuatu yang Kokoh Dan Teguh, Tetapi Sebenarnya Fana Dan Selalu Berubah-ubah, Berarti Kita Terjebak Ke Dalam Sebuah Lingkaran Jahat Dimana Setiap Perbuatan Menghasilkan Perbuatan Lagi Dan Jawaban Terhadap Pertanyaan Membuahkan Pertanyaan Baru.
Lingkaran Jahat Ini Dalam Buddhisme Dikenal Sebagai Samsara, Lingkaran Kelahiran Dan Kematian, Dan Ia Kemudikan Oleh Karma, Rantai Sebab Dan Akibat Yang Tak Pernah Berakhir.

Kebenaran Agung Ketiga Menyatakan Bahwa Penderitaan Dan Keputusasaan Dapat Berakhir.
Sungguh Mungkin Mengatasi Lingkaran Jahat Samsara, Membebaskan Seseorang Dari Ikatan Karma Dan Mencapai Suatu Keadaan Dari Pembebasan Total Yang Dinamakan Nirvana.
Dalam Situasi Seperti Ini, Paham-paham Palsu Tentang Sesosok Diri Yang Terpisah Selamanya Akan Musnah, Dan Kesendirian Dari Seluruh Hidup Telah Menjadi Sebuah Sensasi Yang Konstan.
Nirvana Setara Dengan Moksha Dalam Filsafat Hindu, Dan Menjadikan Kesadaran Berada Di Luar jangkauan Setiap Konsep Intelektual Dan Lebih Jauh Lagi, Ia Menentang Deskripsi.
Mencapai Nirvana Berarti Memperoleh Penyadaran Atau Menjadi Buddha

Kebenaran Agung Keempat Adalah Resep Buddha Untuk Mengakhiri Segala Penderitaan, Delapan Jalan Setapak Pengembangan Diri yang Menuntun Kepada Keadaan Menjadi Buddha.
Dalam Dua Bagian Pertama Dari Jalan Setapak Ini, Seperti Yang Telah Disinggung, Dipusatkan Dengan Mengetahui Dan Memahami Yang Benar; Yaitu Dengan Pemahaman yang Jelas Ke Dalam Situasi Manusia Yang Merupakan Titik Awal Yang Penting.
Empat Bagian Yang Berikutnya Selaras Dengan Perbuatan Yang Benar.
Keempat Jalan Ini Memberikan Peranan-peranan Kepada Cara Hidup Buddha, yang Merupakan Suatu Jalan Tengah Antara Titik-titik Puncak Yang Bertentangan.
Dua Bagian Terakhir Fokus Pada Kesadaran Dan Meditasi Yang Benar Dan Mendeskripsikan Pengalaman Mistik Langsung Dari Realitas yang Merupakan Tujuan Akhirnya.

Buddha Tidak Mengembangkan Doktrinnya Ke Dalam Sebuah Sistem Filsafat Yang Konsisten, Tetapi Menganggapnya Sebagai Makna Untuk Mencapai Pencerahan.
Pernyataan-pernyataannya Mengenai Dunia Disempurnakan Untuk Menekankan Kefanaan Semua “Benda”.
Dia Memaksakan Kemerdekaan Kekuasaan Spiritual, Termasuk Dirinya Sendiri, Konon, Bahwa Dia Hanya Mampu Menunjukan Jalan Menuju Menjadi Buddha, Sehingga Ketika Sampai Kepada Setiap Individu Untuk Menjejaki Jalan Ini Menuju Tujuan Harus Mengandalkan Kemampuan Mereka Sendiri.
Kata-kata Terakhir Buddha Di Atas Ranjang Kematiannya Merupakan Karakteristik Dari Pandangan Dunia Dan Sikapnya Sebagai Guru.
“Reruntuhan Tidak Dapat Bersatu Padu Dalam Benda-benda Yang Bercampur,” Katanya Sebelum Wafat, “Berusahalah Dengan Giat.”

Pada Abad-abad Pertama Setelah Mangkatnya Buddha, Beberapa Dewan Agung Dibentuk Oleh Para Pendeta Utama Buddhis Yang Memerintahkan Bahwa Keseluruhan Ajaran Harus Diceritakan Dengan Keras Dan Perbedaan-perbedaan Dalam Interpretasi Ditetapkan.
Pada Tahun Ke 4 Dari Dewan Ini, Yang Mengambil Tempat Di Pulau Sri Lanka Pada Abad Ke 1 Masehi, Doktrin Yang Telah Diajarkan Secara Lisan Selama Lebih Dari Lima Ratus Tahun Kembali Diingat Dan Untuk Pertama Kalinya Dicatat Dalam Bahasa Pali, Dikenal Sebagai Wahyu-wahyu Pali Dan Membentuk Dasar Ajaran Ortodoks Hinayana.
Di Satu Sisi, Ajaran Mahayana Didasarkan Pada Sejumlah Hal Yang Dinamakan Sutra, Salinan-salinan Tentang Dimensi Raksasa, Yang Ditulis Dalam Bahasa Sanskerta Pada Sekitar Satu Atau Dua Ratus Tahun Kemudian Dan Menghadirkan Ajaran Buddha Dalam Sekumpulan Cara yang Sangat Teliti Dan Subtil Dibandingkan Dengan Wahyu-wahyu Pali.

Ajaran Mahayana, Menyebut Dirinya Sendiri Sebagai Kendaraan Besar Dari Buddhisme Karena Ia Menawarkan Kepada Pengikutnya Sejumlah Metode Yang Beragam, Atau ‘Tujuan/Arti Berpengalaman/Kecakapan” Untuk Mencapai Keadaan Buddha.
Semua Ini Berbasis Dari Doktrin-doktrin Yang Menekankan Keyakinan Religius Dalam Ajaran-ajaran Mengenai Buddha, Untuk Mengelaborasi Filsafat-filsafat Yang Meliputi Konsep-konsep Yang Sangat Dekat Menghampiri Pemikiran Ilmiah Modern.

Penjelas Pertama Tentang Doktrin Mahayana, Dan Merupakan Salah Seorang Dari Pemikir Yang Palingn Hebat Di Kalangan Para Kepala Keluarga Buddhis, Adalah Ashvagosha, Yang HIdup Pada Abad Ke 1 M.
Dia Mengutarakan Pemikiran-pemikiran Fundamental Dari Buddhisme Mahayana-Khususnya Pemikiran-pemikiran Yang Berhubungan Dengan Konsep Buddhis Tentang “Sesuatu”-Dalam Sebuah Manuskrip Kecil Yang Berjudul The Awakening Of The Faith. Manuskrip Itu Berisi Untaian Ajaran Yang Sangat Indah, Yang Mengingatkan Kepada Satu Teks Bhagavad Gita; Sebuah Manuskrip Yang Menjadi Uraian Pertama Yang Paling Representatif Tentang Doktrin Mahayana Dan Telah Menjadi Handbook Di Seluruh Sekolah Buddhisme Mahayana.

Ashvagosha Barangkalai Memiliki Pengaruh Yang Kuat Atas Nagarjuna, Seorang Filsuf Mahayana Yang Paling Cerdas, Yang Menggunakan Dialektik Tinggi Yang Sempurna Untuk Menunjukan Keterbatasan-keterbatasan Seluruh Konsep Realitas.
Dengan Argumantasi-argumentasi Yang Cemerlang, Dia Merubuhkan Dalil-dalil Metafisik Zamannya Dan Mendemonstrasikan Bahwa Realitas, Pada Dasarnya, Tidak Akan Dapat Dicapai Dengan Konsep-konsep Dan Ide-ide.
Sejak Saat Itu, Dia Menamakannya Sunyata, “Kosong” Atau “Kehampaan”, Sebuah Istilah Yang Setara Dengan Tathata Atau “Sesuatu” Dari Ashvagosha; Ketika Ketidakbergunaan Seluruh Pemikiran Konseptual Disadari, Maka Realitas Dialami Sebagai Sesuatu Yang Murni.

Pernyataan Nagarjuna Bahwa Alam Esensial Dari Realitas Adalah Kehampaan Menyebabkan Ucapannya Itu Sering Dianggap Sebagai Pernyataan Seorang Nihilis.
Padahal Ia Hanya Bermaksud Bahwa Setiap Konsep Tentang Realitas Yang Dibentuk Oleh Pemikiran Manusia Pada Dasarnya Kosong.
Realitas Atau Kehampaan Itu Sendiri Bukan Merupakan Ketiadaan Sejati, Tetapi Sesuatu Yang Bersumber Dari Seluruh Kehidupan Dan Zat Inti Dari Setiap Bentuk.

Pandangan Buddhisme Mahayana Yang Ada Sejauh Ini Merefleksikan Sisi Intelektual Dan Spekulatifnya.
Meskipun Demikian, Hal INi Hanyalah Salah Satu Dari Sisi Buddhisme.
Kesadaran Religius Buddhis Meliputi Keyakinan, Cintam, Dan Keprihatinan.
Kebijakan Pencerahan Sebenarnya (bodhi) Dalam Mahayana Dianggap Sebagai Keadaan Yang Terdiri Dari Dua Elemen Yang Oleh DT Suzuki Diungkapkan Sebagai “dua Pilar Yang Menunjang Bangunan Besar Buddhisme” (two pillars supporting the great edifice of Buddhism).
Elemen-elemen Tersebut Adalah Prajna, Yang Merupakan Kebijaksanaan Transendental Atau Kecerdasan Intuitif, Dan Karuna, Yang Merupakan Cinta Atau Keprihatinan.

Tepatnya, Alam Esensial Dari Seluruh Benda yang Dideskripsikan Dalam Buddhisme Mahayana Tidak Hanya Lewat Istilah-istilah Metafisika Abstrak, Sesuatu Dan Kosong, Tetapi Juga Lewat Istilah Dharmakaya, “Tubuh Wujud” Yang Menggambarkan Realitas Ketika Ia MUncul Dalam Kesadaran Religius Buddhis.
Dharmakaya Mirip Dengan Brahman Dalam Hinduisme.
Ia Menembus Semua Materi Dalam Alam Semesta Dan JUga Direfleksikan Dalam Pikiran Manusia Sebagai Bodhi, Kebijaksanaan Pencerahan.
Jadi Dalam Waktu Yang Bersamaan, Ia Adalah Sesuatu Yang Bersifat Spiritual Dan Material.

Penekanan Pada Cinta Dan Keprihatinan Sebagai Bagian-bagian Esensial Kebijaksanaan Telah Menemukan Ungkapan Terkuatnya Dalam Tujuan Bodhisatva, Salah Satu Karakteristik Perkembangan-perkembangan Buddhisme Mahayana.
Seorang Bodhisatva Adalah Seorang Manusia Yang Tumbuh Pesat Berada Di Atas Jalan Untuk Menjadi Buddha, Yang Tidak Mencari Pencerahan Bagi Dirinya Sendiri Tetapi Telah Bersumpah Untuk Menolong Semua Wujud Lainnya Guna Mencapai Keadaan Buddha Sebelum Ia Memasuki Nirvana.
Asal-usul Ide Ini Berada Dalam Keputusan Buddha-Hadir Dalam Tradisi Buddhis Sebagai Kesadaran Dan Sama Sekali Bukan Merupakan Sebuah Keputusan Yang Mudah-Bukan Sekadar Masuk Nirvana, Tetapi Kembali Ke Dunia Dengan Maksud Menunjukan Jalan Setapak Menuju Penyelamatan Bagi Rekan Sesama Umat Manusianya.
Tujuan Bodhisatva Juga Konsisten Dengan Doktrin Buddhis Tentang Non-Ego, Karena Bila Ada Diri Individu Yang Terpisah, Ide Tentang Individu Yang Memasuki Nirvana Seorang Diri Pada Dasarnya Akan Sangat Tidak Masuk Akal.

Elemen Keyakinan, Pada Akhirnya, Ditekankan Ke Dalam Sesuatu yang JUga Dinakan Ajaran Tanah Murni Buddhisme Mahayana.
Dasar Dari Ajaran Ini Adalah Doktrin Buddhis Bahwa Alam Asli Dari Seluruh Umat Manusia Adalah Alam Asli Seorang Buddha, Dan Ia Berpegang Bahwa Dengan Tujuan Masuk Nirvana Atau Tanah Murni, Yang Harus Dilakukan Oleh Semua Orang Adalah Memiliki Keyakinan Terhadap Alam Buddha Orang Lain.

Puncak Dari Pemikiran Buddhis Telah Dicapai, Menurut Sebagian Besar Penulis, Dalam Sesuatu Yang Dinamakan Avatamsaka Yang Didasarkan Pada Sutra Dengan Nama Yang Sama.
Sutra Ini Dianggap Sebagai Pusat Dari Buddhisme Mahayana Dan Dipuji Suzuki Dalam Ungkapan Yang Sangat Antusias:
“ Adapun Sutra Avatamsaka, Sungguh Merupakan Kesempurnaan Pemikiran Buddhis, Perasaan Buddhis, Dan Pengalaman Buddhis. Menurut Saya, Tak Ada Literatur Religius Di Dunia Yang Pernah Bisa Mendekati Kebesaran Konsepsi Ini, Kedalaman Perasaan, Dan Skala Raksasa Dari Komposisi Seperti Yang Dicapai Suitra Ini. Ia Adalah Mata Air Abadi Kehidupan Dari Suatu Tempat Dimana Tak Ada Lagi Pemikiran Religius Yang Akan Mengubah Rasa Haus Atau Hanya Puas Secara Parsial “.

Sutra Inilah Yang Menstimulasikan Pemikiran-pemikiran Cina Dan Jepang Daripada Sesuatu Yang Lain, Ketika Buddhisme Mahayana Menyebar ke Seluruh Asia.
Di Satu Sisi Terdapat Perbedaan Menyolok Antara Cina Dan Jepang, Lalu Dengan India Di Sisi Lain; Perbedaan Itu Tampak Timpang Sehingga Mereka Dianggap Mewakili Dua Kutub Dari Pemikiran Manusia.
Sementara Pendiri Cenderung Bersikap Praktis, Pragmatis, Dan Sosial, Para Pengikut Justru Cenderung Bersikap Imajinatif, Metafisis, Dan Transendental.
Ketika Para Filsuf Cina Dan Jepang Mulai mengalihbahasakan Dan menginterpretasikan Avatamsaka, Salah Satu Manuskrip Terbesar Yang Telah Dihasilkan Oleh Jenius Religius India, Kedua Kutub Ini Bergabung Untuk Membentuk Sebuah Kesatuan Dinamis Yang Baru, Dan Hasilnya Adalah Filsafat Hua-Yen Di Cina Dan Filsafat Kegon Di Jepang, Yang Menurut Suzuki, “ Klimaks Dari Pemikiran Buddhis Yang Telah Berkemang Di Timur Jauh Selama Dua Ribu Tahun Terakhir “.

Tema Sentral Avatamsaka Adalah Kesatuan Dan Keterkaitan Dari Semua Benda Dan Peristiwa; Sebuah Konsepsi yang Tidak Hanya Sangat Esensial Dari Pandangan Dunia Timur Jauh, Tetapi Juga Merupakan Salah Satu Elemen Pandangan Dunia Yang Meluas Dalam Fisika Modern.
Kemudian Dianggap Bahwa Suitra Avatamsaka, Manuskrip Religius Kuno Ini, Menawarkan Paralel-paralel Yang Paling Tegas Kepada Model-model Dan Teori-teori Fisika Modern.


with metta, ika.

0 komentar:

Posting Komentar

Analitic

Suasana angin Topan di surabaya november 2017

Suhu Malaysia yang gagal Panggil Shen

Upacara Buddha Tantrayana Kalacakra indonesia

Four Faces Buddha in Thailand 1 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=jnI1C-C765I

SemienFo At Thailand 2 (Copy Paste Link ini) https://www.youtube.com/watch?v=GOzLybAhJ2s

Informasi

 
;